cover
Contact Name
Erwin Hikmatiar
Contact Email
jurnal.salam@uinjkt.ac.id
Phone
+6281282648901
Journal Mail Official
jurnal.salam@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 90 Ciputa Tangsel
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i
ISSN : 23561459     EISSN : 26549050     DOI : 10.15408
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i (ISSN 2356-1459) is a national journal published by the Faculty Sharia and Law Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta, INDONESIA. The focus is to provide readers with a better understanding of Indonesia social and sharia culture and present developments through the publication of articles, research reports, and book reviews. SCOPE of SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i specializes in Indonesian social and sharia culture, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. SCOPE of SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i specializes in Indonesian social and sharia culture, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Articles 880 Documents
DAMPAK EKONOMI AKIBAT KEJAHATAN KORUPSI PASCA REGULASI OTONOMI DAERAH Nur Rohim
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v1i1.1531

Abstract

Abstract: Economic Impact Due to Corruption Crime After the existence of Regulatory Autonomy. Regional autonomy is regarded by the government as an antidote to regional political turmoil. It has been promised as an antidote to the highly centralized political and financial structures that never applied before. However, this expectation even leads to a shift of the corruption that was originally located in the center turning to the area. Therefore, it adversely affects economic improvement and welfare of the area. In example, there is emergence of new modes, either by manipulating the production and illegal cutting of the opinion. Keywords: Economic Impact, Corruptions, Regulatory Autonomy Abstrak: Dampak Ekonomi Akibat Kejahatan Korupsi Pasca Regulasi Otonomi Daerah. Otonomi daerah dianggap oleh pemerintah sebagai obat penawar gejolak politik daerah. Kebijakan ini dijanjikan sebagai suatu kutub berlawanan terhadap sistem politik dan struktur keuangan terpusat yang pernah diterapkan sebelumnya. Akan tetapi harapan ini malah berujung kepada pergeseran korupsi yang semula berada di pusat beralih ke daerah, sehingga berdampak ekonomi bagi peningkatan kesejahteraan rakyat daerah. Seperti munculnya modus-modus baru, baik dengan memanipulasi pengeluaran daerah maupun memotong secara ilegal pendapat daerah. Kata Kunci: Dampak Ekonomi, Korupsi, Otonomi DaerahDOI:10.15408/sjsbs.v1i1.1531
Konstitusionalitas Pemerintah Daerah dalam Menetapkan Kebijakan Lockdown pada Penananganan Covid-19 Raines Wadi
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 7, No 3 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v7i5.15319

Abstract

AbstractDifferent policies between the Central Government and Regional Governments in handling the Covid-19 disease outbreak have implications for the discourse in the community. The discourse is due to the authority in handling the Covid-19 outbreak is the authority of the Central Government and the position of the Regional Government only as sub-ordinate. However, in practice the policy taken by the Central Government, in fact creates a legal uncertainty because it does not follow the mechanism for handling disease outbreaks as outlined in act of Health Quarantine and stipulates Civil Emergency as the final stage and not in accordance with the mechanism of health quarantine in the act of Health Quarantine. Therefore, this paper aims to unravel the constitutionality of the Lockdown policy adopted by the Regional Government in handling Covid-19 in terms of the perspective of the constitution and the implementation of regional autonomy. The method that used in this paper is a normative-juridical with a statutory approach and a conceptual approach.Keywords: Regional Autonomy, Legal Uncertainty, Lockdown. AbstrakDisparitas kebijakan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam penanganan wabah penyakit Covid-19 mengalami diskursus dalam masyarakat. Diskursus tersebut dikarenakan kewenangan dalam penanganan wabah Covid-19 adalah kewenangan dari Pemerintah Pusat dan kedudukan Pemerintah Daerah hanya sebagai sub-ordinat. Namun, pada praktiknya kebijakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat, justru menciptakan suatu ketidakpastian hukum karena tidak mengikuti mekanisme penanganan wabah penyakit sebagaimana dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan dan menciptakan suatu ketidakpastian hukum dengan menetapkan Darurat Sipil sebagai tahap akhir dan tidak sesuai dengan mekanisme kekarantinaan kesehatan dalam UU a quo. Di sisi lain, Pemerintah Daerah justru konsisten dalam penanganan wabah Covid-19 dengan menetapkan kebijakan yang sesuai dengan UU a quo yaitu menetapkan suatu Karantina Wilayah (Lockdown). Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan mengurai konstitusionalitas dari kebijakan Lockdown yang diambil oleh Pemerintah Daerah dalam penanganan Covid-19 ditinjau dari perspektif konstitusi dan pelaksanaan otonomi daerah. Metode yang digunakan dalam tulisan ini ialah normatif-yuridis dengan pendekatan peraturan perundang-undangan (statute approach) dan pendekatan konseptual (conceptual approach).Kata kunci: Otonomi Daerah, Ketidakpastian Hukum, Lockdown
Aliran Psikoanalisis Dalam Perspektif Islam Faiqatul Husna
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v5i2.9411

Abstract

Abstract: Humans are the most perfect creatures of God among all beings on this earth. Humans have more problems faced by other creatures in living life, both from social contact and so on. Therefore, some of the many people are scientists doing various ways to find solutions to these problems. Finally, psychology was born which discussed the human psyche. Psychology has a variety of sciences. One of them is developmental psychology. Developmental psychology is a branch of psychology that discusses human psychological development from prenatal to near death. On this occasion will examine and understand one of the schools of psychology, namely the flow of psychoanalysis. In addition to studying the scope of psychoanalysis and its relation to Islamic psychology.Keywords: Psychology, Psychoanalysis, Islamic Perspective. Abstrak:Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna di antara seluruh makhluk di muka bumi ini. Manusia memiliki lebih banyak masalah yang dihadapi dibandingkan makhluk lain dalam menjalani kehidupan, baik dari kontak sosial dan lain sebagainya. Maka dari itu, beberapa orang dari sekian banyak manusia itu yakni para ilmuan melakukan berbagai cara untuk mencari pemecahan masalah tersebut. Akhirnya, lahirlah ilmu psikologi yang membahas tentang kejiwaan manusia. Psikologi memiliki berbagai macam ilmu. Salah satu di antaranya adalah psikologi perkembangan. Psikologi perkembangan merupakan suatu cabang ilmu psikologi yang membahas tentang perkembangan kejiwaan manusia dari prenatal sampai hampir meninggal. Pada kesempatan ini akan mengkaji dan memahami salah satu aliran psikologi yaitu aliran psikoanalisis. Selain dikaji ruang lingkup psikoanalisis serta kaitannya dengan psikologi islam.Kata Kunci: Aliran psikologi, Psikoanalisis, Perspektif Islam.
Transformasi Pendidikan Pancasila dan Wawasan Kebangsaan Bagi Generasi Milenial Untuk Revitalisasi Anti Korupsi Supriyadi Ahmad
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v4i1.7868

Abstract

Abstract.Pancasila learning in schools and universities has seemed difficult to understand by the millennial generation, as well as National Knowledge Education. Therefore, it is necessary to transform or change the form, nature and function of Pancasila Education, so that this State Philosophy becomes attractive, attracts interest, and can be easily implemented in everyday life. Anti-Corruption Education is also time to be revitalized, rejuvenated, and re-actualized, so that it can be more easily absorbed by the millennial generation in particular, and the citizens of Indonesia in general from an early age. The chronic economic conditions of the Indonesian people, one of which is caused by the rise of corruption in certain groups of this nation. Therefore, it is time for various efforts to improve learning for both aspects that are very urgent in the life of this nation and state.Keywords: Transformation, Pancasila, Nationalism Insights, Millennial Generation, and Anti Corruption Abstrak.Pembelajaran Pancasila di sekolah dan Perguruan Tinggi selama ini terkesan sulit dipahami oleh generasi milenial. Begitu juga Pendidikan Wawasan Kebangsaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan transformasi atau perubahan bentuk, sifat, dan fungsi Pendidikan Pancasila agar Falsafah Negara RI ini menjadi atraktif, mengundang minat, dan dapat diimplementasikan dengan mudah dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Anti Korupsi juga sudah saatnya direvitalisasi, direjuvenasi, dan direaktualisasi agar dapat dengan lebih diserap oleh generasi milenial khususnya, dan warga bangsa Indonesia pada umumnya sejak dini. Kronisnya kondisi perekonomian rakyat Indonesia, salah satunya disebabkan oleh maraknya korupsi di kalangan tertentu bangsa ini. Oleh karena itu, sudah saatnya dilakukan berbagai upaya untuk membenahi pembelajaran untuk kedua aspek yang sangat urgen dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini.Kata Kunci: Transformasi, Pancasila, Wawasan Kebangsaan, Generasi Milenial, dan Anti Korupsi.
Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa Dana Riksa Buana
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v7i3.15082

Abstract

AbstractBeginning in 2020, humanity throughout the world was shaken by the Corona Virus pandemic (Covid-19) which caused panic everywhere. Thousands of people were infected and thousands more died. For in Indonesia, the government has given appeals to the community in overcoming this epidemic to be effective and efficient. But in reality, there are still many Indonesian people who do not heed this appeal. Therefore, this study aims to analyze why some people bring up these behaviors, and how to overcome them. The research method used by this research is the study of literature with a descriptive analysis approach. The results show that the behavior displayed by people who do not comply with government appeals is based on cognitive biases. In addition to analyzing the behavior of Indonesian people and how to handle it, this article also presents tips for maintaining mental well-being in a positive psychological approach.Keywords: Pandemic; Covid-19; Cognitive Bias; Mental Welfare  AbstrakAwal tahun 2020 ini umat manusia di seluruh dunia digoncang dengan pandemi Virus Corona (Covid-19) yang membuat kepanikan dimana-mana. Ratusan ribu manusia terinfeksi dan ribuan lainnya meninggal dunia. Untuk di Indonesia sendiri pemerintah telah memberikan himbauan-himbauan kepada masyarakat dalam mengatasi wabah ini agar berjalan efektif dan efisien. Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengindahkan himbauan ini. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisa mengapa sebagian masyarakat memunculkan perilaku tersebut, dan bagaimana cara mengatasinya. Metode penelitian yang digunakan oleh penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif analisis. Hasil menunjukan bahwa perilaku yang ditampilkan oleh orang yang tidak mematuhi himbauan pemerintah didasari oleh bias kognitif. Selain menganalisa perilaku masyarakat Indonesia dan cara menanganinya, maka artikel ini juga memaparkan kiat-kiat menjaga kesejahteraan jiwa dalam pendekatan psikologi positif.Kata Kunci: Pandemi; Covid-19; Bias Kognitif; Kesejahteraan Jiwa
Kepemimpinan Transgender dalam Perspektif Fiqih Siyasah dan Hukum Positif Resti Hedi Juwanti
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v2i2.2383

Abstract

Abstract:Everyone has the same rights, regardless of differences in race, birth status, culture and gender. Anyone has the right to become a leader as long as he has the competence in this matter. Judging from gender, Allah SWT only created two genders, namely male and female. However, there are a number of people who are basically real men but in their daily lives they behave and act like women. In Indonesia such people are referred to as transgender, and in the term fiqh they are called mukhannats. This study uses qualitative research with a literature and interview approach. The results of the study state that there are standard rules that govern leadership by providing boundaries to transgender people.Keywords: Leadership; Transgender; Fiqh Siyasah Abstrak:Setiap orang mempunyai hak yang sama, tanpa memandang perbedaan ras, status kelahiran, budaya, dan jenis kelamin. Siapapun mempunyai hak untuk menjadi pemimpin asalkan dia mempunyai kompetensi dalam hal tersebut. Ditinjau dari jenis kelamin, Allah SWT hanya menciptakan dua jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Akan tetapi terdapat segelintir orang yang pada dasarnya ia merupakan laki-laki asli tetapi dalam kesehariannya ia bersifat dan bertingkah laku seperti perempuan. Di Indonesia orang seperti ini disebut sebagai transgender, dan di dalam istilah fiqih disebut sebagai mukhannats. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan literature dan wawancara. Hasil penelitian menyatakan bahwa ada aturan baku yang mengatur kepemimpinan dengan memberikan batasan kepada transgender. Kata Kunci: Kepemimpinan; Transgender; Fikih Siyasah
Kualifikasi Calon Legislatif dalam Sistem Proporsional Terbuka Menurut Pandangan Fiqih Siyasah Mukhtori Mukhtori; Abdur Rahim
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 7, No 4 (2020)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v7i9.16594

Abstract

Abstract.Elections in Indonesia are considered the most democratic because they can elect legislative candidates directly. The candidate is clearly displayed in the photo. Because it can be seen directly by voters, legislative candidates need qualifications. These qualifications do not only rely on clever speech, handsome or beautiful, rich, popular, or have a large following. Qualifications of legislative candidates according to the view of fiqh siyasah include credibility and balance of the nature of shiddiq, amanah, tablig, fathonah, extensive knowledge which are knotted in basthothan fil ilmi wa al jismi, and have opinions the strong and wisdom wisdom. This open proportional system according to the view of fiqh siyasa was once carried out during the time of the Prophet Muhammad and al-Khulafaur Rasyidin in the election of ahlul halli wa al aqdi.Keywords: system, proportional, qualifications, siyasah Abstrak.Pemilihan Umum di Indonesia dinilai paling demokratis karena dapat memilih calon anggota legislatif secara langsung. Calon tersebut terpampang dalam foto secara jelas. Karena dapat dilihat langsung oleh pemilih, maka calon legislatif memerlukan kualifikasi. Kualifikasi tersebut jangan hanya mengandalkan pandai berpidato, tampan atau cantik, kaya, populer, maupun memiliki pengikut yang banyak. Kualifikasi calon legislatif menurut pandangan fiqih siyasah diantaranya mempunyai  kredibilitas  dan  keseimbangan  sifat  shiddiq, amanah, tablig, fathonah, berpengetahuan yang luas yang tersimpul di dalam basthothan fil ilmi wa al jismi, serta mempunyai pendapat yang kuat dan hikmah kebijaksanaan. Sistem proporsional terbuka ini menurut  pandangan fiqih siyasah pernah dijalankan pada masa Nabi Muhammad saw. dan al-Khulafaur Rasyidin dalam pemilihan ahlul halli wa al aqdi.Kata kunci: sistem, proporsional, kualifikasi, siyasah
Kemampuan Bermedia dan Daya Kritis Para Mahasiswa Di Kabupaten Manggarai - Flores Marianus Mantovanny Tapung; Ambros Leonangung Edu; Petrus Redy Partus Jaya
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v6i2.11029

Abstract

Abstract:This study aims to describe the ability of media and the critical power of students in Manggarai Regency. The ability to media is measured by indicators: The types of social media that are most often used, the ability to apply social media, frequently sought media content, the critical power of social media content, and social media content that is often distributed. The type of research used was a descriptive cross sectional study. The research respondents were 353 students who were determined using the proportional stratified random sampling technique. Data was collected using an online questionnaire. To guarantee the credibility of the data, researchers applied the one vote method and cross-checked through interviews via mobile phones. Data is presented in the form of tables and graphs. The results of the study show that the types of media most used by students are Facebook and WhatsApp. Both types of social media are applied by students themselves. Most students are able to apply these social media proficiently. However, many students use the media to access content that does not support their intellectual knowledge and insight. The use of media is limited to building social relations or friendship among students. This habit has an impact on students' critical power in assessing hoax content and factual content. The results of this study illustrate the discrepancy between the ability to apply media and students' critical power. This condition must be the concern of educators and stakeholders in Manggarai Regency.Keywords: Media, Critical Power, Manggarai Flores Students Abstrak:Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan bermedia dan daya kritis mahasiswa di Kabupaten Manggarai. Kemampuan bermedia diukur berdasarkan indikator-indikator: Jenis media sosial yang paling sering digunakan, kemampuan mengaplikasikan media sosial, konten media yang sering dicari, daya kritis terhadap konten media sosial, dan konten media sosial yang sering disebarkan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif cross sectional. Responden penelitian berjumlah 353 mahasiswa yang ditentukan menggunakan teknik proportional stratified random sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner online. Untuk menjamin kredibilitas data, peneliti menerapkan metode one vote dan melakukan crosscheck melalui wawancara via handphone.  Data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis media yang paling banyak digunakan mahasiswa adalah facebook dan whatsapp. Kedua jenis media sosial ini diaplikasikan sendiri oleh mahasiswa. Sebagian besar mahasiswa mampu mengaplikasikan media-media sosial tersebut secara mahir. Namun, banyak mahasiswa menggunakan media untuk mengakses konten-konten yang kurang mendukung pengetahuan dan wawasan intelektual mereka. Penggunaan media hanya sebatas membangun relasi sosial atau pertemanan di antara mahasiswa. Kebiasaan ini berdampak pada daya kritis mahasiswa dalam menilai konten-konten hoax dan konten-konten fakta. Hasil penelitian ini menggambarkan adanya diskrepansi antara kemampuan mengaplikasikan media dengan daya kritis mahasiswa. Kondisi ini mesti menjadi perhatian para pendidik dan stakeholdersdi Kabupaten Manggarai.Kata Kunci: Media, Daya Kritis, Mahasiswa Manggarai Flores
Anak dan Dunia Pers Ade Irma Imamah
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 3, No 3 (2016)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v3i2.7858

Abstract

Children as God's creatures have basic human rights or rights sincebirth, that is guarantee to grow flower completely, whether physical, mental andsocial, and noble character. Therefore it is necessary to safeguard and realize itswelfare by guaranteeing the fulfillment of its rights, so that no human being or anyother party can deprive the child's rights. Trafficking of girls for sexual purposes,hereinafter abbreviated as ESKA (Commercial Sexual Exploitation of Children), is avery detrimental action to the individual victims, the family, the community, and is aform of human rights violation, especially on the dignity of the child and thedevelopment of the next generation. Nevertheless, with the increasinglysophisticated and vast technological developments, children are faced with all theconveniences that impact positive and negative possibilities. DOI: 10.15408/sjsbs.v3i2.7858
Computer-Mediated Communication dan Manajemen Kesan Pada Pembelajaran Elektronik Mahasiswa Di Masa Pandemi Covid-19 Atika Suri; Firda Ayu Kusuma Dewi Subagyo; Irwansyah Irwansyah
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v8i1.19079

Abstract

Computers have become an inseparable part of everyday life. Moreover, with the introduction of the internet, computers in various forms are now a means of finding information and communicating effectively, quickly, and reliably. In its development, the internet opens up the possibility of electronic learning or e-learning, which is currently developing online learning. Electronic learning allows direct and two-way interaction between teacher-students as well as fellow students mediated by the Computer. All forms of communication that are mediated by digital or computer technology are known as Computer-Mediated Communication, where the human communication process through computers is not seen from a technical point of view, but how communication is carried out that involves many people in certain contexts for various purposes. Besides, in the era of the Covid-19 pandemic, e-learning is the only learning pattern suitable for use when direct interaction between individuals is limited. This study looks further at the computer-mediated communication process in the implementation of education. The results of qualitative research with an interview approach show that each student has their way of presenting themselves and building impressions in class during online lectures. The hyperpersonal communication pattern is carried out by students during lectures, by displaying a serious self-image and listening to the lecturer. This self-image is formed by selecting and determining what responses should be displayed in certain classroom conditions. The process of forming this self-image can then be said to be a form of student impression management in online lecture forums.Keyword: Computer-Mediated Communication; Impression Management; Covid-19; Electronic Learning AbstrakKomputer telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Apalagi dengan diperkenalkannya internet, komputer dalam berbagai bentuk saat ini menjadi sarana mencari informasi dan berkomunikasi yang efektif, cepat dan andal. Dalam perkembangannya internet membuka kemungkinan dilakukannya pembelajaran elektronik atau e-learning yang perkembangannya saat ini menjadi pembelajaran online. Pembelajaran elektronik memungkinkan interaksi langsung dan dua arah antara guru-murid termasuk juga sesama murid yang dimediasi oleh Komputer. Segala bentuk komunikasi yang dimediasi oleh teknologi digital atau komputer dikenal sebagai Computer-Mediated Communication, dimana proses komunikasi manusia melalui komputer tidak dilihat dari sisi teknis, namun bagaimana komunikasi yang dilakukan yang melibatkan banyak orang dalam konteks tertentu untuk berbagai keperluan. Terlebih lagi di era pandemi Covid-19, e-learning menjadi satu-satunya pola pembelajaran yang cocok digunakan disaat interaksi langsung antar individu dibatasi. Penelitian ini melihat lebih jauh proses komunikasi yang dimediasi komputer dalam pelaksanaan pendidikan. Hasil penelitian kualitatif dengan pendekatan wawancara menunjukkan bahwa setiap mahasiswa memiliki caranya masing-masing untuk menampilkan dirinya dan membangun kesan di kelas selama perkuliahan online berlangsung. Pola komunikasi hyperpersonal ini dilakukan oleh mahasiswa selama perkuliahan dengan menampilkan gambaran diri yang serius dan menyimak materi perkuliahan yang disampaikan oleh dosen. Gambaran diri ini dibentuk dengan menyeleksi dan menentukan respon apa yang harus ditampilkan dalam kondisi suasana kelas tertentu. Proses membentuk gambaran diri ini kemudian dapat dikatakan sebagai bentuk dari manajemen impresi mahasiswa dalam forum perkuliahan online.Kata kunci: Computer Mediated Communication; Manajemen Impresi; Covid-19; Pembelajaran Elektronik

Page 3 of 88 | Total Record : 880


Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 12, No 2 (2025): Summer Edition Vol. 12 No. 2 (2025): Summer Edition Vol 12, No 1 (2025): Spring Edition Vol. 12 No. 1 (2025): Spring Edition Vol. 11 No. 4 (2024): Winter Edition Vol 11, No 4 (2024): Winter Edition Vol 11, No 3 (2024): Autum Edition Vol. 11 No. 3 (2024): Autum Edition Vol 11, No 2 (2024): Summer Edition Vol. 11 No. 2 (2024): Summer Edition Vol. 11 No. 1 (2024): Spring Edition Vol 11, No 1 (2024): Spring Edition Vol 10, No 6 (2023) Vol. 10 No. 6 (2023) Vol 10, No 5 (2023) Vol 10, No 5 (2023): Article-in-Press Vol 10, No 4 (2023) Vol 10, No 3 (2023): Article-in-Press Vol 10, No 3 (2023) Vol. 10 No. 3 (2023) Vol 10, No 2 (2023) Vol 10, No 1 (2023) Vol 10, No 1 (2023): Article-in-Press Vol. 9 No. 6 (2022) Vol 9, No 6 (2022) Vol 9, No 5 (2022) Vol 9, No 4 (2022) Vol 9, No 3 (2022) Vol 9, No 3 (2022): Mei - Juni Vol 9, No 2 (2022): Maret-April Vol 9, No 2 (2022) Vol 9, No 1 (2022) Vol 9, No 1 (2022): Januari-Februari Vol 8, No 6 (2021): November-Desember Vol 8, No 6 (2021) Vol 8, No 5 (2021) Vol 8, No 5 (2021): September - Oktober Vol 8, No 4 (2021) Vol 8, No 4 (2021): Juli - Agustus Vol 8, No 3 (2021) Vol 8, No 3 (2021): Mei-Juni Vol 8, No 2 (2021) Vol 8, No 2 (2021): Maret-April Vol 8, No 1 (2021): Januari-Februari Vol 8, No 1 (2021) Vol 7, No 10 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 8 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 7 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 6 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 5 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 3 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 12 (2020) Vol 7, No 11 (2020) Vol 7, No 9 (2020) Vol. 7 No. 6 (2020) Vol 7, No 6 (2020) Vol 7, No 5 (2020) Vol 7, No 4 (2020) Vol 7, No 2 (2020) Vol 7, No 1 (2020) Vol 6, No 5 (2019) Vol 6, No 4 (2019) Vol 6, No 3 (2019) Vol 6, No 2 (2019) Vol 6, No 1 (2019) Vol 5, No 4 (2018) Vol 5, No 3 (2018) Vol 5, No 2 (2018) Vol 5, No 1 (2018) Vol 4, No 3 (2017) Vol 4, No 2 (2017) Vol 4, No 1 (2017) Vol 3, No 3 (2016) Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue