cover
Contact Name
Erwin Hikmatiar
Contact Email
jurnal.salam@uinjkt.ac.id
Phone
+6281282648901
Journal Mail Official
jurnal.salam@uinjkt.ac.id
Editorial Address
Jl. Ir. H. Juanda No. 90 Ciputa Tangsel
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i
ISSN : 23561459     EISSN : 26549050     DOI : 10.15408
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i (ISSN 2356-1459) is a national journal published by the Faculty Sharia and Law Syarif Hidayatullah State Islamic University of Jakarta, INDONESIA. The focus is to provide readers with a better understanding of Indonesia social and sharia culture and present developments through the publication of articles, research reports, and book reviews. SCOPE of SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i specializes in Indonesian social and sharia culture, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines. SCOPE of SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i specializes in Indonesian social and sharia culture, and is intended to communicate original researches and current issues on the subject. This journal warmly welcomes contributions from scholars of related disciplines.
Articles 880 Documents
Interkoneksi Mahkamah Konstitusi Dengan Mahkamah Agung; Studi Implementasi Putusan Tentang Nasab Anak Mesrain Mesraini
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v4i1.7866

Abstract

This article examines the interconnection between constitutional courtand Supreme Court, with a special reference to the situation when Supreme Courtdecreed after the constitutional court decree. For the purpose of study, I use thedecree on the child’s descent case proposed by Machica Mohtar to examine theinterconnection of these two courts. By understanding how effective are theconstitutional court decrees and their connection with the position of SupremeCourt, I find that the interconnection between these religious court–high religiouscourts and constitutional court well-managed enough. Constitutional court decreehas been used as the basis for the court decrees. Nevertheless, Supreme Courttends not to place constitutional court decree for a permanent legal force (inkracht).As a result, the connection between constitutional court and Supreme Court hasnot been seen in its proper level. In another aspect, the implementation of law inIndonesia has shown a shifting from civil law system to those mixed between civillaw and common law systems. In this regard, this shifting indicates that not onlydoes a judge decree based on a procedural-justice, but he/she also takes asubstantive-justice into consideration. DOI: 10.15408/sjsbs.v4i1.7866
Matematika dalam Rasionalitas Al-Qur’an; Bukti Perenialisme Atas Nalar Saintifik Rizqon Halal Syah Aji
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 7, No 4 (2020)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v7i9.16592

Abstract

AbstractIslam is a rational religion. Islam, through the Koran, can prove its rationality by proof of its perennial teachings. Rational perennial teachings are derived in profane life through scientific reasoning as well as mathematics and its derivatives. The verses of al-Qur'an are a form of aqliyah statement which is a guide for knowledgeable people to organize their lives in guiding their journey to find the truth. The proofs of rationality (aqliyah) in the Koran always prioritize logic but do not ascribe to al-Haqq. Mathematics is only a tool to absolute truth, but absolute truth belongs only to al-haqq. Muslim scientists who use their rationality have found their rational logic in discovering sciences to dissect knowledge so that it is beneficial to humans, however their devotion to Allah is getting stronger when breaking knowledge that was once empty into reality. Therefore, the rationality of the Qur'an can be described in mathematics, as a science that is full of the virtues of reason and logic.Keywords: Mathematics, Rationality, Perennialism, Al-Qur'an, Aqliyah, AbstrakIslam adalah agama rasional. Islam melalui al-Qur’an dapat dibuktikan nalar rasionalitasnya dengan bukti-bukti ajarannya yang perenial. Ajaran-ajaran perenial yang rasional diderivasikan dalam kehidupan profan melalui nalar saintifik seperti halnya ilmu matematika dan turunannya. Ayat-ayat al-Qur’an merupakan bentuk pernyataan aqliyah yang merupakan panduan insan berilmu untuk menata kehidupannya dalam memandu perjalanannya mencari kebenaran. Bukti-bukti rasionalitas (aqliyah) dalam al-Qur’an selalu mengedepankan logika namun tidak menisbikan yang al-Haqq. Matematika hanya alat menuju kebenaran mutlak akan tetapi kebenaran mutlak hanya milik al-haqq. Ilmuwan muslim yang menggunakan rasionalitasnya telah menemukan logika rasionalnya dalam menemukan ilmu-ilmu guna membedah pengetahuan sehingga bermanfaat bagi manusia, namun demikian ketaqwaan mereka terhadap Allah semakin kuat ketika memecahkan pengetahuan yang dulunya hampa menjadi kenyataan. Oleh karena itu rasionalitas al-Qur’an dapat diuraikan dalam ilmu matematika, sebagai ilmu yang penuh dengan keutamaan nalar dan logika.Kata Kunci: Matematika, Rasionalitas, Perenialisme, Al-Quran, Aqliyah
Optimalisasi Upaya Pemerintah Dalam Mengatasi Pandemi Covid 19 Sebagai Bentuk Pemenuhan Hak Warga Negara Bima Jati Bima Jati; Gilang Rizki Aji Putra
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v7i5.15316

Abstract

Abstract:Covid-19 or corona virus is a pandemic that is being felt by almost all countries in the world. The impact is not only on the safety aspects of people's lives, but can also be felt on the political economy aspects, especially in third world countries like Indonesia. Not a few efforts made by the central government to date, but have not provided the effectiveness as it should. So it has the potential to erode public trust (public trust) on government performance. The purpose of this paper is to describe the alternatives that the government needs to try to maintain the stability of national and state life. Thus the writer uses Polivocalistic research through a case approach, comparative, historical and critical approach. Therefore, the authors come up with alternatives such as; growing collective awareness, creating state economic stability, developing science and technology and perfecting Indonesia's independence.Keywords: Humanity, Third World Country, Citizens' Rights.                                                      Abstrak:Covid-19 atau virus corona merupakan pandemi yang sedang dirasakan dampaknya oleh hampir seluruh Negara yang ada di Dunia. Dampak tersebut tidak hanya pada aspek keselamatan hidup masyarakat, melainkan dapat dirasakan pada aspek ekonomi politik terutama pada negara dunia ke tiga seperti Indonesia. Tidak sedikit upaya yang dilakukan oleh pemerintah pusat sampai hari ini namun belum memberikan efektivitas sebagaimana mestinya. Sehingga sangat berpotensi merugikan kepercayaan masyarakat (Trust Public) terhadap kinerja pemerintah. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memaparkan alternatif-alternatif yang perlu pemerintah coba lakukan untuk menjaga stabilitas kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan demikian penulis memakai metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kepustakaan, historis, dan kritis. Oleh karena itu penulis menggagas alternatif-alternatif seperti : menumbuhkan kesatuan kolektif menciptakan stabilitas ekonomi  negara mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menyempurnakan kemerdekaan Indonesia.Kata kunci : Kemanusian, Negara Dunia Ketiga, Hak Warga Negara.
Implementasi Paradigma Islam Wasathiyah; Strategi Menjaga Masa Depan Keindonesiaan Trini Diyani
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 6, No 3 (2019)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v6i3.13193

Abstract

Abstract:Indonesia is a country with a society that has a very high level of diversity (heterogeneous-pluralistic), and is framed in a united harmony of solidarity, and is based on Pancasila as the ideology of the nation. This is in accordance with the ideals of the nation's founders with the motto Unity in Diversity (they remain one). Such diverse community conditions are certainly easily provoked by SARA issues, especially religious issues and have the potential to cause enormous conflict. The presence of hardliners in all walks of life is certainly a challenge for the government. Hardliners try to replace the ideology of the nation with the Wahhab / Muslim Brotherhood ideology that is extreme, hard, and rigid. This hardliner group aspires to the Khillafah Islamiyah state which is clearly in conflict with the foundations of the Pancasila state and the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia. The birth of the Wasathiyah Paradigm as an intellectual response to his concern for the thought of hardliners who tried to divide the nation. Wasathiyah's true understanding is able to harmonize inclusive and moderate thinking so as to create peace in the life of the nation and state, as well as building a progressive civilization.Keywords: Hardliners, Wasathiyah, Moderation Abstrak: Indonesia adalah negara dengan masyarakat yang  memiliki tingkat keberagaman sangat tinggi (heterogen-pluralistik), dan di bingkai dalam satu kesatuan harmoni solidaritas, serta berlandaskan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Hal ini sesuai dengan cita-cita para pendiri bangsa dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika (berbeda-beda tetap satu). Kondisi masyarakat yang beragam seperti inilah tentu mudah terprovokasi oleh isu-isu SARA terlebih isu agama dan berpotensi menimbulkan konflik yang sangat besar. Hadirnya para kelompok garis keras di segala lini kehidupan tentu menjadi sebuah tantangan bagi pemerintah. Kelompok garis keras berusaha mengganti ideologi bangsa dengan ideologi Wahabi/Ikhwanul Muslimin yang ekstrem, keras, dan kaku. Kelompok garis keras ini mencita-citakan negara Khillafah Islamiyah yang jelas-jelas sangat bertentangan dengan dasar negara Pancasila dan UUD NRI 1945. Hal tersebut menjadi sebuah acaman yang membahayakan bagi persatuan bangsa dan berpotensi mendorong bangsa kita ke dalam jurang kehancuran. Lahirnya Paradigma Wasathiyah sebagai respon para intelektual terhadap keprihatinnannya terhadap pemikiran kelompok garis keras yang berusaha memecah belah bangsa. Pemahaman Wasathiyah yang benar mampu menyelaraskan pemikiran yang inklusif dan moderat sehingga mewujudkan kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, serta membangun peradaban yang berkemajuan.Keywords: Kelompok Garis Keras, Wasathiyah, Moderasi
Pencabutan Hak Politik Koruptor Pespektif Hukum Progresif Indar Dewi
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i3.25885

Abstract

There can be no law without a government, and a law's survival is dependent on how well the law and government are implemented by its players. Corruption is one of the most complex issues that have a negative impact on society. It's true that the government is already taking action to combat this issue. Preventing or eliminating effort, for example However, this does not imply a major decline in Indonesian corruption cases. Ideally, attempts to combat corruption should begin with the appointment of law enforcement personnel in a clean manner. Removing the ability of corrupt politicians to run for office can serve as a deterrent to those who commit the crimes and instill dread among the general public. This study employs a case-based and comparative approach to the study of normative jurisprudence. Progressive law and Maqashid al-Syariah, according to the findings of this study, share a common thread in that they emphasize the importance of justice, progress in the law, and a prosperous society. Our country's political rights should be revoked in order to secure justice and the well-being of all citizens, not just those who hold elected positions.Keywords: Corruption, political right, Maqashid al-Syariah Abstrak        Eksistensi suatu hukum bergantung kepada eksistensi politiknya, artinya bahwa tercapainya suatu hukum yang berkeadilan tergantung bagaimana hukum dan pemerintahan itu dijalankan oleh para aktornya. Salah satu permasalahan paling pelik yang berdampak sangat buruk dalam kehidupan bermasyarakat adalah tindak pidana korupsi. Sejatinya sejak awal upaya-upaya pemberantasan terhadap korupsi telah ditempuh, baik untuk mencegah maupun memberantas secara serentak. Namun upaya tersebut, belum cukup menunjukkan signifikansi peminimalisiran jumlah kasus korupsi di Indonesia. Dalam hal upaya penanggulangan tindak pidana korupsi, idealnya perlu didukung dan diawali dengan penyelenggaraan pemilihan aktor-aktor penegak hukum yang bersih dengan cara yang bersih pula. Adanya pencabutan hak politik koruptor untuk ikut dalam kontestasi pemilihan bisa menjadi solusi untuk memberikan efek jera bagi pelaku dan melahirkan rasa takut terhadap masyarakat luas. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yuridis normatif dengan pendekatan kasus dan pendekatan komparatif. Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa hukum progresif dan Maqashid al-Syariah memiliki benang merah bahwa keduanya merupakan cara pandang atau paradigma yang memprioritaskan tujuan-tujuan hukum untuk terciptanya keadilan, kemajuan hukum, kemanfaatan, dan kebahagiaan/kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian upaya pembatasan atau pencabutan hak politik seseorang yang telah menimbulkan keresahan dan kerugian bagi negara sudah menunjukkan satu progresifitas hukum dalam menjamin hak masyarakat untuk memperoleh keadilan dan kesejahteraan.Keywords: Koruptor; Hak Politik; Progresif; Maqashid al-Syariah
Efektifitas Sistem Akreditasi Menurut Permendikbud No.5 Tahun 2020 Terhadap Peningkatan Peringkat Akreditasi Perguruan Tinggi Fitri Rachmiati Sunarya
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i2.25923

Abstract

Kebijakan baru terkait akreditasi yang dikeluarkan oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan membawa angin segar bagi Perguruan Tinggi. Permendikbud Nomor 5 Tahun 2020 diterbitkan untuk mengatur tentang Akreditasi Program Studi dan Perguruan Tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas sistem akreditasi menurut Permendikbud No.5 tahun 2020 terhadap peningkatan peringkat akreditasi Perguruan Tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitataif dengan pendekatan normatif empiris. Sumber data primer pada penelitian ini adalah Permendikbud No.5 Tahun 2020, perundang-undangan, dan artikel jurnal yang terkait dengan tema ini.  Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya Permendikbud Nomor 5 Tahun 2020 Perguruan Tinggi mempunyai peluang untuk memilih waktu yang tepat kapan mengajukan permohonan Re-Akreditasi. Program Studi dan Perguruan Tinggi dapat mempersiapkan Re-Akreditasi secara matang. Dengan demikian Peningkatan peringkat akreditasi dapat dicapai secara optimal.
Program Pengabdian Pembinaan Mental Spiritual Anak Muslim Pinggiran Di Bogor Alfi Syahriyani; Nawawi Nawawi; Amelia Zakiyyatun Nufus
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i3.26270

Abstract

This study aims to provide service by providing guidance to children living on the outskirts of Bogor through mental-spiritual learning for Muslim children. Education is to improve the quality of the implementation and outcomes of education in schools that lead to the achievement of character building and noble character in students, integrated and balanced according to graduate competency standards. To fulfill the education of prospective Indonesian children, it is necessary to pay attention to aspects of the school in terms of learning, a curriculum that is in accordance with existing education standards in Indonesia, and facilities that support learning for students. However, in reality, there is still a lot of education that is lacking in terms of facilities to support learning and also teachers who have not received training to teach according to the appropriate curriculum in Indonesia. Therefore, researchers are interested in doing service by conducting learning coaching for children living on the outskirts of Bogor using the Tilawti method. In this coaching sent 4 teachers with a total of 42 students for 4 months of coaching. This research was conducted at PAUD Nibrosu Lamhariyah (NILAM). The results of this dedication show that 90% of children can follow and can read qiro'ati well and 85% of children can memorize up to 4 short letters fluently and can also memorize short hadiths and ablution prayers and practice.Keywords: Devotion, Development of learning, Religious Learning, Memorization and Recitation, Education. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengabdian dengan memberikan pembinaan pada anak yang tinggal di pinggiran kota Bogor melalui pembelajaran mental spiritual pada anak-anak muslim. Pendidikan merupakan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil Pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia pada peserta didik secara utuh, terpada dan seimbang sesuai standar kompetensi lulusan. Untuk memenuhi pendidikan pada calon anak bangsa Indonesia maka perlu diperhatikan pada aspek sekolah dari segi pembelajaran, kurikulum yang sesuai dengan standar pendidikan yang ada di Indonesia, fasilitas yang mendukung pembelajaran bagi siswa. Namun, pada kenyataannya masih banyak pendidikan yang kurang dalam segi fasilitas dalam mendukung pembelajaran dan juga guru yang belum mendapatkan trainning untuk mengajar sesuai kurikulum yang sesuai di Indonesia. Maka dari itu, peneliti tertarik untuk melakukan pengabdian dengan melakukan pembinaan pembelajaran pada anak-anak di tinggal di pinggir kota bogor dengan menggunakan metode tilawti. Pada pembinaan ini mengirimkan 4 guru dengan total 42 murid selama 4 bulan pembinaan. Penelitian ini dilaksanakan di PAUD Nibrosu Lamhariyah (NILAM). Hasil pengabdian ini menunjukkan 90% anak-anak yang dapat mengikuti dan bisa membaca qiro’ati dengan baik dan 85% anak yang dapat menghafal sampai 4 surat pendek dengan lancar dan juga dapat menghafal hadis-hadis pendek dan doa wudhu dan prakteknya. Kata Kunci: Pengabdian, Pembinaan pembelajaran, Pembelajaran Agama, Menghafal dan Mengaji, Pendidikan
Environmental Refugees: Study of the Legal Policies of ASEAN Countries on the Phenomenon of Refugees due to Climate Change Cholidah Cholidah; Fitria Esfandiari
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i3.25843

Abstract

This research is conducted by using normative juridical method that will analyse the concept of refugees in the Convention of Geneva 1959 which is examined by the framework of protection against movement of people including due to climate change factor in A/RES 73/195 which is the adoption of the Global Compact for safe, orderly and regular migration as well as protection against refugees due to climate change 1951 in the Ratify it. The author argues that, the refugee problem caused by global climate change is not a future discourse that is far from reality, this problem becomes a necessity along with the development effort, especially the development of Not consider the concept of sustainability of the world ecosystem. So the minimum protection must be done either by the state Convention ratification 1951 nor the state Non ratification of this Convention on the Protection of refugees In General that is listed In standard This convention should be provided also against Environmental Refugees on the basis that the term refugee contained in this term should include against refugees due to the unlikely climate change returning to its home country due to an environment that has not supported life Refugees.Keywords: ASEAN; Policies; Climate Change; Environmental refugees AbstrakPenelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode yuridis normatif yang akan menganalisis konsep pengungsi dalam Konvensi Jenewa 1959 yang dikaji dalam kerangka perlindungan terhadap pergerakan orang termasuk akibat faktor perubahan iklim dalam A/RES 73/195 yang merupakan adopsi Global Compact untuk migrasi yang aman, tertib dan teratur serta perlindungan terhadap pengungsi akibat perubahan iklim 1951 di Ratifikasi itu. Penulis berpendapat bahwa, masalah pengungsi akibat perubahan iklim global bukanlah wacana masa depan yang jauh dari kenyataan, masalah ini menjadi keniscayaan seiring dengan upaya pembangunan, terutama pengembangan konsep keberlanjutan ekosistem dunia. Jadi perlindungan minimal harus dilakukan baik oleh negara ratifikasi Konvensi 1951 maupun negara Non ratifikasi Konvensi ini tentang Perlindungan Pengungsi Secara Umum yang tercantum Dalam standar Konvensi ini harus diberikan juga terhadap Pengungsi Lingkungan atas dasar bahwa istilah pengungsi yang termuat dalam istilah ini harus mencakup terhadap pengungsi akibat perubahan iklim yang tidak mungkin kembali ke negara asalnya karena lingkungan yang belum mendukung kehidupan Pengungsi.Kata Kunci: ASEAN; Kebijakan; Perubahan iklim; Pengungsi lingkungan
Дилемма решения Конституционного суда об обязанности правительства пересмотреть свод законов о создании рабочих мест (The Dilemma of the Constitutional Court's Decision Regarding the Government's Obligation to Revise the Omnibus Law on Job Creation) Rohim Nur
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i2.25882

Abstract

После решения Конституционного суда по сводному закону о создании рабочих мест разгорелись новые дебаты. Потому что Конституционный суд определил, что правительство обязано внести поправки в законодательство об авторском праве только на двухлетний период. Метод исследования, принятый в данном исследовании, является качественным с нормативно-правовой ориентацией. Согласно выводам исследования, постановление Конституционного суда представляется неясным и неубедительным, поскольку оно не носило однозначно обязательной силы. Даже если в постановлении будет обнаружена процессуальная ошибка, закон может, тем не менее, применяться. По мнению других, закон создает впечатление неприкосновенности, потому что кажется, что он не поддается судебному пересмотру с разных сторон. Другие утверждали, что судебная коллегия Конституционного суда не желала идти на риск признания недействительным Закона о перевозках, который был принят без соблюдения процедур, предусмотренных законом, регулирующим разработку законодательства.Ключевые слова: решение Конституционного суда; Совокупный закон; Создание работы Abstract:Following the Constitutional Court's judgment on the Omnibus Job Creation Law, a new debate erupted. Because the Constitutional Court determined that the government was only required to amend the work copyright legislation for a two-year period. The research method adopted in this study is qualitative with a normative juridical orientation. According to the study's findings, the constitutional court's ruling appeared unclear and unconvincing, as it was not clearly binding. Even if the ruling finds a procedural fault, the law may nonetheless apply. According to others, the law creates the perception of immunity because it appears impervious to judicial review from multiple quarters. Others asserted that the Constitutional Court's panel of justices was unwilling to accept the risk of nullifying the carriage law, which was enacted without adhering to the procedures specified in the law governing the drafting of legislation.Keywords: Constitutional Court Decision; Omnibus Law; Job Creation
Kedudukan Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja Ditinjau Dari Perspektif Filosofi Undang-Undang Ketenagakerjaan Imam Hambali; Arief Wibisono; Gatut Hendro Tri Widodo
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 9, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v9i3.26198

Abstract

Omnibus Law sebagai sebuah terobosan hukum dan produk hukum di Indonesia, didalamnya memuat aturan besar yang memayungi berbagai pasal dan norma yang dibuat dan dibentuk untuk menghapus dan mencabut norma lain yang dianggap bertabrakan dengan kepentingan Investasi. Sebuah metode pembentukan Undang-undang yang dapat mengganti dan/ atau mencabut beberapa materi hukum dalam berbagai Undang-Undang dan menimbulkan konsekuensi Undang-Undang existing tetap berlaku kecuali sebagian pasal yang telah diganti atau dinyatakan tidak berlaku atau Undang-Undang existing tidak diberlakukan lagi, apabila pasal (materi hukum) yang diganti akan dinyatakan tidak berlaku merupakan inti/ ruh Undang-Undang tersebut. Dimana salah satunya adalah Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang memiliki filosofi dibuat untuk melancarkan proses pembangunan nasional yang dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur, yang merata, baik materiil maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Metode Spesifikasi penelitian ini menggunakan metode Deskriptif Analisis Kualitatif yaitu bermula dari pembahasan yang bersifat umum, kepada hal yang bersifat khusus. Selanjutnya untuk menyikapi hal ini, terdapat pekerjaan besar yang menanti bagi pemerintah sebagai pembuat regulasi agar dalam pembentukan perundang-undangan dapat merubah dan lebih selektif serta aspiratif lagi guna menampung seluruh masukan dari seluruh elemen masyarakat untuk terciptanya pembuatan produk perundang-undangan yang berkualitas, efektif, terbuka dan transpran juga berdayaguna bagi seluruh rakyat Indonesia, dengan mengedepankan nilai filosofis yang mendasari maksud akan dibuatkannnya peraturan perundang-undangan yang ada dengan lebih baik.Kata Kunci: Kedudukan; Omnibus Law; Cipta Kerja; Filosofi; Mahkamah Konstitusi

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 12, No 2 (2025): Summer Edition Vol. 12 No. 2 (2025): Summer Edition Vol 12, No 1 (2025): Spring Edition Vol. 12 No. 1 (2025): Spring Edition Vol 11, No 4 (2024): Winter Edition Vol. 11 No. 4 (2024): Winter Edition Vol 11, No 3 (2024): Autum Edition Vol. 11 No. 3 (2024): Autum Edition Vol. 11 No. 2 (2024): Summer Edition Vol 11, No 2 (2024): Summer Edition Vol. 11 No. 1 (2024): Spring Edition Vol 11, No 1 (2024): Spring Edition Vol 10, No 6 (2023) Vol. 10 No. 6 (2023) Vol 10, No 5 (2023) Vol 10, No 5 (2023): Article-in-Press Vol 10, No 4 (2023) Vol 10, No 3 (2023) Vol. 10 No. 3 (2023) Vol 10, No 3 (2023): Article-in-Press Vol 10, No 2 (2023) Vol 10, No 1 (2023) Vol 10, No 1 (2023): Article-in-Press Vol. 9 No. 6 (2022) Vol 9, No 6 (2022) Vol 9, No 5 (2022) Vol 9, No 4 (2022) Vol 9, No 3 (2022): Mei - Juni Vol 9, No 3 (2022) Vol 9, No 2 (2022): Maret-April Vol 9, No 2 (2022) Vol 9, No 1 (2022) Vol 9, No 1 (2022): Januari-Februari Vol 8, No 6 (2021) Vol 8, No 6 (2021): November-Desember Vol 8, No 5 (2021) Vol 8, No 5 (2021): September - Oktober Vol 8, No 4 (2021): Juli - Agustus Vol 8, No 4 (2021) Vol 8, No 3 (2021) Vol 8, No 3 (2021): Mei-Juni Vol 8, No 2 (2021) Vol 8, No 2 (2021): Maret-April Vol 8, No 1 (2021): Januari-Februari Vol 8, No 1 (2021) Vol 7, No 10 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 8 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 7 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 6 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 5 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 3 (2020): Special Issue Coronavirus Covid-19 Vol 7, No 12 (2020) Vol 7, No 11 (2020) Vol 7, No 9 (2020) Vol. 7 No. 6 (2020) Vol 7, No 6 (2020) Vol 7, No 5 (2020) Vol 7, No 4 (2020) Vol 7, No 2 (2020) Vol 7, No 1 (2020) Vol 6, No 5 (2019) Vol 6, No 4 (2019) Vol 6, No 3 (2019) Vol 6, No 2 (2019) Vol 6, No 1 (2019) Vol 5, No 4 (2018) Vol 5, No 3 (2018) Vol 5, No 2 (2018) Vol 5, No 1 (2018) Vol 4, No 3 (2017) Vol 4, No 2 (2017) Vol 4, No 1 (2017) Vol 3, No 3 (2016) Vol 3, No 2 (2016) Vol 3, No 1 (2016) Vol 2, No 2 (2015) Vol 2, No 1 (2015) Vol 1, No 2 (2014) Vol 1, No 1 (2014) More Issue