cover
Contact Name
-
Contact Email
aljamiah@uin-suka.ac.id
Phone
+62274-558186
Journal Mail Official
aljamiah@uin-suka.ac.id
Editorial Address
Gedung Wahab Hasbullah UIN Sunan Kalijaga Jln. Marsda Adisucipto No 1
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : 0126012X     EISSN : 2338557X     DOI : 10.14421
Al-Jamiah invites scholars, researchers, and students to contribute the result of their studies and researches in the areas related to Islam, Muslim society, and other religions which covers textual and fieldwork investigation with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, sociology, anthropology, political science and others.
Articles 1,224 Documents
Agama dan Kebudayaan dalam Pembangunan Nasional: Persepektif Seorang Muslim M. Yusron Asrofie
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 52 (1993)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1993.052.127-132

Abstract

Agama dan kebudayaan merupakan dua substansi yang berlainan, tetapi dalam perwujudannya bisa saling bertaut, saling mempengaruhi, saling isi mengisi dan saling mewarnai perilaku seseorang. Agama merupakan suatu nilai normatif yang ideal, sedangkan kebudayaan merupakan suatu hasil budi daya manusia yang bisa bersumber atau berdasar dari agama atau dari akal pikirannya sendiri. Agama berbicara mengenai ajaran yang ideal, sedangkan kebudayaan merupakan realitas dari kehidupan manusia dan lingkungannya. Di dalam sejarah, agama selalu ditantang oleh kemajuan peradaban manusia: nilai dan cita ideal agama tidak selalu berjalan sejajar dengan nilai dan cita ideal serta realitas budaya yang ada. Agama (terutama dari sisi penghayatan pemeluknya) sering dikritik dan dituduh anti kemajuan karena menghalangi manusia dari dinamika dan merubah nasibnya menjadi lebih baik di dunia ini dengan mengajarkan pada manusia impian-impian khayal tentang dunia yang lain (akhirat). Agama menyandarkan diri pada ajaran-ajaran moral yang tidak praktis dan efektif. Sementara itu, kebudayaan modem membangun dunia berdasar motif­motif manusia yang nyata. Bagi kaum agama, pembangunan dan kemajuan dunia modern yang menekankan segi material hanya memperkuat motif-motif keserakahan, kecemburuan sosial, ingin menguasai sendiri, dan motif-motif yang sangat mendahulukan kepentingan pribadi (individualistik). Semua itu menghalangi kemungkinan pemenuhan kebutuhan rohani. Lebih-Iebih lagi, penekanan aspek hubungan manusia dengan alam dalam rangka kemajuan dan pembangunan cenderung untuk tidak memanusiakan manusia, artinya tidak manusiawi, karena manusia Iainnya dianggap sebagai fenomena sekunder. Akibatnya, kehidupan masyarakat tidak harmonis. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang berdasar aspirasi rohani bersama, saling mencintai dan sating mengasihi. Di sinilah agama berfungsi sebagai kritik sosial terhadap budaya sebagian manusia di dunia ini yang cenderung serakah, menumpuk harta dengan membiarkan orang lain kelaparan, mementingkan diri sendiri, mewah, boros dan ingin menguasai sendiri.
Teori-teori Tentang Jatuhnya Daulat Bani Umayyah dan Bangkitnya Daulat bani Abbasiah M Atho Mudzhar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 60 (1997)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1997.3560.15-49

Abstract

The fall of Bani Umayya taken over Bani Abbasiya has been seen as an important moment by historians. This is because as the change of the ruler is not seen as the change of dynasty an sich. It is also seen as the change of social structure and ideology which became the turn of a new era in Islamic history. This paper sees that Abbasid dynasty did not come to rise through a coup. The fall of the old regime was not caused by the strength of the new system under Abbasid family but rather by the weakness of the old regime itself as a result of government inefficiency and the wide spread of corruption. The condition become worse due to family intrigues, tribal and religious sentiment, and the loss of intellectuals' support. These conditions contributed significantly to the fall of the Umayyad dynasty. On one hand. the wide support given by different groups to Abbasid regime, ensured that the rise of Abbasiya was a real revolution in its real meaning. It is like revolutions occurred in many modern countries. On the other hand, this support blurred Abbasid identity, for each supporting group felt that the revolution was their own. In this blurred identity, however, a new power was built by utilizing as many groups as possible. This was only the first episode of revolution, because the new dynasty did political selection that ended in the rise of the real owner of Abbasid dynasty.
Konsepsi Etika Ghazali dan Immanuel Kant (Kajian Kritis Konsepsi Etika Mistik dan Rasional) M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 45 (1991)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1991.045.1-19

Abstract

Meskipun para filsuf Muslim aliran iluminis (isyraqy) sekarang ini mulai meragukan kebenaran tesa yang menyatakan bahwa perkembangan kajian filsafat dalam dunia Muslim telah mengalami kemandegan sejak meninggalnya Ibn Rusdh (l126-1198), Namun bagi kita di Indonesia dan dunia Muslim pada umumnya masih bertanya-tanya apa sebenarnya wujud perkembangan pemikiran konseptual-filosofis selain yang bercorak iluminis yang telah dikembangkan oleh filsuf Muslim dalam Bahasa Persia atau Urdu selama 7 abad sepeninggal Ibn Rusdh. Munculnya pertanyaan tersebut wajar-wajar saja, karena memang masih sedikit sekali informasi yang sampai ke tangan kita tentang wujud perkembangan dimaksud. Nama-nama filsuf-filsuf seperti Nasir al-Din Tusi (1201-1274), Jalal al-Din Dawwani (1427-1502), al-Suhrawardi (l153-119l), Mulla Sadra (1571-1640) nyaris belum terdengar buah karya dan pikirannya di kalangan kita. Bagi kita di dunia Timur, dan Indonesia khususnya, cuma pemikiran Ghazali lah yang sangat mewarnai 'cara pandang' kita. Ketidak jelasan wujud dan bentuk perkembangan kajian filsafat di dunia Muslim sepeninggal Ibn Rusdh, bukan saja karena faktor langkanya informasi kepustakaan yang sampai kepada kita, tapi besar kemungkinan karena memang pemikiran Asy'ari, yang dalam hal ini adalah cara berpikir ala Ghazali lah yang lebih dominan di dunia Muslim dari pada cara berpikir para filsuf Muslim yang lain yang manapun. Begitu dominannya cara berpikir model Ghazali, sehingga seluruh aliran teologi ortodok, baik yang konservatif maupun yang'modem' dirasakan atau tidak selalu berkiblat kepada Ghazali. Baik aliran-aliran pemikiran skriptualis/textualis, mistik, bahkan yang agak berbau rasional sekalipun cenderung memiliki wama cara berpikir yang tipikal Ghazali.
Fithrah Manusia dalam Persepektif Al-Qur’an Tasman Hamami
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 49 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.049.68-80

Abstract

Kalau kita selidiki brbagai kata yang digunakan dalam Al-Qur’an ternyata sangat bervariasi, baik jenis maupun bentuknya. Dalam Al-Qur’an sering ditampilkan suatu kata yang memiliki arti Bahasa sama dalam bentuk yang bermacam-macam. Demikian pula sering digunakan kata muradif diberbagai surat dan ayat tentang suatu hal yang secara lafdiyah dapat diartikan “sama”. Misalnya, kata yang menunjukkan penciptaan manusia dalam Al-Qur’an dapat dijumpai dalam berbagai jenis dan bentuk, yaitu; “khala”(Q.s 95:4, 76: 2, 64: 2, 21:37, dan lain-lainnya), “ja’ala” (Q.S 16: 78, 2: 30, 43: 28), “ansya’a”(Q.S 23: 14, 11:61,6:98,67:23),”shawwara” (Q.S 64:3, 40:64, 7: 20, 3: 6), dan “fathara” (Q.S 30:30,11:51,17:51,36:22, 20:72). Berbagai kata tentang penciptaan itu dalam Al-Qur’an diungkapakan dalam bermacam-macam bentuk. Dari segi bilangannya, adakalanya dalam bentuk mufrad dan kadang-kadang dalam bentuk jamak. Sedang dari segi shighatnya, kadang-kadang diungkapkan dengan fi’il, dan kadang-kadang dengan mashdar maupun isim fa’il.perbedan penggunaan kata dalam Al-Qur’an itu pasti mengandung makna tertentu yang berbeda-beda pula, sekalipun dalam arti secara Bahasa sama, sebagai sinonim (muradif). Diantara berbagai kata yang menunjukkan penciptaan manusia adalah “fathara” yang bentuk masdarnya adalah “fithrah”. Dalam Al-Qur’an terdapat 20 bentuk kata yang berakar dari “fathara” yang diungkapkan dalam berbagai bentuk. Sedang kata firthrah itu sendiri hanya diungkap sekali, yaitu surat al-Rum : 30. Istilah fithrah tersebut pasti mempunyai makna tertentu.
Dunia Islam dan Tata Dunia Baru (Suatu Analisis Kritis) Muhammad Azhar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 58 (1995)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1995.3358.1-47

Abstract

Dewasa ini banyak bermunculan isu-isu kontroversial diantaranya ialah:  New Age, Clash Civilization, Posmo (Postmodcmismc), post strukturalisme, neo-modemisme, dan Tata Dunia Baru (the New World Order). Secara umum, istilah atau isu di atas menyiratkan adanya upaya pembongkaran (deconstruction), rekonstruksi dan reaktualisasi dalam berbagai bidang kehidupan manusia, kini dan mendatang. Sesuai dengan tema sentral tulisan ini, maka isu Tata Dunia Baru (the New World Order) akan lebih banyak disimak dan dikaji, agar dapat ditangkap perspektif maupun prospeknya di masa depan. Sementara itu lainnya hanya sebagai pelengkap belaka. Isu Tata Dunia Baru ini mendadak menjadi populer setelah dilontarkan  oleh mantan presiden AS, George Bush, yang secara ideologis-politis, isu tersebut diangkat untuk 'kepentingan' AS sebagai satu-satunya superpower dan sekaligus bertindak sebagai 'polisi' dunia, lebih-lebih setelah runtulmya Uni Soviet sebagai rival berat AS selama ini.
Multicultural Education and Religious Tolerance: Elementary School Teachers’ Understanding of Multicultural Education in Yogyakarta Sugeng Bayu Wahyono; Asri Budiningsih; Suyantiningsih Suyantiningsih; Sisca Rahmadonna
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 60, No 2 (2022)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.602.467-508

Abstract

This study is about multicultural education and religious tolerance in the midst of increasing religious intolerance in the educational environment. This study  analyses elementary school teachers’ understanding of multicultural education and its implementation. The research method is a case study in the city of Yogyakarta, chosen because it is both know as a city of education and because this city has declared it a tolerant city. The results showed that the understanding of elementary school teachers’ multicultural education is generally essentialist, but some were constructivist or anti-essentialist.  The attitudes and actions of elementary school teachers, both consciously and unconsciously, may also include religious intolerance. One of the factors that distinguishes the content of religious tolerance and intolerance among elementary school teachers is their attitudes and actions towards local cultural principles. The higher the appreciation of local culture, the greater amount of religious tolerance. Further, when appreciation of local cultural traditions is low, it is more likely that a teacher is intolerant of other religions.  [Tulisan ini membahas pendidikan multikultural dan toleransi beragama ditengah meningkatnya intoleransi di lingkungan pendidikan. Fokus tulisan ini adalah pemahaman guru sekolah dasar mengenai pendidikan multikultural dan implementasinya dengan studi kasus di kota Yogyakarta, karena kota ini adalah kota pendidikan dan mendeklarasikan sebagai kota toleran. Hasilnya menunjukkan bahwa pemahaman guru sekolah dasar mengenai pendidikan multikultur cenderung esensialis, tapi beberapa yang lain anti esensialis atau konstruktif. Sikap dan perilaku mereka baik sadar atau tidak sadar, mengandung kecenderungan intoleransi. Salah satu faktor yang membedakan muatan toleransi dan intoleransi diantara guru tersebut adalah sikap dan perilaku pada prinsip budaya lokal. Apresiasi tinggi pada budaya lokal adalah terbesar dalam toleransi beragama. Lebih lanjut, jika apresiasi pada tradisi lokal rendah, ini berarti guru tersebut cenderung intoleran pada agama lain.] 
Pendidikan Etika Lingkungan Hidup Orientasi ke arah Pendidikan yang Holistik Radjasa Mu’tasim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 54 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.540.36-46

Abstract

Dalam konferensi Tingkat Tinggi Bumi (KTT-Bumi) di Rio De Jenairo pada bulan Juni 1992 yang lalu, telah menghasilkan beberapa kesepakatan penting yang salah satu diantaranya, yang relevan dengan makalah ini, adalah sebuah kerangka kerja yang diperuntukkan kepada masyarakat internasional yang disebut sebagai AGENDA 21. Rencana kerja ini bertujuan untuk mencapai pembangunan berkelanjutan (Sustainable Developmen) pada abad mendatang. Salah satu program dari Agenda 2l yang sangat penting untuk diperhatikan adalah program pendidikan Lingkungan Hidup, yang didalamnya tercakup tiga hal penting (Bab 36 Agenda 2l), yakni: (a). Mereorientasi pendidikan ke arah pembangunan berkelanjutan' (b). Meningkatkan kesadaran masyarakat akan perlunya menjaga kelestarian lingkungan, dan (c). Meningkatkan latihan. Program-program ini sesungguhnya merupakan tindak lanjut dari deklarasi dan rekomendasi Konferensi Tbilisi yang diselenggarakan oleh UNESCO dan UNEP pada tahun 1917 yang lalu, yang menegaskan perlunya memperhatikan dunia pendidikan dalam upaya menyelamatkan lingkungan hidup.
Visi Hos Tjokroaminoto Tentang masa Depan Indonesia Merdeka Masyhur Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 50 (1992)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1992.050.48-71

Abstract

Dalam konteks pembangunan Nasional yang bercita-cita membangun manusia Indonesia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya, maka penelusuran sejarah pemikiran dan perjuangan tokoh-tokoh pergerakan Nasional yang dikenal sebagai era kebangkitan nasional amat menarik untuk dikaji ulang secara kritis dan konstruktif. Sebab pemikiran dan perjuangan mereka mengandung nilai-nilai luhur yang dapat disumbangkan untuk memandu jalannya pembangunan nasioanl serta masih memiliki relevansi dengan tuntutan-tuntutan aktual dewasa ini. Selain itu karena kehadiran mereka merupakan titik tolak dan mata rantai yang tak terpisahkan bagi peristiwa-peristiwa sejarah berikutnya, yaitu: Pertama, era proklamasi, dimana bangsa Indonesia melalui Soekarno dan Hatta menyatakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17-8-1945. Kedua, era Integrasi, dimana bangsa Indonesia berjuang menghadapi serangan kolonial Belanda yang bercita-cita untuk kembali menjajah Indonesia serta rongrongan pemberontakan dari dalam. Kemudian ketiga adalah era transformasi, yaitu era pembangunan nasional yang berencana, sejak pemerintahan Orde Baru dikenal dengan pembangunan Jangka panjang yang terbagi kedalam pembangunan Lima Tahun (PELITA).
Arti Penting Mullā Ṣadrā dan Karatristik Aliran Pemikirannya Syaifan Nur
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 59 (1996)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1996.3459.137-153

Abstract

This article is intended to introduce Mullā Ṣadrā and his thought to Indonesian readers. Born and brought up in the Shi'i religious tradition. Mullā Ṣadrā has been known as one of the greatest Persian thinkers. Especially in metaphysics. In spite of the fact, the position of Mullā Ṣadrā and the significance of his thought have hardly been known outside Persia (Iran). In his attempt to find a truth. Mullā Ṣadrā used three approaches, i.e., by synthesizing and harmonizing revelation. Illumination and reason. In addition to these methods, he also reconciled various schools of Islamic Thought which had existed befor such as masysyā'ī (periparetic), isyrāqi (illumination). ‘irfānī (Gnosticism or sufism). And kalām (Islamic theology). In formulating his ideas. Mullā Ṣadrā employed Qur'ān verses. Prophetic tradition 'Sunnah), opinions of Shi’I Imāms, as well as his deep individual thinking and reflections. The way Mullā Ṣadrā formulated his ideas has made him a great thinker who could create a grand thesis called al-ḥikmat al-muta’aliyah. Mullā Ṣadrā grand thesis is very different from other thinkers, thesis such as al-ḥikmat al-masysyāī‎ah or al-ḥikmat al-Isyrāqīyah. So far, Mullā Ṣadrā’s influence has been confined to shií countries, chiefly Iran where his works and ideas have been broadly and profoundly studied from generation to generation. Based on this fact, the writer argues that it is groundless to say that Islamic philosophy in the Muslim world become stagnant after the demise of the great philosophers like ibn rushed were never produced in the sunnī Muslim countries. In Contrast to the writer, intellectual discourses and philosophical life in a shi’I Muslim Country like Iran has never stopped but always developed from time to time. The writer argues that Sunni Muslim scholar should pay attention to Islamic Studies in Iran, and Sunnis Negative views of shiísm should be wiped out. 
Masalah Wanita Menjadi Pemimpin Dalam Perspektif Fiqih Siasah Syamsul Anwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies No 56 (1994)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1994.056.40-47

Abstract

Masalah yang akan ditinjau dalam tulisan ini adalah dapatkah Wanita menjadi pemimpin, baik pemimpin negara/pemerintahan maupun pemimpin dalam jabatan-jabatan lain menurut ketentuan hukum Islam. Masalah ini mungkin sudah kuno dilihat dari perspektif pemikiran masa kini, akan tetapi dalam konteks fiqih siasah amat langka fuqaha (ahli-ahli hukum Islam) yang membenarkan wanita menjadi pemimpin baik sebagai kepala negara/pemerintahan maupun dalam jabatan lain. Hal ini dikarenakan adanya hadis sahih dari Nabi yang berbunyi (terjemahnya), "Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita menjadi pemimpin mereka". Berikut ini akan dipaparkan bagaimana argumen para ulama itu dan sejauh mana pendapat mereka bisa diterima.

Page 91 of 123 | Total Record : 1224


Filter by Year

1975 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 63, No 2 (2025) Vol 63, No 1 (2025) Vol 62, No 2 (2024) Vol 62, No 1 (2024) Vol 61, No 2 (2023) Vol 61, No 1 (2023) Vol 60, No 2 (2022) Vol 60, No 1 (2022) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 2 (2001) Vol 39, No 1 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) No 64 (1999) No 63 (1999) No 62 (1998) No 61 (1998) No 60 (1997) No 59 (1996) No 58 (1995) No 57 (1994) No 56 (1994) No 55 (1994) No 54 (1994) No 53 (1993) No 52 (1993) No 51 (1993) No 50 (1992) No 49 (1992) No 48 (1992) No 47 (1991) No 46 (1991) No 45 (1991) No 44 (1991) No 43 (1990) No 42 (1990) No 41 (1990) No 40 (1990) No 39 (1989) No 38 (1989) No 37 (1989) No 36 (1988) No 35 (1987) No 34 (1986) No 33 (1985) No 32 (1984) No 31 (1984) No 30 (1983) No 29 (1983) No 28 (1982) No 27 (1982) No 26 (1981) No 25 (1981) No 24 (1980) No 23 (1980) No 22 (1980) No 21 (1979) No 20 (1978) No 19 (1978) No 18 (1978) No 17 (1977) No 16 (1977) No 14 (1976) No 12 (1976) No 11 (1975) No 10 (1975) No 9 (1975) No 8 (1975) More Issue