cover
Contact Name
M. Marizal
Contact Email
m.marizal@uin-suska.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
m.marizal@uin-suska.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Al Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
ISSN : 1693508x     EISSN : 25027263     DOI : -
Al-Fikra (p-ISSN: 1693-508X; e-ISSN: -; http://alfikra.pasca-uinsuska.info/index.php/alfikra/index) adalah peer-reviewed journal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah keislaman. Artikel-artikel yang dipublikasikan di jurnal Al-Fikra meliputi hasil-hasil penelitian ilmiah asli (prioritas utama), artikel ulasan ilmiah yang bersifat baru (tidak prioritas), atau komentar atau kritik terhadap tulisan yang ada di jurnal Al-Fikra. Jurnal Al-Fikra diterbitkan oleh Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. Jurnal Al-Fikra menerima manuskrip atau artikel dalam bidang ilmiah keislaman dari berbagai kalangan akademisi dan peneliti baik nasional maupun internasional.
Articles 303 Documents
Pencatatan Sebagai Syarat ‘Sah’ Perkawinan; (Telaah Terhadap Pemikiran Khoiruddin Nasution) Hendri Kori; Husna Farianti Amran
AL-FIKRA Vol 20, No 2 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v20i2.12644

Abstract

Fokus penelitian ini adalah pemikiran Khoiruddin Nasution tentang pencatatan sebagai syarat ‘sah’ perkawinan serta metode yang digunakannya dalam mengistinbātkan pencatatan sebagai syarat ‘sah’. Berdasarkan sumber perolehan data, maka penelitian ini termasuk ke dalam penelitian pustaka (library research). Berdasarkan cara mengolah dan menganalisanya, maka penelitian ini termasuk ke dalam penelitian kualitatif. Teknik analisa data dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dan konten analisis. Penelitian ini menghasilkan bahwa menurut pemikiran Khoiruddin pencatatan tidak hanya sebatas syarat administratif namun juga sebagai syarat ‘sah’ perkawinan; pencatatan berfungsi sebagai syarat dan/atau rukun perkawinan. Alasannya adalah adanya kesamaan ‘illah (sebab/motif hukum) antara pencatatan nikah dengan saksi pernikahan dan walimah.‘Illah dari saksi nikah dan walimahan yang berlaku dimasa Nabi Muhammad SAW adalah merupakan sarana pengakuan masyarakat dan penjaminan hak. Sementara bentuk pengakuan dan jaminan hak untuk masa sekarang tidak cukup lagi hanya dengan saksi dan walimahan, tetapi diperlukan bukti tertulis (akta). Metode yang digunakannya dalam mengistinbātkan pencatatan sebagai syarat ‘sah’ perkawinan adalah metode tematik holistik.
Reinterpretasi Gagasan Perdamaian Perspektif Al-Qur'an: Sebuah Kajian Tematik Muhamad Yoga Firdaus
AL-FIKRA Vol 20, No 1 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v20i1.13357

Abstract

Penelitian ini dihadirkan untuk menggali gagasan perdamaian perspektif Al-Qur'an. Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan tematik atau maudhu’i. Penelitian ini meliputi pembahasan Al-Qur’an dan perdamaian, analisis ayat-ayat tentang perdamaian, serta gagasan perdamaian perspektif Al-Qur’an. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Islam menuntun setiap umatnya melalui Al-Qur’an dengan menganjurkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai ketuhanan, nilai-nilai kemanusiaan, dan nilai-nilai kerukunan demi menggapai perdamaian. Penelitian ini hanya membahas gagasan perdamaian perspektif Al-Qur’an melalui kajian tematik semata. Penelitian ini diharapkan dapat melahirkan telaah baru terkait gagasan perdamaian dengan menggunakan kajian tahlili berpedoman pada literatur tafsir Al-Qur’an secara spesifik.
Taubat Menurut Imam Ahmad Ibnu Qudamah al Maqdisi Heri Suprapto; Titi Susanti; Zulfadhly Mukhtar
AL-FIKRA Vol 20, No 2 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v20i2.14345

Abstract

Hakikat taubat yaitu perasaan hati yang menyesali perbuatan maksiat yang sudah terjadi, lalu mengarahkan hati kepada Allah ﷻ pada sisa usianya serta menahan diri dari dosa. Melakukan amal shalih dan meninggalkan larangan adalah bentuk perbuatan nyata dari taubat. Taubat mencakup penyerahan diri seorang hamba kepada Rabbnya, kembali kepada Allah ﷻ dan konsisten menjalankan ketaatan kepada Allah ﷻ. Jadi, bukan sekedar meninggalkan perbuatan dosa, namun tidak melaksanakan amalan yang dicintai Allah ﷻ , maka itu belum dianggap bertaubat yang sesungguhnya. Seseorang dikatakan telah bertaubat jika ia kembali kepada Allah ﷻ dan rasul-Nya serta melepaskan diri dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa dan maksiat. Ia tanamkan makna taubat dalam hatinya sebelum diucapkan lisannya, senantiasa mengingat apa yang disebutkan Allah ﷻ berupa keterangan terperinci tentang surga yang dijanjikan bagi orang-orang yang taat kepada Allah ﷻ dan rasul-Nya, dan mengingat siksa neraka yang ancamkan bagi pelaku dosa dan maksiat. Dia berusaha terus melakukan itu agar rasa takut dan optimismenya kepada Allah ﷻ semakin menguat dalam hatinya. Dengan demikian, ia harus senantiasa berdoa kepada Allah ﷻ  dengan penuh harap dan cemas agar Allah ﷻ berkenan menerima taubatnya, menghapuskan seluruh dosa dan kesalahannya serta memasukkannya kedalam kenikmatanan yang abadi yaitu surga-Nya.
Islamic Education in Middle School Perspective KH. Ahmad Dahlan (1868 – 1923 M) Nur Azizah Lubis; Mhd Rasid Hamdi; Hakmi Wahyudi; Zulfadhly Mukhtar
AL-FIKRA Vol 20, No 2 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v20i2.13076

Abstract

Islamic Renewal Thought is a very interesting study in the development of thought in the Islamic world. Moreover, the emergence and renewal movements that occurred in Indonesia provided a new, more advanced atmosphere in the field of Islamic Education. K.H. Ahmad Dahlan is a reformist thinker in Indonesia who is engaged in education. Ahmad Dahlan sees that the problem of education is the main root that causes the Indonesian nation, especially Muslims to be left behind. That's why he took the educational path as the main means of preaching. However, to expand the movement of this da'wah step, the existence of educational institutions is presumably too narrow. Some of Ahmad Dahlan's friends advised him to establish an organization. Finally he founded the Muhammadiyah organization. One of the Muslim intellectuals or Islamic education figures who tried to reconstruct the paradigm building that could be used as the basis for the National Education system was KH Ahmad Dahlan. He is a reformist figure in Indonesia who comes with his thoughts to respond to the condition of the ummah, especially in the field of Islamic education, which was very bad in Indonesia during the Dutch colonial government. Seeing this with the K.H. renewal movement. Ahmad Dahlan struggled to change education for the better and more advanced. KH.Ahmad Dahlan is called to take part in thinking about and improving the plight of Indonesian Muslims. KH.Ahmad Dahlan's efforts were realized with the establishment of the Muhammadiyah Organization. The purpose of writing this article is to find out K.H. Ahmad Dahlan on Renewing Islamic Education in Indonesia. The method used is qualitative with the approach used is library research where the data is obtained through various existing literacy.
FUNDAMENTALISME DAN RADIKALISME: Diskursus Komprehensif tentang Karakteristik dan Kiprahnya St Halimang
AL-FIKRA Vol 20, No 1 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v20i1.10680

Abstract

Artikel ini memfokuskan pada eksistensi fundamentalisme dan juga radikalisme yang ditinjau dari konstruksi diskursus hukum Islam. Wacana ini muncul berdasarkan pada penyimpangan cita idealitas al-Qur’an dan al-Hadist. Oleh karenanya, artikel ini mengurai pola dan karakteristik dari fundamentalisme dan radikalisme yang poros pahamnya berbasis pada kerangka keagamaan.  Dari diskursus ini, penulis mengidentifikasi paham dan gerakan ini akan berpeluang muncul di tengah masyarakat. Artikel ini menyimpulkan bahwa para penganut fundamentalisme dan radikalisme sangat keras di dalam menyampaikan gagasannya. Bahkan mereka tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan dalam bentuk anarkistik. Tapi, ia tetap perlu diakui sebagai bagian dari komponen masyarakat yang tidak keluar dari keIslaman. Pada dasarnya, gerakan mereka merupakan bentuk sikap menentang Barat dan modernisme yang dianggap telah melahirkan westernisasi, sekularisasi, hedonisme, pragmatisme, ketidakpastian dan kehampaan hidup.
Pendapat Quraish Shihab Dalam Tafsir al Mishbah Tentang Berbuat Ihsan Dalam Dimensi Sosial Hakim Hendra Alkampari; Ahmad Fadhil Rizki; Delviani Marzal
AL-FIKRA Vol 20, No 2 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v20i2.9766

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh fenomena yang terjadi ditengah masyarakat baik antara orang tua dan anak maupun antara suami dan isteri, karena banyak anak yang tidak berihsan kepada orang tuanya, begitu juga suami yang hendak menceraikan isterinya banyak diantara mereka tidak memenuhi hak isteri ketika menceraikan dan juga tidak berihsan kepada isteri, maka diperlukan penjelasan Ihsan supaya anak, suami, dan masyarakat bisa berbuat Ihsan kepada semua orang. Kata Ihsan digunakan untuk dua hal : pertama memberi nikmat kepada pihak lain. Kedua perbuatan baik. Karena itu kata “Ihsan” lebih luas dari sekadar “memberi nikmat atau nafkah”. Maknanya bahkan lebih tinggi dan dalam dari pada kandungan makna adil, karena adil adalah “memperlakukan orang lain sama dengan perlakukannya kepada Anda”, sedangkan Ihsan, “memperlakukan orang lain lebih baik dari perlakuannya terhadap Anda”. Adil adalah mengambil semua hak anda dan atau memberi semua hak orang lain, sedang  Ihsan adalah memberi lebih banyak dari pada yang harus anda berikan dan mengambil lebih sedikit dari yang seharusnya anda ambil. adapun Objek-objek Ihsan dalam dimensi sosial adalah a. Ihsan kepada isteri yang diceraikan, b. Ihsan kepada orang Tua, c. Ihsan kepada kaum kerabat, d. Ihsan kepada anak yatim, e. Ihsan kepada orang-orang miskin, f. Ihsan kepada tetangga yang mempunyai hubungan dekat, g. Ihsan kepada tetangga jauh, h. Ihsan kepada kawan dekat, h. Ihsan kepada Ibnu sabil, i. Ihsan kepada hamba sahaya, j. Ihsan kepada pelaku pidana. Semua perbuatan yang dilakukan mengarah untuk memberi kebaikan dan nikmat kepada orang lain karena Quraish Shihab mengatakan bahwa Ihsan adalah memberi nikmat dan perbuatan baik.
MADRASAH: QUALITY AND SOCIAL CHANGE (Case Study in Banjarmasin Indonesia) Ahdi Makmur; M. Arrafie Abduh; Hasbullah Hasbullah; arridho abduh
AL-FIKRA Vol 20, No 1 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v20i1.10709

Abstract

According to Indonesian Constitution of 1945, every citizent has his/her right to get education. Consequently, Indonesian government has to provide educational institutions for its nation, like school, madrasah and other forms of non-formal education. Both school and madrasah are carried out in different management. School management is on the hands of the Manistry of Education and Culture, madrasah is managed under the responsibility of the Ministry of Religious Affairs. The difference, however, presents dualism of educational system in Indonesia. As the result, madrasah has no more progress, treated discriminatively, and marginalized.  What a negative action it has, nowadays madrasah still exists in this country.  The purpose of this article is to explain the quality of madrasah (plural: madrasahs) and their role as the agent of social change. This is a field research of qualitative-quantitative approach carried out in a provencial capital city, that is Banjarmasin in South Kalimantan Indonesia. The madrasahs studied were 15 (n=15) with various levels and status including the founding organizations that are responsible. The data were collected by questionaire, interview, observation and documentary.  By measuring the eight indicators of National Education Standard consisting of content standard, process, outputs, teachers and non-educational staff, structures and infrastructures, management, cost, and standard of assesment, it is finally concluded that the quality of madrasahs was very good, although a little difference found out among the educational levels of them, between the state and private madrasahs. In addition, by understanding the students mind set, value, belief, norm, behaviour and their moral or ethics, madrasahs also have played the role  largerly and significantly in social change, except in some aspects which have been deeply rooted in their tradition like their belief on supernatural life, sacrality and irrational power, that basically have not changed yet.
Implementasi Problem Based Learning pada Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan untuk Penanaman Karakter Peserta Didik Sekolah Dasar Angga Eko Novanto; Darsinah Darsinah
AL-FIKRA Vol 21, No 1 (2022): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v21i1.15735

Abstract

Probelm Based Learning merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang perannya dapat memberikan dampak lingkungan belajar yang aktif terhadap peserta didik. Pembelajaran yang didesain secara aktif akan menyuguhkan suatu pengalaman belajar sacara nyata untuk peserta didik tentunya konteks pembelajaran ini masih berkaitan langsung dengan permasalahan yang muncul pada lingkungan sekitarnya. Pada dasarnya PKn merupakan pelajaran yang cara penerapannya menekankan pada pengembangan dari nilai-nilai luhur serta moral yang mengacu pada nilai budaya bangsanya, PKn juga berupaya dalam menyatukan pribadi individu ke dalam suatu bingkai yang seutuhnya. Implementasi Problem Based Learning pada pembelajaran pendidikan kewarganegaraan guna menanamkan karakter peserta didik sekolah dasar harapannya kelak para peserta didik ini nantinya bisa mengedepankan nilai-nilai yang telah di pelajarinya semasa duduk di bangku sekolah tentang nilai karakter nasionalisme dimana bisa meminimalisir terjadinya konflik berdarah seperti konflik pertikaian antar suku yang pernah terjadi di pulau Kalimantan.
Efektivitas Aqidah sebagai Dasar Aksiomatik Pendidikan (Studi terhadap SD IT Imam Syafi’i Pekanbaru) Nelvawita Nelvawita; M. Daffa Hanif; Khairunnas Jamal
AL-FIKRA Vol 21, No 1 (2022): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v21i1.16733

Abstract

Education is an urgency for everyone, including children who are still in the growth stage. A good education will greatly affect future developments, especially if it provides a basis for religion and belief in the form of aqidah from an early age. So this study measures the effectiveness of aqidah as the axiomatic basis of education at the Imam Syafi'i Integrated Islamic Elementary School Pekanbaru City. This study uses a quantitative approach by referring to field data sources with the object of research being elementary school students. Then the results obtained in this study that the effectiveness of aqidah as the axiomatic basis of education in the Imam Syafi'i Integrated Islamic Elementary School in a small group with the final percentage produced, namely 94.5%, is categorized as very good. Then the presentation result in the middle group was 88.22%. While the test conducted on the broad group is with a percentage of 97.78%. All percentage results are in the range of 81% - 100%. It is concluded that teaching understanding of aqidah as the axiomatic basis of education in Imam Syafi'i Integrated Islamic Elementary School is very effective
Muhammad Asad dan Telaahnya terhadap Hadits dan Sejarahnya Ahmad Nabil Amir; Zunaidah Mohd. Marzuki
AL-FIKRA Vol 21, No 1 (2022): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/af.v21i1.12815

Abstract

Artikel ini menyorot pemikiran hadith Muhammad Asad (1990-1992) dan kontribusinya dalam pemahaman hadith kontemporer. Penelitian ini dibuat berlatarkan premis yang mengandaikan tentang pengaruh hadith yang mendasar dalam pemikiran Asad. Karyanya membuktikan keyakinan ini, iaitu dari terjemahan dan syarahnya ke atas kitab Sahih al-Bukhari yang memperlihatkan pengaruh yang signifikan dari prinsip dan tradisi hadith terhadap pemikiran dan keyakinan intelektualnya. Berangkat dari premis ini, tulisan ini cuba membincangkan pemahaman asas tentang hadith yang dirumuskan dalam karya-karyanya seperti Sahih al-Bukhari The Early Years of Islam;Islam at The Crossroads (bab “Hadith and Sunnah” dan “The Spirit ofthe Sunnah”);This Law of Ours and Other Essays; The Road to Mecca dan The Message of the Qur’an. Pengaruh hadith ini bisa dilihat dalam jurnal Arafat dan makalahnya yang lain terkait tema-tema hadith dan sunnah dan pemahamannya di abad moden, seperti tulisannya “Social and Cultural Realities of the Sunnah”. Metode penelitian adalah bersifat deskriptif, analitis, historis dan komparatif. Penelitian ini mengembangkan ide dan fikrah hadith yang dirumuskan Asad dari perspektifnya yang moden dan membandingkannya dengan pemikiran-pemikiran sejarah yang krusial terkait prinsip hadith yang dibawakan oleh pemikir Islam yang lain. Penelitian ini menyimpulkan bahawa Muhammad Asad telah memberikan sumbangan yang penting dalam pemikiran hadith di abad moden dengan hasil penulisannya yang prolifik, terutama terjemahan dan syarahannya yang ekstensif terhadap Sahih al-Bukhari yang memuatkan komentar-komentar yang baru dan analisis sejarahnya yang substantif terhadap kitab ini. Hasil penelitian membuktikan yang Asad telah membawa pemahaman yang signifikan tentang tradisi hadith dan mengusung nilai dan semangatnya yang asli menurut kefahamannya yang sebenar dari pengalaman awal Islam. Ia turut merumuskan pertentangan-pertentangan hukum dan dasar yang diambil dalam istinbat-istinbat fuqaha dan muhaddith dalam tradisi syarah hadith yang kritis. Beliau turut merespon pertikaian-pertikaian asas yang dibangkitkan oleh golongan orientalis dan intelektual yang skeptis terhadap riwayat-riwayat sejarah dalam tradisi hadith.

Filter by Year

2001 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 1 (2025): Al-Fikra: Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 23, No 2 (2024): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 22, No 2 (2023): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 22, No 1 (2023): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 21, No 2 (2022): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 21, No 1 (2022): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 20, No 2 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 20, No 1 (2021): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 19, No 2 (2020): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 19, No 1 (2020): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 18, No 2 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 18, No 1 (2019): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 17, No 2 (2018): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 17, No 1 (2018): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 16, No 2 (2017): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 16, No 1 (2017): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 15, No 2 (2016): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 15, No 1 (2016): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 14, No 2 (2015): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 14, No 1 (2015): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 13, No 2 (2014): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 13, No 1 (2014): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 12, No 2 (2013): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 12, No 1 (2013): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 11, No 2 (2012): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 11, No 1 (2012): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 10, No 2 (2011): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 10, No 1 (2011): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 9, No 2 (2010): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 9, No 1 (2010): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 8, No 2 (2009): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 8, No 1 (2009): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 7, No 2 (2008): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 7, No 1 (2008): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 5, No 2 (2006): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 5, No 1 (2006): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 4, No 2 (2005): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 4, No 1 (2005): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 3, No 2 (2004): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 3, No 1 (2004): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 2, No 2 (2003): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 2, No 1 (2003): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman Vol 1, No 1 (2001): Al-Fikra : Jurnal Ilmiah Keislaman More Issue