cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
JURNAL INTEGRASI PROSES
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal integrasi proses (JIP) diterbitkan oleh Jurusan Teknik Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dua kali dalam setahun. JIP menerima artikel dalam bidang teknik kimia berupa original research papers, reviewed papers dan short communications dari para peneliti, akademisi, industri dan praktisi.
Arjuna Subject : -
Articles 200 Documents
LIMBAH AMPAS TAHU SEBAGAI BAHAN BAKU UNTUK PRODUKSI BIODIESEL Tesa Mutia Anggraini; Neldy Fitriani
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 1 JUNI 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.716 KB) | DOI: 10.36055/jip.v7i1.2775

Abstract

Salah satu bahan baku pembutan biodiesel adalah limbah ampas tahu karena terdapat kandungan lemak yang dapat dijadikan biodiesel. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi maserasi ampas tahu 200 gram yang dilarutkan dengan pelarut n-hexane 1000 mL. Kemudian dilakukan uji FFA sebelum masuk ke tahap pembuatan biodiesel. Variabel yang digunakan adalah perbandingan mol minyak dengan methanol yaitu 1:5 dan 1:10 dengan konsentrasi katalis NaOH pada masing–masing perbandingan mol. Tujuan pada penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi operasi terbaik pada perbandingan mol minyak dengan methanol, konsentrasi katalis NaOH serta mengetahui perbandingan hasil analisa kadar biodiesel dengan syarat mutu biodiesel SNI 7182-2015. Berdasarkan hasil percobaan diperoleh berat minyak sebanyak 59,2 gram, kadar FFA yang dihasilkan yaitu 0,811 %. Sedangkan pada perbandingan mol minyak dengan methanol terbaik yaitu 1:5 dan konsentrasi katalis terbaik yaitu 1,5 %. Hasil pengujian analisa kadar biodiesel dengan menggunakan GC-MS, pada sampel 1 yaitu 61,69 %, pada sampel 2 yaitu 54,64 %, pada sampel 3 yaitu 47,12 %, pada sampel 4 yaitu 39,9 %, pada sampel 5 yaitu 36,26 % dan pada sampel 6 yaitu 33,27 %. Dari analisa menggunakan GC-MS, kadar biodiesel yang dihasilkan belum memenuhi syarat mutu kadar biodiesel SNI 7182-2015.
KINETIKA EKSTRAKSI ZAT WARNA ANTOSIANIN DARI BUNGA ROSELLA Alvian Pratama; Yansen Hartanto; Maria Inggrid
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v7i2.4120

Abstract

Penggunaan zat pewarna buatan pada makanan secara berlebihan dapat berdampak buruk terhadap kesehatan manusia. Pewarna alami merupakan alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti pewarna buatan. Salah satu zat warna alami yang bisa digunakan yaitu antosianin yang berwarna merah keunguan dan banyak terdapat pada tanaman di Indonesia, salah satunya yaitu rosella. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh temperatur terhadap kinetika ekstraksi antosianin menggunakan pelarut larutan etanol dalam air. Penelitian ini juga mengkaji beberapa model kinetika ekstraksi untuk mengetahui model mana yang paling cocok terhadap kinetika ekstraksi antosianin. Rasio massa antara umpan dan pelarut sebesar 1 :  50 dengan kecepatan pengadukan konstan sebesar 200 rpm. Temperatur yang digunakan yaitu 30oC, 45oC, dan 60oC untuk menghindari kerusakan antosianin, dan diperoleh konstanta laju ekstraksi sebesar 0,017 , 0,020 , dan 0,032 menit-1. Kinetika ekstraksi antosianin menggunakan larutan etanol mengikuti perilaku model kinetika linear seperti yang diusulkan oleh Spiro dan Jago.
MODEL NUMERIK ABSORPSI GAS REAKSI ORDE DUA TAK REVERSIBEL Putri Ramadhany
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v7i2.4487

Abstract

Kontak antara fasa gas dan cair banyak sekali ditemui dalam industri kimia. Seringkali kontak yang terjadi disertai dengan reaksi kimia. Dalam absorpsi gas yang disertai dengan reaksi kimia dalam fasa cair, laju absorpsi gas dapat meningkat atau menurun secara signifikan. Akan tetapi terdapat beberapa kesulitan untuk mendeskripsikan kualitas perpindahan massa. Hal ini dikarenakan oleh keterbatasan numerik dalam menyelesaikan neraca massa kompleks. Tujuan penelitian ini adalah melakukan validasi model solusi numerik dengan membandingkan dua paramater yang dapat digunakan dalam menentukan kualitas perpindahan massa, yaitu: enhancement factor (EAo) dan bilangan Hatta (ϕ). Perpindahan massa antara fasa gas dan cair diasumsikan mengikuti model penetrasi Higbie. Model ini mengasumsikan perpindahan massa komponen A dari fasa gas menuju fasa cair yang mengandung komponen B dengan waktu tinggal (t) yang seragam. Lazarus Pascal Programming Language® digunakan untuk menyelesaikan persamaan diferensial parsial parabola tidak linear. Metode yang akan digunakan untuk memberikan solusi numerik adalah metode beda hingga (finite difference method). Pemodelan absorpsi gas ini berhasil dilakukan dengan 50 time steps dan diskrepansi sebesar 0,55%. Saat kondisi tunak, nilai enhancement factor (EAo) yang didapatkan pada berbagai bilangan Hatta sesuai dengan nilai yang dihitung berdasarkan persamaan teoritis dengan deviasi sebesar 3,5%. Model yang didapatkan kemudian digunakan untuk menentukan keefektifannya pada suatu studi kasus. Pada saat waktu tinggal 3,25 ms, nilai enhancement factor (EAo) yang didapatkan melalui solusi numerik lebih kecil dari solusi teoritis. Berdasarkan pemodelan, hal ini menunjukkan bahwa waktu tinggal belum menuju kondisi tunak.
TEKANAN UAP (VAPOR PRESSURE) UNTUK CAMPURAN 2-BUTANOL + DIETHYL CARBONATE DAN TERT-BUTANOL + DIETHYL CARBONATE Gede Wibawa; Annas Wiguno; Rizky Tetriyanda; Kuswandi Kuswandi
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v7i2.4488

Abstract

Penggunaan Methyl tert-butyl ether (MTBE) sebagai octane booster dalam campuran gasoline telah menyebabkan masalah lingkungan seperti pencemaran pada tanah dan merupakan zat yang dapat memicu kanker. Akhir-akhir ini, alcohol sebagai octane booster mendapat perhatian lebih karena dapat diproduksi secara besar-besaran dengan bahan baku biomasa. Disamping itu, senyawa alkyl carbonate seperti diethyl carbonate (DEC) bisa dijadikan alternative untuk menggantikan MTBE sebagai octane booster untuk campuran gasoline karena nilai octane yang tinggi dan sebagai bahan kimia yang ramah lingkungan. Untuk itu, campuran alcohols dan DEC diharapkan dapat digunakan sebagai octane booster yang lebih baik dari MTBE.  Salah satu parameter penting dalam blending gasoline adalah tekanan uap (vapor pressure) karena parameter tersebut berkaitan dengan emisi. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengukur isothermal vapor pressure  dari campuran 2-butanol + diethyl carbonate dan tert-butanol + diethyl carbonate pada range suhu 303.15-323.15 K secara akurat dengan peralatan ebulliometer sederhana  yang kita kembangkan. Data eksperiment dikorelasikan dengan  model Wilson, NRTL dan UNIQUAC . Eksperimen diawali dengan mengukur tekanan uap masing-masing komponen murni dan membandingkan hasilnya dengan data literatur dimana diperoleh Average Absolute Deviation (AAD) dibawah 0.8%. Selanjutnya pengukuran vapor pressure untuk campuran biner dilakukan pada range konsentrasi antara 0-1. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa semua campuran menyimpang positif terhadap Hukum Raoult. Data eksperimen untuk campuran tert-butanol (1) + DEC (2) dikorelasikan dengan model Wilson, UNIQUAC dan NRTL memberikan AAD 1.3%   dan untuk campuran 2-butanol (1) + DEC (2) memberikan AAD maksimum 1.5% untuk semua model yang dipelajari.
PENGARUH JENIS AKTIVATOR DAN UKURAN KARBON AKTIF TERHADAP PEMBUATAN ADSORBENT DARI SERBIK GERGAJI KAYU SENGON (PARASERIANTHES FALCATARIA) Emi Erawati; Ardiansyah Fernando
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v7i2.3808

Abstract

This study aims to determine the effect of activator types and particle sizes on the characteristics of activated carbon from sengon wood sawdust (Paraserianthes falcataria). The characteristics of activated carbon need to be tested to determine the quality of adsorbent, the test includes testing of water content, ash content, the absorption capacity of iodine, and BET (Braunanear, Emmelt, and Teller). Sengon wood powder which has been mashed then sifted using variations of -20, + 40, -40, + 60, -60, + 80, -80, + 100 mesh. temperature of 500°C for 30 minutes. The activated carbon is activated using activators of H3PO4, NaOH, and NaCl with a concentration of 0.1 M in 100 ml. The activation process was soaked for 24 hours, filtered and the residue rinsed with distilled water until the pH was neutral, then oven at 150°C for 3 hours. Active carbon results are tested for quality in accordance with SNI 06-3730-1995. The results of the research in the manufacture of activated carbon from sengon wood powder showed that H3PO4 was the best activator in particle size of -80,+100 mesh, resulting in moisture content, ash content, and iodine absorption of 3.69%, 2.89%, 710.64 mg/g respectively, and . The BET test is carried out at a particle size of -60,+80 mesh of 0.534 m2/ gram.
SIMULASI REAKTOR HIDRODEAROMATIK DAN HIDRODESULFURISASI PADA BERBAGAI KONDISI OPERASI PADA PENGOLAHAN MINYAK PELUMAS BEKAS Riswanda Himawan; Ferdy Ridwand Sahertian; Renanto Handogo; Juwari Juwari
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v7i2.4490

Abstract

Minyak pelumas bekas merupakan limbah berbahaya yang harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke lingkungan. Mendaur ulang minyak pelumas bekas menjadi Minyak pelumas baru adalah salah satu cara yang paling efektif, salah satu caranya dengan proses hydrotreating, yang berlangsung dalam dua tahap, yaitu proses hydrogenation dan hydrodesulfurization. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh parameter operasi seperti temperatur reaktor dan laju alir pelumas (LHSV) terhadap penjenuhan dan pengurangan senyawa sulfur minyak pelumas dalam reaktor hidrogenasi aromatik dan hidrodesulfurisasi. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menentukan kondisi optimum dari variabel percobaan yang digunakan. Terdapat dua jenis percobaan simulasi yatu percobaan yang pertama menggunakan variabel bebas LHSV 0.5; 1; 1,5; 2 jam-1 dan suhu 300; 310; 320; 330; 340; 350; 360; 370; 380 ⁰C, dengan variael tetap tekanan 21 bar dan rasio H2/Oil 200 L/L. Penelitian ini menggunakan proses sekuensial antara hidrogenasi aromatik (HDA) kemudian hidrodesulfurisasi (HDS) dan reaktor bersifat adiabatis. Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan kesimpulan sebagai berikut. Total konversi aromatik meningkat seiring naiknya suhu, sampai pada suhu 350 oC (LHSV 0,5 jam-1 ), 360 ⁰C (LHSV 1 jam-1 ), 370 ⁰C (LHSV 1,5 jam-1 ),  380 ⁰C (LHSV 2 jam-1 ), kemudian menurun seiring naiknya suhu. Sementara total konversi aromatik reaksi hidrogenasi aromatik menurun seiring dengan meningkatnya Liquid Hour Space Velocity. Kemudian konversi reaksi hidrodesulfurisasi meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur reaktor, sementara konversi reaksi hidrodesulfurisasi menurun seiring dengan meningkatnya Liquid Hour Space Velocity. Kondisi operasi reaktor hydrotreating yang optimal adalah pada suhu 350 ⁰C Liquid Hour Space Velocity 0,5 per jam tekanan 21 bar untuk reaktor hidrogenasi aromatik dan reaktor hidrodesulfurisasi.
UJi coba zeolit alam Bayah Sebagai katalisator Pada Reaksi ESterifikasi antara gliserol dan asam Asetat Nuryoto Nuryoto; Rudi Hartono; Isti Uswatun Hasanah
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v7i2.3814

Abstract

Gliserol sebagai produk samping biodiesel merupakan bahan  baku yang mempunyai potensi untuk dikembangkan lebih lanjut.  Mengkontakan asam asetat  dengan gliserol akan menghasilkan produk baru berupa triasetin,  yang akan  mampu meningkatkan nilai guna dari gliserol itu sendiri. Observasi terhadap penggunaan zeolit alam berbasis sumber daya alam lokal sebagai katalisator dapat menjadi titik tolak pencarian katalisator yang murah. Hasil pengamatan terhadap zeolit alam Bayah- Banten yang dilakukan pada rentang konsentrasi pengasaman 1-2 N asam sulfat, waktu pengasaman 1-2 jam, konsentrasi katalisator 3-5 % massa gliserol, dan perbandingan pereaksi 5:1-7:1 mol asam asetat/mol gliserol, pada pengadukan 600 rpm menunjukan bahwa peningkatan konsentrasi pengasaman dan waktu pengasaman berdampak baik pada perolehan konversi reaktan berupa asam asetat, tetapi peningkatan konsentrasi katalisator dan perbandingan pereaksi justru berdampak sebaliknya. Kondisi operasi reaksi terbaik dicapai pada konsentrasi pengasaman 2 N asam sulfat, waktu pengasaman  2 jam, konsentrasi atalisator 3 % massa gliserol, dan perbandingan pereaksi 5:1 mol asam asetat/mol gliserol dengan konversi asam asetat sebesar 52,04%.
PENGARUH SUHU PROSES CETAK TERHADAP KEKUATAN PANEL BACKSPLASH DARI PEMANFAATAN BOTOL PET BEKAS Gema Fitriyano; Susanty Susanty; Muhammad Reza Huseini; Naazilatul Luthfiyah Al’aizzah
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v7i2.3421

Abstract

Saat ini penggunaan botol plastik berbahan polietilena tereftalat atau lebih dikenal dengan PET sangat populer karena memudahkan perusahaan minuman siap saji untuk mengemas produknya, sebagian besar botol PET diimpor untuk memenuhi kebutuhan di Indonesia. Keberadaan limbah botol PET bekas pakai dalam jumlah besar adalah dampak dari hasil konsumsi masyarakat yang sebenarnya merupakan potensi untuk dimanfaatkan di Indonesia, akan tetapi potensi ini baru dapat dimanfaatkan pada kegiatan membersihkan dan mencacahnya menjadi pellet plastik PET yang kemudian dijual kembali ke luar negeri untuk diproses menjadi botol daur ulang atau produk lainnya. Hal tersebut dikarenakan tidak tersedianya teknologi yang dapat membantu pengusaha dalam negeri untuk memproses lebih lanjut pellet plastik PET yang sudah dikumpulkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode dalam rekayasa teknologi pemanfaatan limbah botol PET bekas yang akan diubah menjadi panel back splash. Percobaan dilakukan meggunakan oven dengan varisi suhu proses pelelehan pada 280, 290, 300, 310, 320 oC masing-masing selama 50 menit dengan analisis yang dilakukan yaitu bending strength test untuk mengetahui kekuatan dari panel backsplash yang dihasilkan. Kondisi optimum adalah pada suhu 280 oC karena produk panel memiliki nilai bending strength sebesar 8,53 N/mm2.
PENGARUH KECEPATAN ALIR UDARA DAN TEMPERATUR TERHADAP NILAI KOEFISIEN PERPINDAHAN MASSA PADAT DAN GAS (BOLA NAFTALENA-UDARA) DALAM SISTEM KOLOM AKRILIK Martin Martin; Lindawati Lindawati
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 7 NOMOR 2 DESEMBER 2018
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v7i2.4489

Abstract

Fenomena perpindahan massa merupakan fundamental penting dan aplikatif dalam proses industri, tanpa terkecuali proses industri kimia. Proses sublimasi, adsorpsi, dan pengeringan merupakan contoh proses yang merepresentasikan proses perpindahan massa fase padat dan gas. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan temperatur dan kecepatan alir udara terhadap nilai koefisien perpindahan massa fase padat dan gas yang direpresentasikan oleh sistem bola naftalena dan udara. Selain itu, diharapkan produk hasil penelitian dapat dijadikan modul praktikum yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Penelitian ini dilakukan dengan metode observasi. Hasil observasi menunjukkan bahwa peningkatan temperatur dan kecepatan alir udara akan meningkatkan nilai koefisien perpindahan massa padat dan gas (KG). Nilai koefisien perpindahan massa padat dan gas tertinggi diperoleh pada variasi temperatur 75oC dan kecepatan alir udara 4,98 m/s.
PENGARUH JENIS NUTRIENT DAN WAKTU TERHADAP EFISIENSI SUBSTRAT DAN KINETIKA REAKSI FERMENTASI DALAM PRODUKSI BIOETANOL BERBAHAN BAKU BIJI DURIAN Prahady Susmanto; Yandriani Yandriani; Badria Dania; Ellen Ellen
JURNAL INTEGRASI PROSES VOLUME 9 NOMOR 2 DESEMBER 2020
Publisher : JURNAL INTEGRASI PROSES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/jip.v9i2.8056

Abstract

Bioethanol is one source of energy that can be obtained from vegetable fermentation. This bioethanol production utilizes durian seed waste as a fermentation media. The purpose of this study was to determine the concentration of urea and NPK and the best time in making bioethanol from durian seeds by Saccharomyces cerevisiae, to study the kinetics of the fermentation reaction, determine the efficiency of the substrate during the fermentation process, and to determine the levels of bioethanol that can be produced from durian seed flour. This research was conducted by adding nutrients in the form of urea and NPK, respectively 3% and 4% with fermentation time for 48, 72, 96, 120, 144, and 168 hours. Based on the research results, the levels of starch contained in durian seed flour were 45.38%. Conversion of starch to sugar by 37,8167 grams. The best substrate efficiency is obtained by urea 3% with 120 hours fermentation time of 99,24% with residual sugar content of 0,76%. The highest levels of bioethanol in the urea sample were obtained at the addition of 3% urea, ethanol content of 57,1429% with a fermentation time of 120 hours and a Vmax of 1,2397 g/mL.hour. The best substrate efficiency obtained in NPK samples was found in NPK 4% fermentation time 144 hours by 99,16% with residual sugar content of 0,84%. The highest levels of bioethanol in NPK samples were obtained by adding 4% NPK, ethanol content of 48,5714% with 144 hours fermentation time and Vmax of 1,0116 g/mL.hour.

Page 7 of 20 | Total Record : 200