cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
TARBIYA : Journal Education in Muslim Society
ISSN : 23561416     EISSN : 24429848     DOI : -
Core Subject : Education,
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society is a peer-reviewed journal on education in the Muslim world. This journal is published by the Faculty of Education and Teacher Training, UIN (State Islamic University) Syarif Hidayatullah Jakarta, in partnership with HSPAI (Scholars of Islamic Education), an affiliate of ISPI( Association of Indonesian Scholars of Education). Editors welcome scholars, researchers and practitioners of education around the world to submit scholarly articles to be published through this journal. All articles will be reviewed by experts before accepted for publication. Each author is solely responsible for the content of published articles. P-ISSN: 2356-1416 E-ISSN: 2442-9848
Arjuna Subject : -
Articles 439 Documents
Integration Science and Religion: An Analysis in Islamic Higher Education Ade Yeti Nuryantini; Karman K; Abdul Holik
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i1.9508

Abstract

AbstractThe integration of Islamic values in the learning process at UIN Sunan Gunung Djati Bandung has become the hallmark of the campus. The Islamic values integrated into the learning process by providing the verses from the Quran for the concepts studied. This study aims to analyze the ability of students used to live in an Islamic boarding school (pesantren) and those who haven’t yet live in an Islamic boarding school in identifying the verses of al-Quran related to some concept of physics. The research was conducted through observation in classrooms and analysis of students’ assignment on identifying. The results showed that generally, students have a decent ability in identifying Qur'anic verses related to the concept of physics. The students' ability appeared not to be influenced by the pesantren educational background. However, largely students are not able to interpret the verses of the Qur'an related to the physics concept in depth.AbstrakIntegrasi nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran di UIN Sunan Gunung Djati Bandung telah menjadi ciri khas kampus. Integrasi nilai-nilai Islam ke dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan menghubungkan ayat-ayat al-Quran dengan konsep-konsep yang dipelajari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan mahasiswa Prodi Pendidikan Fisika yang pernah tinggal di pesantren dan yang tidak pernah tinggal di pesantren dalam mengidentifikasi ayat-ayat al-Quran terkait dengan konsep fisika. Penelitian dilakukan melalui observasi di ruang kelas dan analisis tugas yang dikumpulkan dari mahasiswa ketika mengidentifikasi ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan konsep  fisika. Hasil penelitian menunjukkan umumnya mahasiswa memiliki kemampuan yang layak dalam mengidentifikasi ayat-ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan konsep fisika.  Kemampuan mahasiswa tersebut tidak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan di pesantren. Namun, sebagian besar mahasiswa tidak mampu menafsirkan ayat-ayat Al Qur'an yang terkait dengan konsep fisika secara mendalam.How to Cite : Nuryantini, A. Y.. Karman., Holik, A. (2018).  Integration Science and Religion in Physic Subject: An Analysis in Islamic Higher Education. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(1), 11-18. doi:10.15408/tjems.v5i1.9508.
The Synergy of Arts, Neuroscience, and Islam in Early Childhood Learning in Yogyakarta Suyadi Suyadi
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i1.7934

Abstract

AbstractArts in Islam is an expression of tawheed (oneness of God) and prophetic, which is in neuroscience stated as able to activate the brain, affect emotions, and improve social skills, motivation, cultural awareness, and aesthetic appreciation. The purpose of this research is to analyze the synergy of arts and science in early childhood learning at three Early Childhood Education institutions in Yogyakarta, which has a variety of Islamic styles. The approach of this research was qualitative descriptive. Data collection techniques were conducted by observation, in-depth interviews, and documentation. The data analysis technique was done in descriptive, interpretative, and comparative with reference to neuroscience learning theory. The results showed that what makes art always controversial with the Islamic teachings is not in essence, but on other things that are often expressed unethically. Arts in Islamic education of early childhood are the religious arts that empathic and full-meaning, thus not only in accordance with Islamic teachings but becomes the basic needs of every people. The synergy of arts and science in early childhood learning can improve learning creativity.AbstrakSeni dalam Islam merupakan ekspresi tauhid dan profetik, yang dalam neurosains dinyatakan mampu mengaktivasi otak, mempengaruhi emosi, meningkatkan keterampilan sosial, motivasi, kesadaran budaya dan apresiasi estetika. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis sinergi seni dan sains dalam pembelajaran anak usia dini pada tiga lembaga PIAUD di Yogyakarta yang memiliki corak keisalaman beragam. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Teknik anailis data dilakukan secara deskriptif, interpretatif dan komparatif dengan mengacu teori pembelajaran neurosains. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang menjadikan seni selalu kontroversi dengan ajaran Islam bukan pada esensinya, melainkan pada hal-hal lain yang sering kali diekspresikan secara tidak etis. Seni dalam pendidikan Islam anak usia dini adalah seni religi yang empatik dan meaning fullness sehingga tidak saja sesuai dengan ajaran Islam melainkan menjadi kebutuhan asasi setiap orang. Sinergi seni dan sains dalam pembelajaran anak usia dini dapat meningkatkan kreatifitas belajar. How to Cite : Suyadi. (2018). The Synergy of Arts, Neuroscience, and Islam in Early Childhood Learning in Yogyakarta. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(1), 42-54. doi:10.15408/tjems.v5i1.7934.
Development of Learning Video using Guided Inquiry Methods on Circular Motion Subject to Improve Student Learning Outcomes I Made Astra; Raihanati Raihanati; Syarifah Hafizah
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i1.7688

Abstract

AbstractThis study aims to develop a learning video on circular motion subject as a physics learning media for high school students. The developed video is prepared based on the guided inquiry learning stage and completed with the Student Worksheet. This research used Research and Development (R&D) method, with ADDIE model. The developed video has been through feasibility test with the achievement percentage of 91.8% from material expert, 96.8% from media expert, and 85.9% from learning expert with excellent interpretation. The product trial results show the percentage of achievement of 81.7% from educator and 89.4% from learner. There is an increase of result was 54.4 to 79.8 with a normalized gain test of 0.56 Based on the result of feasibility test and experiment, it can be concluded that instructional video using guided inquiry method in circular motion subject is worth to be used as physics learning media in senior high school and improved students’ learning outcomes in medium category.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan video pembelajaran pada materi gerak melingkar sebagai media pembelajaran fisika untuk siswa SMA. Video yang dikembangkan disusun berdasarkan tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing dan dilengkapi dengan Lembar Kerja Siswa (LKS). Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D), model ADDIE. Video yang dikembangkan telah melalui tahap uji kelayakan dengan persentase pencapaian 91.8% menurut ahli materi, 96.8% menurut ahli media, dan 85.9% menurut ahli pembelajaran dengan interpretasi sangat baik. Hasil uji coba produk menunjukkan persentase pencapaian 81.7% menurut pendidik dan 89.4% menurut peserta didik. Melalui uji coba kepada peserta didik, didapatkan kenaikan dari hasil pretest sebesar 54.4 menjadi 79.8 saat postest. Berdasarkan hasil uji kelayakan dan uji coba dapat disimpulkan bahwa video pembelajaran menggunakan metode inkuiri terbimbing pada materi gerak melingkar hasil pengembangan telah layak digunakan sebagai media pembelajaran fisika SMA. 
Muslim Youth Religiosity: in Terms of Gender Differences and Educational Environment Warsiyah Warsiyah
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i1.7842

Abstract

AbstractThis study aims to determine differences in the religiosity of Muslim adolescents regarding differences in the educational environment and gender. Data analysis was performed by the score collected by questionnaire, which was developed to measure the level of adolescent religiosity consisting of four dimensions: faith, intellectual, ritual and social. The study involved 97 Muslim teenagers taken random cluster sampling from an affordable population of students studying at SMA N and MA in Simo district Boyolali district. The results showed that subject scores varied and were above the theoretical averages, indicating that Muslim youth in Simo had a high degree of religiosity. The result of t-test analysis shows that there is a difference of religiosity level between adolescents studying in heterogeneous and homogenous institutions. The value of t-count is 2,668 bigger than t criterion (t-Table = 2.010) at 5% significance level.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan dalam religiusitas remaja Muslim dalam hal perbedaan di lingkungan pendidikan dan jenis kelamin. Analisis data dilakukan berdasarkan skor yang dikumpulkan melalui kuesioner, yang dikembangkan untuk mengukur tingkat religiusitas remaja yang terdiri dari empat dimensi: iman, intelektual, ritual dan sosial. Penelitian ini melibatkan 97 remaja Muslim yang diambil melalui tehnik sampel gugus (cluster random sampling) dari populasi siswa yang belajar di Sekolah Menengah Atas Negeri dan Madrasah Aliyah di Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor subjek bervariasi dan berada di atas rata-rata teoritis, menunjukkan bahwa pemuda Muslim di Simo memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Hasil analisis uji-t menunjukkan bahwa ada perbedaan tingkat religiusitas antara remaja yang belajar di lembaga-lembaga yang heterogen dan remaja yang belajar di lembaga-lembaga yang homogen. Nilai t-count adalah 2.668 lebih besar dari kriteria t (t-Tabel = 2.010) pada tingkat signifikansi 5%.How to Cite : Warsiyah. (2018).  Muslim Youth Religiosity: With the References of Gender Differences and Educational Environment. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(1), 19-29. doi:10.15408/tjems.v5i1.7842.
Strategy for Application of Risk Management on the Implementation of Renstra Hasyim Asyari; Zahrotul Munawwaroh; Taufani Chusnul Kurniatun; Nur Aedi
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i1.9528

Abstract

AbstractOne of the problems is the low quality of education due to the lack of maximum education institutions in managing the risks that occur in the process of implementing education. The purpose of this study is to find out and obtain data on risk management analysis and what risks faced by Development Madrasah Ibtidaiyah (Elementary School) Pembangunan (MIP) in the implementation of the 2011-2012 Renstra. Through interviews and observations that are known the main subject is a person or group of people who can provide information, they consist of management managers, management leaders to the strategic management staff. This study uses Descriptive Qualitative Analysis Method, to collect data, direct observation at the relevant institution (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). The results of this study explain that Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan (MIP) belongs to the risk averter, term namely the people who are reluctant to risk. The risk management stages carried out are risk identification (internal analysis, external and SWOT analysis), risk measurement (cross-linking SWOT, ST, WT, SO, and WO analysis), risk control (risk mitigation, risk retention, risk advoidance and risk risk transfer) and risk evaluation (consortium meetings, education unit meetings, leadership meetings and management review meetings).AbstrakSalah satu masalah rendahnya kualitas pendidikan karena kurangnya lembaga pendidikan yang maksimal dalam mengelola risiko yang terjadi dalam proses penyelenggaraan pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memperoleh data tentang analisis manajemen risiko dan risiko apa yang dihadapi oleh Madrasah Ibtidaiyah Pembangunan (MIP) dalam pelaksanaan Renstra 2011-2012. Melalui wawancara dan observasi yang diketahui subjek utama adalah orang atau sekelompok orang yang dapat memberikan informasi, mereka terdiri dari manajer manajemen, pimpinan manajemen hingga staf manajemen strategis. Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Kualitatif Deskriptif, untuk mengumpulkan data, observasi langsung di instansi terkait (Madrasah Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa MIP memiliki risk averter, yaitu istilah orang yang enggan mengambil risiko. Tahapan manajemen risiko yang dilakukan adalah identifikasi risiko (analisis internal, analisis eksternal dan SWOT), pengukuran risiko (analisis SWOT, ST, WT, SO, dan WO), pengendalian risiko (risk mitigation, risk retention, risk advoidance and risk risk transfer) dan evaluasi risiko (pertemuan konsorsium, pertemuan unit pendidikan, rapat pimpinan dan rapat tinjauan manajemen).How to Cite : Asy'ari, H., Munawwaroh, Z., Salwa. (2018).  Strategy for Application of Risk Management on the Implementation of Renstra. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(1), 57-65. doi:10.15408/tjems.v5i1.9528.
“What do fishermen catch?”; Exploring Talk between Students in Primary Science Classroom Implementing Curriculum 2013 Munasprianto Ramli
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i1.7496

Abstract

AbstractThe objective of this research is to explore of dialogue in primary science classrooms that implement Curriculum 2013. Dialogue is a term used in a broad sense to mean the exchange of information, thought and ideas from the sources to audiences through both written and spoken language. In this study, the sort of dialogue I am interested in is classroom talk; even more specifically, talk between students in the primary science classroom. A case study approach is employed for this study. I am focusing my study on twelve science lessons at year four of one primary schools in the Greater Jakarta. Data were gathered using classroom observations. I wrote a field note for each lesson and record the observation using audio and video recorder For analysing the data, I employed socio culture discourse analysis. The study shows that talk between students during a science lesson is adapted from both a traditional triadic pattern called Initiation, Response, Feedback (IRF) and a non-triadic pattern of Initiation, Response, Feedback, Response, Feedback (IRFRF) chain. In addition, the findings indicate that students were able to develop the four domains of scientific literacy through talks during science lessons.AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dialog di dalam kelas sains dasar yang menerapkan Kurikulum 2013. Dialog adalah istilah yang digunakan dalam arti luas berarti pertukaran informasi, pemikiran dan ide-ide dari sumber pembicara ke lawan bicara melalui komunikasi baik lisan maupun tulisan. Dalam penelitian ini, jenis dialog yang menarik bagi peneliti adalah pembicaraan di kelas; khususnya, pembicaraan antara siswa di kelas sains tingkat Sekolah Dasar. Pendekatan studi kasus digunakan pada penelitian ini. Fokus penelitian ini adalah dua belas materi ajar mata pelajaran sains pada kelas empat dari salah satu sekolah dasar di Jabodetabek. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan observasi kelas. Peneliti menulis catatan lapangan untuk setiap pengajaran dan merekam kegiatan pengajaran menggunakan audio dan perekam video. Untuk menganalisis data, peneliti menggunakan analisis wacana sosial budaya. Studi ini menunjukkan bahwa perbincangan antara siswa selama pelajaran sains diadaptasi dari pola triadic-tradisional yang disebut Initiation (Inisiasi), Response (Respon), dan Feedback (Timbal Balik) yang disingkat IRF dan pola non-triadic yang disebut Initiation (Inisiasi), Response (Respon), Feedback (Timbal Balik), Response (Respon), Feedback (Timbal Balik) yang disebut denga Rantai IRFRF. Selain itu, temuan menunjukkan bahwa siswa mampu mengembangkan empat domain literasi ilmiah melalui diskusi selama pelajaran ilmu pengetahuan How to Cite : Ramli, M. (2018).  What do fishermen catch?”; Exploring Talk between Students in Primary Science Classroom Implementing Curriculum 2013. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(1), 1-10. doi:10.15408/tjems.v5i1.7496. 
Interrelation Kiai Authorities, Curriculum and Learning Culture in Pesantren Indonesia Mohammad Muchlis solichin
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i1.7781

Abstract

AbstractIn the education system of Pesantren salaf (traditional Islamic boarding school), Kiai is the highest authority in determining the direction and policies of a pesantren. The figure of Kiai in Pesantren has the authority to determine the direction, the purpose of education, and curriculum/learning materials in Pesantren. Kiai has authority in determining the books of certain scholars. Some books are specifically used in Pesantren to provide guidance for students in implementing the learning process in Pesantren.Those books are selected by Kiai to provide guidance for students in implementing the learning process in this Pesantren. This writing seeks to discuss mutual and interrelated relations among kiai’s authorities, curriculum and norms of students in learning. This paper will discuss how Kiai with authority to select and specify the books on the provisions of the students in learning. While such rules directly strengthen and perpetuate the leadership of Kiai in Pesantren. AbstrakDalam sistem pendidikan Pesantren salaf, Kiai adalah otoritas tertinggi dalam menentukan arah kebijakan pesantren. Sosok Kiai di Pesantren, memiliki wewenang untuk menentukan arah, tujuan pendidikan, kurikulum\materi pembelajaran di Pesantren. Kiai memiliki otoritas dalam menentukan kitab-kitab para Ulama tertentu. Beberapa kitab secara khusus digunakan di Pesantren untuk membimbing siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran di Pesantren. kitab tersebut dipilih oleh Kiai untuk membimbing siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran di Pesantren ini. Tulisan ini berusaha untuk membahas hubungan timbal balik dan saling terkait antara otoritas kiai, kurikulum dan norma-norma siswa dalam pembelajaran. Tulisan ini akan membahas bagaimana Kiai dengan wewenangnya memilih dan menentukan kitab-kitab belajar  siswa. Sementara aturan tersebut langsung memperkuat dan melanggengkan kepemimpinan Kiai di Pesantren.
Do Faculty and Gender Matter to Students’ English Proficiency Score? Siti Nurul Azkiyah
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 2 DECEMBER 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i2.1667

Abstract

AbstractIt is undeniable that English is an important international language and there could be some background variables influencing English proficiency. Therefore, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta as the context of the study regulates that all students take an English proficiency test once they are accepted and must achieve 450 for non-English departments and 500 for English studies before they graduate. Having 12 faculties of Islamic and non-Islamic studies, it is interesting to measure whether faculty as a background variable matters. In addition, female as another background variable has been widely found to have better achievement in language, and therefore this study is also intended to investigate whether gender is a contributing factor to students’ English proficiency. The population was all students of UIN Jakarta year 2017, which data of 5089 students’ English proficiency scores, faculties, and gender were collected through the information technology center. The descriptive analysis reveals that the lowest score is 240 while that highest one is 570 and the mean score is 383. The ANOVA analysis reports significant differences among faculties: the Faculty of Medicine achieves the highest score (M = 429) while the Faculty of Ushuluddin attains the lowest (M = 365). In addition, female students, as yielded by t-test analysis, are found to have significantly higher English proficiency score. The findings implies the need to pay more attention to Islamic-related faculties having lower scores and to consider English proficiency score as an enrolment requirement especially for the faculty of Medicine. AbstrakTidak bisa dipungkiri bahwa Bahasa Inggris sangat penting dan ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kecapakan berbahasa Inggris. Oleh karena itu, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai konteks studi ini mewajibkan semua mahasiswa yang diterima untuk mengikuti tes kecakapan berbahasa Inggrisd dan harus mencapai skor 450 untuk mahasiswa di luar prodi Bahasa Inggris dan 500 untuk prodi Bahasa Inggris sebelum mereka lulus. Dengan 12 fakultas baik studi Islam maupun non-Islam, menjadi menarik untuk melihat apakah fakultas sebagai sebuah variabel memiliki pengaruh. Selain itu, jender (perempuan) sebagai variabel lain sudah banyak ditemukan oleh studi lain memiliki prestasi yang lebih unggul dalam kecakapan berbahasa, dan oleh karena itu studi ini juga bertujuan untuk mengukur apakah gender merupakah faktor yang berpengaruh terhadap kecapakan berbahasa Inggris. Populasi studi ini adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta angkatan 2017, di mana data skor English Proficiency Test, asal fakultas dan jender sejumlah 5089 mahasiswa berhasil dikumpulkan dan Pustipanda. Dari analisis deskriptif statistik ditemukan bahwa skor terendah adalah 240 sedangkan tertinggi adalah 570 dan nilai rata-ratanya sebesar 383. Hasil analisis ANOVA menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan diantara fakultas, di mana Fakultas Kedokteran memiliki nilai rata-rata tertinggi (429) sementara Fakultas Ushuluddin memiliki nilai rata-rata terendah (365). Mahasiswa (perempuan), sebagaimana ditunjukkan oleh hasil analisis t-test, memiliki nilai rata-rata yang secara signifikan lebih tinggi dibanding mahasiswa (laki-laki).How to Cite : Azkiyah, S.,N. (2018).  Do Faculty and Gender Matter to Students’ English Proficiency Score?. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(2), 116-125. doi:10.15408/tjems.v5i2.1667.
SCHOOL OF MASTER TEACHER (SMT) TRAINING: DEVELOPING TEACHERS’ PEDAGOGIC COMPETENCE Jejen Musfah; Desita Erviani
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 2 DECEMBER 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i2.10622

Abstract

AbstractThis study aimed at analyzing School of Master Teacher (SMT) training in developing teacher's pedagogic competence. This study applied a qualitative approach within the framework of case study research. The data was collected through documentation, observation, and interviews. The results showed that SMT training consisted of lectures, social projects, and Classroom Action Research (CAR). Secondly, the training was able to improve teachers’ pedagogic competence with excellent results. 22 of 33 teachers showed accomplished pedagogic competence. While, 9 teachers performed a very good level of the competence in their instruction, 1 teacher gained a medium level, and only 1 teacher received a poor mark.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelatihan School of Master Teacher (SMT) dalam mengembangkan kompetensi pedagogik guru. Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dalam kerangka penelitian studi kasus. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan SMT terdiri dari ceramah, proyek sosial, dan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Kedua, pelatihan ini mampu meningkatkan kompetensi pedagogik guru dengan hasil yang sangat baik. 22 dari 33 guru menunjukkan kompetensi pedagogik yang baik. Sementara, 9 guru menunjukkan tingkat kompetensi yang sangat baik dalam pengajaran mereka, 1 guru memperoleh tingkat sedang, dan hanya 1 guru yang mendapat nilai buruk. How to Cite : Musfah, J., Erviani, D. (2018).  School of Master Teacher (SMT) Training: Developing Teachers’ Pedagogic Competence. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(2), 126-134. doi:10.15408/tjems.v5i2.10622.
Intercultural Communicative Language Teaching in China: Highlight or Addendum? QUN WANG; Syihabuddin Syihabuddin; Yeti Mulyati; Vismaia Sabariah Damaianti
TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 2 DECEMBER 2018
Publisher : Faculty of Educational Sciences, Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/tjems.v5i2.9732

Abstract

AbstractInternational students were frequently reported of culture shock issues when entering a new cultural environment. Cultural knowledge was often treated as an addendum which focused on learning facts about the target country. This article demonstrated culture shock that experienced by 7 international students, and also reviewed intercultural communicative language teaching (ICLT) in Indonesian language classrooms practiced by 6 language practitioners from 3 different universities in China. Using findings that emerged from a series of one-to-one interviews, the research explored practitioners’ current perspective of ICLT and how these understandings influenced their practices, including teaching materials, methods, and activities. The researcher discussed the possible causes of the status quo of ICLT in China, and went on to put forward suggestions that ICLT should be promoted in foreign language teaching as a successful mediator of intercultural dimension.AbstrakMahasiswa internasional sering dilaporkan tentang masalah kejutan budaya ketika memasuki lingkungan budaya baru. Pengetahuan budaya sering diperlakukan sebagai tambahan yang berfokus pada mempelajari fakta tentang negara sasaran. Artikel ini menunjukkan kejutan budaya yang dialami oleh 7 siswa internasional, dan juga mengulas pengajaran bahasa komunikatif antarbudaya (ICLT) di ruang kelas bahasa Indonesia yang dipraktikkan oleh 6 praktisi bahasa dari 3 universitas berbeda di Tiongkok. Menggunakan temuan yang muncul dari serangkaian wawancara satu-ke-satu, penelitian mengeksplorasi perspektif praktisi saat ini tentang ICLT dan bagaimana pemahaman ini mempengaruhi praktik mereka, termasuk bahan ajar, metode, dan kegiatan. Peneliti membahas kemungkinan penyebab status quo ICLT di Cina, dan kemudian mengajukan saran bahwa ICLT harus dipromosikan dalam pengajaran bahasa asing sebagai mediator sukses dimensi lintas budaya. How to Cite :, Wang, Q., Syihabuddin., Mulyati, Y., Damaianti, V. S. (2018).  Intercultural Communicative Language Teaching in China: Highlight or Addendum?. TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society, 5(2), 155-165. doi:10.15408/tjems.v5i2.9732.

Page 10 of 44 | Total Record : 439


Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 12 NO. 1 2025 (In Progress Issue) TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 12 NO. 1 2025 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 11 NO. 2 2024 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 11 NO. 1 2024 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 10 NO. 2 2023 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 10 NO. 1 2023 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 9 NO. 2 2022 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 9 NO. 1 2022 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 8 NO. 2 2021 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 8 NO. 1 2021 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 7 NO. 2 2020 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 7 NO. 1 2020 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 2 2019 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 6 NO. 1 2019 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 2 DECEMBER 2018 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 5 NO. 1 JUNE 2018 TARBIYA: JOURNAL OF EDUCATION IN MUSLIM SOCIETY | VOL. 4 NO. 2 DECEMBER 2017 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 4 No. 1 June 2017 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 3 No. 2 December 2016 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 3 No. 1 June 2016 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 2 No. 2 December 2015 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 2 No. 1 June 2015 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 1 No. 2 Desember 2014 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 1 No. 2 December 2014 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 1 No. 1 Juni 2014 TARBIYA: Journal of Education in Muslim Society | Vol. 1 No. 1 Juni 2014 More Issue