cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Sosial Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Sosial Budaya (Online ISSN 2407-1684 | Print ISSN 1979-2603), merupakan jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau sejak tahun 2007. Jurnal Sosial Budaya ini merupakan media yang memuat kajian-kajian ilmiah dalam bentuk hasil riset dalam bidang ilmu sosial/humaniora, seperti pernaskahan, pranata-sosial dan sejarah untuk membangun dan membangkitkan kembali kejayaan Tamaddun Melayu dalam kawasan regional Asia Tenggara. Jurnal Sosial Budaya diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Juli dan Desember yang berusaha menempatkan hasil penelitian para peneliti, akademisi, pemerhati dalam keilmuan terkait. Jurnal Sosial Budaya juga memberi perhatian bagi publikasi hasil penelitian interdisipliner berbagai pihak yang memiliki perhatian serius untuk merancang, dan merajut tatanan dunia baru Tamadun Melayu.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020" : 8 Documents clear
Analisis Ungkapan Tradisional Melayu Jambi: Kajian Hermeneutik Warni Warni; Rengki Afria
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.10585

Abstract

AbstrakSebagai bagian dari kebudayaan, ungkapan tradisional menarik untuk dikaji. Ungkapan tradisional sebagai khazanah tak benda mengandung nilai, makna, dan seni berbahasa masyarakat melayu Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi, mendokumentasi, mendeskripsi, dan menganalisis bentuk, jenis-jenis, fungsi, dan makna Ungkapan Tradisional Melayu Jambi: Kajian Hermeneutik. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber data berupa ungkapan tradisional melayu Jambi . Data penelitian ini adalah pepatah, petitih, kias, peribahasa dalam bahasa Melayu Jambi. Hasil penelitian disimpulkan bahwa beberapa data ungkapan tradisional melayu Jambi, baik berupa peribahasa, pepatah, maupun perumpamaan. Masyarakat Melayu Jambi pada umumnya dalam bertutur bersifat tidak terbuka, sehingga mereka menggunakan kiasan-kiasan untuk menyampaikan pesan dalam tuturan tersebut. Ungkapan tradisional Melayu Jambi mempunyai fungsi dalam kehidupan bersosial dimasyarakat. Fungsi tersebut adalah: Sebagai sarana edukasi masyarakat, Sebagai nasehat, dan Sebagai khazanah budaya tradisi lisan. Implikasi teoritis dalam penggunaan metode yang tepat dapat menghasilkan analisis data yang akurat. Secara praktis hasil kajian ini  dapat diimplikasikan sebagai  rujukan, dan pembanding dari penelitian-penelitian selanjutnya yang mendalami kajian hermeneutik.Kata Kunci: ungkapan, tradisional, melayu jambi, hermeneuticAbstractAs part of culture, traditional expressions are interesting to study. Traditional expression as a treasure not object contains the value, meaning, and language arts Jambi Malay community. This research aims to inventory, document, describe, and analyze the shape, type, function and meaning of expressions Traditional Malay Jambi: Study hermeneutic. The method used is a qualitative descriptive method. Data source Jambi Malay traditional form of expression. This research data is the maxim, proverb, analogy, saying in Malay Jambi. The results conclude that the number of traditional Malay Jambi expression data, in the form of proverbs, sayings, or parables. Jambi Malay community in general in the converse is not open, so they use metaphors to convey the message in speeches. Jambi Malay traditional expression has a function in the life of the community socialization. These functions are: As a means of public education, As advice, and As a cultural treasure of oral tradition. Theoretical implications in the use of appropriate methods can result in accurate data analysis. In practice, the results of this study can be implied as a reference, and a comparison of further studies that delve into hermeneutic studies.Keywords: expressions, traditional, Jambi Malay, hermeneutic
Memperkenalkan Pariwisata Budaya dan Heritage Kepada Generasi Muda Melalui Virtual Tour ke Pulau Penyengat Irwan Irwan; Ute Lies Khadijah; Rusdin Tahir
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.11010

Abstract

Kondisi pandemic yang melanda Indonesia yang memaksa masyarakat untuk tetap berada dirumah demi mencegah penyebaran virus corona dimanfaatkan oleh sekelompok masyarakat untuk berkegiatan untuk mengatasi rasa bosan. Wisata virtual ke Pulau Penyengat yang merupakan destinasi pariwisata budaya dan heritage yang diadakan oleh Outing.id diikuti oleh 32 orang wisatawan virtual yang 22 orangnya merupakan peserta yang berusia 21 – 40 tahun yang lazim dikenal dengan generasi millennial. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan pengambilan data menggunakan metode survei dengan pedekatan purposive sampling, peneliti bertujuan ingin mengetahui karakteristik dan motivasi para millennial dalam mengikuti virtual tour wisata budaya dan heritage ke Pulau Penyengat di Provinsi Kepulauan Riau. Hasilnya para peserta millennial yang mengikuti kegiatan ini didorong karena rasa ingin tahu terhadap destinasi pariwisata yang disajikan secara daring dalam bentuk virtual tour melalui aplikasi video conference.
Perubahan Sosial Dalam Upacara Adat Kematian Pada Etnis Batak Toba di Tapanuli Utara Harisan Boni Firmando
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.10300

Abstract

The traditional ceremony for the death of the ethnic Toba Batak is a sacred activity and is a hereditary heritage carried out to date. Death ceremonies vary according to the situation and place of the deceased. At present there are some changes in the implementation of the ceremonies of death after the Batak people in their hometown interact with people from other regions. The informants in this study are traditional leaders, religious leaders, people who have performed traditional death ceremonies in their hometown, namely North Tapanuli. This study found that the implementation of the stages of the event at the traditional ceremonies of death that occurred at this time experienced a development where the existing customs became more diverse. Existing traditional rites have begun to change, this change gave birth to a new habit. The occurrence of these new habits is caused by a variety of things, namely the influence of the majority of teachings adopted by the Toba Batak community, space and time that has changed, and the actualization of status and power to achieve life goals. Various strategies carried out by agents to achieve life goals by changing existing structures. Changes in the structure can be seen in changes in the implementation of ritual ceremonies which are organized repeatedly, where various practices of traditional ceremonies of death are always produced and reproduced, so they will still exist. Along with various developments, in the future the implementation of the traditional ceremony of death will experience challenges, namely consumerism, materialism and decreased solidarity. However, the challenge is not a barrier to continue carrying out traditional ceremonies.
Kampung, Tato, dan Identitas: Studi Dekonstruksi Makna Simbolik Kampung Tato Dini Anisa Sasqia; Luhung Achmad Perguna; Abd Latif Bustami
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.9914

Abstract

Identitas kampung tato diambil dari sebuah kebiasaan yang dilakukan masyarakat setempat sejak ±40 tahun yang lalu. Kebiasaan yang dilakukan dari waktu ke waktu ternyata menghasilkan konstruksi yang dapat memberikan label maupun cap kepada pelaku pencipta realitas. Artikel ini fokus kepada dekonstruksi makna kampung tato. Dengan menggunakan metode kualitatif yang didukung teknik pengumpulan data purposive sampling. Hasil dari data yang telah didapat dengan observasi, wawancara, dan dokumen maka akan dipaparkan sebuah tulisan dan gambar. Didukung pula dengan sebuah teori dari Jacques Derrida yaitu Dekonstruksi. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini yaitu terdapat dua aspek yang mempengaruhi adanya dekonstruksi. Pertama dari setting sosial masyarakat kampung tato. Dimana penamaan istilah kampung tato lahir dari masyarakat luar yang memandang kampung tato sebagai basis tato. Alih-alih menghindari stigma tato, masyarakat setempat justru terang-terangan menyatakan bahwa desanya merupakan basis tato. Kedua dari oposisi biner, ditunjukkan dengan pelaku tato membongkar penafsiran makna tato atas dasar ketidaksadaran, bukan pertimbangan dan bukan karena organisasi. Dari realitas yang terus diciptakan menjadikan kampung tato kelas dua, kelas yang dikesampingkan. Meskipun pelaku tato telah berusaha untuk keluar jurang masa lalu tetapi mereka tetap dicap kurang baik. Disinilah oposisi biner menjadi keniscayaan.
Nujuh bulanan Tradition Value For Societies Resilience in Costumary Community Urug Bogor West Java Fachruddin Majeri Mangunjaya; Bahagia Bahagia; Rimun Wibowo; Yono Yono
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.10960

Abstract

The objective of this research is to investigate Nujuh Bulalanan tradition for resilience societies in customary societies. The method used is ethnography because of research related to societies, cultural, tradition and ritual of the community. Data are collected through in-depth interview with the leader of Urug societies, documentation and observation. The sample is selected using a purposive sampling technique. The result is analysed through triangulation which is mixing some gathering data method. The result is societies of Urug still pursue nujuh bulanan tradition. It can support cultural resilience because tradition from their forefather has not vanished amid globalisation of culture. Another finding is nujuh bulanan support societies resilience through mutual cooperation or mutual assisting. Activity is not the private activity but it is a common activity which is conducted by collective action and individual awareness which impact the collective consciousness. The impact is the societies who they live in the group are more resilience rather than life in an individual trait. The other finding is to create food resilience because local food which has been created by a group of societies can save a person from hunger when they receive local food in temporary periods. Besides, It can protect local traditional of food from extinction because in this tradition, societies typically women must invent local traditional food rather than another sort of food. 
Tradisi “Mbeleh Wedhus Kendhit” Sebagai Sarana Tolak Balak di Masa Pandemi Covid-19 M. Yusuf; Abd. Basyid
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.11272

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tradisi mbeleh wedhus kendhit sebagai sarana tolak bala di masa pandemi covid-19, juga untuk mengetahui bagaimana konstruksi pemahaman masyarakat mengenai tradisi mbeleh wedhus kendhit sebagai sarana tolak bala di masa pandemi covid-19, dan terakhir, untuk mengetahui nilai yang terkandung dalam tradisi mbeleh wedhus kendhit sebagai sarana tolak bala di masa pandemi covid-19. Untuk menjawab tujuan penelitian tersebut, penulis menggunakan pendekatan kualititatif  dengan jenis fenomenologis. Setelah data terkumpul, untuk mencari konstruksi pemahaman, dianalisis dengan menggunakan teori konstriuksi sosial Berger dan Luckman tentang subjective reality, symbolic reality, dan objective reality, juga tentang eksteralisasi, objektifikasi, dan iternalisasi. Sedangkan untuk mencari nilai yang terkandung dalam tradisi, menggunakan analisis descriptive-eksplorative. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa, tradisi ini merupakan rangkaian acara yang dimulai dari penyembelihan wedhus kendhit hingga doa bersama di lapangan dusun, dilaksanakan secara tentatif ketika terjadi pagebluk, seperti pagebluk covid-19. Masyarakat memahami bahwa tradisi mbeleh wedhus kendhit adalah sumber segala nilai, lanjut melaksanakan, kemudian mereka mendapatkan suatu kebenaran kolektif tentang adanya khasiat sebagai sarana tolak bala. Nilai yang terkandung dalam tradisi “mbeleh wedhus kendhit” ada dua, yakni nilai ilahiyah dan nilai insaniyah.
Integrasi Antaretnis (Studi Kasus di Kampung Kauman, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta) Lani Kusuma Yuniati; Sigit Pranawa; Abdul Rahman
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.10755

Abstract

Keberagaman latar belakang budaya dan etnis yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Kauman menarik karena keunikannya dalam mencapai kehidupan yang integratif. Ke-6 etnis menunjukkan bentuk kerukunan dalam bermasyarakat. Perbedaan budaya yang dimiliki tidak menimbulkan konflik antaranggota masyarakat. Berdasarkan kondisi tersebut maka penelitian ini berfokus untuk menemukan wujud dan faktor yang melatarbelakangi adanya integrasi antaretnis di Kampung Kauman. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui  observasi partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi sumber serta teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Penelitian ini menemukan bahwa integrasi antaretnis di Kampung Kauman terwujud melalui beberapa aspek yang meliputi aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya serta dilatarbelakangi oleh faktor-faktor sebagai pendukung dari terwujudnya integrasi. Menjunjung tinggi nilai toleransi menjadi faktor utama dalam mewujudkan kehidupan yang integratif antaranggota masyarakat.  Kata Kunci: Integrasi Antaretnis, Masyarakat Heterogen, Kampung Kauman.
Tradisi Mandi Sumur Penganten di Keraton Kanoman Cirebon Rahma Nur Atika; Salma Nur Karimah; Fadel M. Rizki; Bagja Waluya; Asep Dahliyana
Sosial Budaya Vol 17, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/sb.v17i2.8554

Abstract

Berdasarkan hasil observasi langsung yang kami lakukan, Pandangan Masyarakat Cirebon terhadap Tradisi Mandi Sumur penganten sangat menarik. Tradisi Mandi Sumur penganten ini merupakan Tradisi yang digunakan masyarakat untuk tetap mempertahankan peninggalan leluhur juga mempertahankan kearifan local dan cirri khas kota Cirebon. Keraton Kanoman ini merupakan tempat penyebaran islam pertama di Jawa Barat. Di keraton kanoman ada banyak karang-karang yang filosofinya “manusia harus punya mental seperti karang” bahwa manusia jangan mengandalkan sesuatu dari harta atau modal melainkan harus ada mental dari dirinya dari dalam hatinya, segala sesuatu harus bergerak dari hatinya. Pada hasil observasi kami juga menemukan bahwa ternyata sebelumnya Mandi Sumur pengantin ini hanya dilakukan oleh anak cucu keluarga di Keraton sebagai tanda Karomat. namun karena banyak yang tau akhirnya banyak warga yang ingin melakukan tradisi tersebut, namun dari pihak keraton tidak ada yang mengajarkan untuk melakukan tradisi ini yang bisa disebut animisme.Pandangan Masyarakat Cirebon mengenai Tradisi ini pun beragam. Ada yang menganggap tradisi ini ialah kearifan local dan sebuah Tradisi yang harus dilakukan karena sudah menjadi kebiasaan. Sumur pengantin, sumur yang terletak di Kebon Jimat Keraton Kanoman ini merupakan peninggalan sejak jaman wali songo. Sumur ini dipercaya untuk mempermudah kaum perempuan supaya mendapatkan jodoh dengan mandi disini, namun ada yang berpendapat bahwa ini bersinggungan dengan agama islam. meminta tetap kepada Tuhan Yang Maha Esa. Semuanya kembali lagi kepadakepercayaan masing-masing orang. hal ini kembali lagi pada tiap individu bagaimana ia mempercayai Tradisi ini sendiri. 

Page 1 of 1 | Total Record : 8