cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Hubungan Status Gravida dan Usia Ibu terhadap Kejadian Preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2012-2013 Oktaria Denantika; Joserizal Serudji; Gusti Revilla
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.224

Abstract

AbstrakPreeklampsia merupakan penyakit dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penyebab pasti terjadinya preeklampsia belum diketahui, namun terdapat faktor risiko yang mempengaruhi kejadian preeklampsia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gravida dan usia ibu terhadap kejadian preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2012-2013. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2014 sampai Februari 2014 di bagian Rekam Medis dengan menggunakan desain cross sectional study komparatif terhadap 81 pasien preeklampsia dan 81 ibu hamil tidak preeklampsia yang bersalin di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2012-2013. Hasil penelitian menunjukkan proporsi primigravida yang menderita preeklampsia 1,52 kali lebih banyak daripada primigravida yang tidak preeklampsia. Proporsi ibu yang berusia dalam kategori usia risiko tinggi (< 20 tahun dan > 35 tahun) dan menderita preeklampsia 4,43 kali lebih banyak daripada yang tidak menderita preeklampsia. Setelah dilakukan analisis melalui uji chi square, disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gravida dan usia ibu dengan kejadian preeklampsia (p < 0,05).Kata kunci: preeklampsia, status gravida, usia ibuAbstractPreeklampsia is a disease with high morbidity and mortality. The exact cause of preeklampsia still unknown, but there are risk factors that affect the preeklampsia’s incident. The objective of this study was to determine the correlation between gravidity and maternal age with preeklampsia’s incident in RSUP Dr. M. Djamil Padang on 2012 – 2013.The research was did in January 2014 to February 2014 at Medical Records department using cross sectional study comparative’s design toward 81 preeclamptic patients and 81 pregnant women who didn’t preeklampsia, which gave birth in RSUP Dr. M. Djamil Padang on 2012 - 2013. The results showed that the proportion of primigravidae who suffer from preeklampsia is 1.52 times more than primigravidae who do not. Proportion of mother who is in the age category of high risk (< 20 years and > 35 years) and suffer from preeklampsia is 4.43 times more than who don’t .After analyzed by chi square test, it is concluded that there are significant correlation between gravidity and maternal age with preeklampsia’s incident in RSUP Dr. M. Djamil Padang on 2012 – 2013 (p < 0.05). Keywords: preeklampsia, gravidity, maternal age
Gambaran Faktor Risiko dan Tipe Stroke pada Pasien Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan Periode 1 Januari 2010 - 31 Juni 2012 Cintya Agreayu Dinata; Yuliarni Syafrita; Susila Sastri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i2.119

Abstract

AbstrakStroke merupakan penyakit akibat gangguan peredaran darah otak yang dipengaruhi oleh banyak faktor risiko terdiri dari yang tidak dapat diubah berupa usia dan jenis kelamin dan yang dapat diubah seperti hipertensi, peningkatan kadar gula darah, dislipidemia, dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tipe stroke dan faktor risiko yang berpengaruh pada pasien stroke rawat inap di RSUD Kabupaten Solok Selatan. Metode penelitian: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data skunder pasien stroke yang dirawat di RSUD Solok Selatan. Data yang diambil meliputi usia, jenis kelamin, tekanan darah, kadar gula darah, profil lipid saat pertama pasien masuk rumah sakit, dan pekerjaan. Sampel penelitian adalah seluruh pasien stroke yang pernah dirawat di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan pada periode 1 Januari 2010 – 31 Juni 2012 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan proporsi stroke terbanyak adalah stroke ischemic (61,46%), perempuan (54,17%) yang berusia >50 tahun (81,25%) yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (43,75%). Faktor risiko yang dapat diubah tertinggi adalah hipertensi (82,30%) diikuti kolesterol total meningkat (69,79%). Faktor risiko tertinggi pada stroke ischemic adalah gula darah meningkat (47,89%) dan pada stroke hemorrhagic adalah hipertensi (100,00%). Faktor risiko tertinggi pada seluruh pasien adalah hipertensi (82,30%). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa stroke tipe ischemic lebih banyak dari tipe hemorrhagic dengan faktor risiko utama hipertensi, sedangkan stroke ischemic terutama dipengaruhi oleh peningkatan gula darah.Kata kunci: stroke ischemic, stroke hemorrhagic, faktor risiko strokeAbstractStroke is a disease caused by disorder of brain blood circulation with many risk factors that contribute in this disease, consist of non modifiable risk factor including age and sex and modifiable risk factors example hypertension, high glucose level, dyslipidemia, and jobs. This study aimed to determine the distribution of the type of stroke and the risk factors that affect to stroke patients who were treat in South Solok hospital.Methods: This research is descriptive research using secondary data, including the patient’s medical record. The data including age, gender, blood pressure, glucose level, lipid profile when the first patient in the hospital, and jobs. The samples were all stroke patients who had been treat in the Department of Internal Medicine of South Solok hospital in the period from January 1st 2010 until June 31th 2012 that meet the inclusion criteria.The results: The results showed the highest proportion of strokes were ischemic stroke (61.46%), women (54.17%) aged> 50 years (81.25%) who work as housewives (43.75%). The highest of modifiable risk factors are hypertension (82.30%) followed by increases in total cholesterol (69.79%). The highest risk factors for ischemic stroke is high glucose level (47.89%) and for hemorrhagic stroke is hypertension (100.00%). The highest risk in both ischemic stroke and hemorrhagic is hypertension (82.30%).Conclusion: Based on the end result, we can concluded that the insidence of ischemic stroke disease is greater than hemorrhagic stroke, and as the main risk factor is hypertension, mean while ischemic stroke is most affected by high glucose level.Keywords: stroke ischemic, stroke hemorrhagic, faktor risiko stroke
Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan Non-Rebreathing Mask Terhadap Tekanan Parsial CO2 Darah pada Pasien Cedera Kepala Sedang Hendrizal Hendrizal; Syaiful Saanin; Hafni Bachtiar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i1.23

Abstract

AbstrakTekanan parsial CO2sangat berpengaruh terhadap aliran darah otak (ADO) dan tekanan intra kanial. Latarbelakang penelitian ini adalah bahwa dalam teori tekanan gas campuran John Dalton dinyatakan bahwa jika salah satu tekanan gas dalam campuran gas bertambah maka tekanan parsial gas lain akan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peningkatan konsentrasi oksigen dalam Non-Rebreathing Mask (NRM) akan menurunkan tekanan parsial CO2, sehingga dapat digunakan untuk menurunkan PaCO2 sambil memperthankan PaO2 yang tinggi untuk menurunkan TIK (Tekanan Intra Kranial) pada pasien cedera kepala. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Clinical Trial dengan rancangan penelitian one shoot pretest and postest pada pasien cedera kepala sedang dengan GCS 9-13 yang dilakukan terapi konservatif di RS Dr. M. Djamil Padang. Pada pasien dinilai tekanan parsial CO2 darah sebelum dan setelah 6 jam terapi oksigen menggunakan NRM. Jumlah sampel sebanyak 16 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan perbedaan bermakna tekanan parsial CO2 darah sebelum dan setelah terapi oksigen menggunakan NRM (p<0,05). Terjadi penurunan tekanan parsial CO2 darah setelah terapi oksigen mengunakan NRM dari39,00 ± 3,7 menjadi 432,06 ± 6,35. Pembahasan: Terapi oksigen menggunakan NRM dapat menurunkan tekanan parsial CO2 darah sehingga dapat digunakan untuk menurunkan tekanan intrakranial pada pasien cedera kepala sedang.Kata kunci: Terapi Oksigen, Non-Rebreathing Mask, Tekanan Parsial CO2 DarahAbstractThe partial pressure of CO2 is very influential on cerebral blood flow (CBF) and intra kanial pressure. The background of this research is that the pressure of the gas mixture in the theory of John Dalton stated that if one of the gas pressure in the gas mixture increases, the partial pressure of other gases will decline. This study aimed to determine whether the increase in oxygen concentration in the non-rebreathing mask (NRM) will decrease the partial pressure of CO2, so that it can be used to decrease PaCO2 while PaO2 still higher to protect brain from higher of ICT (intra-cranial pressure) state in patients with head injuries. Method: This research is a Clinical Trial with one shoot pretest and posttest design in patients with moderate head injury with GCS 9-13 conducted conservative treatment at the hospital Dr. M. Djamil Padang. In patients assessed blood CO2 partial pressure before and after 6 hours of oxygen therapy using the NRM. Total sample of 16 patients who met the incluton criteria. Result: The result showed significant differences in blood CO2 partial pressure before and after oxygen therapy using the NRM (P <0.05). There was a decrease of bloodCO2partial pressureafter oxygen therapy using NRM from 32.06 ± 6.35 to 39.00 ± 3.74. Discussion: Oxygen therapy using NRM can decrease blood CO2 partial pressure that can be used to reduce the intra-cranial pressure in patients with moderate head injury.Keywords: Oxygen Therapy, Non-Rebreathing Mask, Blood CO2 Partial Pressure
Gambaran Kejadian Hemoptisis pada Pasien di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2011 – Desember 2012 Intan Irfa; Irvan Medison; Detty Iryani
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.151

Abstract

AbstrakHemoptisis adalah ekspektorasi darah yang berasal dari saluran pernafasan bagian bawah dengan jumlah minimal hingga masif yang dapat membahayakan jiwa. Etiologi hemoptisis seperti infeksi, neoplasma dan kelainan kardiovaskular berbeda kekerapannya di berbagai negara. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, tuberkulosis paru merupakan penyebab utama hemoptisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian hemoptisis pada pasien di bangsal paru RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2011 – Desember 2012. Metode yang digunakan adalah deskriptif secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien rawat inap dengan hemoptisis di bangsal paru RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2011 – Desember 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak Januari 2011 – Desember 2012 terdapat 103 kejadian hemoptisis dan prevalensi kejadiannya sebesar 3,6%. Sebagian besar pasien dengan hemoptisis adalah laki-laki (65%) dengan kelompok usia terbanyak yaitu 31 – 40 tahun. Sementara distribusi frekuensi pasien dengan hemoptisis berdasarkan riwayat pendidikan terbanyak yaitu tamat SLTA (32%), berdasarkan pekerjaan adalah ibu rumah tangga (29,1%) dan sebagian besar berdomisili di Kota Padang. Klasifikasi hemoptisis terbanyak adalah hemoptisis sedang (34%) dengan etiologi utama tuberkulosis paru (47,6%). Pada penelitian ini didapat angka kematian pasien sebesar 6,8% dari total kejadian hemoptisis.Kata kunci: hemoptisis, prevalensi, tuberkulosis AbstractHemoptysis is expectoration of blood from the lower respiratory tract that varies in amount of blood from small amount to the massive amount and can become threaten of life. The etiology of hemoptysis such as infection, neoplasm and cardiovascular disorder are vary over the world. In Indonesia and other developed countries, pulmonary tuberculosis is a main etiology of hemoptysis. The purpose of this study is to determine the profile of hemoptysis among patients admitted in Pulmonary Department of Dr. M. Djamil Hospital Padang period January 2011 – December 2012. This research was a descriptive survey based on retrospective study design that reviewed the medical record of hospitalized patients with hemoptysis in Pulmonary Department of Dr. M. Djamil Hospital period January 2011 – December 2012. The result has shown that since January 2011 – December 2012 there were 103 patients with hemoptysis, and the prevalence of hemoptysis is 3.6%. Most of patients with hemoptysis are male (65%) with highest frequency distribution based on age group of patients is 31 – 40 years old. While the highest frequency distribution based on patients’ history of education is high school diploma (32%), based on patients’ profession is housewife (29.1%) and most of patients live in Padang. Moderate hemoptysis (34%) were the highest frequency distribution based on classification of hemoptysis, with pulmonary tuberculosis as the main etiology (47.6%). Mortality rate of patients with hemoptysis in this study was 6,8% of all hemoptysis cases.Keywords: hemoptysis, prevalence, tuberculosis
Distribusi Frekuensi Soil Transmitted Helminth pada Sayuran Selada (Lactuca sativa) yang Dijual di Pasar Tradisional dan Pasar Modern di Kota Padang Verdira Asihka; Nurhayati Nurhayati; Gayatri Gayatri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.183

Abstract

AbstrakPenyakit kecacingan sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di daerah tropis, termasuk Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian penyakit ini, salah satunya yaitu memakan sayuran mentah yang tidak dicuci bersih seperti selada atau kol yang sering dijadikan lalapan. Daun selada berposisi duduk sehingga dapat kontak langsung dengan tanah. Keadaan ini memungkinkan STH (Soil Transmitted Helminth) yang berada ditanah akan mudah menempel pada daun selada. Tujuan peneliti melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya STH pada selada yang dijual di pasar tradisional dan modern di Kota Padang. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sejak Bulan September-Desember 2013. Penelitian ini berjenis deskriptif menggunakan metode sedimentasi. Hasil yang peneliti dapatkan dari penelitian ini adalah ditemukan STH positif pada 32 dari 44 sayuran selada dari pasar tradisional di Kota Padang dengan persentase 73%. Tiga dari 5 sayuran selada dari pasar modern di Kota Padang dinyatakan positif dengan persentase 40%. Jenis STH terbanyak yang peneliti temukan pada penelitian ini adalah telur Ascaris sp (79%), larva Trichostrongylus orientalis (16%) dan telur cacing tambang (5%). Jadi, Terdapat kontaminasi STH pada selada yang dijual di pasar tradisional maupun pasar modern di Kota Padang.Kata kunci: Soil Transmitted Helminth, sayuran selada, pasar tradisional, pasar modernAbstractWorm disease is still a health problem in the tropics, including Indonesia. Many factors contribute to the high incidence of this disease, one of which is eating unwashed raw vegetables such as lettuce or cabbage cleaner is often used as vegetables. Lettuce sitting position so that it can direct contact with the ground. This situation allows STH ( Soil Transmitted Helminths ) that are ground will easily stick to the leaves selada. Purposes of researchers conducted this study was to determine the presence or absence of STH on lettuce sold in traditional markets and modern in the city of Padang. This research was conducted in the Laboratory of Parasitology, Faculty of Medicine, University of Andalas since Month from September to December 2013. This study was descriptive using sedimentation method. Researchers get results of this study were found positive on STH 32 of 44 lettuce from traditional markets in the city of Padang with a percentage of 73%. Three of 5 lettuce of the modern market in Padang tested positive with a percentage of 40%. Most types of STH that researchers have found in this study are the eggs of Ascaris sp (79%), Trichostrongylus orientalis larvae (16%) and hookworm eggs (5%). So, There STH contamination on lettuce sold in traditional markets and modern markets in Padang.Keywords: Soil Transmitted helminths, lettuce, traditional markets, modern market
Pengaruh Cairan Cultur Filtrate Fibroblast (CFF) Terhadap Penyembuhan Luka; Penelitian eksperimental pada Rattus Norvegicus Galur Wistar Oky Masir; Menkher Manjas; Andani Eka Putra; Salmiah Agus
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i3.78

Abstract

AbstrakLatar belakang:Metode penyembuhan luka telah mengalami perkembangan, baik berupa suatu produk atau stimulan terhadap proses biologis tubuh dalam menkompensasi luka. Fibroblas merupakan salah satu komponen penyembuhan yang berperan penting dalam proses fibroplasia. Culture Filtrate Fibroblast (CFF) merupakan hasil kultur fibroblas yang akan dibuktikan efeknya terhadap proses percepatan penyembuhan luka pada penelitian ini. Metode. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental dengan metode post test only control group design dan rancangan acak kelompok (RAK) dengan menggunakan tikus putih wistar. Hewan coba dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu 2 kelompok perlakuan yang diberikan CFF ke area eksisi luka dan kelompok kontrol yang diberikan larutan NaCl 0,9% ke area eksisi luka. Data diolah dengan SPSS 16.0. Data Kategori dianalisa dengan Chi-squared dan data numerik dengan Independent T-test. Hasil. Dari tingkat penyembuhan tidak ditemukan perbedaan pada kedua kelompok, namun perubahan restriksi jaringan lebih besar pada kelompok perlakuan. Pada skor pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru pada hari ke-3 tidak ditemukan perbedaan antara kedua kelompok. Namun pada pengamatan hari ke-7 memperlihatkan pembentukan kolagen, derajat epitelisasi serta jumlah pembentukan pembuluh darah baru lebih banyak pada kelompok perlakuan. Pada fibrosis hari ke-3 dan hari ke-7 memperlihatkan terjadinya fibrosis lebih banyak pada kelompok perlakuan dibanding kontrol. Pada pengamatan terjadinya infeksi hari ke-3 memperlihatkan infeksi lebih sedikit pada kelompok perlakuan dan terjadinya infeksi sama pada hari ke-7. Kesimpulan. CFF memberikan tingkat penyembuhan luka yang lebih baik dibanding NaCl.Kata kunci: CFF, NaCl 0,9 %, tingkat penyembuhan luka.Abstract Background: Wound healing methods have been developed, either a product or a stimulant to the body's biological processes in wound compensation. Fibroblasts is one component that plays an important role in the healing process of fibroplasia. Culture filtrat Fibroblast (CFF) is a result of fibroblast culture to be proven effect on the acceleration of wound healing in this study.Methods. This study used an experimental design method post test only control group design and randomized block design (RBD) by using wistar mice. Experimental animals were divided into 4 groups, the two groups of treatment given to the area of excision wound CFF and the control group were given 0.9% NaCl solution to the excision wound area. Data processed with SPSS 16.0. Data were analyzed with categories Chi squared and numerical data by the Independent T-test.Result. From degree of wound healing is not found differences in both groups, but the changes in the network restriction greater in the treatment group. The score formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation at 3rd day there was no difference between the two groups. However, the observation of 7th day shows the formation of collagen, the degree of epithelialization and the amount of neovascularisation formation more in the treatment group. On the 3rd day fibrosis and 7th day showed more fibrosis in the treatment group compared to controls. In observation of the 3rd day infection showed fewer infections in the treatment group and the same infection between the two group at 7th day.Conclusion. CFF give wound healing better than NaCl.Keywords:CFF, NaCl 0,9 %, degree of wound healing.
Hubungan Lingkungan Fisik dan Tindakan Penduduk dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Irma Suryani; Edison Edison; Julizar Nazar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.215

Abstract

AbstrakAngka kematian akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di negara berkembang sebanyak 20% dimana 1/3 - 1/2 merupakan kematian pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik berupa ventilasi, pencahayaan alami, kelembaban rumah, kepadatan hunian rumah dan tindakan penduduk yang meliputi kebiasaan merokok dalam rumah, kebiasaan buka jendela dan penggunaan bahan bakar rumah tangga dengan kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional, yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang pada bulan Desember 2013 dengan jumlah sampel 106 ibu yang mempunyai balita. Sampel diambil secara simple random sampling. Pengumpulan data dari responden dilakukan menggunakan kuesioner dan lembaran observasi. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p<0.05 dan 0.0<Cc<1.00. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang lemah antara ventilasi (p=0.000, Cc=0.359), pencahayaan alami (p=0.001, Cc=0.311), kepadatan hunian (p=0.000, Cc=0.381), kebiasaan merokok di dalam rumah (p=0.002, Cc=0.302), kebiasaan buka jendela (p=0.001, Cc=0.333) dan penggunaan bahan bakar rumah tangga (p=0.027, Cc=0.210) dengan kejadian ISPA pada balita, sedangkan kelembaban rumah tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA pada balita.Kata kunci: ISPA balita, lingkungan fisik, tindakan pendudukAbstractThe mortality rate due to Acute Respiratory Infections (ARI) in developing countries is about 20% which is 1/3-1/2 is the death of the children under five years old. The objective of this research was to determined the correlation between the physical environment which include the ventilation, the natural lighting, the house humidity, the density of residential house, and community behavior which include the habitual of smoking at house, the habitual of window open and household fuel use with the incidence of ARI on children under five years old. This research is an analytical study with cross sectional design, which done in work area of Lubuk Buaya community health centers Padang on December 2013 with 106 mothers with children under five years as the sample. Samples are taken by simple random sampling. The collection of data from respondents was conducted using questionnaires and observation sheets. Data analysis using chi square test with p<0.05 and 0.0<Cc<1.00The result showed that there was a weak correlation between ventilation (p=0.000, Cc=0.359), natural lighting (p=0.00 , Cc=0.311), the density of residential house (p=0.000, Cc=0.381), the habitual of smoking at house (p=0.002, Cc=0.302), the habitual of window open (p=0.001, Cc=0.333) and household fuels use (p=0.027, Cc=0.210) with the incidence of ARI in children under five yers old and no correlation between the house humidity with ARI in children under five years old.Keywords: ARI in children under five years old, physical environment, community behavior
Gambaran Karakteristik Ibu Hamil pada Persalinan Preterm di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2012 Verdani Leoni Edrin; Ariadi Ariadi; Lili Irawati
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.110

Abstract

AbstrakAngka kematian bayi di Indonesia menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 sebanyak 57% terjadi pada umur dibawah 1 bulan. Persalinan preterm merupakan salah satu penyebab kematian bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu hamil pada persalinan preterm di RS. Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2012. Ini merupakan penelitian deskriptif dengan mengambil data bulan Januari - Desember 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan preterm sebanyak 72 orang. Sampel yang digunakan adalah total populasi. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder. Alat ukur dalam penelitian ini adalah checklist dengan melihat catatan rekam medik pasien, analisis yang di gunakan adalah univariat. Hasil penelitian didapatkan persalinan preterm yang terbanyak adalah ibu hamil berusia 20-35 tahun (65,28%), paritas risiko tinggi (55,56%), jarak persalinan <2 tahun (61,11%), memiliki pendidikan tinggi (80,56%), mengalami anemia (76,39%), dan tidak melakukan kunjungan antenatal dengan lengkap (72,22%). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa persalinan preterm dapat dipengaruhi oleh faktor usia, paritas, jarak persalinan, pendidikan, anemia dan tingkat kunjungan antenatal.Kata kunci: persalinan preterm, karakteristik ibu hamil, faktor risiko persalinan pretermAbstractIndonesia infant mortality rate in Indonesia Demographic and Health Survey 2002 – 2003 occurs in as many as 57% under the age of 1 month. Preterm labor is one of the causes of infant mortality. The purpose of this study was to know the characteristic of pregnant women in preterm labor at Dr. M. Djamil Padang Hospital in 2012. This research used a descriptive method based on the data from January to December 2012. The population in this study were all of mother who delivered preterm were 72 people. The sample that had been used was the total value of population. The data that had been gathered was a secondary data. Checklist was used as a measuring intrument based on the medical record of the patient. Univariate was used as an analytical approach. The result shows that most preterm delivery are pregnant women aged 20 – 35 years (65,28%), high risk parity (55,56%), birth spacing <2 years (61,11%), have a high education (80,56%), some of them are anemic (76,39%), and no complete antenatal visits (72,22%). Conclusion from this study is that preterm labor may be influenced by factors of age, parity, birth spacing, education, anemia, and levels of antenatal visits. Keywords : preterm labor, characteristics of pregnant women, preterm labor risk factor
Maksilektomi Total Dengan Eksenterasi Orbita Pada Karsinoma Mukoepidermoid Sinonasal Bestari J. Budiman; Yurni Yurni
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i1.9

Abstract

Abstrak Karsinoma mukoepidermoid sinonasal merupakan salah satu tumor ganas pada saluran nafas atas. Gejalanya pada stadium dini tidak khas, sehingga jarang terdiagnosis. Histopatologi merupakan diagnosis pasti dan salah satu faktor yang menentukan pilihan terapi dan prognosis. Prinsip penatalaksanaan karsinoma sinonasal adalah multimodalitas dengan pembedahan sebagai pilihan utama. Maksilektomi merupakan suatu tindakan bedah pada tumor sinonasal. Terdapat beberapa jenis maksilektomi berdasarkan lokasi dan perluasan tumor. Dilaporkan sebuah kasus pasien laki-laki usia 33 th yang telah dilakukan maksilektomi total dengan eksenterasi orbita atas indikasi karsinoma mukoepidermoid sinonasal dengan infiltrasi ke orbita. Kata kunci: karsinoma sinonasal, maksilektomi, eksenterasi orbita, mukoepidermoid. Abstract Sinonasal carcinoma is one of malignant upper aerodigestive tract tumor. Low grade of sinonasal tumor is not specific, so is it rare to be early diagnosis. Histopathology is true diagnoses and one of factors to determine the choice of therapy and prognosis. The principal management of sinonasal carcinoma is multimodality which surgery as main choice. Maxillectomy is surgical approach of malignant sinonasal tumor. There are many kinds of maxillectomy based on location and tumor invasion. Has been reported one of patient, male 33 years old which had performed total maxillectomy with orbital exenteration by indicated sinonasal mucoepidermoid carcinoma with orbital infiltration. Keywords: sinonasal carcinoma, maxillectomy, orbital exenteration, mucoepidermoid.
Hubungan Lama Aktivitas Membaca dengan Derajat Miopia pada Mahasiswa Pendidikan Dokter FK Unand Angkatan 2010 Mutia Maulud Fauziah; M. Hidayat; Julizar Julizar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i3.164

Abstract

AbstrakMiopia adalah salah satu kelainan refraksi pada mata dengan prevalensi yang tinggi di dunia. Berbagai faktor yang berhubungan dengan miopia seperti faktor keturunan dan lingkungan. Faktor lingkungan yang berperan kuat adalah kerja dekat seperti membaca. Lama membaca dapat meningkatkan risiko dan progresivitas miopia. Mahasiswa kedokteran berisiko mengalami miopia karena banyak melakukan aktivitas membaca yang lama dan intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama aktivitas membaca dengan derajat miopia. Metode studi menggunakan desain cross sectional analitik dengan 121 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner tentang riwayat miopia dan lama membaca. Data dianalisis dengan uji chi-square (x²) dengan kemaknaan (p<0,05). Hasil penelitian didapatkan bahwa kejadian miopia lebih banyak terjadi pada mahasiswa perempuan (78.5%). Miopia pertama kali paling banyak terjadi pada usia 13 tahun (19%). Pertambahan ukuran refraksi per tahun pada mahasiswa miopia rata-rata adalah 0.30 D. Sebagian mahasiswa miopia menghabiskan waktu untuk membaca lebih dari 10.7 jam/hari (52.9%), sebagian lagi kurang dari 10.7 jam/hari (47.1%). Mahasiswa miopia sebagian besar menderita miopia ringan. Analisis statistik hubungan lama aktivitas membaca dengan derajat miopia didapatkan nilai p=0,15. Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama aktivitas membaca dengan derajat myopia.Kata kunci: lama membaca, derajat miopiaAbstractMyopia is a refractive error of the eye with a high prevalence in the world. Various factors association with myopia such as heredity and environmental factor. The strongest role an environmental is near work such as reading. Reading time can increase risk and progression of myopia. Medical students have the risk of myopia because of long and intensive reading. This study aimed to determine relationship the duration of reading activities with the degree of myopia. This study used a cross sectional analytic design with 121 sample. Data were collected by questionnaires about history of myopia and long reading. The data were analyzed by chi-square test (x²) with significance (p<0.05). The results showed incidence of myopia is more in female students (78.5%). Most of myopia occurs first time at the age 13 years (19%). Average refractive power of myopia students increased 0.30 D annual. Some myopia students spending time to read are more than 10.7 hours/day (52.9%), some are less than 10.7 hours/day (47.1%). The most of myopia students suffered mild myopia. Statistical analysis the relationship duration of reading with degree of myopia p value= 0.15.This study showed no significant relationship between duration of reading activities with the degree of myopia.Keywords: duration of reading, degree of myopia

Page 22 of 130 | Total Record : 1294


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue