cover
Contact Name
Ahmad Shulhany
Contact Email
ahmad.s@untirta.ac.id
Phone
+62254-376712
Journal Mail Official
teknika@untirta.ac.id
Editorial Address
Jl. Jendral Sudirman KM 03, Cilegon 42435
Location
Kab. serang,
Banten
INDONESIA
Teknika: Jurnal Sains dan Teknologi
ISSN : 1693024X     EISSN : 26544113     DOI : http://dx.doi.org/10.36055/tjst
Core Subject : Engineering,
Teknika: Jurnal Sains dan Teknologi merupakan jurnal peer-reviewed dalam Bahasa Indonesia di bidang keteknikan, diantaranya bidang teknik sipil, bidang teknik mesin, bidang teknik industri, bidang teknik kimia, bidang teknik metalurgi, dan bidang teknik elektro.
Arjuna Subject : -
Articles 318 Documents
Sintesis dan karakterisasi grafena oksida dari tempurung kelapa dengan metode sonikasi dan hidrotermal Mohamad Bima Putera Honorisal; Nurul Huda; Tri Partuti; Amalia Sholehah
Jurnal Teknika Vol 16, No 1 (2020): Edisi Juni 2020
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v16i1.7519

Abstract

Tempurung kelapa termasuk sampah organik, sehingga dapat digunakan sebagai sumber karbon alternatif. Grafit merupakan salah satu alotrop karbon yang memiliki struktur mirip sarang lebah yang terdiri dari banyak lapisan, sedangkan grafena hanya memiliki satu lapisan karbon. Untuk mensintesis grafena dapat menggunakan metode sonikasi dengan ukuran partikel grafit +200#, -200+230#, dan -230# serta waktu proses selama 30 dan 60 menit. Grafit didapatkan dari arang tempurung kelapa yang berwarna coklat dan berasal dari perkebunan kelapa di Banten. Setelah proses sonikasi, grafit masuk ke proses hidrotermal dengan dan tanpa gas nitrogen. Grafena oksida yang dihasilkan dikarakterisasi menggunakan Raman spectroscopy, Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR), X-ray diffraction (XRD), dan scanning electron microscopy (SEM). Berdasarkan hasil XRD, sampel yang telah sonikasi masih berbentuk grafit oksida. Hal ini didukung dengan hasil SEM yang memiliki morfologi yang berpori dan belum transparan serta tidak terdeteksinya titik 2D pada karakterisasi Raman. Pada karakterisasi FTIR, terdapat ikatan C=C. Berdasarkan karakterisasi Raman, sampel GV 24 menunjukan rasio iD/iG sebesar 0,84. Pada karakterisasi FTIR terdeteksi ikatan O-H, ikatan C-H, dan ikatan C=C. Morfologi permukaan terlihat lebih transparan dari grafit yang telah disonikasi. Berdasarkan karakterisasi Raman, sampel GH 4 menunjukan rasio iD/iG sebesar 0,84. Pada karakterisasi FTIR terdeteksi ikatan O-H, ikatan C=C, dan ikatan C-O. Morfologi permukaan lebih transparan yang menandakan bahwa grafit telah terkelupas. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin lama proses sonikasi dan ukuran partikel -200# +230# menciptakan lapisan yang transparan dan tipis serta menghasilkan grafena oksida setelah melalui proses hidrotermal. Coconut shell is an organic waste and can be used as an alternative carbon source. Graphite is one of the carbon allotropes which has a honeycomb-like structure consisting of many layers, whereas graphene has only single carbon layer. To synthesize graphene, sonication method used by using graphite particle size +200#, -200# +230# and -230#, and processing time of 30 and 60 minutes. Graphite was obtained from brown coconut shell charcoal and comes from coconut plantations in Banten. After the sonication process, graphite processed by hydrothermal method with and without nitrogen gas. Characterization of graphene oxide was done by Raman spectroscopy, Fourier transform infrared spectroscopy (FTIR), X-ray diffraction (XRD) and scanning electron microscopy (SEM). Based on the XRD results, the sonicated sample is still in the form of graphite oxide. This is supported by SEM results that have porous morphology and are not transparent and 2D peaks are not detected in Raman characterization. In FTIR characterization, there is a C=C bond. Based on Raman characterization, the GV 24 sample shows an iD/iG ratio of 0.84. In FTIR characterization O-H bonds, C-H bonds, and C=C bonds were detected. Surface morphology looks more transparent than graphite that has been sonicated. Based on Raman characterization, the GH 4 sample shows an iD / iG ratio of 0.84. In FTIR characterization O-H bonds, C=C bonds, and C-O bonds were detected. The surface morphology is more transparent which indicates that the graphite has been peeled off. The results showed that the longer the sonication process and particle size -200# +230# creates a transparent and thin layer and produces graphene oxide after going through the hydrothermal process.
Pengaruh Laju Alir Udara Pengering terhadap Pengeringan Kulit Manggis Denni Kartika Sari; Retno Sulistyo Dhamar Lestari
Jurnal Teknika Vol 12, No 1 (2016): Edisi Juni 2016
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v12i1.6614

Abstract

Kulit buah manggis diketahui memiliki banyak manfaat dalam dunia pengobatan dan kesehatan. Pengeringan merupakan proses pengeluaran air atau pemisahan air dalam jumlah yang relatif kecil dari material dengan menggunakan panas. Penelitian ini ini dilakukan untuk membandingkan pengaruh laju alir udara terhadap laju pengeringan kulit manggis dengan variasi tekanan udara 16,5 mmH2O, 20 mmH2O, 23,5 mmH2O dan 27 mmH2O. Metode yang dilakukan dalam studi ini menggunakan alat pengering dengan suhu pengeringan 110 ℃ dan sampel kulit manggis dengan massa 50 gram. Pengurangan kadar air dalam kulit manggis diamati setiap 3 menit. Hasil dari studi ini di dapatkan nilai massa sampel setelah pengeringan pada tekanan udara 16,5 mmH2O, 20 mmH2O, 23,5 mmH2O dan 27 mmH2O masing masing 18,1 gram, 20,3 gram, 20,3 gram dan 222,2 gram, dengan waktu pengeringan masing masing selama 186 menit, 150 menit, 150 menit dan 144 menit dan kadar airnya masing-masing turun dari 62,8 % (basis basah) menjadi 2,76% , 8,37% , 8,37% , 16,22%. Hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa semakin besar laju alir udaranya, maka laju pengeringan pun akan semakin besar.
Daya Output Optimal Pada Jenis Solar Gell Monocrystalline dan Polycrystalline Yulianta Siregar; Hasdari Helmi; Syahrawardi Syahrawardi; Afron Afron; Yehezkiel Yehezkiel
Jurnal Teknika Vol 11, No 2 (2015): Edisi November 2015
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v11i2.6647

Abstract

Penelitian ini membahas penggunaan solar cell yang optimal dengan menggunakan 2 jenis solar cell 100 Wp yaitu Monocrystalline dan Polycrystalline dan di lakukan di gedung Departement Teknik Elekltro, Universitas Sumatera Utara, pada bulan Oktober 2015. Jenis Monocrystalline menggunakan sudut kemiringan solar cell 0o60", sementara jenis Polycrystalline menggunakan reflektor (Cermin) dengan sudut reflektor 50', 60' dan 70'. Hasil daya output optimal yang di peroleh untuk Monocrystalline adalah sebesar 100 Watt, pada Jam 12.00 WIB dengan sudut kemiringan solar cell 10'dan berada pada posisi sudut azimuth matahari, sedangkan unfuk Polycrystalline daya output optimal sebesar 100 Watt , pada jam 12.00 WIB dengan sudut kemiringan reflektor 60" dan sudut kemiringan solar cel 10".
PENGARUH PERLAKUAN SPHEROIDIZED ANNEAL 810 C DAN QUENCH TEMPER 600 O C, 690 O C TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO BAJA PERKAKAS TUANG UNTUK APLIKASI OTOMOTIF Abdul Aziz
Jurnal Teknika Vol 8, No 2 (2012): Edisi November 2012
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v9i2.6695

Abstract

Pada penelitian ini, material baja perkakas diatur komposisi paduannya dengan menambahkan unsur paduan Si yang berbeda yaitu 0,8%wt, 2,0%wt, dan 3,0%wt Si pada setiap material baja perkakas, dengan unsur paduan lainnya ditambahkan dengan perbandinganan tetap.Setiap material baja perkakas tidak diberikan unsur vanadium, hal ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan sifat mekanis tanpa ditambahkan unsur paduan Vanadium. Kemudian baja perkakas tersebut dilakukan perlakuan spheroid anneal dan quench temper dengan penggunaan temperatur temper yaitu 600oC, 69oC dan temperatur spheroid anneal 810oC. Dari penambahan unsur paduan dan perlakuan panas tersebut dapat diketahui pengaruhnya terhadap sifat mekanis, yaitu sifat mekanik, serta struktur mikro material baja perkakas.Hasil dari penelitian menunjukan bahwa nilai kekuatan tarik sampel C>D>E>B>A. Hal ini sebanding dengan morfologi fasa martensit dan karbida seperti yang terekam dari hasil pengamatan struktur mikro, dimana semakin kasar fasa martensit dan karbida maka nilai kekuatan tariknya ternyata lebih rendah apabila dibandingkan dengan fasa martensit dan karbida dengan morfologi yang lebih halus.
UJI ADSORBSI ZEOLIT ALAM BAYAH DAN PENGARUH SINAR ULTRAVIOLET TERHADAP DEGRADASI LIMBAH METHYLENE BLUE Indar Kustiningsih; Denni Kartika Sari
Jurnal Teknika Vol 13, No 1 (2017): Edisi Juni 2017
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v13i1.5853

Abstract

Pengaruh Perlakuan Spheroidized Anneal 810oC dan Quench Temper 600oC, 690oC Terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Baja Perkakas Tuang Untuk Aplikasi Otomotiv Abdul Aziz
Jurnal Teknika Vol 11, No 1 (2015): Edisi Juni 2015
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v11i1.6969

Abstract

Pada penelitian ini, material baja perkakas diatur komposisi paduannya dengan menambahkan unsur paduan Si yang berbeda yaitu  0,8%wt, 2,0%wt, dan 3,0%wt Si pada setiap material baja  perkakas, dengan unsur paduan lainnya ditambahkan dengan perbandinganan tetap.Setiap material baja perkakas tidak diberikan  unsur vanadium, hal ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan sifat mekanis tanpa ditambahkan unsur paduan Vanadium. Kemudian baja perkakas tersebut dilakukan perlakuan  spheroid anneal dan quench temper  dengan penggunaan temperatur temper  yaitu 600OC, 690oC dan temperatur spheroid anneal 810oC. Dar penambahan unsur paduan dan perlakuan panas tersebut dapat diketahui pengaruhnya terhadap sifat mekanis, yaitu sifat mekanik, serta struktur mikro material baja perkakas.Hasil dari penelitian menunjukan bahwa nilai kekuatan  tarik sampel C>D>E>B>A. Hal ini sebanding dengan morfologi fasa martensit dan karbida seperti yang terekam dari hasil pengamatan struktur mikro, dimana semakin kasar fasa martensit dan karbida maka nilai kekuatan tariknya ternyata lebih rendah apabila dibandingkan dengan fasa martensit dan karbida dengan morfologi yang lebih halus.
STUDI BIOSORPSI LIMBAH PURIFIED TEREPTHALID ACID (PTA) MENGGUNAKAN ECENG GONDOK Agus Rochmat; Leli Yusnida; Nita Herlita
Jurnal Teknika Vol 12, No 2 (2016): Edisi November 2016
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v12i2.6605

Abstract

Kobalt merupakan salah satu bahan berbahaya dan beracun (B3) yang terkandung dalam limbah Purified Terepthalid Acid (PTA) yang apabila masuk ke dalam lingkungan baik tanah, air, maupun udara dapat menyebabkan pencemaran. Tanaman eceng gondok dapat menurunkan konsentrasi kobalt (Co) di dalam limbah PTA. Semakin lama waktu pemaparan mengakibatkan penurunan konsentrasi kobalt (Co) dalam limbah PTA semakin besar. Selain itu, semakin lama waktu pemaparan berpengaruh pula terhadap penurunan kadar Chemical Oxygen Demand (COD) dan CO2 bebas. Sisa konsentrasi kobalt (Co) dalam limbah sampai hari ke-28 sekitar 0.050-1.599 ppm, sebanding dengan kenaikan konsentrasi kobalt (Co) dalam tanaman eceng gondok yang berkisar antara 1.935-7.521 ppm. Kadar COD pada hari ke-28 berkisar antara 20.34-73.39 mg/L. Nilai tersebut telah memenuhi standar baku mutu limbah PTA berdasarkan AMDAL yang menetapkan COD < 150 mg/L. Sedangkan penurunan nilai CO2 bebas yang dihasilkan pada hari ke-28 berkisar antara 0.05-1.998 mg/L.
Rancang bangun kompor biomassa penghasil energi listrik untuk mengisi baterai 12 V Muhammad Fachrul Rosyidi; Dian Budhi Santoso; Lela Nurpulaela
Jurnal Teknika Vol 16, No 2 (2020): Edisi November 2020
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v16i2.9112

Abstract

Bahan bakar fosil sebagai sumber energi listrik sangat terbatas, sehingga dibutuhkan sumber energi alternatif dimana salah satunya adalah dengan memanfaatkan thermoelectric generator (TEG). Artikel ini membahas tentang perancangan kompor penghasil energi listrik menggunakan komponen TEG dengan memanfaatkan limbah biomassa dalam pembakarannya. Energi yang dihasilkan terhubung dengan baterai untuk penyimpanan energi listrik. Penelitian ini menggunakan 5 TEG yang tersusun secara seri dengan tipe TEG SP 1848–27145. Cara kerjanya adalah dengan menggunakan prinsip efek Seebeck yaitu memanfaatkan sistem perbedaan temperatur untuk menghasilkan energi listrik. Media pada bagian panas dihasilkan pada kompor dan pada bagian dingin menggunakan kipas DC 12 V. Pengujian untuk pengisian baterai telah dilakukan dengan waktu selama 60 menit. Hasil pengujian didapat bahwa selama pengisian baterai mengalami kenaikan tegangan sebesar 0,03 V. Fossil fuel as an electrical energy source is very limited so the alternative energy source is needed. One of the way to make it happen is by utilizing thermoelectric generator (TEG). This paper discussed about designing electrical energy-producer stove using TEG component by taking the advantage of biomass waste in the combustion. The produced energy was connected with a battery as a place to save electrical energy. This research was using 5 TEGs with serial arrangement in the type of TEG SP 1848 - 27145. Seebeck effect was used to know how this system works, in which the researcher took the advantage of temperature differences to produce energy. The heat media was produced on the stove and the cold side used DC 12 V fan. The test for battery charging had done in 60 minutes. The result showed that there is 0,03 V.
BACK MATTER (Subject Index, Author Index, Acknowledgment) Teknika Jurnal Sains dan Teknologi
Jurnal Teknika Vol 17, No 1 (2021): Available Online in June 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i1.11987

Abstract

Effect of temperature and drying time on chemical characteristics of duck bone meal Nurul Qisti; Angga Nugraha; Zulfatun Najah
Jurnal Teknika Vol 17, No 1 (2021): Available Online in June 2021
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36055/tjst.v17i1.10608

Abstract

Judul: Pengaruh suhu dan waktu pengeringan terhadap karakteristik kimia tepung tulang bebek Title: Effect of temperature and drying time on chemical characteristics of duck bone meal Limbah tulang itik menjadi menjadi perhatian masyarakat khususnya masyarakat Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan karena di wilayah ini terdapat banyak warung makan palekko’ itik yang menghasilkan limbah padat yaitu tulang itik. Langkah untuk meminimalisir limbah tulang itik ini adalah dengan mengolahnya menjadi produk inovasi yakni tepung tulang itik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu dan waktu pengeringan terhadap karakteristik kimia tepung tulang itik. Metode pengolahan merupakan modifikasi dari penelitian [1] meliputi diantaranya pencucian, pemotogan, perebusan tulang, pembersihan, pengeringan dan penepungan. Rancangan percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan yaitu P1 (T1=100 OC; t1=5 jam), P2 (T2 =150 OC; t2 =3 jam) dan P3 (T3=200 OC; t3=1 jam). Data diproses dan diuji ANOVA untuk melihat perbedaan diantara perlakuan. Uji lanjut dilakukan dengan beda nyata terkecil (BNT) jika terdapat perbedaan signifikan pada α ≤ 5%. Karakteristik kimia produk dianalisis dengan komposisi proksimat, kadar kalsium dan kadar fosfor. Selain itu dilakukan perbandingan produk dengan standar mutu tepung tulang (SNI 01-3158-1992). Karakteristik kimia tepung tulang itik terbaik dihasilkan pada perlakuan suhu pengeringan 200 OC dan lama pengeringan 1 jam (P3) dengan rata-rata kadar air 2.88%, kadar abu 40.46%, kadar serat 0.47%, kadar protein 40.71%, kadar lemak 13.81%, kadar kalsium 1.90%, dan kadar fosfor 8.56%. Duck bone waste is still become community attention, especially in the Sidrap district, South of Sulawesi Province, because it has many ducks palekko' food stalls that produce solid waste in the form of duck bone. Processing this waste into the innovative product (done bone meal) was essential to minimize the waste. This study aimed to determine the effect of drying temperature and time on the chemical characteristics of the duck bone meal. The research method was modification the method used by [1], including washing, cutting, boiling bones, cleaning, drying, and shining. The experimental design was a completely randomized experimental design (CRD), one factorial, consisting of 3 treatments and three replications, namely P1 (T1=100OC; t1=5 hours), P2 (T2=150OC; t2=3 hours), and P3 (T3=200OC; t3=1 hour). Data were processed and tested ANOVA to see differences among treatments. If there was a significant difference among treatments at α ≤ 5%, a further test was carried out using the least significant difference (LSD). The product was characterized by proximate composition, calcium content, and phosphorus content. The analysis was also carried out to compare the bone meal quality with standard (SNI 01-3158-1992). The duck bone meal that has the best characteristics was in the treatment of 200OC and 1 hour drying time (P3) with an average result of 2.88% moisture content, 40.46% ash content, 0.47% fiber content, 40.71% protein, 13.81% fat content, 1.90% calcium content and 8.56% phosphorus content.