cover
Contact Name
Maizuddin
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
substantia.adm@gmail.com
Editorial Address
Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin
ISSN : -     EISSN : 23561955     DOI : -
Core Subject : Religion, Education,
Substantia is a journal published by the Ushuluddin Faculty and Religious Studies of the State Islamic University (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Indonesia. The scope of Substantia is articles of research, ideas, in the field of Ushuluddin sciences (Aqeedah, Philosophy, Islamic Thought, Interpretation of Hadith, Comparative Religion, Sociology of Religion and Sufism).
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 27 No. 1 (2025)" : 6 Documents clear
Monoteisme dalam Tafsir Juz ‘Amma: Analisis Komparatif Tafsir Salafi Firanda Andirja, Klasik, dan Kontemporer Nurdiatin, Arsy; Ghianovan, Jaka; Mualim, Mohamad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.28866

Abstract

The interpretation of monotheistic verses in Juz ‘Amma plays a pivotal role in shaping Islamic theological discourse. Amidst the rise of concealed shirk practices and spiritual disorientation in contemporary Muslim societies, Salafi-oriented Qur’anic exegesis has reemerged with a strong emphasis on the purification of faith. This study analyzes Firanda Andirja’s interpretation of three key surahs in Juz ‘Amma—Al-Ikhlas, Al-Falaq, and An-Nas—and compares them with classical (Al-Qurthubi) and modern contextual (Quraish Shihab) commentaries. Using a qualitative library-based approach and thematic (maudhu’i) method, this study examines how different exegetical traditions approach core tenets of tawhid, especially within the framework of rububiyyah, uluhiyyah, and asma’ wa sifat. The findings reveal that Firanda employs a rigid, literalist, and theologically apologetic style rooted in Salafi epistemology, while Al-Qurthubi’s exegesis is philological and jurisprudential, and Quraish Shihab adopts a reflective, contextual style. While Firanda’s approach strengthens theological clarity, it tends to lack social engagement and ethical reflection. This study contributes to the development of Salafi exegetical literature and offers critical insight into the role of monotheistic interpretation in addressing contemporary religious challenges. Abstrak: Penafsiran ayat-ayat monoteisme dalam Juz ‘Amma memainkan peran sentral dalam pembentukan akidah umat Islam. Di tengah maraknya praktik syirik terselubung dan krisis spiritual modern, tafsir Salafi kontemporer menjadi salah satu arus penting yang menekankan pemurnian tauhid. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penafsiran Firanda Andirja terhadap tiga surah kunci dalam Juz ‘Amma—Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas—dan membandingkannya dengan tafsir klasik Al-Qurthubi serta tafsir kontemporer Quraish Shihab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka (library research) dan pendekatan tematik (maudhu’i). Data primer bersumber dari tafsir Firanda Andirja, sedangkan data sekunder mencakup Al-Qurthubi dan Al-Misbah, serta literatur pendukung lainnya. Hasil kajian menunjukkan bahwa Firanda mengusung tafsir teologis-apologetik dengan penekanan kuat pada tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma’ wa sifat secara literal dan tekstual, berbeda dengan Qurthubi yang bersifat filologis-mazhabi, dan Quraish Shihab yang kontekstual-reflektif. Penafsiran Firanda memiliki kekuatan dalam menguatkan akidah, tetapi cenderung minim dalam refleksi sosial dan etika publik. Kajian ini berkontribusi dalam memperluas literatur tafsir bercorak salafi serta menawarkan perspektif baru dalam menghadapi tantangan keberagamaan umat Islam kontemporer.
Multivokalitas Makna Kata Al-Fitnah dalam Tafsir Fathul Qadir: Pendekatan Al-Wujûh wa al-Nazhâ’ir Lathifah, Lathifah; Nidhom, Khoirun; Mualim, Mohamad
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29258

Abstract

The semantic interpretation of the term al-fitnah in the Qur’an reveals a complex spectrum of meanings, often reduced in common discourse to mere defamation or slander. This study aims to explore the multidimensional meanings of al-fitnah through the lens of Fathul Qadir, a classical tafsir by Imam al-Shawkani, using the al-wujûh wa al-nazhâ’ir approach—a linguistic methodology that categorizes polysemous terms based on contextual usage in different verses. Employing a qualitative library research design combined with thematic exegesis, the study maps the occurrences and meanings of al-fitnah across 60 instances in 58 surahs. The findings reveal a wide range of meanings including trial, punishment, disbelief, misguidance, chaos, deceit, and sin. The analysis highlights al-Shawkani’s nuanced interpretive strategy and its relevance to contemporary socio-religious discourses. The study contributes to Qur’anic hermeneutics by integrating a classical linguistic framework with modern contextual readings, thereby enriching thematic interpretations of key Qur’anic terms. Abstrak: Pemaknaan kata al-fitnah dalam Al-Qur’an menunjukkan keragaman semantik yang kompleks, yang seringkali tidak terjangkau oleh pemahaman umum masyarakat yang cenderung menyempitkannya hanya pada konteks pencemaran nama baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna kata al-fitnah dalam Al-Qur’an melalui tafsir Fathul Qadir karya Imam Asy-Syaukani dengan pendekatan al-wujûh wa al-nazhâ’ir, suatu pendekatan linguistik-klasik dalam studi tafsir yang memetakan ragam makna lafaz musytarak berdasarkan konteks ayat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan tafsir tematik (maudhu‘i), yang kemudian dikontekstualisasikan melalui klasifikasi makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata al-fitnah ditemukan sebanyak 60 kali dalam 58 surah, dengan makna yang beragam seperti ujian, adzab, kekufuran, kesesatan, kekacauan, hingga tipu daya dan dosa. Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan Asy-Syaukani dalam tafsirnya menunjukkan kehati-hatian semantik dan sensitivitas kontekstual yang khas, serta membuka ruang refleksi teologis atas berbagai bentuk “fitnah” dalam dinamika sosial-keagamaan kontemporer. Kontribusi utama studi ini terletak pada integrasi pendekatan al-wujûh wa al-nazhâ’ir dengan tafsir klasik, sehingga memperluas horizon kajian linguistik-tematik dalam studi Al-Qur’an.
Kedudukan dan Peran Perempuan sebagai Pencari Nafkah Perspektif Tafsir Sunda Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an Karya KH Ahmad Sanusi Sumardi, Agiesni Inayatillah; Shofa, Ida Kurnia
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29286

Abstract

This study aims to examine the position and role of women as breadwinners from the perspective of the Sundanese exegesis Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an by KH Ahmad Sanusi. The background of this research is driven by the importance of understanding the role of women in family economics within the Sundanese cultural context, which is often influenced by more conservative interpretations of exegesis. However, this exegesis offers a more progressive understanding of the role of women, particularly in the economic field. The method used is qualitative analysis with a literary exegesis approach, focusing on analyzing the texts in Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an to examine verses related to women as breadwinners. The research findings indicate that this exegesis provides space for women to play an active role in the family economy without neglecting their domestic responsibilities. This exegesis emphasizes equality in social and economic roles between men and women, as well as the importance of balance in family life. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kedudukan dan peran perempuan sebagai pencari nafkah dalam perspektif Tafsir Sunda Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an Karya KH Ahmad Sanusi. Latar belakang penelitian ini didorong oleh pentingnya pemahaman peran perempuan dalam ekonomi keluarga dalam konteks budaya Sunda yang sering dipengaruhi oleh interpretasi tafsir yang lebih konservatif. Meskipun demikian, tafsir ini memberikan pemahaman yang lebih progresif mengenai peran perempuan, khususnya dalam bidang ekonomi. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif dengan pendekatan tafsir literer, yakni menganalisis teks dalam Raudhatul Irfan fi Ma'rifatil Qur'an untuk menelaah ayat-ayat yang terkait dengan perempuan sebagai pencari nafkah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tafsir ini memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan aktif dalam ekonomi keluarga tanpa mengabaikan tanggung jawab domestik mereka. Tafsir ini menekankan kesetaraan peran sosial dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan, serta pentingnya keseimbangan dalam kehidupan rumah tangga.
Dialektika Pendekatan Normatif dan Kontekstual dalam Penafsiran Rezeki: Studi Komparatif Tafsir An-Nur dan Al-Misbah terhadap Surah Al-Baqarah Ayat 168 dan 172 Hasibuan, Siti Rokan; Ghianovan, Jaka; Ash, Abil
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29412

Abstract

This article explores the dialectic between normative and contextual approaches in interpreting the Qur’anic concept of sustenance (rizq) through a comparative thematic analysis of two influential Indonesian tafsir works: Tafsir An-Nur by Hasbi Ash-Shiddieqy and Tafsir Al-Misbah by M. Quraish Shihab. The study focuses on the interpretations of Surah Al-Baqarah verses 168 and 172, which articulate the principles of lawful (ḥalāl), wholesome (ṭayyib), and grateful consumption. Employing a qualitative library research method and thematic exegesis, this study examines the interpretive orientations, methodological frameworks, and the contemporary relevance of rizq. Tafsir An-Nur emphasizes legalistic dimensions within a fiqh-normative framework, prioritizing adherence to Islamic legal boundaries. In contrast, Tafsir Al-Misbah advances a contextual approach, foregrounding spirituality, ethical consumption, and social responsibility. The dialectical relationship between these approaches reveals the multidimensional nature of rizq and underscores their complementarity in addressing modern materialist challenges. This article contributes to the development of thematic Qur’anic interpretation in Indonesia and proposes a more holistic conceptualization of rizq as an ethical and spiritual guide in contemporary Muslim life. Abstrak: Artikel ini membahas dialektika pendekatan normatif dan kontekstual dalam penafsiran konsep rezeki melalui studi komparatif terhadap dua karya tafsir otoritatif di Indonesia: Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy dan Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Kajian ini difokuskan pada analisis tematik terhadap Surah Al-Baqarah ayat 168 dan 172, yang memuat prinsip konsumsi halal (ḥalāl), baik (ṭayyib), dan syukur. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, artikel ini mengeksplorasi corak penafsiran, orientasi metodologis, serta konstruksi makna rezeki dalam kedua tafsir. Tafsir An-Nur menampilkan pendekatan fiqih-normatif yang menekankan kehalalan dan kepatuhan terhadap hukum syariat, sementara Tafsir Al-Misbah menghadirkan pendekatan kontekstual yang menyoroti etika konsumsi, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Dialektika antara dua pendekatan ini menunjukkan bahwa pemaknaan rezeki dalam Al-Qur’an bersifat multidimensional dan saling melengkapi. Artikel ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian tafsir tematik di Indonesia serta menawarkan kerangka konseptual rezeki yang lebih holistik dan aplikatif dalam menghadapi tantangan materialisme modern.
From Radical Autonomy to Divine Trust: Rethinking Human Freedom through Sartre and Tawhid Furqan, Fatik; Juwaini, Juwaini; Huringin, Nabila; Yasin, Taslim HM.
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.29533

Abstract

This article critically examines the concept of human freedom through a comparative analysis of Jean-Paul Sartre’s existentialism and the Islamic doctrine of tawhid. Employing a qualitative library research method, the study analyzes Sartre’s foundational texts—Being and Nothingness and Existentialism is a Humanism—alongside key Islamic philosophical and theological sources. Sartre views human freedom as absolute and burdened with self-definition in the absence of divine authority, leading to anxiety, alienation, and moral subjectivism. In contrast, Islam situates freedom within the framework of divine will (qada’ and qadar), viewing it as a trust (amanah) exercised under God’s guidance and evaluated through moral accountability. Through four key themes—ontological freedom, responsibility, divine will, and moral implication—the study demonstrates that while Sartre articulates the existential depth of human autonomy, the Islamic worldview offers a more coherent and ethically sustainable model of freedom. This integrated understanding grounds freedom in spiritual purpose, communal responsibility, and the moral agency of the individual. Abstrak: Artikel ini mengkaji tentang konsep kebebasan manusia melalui analisis perbandingan antara eksistensialisme Jean-Paul Sartre dan doktrin tawhid dalam Islam. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif berbasis studi pustaka, kajian ini menganalisis teks-teks utama Sartre—Being and Nothingness dan Existentialism is a Humanism—bersama sumber-sumber filsafat dan teologi Islam klasik maupun kontemporer. Sartre memandang kebebasan manusia sebagai sesuatu yang absolut dan menuntut definisi diri sepenuhnya dalam ketiadaan otoritas ilahi, yang pada akhirnya melahirkan kecemasan, keterasingan, dan moralitas yang subjektif. Sebaliknya, Islam menempatkan kebebasan dalam kerangka kehendak ilahi (qada’ dan qadar), sebagai amanah yang dijalankan di bawah bimbingan Tuhan dan dipertanggungjawabkan secara moral. Melalui empat tema utama—ontologi kebebasan, tanggung jawab, kehendak Tuhan, dan implikasi moral—studi ini menunjukkan bahwa meskipun Sartre berhasil mengartikulasikan kedalaman eksistensial dari kebebasan manusia, pandangan Islam menawarkan model kebebasan yang lebih koheren dan berkelanjutan secara etis. Pemahaman yang terintegrasi ini menempatkan kebebasan dalam tujuan spiritual, tanggung jawab sosial, dan agensi moral individu.
Pemahaman Hadis tentang Kebolehan Membaca Tahlil bagi Pelaku Dosa Besar melalui Pendekatan Historis Muhid, Muhid; Hafizoh, Nurul; Suryani, Khotimah
Substantia: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol. 27 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/substantia.v27i1.31445

Abstract

This study examines the understanding of hadith regarding the permissibility of reciting tahlil (the declaration of “Laa ilaaha illallah”) for individuals who have committed major sins, using a historical approach. The research focuses on the analysis of authentic hadiths that emphasize the virtue of the tahlil phrase and the opportunity for forgiveness for anyone who sincerely repents, including those who have committed grave transgressions such as adultery or theft. The research method involves a comprehensive literature review, takhrij (critical examination) of hadiths, analysis of classical texts, and limited interviews with hadith experts. The findings indicate that the practice of tahlil is strongly supported by authentic hadiths and historical precedents from the Prophet Muhammad and his companions, demonstrating that this ritual can serve as a valid medium for repentance and supplication, even for those who have committed major sins. Besides its theological foundation, tahlil has also developed as a religious and social tradition among Indonesian Muslims, reinforcing values of inclusivity and spiritual reconciliation. This study affirms that Islam provides ample space for repentance and self-improvement, and establishes tahlil as a relevant and moderate practice for contemporary Muslim societies. Abstrak: Penelitian ini membahas pemahaman hadis tentang kebolehan membaca tahlil (pengucapan “Laa ilaaha illallah”) bagi individu yang pernah melakukan dosa besar, dengan menggunakan pendekatan historis. Fokus kajian diarahkan pada analisis hadis-hadis sahih yang menegaskan keutamaan kalimat tahlil dan peluang ampunan bagi siapa pun yang bertobat, termasuk mereka yang pernah terjerumus dalam dosa besar seperti zina atau pencurian. Metode penelitian ini meliputi studi pustaka secara komprehensif, takhrij (kritik sanad dan matan) hadis, analisis literatur klasik, serta wawancara terbatas dengan ahli hadis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik tahlil didukung oleh hadis-hadis sahih dan contoh nyata dari sejarah Nabi Muhammad serta para sahabat, yang membuktikan bahwa amalan ini dapat menjadi sarana taubat dan permohonan ampunan yang sah, bahkan bagi pelaku maksiat besar. Selain memiliki dasar teologis, tahlil juga berkembang menjadi tradisi sosial keagamaan di masyarakat Muslim Indonesia yang menegaskan nilai inklusivitas dan rekonsiliasi spiritual. Kajian ini menegaskan bahwa Islam membuka ruang luas untuk taubat dan perbaikan diri, serta menempatkan tahlil sebagai amalan yang relevan dan moderat dalam dinamika masyarakat Muslim kontemporer.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6