cover
Contact Name
Arum Budiastuti
Contact Email
arumbudi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
up2dfibunair@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Mozaik Humaniora
Published by Universitas Airlangga
ISSN : 24428469     EISSN : 2442935X     DOI : -
Mozaik Humaniora is a journal that focuses on the scope of humanities and accepts articles on cultural studies, linguistic and literary studies, as well as philology and historical studies.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
Bentuk dan Fungsi Operator Bahasa Bima Made Sri Satyawati
MOZAIK HUMANIORA Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.15 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v14i2.7814

Abstract

Persoalan yang dikaji dalam tulisan ini difokuskan pada operator Bahasa Bima, yaitu bentuk danfungsi operator bahasa Bima. Secara lintas bahasa, operator dikenal sebagai unsur-unsur yang tidakdilekatkan pada unsur lain, seperti did dan not dalam bahasa Inggris dan ka, pemarkah tanya, dalamBahasa Jepang. Wujudnya beragam, misalnya afiks, klitik, atau kata bergantung pada tipe-tipe bahasaitu sendiri. Hasil penelitian yang mengkaji operator Bahasa Bima masih belum banyak dilakukansehingga sebagai penelitian awal dan untuk menambah wawasan kelinguistikan, kajian ini sangatmenarik untuk dibicarakan. Karena metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitianlinguistik lapangan, metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode elisitasi,metode perekaman, dan metode observasi. Ketiga metode itu dibantu dengan teknik catat. Analisispenelitian ini dilakukan dengan menggunakan konsep yang diperkenalkan oleh Van Valin dan LaPolla dalam teori Role and Reference Grammar. Data yang terkumpul dianalisis dengan metode padandan distribusional dengan teknik lanjutan teknik hubung banding, teknik lesap, dan teknik subsitusisehingga unsur-unsur yang dinamai operator dapat dengan mudah dikenali. Pada hasil analisis data,diketahui bahwa operator dalam bahasa Bima dimarkahi dengan klitik dan kata seperti 1) klitikseperti ku-, na-, dan mu- dan 2) preposisi seperti kai dan labo. Selain itu, diketahui pula Bahasa Bimamemiliki operator berupa aspek dan penegasi.
Celebrity Status in RCTI’s Idola Cilik: The Consumption of the Popular Media by Indonesian Children Dadung Ibnu Muktiono
MOZAIK HUMANIORA Vol. 13 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (638.76 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3839

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas keaktifan anak-anak dalam mengonsumsi media dan mengejar status selebriti melalui media di Indonesia. Anak-anak sering dianggap murni, polos, dan pasif. Beberapa orang berpendapat bahwa nilai-nilai ini harus dipertahankan untuk mendefinisikan anak secara jelas. Namun sekarang sulit untuk mempertahankan identitas tersebut karena media yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak. Mereka aktif mengkonsumsi media dengan memaknai program-program televisi yang mereka konsumsi. Di Indonesia, konsumsi aktif anak- anak pada media dapat dilihat melalui partisipasi dalam Idola Cilik, yang terkenal sebagai kontes menyanyi anak dan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menjadi selebriti. Penelitian ini menggunakan metode analisis tekstual terhadap program Idola Cilik yang ditayangkan oleh RCTI pada tahun 2010. Argumen yang dikemukakan adalah bahwa Idola Cilik menyajikan selebriti seperti yang diinginkan oleh anak-anak. Sebagai bagian dari komersialisasi, para kontestan harus siap untuk dijual sebagai komoditas, bersama dengan kisah hidup dan foto mereka. Ini menunjukkan bahwa media mengkomersialkan status selebriti anak-anak. Makalah ini juga menunjukkan bahwa anak-anak adalah konsumen aktif. Mereka bukanlah produk yang ditentukan oleh teks (dalam hal ini Idola Cilik), akan tetapi mereka mampu membaca pesan yang disampaikan oleh media dan merekonstruksinya.Kata kunci: anak-anak, Idola Cilik, komoditas, media, selebriti
Negotiating Celebrity Femininity in Three Auto/Biographies of Indonesian Female Celebrities Aquarini Priyatna
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 2 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.872 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5844

Abstract

AbstrakMelalui auto/biografinya, selebritas perempuan Indonesia Krisdayanti, Yuni Shara, dan Tiara Lestari menampilkan femininitas yang global dan lokal, dan menunjukkan negosiasi yang kompleks antara berbagai keharusan berkenaan dengan kesopanan, peran sebagai ibu, dan normalitas, serta tuntutan global yang berkenaan dengan seksualitas, selebritas dan universalitas. Femininitas ditunjukkan baik sebagai suatu hal yang bersifat normatif maupun sebagai suatu hal yang disruptif, dengan memperluas dan mengubah ruang yang mendefinisi makna menjadi seorang perempuan, dalam konteks yang saling berkaitan antara kebudayaan lokal Indonesia, budaya selebritas dan globalisasi. Artikel ini berkontribusi terhadap berbagai pemahaman atas globalisasi serta proses, efek dan dampaknya sekaitan dengan konstruksi gender melalui fenomena khusus auto/biografi selebritas Indonesia. Lebih khusus lagi, artikel ini berargumentasi bahwa auto/biografi merupakan ruang yang penting untuk memahami bagaimana media dimanfaatkan dan merupakan bagian integral dari konstruksi citra dan representasi selebritas perempuan di dalam konteks lokal tertentu dan dalam konteks yang lebih global. Kata kunci: selebritas, femininitas, auto/biografi, lokalitas, globalitas AbstractThrough their auto/biographies, Indonesian female celebrities, i.e. Krisdayanti, Yuni Shara and Tiara Lestari, present femininities that are both global and local and reveal complex negotiations of local imperatives of modesty, maternity and normality and global imperatives towards sexuality, celebrity and universality. Femininity is performed both as normative and disruptive, extending and altering the space of what it means “to be a woman” within the intersecting contexts of local Indonesian culture, celebrity culture and globalization. This paper used the term auto/biography as a method to embrace a more inclusive term that include writings that fall between the category of autobiography and biography. While the standard normative idea of autobiography refers to writings about oneself as written by oneself, and the definition of biography to writings about oneself as written by others, the term auto/biography used here accommodates the complexities of authorship as well as depiction of the auto/biographical subjects. This paper contributes to understandings of globalization and its gendered processes, effects and impacts through the particular phenomenon of the auto/biographies of Indonesian female celebrities. Particularly, this paper argues that auto/biography has become an important space to understand how media is used and an integral part of the construction of female celebrity’s image and representation within a certain local and  the more global context at the same time. Keywords: auto/biographies, celebrity, femininity, globality, locality
Tumpang-Tindih Konflik dalam Novel Kambing dan Hujan Karya Mahfud Ikhwan Rusi Aswidaningrum Aswidaningrum
MOZAIK HUMANIORA Vol. 17 No. 1 (2017): MOZAIK HUMANIORA VOL. 17 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (329.09 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i1.6596

Abstract

AbstrakPenelitian  ini  bertujuan  untuk  membedah  tumpang  tindih  konflik  dalam  novel Kambing  dan  Hujankarya  Mahfud  Ikhwan dengan  menggunakan  teori  narasi  Gerard  Genette.  Dengan  mengungkap unsur-unsur  dominan  seperti  tata,  perspektif,  dan  penutur, ditemukan  adanya  tumpang  tindihkonflik seperti berikut: (1) konflik percintaan Mif dan Fauzia yang merupakan pembuka dan penutupKambing dan Hujan tampak menjadi sentral cerita, (2) konflik Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyahyang mendominasi cerita bukanlah konflik utama, dan (3) cinta segitiga Pak Fauzan, Bu Yat, dan PakIskandar  merupakan  konflik  utama  yang  menjadi  kunci kemunculan konflik  lain.  Dengan menemukan  adanya  tumpang  tindih konflik, konflik-konflik  yang  sepintas  terlihat  sebagai  fokus cerita ternyata hanya merupakan bagian dari konflik utama, sehingga dapat diketahui bahwa konflik agama  bisa  saja  muncul  karena  konflik  pribadi  para  tokoh-tokoh  besarnya. Hal  ini  disebabkan budaya  patriarkhi  yang  mendorong  Pak  Fauzan  dan  Pak  Iskandar  untuk  mendapatkan  legitimasisebagai  laki-laki  dalam  memperebutkan  perempuan yakni Bu  Yatun  sebagai  objek. Untuk  itu, penelitian  ini  dapat  membuka  wawasan  pembaca  agar  tidak  menelan  teks  secara  mentah  denganmelihat secara sekilas apa yang tampak pada permukaan cerita.
Puitika Cerpen-Cerpen Eka Kurniawan Bramantio Bramantio
MOZAIK HUMANIORA Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.989 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v14i2.3846

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap puitika empat cerpen Eka Kurniawan dalam kumpulan cerpen Gelak Sedih dan Cerita-Cerita Lainnya dan Cinta Tak Ada Mati dan Cerita-Cerita Lainnya. Puitika merupakan kaidah-kaidah umum yang mendahului kelahiran karya sastra. Penelitian ini memanfaatkan metode baca struktural berdasarkan morfologi Vladimir Propp, khususnya konsepnya tentang fungsi yaitu unsur yang stabil dan tetap dalam sebuah cerita, tanpa memperhitungkan bagaimana dan siapa yang melaksanakannya. Keserupaan unsur-unsur yang ada dalam sebuah kumpulan cerpen pun, dapat memiliki kecenderungan demikian, sebab sama halnya dengan dongeng atau cerita rakyat, cerpen memiliki plot yang berfungsi menghadirkan unsur-unsur secara berurutan, meskipun jenis yang terakhir tersebut memiliki struktur yang lebih kompleks. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu identifikasi alur dan perumusan puitika keempat cerpen Eka Kurniawan. Hasil penelitian ini memperlihatkan sembilan hal yang senantiasa berulang pada cerpen-cerpen tersebut, yaitu perempuan sebagai tokoh sentral, konflik atau klimaks di awal penceritaan, penjelasan tentang masa lalu di tengah penceritaan, keluarga sebagai ruang problematis, cerita cinta, dominasi bapak, suami yang tidak diharapkan, harapan yang diperjuangkan, dan akhir cerita yang mendua. Hal tersebut pada akhirnya dapat dimaknai Eka Kurniawan tampak mengusung estetika dongeng. Estetika dongeng yang dimanfaatkan Eka Kurniawan pun bukan yang bersifat konvensional, tetapi dongeng yang tidak lagi memperlihatkan hitam-putih, melainkan bipolaritas, dengan akhir cerita yang bersifat terbuka.Kata kunci: alur, cerpen, puitika, dongeng
Cara Pandang Dunia Warga Arjowilangun dalam Upacara Bersih Desa Hariawan Adji Adji
MOZAIK HUMANIORA Vol. 17 No. 1 (2017): MOZAIK HUMANIORA VOL. 17 NO. 1
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.488 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i1.6591

Abstract

Tulisan ini mencoba untuk mengeksplorasi cara pandang dunia warga Arjowilangun. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas, saya menganalisis upacara Bersih Desa mereka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode wawancara dan observasi partisipatoris. Teori utama yang saya gunakan adalah teori cara pandang dunia A. Irving Hallowell yang kemudian dikembangkan oleh Morrison. Untuk mempertajam analisis, saya juga menggunakan teori agama lokal Sam D. Gill. Cara pandang dunia warga Arjowilangun benar-benar tercermin dalam upacara Bersih Desa mereka. Cara pandang dunia ini juga tercermin dalam cara mereka hidup sehari-hari. Pola mereka berelasi dengan alam dan sesama sungguh diwarnai oleh
Destabilizing Gender Norm in Contemporary Indonesian Discourses Wening Udasmoro
MOZAIK HUMANIORA Vol. 17 No. 2 (2017): MOZAIK HUMANIORA VOL. 17 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.131 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i2.6072

Abstract

Being a man and a woman are not a question of nature but a system of culture where it is shaped not only by the cultural regime itself, but also by the different political regimes. The change of different political regimes in Indonesia shape the separation of man and woman through a very strict separation into the value of masculine and feminine. However, this dichotomy has been progressively defined in the social practice, especially in the media, literature and everyday discourses, where people start to claim the diversity of gender seen as part of social reality.  People start to openly express their identity as gay, lesbian or transgender as part of their personal and social experiences. The questions posed are firstly what are the aspects destabilized in the discourses related to gender orientation? Secondly, what are the aspects changed and maintained in that process of destabilization? In which argument the process of destabilizing gender norm is done during the reformasi era? This article attempts to show how the gender norm longtime believed as an established gender orientation of man and woman is destabilised by different social actors in Indonesia in order to claim the diversity of gender with the interchangeable value of masculine and feminine in the society. 
Simbol Kejayaan Ibukota Sriwijaya dalam Tiga Prasasti Sriwijaya di Palembang Dedi Irwanto Muhammad Santun Dedi Irwanto
MOZAIK HUMANIORA Vol. 13 No. 2 (2013)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.821 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v13i2.3840

Abstract

AbstrakSriwijaya adalah salah satu kerajaan “tertua” di Nusantara serta salah satu kerajaan terbesar yang pernah hadir secara politis di tanah air. Namun, sebetulnya Kerajaan Sriwijaya justru kerajaan“termuda” di Nusantara secara penemuannya, karena nama Kerajaan Sriwijaya baru “tergali” dan muncul ke permukaan di sekitar awal abad ke-20 setelah ditemukannya beberapa prasasti. Tulisan ini mencoba memaknai secara semiotis prasasti-prasasti tinggalan Sriwijaya yang ada di Kota Fo-shih, Musi, Wijaya, Palembang. Penelitian sebelumnya mengenai prasasti Kedukan Bukit, Telaga Batu, dan Talang Tuwo belum banyak membahas tentang makna di balik bentuk fisik prasasti-prasasti tersebut. Dengan menggunakan metode semiotika, penelitian ini berusaha mengungkapkan makna berbagai bentuk prasasti yang selama ini sangat bernilai dalam menguak kota Palembang di masa Kerajaan Sriwijaya. Hasil analisis semiotis pada bentuk prasasti Kedukan Bukit mengungkapkan ibukota Sriwijaya sebagai Kota Dagang, Kota Agama dan Kota Pelajar yang dikunjungi banyak orang. Bentuk prasasti Telaga Batu menandakan simbol Kota Pemerintahan yang bersih, serta bentuk prasasti Talang Tuwo menandakan simbol Kota Wisata yang makmur dan beruntung. Dengan segala pujian seperti ini, dapat dikatakan bahwa Kota Fo-shih sebagai ibukota Sriwijaya adalah kota metropolis pada masanya.Kata kunci: ibukota, prasasti, semiotika, Sriwijaya
Strategi Kesantunan Berbahasa Diaspora Orang Bali di Jawa Timur dalam Situasi Formal Ni Wayan Sartini
MOZAIK HUMANIORA Vol. 16 No. 2 (2016): MOZAIK HUMANIORA VOL. 16 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.536 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v16i2.5863

Abstract

AbstrakKeberadaan diaspora Bali di Jawa Timur menyebar di seluruh kabupaten dan kota. Kota-kota yang ditempati diaspora Bali dengan jumlah yang cukup besar adalah Surabaya, Sidoarjo, Malang, dan Gresik. Beberapa perkembangan yang terjadi pada saat etnis Bali membentuk diaspora Bali di Jawa Timur antara lain penerapan model-model perkumpulan dan penerapan adat yang hampir sama dengan di Bali. Hal itu memungkinkan terjadinya akulturasi kedua budaya tersebut termasuk bahasa dan penggunaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kesantunan berbahasa diaspora orang Bali dalam berkomunikasi dalam situasi formal yaitu rapat-rapat atau pertemuan-pertemuan warga Bali yang melibatkan unsur-unsur pengampu kebijakan keagamaan Hindu dan pendidikan. Penelitian dilakukan di Surabaya dan Sidoarjo untuk mewakili kota-kota di Jawa Timur. Data dikumpulkan dengan cara observasi nonpartisipasi dibantu teknik rekam dan catat. Hasil analisis data menunjukkan bahwa strategi kesantunan berbahasa diaspora orang Bali di Jawa Timur mencakup  strategi bald on record,  on record positive politeness, on record negative politeness.   Strategi-strategi kesantunan tersebut antara lain menggunakan bentuk pertanyaan dengan partikel tertentu, menggunakan pemarkah tertentu untuk mengurangi ancaman terhadap muka mitra tutur, memberi penghormatan dengan sapaan-sapaan tertentu, menggunakan permohonan maaf (apologizing), menggunakan ujaran tidak langsung, menggunakan pagar (hedge) pada ujaran, dan menggunakan bentuk impersonal. Ciri khas strategi kesantunan yang selalu digunakan ketika dalam situasi formal adalah permintaan maaf (apologizing) baik penutur yang memiliki status tinggi (+P) maupun penutur anggota biasa (-P). Di samping itu, terjadi campur kode antara bahasa Bali Alus dan bahasa Indonesia dalam ujaran-ujaran yang disampikan. Penggunaan bahasa Bali Alus secara pragmatik juga merupakan penada kesantunan (politeness markers) dalam brebahasa. Kata kunci: diaspora orang Bali, Jawa Timur, strategi kesantunan, status sosial AbstractThe presence of Balinese diaspora in East Java spreads in all districts and cities. The cities where there are a huge number of Balinese diaspora are Surabaya, Sidoarjo, Malang, and Gresik. A Balinese ethnic may form the Balinese diaspora in East Java by applying some models of gathering and customs that are the same as what can be found in Bali. This indicates that there is an acculturation in the language and  between two cultures. The present study aims to describe the language politeness of Balinese diaspora in a formal communication like meetings among Balinese that involve some buffers of Hindus policies and education. The study was conducted in Surabaya and Sidoarjo representing some cities in East Java. The data were collected by a non participation observation with a recording and reporting technique. In the study, it is found that the politeness strategy the Balinese diaspora have in East Java includes bald on record, on record positive politeness, on record negative politeness. Those strategies are the use of interrogative with some particles, markers to reduce a threat from the interlocutor, respects shown by a particular greeting, apologies, indirect utterances, hedges, and impersonal forms. Some specific politeness strategies are apologizing uttered by the speaker who has a high status (P+) and the common speaker (-P). Besides, it is found that there is a code mixing between Balinese language, Alus (high variety) and Indonesian language; pragmatically, this can be categorized as politeness markers in the language use. Keywords: Balinese diaspora, East Java, politeness strategy, social status
WACANA PERLAWANAN PERSEBAYA 1927 TERHADAP PSSI: ANALISIS WACANA KRITIS NORMAN FAIRCLOUGH Ardhina Saraswati
MOZAIK HUMANIORA Vol. 17 No. 2 (2017): MOZAIK HUMANIORA VOL. 17 NO. 2
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.191 KB) | DOI: 10.20473/mozaik.v17i2.8511

Abstract

Page 2 of 20 | Total Record : 200