Articles
1,592 Documents
MENCERMATI GEJALA PENYAKIT LANGKA EKSAKTA
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1988: HARIAN WAWASAN
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (113.722 KB)
      Dunia pendidikan kita dewasa ini nampaknya tengah dihadapkan pada satu fenomena yang sudah menjadi semacam "penyakit", ialah Penyakit Langka Eksakta (PLE); sebuah fenomena akademik yang ditandai dengan adanya disbalansi proporsi antara pecinta dan pengembang ilmu eksakta dengan pecinta dan pengembang ilmu non-eksakta.      Menggejalanya fenomena akademik tersebut sangat mudah kita amati. Manakala kita menyempatkan diri, tentu saja dengan seijin "birokrasi", untuk terjun ke sekolah-sekolah menengah maka akan kita dapati kenyataan tentang masih kurangnya jumlah guru bidang studi eksakta; Matematika, Fisika, Kimia dan Biologi. Pada hal, pada sisi yang lain persediaan guru non-eksakta seringkali lebih dari cukup, untuk tidak mengatakan berlebihan.      Ada contoh konkrit: bila dibanding dengan wilayah propinsi lain maka Daerah Istiwewa Yogyakarta dan Bali kiranya termasuk "kaya" guru SMTA. Pada kedua daerah ini mempunyai rasio tertinggi untuk SMA, ialah 2,6 guru tiap kelas. Bahkan kalau Kepala Sekolah dan Guru Tidak Tetap masuk hitungan maka tahun ini ratio guru kelas di DIY mencapai angka 3,8, artinya tiap kelas rata-rata memiliki 3,8 guru. Bandingkan dengan ratio serupa di Maluku (1), NTB (1), Kalimantan Barat (1,1), Bengkulu (1,2), dsb (data diambil dari beberapa sumber).
MEMANUSIAKAN MANUSIA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2007: MOZAIK OBITUARI
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (99.202 KB)
     âLho ..., Ibu mana Pak? Nanti bisa hilang lho.â Demikian goda saya pada Pak Koes, demikianlah biasa saya menyapa, di Shanghai, Cina tahun 2002. Dengan penuh canda Pak Koes pun menjawab, âAh ..., biarkan saja, nanti kan ada yang ngopeniâ. Waktu itu Pak Koes berjalan di depan dan âmeninggalkanâ Ibu yang masih jauh di belakang ketika akan mengunjungi objek wisata di depan Benteng Cina yang sangat terkenal itu. Kita ke Cina bersama rombongan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) tanggal 16 s/d 23 Juni 2002. Kami memang sering bepergian bersama Pak Koes, di dalam maupun di luar negeri. Biak Papua, Tana Toraja Sulawesi, Sambas Kalimantan, Tanah Datar Sumatera dan Mataram NTB adalah seba-gian dari tempat-tempat yang pernah kami kunjungi bersama.        Godaan dan canda seperti tersebut di atas memang sering dialamatkan kepada Pak Koes oleh sesama teman anggota BPPN, bahkan oleh staf BPPN itu sendiri. Pak Koes pun senantiasa menanggapinya dengan penuh canda, dan setahu saya beliau tidak pernah marah. Dan hebatnya ..., dengan godaan dan canda seperti itu beliau tidak kehilangan kewibawaan yang telah melekat pada dirinya.
YANG DITERIMA DAN YANG GAGAL
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1985: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (108.692 KB)
      Hari Senin tanggal 15 Juli 1985, apabila tiada aral yang melintang, pemerintah yang dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan akan mengumumkan hasil Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru) 1985/1986 . Bila kegiatan ini dapat kita ibaratkan sebagai sebuah rangkaian dari proses pengadilan, maka pada hari itulah vonis hakim akan dibacakan.       Bagi yang berkepentingan langsung, dalam hal ini para peserta Sipenmaru itu sendiri, beberapa hari terakhir selama menantikan datangnya hari penentuan bukan mustahil telah merupakan hari-hari yang cukup menggelisahkan.Hari-hari mana mereka mencoba mereka-reka dan menghitung nasib yang akan menemani perjalanan hidupnya.        Hal ini kiranya sangat wajar oleh karena saat-saat pengumuman hasil Sipenmaru seringkali dianggap sebagai titik awal bagi seseorang dalam mencapai prestasi yang maksimal melalui jalur akademis.       Seseorang yang lolos dari jaring-jaring Sipenmaru akan diterima menjadi warga baru pada sebuah perguruan tinggi, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) , yang berarti terbukalah kesempatan untuk menjadi seorang pemikir, ilmuwan dan memasuki kelompok kaum cerdik pandai yang sangat dibutuhkan bagi suksesnya pembangunan negara dan bangsa (tentu saja bukan berarti bahwa mereka yang tidak termasuk dalam kaum cerdik pandai tidak dibutuhkan bagi suksesnya pembangunan).
SENI MENGELOLA SEKOLAH NEGERI
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2006: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2006
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (96.475 KB)
Setelah âgegeranâ CDMA mulai reda yang oleh sebagian anggota masyarakat dianggap tidak jelas jluntrung dan ending-nya, kini Yogyakarta diguncang âgempaâ baru berupa dipermasalahkannya pengelolaan sekolah negeri; utamanya menyangkut penarikan biaya seragam sekolah yang dianggap tidak transparan, pembebasan siswa (baru) korban gempa dari berbagai iuran sekolah, dan sebagainya. Â Â Â Â Â Â Â Awalnya sederhana, banyak orang tua siswa sekolah negeri yang mengeluh karena tarikan untuk uang seragam sekolah angka nominalnya sangat tinggi; padahal kalau membeli sendiri harganya jauh lebih murah. Keluhan seperti ini kemudian ditampung oleh LSM yang peduli terhadap pendidikan di Yogyakarta; kemudian ditindaklanjuti dengan minta klarifi-kasi kepada pihak sekolah. Masalah pun berkembang pada iuran pendidikan yang dipungut dari siswa (baru) korban gempa. Â Â Â Â Â Â Â Sampai langkah tersebut masyarakat menilai konstruktif terhadap lang-kah yang ditempuh oleh LSM; namun kekonstruktifan itu sedikit berkurang manakala ketika diadakan pertemuan konsolidasi pihak-pihak yang berke-pentingan ternyata LSM yang bersangkutan justru tidak datang. Sekarang ini kasus tersebut malah sudah dilaporkan ke Polda DIY. Â Â Â Â Â Â Â Melihat perkembangan tersebut sepertinya kasus penarikan biaya untuk seragam sekolah dan pungutan bagi siswa (baru) korban gempa semakin meruncing. Sebagian anggota masyarakat justru mulai acuh, jangan-jangan kasus ini hanya akan mencabik-cabik nama Yogyakarta sebagai Kota Pen-didikan tanpa âendingâ yang jelas sebagaimana dengan kasus CDMA.
PENDIDIKAN DAN KEMISKINAN (II)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1987: HARIAN PRIORITAS
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (138.502 KB)
      Secara umum pendidikan kita mempunyai andil yang besar untu memantabkan pertumbuhan ekonomi negara, yang secara tidak langsung bersifat kontributif terhadap upaya-upaya penekanan kemiskinan struktural kita. Namun masalah utama sebernya justru terletak pada aspek pemerataan. Belum efektifnya proses pemerataan materional telah menyebabkan terciptanya kemiskinan struktural; yang manifestasinya terlihat pada munculnya fenomena tentang ratio "si-kaya" dan "si-miskin" yang masih cukup terasa.      Sesuatu yang mungkin tidak pernah kita bayangkan adalah meskipun pendidikan mempunyai kontribusi yang cukup dominan dalam upaya penekanan angka kemiskinan namun pendidikan itu sendiri nampaknya juga punya andil dalam menciptakan kemiskinan struktural.      Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena dalam dunia pendidikan tinggi kita dewasa ini timbul semacam gejala elitisme pendidikan; atau setidak-tidaknya semi-elitisme pendidikan. Artinya didapati kecenderungan bahwa pelayan an pendidikan tinggi lebih ternikmati oleh kaum elite ekonomis, atau paling tidak kaum menengah ke atas yang memiliki banyak uang (walaupun diakui bahwa dalam struktur dan sistem sosiabilitas kita tidak mengenal adanya stratifikasi sosial-ekonomis secara eksplisit).
PROBLEMATIKA GURU
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1996: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (138.113 KB)
      Sampai saat ini masalah pendidikan, utamanya yang menyangkut guru di negara kita tidak pernah habis, bahkan terasa semakin lama semakin kompleks. Ketika ada satu kompleksitas problematika belum tersolusi secara tuntas dan komprehensif maka di sisi yang lain telah muncul problematika baru yang terkadang tidak kalah kompleksnya. Problematika guru di Indonesia sekarang telah berkembang menjadi fenomena yang sangat rumit; dari problematika klasik sampai dengan yang sangat aktual.     Problematika guru (dan keguruan) tersebut diatas selanjutnya ber-kembang dan telah menimbulkan kompleksitas baru yang ternyata tidak kalah rumitnya, yaitu kompleksitas lembaga penghasil guru itu sendiri.      Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) sebagai suatu lembaga atau institusi penghasil tenaga profesi guru dan juga tenaga kependidikan lainnya menjadi pusat pembicaraan serta topik diskusi yang ekstra-aktual. Peranan LPTK yang (semula) sangat strategis dan benar-benar sentral dalam rangka penyediaan guru yang berkualitas makin lama dianggap semakin pudar. Terlepas dari sejauh mana kebe-naran atas anggapan tersebut sekarang ini bahkan banyak pertanyaan muncul mengenai relevansi untuk mempertahankan eksistensi LPTK itu sendiri.
PRODUKSI DALAM BIDANG PERTANIAN (2)
Suyanto, Mohammad
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN REPUBLIKA EDISI JANUARI - MARET 2009
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (77.17 KB)
Pertanian Hijaz memberikan pengaruh yang nyata terhadap skala industri. Ketersediaan modal merupakan kunci meraih sukses dan menjadikan kaya bagi penduduk yang beraktivitas dalam bidang pertanian dan keuangan di Hijaz. Di Madinah Mu`awiyah bin Abi Sufyan dan Talhah bin `Ubaidillah sebagai petani yang memberdayakan gandum yang pertama di Wadi Qanah, sebelah utara Madinah. Mu`awiyah menginvestasikan 10 kebun yang ditami padi-padian dan kurma di sekitar Mekah dan Madinah, yang hasilnya setiap tahun 150.000 muatan unta kurma dan 100.000 muatan unta gandum. `Amr bin `As, memiliki tanaman anggur di Taif sebanya 1 juta pohon. Hamzah bin `Abdallah bin Zubair memiliki 20.000 pohon kurma di al-Furu`. Al-Samhudi bekerjasama dengan Ja`far bin Talhah membelanjakan 200.000 dinar untuk mendapatkan tanah Umm `Iyyal, yang memiliki 20.000 pohon kurma dengan irigasi yang baik dengan pendapatan 4.000 dinar per tahun. Demikian pula peternakan juga merupakan suatu industri kunci dalam permulaan Islam, dengan penggembalaan yang sangat luas. Para kafilah dagang mempunyai sekitar 2.500 unta. Pasukan Muslim memperoleh 24.000 unta dalam perang Hunain pada 630. Ibnu Abdulbarr menyatakan bahwa Khalifah Usman bin Affan memberikan 950 unta, 50 kuda dan 1000 dinar untuk membangun pasukan awal Islam. Lebih dari 1.000 kuda berpartisipasi dalam pembebasan Mekah pada 630 dan perang Badar pada 624. Nabi Muhammad s.a.w. dikatakan untuk memperkerjakan 70 unta dalam pasukan. Muâawiyah bin Abi Sufyan dilaporkan menerima warisan 2.000 domba dan Zubair bin Bakkar menceritakan bahwa Hakim bin Hizam memasarkan unta di pasar Mekah dan membeli budak wanita dengan 100 unta betina.  Maka perkebunan jelaslah merupakan industri yang menonjol pada saat lahirnya Islam di Hijaz. Bukti fisik dalam bentuk sisa-sisa saluran irigasi dan dam pada periode tersebut mendukung sumber dokumentasi dari pemberdayaan pertanian di Hijaz. Paling sedikit ada 19 dam pada periode tersebut yang masih terpelihara di Hijaz, 13 dam di Taif dan 3 di sekitar Oase Khaibar dan 3 di dekat Madinah. Banyak dam tersebut dibangun pada permulaan Islam, yang baru-baru ini ekspedisi arkeologi menyelidiki sumber dan rancangan struktur dam yang menyatakan bahwa beberapa, misalnya Sadd Qasr al-Bint di daerah Khaibar dibangun menjelang lahirnya Islam.
PRESIDEN PEDULI PENDIDIKAN
SUPRIYOKO, KI
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 2009: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (102.932 KB)
Meskipun diwarnai dengan ketidakpuasan tentang Daftar Pemilih Tetap (DPT) tetapi pemilihan presiden dan wakil presiden yang dilangsungkan tanggal 8 Juli 2009 lalu boleh dinyatakan sukses. Sebanyak 120-an juta rakyat Indonesia telah berbondong-bondong hadir di Tempat Pemungutan Suara (TPS) untuk melaksanakan hak politiknya dengan memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden yang diinginkannya. Â Â Â Â Â Â Â Setelah memakan waktu lebih dari dua minggu untuk perhitungan suara yang dilakukan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) maka hasilnya pun telah diketahui sekarang ini; yaitu pasangan Soesilo Bambang Yoedhoyono (SBY) dengan Boediono berhasil meraih suara terbanyak. Atas peraihan suara terbanyak itu maka SBY kelak akan mengemban amanah sebagai Presiden Republik Indonesia sedangkan Boediono sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia masa bhakti 2009 s/d 2014. Â Â Â Â Â Â Â Sebagai bangsa yang besar sudah barang tentu kita wajib bangga telah mendapatkan seorang presiden dan seorang wakil presiden yang dipilih oleh rakyat secara demokratis.
WADAH TUNGGAL PTS, SATU TAPI DUA
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1984: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (114.472 KB)
      Musyawarah Nasional (Munas) Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berlangsung di Jakarta pada bulan Juli ini boleh dicatat sebagai hari istimewa bagi perguruan tinggi swasta di seluruh Indonesia pada khususnya dan seluruh masyarakat pada umumnya, karena pada forum tersebut berbagai ide dan gagasan mengenai pembangunan pendidikan melalui sektor swasta dapat dituangkan.      Jumlah PTS di seluruh Indonesia yang berkisar 500 atau setengah ribu (500) lembaga adalah jumlah yang tidak kecil dan menunjukkan betapa besar peran perguruan tinggi swasta dalam pemantapan sistem pendidikan nasional. Salah satu topik yang menarik di dalam Munas tersebut adalah tentang ide pembentukan wadah tunggal PTS sebagai penggabungan dari beberapa organisasi yang selama ini ada pada per-satuan lembaga pendidikan tinggi swasta se Indonesia.      Selama ini kita mengenal adanya beberapa wadah kebersamaan antar PTS, yang tepatnya sebanyak lima macam; masing-masing ialah Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Swasta (BKS-PTS), Badan Kerja Sama Yayasan Pembina Perguruan Tinggi Swasta (BKS-YPPTS), Yayasan Pembina dan Pengembangan PTS (YPP-PTS), Majelis Rektor Universitas serta Institut Swasta se Indonesia (MR-UISI), dan ada lagi yang namanya Majelis Pimpinan Sekolah Tinggi dan Akademi Swasta se Indonesia (MP-STASI).      Oleh karena kelima wadah tersebut masing-masing mempunyai AD-ART dan otonomi sendiri-sendiri maka maklumlah kalau masing-masing tentu akan mengetengahkan eksistensinya. Hal inilah yang rupanya mengilhami munculnya ide untuk menyatukan kelima wadah tersebut dalam satu "wadah tunggal" sebagai manifestasi dari integralitas beberapa organisasi yang berkepentingan.
POTRET BURAM PTS (DAN PTN)
Supriyoko, Ki
ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA 1998: HARIAN PIKIRAN RAKYAT
Publisher : ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN UNIVERSITAS AMIKOM YOGYAKARTA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (120.539 KB)
      Belum lama ini menteri pendidikan Juwono Sudarsono membuat pernyataan yang kontroversial, sensitif dan sedikit bombastis bahwa dari 1400-an PTS di Indonesia hanya 20 persen saja yang benar-benar layak disebut perguruan tinggi; sedangkan yang 80 persen selebihnya tidak layak disebut sebagai perguruan tinggi. Pernyataan ini melukiskan penilaian seorang menteri pendidikan mengenai begitu rendahnya kualitas mayoritas PTS yang menjadi tanggung jawab pembinaannya.      Bagi sementara pengelola PTS pernyataan tersebut dianggap agak kontroversial karena diucapkan oleh seorang menteri pendidikan yang memang seharusnya ikut memikul tanggung jawab. Di tengah-tengah gencarnya upaya untuk meningkatkan mutu terdapat pernyataan yang dapat mengendorkan usaha-usaha tersebut. Pernyataan tersebut cukup sensitif bagi kebanyakan pengelola dan penyelenggara PTS; meskipun sensitivitas ini dapat dikelola secara profesional untuk diubah menjadi motivasi meningkatkan diri. Di sisi lain pernyataan tersebut agak-agak bersifat bombastis karena seolah-olah kebanyakan PTS kita bukanlah perguruan tinggi dalam pengertian yang sesungguhnya.      Meskipun pernyataan Pak Juwono tersebut kontroversial, sensitif dan agak bombastis tetapi hal itu sekaligus merupakan suatu pengaku-an yang jujur dan transparan. Pernyataan itu jujur karena apabila kita mau mengevaluasi diri dan mengoreksi kekurangan-kekurangan yang ada maka sesungguhnya memang demikianlah keadaannya. Mayoritas PTS kita kualitasnya memang jauh dari maksimal; daya kompetisinya rendah dan performansinya pun tidak memadai.     Pernyataan tersebut cukup transparan; tidak harus menutup-nutupi kekurangan yang ada karena kekurangan tersebut toh kasat mata yang gampang diditeksi oleh masyarakat luas. Bangunan fisik yang terkesan seadanya, profesionalitas dosen yang pas-pasan, dsb, kiranya bagian dari kekurangan PTS secara umum yang tidak lagi menjadi rahasia.