cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,282 Documents
Pengaruh Inisiasi Menyusu Dini (IMD) terhadap Suhu dan Kehilangan Panas pada Bayi Baru Lahir Hotma Sauhur Hutagaol; Eryati Darwin; Eny Yantri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.113

Abstract

AbstrakHipotermia merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian bayi baru lahir di negara berkembang. Salah satu asuhan untuk mencegah hipotermi adalah dengan melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh inisiasi menyusu dini terhadap suhu aksila dan kehilangan panas kering pada bayi baru lahir. Ini merupakan studi cross-sectional comparative yang melakukan observasi bayi yang lahir dengan persalinan normal yang dilaksanakan IMD atau tidak, kemudian dilakukan pengukuran suhu aksila dan kehilangan panas kering pada kedua kelompok. Data dianalisa menggunakan uji t-test, dan nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Rerata suhu aksila kelompok IMD sebesar 37,1 ± 0,20C dan rerata suhu aksila pada kelompok non IMD sebesar 36,8 ± 0,40C. Rerata total kehilangan panas kering pada kelompok IMD sebesar 30,1 ± 3,4 J dan pada kelompok non IMD sebesar 31,2 ± 3,9 J. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa IMD berpengaruh terhadap peningkatan suhu aksila. Kehilangan panas kering lebih rendah pada kelompok IMD walau tidak bermakna secara statistikKata kunci: IMD, suhu aksila, kehilangan panas keringAbstractHypothermia is a major cause of morbidity and mortality in neonatal period. One of essential care for newborn to prevent hypothermia is early initiation of breastfeeding. The objective of this study was to see the effects of early initiation of breastfeeding to increase axillary temperature and decrease dry heat loss in newborn. The design of this study is observational study with cross-sectional comparative design. The subjects were normal newborn with early initiation of breastfeeding and without early initiation of breastfeeding. Axillary mean temperature after early initiation of breastfeeding is 37,1 ± 0,20C and axillary mean temperature on non early initiation of breastfeeding group is 36,8 ± 0,40C. Total dry heat loss mean on early initiation of breastfeeding group is 30,1 ± 3,4 J and on non early initiation of breastfeeding group is 31,2 ± 3,9 J. This study concluded that there is the effect of early initiation of breastfeeding to axillary temperature. Total dry heat loss is lower on early initiation of breastfeeding group but not significant statistically.Keywords: early initiation of breastfeeding, axillary temperature, dry heat loss
Development of Binocular Vision Muhammad Syauqie; Sri Handayani Mega Putri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i1.17

Abstract

AbstrakPenglihatan binokular secara harfiah berarti penglihatan dengan 2 mata dan dengan adanya penglihatan binokular, kita dapat melihat dunia dalam 3 dimensi meskipun bayangan yang jatuh pada kedua retina merupakan bayangan 2 dimensi. Penglihatan binokular juga memberikan beberapa keuntungan berupa ketajaman visual, kontras sensitivitas, dan lapangan pandang penglihatan yang lebih baik dibandingkan dengan penglihatan monokular. Penglihatan binokular normal memerlukan aksis visual yang jernih, fusi sensoris, dan fusi motoris. Pada manusia, periode sensitif dari perkembangan penglihatan binokular dimulai pada usia sekitar 3 bulan, mencapai puncaknya pada usia 1 hingga 3 tahun, telah berkembang sempurna pada usia 4 tahun dan secara perlahan menurun hingga berhenti pada usia 9 tahun. Berbagai hambatan, berupa hambatan sensoris, motoris,dan sentral, dalam jalur refleks sangat mungkin akan menghambat perkembangan dari penglihatan binokular terutama pada periode sensitif sewaktu 2 tahun pertama kehidupan.Kata kunci: penglihatan binokular, perkembangan, fusi, stereopsisAbstractBinocular vision literally means vision with two eyes and with binocular vision, we can see the world in three dimensions even though the images that fall on both of the retina were the 2-dimensional images. Binocular vision also provide some advantages included improved visual acuity, contrast sensitivity, and visual field compared with monocular vision. Normal binocular vision requires a clear visual axis, sensory fusion, and motoric fusion. In human, the sensitive period of binocular vision development began at around 3 months of age, reaching its peak at the age of 1 to 3 years, had developed completely at the age of 4 years and gradually declined until it stops at the age of 9 years. Various obstacles, such as sensory, motoric, and central obstacles, within the reflex pathway were very likely to inhibited the development of binocular vision, especially in sensitive period during the first 2 years of life.Keywords: binocular vision, development, fusion, stereopsis
Hubungan Derajat Merokok Dengan Derajat Eksaserbasi Asma Pada Pasien Asma Perokok Aktif di Bangsal Paru RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2007 - 2010 Syandrez Prima Putra; Oea Khairsyaf; Julizar Julizar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i3.163

Abstract

AbstrakPrevalensi asma dan perokok aktif di Indonesia semakin meningkat. Penyakit asma dapat menurunkan kualitas hidup dan menimbulkan kematian terutama pada perokok aktif jika eksaserbasi asma berat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma pada pasien asma perokok aktif. Penelitian analitik telah dilakukan dengan menggunakan data deskriptif di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang pada bulan Desember 2011 sampai Januari 2013. Data yang dikumpulkan berasal dari catatan rekam medik pasien asma di Bangsal Paru sejumlah 228 orang. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik total sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak lima puluh orang. Untuk melihat hubungan antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma digunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian menunjukkan 51 dari 228 dari pasien asma (22,4%) adalah perokok aktif. Secara umum pasien memiliki derajat merokok sedang (41,18%) dan derajat eksaserbasi asma sedang (78,43%). Berdasarkan analisis statistik didapatkan nilai p = 0,275 (p<0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma.Kata kunci: merokok, eksaserbasi, asmaAbstractPrevalence of asthma and active smokers in Indonesia has increased. Asthma can reduce quality of life and lead to death especially in active smokers if the severe asthma exacerbation occur. This study aims to look at how the correlation between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation in active smoker patients with asthma. Analytic studies have been conducted using the descriptive data in Pulmonary Ward of RSUP Dr. M. Djamil Padang in December 2011 to January 2013. Data collected from the medical records of patients with asthma history in Pulmonary Ward for 228 people. The samples were appointed by using total sampling technique, so obtained the samples about fifty people. Spearman correlation test was used to examine the relationship between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation. The results of this study showed 51 of 228 of the patients with asthma (22.4%) were active smokers. In general, patients had a moderate degree of smoking (41.18%) and moderate degree of asthma exacerbations (78.43%). The statistical analysis was obtained p-value = 0.275 (p<0,05) which means there is no significant correlation between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation.Keywords: smoking, exacerbation, asthma
Pengaruh Media Promosi Kesehatan tentang ASI Eksklusif terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Padang Tahun 2014 Binarni Suhertusi; Desmiwarti Desmiwarti; Emi Nurjasmi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.177

Abstract

AbstrakUpaya meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif sudah banyak dilakukan, diantaranya dalam bentuk promosi kesehatan. Namun demikian hingga saat ini kegiatan tersebut belum menunjukkan hasil yang optimal terutama dalam hal penggunaan media. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan menggunakan media leaflet dan media film. Ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi-experimental) dengan rancangan pretest-posttest group design. Dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas Lubuk Begalung Padang tahun 2014. Subjek penelitian adalah ibu hamil sebanyak 42 orang yang dipilih dengan cara simple random sampling. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama menggunakan media leaflet dan kelompok kedua dengan media film. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah promosi kesehatan dan uji Mann-Whitney membandingkan kedua media promosi kesehatan. Rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan promosi kesehatan dengan media leaflet 8,71 dan setelahnya 11,52. Pada media film sebelum diberikan promosi kesehatan 7,90 dan setelahnya 13,19. Selisih nilai pengetahuan responden dengan media leaflet 2,81 dan media film 5,29. Ada peningkatan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberi promosi kesehatan dengan media leaflet dan media film. Media film lebih efektif meningkatkan pengetahuan dibanding dengan media leaflet.Kata kunci: ASI eksklusif, leaflet, filmAbstractVarious attempts have been taken to improve the granting of exclusive breastfeeding, one of them is health promotion. Nonetheless, the health promotion has not shown the optimal result especially on the use of media. The objective of this study was to determine the effect of health promotion regarding exclusive breastfeeding on the knowledge improvement of pregnant mothers either by using leaflet or film media. This was a quasi-experimental study with pretest-posttest group design. This study was conducted in the area of Lubuk Begalung health center Padang in 2014. The subjects were 42 pregnant women, choosen by using simple random sampling. The subject were divided into two categories. The first category was given a health promotion by using leaflet as the media and the second category was given by using film as the media. The data analyzed by using Wilcoxon Signed Rank Test to compare the knowledge of respondent before and after being given promotion and Mann-Whitney test to compare both of media. The average of respondent knowledge before being given health promotion by using leaflet was 8.71 and after being given health promotion was 11.52. In media film, the average of knowledge before was 7.90 and after was 13.19. The deviation of knowledge value of leaflet was 2.81 and film was 5.29. There is a significant knowledge improvement before and after being given the health promotion either by leaflet or film. Film is more effective in improving the knowledge of pregnant mothers compare than leaflet.Keywords:Exclusive Breastfeeding, leaflet, film
Penerimaan Ibu yang Memiliki Anak Retardasi Mental di SLB YPAC Padang Faraznasia Benny; Adnil Edwin Nurdin; Eva Chundrayetti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.72

Abstract

AbstrakPenerimaan merupakan sikap seseorang yang menerima orang lain apa adanya secara keseluruhan, tanpa disertai persyaratan ataupun penilaian. Apabila dalam keluarga terutama pada ibu ada penerimaan, maka dapat membantu dalam pengasuhan dan akan mendukung perkembangan anak. Namun tidak mudah bagi seorang ibu untuk dapat menerima begitu saja kondisi anaknya.Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penerimaan ibu terhadap anaknya yang mengalami gangguan retardasi mental, faktor-faktor yang menyebabkan penerimaan serta gambaran retardasi mental secara pendekatan kualitatif dalam bentuk eksplorasi. Subyek penelitian ini adalah tiga orang ibu yang memiliki anak yang mengalami gangguan retardasi mental. Dalam penelitian ini digunakan teknik wawancara semi terstruktur. Berdasarkan hasil penelitian secara umum, satu dari tiga orang subyek penelitian dapat dikatakan telah menerima anaknya dengan baik, hal ini terlihat dari sikap subyek yang telah memenuhi keseluruhan aspek penerimaan ibu terhadap anak yaitu kecemasan yang minimal terhadap kehadiran anak, pembelaan diri yang minimal atas keterbatasan anak, dan tidak adanya penolakan. Disamping itu kedua subyek tersebut juga memperlihatkan adanya kontrol terhadap perkembangan anak, memberikan tekanan atas kemampuan anak, komunikasi yang hangat, pengasuhan yang baik, adanya sikap menghargai dan penlaian yang positif terhadap anak, juga pengenalan atas kebutuhan anak dalam pengembangan kemandirian anak. Namun pada dasarnya seluruh subyek dapat memenuhi aspek yang terkait dengan pengasuhan, dan tidak adanya penolakan yang terlihat dari ibu. Gambaran retardasi mental yang dialami anak subyek dapat dikatakan terlihat jelas dari bentuk fisik. Kondisi keterbelakangan mental anak dari subyek A, B, dan C terlihat tidak terlalu parah. Faktor yang paling menonjol dalam penerimaan dari ketiga subyek adalah faktor agama, dimana seluruh subyek menyatakan dapat menerima kondisi anak setelah menyerahkan seluruhnya kepada Tuhan.Kata kunci: Penerimaan Ibu, Retardasi Mental, AnakAbstractThe acceptance is an attitude of someone who accepts other people as they are as they are whole, without any requirements or assessment. When a family, especially the mother has reception, then it can assist in education and support the development of children. But it is not easy for a mother to be able to take for granted of her child condition. The aim of this study was to obtain an acceptance overview of the mother whose children suffered mental retardation disorder, the factors led to the acceptance as well as an overview of mental retardation by a qualitative approach in the form of exploration. The subjects were three mothers whose children with mental retardation disorders. This study used semi-structured interview techniques. Based on the results of general research, two of the three research subjects can be said that they have accepted their children well, as seen from the attitude of the subject who has fulfilled all aspects of the mothers' acceptance to their children are the minimal anxiety to the presence of the children, a minimal self-defense about the limitations of the children, and the absence of rejection. Besides, these two subjects also showed that the control of the development of the children, pressure giving on the children’s ability, warm communication, good parenting, respection and a positive judgement against children, also a recognition of the children’s needs in the development of the children’s independence. But basically the whole subject can fulfill aspects associated with caregiving, and the absence of a rejection seen on the mother.The overview of mental retardation suffered by the subject children can be said is obvious from the physical form. Mental retardation of the childrens' condition subjects A, B, and C are not too severe. The most prominent factor in the acceptance of the three subjects is the religion factor, where the whole subjects state can accept the childrens' condition after the completely submission to the God.Keywords:Mother Acceptance, Mental Retardation, Children
Gambaran Tingkat Depresi pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUP DR. M. Djamil Padang Fitri Amalia; Nadjmir Nadjmir; Syaiful Azmi Azmi
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.209

Abstract

AbstrakDepresi merupakan salah satu dari gangguan mood yang utama. Tanda dan gejala lain gangguan mood adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, pembicaraan dan fungsi vegetatif seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual dan irama biologis lainnya. Perubahan tersebut hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal, social, dan pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat depresi pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr. M. Djamil. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional study. Subjek diambil dari seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi menggunakan teknik total sampling, Subjek yang memenuhi kriteria inklusi diwawancarai menggunakan The Hamilton Rating Scale For Depression dari seluruh populasi didapatkan 16 subjek yang memenuhi kriteria. Hasil yang didapatkan ialah 9 responden (56,25%) tidak mengalami depresi, depresi ringan 6 responden (37,50%) dan depresi sedang 1 responden (6,25%). Dapat disimpulkan tingkat depresi terbanyak pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUP DR. M. Djamil tahun 2013 adalah tingkat depresi ringan. Karakteristik responden terbanyak yang mengalami depresi adalah sebagai berikut: umur 40-49 tahun, perempuan, menikah, berpendidikan terakhir SMA, pekerjaan ibu rumah tangga dan tidak bekerja.Kata kunci: depresi, penyakit ginjal kronik, hemodialisisAbstractDepression is one of the major of mood disorders. Other signs and symptoms of mood disorders are changes in the level of activity, cognitive ability, speech and vegetative functions such as sleep, appetite, sexual activity and other biological rhythms. Such changes always lead to malfunction of interpersonal, social and employment. The objective of this study was to describe the level of depression in patients with chronic kidney disease who undergoing hemodialysis at RSUP Dr. M. Djamil Padang. This was a descriptive study using a cross sectional design. Subject were taken from the entire population who met the inclusion criteria using total sampling technique, subject who met the inclusion criteria were interviewed using the Hamilton Rating Scale for Depression, of the entire population obtained 16 subjects that meet the criteria. From this study, a 9 respondents (56.25%) did not experience depression, 6 respondents (37.50%) mild depression and 1 respondent (6.25%) moderate depression. It can be concluded highest rates of depression in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at RSUP DR. M. Djamil Padang in 2013 in the level of mild depression. Most characteristics of the respondents who were depressed were as follows : age 40-49 years, female, married, educated, past high school, housewives work and do not work, 13-18 months undergoing hemodialysis.Keywords: depression, chronic kidney disease, hemodialysis
Penatalaksanaan Tuberkulosis Laring Novialdi Novialdi; Seres Triola
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.104

Abstract

AbstrakTuberkulosis laring merupakan salah satu tuberkulosis ekstrapulmonal yang disebabkan oleh kuman mikobakterium tuberkulosis. Tuberkulosis masih menjadi masalah nasional di negara kita dengan prevalensi yang cukup tinggi.Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, diperlukan dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis laring. Pemeriksaan histopatologi laring masih menjadi standar baku emas dalam menegakkan diagnosis pasti tuberkulosis laring. Diagnosis yang benar dan penatalaksanaan yang tepat bertujuan untuk mengatasi gejala klinis dan memutus rantai penularan dari kuman mikobakterium tuberkulosis.Dilaporkan satu kasus wanita usia 34 tahun dari hasil pemeriksaan histopatologi laring didapatkan suatu gambaran tuberkulosis laring dan ditatalaksana dengan pemberian obat anti tuberkulosis.Kata kunci: Tuberkulosis ekstrapulmonal, tuberkulosis laring, mikobakterium tuberkulosis, obat anti tuberkulosisAbstractLaryngeal tuberculosis is one of extrapulmonary tuberculosis caused by the micobacterium tuberculosis. Tuberculosis remains a national problem in our country with a high prevalence rate. Anamnesis, physical examination, and other supporting examinations, are necessary to confirm a diagnosis of laryngeal tuberculosis. Histopathological examination of the larynx is still the gold standard in establishing a diagnosis of laryngeal tuberculosis. Correct diagnosis and appropriate treatment aims to overcome the clinical symptoms and break the transmission of micobacterium tuberculosis. Reported a case of 20 years old woman whom the results of histopathological examination of the larynx obtained a symptom of laryngeal tuberculosis and treated by administration of anti tuberculosis drugs.Keywords:Extrapulmonary tuberculosis, laryngeal tuberculosis, mycobacterium, tuberculosis, anti tuberculosis drug
Perbandingan Efek Antibakteri Madu Asli Sikabu dengan Madu Lubuk Minturun terhadap Escherichia Coli dan Staphylococcus Aureus secara In Vitro Yugo Berri Putra Rio; Aziz Djamal; Asterina Asterina
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i2.15

Abstract

AbstrakPendahuluan: Madu digunakan sebagai agen makanan dan obat tradisional, mengandung nektar atau gulaeksudat dari tanaman yang dikumpulkan oleh lebah madu serta merupakan salah satu obat tradisional yangdigunakan oleh masyarakat. Madu diketahui memiliki kemampuan sebagai efek antibakteri, seperti Escherichia colidan Stahpylococcus aureus. Kedua bakteri ini memiliki sifat yang berbeda tetapi memilki kesamaan dari penyakityang disebabkannya. Kualitas dan jenis madu juga sesuai dengan tempat dan lokasi lebah berkembang biak.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbandingan efek antibakteri madu asli Sikabu dan Lubuk Minturunterhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro. Metode Penelitian: Madu yang diuji untukpenelitian ini adalah madu yang berasal dari Sikabu dan Lubuk Minturun. Penelitian ini dilaksanakan pada bulanDesember 2011 sampai Mei 2012 di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jenispenelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan menggunakan metode difusi (metode cakram) dananalitik dengan menghubungkan perbedaan yang dimiliki kedua madu sebagai efek antibakteri. Hasil Penelitian:ini menunjukkan bahwa madu asli Sikabu dan Lubuk Minturun tidak memiliki kemampuan efek antibakteri terhadapEscherichia coli, dan terdapat perbedaan efek antibakteri dari kedua madu terhadap Staphylococcus aureus.Kesimpulan: dari kedua jenis madu yang diteliti tidak ditemukan efek antibakteri terhadap Escherichia coli , namunmadu asli Sikabu memiliki efek antibakteri yang lebih baik dari pada madu Lubuk Minturun terhadapStaphylococcus aureusKata Kunci : Perbandingan Efek Antibakteri, Madu Asli Sikabu, Madu Lubuk Minturun. Escherichia coli,Staphylococcus aureusAbstractIntroduction: Honeyis used as an agent for food and traditional medicine, containing nectar or sugar exudates ofthe plant collected by honey bees, is one of the traditional medicines used by community. Honey is known to havethe ability as an antibacterial effect, such as Escherichia coli and Stahpylococcus aureus. Both of these bacteriahave different properties but have the common of the diseases it causes. The quality and type of honey is also inaccordance with the breeding places and their location. The purpose of this study was to see a comparison of theantibacterial effect of honey Sikabu and Lubuk Minturun against Escherichia coli and Staphylococcus aureus by invitro. Methods: Honey to be tested for this study were derived from Sikabu and Lubuk Minturun. This study wasconducted in December 2011 to May 2012 in the laboratory of Microbiology, Faculty of Medicine, AndalasUniversity. Type of research is experimental diffusion method (disc method) and analytical distinction owned bylinking the two of honey as an antibacterial effect. Results: These results indicate that the honey Sikabu and LubukMinturun have no antibacterial effect against Escherichia coli, both of honey have differences antibacterial effectagainst Staphylococcus aureus. Conclusion: Both types of honey from this study did not find an antibacterial effectagainst Escherichia coli, but honey Sikabu has better antibacterial against Staphylococcus aureus than honeyLubuk Minturun.Keywords: Comparisons Antibacterial Effects, Original Sikabu Honey, Honey Lubuk Minturun. Escherichia coli,Staphylococcus aureus
Memahami Patofisiologi dan Aspek Klinis Syok Hipovolemik: Update dan Penyegar Hardisman Hardisman
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i3.167

Abstract

AbstrakSecara patofisiologis syok merupakan gangguan hemodinamik yang menyebabkan tidak adekuatnya hantaran oksigen dan perfusi jaringan. Gangguan hemodinamik tersebut dapat berupa penurunan tahanan vaskuler sitemik terutama di arteri, berkurangnya darah balik, penurunan pengisian ventrikel dan sangat kecilnya curah jantung. Gangguan faktor-faktor tersebut disbabkan oleh bermacam-macam proses baik primer pada sistim kardiovaskuler, neurologis ataupun imunologis. Diantara berbagai penyebab syok tersebut, penurunan hebat volume plasma intravaskuler merupakan faktor penyebab utama. Terjadinya penurunan hebat volume intravaskuler dapat terjadi akibat perdarahan atau dehidrasi berat, sehingga menyebabkan yang balik ke jantung berkurang dan curah jantungpun menurun. Penurunan hebat curah jantung menyebabkan hantaran oksigen dan perfusi jaringan tidak optimal dan akhirnya menyebabkan syok. Pada tahap awal dengan perdarahan kurang dari 10%, gejala klinis dapat belum terlihat karena adanya mekanisme kompensasi sisitim kardiovaskuler dan saraf otonom. Baru pada kehilangan darah mulai 15% gejala dan tanda klinis mulai terlihat berupa peningkatan frekuensi nafas, jantung atau nadi (takikardi), pengisian nadi yang lemah, penurunan tekanan nadi, kulit pucat dan dingin, pengisian kapiler yang lambat dan produksi urin berkurang. Perubahan tekanan darah sistolik lebih lambat terjadi akibat adanya mekanisme kompensasi tadi, sehingga pemeriksaan klinis yang seksama harus dilakukan.Kata kunci: syok, hipovolemik dan patofisiologiAbstractShock is hemodynamic disorders, which causes inadequate oxygen delivery and perfusion. The hemodynamic disorders can be decreasing of systemic vascular resistant, venous return, ventricular filling and inadequate of cardiac output. The disorders are caused by cardiovascular dysfunction, neurologic or immunologic factors. Intravascular volume loss is one of the main factors, which is caused by severe dehydration or bleeding. These conditions lead to decreasing of venous return and cardiac output that cause inadequate oxygen delivery and perfusion. The homeostatic defence mechanism can compensate the cardiovascular function with the blood loss up to 10%. The clinical symptoms appears when the blood loss 15%, such as tachypnoea, tachycardia, weak of pulse, decreasing of mean arterial pressure, skin pale and cold, decreasing refilling capillary and urine production. Due to the compensation mechanism, alteration of systolic blood pressure is relatively late; therefore, thorough and complete clinical assessment is necessary.Keywords: shock, hypovolemic and pathophysiology
Kelainan Hemostasis pada Leukemia Zelly Dia Rofinda
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i2.40

Abstract

AbstrakLatar belakang: Leukemia adalah penyakit keganasan pada jaringan hematopoietik yang ditandai denganpenggantian elemen sumsum tulang normal oleh sel darah abnormal atau sel leukemik. Salah satu manifestasi klinisdari leukemia adalah perdarahan yang disebabkan oleh berbagai kelainan hemostasis.Kelainan hemostasis yang dapat terjadi pada leukemia berupa trombositopenia, disfungsi trombosit,koagulasi intravaskuler diseminata, defek protein koagulasi, fibrinolisis primer dan trombosis. Patogenesis danpatofosiologi kelainan hemostasis pada leukemia tersebut terjadi dengan berbagai mekanisme.Kata kunci: leukemia, kelainan hemostasisAbstractBackground: AbstractLeukemia is a malignancy of hematopoietic tissue which is characterized bysubstituted of bone marrow element with abnormal blood cell or leukemic cell. One of clinical manifestation ofleukemia is bleeding that is caused by several hemostasis disorders.Hemostasis disorders in leukemia such asthrombocytopenia, platelet dysfunction, disseminated intravascular coagulation, coagulation protein defect, primaryfibrinolysis and thrombosis. Pathogenesis and pathophysiology of thus hemostasis disorders in leukemia occur withdifferent mechanism.Keywords: leukemia, hemostasis disorder

Page 15 of 129 | Total Record : 1282


Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue