cover
Contact Name
Afriadi Putra
Contact Email
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Phone
+6281328179116
Journal Mail Official
afriadi.putra@uin-suska.ac.id
Editorial Address
LPPM Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Jl. HR. Soebrantas KM. 15,5 Panam - Pekanbaru
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
An-Nida'
Core Subject : Religion, Social,
Jurnal Annida memuat hasil-hasil penelitian, baik kajian kepustakaan maupun kajian lapangan. Fokus utama Annida adalah: 1. Pemikiran Islam berkaitan dengan isu-isu kontemporer, Islam moderat, HAM, gender, dan demokrasi dalam Al-Quran dan Hadis 2. Sosial keagamaan: kajian gerakan-gerakan keagamaan, aliran-aliran keagamaan, dan aliran kepercayaan 3. Integrasi Islam, sains, teknologi dan seni
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 48, No 2 (2024): December" : 7 Documents clear
The Reform Movement of KH. Wahid Hasyim: Da’wah Management and the Transformation of Islamic Education in Indonesia Ashari, M. Fahmi; Derysmono, Derysmono; Fikri, Muhammad Rozan
An-Nida' Vol 48, No 2 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i2.26398

Abstract

KH. Wahid Hasyim was a key figure in the reform of Islamic education and da’wah management in Indonesia. This study aims to explore the reform movement of KH. Wahid Hasyim in the context of da’wah management and the transformation of Islamic education in Indonesia. This research employs a qualitative approach by analyzing various literature sources on the educational and managerial policies introduced by KH. Wahid Hasyim, as well as his contributions to the modernization of pesantren. The findings indicate that KH. Wahid Hasyim implemented modern management principles in the administration of Islamic education and da’wah. He integrated religious education with general knowledge, such as foreign languages, to equip students with the necessary skills to face contemporary challenges. The reforms carried out at Madrasah Nizamiyah, including curriculum modifications and teaching method improvements, led pesantren toward a more modern educational system that aligns with societal needs. His policies, such as mandating religious education in public schools, reflect his commitment to the advancement of Islamic education in Indonesia. KH. Wahid Hasyim’s contributions to Islamic education can also be seen in his efforts to develop educational institutions, such as LP Ma'arif NU, which now oversees more than 6,000 educational institutions across Indonesia. With an inclusive approach rooted in the values of tolerance, his educational reforms not only emphasized academic excellence but also focused on character development, preparing students to navigate global challenges.Abstrak: KH. Wahid Hasyim merupakan salah satu tokoh penting dalam pembaharuan pendidikan Islam dan manajemen dakwah di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali gerakan pembaharuan KH. Wahid Hasyim dalam konteks manajemen dakwah dan transformasi pendidikan Islam di Indonesia yang diusungnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis berbagai sumber kepustakaan mengenai kebijakan pendidikan dan manajerial yang diperkenalkan oleh KH. Wahid Hasyim, serta bagaimana kontribusinya dalam modernisasi pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KH. Wahid Hasyim menerapkan prinsip-prinsip manajemen modern dalam pengelolaan pendidikan Islam dan dakwah. Wahid mengintegrasikan pendidikan agama dengan pengetahuan umum, seperti bahasa asing, untuk mempersiapkan santri menghadapi tantangan zaman. Pembaharuan yang dilakukan di Madrasah Nizamiyah, termasuk perubahan kurikulum dan metode pengajaran, membawa pesantren menuju pendidikan yang lebih modern dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Kebijakan-kebijakan yang diterapkan, seperti mewajibkan pendidikan agama di sekolah umum, menunjukkan komitmennya terhadap perkembangan pendidikan Islam di Indonesia. Kontribusi KH. Wahid Hasyim dalam dunia pendidikan Islam dapat dilihat melalui upayanya dalam mengembangkan lembaga pendidikan, seperti LP Ma’arif NU, yang kini memiliki lebih dari 6000 lembaga pendidikan di seluruh Indonesia. Dengan pendekatan inklusif dan berbasis pada nilai-nilai toleransi, pendidikan yang dibentuk tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang dapat menghadapi tantangan global.
Women’s Leadership, Sharia Law, and Society 5.0: A Review of Istibsyaroh’s Thoughts Alfiyah, Nur; Barizi, Ahmad; Kawakip, Akhmad Nurul; Muhammad, Adamu Abubakar
An-Nida' Vol 48, No 2 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i2.32656

Abstract

This study aims to analyze the leadership thought of Istibsyaroh, a female Islamic boarding school figure from Jombang, East Java, and its relevance in addressing leadership challenges in the Society 5.0 era. The issue of female leadership in this context remains a subject of debate, particularly concerning gender equality, the interpretation of Sharia law, and adaptation to modern technological advancements. Using a qualitative approach and a descriptive-analytical method, this study examines literature encompassing Istibsyaroh’s works, insights, and contributions, as well as the concept of female leadership in Sharia law and Society 5.0. The analysis reveals the interconnection between the qualifications of an ideal leader in the Society 5.0 era, Islamic perspectives on female leadership, and Istibsyaroh’s thoughts. The findings indicate that Istibsyaroh asserts women's right to hold political positions as long as they adhere to Islamic law, as there is no explicit evidence prohibiting female leadership in politics and governance. Through a critical review of thematic Quranic exegesis (tafsīr mawḍū‘ī) regarding scholars’ differing views on women’s political rights and leadership, it can be concluded that Islam provides space for women to engage in political leadership. Istibsyaroh’s leadership thought offers a model that emphasizes the synergy between Islamic values, gender justice, and adaptive skills in technology and global dynamics, making it relevant to addressing the complex leadership challenges of the Society 5.0 era.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran kepemimpinan Istibsyaroh, seorang tokoh perempuan pesantren dari Jombang, Jawa Timur. serta relevansinya dalam menjawab tantangan kepemimpinan di era Society 5.0. Isu kepemimpinan perempuan dalam konteks ini masih menjadi perdebatan, terutama terkait keadilan gender, interpretasi hukum syariah, dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi modern. Dengan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif-analitis, penelitian ini mengkaji literatur yang mencakup karya, wawasan, dan kontribusi Istibsyaroh, serta konsep kepemimpinan perempuan dalam hukum syariah dan Society 5.0. Analisis ini mengungkap keterkaitan antara kualifikasi pemimpin ideal di era Society 5.0, perspektif Islam tentang kepemimpinan perempuan, dan pemikiran Istibsyaroh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Istibsyaroh menegaskan hak perempuan untuk menduduki jabatan politik selama berpegang teguh pada syariat Islam, karena tidak ada dalil eksplisit yang melarang kepemimpinan perempuan di bidang politik dan pemerintahan. Dari tinjauan kritis terhadap kajian tafsīr mawḍū‘ī (tematik) mengenai perbedaan pandangan ulama tentang hak-hak politik perempuan, dapat disimpulkan bahwa Islam memberikan ruang bagi perempuan untuk berperan dalam kepemimpinan politik. Pemikiran kepemimpinan Istibsyaroh menawarkan model yang menekankan sinergi antara nilai-nilai keislaman, keadilan gender, serta keterampilan adaptif terhadap teknologi dan dinamika global, menjadikannya relevan untuk menghadapi tantangan kepemimpinan di era Society 5.0.
Dynamicizing the Discourse of Hadith: Study of HR. Bukhārī No. 1291 and Abū Dāwūd No. 4291 from a Philosophical Hermeneutics Perspective Rukmana, Fachruli Isra; Hidayat, Aldi; Nazahah Najiyah, Nur Laili Nabilah; Abdul Hamid, Mohammad Fahmi; Yuzar, Sri Kurniati
An-Nida' Vol 48, No 2 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i2.32328

Abstract

Hadith studies have experienced stagnation compared to Qur’anic studies, which continue to develop with various new ideas. This stagnation is caused by the dominance of sanad analysis, debates over the status of hadith as a secondary source in Islam, and the use of certain hadiths to reject reform. One of the hadiths often cited to oppose renewal is the prohibition against lying about the Prophet Muhammad, as narrated by al-Bukhārī. This study aims to re-examine the hadith prohibiting fabricating statements about the Prophet and the hadith on renewal (tajdīd) using the philosophical hermeneutics of Hans-Georg Gadamer. This approach emphasizes the concepts of fusion of horizons and effective historical consciousness to revitalize hadith studies in the modern context. This research employs a qualitative method with a library research approach. The analysis focuses on two key hadiths: the prohibition against lying about the Prophet Muhammad (HR. al-Bukhārī No. 1291) and the hadith on tajdīd (HR. Abū Dāwūd No. 4291). The study presents two main conclusions. First, the stagnation in hadith studies results from rigid traditionalism, where hadith is primarily treated as a theological doctrine rather than an epistemological paradigm. Second, classical and modern hadith sciences have yet to fully ensure the authenticity of hadith texts exactly as intended by the Prophet. However, the prohibition against fabricating hadith implicitly demands the purification of hadith from additional narrators’ insertions. Thus, this article proposes originalization as an implicit message of HR. al-Bukhārī and an application of the tajdīd hadith from Abū Dāwūd. Originalization is expected to open new discussions in hadith studies, such as hadith revisionism, the phenomenology of memory, and the archaeology and anthropology of narrators.Abstrak: Studi hadis mengalami stagnasi jika dibandingkan dengan studi Al-Qur’an yang terus berkembang dengan berbagai gagasan baru. Stagnasi ini disebabkan oleh dominasi kajian sanad, perdebatan mengenai kedudukan hadis sebagai sumber sekunder dalam Islam, serta penggunaan hadis tertentu untuk menolak pembaruan. Salah satu hadis yang sering dijadikan dasar untuk menolak pembaruan adalah larangan berbohong atas nama Nabi Muhammad, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Bukhārī. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah kembali hadis larangan berdusta atas nama Nabi dan hadis tentang pembaruan (tajdīd) dengan menggunakan perspektif hermeneutika filosofis Hans-Georg Gadamer. Pendekatan ini menekankan konsep fusion of horizons (penggabungan cakrawala) dan effective historical consciousness (kesadaran historis yang efektif) untuk mendinamisasi kajian hadis dalam konteks modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Analisis dilakukan terhadap dua hadis utama: larangan berdusta atas nama Nabi Muhammad (HR. al-Bukhārī No. 1291) dan hadis tentang tajdīd (HR. Abū Dāwūd No. 4291). Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan utama: Pertama, stagnasi kajian hadis disebabkan tradisionalisme yang kaku dan cenderung selalu digunakan sebagai doktrin teologis bukan sebagai paradigma epistemologi. Kedua, ilmu hadis klasik dan modern belum mampu menjamin keaslian matan sepersis yang dikehendaki Nabi padahal larangan memalsukan hadis secara tersirat menuntut sterilisasi hadis dari redaksi tambahan perawi. Karena itu, artikel ini mengajukan orisinalisasi sebagai panggilan tersirat HR. Bukhari sekaligus pengamalan atas hadis tajdīd riwayat Abū Dāwūd. Orisinalisasi nantinya akan membuka wacana baru hadis, seperti revisionism hadis, fenomenologi ingatan, arkeologi dan antropologi perawi, dan lain-lain.
The Role of Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah Youth in Promoting Islamic Moderation in Indonesia Mukhsin, Mukhsin; Hubby Dzikrillah Alfani, Ilzam; Fauzi, Ridwan
An-Nida' Vol 48, No 2 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i2.32457

Abstract

Youth play a vital role as agents of change in promoting religious moderation values. In Indonesia, this role is strategic and contributive, given the significant potential that youth possess, such as energy, creativity, and broad access to education and information. Youth also have the ability to create interfaith dialogue and actively engage in public policy. This study aims to analyze the contributions of youth from Nahdlatul Ulama and Muhammadiyah, which have the power to influence social change, particularly in the religious context, by promoting values of tolerance, harmony, and unity, preventing radicalism, and fostering interfaith cooperation. To achieve this, the study employs a qualitative approach, relying on literature review and descriptive-analytical data analysis. This research concludes that, despite their great potential, youth face challenges such as the influence of radicalization, social stigma, lack of education on moderation, and environmental and cultural pressures. Other barriers include the negative influence of social media, cultural resistance, lack of institutional support, and limited access and resources. To address these challenges, specific strategies are needed, such as the development of moderation-based training programs, as well as youth involvement in community activities. Additionally, government support through policies, funding, and facilities is also a crucial factor. Through education, social media, and community activities, youth can harness their potential to promote Islamic moderation, creating a more tolerant, inclusive, and harmonious society amidst diversity.Abstrak: Pemuda memegang peran vital sebagai agen perubahan dalam mempromosikan nilai-nilai moderasi beragama. Di Indonesia, peran ini bersifat strategis dan kontributif mengingat potensi besar yang dimiliki pemuda seperti energi, kreativitas, serta akses luas terhadap pendidikan dan informasi. Pemuda juga memiliki kemampuan menciptakan dialog lintas agama dan keterlibatan aktif dalam kebijakan publik. Penelitian ini bertujuan menganalisis kontribusi pemuda Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah memiliki kekuatan untuk memengaruhi perubahan sosial, terutama dalam konteks keagamaan, dengan mempromosikan nilai-nilai toleransi, harmoni, dan persatuan, mencegah radikalisme, dan membangun kerja sama lintas agama. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengandalkan kajian pustaka dan data dianalisis secara deskriptif-analitis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meski memiliki potensi besar, pemuda menghadapi tantangan seperti pengaruh radikalisasi, stigma sosial, kurangnya pendidikan tentang moderasi, serta tekanan lingkungan dan budaya. Hambatan lain termasuk pengaruh negatif media sosial, resistensi budaya, kurangnya dukungan institusi, serta keterbatasan akses dan sumber daya. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan strategi khusus, seperti pengembangan program pelatihan, pendidikan berbasis moderasi, serta pelibatan pemuda dalam kegiatan komunitas. Selain itu, dukungan pemerintah melalui kebijakan, pendanaan, dan fasilitas juga menjadi faktor penting. Melalui pendidikan, media sosial, dan kegiatan komunitas, pemuda dapat memanfaatkan potensi mereka untuk mempromosikan moderasi Islam, menciptakan masyarakat yang lebih toleran, inklusif, dan harmonis di tengah keberagaman.
Habitus and Cultural Capital Among Muslim Women: The Case of Women’s Empowerment in Nasyiatul Aisyiyah Gamping, Yogyakarta, Indonesia Amanah, Siti Nur; Isroyan, Doni
An-Nida' Vol 48, No 2 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i2.32463

Abstract

This article discusses the Muslim women’s empowerment movement carried out by Nasyiatul Aisyiyah Gamping, Yogyakarta, in the context of gender justice and various issues surrounding women, such as female scholars, women’s involvement in public spaces, and the cultural roles of women in society. The capital and habituation of Muslim women in this study are understood as the theoretical and practical implications of the women’s empowerment movement. This research uses a qualitative approach with a case study method of the Nasyiatul Aisyiyah Gamping women’s organization. The results show that the women’s empowerment movement within this organization is carried out through three main aspects: structural, cultural, and knowledge-based individual aspects. In the structural aspect, empowerment is reflected in the active involvement of women in organizational activities. In the cultural aspect, women play a role in various religious activities within the Gamping community. Meanwhile, in the individual aspect, empowerment is seen in the increased access of Muslim women to knowledge related to gender justice. Although this movement has become part of social transformation, there are still various challenges to face, both structurally and culturally. The patriarchal epistemology that remains deeply rooted in several elements of the leadership and the Gamping community presents obstacles that complicate the struggle to achieve gender justice, even at the local level. The empowerment and habituation efforts for Muslim women through Nasyiatul Aisyiyah Gamping remain a long-term endeavor that requires sustainable strategies.Abstrak: Artikel ini membahas gerakan pemberdayaan perempuan Muslim yang dilakukan oleh Nasyiatul Aisyiyah Gamping, Yogyakarta, dalam konteks keadilan gender dan berbagai isu yang mengitari perempuan, seperti ulama perempuan, keterlibatan perempuan di ruang publik, serta peran kultural perempuan dalam masyarakat. Modal dan habituasi perempuan Muslim dalam penelitian ini dipahami sebagai implikasi teoretis dan praktis dari gerakan pemberdayaan perempuan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus terhadap organisasi perempuan Nasyiatul Aisyiyah Gamping. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan pemberdayaan perempuan dalam organisasi ini dilakukan melalui tiga aspek utama: struktural, kultural, dan berbasis pengetahuan individu. Pada aspek struktural, pemberdayaan tercermin dalam keterlibatan aktif perempuan dalam kegiatan organisasi. Pada aspek kultural, perempuan berperan dalam berbagai aktivitas keagamaan di masyarakat Gamping. Sementara itu, pada aspek individu, pemberdayaan terlihat dari peningkatan akses perempuan Muslim terhadap pengetahuan terkait keadilan gender. Meskipun gerakan ini telah menjadi bagian dari transformasi sosial, masih terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, baik secara struktural maupun kultural. Epistem patriarki yang masih mengakar dalam beberapa elemen kepengurusan dan masyarakat Gamping menjadi hambatan yang memperumit perjuangan mewujudkan keadilan gender, bahkan di tingkat lokal. Upaya pemberdayaan dan habituasi perempuan Muslim melalui Nasyiatul Aisyiyah Gamping tetap menjadi pekerjaan jangka panjang yang membutuhkan strategi berkelanjutan.
Political Moderation as a New Foundation in Indonesia: An Analysis of Deliberative Democracy Theory and Maqashid Shariah Syahrain, Anggi; Sugitanata, Arif; Aminah, Siti
An-Nida' Vol 48, No 2 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i2.28985

Abstract

This study explores the concept of political moderation in Indonesia, proposing it as a crucial approach to addressing the current political polarization. As one of the world's largest democracies, Indonesia faces challenges such as political polarization, disinformation, and the risk of social disintegration, exacerbated by regional elections and the dominance of political dynasties. This research introduces the concept of political moderation as a “new foundation” to balance ideological differences and ensure social stability. By analyzing this concept through Jürgen Habermas’s theory of Deliberative Democracy and Al-Shatibi’s Maqashid Shariah, the study integrates rational discourse and Islamic principles to highlight the importance of moderation in building an inclusive and sustainable democracy. The study employs a qualitative research methodology, utilizing primary data from selected books, journals, and online sources, and applies descriptive-analytical analysis to examine the implications of political moderation. The findings indicate that political moderation not only prevents the escalation of conflicts but also strengthens democratic institutions by promoting dialogue, tolerance, and respect for differing opinions. Additionally, political moderation aligns with Islamic values of justice and balance, contributing to the protection of religion, life, intellect, lineage, and property, as emphasized in Maqashid Shariah. The study concludes that political moderation is essential for maintaining national unity, promoting social justice, and ensuring the long-term stability and development of democracy in Indonesia.Abstrak: Penelitian ini mengeksplorasi konsep moderasi politik di Indonesia, mengusulkannya sebagai pendekatan penting untuk mengatasi polarisasi politik yang terjadi saat ini. Sebagai salah satu demokrasi terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan seperti polarisasi politik, disinformasi, dan risiko disintegrasi sosial, yang diperburuk oleh pemilihan daerah dan dominasi dinasti politik. Penelitian ini memperkenalkan konsep moderasi politik sebagai “fondasi baru” untuk menyeimbangkan perbedaan ideologi dan memastikan stabilitas sosial. Dengan menganalisis konsep ini melalui teori “Demokrasi Deliberatif Jürgen Habermas” dan “Maqashid Shariah Asy-Syatibi”, penelitian ini mengintegrasikan diskursus rasional dan prinsip-prinsip Islam untuk menyoroti pentingnya moderasi dalam membangun demokrasi yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan memanfaatkan data primer dari buku, jurnal, dan sumber online yang dipilih, serta menerapkan analisis deskriptif-analitis untuk mengkaji implikasi moderasi politik. Temuan menunjukkan bahwa moderasi politik tidak hanya mencegah eskalasi konflik tetapi juga memperkuat institusi demokrasi dengan mempromosikan dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan pendapat. Selain itu, moderasi politik sejalan dengan nilai-nilai Islam tentang keadilan dan keseimbangan, yang berkontribusi pada perlindungan agama, kehidupan, akal, keturunan, dan harta benda, sebagaimana ditekankan dalam Maqashid Shariah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa moderasi politik sangat penting untuk menjaga kesatuan nasional, mempromosikan keadilan sosial, dan memastikan stabilitas serta perkembangan jangka panjang demokrasi di Indonesia.
The Scientific Authority in Islam from the Perspective of ‘Abd al-Majīd as-Ṣaghīr: The Ideal and the Reality of Knowledge Production Mutawakkil, Moch. Ali; Putra, J. Nabiel Aha; Wijaya, Roma
An-Nida' Vol 48, No 2 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i2.32863

Abstract

This study aims to explore the tensions that arise in the production of knowledge by Islamic scholarly authorities between idealism and reality. Numerous studies have examined Islamic religious authorities that produce Islamic knowledge in the form of fatwas, rulings, and opinions. However, existing research has yet to highlight how idealism and reality interact in this production process in the contemporary era. The interplay between idealism and reality in knowledge production has not been thoroughly explored. This study employs a qualitative method with a content analysis approach. The findings reveal that the efforts of Islamic scholarly authorities to ideally produce Islamic knowledge, as conceptualized by ‘Abd al-Majīd as-Ṣaghīr, face various real-world challenges. These include the minority status of Muslims, threats to personal safety from violent actors, a lack of public trust due to scholars holding executive government positions, and the presence of an undereducated (bromocorah) community at the village level. These conditions force Islamic scholarly authorities to postpone the implementation of the ideal model (an-namūdhaj al-mithālī) and adopt various adaptive strategies. This article implies that while Islamic scholarly authorities continue striving to realize their ideal model, the realities they face compel them to adapt and delay its implementation. This narrative sheds light on an aspect that has not been extensively discussed in previous studies. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana tarik-ulur yang terjadi pada produksi pengetahuan oleh otoritas ilmiah dalam Islam antara keidealan dan realitasnya. Studi mengenai otoritas agama Islam yang memproduksi pengetahuan keislaman, baik berupa fatwa, keputusan, maupun pendapat, telah banyak dilakukan. Namun, riset yang ada selama ini belum menyoroti bagaimana keidealan dan realitas produksi tersebut di era kekinian. Tarik-ulur antara keidealan dan realitas dalam proses produksi pengetahuan ini belum pernah diungkap secara mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan content-analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya produksi pengetahuan keislaman secara ideal oleh otoritas ilmiah dalam Islam, sebagaimana yang digagas ‘Abd al-Majīd as-Ṣaghīr, menghadapi berbagai kendala dalam realitasnya. Beberapa di antaranya adalah kondisi muslim yang minoritas, ancaman keselamatan jiwa dari aktor kekerasan, kurangnya kepercayaan masyarakat akibat ulama menjabat sebagai pejabat publik di tingkat eksekutif, serta kendala masyarakat kurang terdidik (bromocorah) di tingkat desa. Situasi ini memaksa otoritas ilmiah Islam untuk menunda model ideal (an-namūdhaj al-mithālī) dan melakukan berbagai bentuk adaptasi. Artikel ini memberikan implikasi bahwa meskipun otoritas ilmiah Islam terus berupaya mewujudkan model idealnya, realitas yang dihadapi memaksa mereka untuk menyesuaikan diri dan menunda penerapannya. Narasi ini mengungkap aspek yang selama ini belum banyak dibahas dalam studi terkait. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2024 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 49, No 2 (2025): December Vol 49, No 1 (2025): June Vol 48, No 2 (2024): December Vol 48, No 1 (2024): June Vol 47, No 2 (2023): December Vol 47, No 1 (2023): June Vol 46, No 2 (2022): July - December Vol 46, No 1 (2022): January - June Vol 45, No 2 (2021): Juli - Desember Vol 45, No 2 (2021): July - December Vol 45, No 1 (2021): January - June Vol 45, No 1 (2021): Januari - Juni Vol 44, No 2 (2020): Juli - Desember Vol 44, No 2 (2020): July - December Vol 44, No 1 (2020): Januari - Juni Vol 44, No 1 (2020): January - June Vol 43, No 2 (2019): July - December Vol 43, No 2 (2019): Juli - Desember Vol 43, No 1 (2019): January - June Vol 42, No 2 (2018): July - December Vol 42, No 2 (2018): Juli - Desember Vol 42, No 1 (2018): January - June Vol 42, No 1 (2018): Januari - Juni Vol 41, No 2 (2017): Juli - Desember Vol 41, No 2 (2017): July - December Vol 41, No 1 (2017): January - June Vol 41, No 1 (2017): Januari - Juni Vol 40, No 2 (2015): Juli - Desember Vol 40, No 2 (2015): July - December Vol 40, No 1 (2015): January - June Vol 40, No 1 (2015): Januari - Juni Vol 39, No 2 (2014): July - December 2014 Vol 39, No 2 (2014): Juli - Desember 2014 Vol 39, No 1 (2014): Januari - Juni 2014 Vol 39, No 1 (2014): January - June 2014 Vol 38, No 2 (2013): Juli - Desember 2013 Vol 38, No 2 (2013): July - December 2013 Vol 38, No 1 (2013): Januari - Juni 2013 Vol 38, No 1 (2013): January - June 2013 Vol 37, No 2 (2012): July - December 2012 Vol 37, No 2 (2012): Juli - Desember 2012 Vol 37, No 1 (2012): January - June 2012 Vol 37, No 1 (2012): Januari - Juni 2012 Vol 36, No 2 (2011): Juli - Desember 2011 Vol 36, No 2 (2011): July - December 2011 Vol 36, No 1 (2011): Januari - Juni 2011 Vol 36, No 1 (2011): January - June 2011 More Issue