cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Jurnal Kesehatan Andalas
Published by Universitas Andalas
ISSN : 23017406     EISSN : 26151138     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Kesehatan Andalas merupakan Jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.
Arjuna Subject : -
Articles 1,294 Documents
Infeksi Cacing dan Alergi Selfi Renita Rusdji
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.241

Abstract

AbstrakInfeksi cacing masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Penyakit ini sering terjadi di daerah dengan higienisitas dan sanitasi yang masih kurang. Respon imun tubuh host terhadap cacing ini mirip dengan respon tubuh terhadap penyakit alergi. Respon pada penyakit kecacingan dan alergi ini merupakan respon Thelper2 yaitu diferensiasi dan polariasasi sel limfosit T lebih dominan pada Th2. Pada kenyataannya, ditinjau dari segi epidemiologi, penyakit kecacingan dan penyakit alergi terdapat pada daerah yang sangat berbeda. Prevalensi penyakit alergi cenderung lebih banyak terjadi di daerah maju dengan higiene dan sanitasi yang baik. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan apakah kecacingan mempunyai efek proteksi terhadap manifestasi klinis berbagai macam penyakit alergi. Hygiene hypothesis merupakan teori yang relevan dalam menjawab pertanyaan ini. Mekanisme yang dapat menerangkan fenomena ada adalah saturasi sel mast, penghambatan oleh IgG4 dan modified Th2 response.Kata kunci: infeksi cacing, alergi, respon Th2AbstractHelminthiasis is still unsolved problem in Indonesia and other developing countries. This disease is frequently occurred in poor personal hygiene and environmental sanitation. The human immune response to helminth infections is similar with response to allergic disease. These disease present T helper2 (Th2) response which characterized dominant differentiation and proliferation of Th2. In fact, epidemiology study shows that they are occurred in different type of region. High prevalence of allergic disease is found in modern country which is well established sanitation and good personal hygiene. This condition raises fundamental question whether helminthiasis is associated with protection against allergic disease. Hygiene hypothesis is a theory that can explain this phenomen. The mechanisms are mast cell saturation, IgG4 blocking and modified Th2.Keywords: helminthiasis, allergy, Th2 response
Hubungan Kadar Laktat Dehidrogenase dengan Stadium Limfoma Maligna Non Hodgkin di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang periode Desember 2009 sampai Maret 2013 Dian Rahma Kasir; Irza Wahid; Hafni Bachtiar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.46

Abstract

AbstrakAwal abad ke-2l masyarakat Indonesia mengalami transisi epidemiologi penyakit. Perubahan pola penyakit ini dapat dilihat dari peningkatan insiden penyakit kanker sebagai penyebab kematian di Indonesia dalam 10 tahun terakhir, yaitu dari urutan ke-12 menjadi urutan ke-6. Di Indonesia, limfoma non Hodgkin (LNH) menduduki urutan keenam keganansan yang sering terjadi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Olivia Putri Perdana di bagian patologi anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas didapatkan data bahwa pada januari 1997-desember 2001 terdapat 70 (81,39%) penderita limfoma maligna non Hodgkin dari keseluruhan penderita limfoma maligna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar laktat dehidrogenase (LDH) dengan stadium pada penderita limfoma maligna non Hodgkin. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional dengan menggunakan data yang bersumber dari rekam medik pasien. Populasi dari penelitian ini adalah data rekam medik seluruh penderita limfoma maligna non hodgkin yang berobat ke RSUP Dr. M. Djamil Padang yaitu 317 data rekam medik, tetapi yang memenuhi syarat untuk menjadi sampel hanya 40 data. Analisis statistik yang digunakan adalah uji T. Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan kadar laktat dehidrogenase dengan stadium pada penderita limfoma non Hodgkin (P = 0,001). Diketahui nilai laktat dehidrogenase pada stadium III-IV lebih tinggi daripada nilai laktat dehidrogenase pada stadium I-II.Kata kunci: Laktat dehidrogenase, Limfoma maligna non Hodgkin, Stadium AbstractEarly 21th century, Indonesian society in transition epidemiology of the disease. Changing patterns of disease can be seen from the increased incidence of cancer as a cause of death in Indonesia in the last 10 years, ie from 12th to 6th order. In Indonesia, non-Hodgkin's lymphoma (NHL) ranks sixt frequent in all of cancer. Based on research conducted by Olivia Putri Perdana in anatomic pathology at the Faculty of Medicine, University of Andalas that the data obtained during the January 1997 - December 2001 there were 70 (81.39%) patients with non -Hodgkin's malignant lymphoma of the overall malignant lymphoma patients.This study aims to determine the relationship of levels of lactate dehydrogenase (LDH) with stage of non -Hodgkin's malignant lymphoma patients.This research is a cross sectional analytic approach using data derived from patient medical records. The population is the entire medical record malignant non Hodgkin lymphoma patients who went to DR. M. Djamil Padang hospital, they are 317 medical records, but are eligible to be sampled only 40 data. Statistical analysis used is the T test.Statistical test results show that there is relationship between lactate dehydrogenase levels with stage in non -Hodgkin's lymphoma patients (P = 0.001). Known value of lactate dehydrogenase in stage III - IV is higher than the value of lactate dehidrodenase in stage I - II.Keywords: Lactate dehydrogenase, malignant non-Hodgkin's lymphoma, Stage
Pola Infeksi Oportunistik yang Menyebabkan Kematian pada Penyandang AIDS di RS Dr. M. Djamil Padang Tahun 2010-2012 Aghnia Jolanda Putri; Eryati Darwin; Efrida Efrida
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.174

Abstract

AbstrakInfeksi oportunistik merupakan penyebab kematian utama pada 90% penyandang AIDS (Acquired Immuno-deficiency Syndrome). Peningkatan masif kematian akibat infeksi oportunistik meningkatkan angka mortalitas penyan-dang AIDS. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola infeksi oportunistik yang menyebabkan kematian pada penyandang AIDS di RS Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2010-2012. Penelitian retrospektif dilakukan di RS Dr. M. Djamil Padang terhadap rekam medik penyandang AIDS dengan penyebab kematian infeksi oportunistik pada tahun 2010-2012. Hasil penelitian disajikan menggunakan tabel. Sebanyak 31 subyek penelitian diteliti dari jumlah total 132 penyandang AIDS rawat inap. Kelompok umur tertinggi pada subyek penelitian adalah 25-34 tahun dengan lama rawat 1-36 hari. Subyek penelitian didominasi oleh laki-laki dengan perbandingan 3:1 terhadap perempuan. Infeksi oportunistik penyerta terbanyak adalah kandidiasis oral dan tuberkulosis. Pada hasil penelitian, didapatkan infeksi oportunistik penyebab kematian pada penyandang AIDS terbanyak adalah bronkopneumonia (9 orang) dan yang paling sedikit adalah meningitis dan bronkitis kronis (1 orang). Mekanisme sebab kematian terbanyak adalah syok sepsis dan yang paling sedikit adalah herniasi serebri. Kesimpulan hasil studi ini menunjukkan infeksi oportunistik utama yang menyebabkan kematian pada penyandang AIDS di RS Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2010-2012 adalah gangguan sistem respirasi seperti bronkopneumonia dan tuberkulosis. Syok sepsis merupakan mekanisme sebab kematian terbanyak.Kata kunci: infeksi oportunistik, AIDS, kematianAbstractOpportunistic infections (OI) are the leading cause of death in 90% of people living with AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). The massive increasing number of death from opportunistic infections contributes to AIDS. The study was conducted to determine distribution of opportunistic infections as cause of death to people living with AIDS in Dr. M. Djamil Padang hospital within 2010-2012. A retrospective study was conducted at Dr. M. Djamil Padang hospital towards people with AIDS whom died by opportunistic infections within 2010-2012. The results of study are presented using tables. A total of 31 subjects were selected from 132 hospitalized people with AIDS. The group age of subjects was 25-34 years old with range of length of stay 1-36 days. Subjects are dominated by men against women with 3:1 ratio. Oral candidiasis and tuberculosis is the main secondary opportunistic infections in this study. This study observed that the major opportunistic infection in people with AIDS as leading cause of death is bron-chopneumonia (9 patients) and the least are meningitis (1 patient) and chronic bronchitis (1 patient). Most of death me-chanisms are due to septic shock and less likely due to cerebral herniation. It can be concluded that the main oppor-tunistic infection that causes death in people with AIDS is caused by respiratory disease such as broncopneumonia and tuberculosis. Septic shock is the leading mechanism of cause of death among all.Keywords: opportunistic infections, AIDS, death
Profil Penderita Penyakit Tuberkulosis Paru BTA Positif yang Ditemukan di BP4 Lubuk Alung periode Januari 2012 – Desember 2012 Eni Yulvia Susilayanti; Irvan Medison; Erkadius Erkadius
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.69

Abstract

AbstrakTuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensi yang masih tinggi,i terutama di negara berkembang. Karena penyebarannya yang tinggi, maka perlu diketahui bagaimana profil penderita penyakit ini agar penularannya bisa diminimalkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penderita tuberculosis paru BTA positif yang berobat di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Lubuk Alung periode 1 Januari 2012 – 31 Desember 2012. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Instrumen yang digunakan adalah data dari rekam medik di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Lubuk Alung sejak 1 Januari 2012 – 31 Desember 2012. Populasi yang ada seluruhnya dijadikan subjek penelitian. Kemudian dilakukan pencatatan dari beberapa variabel yang diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam periode tersebut jumlah penderita yang berobat ke BP4 Lubuk Alung adalah 19.440 orang, sebanyak 3.224 orang diantaranya suspek. Penderita BTA (+) 1.109 orang. Jenis kelamin laki-laki (70,8%) lebih banyak dari perempuan. Usia terbanyak adalah 21-30 tahun (23,2%). Daerah asal terbanyak adalah Kab. Padang Pariaman (29,4%). Derajat kepositifan BTA sputum terbanyak berupa positif tiga (+3) adalah (44,2%). Tipe penderita terbanyak merupakan penderita kasus baru sebanyak (91,7%). Keluhan terbanyak yang dirasakan ketika berobat adalah batuk (99%). Sebanyak (13,4%) memiliki penyakit penyerta selain tuberkulosis. Riwayat penggunaan obat sebelumnya sebanyak (11,3%). Sebanyak (99%) dirujuk ke puskesmas dan unit pelayanan kesehatan terdekat. Berdasarkan pendataan profil penderita TB Paru BTA Positif bisa dilihat paling banyak adalah derajat (+3) dan dirujuk ke unit pelayanan terdekat.Kata kunci: profil, tuberkulosis paruAbstractTuberculosis is still a health problem in Indonesia because the prevalence is still high, especially in developing countries. Due to the speed of spread, it is necessary to know the profile of people who suffer from this disease, so the transmission can be minimized. The purpose of this study was to determine the profile of positive acid-fast-bacilli (BTA) in pulmonary tuberculosis patients who seek treatment at Medical Center for Pulmonary Diseases (BP4) Lubuk Alung during the period 1 January 2012-31 December 2012.This is a descriptive retrospective study by taking the data from medical records in BP4 Lubuk Alung. Using the enterety of the population. The results of this study indicate that in this period the number of people who went to BP4 Lubuk Alung were 19.440 people, 3.224 of them suspected tuberculosis. Patients with BTA (+) was 1.109 people. We found male 70.78%. Most are 21-30 years of age 23.2%. The area of origin mostly from Kab. Padang Pariaman 29.4%. The degree of sputum smear positivity mostly positive three (+3) was 44.2%. Type of most patients are people with new cases 91.7%. Most complaints was cough 99%. A total of 13.44% had concomitant diseases other than tuberculosis. History of previous anti tuberculosis drugs (OAT) we found in 11.3%. And 99% are referred to hospitals and health care units nearby. Based on the data collection, profile of positif pulmonary TB patients is (+3) and mostly referred to the nearest health center and service unit.Keywords:profile, pulmonary tuberculosis
Hubungan Konsumsi Antioksidan dari Makanan dengan Beta-Amyloid Plasma sebagai Penanda Gangguan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia Ratna D Siregar; Nur Indrawati Lipoeto; Yuliarni Syafrita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.206

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi vitamin A, vitamin C, vitamin E, zink dan selenium dari makanan dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Metoda penelitian adalah cross sectional study terhadap 145 lansia umur ≥ 60 tahun, pada dua kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatra Barat. Wawancara konsumsi antioksidan menggunakan Food Frequency Questionnaires (FFQ), fungsi kognitif diperiksa dengan Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina), Aβ40 dan Aβ42 plasma diperiksa dengan metode ELISA. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney dan Chi-square. Pada hasil penelitian ditemukan 83 orang (57,2%) lansia yang mengalami gangguan fungsi kognitif. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi vitamin C (p<0,049) dan vitamin E (p<0,037) tetapi tidak terdapat hubungan signifikan antara vitamin A, zink dan selenium dengan fungsi kognitif. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi antioksidan dengan tingkat Aβ40 dan Aβ42 serta antara tingkat Aβ40 dan Aβ42 dengan fungsi kognitif masing-masing (p<0,058 dan p<0,350). Kesimpulan hasil penelitian ini didapatkan hubungan antara konsumsi vitamin C dan vitamin E dari makanan dengan fungsi kognitif. Tetapi tidak terdapat hubungan antara konsumsi antioksidan dengan Aβ40 dan Aβ42 plasma dan Aβ40 dan Aβ42 dengan fungsi kognitif.Kata kunci: antioksidan, beta-amyloid, fungsi kognitif, lanjut usiaAbstractThe objective of this study was to determine the relationship between consumption of vitamin A, vitamin C, vitamin E, zinc and selenium from foods with cognitive function in elderly. This was a cross-sectional study that was conducted to 145 elderly with age ≥ 60 years, in two districts in West Sumatra, in Lima Puluh Kota city. Interview antioxidant intake using a Food Frequency Questionnaires (FFQ), cognitive function was checked by Montreal Cognitive Assessment Indonesian version (MoCA-Ina), plasma Aβ40 dan Aβ42 were examined by ELISA while the data were analyzed by using the Mann-Whitney and Chi-square test. Results : Eighty three elderly people (57.2%) were found with impaired cognitive function. There was a significant association between the consumption of vitamin C (p < 0.049) and vitamin E (p < 0.037) but there was no signifikan association between vitamin A, zinc and selenium with cognitive function. There was no significant association between consumption of the antioxidant and both plasma Aβ40 and Aβ42 levels. There was no significant between levels of Aβ40 and Aβ42 and cognitive function (p < 0.058 and p < 0.350, respectively).Conclusion : There is a association between the consumption of vitamin C and vitamin E from food and cognitive function, but there is no association between the consumption of the antioxidant and levels of plasma Aβ40 and Aβ42 and between levels of plasma Aβ40 and Aβ42 and cognitive function.Keywords: antioxidants, amyloid-beta, cognitive function, elderly
Peran Kemokin dalam Patogenesis Rinitis Alergi Effy Huriyati; Bestari J Budiman; Ricki Octiza
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.101

Abstract

AbstrakLatar belakang: Rinitis alergi merupakan penyakit dengan insiden yang cukup tinggi diseluruh dunia dengan prevalensi yang semakin meningkat setiap tahun. Patogenesis rinitis alergi melibatkan reaksi imun yang cukup komplek. Tujuan: Mengetahui peranan kemotaktik sitokin (Kemokin) dalam patogenesis rinitis alergi. Tinjauan pustaka: Kemokin sebagai kemotaktik sitokin berperan dalam semua tahap reaksi alergi. CC kemokin merupakan subfamili kemokin yang berperan dalam reaksi alergi. Kemokin bekerja pada permukaan sel-sel inflamasi berikatan dengan reseptor. CCR3 merupakan reseptor dengan kadar tertinggi yang ditemukan pada permukaan eosinofil dan eotaxin sebagai ligand yang spesifik bagi CCR3. Kesimpulan: Eotaxin dan reseptor CCR3 adalah faktor yang paling menonjol dalam patogenesis rinitis alergi yang melibatkan eosinophilKata kunci: Reaksi alergi, Th2, CC Kemokin, eosinofil, CCR3 AbstractBackground: Allergic rhinitis such a disease with high incidence among the world and its prevalence appears to be increasing every year. The pathogenesis of allergic rhinitis commit complex imunological reaction. Purpose: To know the role of chemotactic cytokine (chemokine) in pathogenesis of allergic rhinitis. Literature review: Chemokine as a chemotactics cytokine participate to all allergic reaction stage. CC chemokines were subfamilial chemokines which have role in allergic reaction. They working by binding with receptor on the surface of inflamatory cells. CCR3 is the receptor with the highes level could be found on eosinophil cell membran and eotaxin was the spesific ligand to itt. Conclusion: Eotaxin and CCR3 are the major factor in pathogenesis of allergic rhinitis which is involve eosinophil.Keywords: Allergic reaction, Th2, CC Chemokines, eosinophil, CCR3
Removal of Foreign Body (Glass of Mirror) in Esophagus with Direct Laryngoscope Fachzi Fitri; Deni Amri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.238

Abstract

AbstractLiterature contains fewer reports discussing the use of direct laryngoscope in esophageal foreign body extraction. Foreign bodies in esophagus was diagnosed based on anamnesis, physical examination, radiological finding. The choice of treatment influenced by many factors, such as the patient’s age and clinical condition, the size and shape of the ingested foreign body, the anatomic location and the skills of the physician. A case of impacted glass of mirror in esophagus and mental disorder in a 38 years old male was reported, which had been perfomed direct laryngoscope and an extraction with Magill forcep.Keywords: Foreign body, glass of mirror, direct laryngoscope, Magill forcepAbstrakSedikit sekali kepustakaan yang membahas mengenai penggunaan laringoskopi langsung pada pengangkatan benda asing esofagus. Benda asing esofagus didiagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, radiologi. Pilihan penatalaksanaan dipengaruhi oleh usia pasien dan kondisi klinis, ukuran dan bentuk benda asing, lokasi anatomi dan kemampuan dokter.Dilaporkan satu kasus kaca cermin di esofagus pada laki-laki usia 38 tahun dengan gangguan mental, yang telah dilakukan laringoskopi langsung dan ekstraksi dengan forsep Magill.Kata kunci: Benda asing, kaca cermin, laringoskopi langsung, Forsep Magill
Peran Dokter sebagai Saksi Ahli Di Persidangan Rika Susanti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i2.133

Abstract

AbstrakPemanfaatan ilmu kedokteran forensik dalam penegakan hukum serta keadilan membutuhkan dokter sebagai saksi ahli medis di persidangan. Saksi ahli pada dasarnya adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan keahlian khusus sebagai dasar dalam memberikan keterangan ahli suatu perkara pidana. Kewajiban dokter untuk membuat keterangan ahli diatur dalam Kitab Undang-undang Acara Pidana dan dalam etika kedokteran. Kehadiran dokter sebagai saksi ahli dapat diminta oleh jaksa penuntut ataupun penasehat hukum tersangka atas persetujuan hakim. Dokter dapat menjadi saksi fakta (dokter yang merawat) atau saksi pendapat (ahli independen) tergantung keterangan yang dibutuhkan pengadilan. Dalam memberikan keterangan ahli, dokter harus mengikuti ketentuan yang berlaku di persidangan Indonesia, sehingga penting bagi dokter untuk mengetahui tata cara dan sikap dokter sebagai saksi ahli dan mengikuti pedoman menjadi saksi ahli kedokteran.Kata kunci: Dokter sebagai aksi ahli, dasar hukum, persidangan, pedoman saksi ahliAbstractThe utilization of forensic medical science in law enforcement and justice requires a medical doctor as an expert medical witness in court. An expert witness is basically a person who has knowledge, experience and special skill as a basis in providing expertise which is caused a criminal. The obligation of the doctor to make expert explanation is arranged in the book of the law in the crime and in medical ethics.The presence of the doctor as an expert witness can be requested by the prosecutor or the lawyer of the suspect upon approval the judge. Doctors can be as a witness of fact (the treating doctor) or as a witness of opinion (the independent expert witness), depending on the information needed at the court. In providing expert information, the doctor should follow the applicable provisions in Council of Indonesia, so it is important for the doctor to know the ordinances and the attitude of doctors acting as medical witnesses.Keywords: Doctors as medical expert witnesses,legal basis, court, guidelines for expert witness.
Perbedaan Perlukaan Genitalia Perempuan Berdasarkan Posisi Persetubuhan Diluar Perkawinan di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2010-2012 Ami Tri Nursasmi; Rika Susanti; Hafni Bachtiar
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 3, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v3i2.37

Abstract

AbstrakPersetubuhan diluar perkawinan menjadi suatu masalah di pengadilan karena banyaknya perbedaan pendapat mengenai perlukaan selaput dara. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan perbedaan perlukaan selaput dara tersebut yang dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang, mencakup karakteristik korban, perlukaan selaput dara, perlukaan dibagian tubuh lain, dan hubungan perlukaan berdasarkan posisi persetubuhan. Penelitian ini bersifat analitik. Sampel sebanyak 81 responden yang telah mengalami persetubuhan diluar perkawinan. Data diambil dari Bagian Forensik RSUP Dr. M. Djamil Padang periode bulan Juli 2010 sampai dengan Juli 2012. Data diolah dengan menggunakan program komputer dan dianalisis melalui uji chi square. Dari 81 subjek penelitian ditemukan hasil tertinggi berupa usia korban adalah 12-18 tahun (62%), pekerjaan sebagai pelajar (56%), alamat berada di Kecamatan Koto Tangah (20%), hubungan korban dengan pelaku sebagai pacar (48%), perlukaan selaput dara pada arah jarum jam selain 5 dan 7 (47%), tidak tampaknya tanda-tanda kekerasan dibagian tubuh lain (81%). Dari uji chi square didapatkan nilai p = 0,585 dengan demikian Ha penelitian ditolak (p>0,05). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapatnya hubungan yang signifikan antara perlukaan selaput dara dengan posisi persetubuhan diluar perkawinan.Kata kunci: Persetubuhan, selaput dara, perlukaanAbstractNon marital sexual activity has been being a big issues on the court because there are contradictions argument about wounded hymen. This research is conducted to prove the difference of that wound occurs in public hospital of dr.M.Djamil Padang, including the victim’s character, hymen’s injury, another injury in other parts body, and the connection of each injuries based on intercourse position. This research having an analitical nature. 81 respondents of sample who done non marital sexual activity. The data taken from Forensics division of RSUP dr.M.Djamil Padang for period of July 2010 to July 2012. The data be treated with computer program and analyzed by chi square test. From 81 subjects of research found the highest result are the age of victim in range 12-18 years old (62%), the occupation as a student (56%), the address in Koto Tangah sub district (20%), the relation of victim and executants as a boyfriend (48%), wounded hymen injured in except area 5 and 7 (47%), no other visible injuries due to violation in other parts of the victim’s bodies (81%). From chi square test, the vale of p=0,585 as the result and the conclusion this research of Ha rejected (p>0,05)]. The conclusion of this research, there is no significant relationship between wounded hymen injured with non marital sexual activity.Keywords:sexual intercourse, hymen, injury
Epistaksis dan Hipertensi : Adakah Hubungannya? Bestari J. Budiman; Al Hafiz
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v1i2.245

Abstract

Abstrak Latar Belakang: Epistaksis merupakan suatu kondisi klinis yang sering ditemui dan dapat terjadi pada semua umur dengan banyak variasi penyebabnya. Salah satu faktor risiko yang diduga ikut berperan dalam terjadinya epistaksis adalah hipertensi. Tujuan: Menjelaskan hubungan antara epistaksis dengan hipertensi. Tinjauan Pustaka: Hipertensi diduga tidak menyebabkan epistaksis secara langsung, tapi memperberat episode epistaksis. Mengendalikan tekanan darah sebagai salah satu faktor risiko, akan menurunkan insiden terjadinya epistaksis. Di ruang gawat darurat, pemberian obat anti hipertensi diberikan sebelum atau bersamaan dengan manajemen epistaksis itu sendiri. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara epistaksis dengan hipertensi yang berlangsung lama dan adanya hipertrofi ventrikel kiri. Kata kunci : Hipertensi, kegawatdaruratan, penatalaksanaan epistaksis. Abstract Background: Epistaxis is a common clinical problem in all age groups with varied etiological factors. Hypertension has been suggested as a risk factor in epistaxis case. Purpose: To explain relationship between epistaxis and hypertension. Review: It has been suggested that hypertension does not cause epistaxis directly, but hypertension prolongs the episode of epistaxis when it does occur. The controlling for blood pressure as a risk factor will be decreased the incidencies of epistaxis. In emergency rooms, high blood pressure is usually treated before or in parallel with the management of epistaxis. Conclusion: There was an association between epistaxis and long duration of hypertension in adult and left ventricle hypertrophy. Key words : Hypertension, emergency case, management of epistaxis.

Page 23 of 130 | Total Record : 1294


Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 1 (2026): March 2026 Vol. 14 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 14 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 13 No. 3 (2024): November 2024 Vol 13, No 2 (2024): July 2024 Vol. 13 No. 2 (2024): July 2024 Vol 13, No 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 12 No. 3 (2023): Online November 2023 Vol 12, No 2 (2023): Online July 2023 Vol. 12 No. 2 (2023): Online July 2023 Vol 12, No 1 (2023): Online March 2023 Vol. 12 No. 1 (2023): Online March 2023 Vol. 11 No. 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 3 (2022): Online November 2022 Vol 11, No 2 (2022): Online July 2022 Vol. 11 No. 2 (2022): Online July 2022 Vol 11, No 1 (2022): Online March 2022 Vol. 11 No. 1 (2022): Online March 2022 Vol. 10 No. 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 3 (2021): Online November 2021 Vol 10, No 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 2 (2021): Online July 2021 Vol. 10 No. 1 (2021): Online March 2021 Vol 10, No 1 (2021): Online March 2021 Vol. 9 No. 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 4 (2020): Online December 2020 Vol 9, No 3 (2020): Online September 2020 Vol. 9 No. 3 (2020): Online September 2020 Vol 9, No 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 2 (2020): Online June 2020 Vol. 9 No. 1S (2020): Online January 2020 Vol 9, No 1 (2020): Online March 2020 Vol. 9 No. 1 (2020): Online March 2020 Vol 9, No 1S (2020): Online January 2020 Vol 8, No 4 (2019): Online December 2019 Vol 8, No 3 (2019): Online September 2019 Vol 8, No 2 (2019): Online Juni 2019 Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019 Vol 8, No 2S (2019): Suplemen 2 Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1 Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7 (2018): Supplement 4 Vol 7 (2018): Supplement 3 Vol 7 (2018): Supplement 2 Vol 7 (2018): Supplement 1 Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2 (2013): Supplement Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue