cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pembelajaran
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 157 Documents
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI DAN MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP IPA Soma Putra, Ida Bagus
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.06 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v1i1.293

Abstract

Abstract: The Effect of Inquiry Model of Teaching and Learning Motivation onthe Comprehension of Science Concepts. This study was aimed at (1) describing thedifference in the comprehension of science concepts between the students who learnedthrough inquiry teaching model and those who learned through conventional model ofteaching, (2) describing the difference in the comprehension of science conceptsbetween the students with high learning motivation and those with low learningmotivation, and (3) describing the interactive effect between inquiry model of teachingand conventional model of teaching on the students? comprehension of scienceconcepts. The population consisted of all the fifth grade students at SD No. 3BanjarJawa and SD Lab Undiksha Singaraja in the school year 2011/2012. The samplesize was 76 students. The data in this study consisted of (1) the data on the students?learning motivation, (2) the data on comprehension of science. The data were analyzedusing descriptive statistics and 2x2 factorial ANACOVA. The results showed that (1)there was a difference in the achievement in the comprehension of scienceconceptsbetween the students who learned through the inquiry model of teaching andthose who learned through the conventional model of teaching (F=8.238; P<0.05). theinquiry model of teaching yielded a higher level in the comprehension of scienceconcepts than the conventional model of teaching; (2) there was a difference in theachievement in the comprehension of science concepts between the students with highlearning motivation and those with low learning motivation (F=7.372;P<0.05), thestudents with high learning motivation had a higher level of comprehension of scienceconcepts than those with low learning motivation; and (3) there was an interactive effectbetween the inquiry model of teaching and learning motivation on the students?achievement in the comprehension of science concepts (F=24.302;P<0.05).Abstrak: Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri dan Motivasi Belajar TerhadapPemahaman Konsep IPA. Penelitian ini bertujuan: (1) mendeskripsikan perbedaanpemahaman konsep IPA antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiridengan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional, (2)mendeskripsikan perbedaan pemahaman konsep IPA antara siswa yang memilikimotivasi belajar tinggi dengan siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, dan (3)mendeskripsikan pengaruh interaktif antara model pembelajaran inkuiri dan modelpembelajaran konvensional dengan motivasi belajar siswa terhadap pemahaman konsepIPA. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SD Nomor 3 Banjar Jawa danSD Lab Undiksha Singaraja tahun pelajaran 2011/2012. Jumlah sampel dalampenelitian ini adalah 76 siswa. Data yang dikumpulkan adalah (1) data motivasi belajar2siswa, (2) data pemahaman konsep IPA. Data dianalisis dengan menggunakan statistikdeskriftif dan ANACOVA faktorial 2×2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)terdapat perbedaan pemahaman konsep IPA yang dicapai antara siswa yang belajardengan model pembelajaran inkuiri dan siswa yang belajar dengan model pembelajarankonvensional (F= 8,238; P<0,05), model pembelajaran inkuiri menunjukkanpemahaman konsep IPA yang lebih baik dibandingkan dengan model pembelajarankonvensional. (2) Terdapat perbedaan pemahaman konsep IPA yang dicapai antarasiswa yang memiliki motivasi belajar tinggi dan siswa yang memiliki motivasi belajarrendah (F= 7,372; P<0,05), motivasi belajar tinggi menunjukkan pemahaman konsepIPA yang lebih baik dibandingkan motivasi belajar rendah. (3) Terdapat pengaruhinteraktif antara model pembelajaran inkuiri dengan motivasi belajar terhadappemahaman konsep IPA yang dicapai siswa (F= 24,302; P<0,05).Kata kunci: model pembelajaran inkuiri, motivasi belajar, pemahaman konsep
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM DAN KONSEP DIRI SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR BAHASA DAERAH BALI SISWA KELAS VIII SMPN 1 NUSA PENIDA Merthi, Ni Wayan
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.75 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v1i2.298

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan perbedaan prestasi belajar bahasadaerah Bali, antara siswa yang mengikuti model pembelajaran quantum dengan siswa yangmengikuti model pembelajaran konvensional, 2) mendeskripsikan perbedaan prestasi belajarbahasa daerah Bali, antara siswa yang memiliki konsep diri tinggi dengan siswa yangmemiliki konsep diri rendah, 3) mendeskripsikan perbedaan prestasi belajar bahasa daerahBali, sebagai akibat interaksi antara model pembelajaran dengan konsep diri siswa. Penelitianini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Nusa Penida dengan menggunakan rancangan Post TestOnly Control Group Design. Sampel penelitian ini terdiri dari tiga kelas kelompokeksperimen dan tiga kelas kelompok kontrol yang dipilih dengan menggunakan teknikrandom Sampling Kelas. Data diambil dengan cara memberikan tes berupa kuesioner konsepdiri siswa berbentuk objektif dengan pilihan jawaban, dan tes hasil belajar siswa berupa testessay. Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis varians (ANAVA) dua jalur dandilanjutkan dengan Uji Tukey.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) prestasi belajar bahasa daerah Bali siswayang belajar dengan model pembelajaran quantum lebih tinggi daripada siswa yang belajardengan model pembelajaran konvensional (Fhitung = 4,84; p<0,05). (2) terdapat perbedaanprestasi belajar bahasa daerah Bali antara siswa yang memiliki konsep diri tinggi dengansiswa yang memiliki konsep diri rendah. Untuk siswa yang memiliki konsep diri tinggi,prestasi belajar bahasa daerah Bali siswa yang belajar dengan model pembelajaran quantumlebih tinggi dari pada siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional (thitung =16,25; p<0,05), untuk siswa yang memiliki konsep diri rendah, prestasi belajar bahasa daerahBali siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional lebih tinggi dari pada siswayang belajar dengan model pembelajaran quantum thitung = 4,85; p<0,05). (3) terdapatperbedaan prestasi belajar bahasa daerah Bali sebagai akibat adanya interaksi antara modelpembelajaran dengan konsep diri (FABhitung = 32,47; p <0,05).Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan, bahwa prestasi belajar bahasa daerahBali dipengaruhi oleh model pembelajaran yang diterapkan oleh guru, dan konsep diri siswayang mengikuti pembelajaran.Penelitian ini memberikan implikasi antara lain: 1) sebagaitenaga pendidik, guru seharusnya mengetahui konsep diri siswanya. 2) model pembelajaranquantum dalam implementasinya memerlukan tekad, inovasi, dan kesabaran guru dalammerancang pembelajaran.Kata Kunci: quantum, model pembelajaran, prestasi belajar, konsep diri.
PENGEMBANGAN KONTEN E-LEARNING KONTEKSTUAL PADA MATA PELAJARAN PKN KELAS VIII DI SMP LABORATORIUM UNDIKSHA ., NI WAYAN WINASIH; ., PROF. DR. I WAYAN SANTYASA, M.Si.; ., DR. I WAYAN SUKRA WARPALA, S.PD.,M.Sc
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 8, No 3 (2018)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.255 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v8i3.2575

Abstract

Penelitian ini dilakukan karena permasalahan keterbatasan media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mendeskripsikan rancang bangun pengembangan konten e-learning kontekstual, (2) menguji validitas hasil pengembangan konten e-learning kontekstual PKn untuk siswa kelas VIII, dan (3) mengetahui efektivitas penggunaan pengembangan konten e-learning kontekstual terhadap hasil belajar PKn siswa kelas VIII. Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Model yang digunakan adalah model pengembangan AM3PU3 (Santyasa, 2015) yang terdiri dari lima tahapan, yaitu (1) menentukan mata pelajaran yang menjadi objek pengembangan, (2) melakukan analisis kebutuhan, (3) mengembangkan draft (analisis tujuan dan karakteristik isi bidang studi, analisis sumber belajar, analisis karakteristik pebelajar, menetapkan indikator dan isi pembelajaran, menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran, menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran), (4) menyusun draft penegmbangan konten e-learning kontekstual, (5) melakukan uji ahli dan uji coba pengguna. Uji coba pengguna dalam penelitian pengembangan ini meliputi: 1) uji coba perorangan yang terdiri dari 3 (tiga) orang siswa, 2) uji coba kelompok kecil terdiri dari 9 (sembilan) orang, dan uji coba lapangan yang terdiri dari 30 (tiga puluh) siswa dan 1 (satu) orang pendidik. Hasil review dari ahli isi dan ahli media menyatakan bahwa konten e-learning kontekstual yang dikembangkan sudah sesuai. Kelayakan kualitas hasil validasi pengembangan konten e-learning kontekstual terdiri dari: ahli isi mata pelajaran dengan kualifikasi sangat baik (95,17%), ahli desain pembelajaran dengan kualifikasi sangat baik (90,76%), ahli media pembelajaran dengan kualifikasi sangat baik (91,11%), uji perorangan dengan kualifikasi sangat baik (91,54%), uji kelompok kecil dengan kualifikasi baik (94.05%), dan uji coba lapangan dengan kualifikasi sangat baik (98,11%) dilihat dari guru mata pelajaran dan predikat baik (88,83%) dilihat dari 30 (tiga puluh) siswa. Efektivitas penggunaan konten e-learning kontekstual menunjukkan bahwa terdapatnya perbedaan yang signifikan dalam penerapan konten e-learning kontekstual terhadap hasil belajar PKn. Hasil perhitungan dengan menggunakan uji-t memberikan hasil signifikansi sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05. Ini berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar peserta didik sebelum belajar dengan bahan ajar konten e-learning kontekstual dan setelah belajar dengan bahan ajar konten e-learning kontekstual. Hasil belajar berdasarkan pencapaian nilai rata-rata posttest (M= 89,2000) (SD=5.67147) lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata pretest kategori rendah (M=43,0667) (SD=9,28823). Hasil penelitian menunjukkan bahwa konten e-learning kontekstual mampu meningkatkan hasil belajar siswaKata Kunci : pengembangan, konten e-learning, kontekstual, mata pelajaran PKn This research is done because of the problem of media limitations used in the learning process. This study aims to (1) describe the design of content contextual e-learning development, (2) to examine the validity of the content development of the contextual e-learning content of VIII students, and (3) to know the effectiveness of the use of contextual e-learning content development on the results learn PKN students of class VIII. This type of research is development research. The model used is a model of development AM3PU3 (Santyasa, 2015) which consists of five stages, namely (1) determine the subjects that become the object of development, (2) conduct a needs analysis, (3) develop draft (analysis of the purpose and characteristics of the contents of a field of study , analysis of learning resources, analysis of the characteristics of learners, establish indicators and learning content, define the strategy of organizing learning content, define the strategy of delivering learning content), (4) drafting penegmbangan e-learning content contextual, (5) perform expert testing and trial users . The user trials in this development study include: 1) individual trials of 3 (three) students, 2) small group trials consisting of 9 (nine) persons, and field trials of 30 (thirty) students and 1 (one) educator. The results of a review of content experts and media experts stated that content of contextual e-learning developed is appropriate. The quality of validation result of contextual e-learning content development consists of: highly qualified subject matter expert (95.17%), highly qualified learning design expert (90.76%), highly qualified instructional media ( 91,11%), individual test with excellent qualification (91,54%), small group test with good qualification (94.05%), and very good qualified field trial (98,11%) seen from subject teacher and good predicate (88.83%) seen from 30 (thirty) students. The effectiveness of the use of contextual e-learning content indicates that there is a significant difference in the application of contextual e-learning content to the learning outcomes of the PKn. The result of calculation by using t-test gives result of significance equal to 0,001 less than 0,05. This means that there is a significant difference between the learners' learning outcomes before learning with the content of contextual e-learning content and after learning with the content of contextual e-learning content. The learning outcomes based on the achievement of posttest mean (M = 89,2000) (SD = 5.67147) were higher than the low average pretest category (M = 43,0667) (SD = 9.28823). The results show that contextual e-learning content can improve student learning outcomes.keyword : development, e-learning content, contextual, subjects PKn
Pengembangan Bahan Ajar IPS Berorientasi IPS Terpadu untuk Siswa SMP Kelas VII. ., I DEWA GEDE ALIT RAI BAWA; ., Prof. Dr. Sukadi, M.Pd, M.Ed.; ., Dr. I Made Tegeh, S.Pd., M.Pd.
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 4, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.306 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v4i1.1084

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar IPS Terpadu yang teruji validitas dan efektivitasnya dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa SMP kelas VII. Model pengembangan yang digunakan adalah model Dick and Carey, dengan tahapan 1)Identifikasi Tujuan, 2) Melakukan Analisis Instruksional, 3) Mengidentifikasi Tingkah Laku Awal/ Karakteristik Siswa, 4) Merumuskan Tujuan Kinerja, 5) Pengembangan Tes Acuan Patokan, 6) Pengembangan Strategi Pembelajaran, 7) Pengembangan atau Memilih Pembelajaran, 8) Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Formatif, 9) Merancang dan Melaksanakan Evaluasi Sumatif, 10) Revisi Pengajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar tergolong kriteria baik karena telah teruji validitasnya.Implementasi terbatas di kelas termasuk kriteria sangat baik. Efektivitas pengembangan bahan ajar ini diperoleh dari data pra eksperimen tanpa kelompok kontrol. Hasil perhitungan uji-t memberikan nilai sig sebesar 0,001. Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan untuk prestasi belajar siswa sebelum dan sesudah diberi bahan ajar IPS berorientasi IPS Terpadu Kata Kunci : Kata kunci: pengembangan, bahan ajar, IPS Terpadu. This development research aimed at developing instructional material for integrated social science to increase the learning achievement at the seventh grade students in SMP. This development had been test for validity, and its effectiveness. The research method used was research and development by Dick and Carey with stages: 1) Identity Instructional Goals, 2) Conducting a Goal Analysis, 3) Identity Entry Behaviours, Characteristic) , 4) Write Performance Objectives, 5) Developing Criterian-Referenced Test Items), 6) Develop Instructional Strategy, 7) Develop and Select Instructional Materials), 8) Design and Conduct Formative Evaluation), 9) Design and Conduct Summative Evaluation), 10) Instructional Revisions) The result of this research shows that the development of instructional material for integrated social science has a good criterion. The validity test also show a good score. The result of limited implementation shows that the development of this instructional material is very good. The data collected from pre-experiment without controlling group also used to measure the effectiveness of this development. The significant value of t-test is 0,001. It can be concluded that there is a significant difference on the students? ability of learning achievement before and after treated with this instructional material development. keyword : Keywords: development, instructional material, integrated social science.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA DAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 2 ABANG ., KD ARYA UTAMA JAYA; ., PROF.DR. NASWAN SUHARSONO, M.Pd.; ., DRA. NI NYOMAN PARWATI, M.Pd
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.402 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i2.1887

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan perbedaan prestasi belajar matematika dan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang belajar dengan menerapkan model pembelajaran konvensional. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experiment dengan pretest-posttest non-equivalent control group design. Sampel penelitian adalah dua kelas VIII di SMP Negeri 2 Abang tahun pelajaran 2015/2016 yang ditentukan dengan teknik random sampling. Data penelitian ini adalah data prestasi belajar dan keterampilan berpikir kritis. Masing-masing data dikumpulkan dengan tes,serta dianalisis dengan uji MANCOVA. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan prestasi belajar matematika dan keterampilan berpikir kritis antara siswa yang belajar dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang belajar dengan menerapkan model pembelajaran konvensional.Kata Kunci : Pembelajaran Berbasis Masalah, Prestasi Belajar, dan Keterampilan Berpikir Kritis The purpose of this study was to describe the differences in mathematics achievement and skills of critical thinking among students who learn by applying problem based learning and student learning by applying conventional learning model. This research is quasi experiment with pretest - posttest non - equivalent control group design. Samples are two classes VIII in SMP Negeri 2 Abang in the academic year 2015/2016 which was determined by random sampling technique. This research data is data learning achievement and critical thinking skills. Each of data collected by the test, and analyzed with MANCOVA. The results showed there are differences in mathematics achievement and skills of critical thinking among students who learn by applying problem based learning and student learning by applying conventional learning model.keyword : Problem Based Learning, Achievement Learning and Skills Critical Thinking
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN TREFFINGER TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DITINJAU DARI KETAHANMALANGAN ., I KETUT RUMADANA YASA; ., PROF.DR. I MADE CANDIASA, MI.Komp.; ., Dr. KETUT AGUSTINI, S.Si, M.Si.
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.605 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i1.1917

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran Treffinger terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika ditinjau dari Ketahanmalangan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan menggunakan rancangan treatment by level 2 ? 2. Populasi penelitian ini adalah kelas X SMA Negeri 1 Kubu tahun pelajaran 2015/2016 sebanyak 8 kelas (195 siswa). Sampel penelitian ini diambil menggunakan teknik random sampling, 6 kelas ditentukan sebagai sampel dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Data ketahanmalangan dikumpulkan dengan angket, dan data kemampuan pemecahan masalah dikumpulkan dengan tes. Hasil Data penelitian dianalisis menggunakan uji statistik Anava Dua Jalur dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran Treffinger dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional (2 terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dan ketahanmalangan terhadap kemampuan pemecahan masalah matematika, (3) terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran Treffinger dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional pada siswa dengan ketahanmalangan tinggi, (4) terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran Treffinger dan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional pada siswa dengan ketahanmalangan rendah. Kata Kunci : model pembelajaran treffinger, kemampuan pemecahan masalah matematika, dan ketahanmalangan. This research aimed at describing the effect of Treffinger learning model on the ability in solving mathematic problem viewed from Adversity. This is a quasi-experimental research by treatment by level 2 x 2. The research population are all tenth grade students of SMAN 1 Kubu in the academic year 2015/2016 which consist of 8 classes (195 students). The research sample was taken by using random sampling method, 6 classes were determined as a sample and divided into two groups, namely experiment group and control group. Adversity data were collected from Adversity questioner and problem solving ability data were collected through test. The results of research data were analyzed by using two-way Anava and Tukey statistic test. The results showed that (1) there is an ability difference in solving mathematic problem between students applying Treffinger learning model and students applying conventional learning method; (2) there is an interaction effect between learning model and Adversity on the ability in solving mathematic problem; (3) there is an ability difference in solving mathematic problem between students applying Treffinger learning model and students applying conventional learning method on students having high Adversity; (4) there is an ability difference in solving mathematic problem between students applying Treffinger learning model and students applying conventional learning model on students having low Adversity. keyword : treffinger learning model, ability in solving mathematic problem, adversity.
Pengembangan Modul Sejarah Kontekstual untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X Semester Genap di SMK Negeri 1 Singaraja ., AYU GDE CHRISNA UDAYANIE; ., PROF.DR. NASWAN SUHARSONO, M.Pd.; ., DR. I MADE TEGEH, S.Pd.,M.Pd
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.25 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i2.2008

Abstract

Penelitian pengembangan ini bertujuan menghasilkan produk berupa modul sejarah kontekstual untuk siswa kelas X semester genap di SMK Negeri 1 Singaraja yang teruji kelayakan dan keunggulannya untuk meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran sejarah. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (research and development), dengan model pengembangan yang dipilih adalah model pengembangan Santyasa. Langkah-langkah pengembangannya adalah 1) analisis tujuan dan karakteristik bidang studi; 2) analisis sumber belajar; 3) analisis karakteristik pebelajar; 4) menetapkan tujuan belajar dan isi pembelajaran; 5) menetapkan strategi pengorganisasian isi pembelajaran; 6) menetapkan strategi penyampaian isi pembelajaran; 7) menetapkan strategi pengelolaan pembelajaran; dan 8) pengembangan prosedur pengukuran hasil pembelajaran. Validasi draft modul mencakup 1) uji ahli isi dan media pembelajaran; 2) uji ahli desain pembelajaran; 3) uji siswa perorangan; 4) uji siswa kelompok kecil; dan 4) uji lapangan. Hasil review dari ahli isi dan ahli media menyatakan bahwa sejarah kontekstual yang dikembangkan sudah sesuai. Hasil uji ahli desain pembelajaran dengan persentase 93,26% terletak pada kualifikasi sangat baik. Hasil uji siswa perorangan sebesar 90,86% terletak pada kualifikasi sangat baik. Hasil uji kelompok kecil sebesar 85,37% terletak pada kualifikasi baik. Hasil tanggapan pendidik untuk uji lapangan dengan persentase 92,85% terletak pada kualifikasi sangat baik. Hasil persentase keseluruhan peserta didik untuk uji lapangan sebesar 86,42% terletak pada kualifikasi baik. Hasil perhitungan dengan menggunakan uji-t memberikan hasil Signifikansi sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05. Nilai rata-rata posttest (Mean = 89,2000) lebih tinggi dibandingkan nilai rata-rata pretest (Mean=43,0667) Kata Kunci : pengembangan, model pengembangan Santyasa, modul sejarah kontekstual, hasil belajar sejarah This development research aimed to produce the development of contextual history module change model in tenth grade of second semester students at SMK Negeri 1 Singaraja in which the feasibility and advantages had been tested to improve learning achievements in learning history. The research of design used was the research and development method. The chosen of the design development was Santyasa model. The Development steps were as follows.1) analysis goals and characteristics of the study area, 2) analysis of learning resources, 3) analysis of the characteristics of learners; 4) establish learning objectives and content of learning; 5) determine the organization of learning content strategy; 6) establish a strategy delivery of learning content; 7) determine the learning management strategies, and 8) the development of learning outcomes measurement procedures. Validation module draft covered : 1) the content expert test and learning media, 2) the instructional design experts test, 3) individual student test, 4) a small group of students test, and 4) field test. The results of the expert review of content and media stated that contextual history module change model had been developed accordingly. The results of design experts the percentage of 93,26% is located in a very good qualification. The results to individual students by 90,86% is located in a very good qualification. The results to small groups of 85,37% is located in a good qualification. The results of the response of educators to the percentage of 92,85% is located in a very good qualification. The result of the overall percentage of students for field testing by 86,42% is located in a good qualification. The results of calculations using the t-test significance field of 0,001 is smaller than 0,05. The average value after learning (mean =89,2000) was higher than before the study (mean = 43,0667)keyword : development, Santyasa model, contextual history module, history learning achievement
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING DAN PENALARAN FORMAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA BAGI SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Pait, I Made
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (219.279 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v1i1.288

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaranproblem solving dan penalaran formal terhadap prestasi belajar matematika.Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Nusa PenidaTahun Pelajaran 2011/2012 dengan melibatkan 80 orang siswa sebagai subyekpenelitian yang diambil dengan teknik random sampling.Data prestasi belajar matematika dikumpulkan dengan tes prestasi belajarmatematika dan data penalaran formal dikumpulkan dengan tes penalaran formal.Data prestasi belajar matematika selanjutnya dianalisis dengan uji statistik Anavadua jalur( ANAVA AB) dan uji Scheffe.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Terdapat perbedaan prestasibelajar matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran problemsolving dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional, (2)Terdapat pengaruh interaksi antara model pembelajaran dengan penalaran formalterhadap prestasi belajar matematika pada siswa, (3) Terdapat perbedaan prestasibelajar matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran problemsolving dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada kelompoksiswa yang memiliki penalaran formal tinggi, dan (4) Terdapat perbedaan prestasibelajar matematika antara siswa yang mengikuti model pembelajaran problemsolving dengan siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional pada kelompoksiswa yang memiliki penalaran formal rendah.Berdasarkan temuan tersebut dapat disimpulkan, terdapat pengaruh modelpembelajaran problem solving dan penalaran formal terhadap prestasi belajarmatematika bagi siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Nusa Penida Tahun Pelajaran2011/2012.Kata kunci: Model Problem Solving, Penalaran Formal, Prestasi BelajarMatematika.
Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis Self Regulated Learning untuk Mata Kuliah Videography dan Broadcasting di STMIK STIKOM Indonesia ., I NYOMAN WIDHI ADNYANA; ., PROF.DR. NASWAN SUHARSONO, M.Pd.; ., DR. I WAYAN SUKRA WARPALA, S.PD.,M.Sc
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 7, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.189 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v7i3.2241

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan produk pembelajaran berupa multimedia interaktif berbasis self regulated learning (SRL) untuk mata kuliah Videography dan Broadcasting di STMIK STIKOM Indonesia. Penelitian pengembangan ini didasari oleh belum tersedianya bahan ajar inovatif yang sesuai dengan tuntutan Kurikulum serta untuk mengembangan kemampuan self regulated learing pada mata kuliah Videography dan Broadcasting yang dapat digunakan secara mandiri di dalam maupun di luar lingkungan kampus baik secara mandiri maupun kolaboratif. Prosedur pengembangan menggunakan model ADDIE yang terdiri dari lima tahap yaitu: analysis (analisis), design (desain), development (pengembangan), implementation (implementasi) dan evaluation (evaluasi). Subjek uji coba terdiri dari satu orang ahli isi, satu ahli media sekaligus sebagai ahli desain pembelajaran, satu dosen pengampu mata kuliah, 3 mahasiswa dalam uji perorangan, 6 mahasiswa dalam uji kelompok kecil, dan 25 mahasiswa dalam uji lapangan terbatas. Data-data tentang kualitas produk pengembangan ini dikumpulkan dengan kuesioner dan dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan: (1) ahli isi pembelajaran memberikan tanggapan bahwa multimedia interaktif dan buku petunjuk penggunaan sudah sesuai dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran, (2) ahli desain dan media pembelajaran memberikan tanggapan bahwa multimedia interaktif dan buku petunjuk penggunaan sangat baik serta layak untuk digunakan dalam pembelajaran, (3) Uji lapangan untuk dosen pengampu memberikan tanggapan bahwa multimedia interaktif buku petunjuk penggunaan baik. (4) mahasiswa dalam uji perorangan memberikan tanggapan bahwa multimedia interaktif sangat baik, (5) mahasiswa dalam uji kelompok kecil memberikan tanggapan bahwa multimedia interaktif baik, (6) berdasarkan uji lapangan untuk mahasiswa memberikan tanggapan bahwa multimedia interaktif sangat baik. Hasil akhir produk pengembangan selanjutnya dilakukan uji keefektifan. Keefektifan produk diketahui dengan cara membandingkan nilai pretest dan posttest menggunakan analisis inferensial uji-t. Sampel penelitian sebanyak 25 orang mahasiswa yang menempuh mata kuliah Videography dan Broadcasting. Uji perbedaan (uji-t) skor pretest dan posttest menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar mahasiswa antara sebelum dan sesudah menggunakan multimedia interaktif berbasis SRL. Hal ini membuktikan bahwa, multimedia interaktif berbasis SRL efektif meningkatkan hasil belajar mahasiswa. Kata Kunci : multimedia interaktif, self regulted learning, model ADDIE. This research aimed to develop learning product of interactive multimedia based on Self-Regulated Learning (SRL) especially in the videography and broadcasting subject at STMIK STIKOM Indonesia. The Background of this research are caused by needs of innovative module refers to curriculum requirement, further to develop the ability of SRL individually and collaboratively. The procedure of development research implements ADDIE models, that consist of five steps, are: analysis, design, development, implementation and evaluation. Trial Research subject include of one content expert, media expert and design learning expert, 1 lecturer, 3 students of personal test, 6 students of small group test, and 25 student of limited field test. The data of development product quality are collected by questioners and are analyzed by descriptive qualitative. Result of this research are: (1) content expert stated that interactive multimedia and manual book have been referred to the learning, (2) design and learning media expert argued that interactive multimedia and manual book are very appropriate and recommended for the learning, (3) Field test of lecturer argued that interactive multimedia and manual book are good, (4) students in personal test argued that interactive multimedia are very appropriate, (5) students in small group argued that interactive multimedia are good enough, (6) Based on field test of students argued that interactive multimedia are very appropriate. The final result of next development product is held an efficiency testing. The efficiency of product is processed by comparing the pretest and posttest value with inferential analysis of T-test. The sample of this research include of 25 students who learned in videography and broadcasting subject. Differences Test result (T-test) of pretest and posttest are indicated to the significant differences result of student result studies before and after using interactive multimedia based on SRL. It proven that interactive multimedia based on SRL is effectively develop the student learning results. keyword : interactive multimedia, self regulted learning, ADDIE model.
PENGEMBANGAN MULTIMEDIA INTERAKTIF PEMBELAJARAN ANIMASI BERBASIS INKUIRI UNTUK SISWA KELAS XI MULTIMEDIA SMK TI BALI GLOBAL SINGARAJA Hendra Pujawan, Kadek Agus
Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (165.934 KB) | DOI: 10.23887/jtpi.v1i1.294

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan Mendeskripsikan blueprint multime- dia interaktif pembelajaran animasi berbasis inkuiri, Mendeskripsikan tanggapan ahli isi, ahli desain dan ahli media pembelajaran terhadap pengembangan multimedia interaktif pembelajaran animasi berbasis inkuiri, Mendeskripsikan tanggapan user/guru pengajar mata pelajaran animasi terhadap pengembangan multimedia interaktif pembelajaran animasi berbasis inkuiri di kelas XI multimedia SMK TI Bali Global Singaraja, Mendeskripsikan tangga- pan siswa  dalam bentuk uji coba perseorangan, uji coba kelompok kecil dan uji coba lapangan terhadap pengembangan multimedia interaktif pembelajaran animasi berbasis Inkuiri, Menganalisis efektifitas produk penelitian, yang dapat diukur dengan melihat perbedaan antara skor-skor pretest dan posttest yang dicapai peserta didik. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan, dengan mengguna- kan model pengembangan Dick and Carey Penelitian ini melibatkan siswa kelas XI Keahlian Multimedia di SMK TI Bali Global Singaraja. Data tentang kevalidan uji ahli media, ahli isi, ahli desain, uji coba user/guru, uji coba perseorangan, uji coba kelompok kecil dan uji lapangan diperoleh dengan menggunakan angket. Data yang diperoleh tersebut dianalisis secara deskriptif kualitatif dan analisis statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh dari aspek kelayakan isi yang dilakukan oleh ahli isi menunjukan bahwa produk sudah sesuai dengan SK/KD pembelajaran animasi. Pengujian pada aspek tampilan, kegrafisan, pengoperasian program dan tata bahasa yang dilakukan oleh ahli media memperoleh hasil kalkulasi sebesar 85% berada pada kualifikasi baik. Pengujian pada aspek pembelajaran, kurikulum dan desain interface yang dilakukan oleh ahli desain pembelajaran memperoleh hasil kalkulasi sebesar 89% berada pada kualifikasi baik. User/guru pengajar memberikan respon baik. Uji coba perseorangan yang dilakukan mendapat respon baik. Uji coba kelompok kecil memperoleh hasil kalkulasi sebesar 90% berada pada kualifikasi sangat baik. Uji coba lapangan yang dilakukan memperoleh hasil kalkulasi sebesar 87% berada pada kualifikasi baik. Hasil perhitungan dengan menggunakan uji-t memberikan hasil sig sebesar 0,001 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa H0 di tolak dan H1 diterima. Dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan nilai rata-rata hasil belajar peserta didik sebelum dan setelah pembelajaran. Nilai rata-rata setelah pembelajaran (Mean=76,93) lebih tinggi dibandingkan sebelum pembelajaran (Mean = 32,52).   Kata kunci: Multimedia interaktif, Pembelajaran inkuiri, Animasi.