cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bengkulu,
Bengkulu
INDONESIA
Naturalis : Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan
Published by Universitas Bengkulu
ISSN : 23026715     EISSN : 26547732     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue "Vol. 9 No. 2 (2020)" : 18 Documents clear
ANALISA SPASIAL KEKERINGAN DENGAN MENGUNAKAN METODE STANDARDIZED PRECIPITATION INDEKS (SPI) DI BENGKULU Rudi Wahyu Hidayat; Agus Susatya; Hery Suhartoyo
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13511

Abstract

Masalah kekeringan merupakan masalah rutin yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia namun dengan waktu awal kekeringan yang tidak tetap maka dari itu perlu dilakukan analisis indeks kekeringan untuk mengetahui tingkat dan durasi kekeringannya sehingga bisa dijadikan sebagai peringatan awal akan adanya kekeringan yang lebih jauh agar dampak dari kekeringan dapat dikurangi. Standardized Precipitation Index (SPI) adalah salah satu cara dalam menganalisis indeks kekeringan pada suatu daerah yang di kembangkan oleh McKee dkk pada tahun SPI didesain untuk mengetahui secara kuantitatif defisit hujan dengan berbagai skala waktu. Data yang digunakan adalah data hujan b ulanan dari tahun 2000 sampai dengan 2019 pada 112 stasiun hujan kemudian data di blending terlebih dahulu dengan dengan data satelit GSMaP untuk mengisi data data yang kosong dengan bantuan program aplikasi Alltools GSMaP. Data hasil blending nanti yang digunakan sebagai data olah. Data tersebut kemudian dilakukan pengolahan untuk mendapatkan nilai nilai SPI dengan program aplikasi Scopics. Dengan masukan data 3 bulan hujan sebagai nilai predictant dan data SOI (South Osilasi Indeks) sebagai nilai Predicto r untuk mendapatkan nilai indeks SPI3. Setelah dilakukan analisa indeks kekeringan kemudian dilakukan pemetaan menggunakan Software Arc Gis dengan tools IDW. Hasil Studi menunjukkan pada semua periode defisit kekeringan terparah terjadi pada tahun 2007 dengan nilai indeks kekeringan SPI3 ( -3,5) di wilayah Kabupaten Mukomuko yang mengartikan sangat kering. Selanjutnya, periode ulang untuk waktu 5, 10, 20, 50 dan 100 tahun juga dihitung dengan tujuan untuk merancang durasi dan besarnya kekuatan kekeringan yang dapat terjadi. Hasil perhitungan periode ulang 5 , 10, 20 dan 50 tahun menunjukan pos hujan Agrisinal yang tertinggi. Sedangkan periode ulang 50 tertinggi pada pos hujan Air Nipis serta periode ulang tertinggi 100 tahun pada pos Sulau.
KAJIAN PENURUNAN TINGKAT RESIDU PESTISIDA PADA MADU LEBAH HASIL BUDIDAYA PADA KAWASAN TANAMAN HORTIKULTURA DI DESA SUMBER URIP KECAMATAN SELUPU REJANG KABUPATEN REJANG LEBONG Iskandar Rahmatullah; Dadang Suherman; Heri Heri Dwiputranto
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13501

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan madu lebah yang dihasilkan oleh lebah A.cerana yang dibudidayakan pada kawasan tanaman hortikultura di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong dalam menurunkan residu pestisida. Pada penelitian sebelumnya Saefudin dkk (2017) melaporkan bahwa madu lebah A.cerana hasil budidaya pada kawasan tanaman hortikultura di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong tidak terdeteksi kandungan pestisida. Penyiapan sample bahan uji dilakukan di laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Bengkulu. Uji laboratorium terhadap sample madu dilaksanakan di Laboratorium Saraswati Indo Genetec (SIG) Bogor. Uji laboratorium dilakukan dengan mengintroduksikan 2 (dua) jenis bahan aktif pestisida yang dominan dipakai oleh petani. Pengujian untuk setiap bahan aktif dilakukan sebanyak 2 (dua) kali ulangan, dengan jangka waktu pengujian (interfal) pengujian selama 1 (satu) minggu, 4 (empat) minggu, dan 12 (dua belas) minggu. Sebagai kontrol digunakan media aquades (air murni) dengan perlakuan yang sama dengan madu lebah A.cerena. Data yang diperoleh dari hasil penelitian dibahas secara deskriptif serta disajikan dalam bentuk tabel. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan hasil bahwa madu lebah yang dihasilkan oleh lebah A.cerana yang dibudidayakan pada kawasan tanaman hortikultura di Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang Kabupaten Rejang Lebong mampu menurunkan kandungan residu pestisida golongan organofosfat. Bahkan pada sample madu dengan bahan aktif profenofos pada minggu ke 12, kandungan residu pestisida sudah dibawah ambang yang dapat terdeteksi (0,0026 ppm).
IDENTIFIKASI KOMPOSISI DAN JENIS LIMBAH CAIR DI GILI AIR KABUPATEN LOMBOK UTARA Rosalina Edy Swandayani; Meilinda Pahriana Sulastri
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.12597

Abstract

Limbah yang merupakan sisa dari kegiatan makhluk hidup yang tidak digunakan lagi sebagian besar bersumber dari kegiatan manusia seperti industri, rumah tangga, instansi, dan lain-lain. Limbah yang tidak diolah dengan baik menjadi salah satu faktor penyebab pencemaran lingkungan yang dapat berdampak buruk terhadap lingkungan dan makhluk hidup. Sektor pariwisata di Gili Air yang sedang berkembang dengan pesat akan membawa dampak negatif terhadap jumlah limbah yang dihasilkan dan dampak buruk bagi lingkungan jika pengelolaan limbah tidak dilakukan dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi komposisi dan jenis limbah cair di kawasan pariwisata Gili Air. Penelitian ini bersifat deskriptif eksploratif yang dilakukan di kawasan pariwisata Gili Air. Penelitian dimulai dengan melakukan studi pendahuluan yang meliputi studi literatur dan observasi lapangan, pengambilan data dengan melakukan survey di Gili Air. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh sumber limbah cair yaitu cairan bekas kamar mandi (bekas mandi dan mencuci), WC (kotoran manusia) dan dapur (sisa cuci peralatan memasak, cuci sayuran) yang bersumber dari permukiman, hotel dan restoran. Komposisi limbah cair di kawasan permukiman didominasi oleh limbah cair yang berasal dari kamar mandi dengan persentase 59.4%, sedangkan kawasan hotel dan restoran didominasi oleh limbah dapur dengan persentase komposisi limbah masing-masing 42,1% dan 49,7% dan Jumlah limbah cair di Gili Air paling banyak dihasilkan oleh restoran sebanyak 355,9 m3 per hari.
ANALISIS FAKTOR ALIH FUNGSI SAWAH, STRATEGI PENGENDALIANNYA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI PADI DI KABUPATEN LEBONG Sugon Hofizer AS; M F Barchia; Marulak Simarmata
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13507

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah di kabupaten Lebong selama 6 tahun terakhir (2012-2017), (2) menganalisis faktor faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan di kabupaten Lebong, dan (3) menganalisis dampak alih fungsi lahan dan strategi mitigasinya terhadap swasembada beras di kabupaten Lebong. Penelitian dilakukan pada Oktober sampai dengan November 2017 di Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Teknik analisis data yang digunakan untuk mengetahui perkembangan luas lahan dan produksi padi sawah di kabupaten Lebong selama 6 tahun terakhir (2012-2016) dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kuantitatif. Dalam mengestimasi faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam mengalih fungsikan lahan sawah digunakan analisis regresi logistik. Sedangkan untuk mengetahui strategi penataan alih fungsi lahan digunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh nyata terhadap alih fungsi lahan adalah resiko usaha tani, pengetahuan tentang peraturan alih fungsi lahan, kedala irigasi, dan nilai jual sawah. Koefisien resiko usaha tani, kendala irigasi, dan nilai jual sawah bernilai positif (+) yang berbarti bahwa semakin tinggi resiko usaha tani kendala irigasi, dan nilai jual sawah maka semakin tinggi kecenderungan petani untuk melakukan alih fungsi lahan. Sedangkan koefisien regresi pengetahuan tentang peraturan alih fungsi lahan bernilai negatif ( -) yang berarti bahwa semakin tinggi pengetahuan tentang peraturan alih fungsi lahan maka semakin rendah kecenderungan petani untuk melakukan alih fungsi lahan. Posisi pengendalian alih fungsi lahan pertanian sawah berada pada kuandran I yaitu posisi dengan strategi agresif (S -O). Dalam hal ini strategi yang direkomendasikan adalah dengan memanfaatkan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada.
PERTUMBUHAN TANAMAN NYAMPLUNG (Callophyllum innophylum L.) DALAM BLOK ORGANIK DARI LIMBAH SERAT BUAH SAWIT DENGAN PEMUPUKAN DI LAHAN PANTAI Wahyu Hidayat; Agus Susatya; Enggar Apriyanto
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13512

Abstract

Provinsi Bengkulu memiliki garis pantai sepanjang ± 525 km yang memiliki potensi sekaligus ancaman bagi keberadaan wilayah daratan akibat aktivitas ombak pantai seperti abrasi. Salah satu cara menanggulangi abrasi pantai adalah dengan cara penanaman vegetasi daerah pesisir melalui kegiatan rehabilitasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman nyamplung dalam blok organik dari limbah serat buah sawit dengan pemupukan serta interaksi keduanya pada lahan pantai. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial yang terdiri dari 2 perlakuan yaitu blok organik (T) dan pemupukan (P). Faktor blok organik terdiri dari semai yang tumbuh pada media tanah (T1 ), semai yang tumbuh pada blok organik kecil (T2 ) dan semai yang tumbuh pada blok organik kecil dan dimasukkan ke dalam blok organik besar (T3 ). Faktor pemupukan terdiri dari 0 gr/tanaman (P1 ), 3 gr/tanaman (P2 ), 5 gr/tanaman (P3 ), dan 7 gr/tanaman (P4 ). Variabel yang diamati adalah persentase hidup tanaman, pertambahan tinggi, diameter, jumlah daun, luas daun, dan jumlah klorofil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase hidup tanaman yang ditanam sebesar 98,15 %. Hal ini berarti bahwa tanaman nyamplung dapat tumbuh pada lahan berpasir. Penggunaan blok organik dari limbah serat buah sawit memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi dan diameter batang tanaman nyamplung, dimana perlakuan T 2 memberikan pertumbuhan tinggi dan diameter terbaik. Sementara aplikasi pemupukan memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertambahan tinggi dan jumlah daun tanaman nyamplung, dimana perlakuan P 2 memberikan nilai rata-rata terbaik. Namun, interaksi antara kedua perlakuan tersebut tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tanaman.
HUBUNGAN FAKTOR KESEHATAN LINGKUNGAN RUMAH TERHADAP KEJADIAN TUBERKULOSIS PARU (Studi Kasus di Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma) Reva Mardianti; Choirul Muslim; Nanik Setyowati
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13502

Abstract

Kesadaran masyarakat yang rendah di Kabupaten Seluma, khususnya di Kecamatan Sukaraja akan lingkungan fisik rumah yang bersih dapat mengakibatkan timbulnya suatu penyakit antara lain TB paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor-faktor kesehatan lingkungan rumah dengan risiko kejadian Tuberkulosis Paru di Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sukaraja Kabupaten Seluma pada bulan Mei sampai dengan Juni Tahun 2019. Metode penelitian kasus kontrol (case control) dan sampel sebanyak 34 orang terdiri dari 17 sampel kasus yang menderita TB paru diambil dengan teknik total sampling dan 17 sampel kontrol yang tidak menderita TB paru yang mempunyai karakteristik kurang lebih sama dengan sampel kasus diambil secara acak. Hasil penelitian menunjukkan intensitas pencahayaan yang tidak memenuhi syarat (< 60 lux) menyebabkan 76,5% responden menderita TB paru, kelembaban udara yang tidak memenuhi syarat (kelembaban < 40% atau > 60%) menyebabkan 82,4% responden menderita TB paru, kepadatan hunian yang tidak memenuhi syarat (< 9 m2 /orang) menyebabkan 88,2% responden menderita TB paru dan suhu rumah yang tidak memenuhi syarat (<18o C atau > 30 o C) menyebabkan 82,4% responden menderita TB paru. Terdapat hubungan antara intensitas pencahayaan, kelembaban, kepadatan hunian rumah dan suhu terhadap kejadian TB paru.Diharapkan menjaga pola hidup sehat dengan cara membuka ventilasi rumah setiap hari dan menghindari kontak langsung dengan penderita TB paru.
TINJAUAN KUALITAS AIR TANAH DI KAMPUS KANDANG LIMUN UNIVERSITAS BENGKULU Abdul Rahman Singkam
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.12848

Abstract

Sebagai lokasi yang terletak bersisian dengan pantai, air tanah di Kampus Kandang Limun Uiversitas Bengkulu (UNIB) dikhawatirkan memiliki kualitas yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan kualitas air tanah di 25 Gedung UNIB dari parameter derajat keasaman (ph), total padatan terlarut (TDS) dan jumlah klorida. Pengukuran sampel dilakukan menggunakan alat digital (ph-, TDS-, dan salinometer) sebanyak dua kali mewakili kondisi musim penghujan dan kemarau. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan hasil dengan standar kualitas air tanah kategori satu Permen LH no 82 tahun 2001. Hasil analisis menunjukkan tidak ada satupun dari 25 sampel air tanah di lingkungan Kampus Kandang Limun UNIB yang memenuhi baku mutu air tanah kategori satu (I). Seluruh sampel yang dianalisis memiliki nilai klorida di atas 0.6 ppt, batas maksimal klorida untuk air tanah kategori I. Nilai klorida yang terlalu tinggi ini ditemukan konsisten sepanjang tahun, dan signifikan lebih tinggi saat musim hujan (F1,20=7.53, p=0.009). Selain nilai klorida yang terlalu tinggi, 72% sampel juga memiliki TDS di atas baku mutu sepanjang tahun. Nilai pH yang terlalu asam dari standar baku mutu juga ditemukan pada lima (20%) sumber air yang dianalisis. Seluruh parameter yang diukur independen satu sama lain, kecuali nilai pH yang berbanding lurus terhadap TDS (F1,24=12.32, p=0.013) saat musim hujan. Beberapa rekomendasi yang disarankan untuk mengatasi masalah air bersih di UNIB adalah: 1) Membuat sistem pengadaan air terintegrasi dengan fokus memanfaatkan sumber air tanah berklorida dan berTDS rendah yang ditemukan pada penelitian ini; 2) Membuat dan mengoptimalkan kantong penampungan air hujan pada masing-masing gedung; dan 3). Melakukan sistem daur ulang terhadap air yang telah digunakan.
KAJIAN KESESUAIAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN EKOWISATA BAHARI DI PULAU MEGA KABUPATEN BENGKULU UTARA Imam Munandar; Agus Susatya; Zamdial Zamdial
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13508

Abstract

Pulau Mega di Kabupaten Bengkulu Utara merupakan Pulau Kecil yang berada di perairan Samudera Hindia sebelah barat Pulau Sumatera yang memiliki kelimpahan sumber daya kelautan dan perikanan, khususnya jasa lingkungan berupa keindahan pantai pasir putih dan terumbu karang beserta ekosistem asosiasinya, sebagai potensi yang sangat penting bagi pengembangan kawasan di masa depan, khususnya pembangunan kegiatan wisata bahari berbasis konservasi. Sebagai upaya untuk mendukung pengembangan kegiatan wisata bahari dimaksud, maka ketersediaan informasi tentang keragaan sumber daya di Pulau Mega adalah suatu keharusan, mengingat hal tersebut merupakan informasi penting yang sangat membantu bagi pemerintah ataupun para investor bidang wisata bahari untuk berinvestasi di pulau -pulau kecil. Metode survei digunakan dalam penelitian ini untuk mengumpulkan data primer dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pulau Mega memiliki potensi yang layak untuk dikembangkan sebagai daerah wisata bahari .
KAJIAN KEDUDUKAN GARIS PANTAI UNTUK PENETAPAN SEMPADAN PANTAI KOTA BENGKULU Gading Putra Hasibuan; Yar Johan; Bieng Brata
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13513

Abstract

Sempadan pantai merupakan daratan sepanjang tepian pantai yang berfungsi untuk pengamanan dan pelestarian pantai. Perubahan fungsi sempadan pantai menjadi lahan tambak dan pemukiman telah mengakibatkan terjadinya abrasi, banjir, rusaknya rumah, rusaknya jalan, berkurangnya jumlah produksi penangkapan ikan, memburuknya sanitasi lingkungan permukiman dan intrusi air laut. Oleh karena itu, penetapan sempadan pantai harus dilakukan untuk mencegah terjadinya kerusakan pantai. Namun, belum ada kajian teknis mengenai kedudukan garis pantai yang digunakan sebagai acuan dalam penetapan sempadan pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan garis pantai dan menentukan penetapan sempadan pantai di Kota Bengkulu. Metode yang digunakan adalah melakukan analisis elevasi pantai, analisis pasang surut, analisis citra Landsat 8 dan analisis kemunduran garis pantai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan garis pantai yang digunakan dalam menentukan sempadan pantai di Kota Bengkulu adalah kedudukan garis pantai Highest Astronomical Tide (HAT) dengan rata-rata kemunduran garis pantai sebesar 1,801 m/tahun yang dominan terjadi di Muara Kualo, Muara Jenggalu, dan Pelabuhan Pulau Baai. Sempadan pantai di Kota Bengkulu untuk proyeksi selama 30 tahun memiliki lebar sebesar 154,038 m (Kecamatan Muara Bangkahulu, Sungai Serut, Ratu Agung, Gading Cempaka, dan Kampung Melayu) dan 100 m (Kecamatan Sungai Serut, Teluk Segara, Ratu Samban, dan Ratu Agung).
ANALISIS KESESUAIAN KAWASAN TAMBAK UDANG VAMANE (LITOPENAEUS VANNAMEI) DI DESA PASAR BEMBAH KABUPATEN BENGKULU UTARA M. Anshar Budi Caniago; Yar Johan; Zamdial Zamdial
Naturalis: Jurnal Penelitian Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Vol. 9 No. 2 (2020)
Publisher : Badan Penerbitan Fakultas Pertanian (BPFP), Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31186/naturalis.9.2.13503

Abstract

Provinsi Bengkulu secara geografis terletak di Pantai Barat Pulau Sumatera, dengan panjang garis pantai 525 km. Selain potensi perikanan tangkap, juga memiliki potensi perikanan budidaya. Kegiatan perikanan budidaya di wilayah pesisir adalah tambak udang. Kabupaten Bengkulu Utara memiliki potensi yang paling luas untuk pengembangan tambak udang. Dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan potensi tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) maka perlu diteliti analisis kesesuaian kawasan di Desa Pasar Bembah Kabupaten Bengkulu Utara. Metode yang digunakan dalam penelitia ini adalah Metode Survei. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan dan data sekunder meliputi literatur-literatur penunjang serta data pendukung lainnya. Kesesuaian kawasan untuk pengembangan tambak Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di Desa Pasar Bembah Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara diperoleh luas kawasan yang masuk dalam kategori sangat sesuai adalah 362.20 ha. Adapun nilai Indek Kesesuaian Tambak (IKT) berkisar 66,67-100% dan luas kawasan yang masuk dalam kategori sesuai adalah 42.63 ha, adapun nilai Indek Kesesuaian Tambak (IKT) berkisar 33,34 – 66,66 %. Strategi yang perlu dilakukan dalam pengembangan kawasan tambak udang: 1) Mengoptimalkan pemanfaatan tata ruang untuk pengembangan tambak udang sehingga potensi lahan dapat dioptimalkan sesuai dengan daya dukung lingkungan, 2) Menerapkan manajemen pengelolaan tambak udang dengan konsep biosecurity dan Best Manajemen Pratices (BMP), 3) Bergabung dengan asosiasi tambak udang, 4) Meningkatkan produksi tambak udang dengan menerapkan teknologi super intensif ramah lingkungan, dan 5) Meningkatkan pengawasan terhadap keamanan produk/ menerapkan standar cara berbudidaya udang yang baik.

Page 1 of 2 | Total Record : 18