cover
Contact Name
Fajar Rosyidi
Contact Email
konselingreligi@stainkudus.ac.id
Phone
+6285729901256
Journal Mail Official
konselingreligi@stainkudus.ac.id
Editorial Address
Jl. Conge Ngembalrejo Bae Kudus Po Box. 51
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
KONSELING RELIGI
ISSN : 19077238     EISSN : 24772100     DOI : http://dx.doi.org/10.21043/kr
KONSELING RELIGI Jurnal Bimbingan Konseling Islam(ISSN 1907-7238; E-ISSN 2477-2100) accredited B Ministry of Research, Technology and Higher Education No. 36a / E / KPT / 2016 dated 23 May 2016, is an academic journal that emphasizes on actual issues related to Islamic guidance and counseling. Journal of Counseling Religi Journal of Islamic Counseling Guidance is published twice a year (once every six months, issued in June and December) by the Program Studi Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus. SK ISSN was published on July 31, 2006 and is valid since the first Journal of Vol.1, No 1, June 2010. The editors receive contributions from experts to submit their thoughts related to da'wah, guidance, counseling.
Articles 470 Documents
Nilai-Nilai Sufistik dalam Pelayanan Kesehatan : Studi tehadap Husnul Khatimah Care (Hu Care) Di Rumah Sakit Nur Hidayah Bantul Yogyakarta Hidayanti, Ema
KONSELING RELIGI Vol 8, No 1 (2017): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v8i1.2256

Abstract

Pasien rawat inap merupakan mad’u berkebutuhan karena menderita penyakit tertentu yang membutuhkan perhatian tersendiri. Pasien tidak hanya membutuhkan terapi farmasi, tetapi juga terapi psikospiritual. Penelitian kualitatif deskripstif ini mencoba menguraikan tentang Hu Care (Husnul Khatimah Care) bagi pasien rawat inap di  rumah sakit Nur Hidayah Bantul Yogyakarta. Hasil riset menunjukkan bahwa Hu Care merupakan Islamic Palliative Care yang dikembangkan berdasarkan teori pallitive care yaitu perawatan bagi pasien terminal yang tidak hanya mengatasi problem fisik, tetapi juga problem psikologis, sosial, spiritual dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien. Hu Care adalah perawatan yang menggabungkan teori keperawatan medis dengan ajaran Islam terutama nilai-nilai sufistik. Nilai-nilai tersebut antara lain dua kalimat syahadat, Salat, konsep sakit dalam Islam, menerima takdir, dan ruqyah. Berbagai nilai-nilai sufistik tersebut merupakan faktor yang membentuk psikologis positif pada pasien, yang pada gilirannya mampu meningkatkan imun alami dan berpengaruh mempercepat kesembuhan.
KONSELING PERKAWINAN Strategi Preventif Penanganan Problem Relasi Keluarga dan Membangun Hubungan Keluarga yang Sakinah Hasanah, Hasyim
KONSELING RELIGI Vol 7, No 2 (2016): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v7i2.1863

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis peran konseling perkawinan dalam penanganan problem relasi keluarga dan membangun hubungan keluarga yang sakinah. Metode yang digunakan library research dengan teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa problematika relasi keluarga semakin komplek sehingga mengakibatkan ketidakharmonisan dalam keluarga. Upaya yang dapat digunakan untuk mencegah dan mengurangi problem relasi keluarga adalah melalui layanan konseling perkawinan. Konseling perkawinan diarahkan pada lima tahap orientasi yaitu memahami makna keluarga, meningkatkan kesadaran dan dinamika keluarga, komunikasi dan terapi, membangun interaksi dan relasi keluarga, penanganan problem keluarga, membina hubungan keluarga  melalui gaya kelekatan keluarga. Lima orientasi ini menjadi upaya preventif mengurangi dan menangani problem relasi keluarga, selanjutnya dapat digunakan sebagai salah satu strategi membangun hubungan keluarga yang sakinah.
METODE-METODE BIMBINGAN AGAMA ANAK JALANAN Mubasyaroh, Mubasyaroh
KONSELING RELIGI Vol 5, No 1 (2014): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v5i1.1063

Abstract

Anak Jalanan  merupakan fenomena ketidakberdayaan  orang tua untuk melindungi mereka sehingga  anak dijadikan media untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan lepas dari orang tua dan mencari nafkah di jalanan. Jumlah anak jalanan yang tinggi di wilayah Eks Karesidenan Pati mengharuskan usaha pemberdayaan yang serius dari pemerintah untuk menekan jumlah anak jalanan. Tulisan ini berusaha membuka cakrawala atau pandangan kita tentang anak jalanan, bahwa bagaimanapun kondisi dan keberadaannya, anak jalanan merupakan anak pada umumnya yaitu pada masa prtumbuhan, sehingga keberadaannya memerlukan sentuhan orang dewasa diantaranya  melalui bimbingan agama, sehingga potensi yang  dimiliki dapat tumbuh dan  berkembang secara maksimal. Bimbingan agama yang  ada  diharapkan mampu mengatasi permasalahan keagamaan anak-anak jalanan.  Guna membantu mewujudkan perkembangan  potensinya,  seseorang membutuhkan bimbingan agama dari orang lain.  Termasuk di  dalamnya adalah anak jalanan yang masih dalam masa pertumbuhan,  akan  senantiasa membutuhkan  peran  orang dewasa agar potensi agamanya dapat tumbuh secara maksimal. Terdapat dua metode bimbingan yaitu 1. metode langsung yang terdiri dari teknik individual; percakapan pribadi, kunjungan ke rumah dan kunjungan kerja serta teknik kelompok yang meliputi; diskusi kelompok, karyawisata, sosiodrama dan group teaching, 2. Metode tidak langsung terdiri dari; metode individual dan metode kelompok/massal kata kunci: Anak Jalanan, Model, Bimbingan Agama. THE METHODS OF RELIGIOUS  GUIDANCE OF  STREET CHILDREN. Street Children is a phenomenon  of the helplessness of parents to protect them so that the children made the media to meet the needs of the family or to meet his own needs with the release of the elders and earn a living on the streets. The number of street children is high in the area Deforested Residence Pati requires serious empowerment efforts from the government to press the number of street children. This article is attempting  to open the firmament or our views about the street children, that however the condition and its existence, street children are the children in general are on the prtumbuhan, so that its existence requires a touch of adults including through the guidance of religion, so that the potential to grow and develop in a maximum. The Guidance of religion that is expected to be able to overcome the religious issues street children. To achieve the development of potential, someone need religious guidance from others. Included in it is the street children who are still in the period of growth will always need adult role in order for the potential of religion can grow by a maximum. There are two methods of guidance is 1. direct method that consists of individual techniques; private conversation, a visit to the house and the working visit and group techniques which include; group discussions, karyawisata, a sociodrama and group teaching , 2. The method  is not directly consists of; individual method and methods of mass/group Key Words : Street Children, Model, Guidance Religion.
MEMAHAMI PERBEDAAN BUDAYA SEBAGAI SARANA KONSELING LINTAS BUDAYA Suwarni, Suwarni
KONSELING RELIGI Vol 7, No 1 (2016): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v7i1.1697

Abstract

AbstrakManusia dalam ajaran agama diciptakan terdiri dari beragam suku dan bangsa yang kesemuanya itu ditujukan untuk saling mengenal budaya, adat istiadat, cara beribadah, cara bermuamalah dan sebagainya. Di Indonesia saja terdiri atas beragam suku yang mendiami pulau-pulau yang bertebaran di seluruh pelosok Indonesia. Belum lagi penduduk dunia yang dihuni milyaran manusia juga terdiri dari berbagai suku, bangsa, agama, dan bahasa. Kesemuanya memiliki cara pandang dan cara hidup yang berbeda antara satu dengan lainnya. Namun, tidak selamanya keragaman budaya, agama, dan bahasa dapat berjalan beriringan, adakalanya terjadi gesekan-gesekan kecil maupun besar yang apabila tidak diselesaikan akan menjadi masalah yang lebih besar. Maka dari itu konseling dibutuhkan sebagai solusi atas permasalahan yang timbul. Terlebih lagi yang dihadapi konselor terdiri dari manusia yang berbeda latar belakang budayanya. Karenanya, konselor lintas budaya harus memiliki karakteristik tertentu yakni, pertama: konselor lintas  budaya harus sadar terhadap nilai-nilai pribadi yang dimilikinya, kedua, konselor lintas budaya harus sadar terhadap karakteristik konseling secara umum, ketiga, konselor lintas budaya harus mengetahui pengaruh kesukuan, dan mereka harus mempunyai perhatian terhadap lingkungannya, keempat, konselor lintas budaya tidak boleh mendorong seseorang klien untuk memahami budayanya (nilai-nilai yang dimiliki konselor), dan kelima, konselor lintas budaya dalam melaksanakan konseling harus mempergunakan pendekatan eklektik. AbstractUNDERSTAND THE DIFFERENCE AS A MEANS OF CROSS-CULTURAL COUNSELING. Man in the teachings of the religion created consists of various tribes and nations all of which aimed to get to know one another culture, customs, how to serve, how to scribe and etc. In Indonesia only consists of various tribes inhabiting the islands are scattered all across Indonesia. Yet the population of the world is inhabited by billions of people also consists of various tribes, nations, religion and the Bible. All of them have perspective and a different way of life with one another. But not forever cultural diversity, religion and language can walk hand in hand, rarely happened friction-swipe was big and small that when not completed will become the bigger problem. So the counseling needed as solutions to the problems that arise. Moreover faced counselors consist of people of different cultural background. Therefore, cross-cultural counselor must have certain characteristics i.e. first: cross-cultural counselor must be aware of the personal values which possesses, second, cross-cultural counselor must be aware of the characteristics of counseling in general, third, cross-cultural counselor must be aware of the influence of ethnicity and they must have attention to their surroundings, fourth, cross-cultural counselor could not encourage one client to understand the culture (The values owned counselors), and fifth cross-cultural counselor in implementing counseling must use eclectic approach. 
ANCAMAN PERSELINGKUHAN DALAM KEUTUHAN KELUARGA BAHAGIA Suryadi, Suryadi
KONSELING RELIGI Vol 6, No 1 (2015): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v6i1.1043

Abstract

Bimbingan dan Konseling Islam memiliki beberapa bidang garapan, salah satunya bidang pernikahan dan keluarga. Banyak sekali permasalahan yang terjadi dalam pernikahan dan keluargmisalnya perselingkuhan. Karena perselingkuhan termasuk dalabidang garapan bimbingan dan konseling pernikahan dan keluargmaka keberadaannya diharapkan dapat memberikan solusi cerdatas permasalahan yang membuat kehidupan pernikahan dan keluarga “retak”. Dalam diri masing-masing pasangan tertanam bahwa menikah adalah sekali seumur hidup dan disebut perkawinan awet jika bertahan untuk waktu lama sekurang-kurangnya 15 tahun. Perselingkuhan merupakan perilaku yang dilarang agama dan akan menyakiti perasaan pasangan. Akhir-akhir ini keberadaan perselingkuhan “mewabah”, bimbingan dan konseling islam pernikahan dan keluarga diharapkan mampu menjawab tantangan perubahan zaman yang “sarat” dengan permasalahan maupun untuk memaksimalkan keluarga yang sudah hidup sehat semakin hidup sehat dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya atau bertaqwa.kata kunci: Konseling Islam, Perselingkuhan, KeluargaTHREATS INFIDELITYINTEGRITY IN HAPPY FAMILY. Guidance and counselingIslam has some arable fields, one field marriage and family. There are so many problems that occur in marriage and the family, such as infidelity. Because adultery is included in their field of guidance and counseling marriage and family, its presence is expected to provide intelligent solutions to the problems that make marriage and family life „cracked“. Within each pair is embedded that marriage is a lifetime, and called marriage durable if it survives for a long time at least 15 years. Infidelity is a prohibited behavior and religion will hurt the feelings of the couple. Lately the existence of infidelity „epidemic“, guidance and counseling Islamic marriages and families are expected to respond to the challenges of the changing times is „loaded“ with the problem as well as to maximize the families who already live healthy more healthy life by running commands and avoid His prohibitions or pious.Keywords: Counseling Islam, Infidelity, Familyndahuluan
TEKNIK CASE CONFERENCE DALAM KONSELING ISLAM Hasanah, Hasyim
KONSELING RELIGI Vol 6, No 1 (2015): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v6i1.1046

Abstract

Konseling Islam merupakan salah satu proses terapi yang dihadapai individu (klien) dan individu lain (konselor) untuk menyelesaikan masalah klien secara mandiri sesuai dengan ketentuan nilai ajaran Islam. Banyak teknik yang dikembangkan dalam konseling Islam, diantaranya non testing,  observasi, dokumentasi,  biografi dan pemeriksaan fisik  sampai konferensi kasus (case  conference). Case  conference merupakan salah satu teknik dalam bimbingan konseling  yang dilakukan  untuk  menyelesaikan suatu kasus khusus yang terjadi di masyarakat  dengan melibatkan  unsur- unsur penting yang terlibat dalam kasus tersebut. Tujuan teknik ini adalah untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan analisa mendalam dari informasi serta bertujuan untuk penafsiran yang efektif dari “keseluruhan” masalah individu, dan bagi pihak terkait dapat menentukan strategi kebijakan dalam penengana kasus secara komprehensif. Teknik case conference biasanya dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan  baik di sekolah,  keluarga, maupun lingkungan   sosial masyarakat sehingga kehidupan masyarakat dapat berjalan sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat khususnya nilai ajaran. Dalam konseling Islam, teknik konferensi kasus ini merupakan teknik yang memiliki nilai kemanfaatan lebiih besar dibandingkan dengan teknik lainnya. Hal ini dapat dilihat dari informasi kasus dan alternative problem solving yang dihasilkan dalam proses ini. Oleh karena itu membahas teknik konferensi kasus dalam konseling Islam menjadi kajian yang lebih komprehensif-integral.kata kunci:Case Conference, KonselingCOUNSELING IN CASE OF ENGINEERING  CONFERENCE ISLAM.Counseling Islam  is one of the therapeutic process faced by people  (clients) and other  individuals (counselor) to solve  client’s problems independently in accordance with the provisions of Islamic moral  values.  Many of the  techniques  developed  in the  Islamic counseling ,    including     non-testing ,    observation,    documentation, biographies  and physical  examination   to conference   cases  (case conference). Case conference is one of the techniques in counseling are being made to resolve a specific case that occurred in the community involving the  essential elements involved  in the  case. The  purpose of this  technique  is to obtain complete information  and in-depth analysis of the information  and aims for effective interpretation  of the “whole” individual issues, and for the parties concerned can determine policy strategy in penengana cases comprehensively. Mechanical case conference to resolve the problems usually do well in school, family, and social environment so that people’s lives can be run in accordance with the values prevailing in the society, especially the value of the teachings. In Islamic counseling , engineering conference this case is a technique that has a value greater than the benefit lebiih other techniques. It can be seen from the information cases and alternative problem solving that is generated  in this process. Therefore the techniques discussed in counseling  Islam   case  conference  into a more comprehensive study integral.Keywords:Case Conference Technique, Islamic Counseling 
PENGENALAN SEJAK DINI PENDERITA MENTAL DISORDER Mubasyaroh, Mubasyaroh
KONSELING RELIGI Vol 4, No 1 (2013): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v4i1.1073

Abstract

Mental disorder merupakan bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental yang disebabkan oleh kegagalan mereaksinya mekanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/ terhadap stimuli eksternal dan ketegangan-ketegangan sehingga muncul gangguan pada struktur kejiwaan. Gangguan  mental Merupakan totalitas kesatuan dari ekspresi mental yang patologis terhadap stimuli sosial,   yang  dikombinasikan dengan  factor-faktor sekunder lainnya. Seperti halnya rasa pusing, sesak nafas, demam panas dan  nyeri-nyeri pada  lambung  sebagai pertanda  permulaan dari penyakit jasmani, maka mental disorder itu mempunyai pertanda awal antara lain: cemas, ketakutan, pahit hati, dengki, apatis, cemburu,  iri, marah secara eksplosif, asosial, ketegangan kronis, dan lain sebagainya. Maka kesehatan mental yang baik itu, berarti mempunyai perasaan positif tentang diri sendiri, mampu menyelesaikan masalah dan tekanan hidup sehari-hari, dan bisa membentuk dan menjaga hubungan baik dengan orang lain. Selama ini kita sudah memahami pentingnya menjaga kesehatan fisik. Tapi menjaga kesehatan mental juga sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Kenyataannya, kesehatan mental yang buruk akan mengakibatkan kesehatan fisik yang buruk pula.kata  kunci:  Mental  Disorder,  Gangguan Jiwa,   Kekalutan Mental.THE    INTRODUCTION    OF     THE    EARLY PATIENTS WITH MENTAL  DISORDER.  Mental   disorder  is  a  form of disruption and chaos mental  function that is caused  by the failure of mereaksinya adaptation  mechanism  of psychological  functions/ against external stimuli and tensions so that appears on the structure of the disorders psychological disorders. Mental disturbances is the totality of the unity of mental expression pathological culture toward social stimuli, combined with the factor of other secondary factor. Like a sense of dizziness, breathing difficulties, hot Fever and pain in the pain in the stomach as a sign of the beginning of the disease of physical and mental disorder had first signs among others : worry, fear, bitter heart,  envy, apathetic,   jealousy,  covetousness,  angry  by eksplosif, asosial, chronic tensions, etc. Then  the  good mental  health,  means have positive feelings about themselves and able to resolve the problem and the pressure of everyday life and can form and maintain  a good relationship with other people. For this we have to understand the importance of maintaining physical health. But keep the mental health also is as important  as physical health. In fact, bad mental health will result in a bad physical health.Keywords: Mental Disorder, Soul,  Damage Mental Disorders.
ZIKIR SEBAGAI PSIKOTERAPI DALAM GANGGUAN KECEMASAN BAGI LANSIA Khoirun Nida, Fatma Laili
KONSELING RELIGI Vol 5, No 1 (2014): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v5i1.1064

Abstract

Kelompok lanjut usia beragam merupakan usia, dimana perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka tidak dapat diabaikan. Perubahan  yang menyangkut  aspek fisik, psikis, ekonomi, sosial serta munculnya pandangan bahwa lansia  memiliki  beragam kemunduran dalam  fungsi mental menyebabkan posisi lansia membutuhkan perhatian khusus.  Ketidaksiapan mental para lansia untuk mengahadapi rangkaian perubahan tersebut memicu munculnya sikap mereka yang putus  asa,  merasa kesepian, keterasingan dan tidak dihargai. Kondisi ini menjadi kompleks dan  akan terakumulasi dalam bentuk  gangguan kecemasan (anxiety disorder). Terapi kognitif yang dilakukan bagi penderita kecemasan dalam kelompok remaja dan dewasa membuahkan hasil yang positif,  namun tidak terjadi pada kelompok lansia. Dalam hal ini diupayakan adanya terapi yang lebih efektif dalam menangani kecemasan pada kelompok lansia diantaranya melalui psikoterapi zikir. Efek ketenangan  yang dimunculkan  dari terapi dzikir dapat mengurangi tingkat kecemasan pada lansia. Hal ini akan menumbuhkan  ekspectasi bagi mereka, sehingga akan lebih memandang sisa usianya dengan positif. kata kunci: Lansia, Psikoterapi Zikir, Gangguan Kecemasan REMEMBRANCE AS    PSYCHOTHERAPY  IN    ANXIETY DISORDERS  FOR ELDERLY. Elderly  in the  various  groups  is age, where  the  changes occur in their  lives cannot  be ignored. The changes regarding the aspects of the physical, psychological, economic, social and the emergence of the view that the elderly have various deterioration in mental function causes the position of the elderly need special attention. Mental’ unpreparedness the  elderly to facing a series of changes to trigger the emergence of the attitude of those who despair, feel  lonely,  alienation   and not appreciated. This  condition  is  the complex and will be accumulated are in the form of anxiety disorders (headache  disorder).  Cognitive  therapy  is done  for patients  with anxiety in a group of teenagers and adults yielded positive results, but does not occur in the group of elderly. In this endeavor to the existence of a more effective therapy in dealing with the anxiety in elderly groups including through psychotherapy remembrance. Effect of tranquillity that raised from ourselves occupied therapy  can reduce the level of anxiety in the elderly. This will grow ekspectasi for them, so it will be more looked at the remaining age with positive. Keywords: Elderly, Psychotherapy Remembrance, Anxiety Disorders
KONSELING ISLAM DALAM LINTAS BUDAYA PADA MASYARAKAT PANTURA TIMUR JAWA TENGAH Masturin, Masturin
KONSELING RELIGI Vol 8, No 2 (2017): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v8i2.2962

Abstract

Konseling lintas budaya (cross-culture counseling) melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, maka proses konseling rawan terjadinya bias budaya yang akan mengakibatnya proses konseling berjalan kurang efektif. Konselor dituntut memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang responsif secara kultural. Konseling lintas budaya mewarisi berbagai perinsip keilmuan dari psikologi, antropologi, sosiologi, psikologi sosial dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Pelayanan konseling hakikatnya merupakan proses pemberian bantuan dengan penerapkan prinsip-prinsip psikologi. Secara praktis dalam kegiatan konseling akan terjadi hubungan antara satu dengan individu lainnya (konselor dengan klien). Dalam hal ini individu tersebut berasal dari lingkungan yang berbeda dan memiliki budayanya masing-masing. Oleh karena itu dalam proses konseling tidak dapat dihindari adanya keterkaitan unsur-unsur budaya. Keragaman budaya dapat menimbulkan konsekuensi munculnya etnosetrisme dan kesulitan komunikasi. Etnosetrisme mengacu pada adanya perasaan superior pada diri individu karena kebudayaan atau cara hidupnya yang dianutnya dianggap lebih baik. Sedangkan bahasa adalah simbol verbal dan nonverbal yang memungkinkan manusia untuk mengkomunikasikan apa yang dirasakannya dan dipikirkannya. Apabila terjadi perbedaan dalam menginterpretasikan simbol-simbol verbal dan nonverbal diantara dua orang atau lebih yang sedang berkomunikasi, maka akan timbul persoalan. Sesuai dengan fokus penelitian, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang disebut juga sebagai penelitian naturalistik. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan yang bercorak kualitatif, bukan kuantitatif, karena tidak menggunakan alat-alat pengukur. Disebut naturalistik, karena situasi lapangan penelitian bersifat natural atau wajar sebagaimana adanya, tanpa dimanipulasi atau diatur dengan eksperimen atau  riset.
TEORI KEHENDAK MANUSIA PERSPEKTIF PSIKOSUFISTIK AL-GHAZALI Achmad, Ubaidillah
KONSELING RELIGI Vol 6, No 2 (2015): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v6i2.1025

Abstract

Dalam bidang konseling  Islam, hal yang tetap  masih perlu diperhitungkan adalah memahami kehendak manusia. Meskipun istilah memahami kehendak manusia mudah diucapkan, namun secara implementatif tidak semudah yang dikatakan kebanyakan para konselor.  Karenanya, dalam mengkaji kehendak manusia masih  relevan  untuk menggunakan cara  konseling   Islam. Sebaliknya, proses pelaksanaan  konseling  Islam tidak hanya didasarkan pada  materi-materi yang bersumber dari  ajaran agama Islam dan ajaran psikosufistik, namun juga memerlukan pemahaman tentang psikologi modern.  Hal yang sama,  Al- Ghazali mencontohkan menggunakan pengalaman psikologisnya untuk menguatkan teks suci kewahyuannya.  Cara kerja atau pola pendampingan  konseling Islam yang seperti ini merupakan bentuk pola pendampingan multi disiplin dalam bidang konseling. Tidak hanya dalam konseling  Islam, konseling  umum  juga memerlukan materi dan nilai-nilai agama yang bisa dijadikan salah satu pendekatan konseling yang disesuaikan dengan nilai dan kultur pembentuk psikologis individu. Selain model  konseling tersebut, penulis akan memaparkan konseling model psikosufistik Al-Ghazali  untuk memahami kehendak manusia.  Karenanya, kegunaan penelitian ini untuk memberikan penguatan konseling Islam di tengah masyarakat yang membutuhkannya.  Tulisan ini penting untuk menjawab problem nestapa manusia modern.THE THEORY OF THE WILL OF MAN FROM THE PERSPECTIVE   OF   PSIKOSUFISTIK   AL-GHAZALI  In the field of Islamic counseling , things still need to be taken into account is  to understand  the human will. Although  the term  human will understand  easily said, but it is not as easy as saying implementable most counselors. Therefore, in assessing the human will is still relevant to the use of Islamic counseling. Instead, the process of implementation of Islamic counseling is not only based on materials derived from the teachings of Islam and the teachings of psikosufistik, but also requires an understanding of modern psychology. The same thing , Al-Ghazali exemplifies the use of psychological experience to strengthen the sacred text revelation. How it works or accompaniment  patterns counseling Islam as a form of pattern of multi-disciplinary  assistance in the field of counseling. Not only in Islam counseling , general counseling  also require material and religious values which could be one approach to counseling tailored to the values and culture of individual  psychological formation. In addition to the counseling model, the author will explain counseling psikosufistik  Al-Ghazali   models  for understanding  the human  will. Therefore, the usefulness of this study to provide counseling strengthening Islam among the people who need them. This paper is important to address problems of modern human predicament.