cover
Contact Name
Rizky Abdulah
Contact Email
r.abdulah@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
editorial@ijcp.or.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Farmasi Klinik Indonesia
ISSN : 23375701     EISSN : 2337 5701     DOI : -
Core Subject :
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy (IJCP) is a scientific publication on all aspect of clinical pharmacy. It published 4 times a year by Clinical Pharmacy Master Program Universitas Padjadjaran to provide a forum for clinicians, pharmacists, and other healthcare professionals to share best practice, encouraging networking and a more collaborative approach in patient care. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy is intended to feature quality research articles in clinical pharmacy to become scientific guide in fields related to clinical pharmacy. It is a peer-reviewed journal and publishes original research articles, review articles, case reports, commentaries, and brief research communications on all aspects of Clinical Pharmacy. It is also a media for publicizing meetings and news relating to advances in Clinical Pharmacy in the regions.
Arjuna Subject : -
Articles 540 Documents
Overview Off-label Drug Uses in Pediatric Patients at Ulin’s Hospital, Banjarmasin Kartinah, Nani; Intannia, Difa; Fitri, Nahyanti
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 3 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.307 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2014.3.3.77

Abstract

Profile of off-label drug uses in Indonesia particularly in South Borneo is yet unknown. Study of off-label drug uses is necessary because its safety and effectiveness treatment for children are not guaranteed. The purpose of this study was to identify the percentage of pediatric patients who received off-label drug, the most commonly drug that used as an off-label drug, and the percentage of off-label drug based on the criteria, including: age, dose, route of administration, and indication. This research used a prospective study. The study population on this research was patients aged a month to 18 years who is treated at Ulin’s Hospital during March to May 2013. The samples of this research were patients who received antibiotics, analgesics, and antipyretics, anti-inflammatory, antihistamine, anticonvulsant, and antiemmetic drug therapy. There was 86 people (32.58%) of the 264 patients who received an off-label drug, anti-inflammatory drug was the most commonly used as an off-label drug with 38 cases (30.64 %) of the 124 cases of an off-label drug, and based on the criteria, there was 41 cases (33,06 %) off-label of age, 45 cases (36.29%) off-label of dose, no cases off-label of route of administration, and 38 cases (30,65 %) off-label of indication. Further research is needed to determine the safety and efficacy of an off-label drug.Key words: Off-label drug, pediatrics, RSUD Ulin BanjarmasinGambaran Penggunaan Obat Off-label pada Pasien Pediatrik di Rumah Sakit Ulin, BanjarmasinPenggunaan obat off-label pada anak-anak di Indonesia khususnya Kalimantan Selatan tidak diketahui. Penelitian ini diperlukan karena tidak terdapat jaminan keamanan dan efektivitas pengobatan bagi anakanak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pasien anak yang mendapatkan obat offlabel, mengidentifikasi obat yang paling umum digunakan sebagai off-label, dan menentukan persentase obat off-label berdasarkan kriteria usia, dosis, cara pemberian, dan indikasi. Metode penelitian ini menggunakan prospektif studi. Populasi penelitian adalah pasien 1 bulan hingga18 tahun yang dirawat di RSUD Ulin pada bulan Maret hingga Mei 2013. Sampel penelitian adalah semua pasien usia 1 bulan hingga 18 tahun yang mendapat antibiotik, analgetik, dan antipiretik, antiinflamasi, antihistamin, antikonvulsan, dan antiemetik. Total pasien yang memperoleh obat off-label adalah 86 (32,58%) dari 264 pasien, golongan obat yang biasa digunakan off-label adalah antiinflamasi 38 (30,64%) dari 124 obat off-label. Jumlah obat off-label menurut kriteria usia adalah 41 (33,06%) dari 124 obat off-label, kriteriadosis 45 (36,29%), pada rute pemberian obat 0 (0%), dan kriteria indikasi 38 (30,65%). Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan keamanan dan kemanjuran obat.Kata kunci: Obat off-label, pasien anak, RSUD Ulin Banjarmasin
Stabilitas Sampel SOD-Eritrosit dan GPx-Blood dalam Masa Penyimpanan Tujuh Hari Fattah, Miswar; Anggraeni, Sra R.; Alfian, Sofa D.; Levita, Jutti; Diantini, Ajeng
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.948 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai aktivitas SOD eritrosit pada hari ke-0, 1, 3, 5, 7 dengan sentrifugasipada suhu ruangan (22,5 0C) dan pada suhu penyimpanan -80 0C, aktivitas SOD pada hari ke-0 dengan sentrifugasi pada suhu 4 0C, dan aktivitas SOD dengan inkubasi sampel whole blood selama satu hari pada suhu 2–8 0C serta aktivitas GPx hari ke-0, 1, 3, 5, 7 pada suhu penyimpanan 2–8 0C. Penelitian ini menggunakan reagen dari Randox Laboratories yang diukur pada panjang gelombang 505 nm untuk SOD dan 340 nm untuk GPx menggunakan alat Hitachi 917 dari Boehringer Mannheim. Data yang dianalisis menggunakan metode t-test menunjukkan bahwa aktivitas SOD pada hari ke-0, 1, 3, 5, dan 7 dengan sentrifugasi pada suhu ruangan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan, sedangkan pada hari ke-0 dengan sentrifugasi pada suhu 4 0C dan inkubasi sampel whole blood selama 1 hari pada suhu 2–8 0C berbeda secara signifikan. Aktivitas GPx pada hari ke-3 tidak berbeda secara signifikan, sementara aktivitas pada hari ke-0, 1, 5 dan 7 terdapat perbedaan yang signifikan.Kata kunci: Stabilitas enzim, Superoxide Dismutase (SOD), Glutathione Peroxidase (GPx) Stability of Seven Days Sample Storage of Erythrocyte’s SOD and Blood’s GPxAbstractThe research was about SOD erythrocyte activities at day 0, 1, 3, 5, and 7 which centrifuged at room temperature (22.5 0C) and storage temperature (-80 0C), SOD activities at day-0 which centrifuged at 4 0C, SOD whole blood activities with one day incubated at 2-8 0C and GPx activities at day 0, 1, 3, 5, and 7 with 2–8 0C storage temperature. Laboratory analysis were performed by using reagent from Randox Laboratories, and Hitachi 917 analyzer from Boehringer Mannheim. SOD activities were measured at 505 nm absorbance meanwhile 340 nm absorbance is used to measure GPx. Data was analyzed by using t-test method and showed that SOD activities at day 0, 1, 3, 5, and 7 with room temperature centrifuged had no significant differences. Significant differences are found at day-0 with centrifuged at 4 0C and one day incubated whole blood at 2–8 0C. GPx activities at day- 3 had no significant differences. Significant differences are found at day-0,1, 5 and 7 after storage.Key words: Enzyme stability, Superoxide Dismutase (SOD), Glutathione Peroxidase (GPx)
Kepatuhan dan Efektivitas Terapi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) Kombinasi Dosis Tetap (KDT) dan Tunggal pada Penderita TB Paru Anak di Salah Satu Rumah Sakit di Kota Bandung Kautsar, Angga P.; Intani, Tina A.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.575 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.3.215

Abstract

Pengobatan TB anak menjadi perhatian karena sulitnya menegakkan diagnosis dan kesembuhan serta dengan penggunaan OAT yang tidak efektif dan tidak sesuai aturan mengakibatkan terjadinya resistensi. OAT KDT dan tunggal merupakan pilihan terapi yang dapat diberikan pada pasien anak dimana KDT diklaim memiliki keuntungan dibandingkan OAT tunggal, namun masih sedikit publikasi mengenai efektivitas penggunaan dua jenis obat tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan OAT KDT dan tunggal terhadap kepatuhan dan efektivitas pengobatan pada penderita TB Paru anak di salah satu rumah sakit di kota Bandung periode Januari 2010–Desember 2013. Metode potong lintang digunakan dengan pengambilan data sekunder retrospektif dilakukan pada 213 penderita dengan analisis deskriptif dan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara jenis OAT (KDT dan tunggal) terhadap kepatuhan (p=0,09) dan efektivitas pengobatan (p=0,32). Sehingga dapat disimpulkan bahwa penyedia pelayanan kesehatan dapat memberikan OAT KDT atau tunggal saja walaupun KDT lebih banyak memiliki keuntungan dibandingkan dengan tunggal.Kata kunci: KDT, OAT, TB, tunggalComplience and Effectiveness of Single Tuberculosis Drugs and Fixed Dose Combination (FDC) on Pediatric Patients in a Hospital in Bandung Treatment of TB in children is a concern because of the difficulty of determining the diagnosis and healing as well as with ineffective consumption and non-adherence result in drug-resistant TB. The FDC and single TB drugs are the option that can be administered in pediatric patients where FDC is claimed to have advantages over single, nevertheless a few publication on the effectiveness of the use of two drugs. The purpose of this study is to determine the relationship FDC and single TB drugs on compliance and effectiveness of treatment TB pulmonary in children in a hospital in Bandung period January 2010 until December 2013. The method used by the cross-sectional retrospective collection of secondary data conducted in 213 patients with descriptive analysis and Chi-Square. The results showed that no difference between the types of TB drugs for compliance and effectiveness of treatment. It can be concluded that health care providers can provide FDC or single although FDC well-known have more advantages over single.Keywords: FDC, TB drugs, TB, single
Antagonis Reseptor Arginine Vasopressin: Harapan Baru dalam Penanganan Hiponatremia pada Pasien Gagal Jantung Saepudin, Saepudin
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.29 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.2.129

Abstract

Pasien gagal jantung merupakan salah satu kelompok pasien yang memiliki risiko tinggi mengalami hiponatremia. Selain masalah diagnosis, permasalahan terapi juga banyak dijumpai dalam penanganan hiponatremia. Di tengah minimnya hasil uji klinis terapi konvensional untuk penanganan hiponatremia, hasil uji klinis obat-obat golongan antagonis reseptor arginine vasopressin atau yang dikenal dengan golongan vaptan membawa harapan baru untuk penanganan hiponatremia pada pasien gagal jantung. Tulisan ini merupakan hasil telaah pustaka terhadap artikel-artikel hasil penelitian dan pengkajian yang relevan yang ditelusuri dengan menggunakan kata kunci heart failure, hyponatremia, argininevasopressin, arginine-vasopressin receptor antagonist dan vaptan. Hasil uji klinis golongan vaptan pada pasien gagal jantung menunjukkan bahwa obat-obat tersebut secara efektif meningkatkan kadar natrium dalam darah dengan efek samping ringan yang umumnya dapat ditoleransi. Berdasarkan hasil uji klinis, conivaptan dan tolvaptan disetujui oleh Food and Drug Administration di Amerika untuk digunakan dalam penanganan hiponatremia pada pasien gagal jantung. Namun, banyak pakar mengajukan pertanyaan kritis terhadap hasil uji klinis obat-obat golongan vaptan ini dan masih meragukan penggunaannya untuk penanganan hiponatremia. Tulisan ini mengulas secara ringkas tentang hiponatremia pada pasien gagal jantung dan peran hormon arginine vasopressin (AVP), aspek farmakologi dan hasil uji klinis beberapa obat golongan vaptan, serta beberapa pertanyaan yang masih tersisa dari hasil uji klinis obat-obat tersebut.Kata kunci: Antagonis arginine vasopressin, arginine vasopressin, gagal jantung, hiponatremia, vaptanArginine-Vasopressin Receptor Antagonists: A New Hope for Treatment of Hyponatremia in Patients with Heart FailureHyponatremia is an important problem in patients with heart failure. It has also been known as a predictor both of short and long-term clinical outcome of heart failure patients. While evidences of clinical efficacy and safety of conventional options for treatment of hyponatremia resulted from clinical trials are very limited, several clinical trials have been conducted to evaluate the efficacy and safety of arginine vasopressin antagonists or also known as vaptan group. This paper reviews hyponatremia in patients with heart failure and the important roles of arginine vasopressin in its development, pharmacological aspects and clinical trials outcomes of some vaptans and several questions emerged from those clinical trials. Relevant research papers, reviews, and website information have been searched and included in this review using keyword of heart failure, hyponatremia, arginine-vasopressin, arginine-vasopressin receptor antagonist and vaptan. Generally, clinical trials have highlighted the efficacy and safety of vaptan groups in the management of hypervolemic hyponatremia in patients with heart failure. Those drugs can effectively increase serum sodium level with tolerable adverse reactions. Based on those clinical data two drugs of vaptan group, conivaptan and tolvaptan, have been approved by Food and Drug Administration in The United States to be used for the treatment of euvolemic and hypervolemic hyponatremia. However, many experts are still hesitant to recommend vaptans as treatment of choice for hyponatremia due to the lack of patients-focused outcomes measurements.Keywords: Arginine vasopressin antagonist, heart failure, hyponatremia, vaptan
Analisis Peresepan Obat Anak Usia 2–5 Tahun di Kota Bandung Tahun 2012 Pratiwi, Ami A.; Sinuraya, Rano K.
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.821 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2014.3.1.18

Abstract

Penggunaan obat yang tidak rasional dapat menyebabkan kesalahan dalam pengobatan atau timbulnya efek samping yang tidak diinginkan. Kebijakan Obat Nasional (KONAS) telah mengembangkan kebijakan obat umum yang mengikat semua pelaku farmasi di Indonesia agar penggunaan obat dapat dilakukan secara rasional. Untuk mengembangkan strategi yang efektif dalam mengatasi penggunaan obat tidak rasional, maka perlu diketahui sejauh mana tingkat masalahnya, salah satunya melalui Indikator Peresepan yang telah ditetapkan oleh World Health Organization (WHO). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola peresepan obat pada anak usia 2 hingga 5 tahun di 14 Apotek Kota Bandung periode 2012 melalui indikator peresepan. Data yang digunakan sebanyak 2.195 lembar resep dari 14 Apotek Kota Bandung diambil secara retrospektif dan diolah berdasarkan indikator peresepan WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah obat rata-rata dalam setiap lembar resep 3,54 item; persentase pasien yang menerima obat injeksi 0%; persentase pasien yang menerima antibiotik 75%;persentase obat yang diresepkan dengan nama generik 8,13% dan persentase obat yang diresepkan sesuai dengan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) adalah 32,9%. Dengan demikian dapat disimpulkan pola peresepan obat anak usia 2–5 tahun di Kota Bandung pada tahun 2012 adalah jumlah item obat rata-rata yang diresepkan masih tinggi jika dibandingkan dengan standar WHO dan KONAS; peresepan injeksi di apotek tidak ada; persentase pasien yang menerima antibiotik jauh lebih tinggi dengan data WHO untuk penggunaan antibiotik di negara berkembang; peresepan obat generik lebih rendah daripada data WHO; dan peresepan obat yang sesuai dengan DOEN masih lebih rendah daripada data KONAS.Kata kunci: Indikator peresepan, pediatrik, penggunaan obat rasionalPrescribing Analysis for 2–5 Years Old Children in Bandung During Year 2012Despite the fact that irrational use of drugs will give medication errors effect or cause the unwanted side effects. The National Drug Policy (KONAS) has developed drug policies that involve all stake-holders in Indonesia in order to minimize the irrational drug use. This study aims to analyze drug prescribing for 2–5 years old children in 14 pharmacies in Bandung during 2012. Approximately 2,195 prescription sheets from 14 pharmacies in Bandung were collected and analyzed by using prescribing indicators from the World Health Organization (WHO). We found an average number of 3.54 drugs in a prescriptionsheet. We also found that 75% and 0% of all patients received antibiotics and injection, respectively. In particular, approximately 8% and 33% of all prescribed drugs were included in generic drug list and National List of Essential Medicines (DOEN), respectively. Based on data from the WHO and KONAS, it can be interpreted that the average number of drugs in a prescription-sheet is still high and the use of antibiotics is significantly higher compared to the use of antibiotics in other developing countries. Also,we summarized that the use of drugs according to generic drug list and DOEN are still low.Key words: Pediatric, prescribing indicators, rational use of medicine
Effect of Counseling on Health Related Quality of Life on Haemodialysis Patients Sivakumar, Ramakrishanan; Stephen, Merin M.; Sreedas, Sreedas; Joseph, Rajesh
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.719 KB)

Abstract

End stage renal disease affects two million patients worldwide. Health related quality of life (HRQoL) has recently become a major indicator of health and well-being of patients with kidney disease. The present goal for the treatment of patients with ESRD is not simply to prolong life, but also to provide a better HRQoL. This goal can be achieved through patient counseling. A simple prospective study was used to examine the effect of patient counseling on HRQoL of hemodialysis patients. In the study, a Short Form-36 (SF-36) questionnaire and clinical parameters were used for 52 hemodialysis patients to assess the HRQoL before and after patient counseling. All the Patients were kept under observation for a period of three months to study the effect of patient counseling. After three months period of counseling a significant (p<0.05) improvement was observed for hemodialysis patients. Also HRQoL score was higher for hemodialysis patients after counseling. This study concluded that knowledge of the disease and its management through patient counseling could improve the HRQoL of hemodialysis patients.Key words: Chronic renal failure, patient education, quality life improvement Pengaruh Konseling terhadap Health Related Quality of Life pada Pasien HemodialisisAbstrakPenyakit ginjal pada stadium akhir (End Stage Renal Disease/ESDR) memengaruhi dua juta pasien di seluruh dunia. Saat ini health related quality of life (HRQoL) telah menjadi indikator utama kesehatandan kesejahteraaan pasien dengan penyakit ginjal. Tujuan pengobatan pasien ESDR tidak hanya untukmemperpanjang usia harapan hidup namun juga untuk menyediakan HRQoL yang lebih baik. Tujuan ini dapat dicapai melalui konseling pasien. Sebuah studi prospektif dilakukan untuk menguji pengaruh dari konseling pasien pada HRQOL dari pasien hemodialisis. Dalam studi ini, sebuah kuesioner Short Form-36 (SF-36) dan parameter klinik digunakan pada 52 pasien hemodialisis untuk menilai HRQOL sebelum dan sesudah konseling. Seluruh pasien diamati dalam jangka waktu tiga bulan untuk mempelajari pengaruh konseling tersebut. Setelah tiga bulan proses konseling diperoleh peningkatan nilai HRQoL yang signifikan (p <0,05) pada pasien hemodialisis. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan tentang penyakit dan manajemen melalui konseling pasien bisa meningkatkan HRQoL pada pasien hemodialisis.Kata kunci: Gagal ginjal kronis, edukasi pasien, peningkatan kualitas hidup
Mutasi Gen blaCTX-M sebagai Faktor Risiko Penyebab Resistensi Antibiotik Kang, Devinna; Sinuraya, Rano K.; Rostinawati, Tina; Abdulah, Rizky
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1385.361 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.2.135

Abstract

Saat ini, lebih dari setengah antibiotik yang digunakan di dunia merupakan kelompok β-laktam namun efektivitas klinis antibiotik tersebut kini terbatas karena resistensi antibiotik terhadap mikroorganisme penyebab penyakit infeksius. Beberapa mekanisme resistensi terhadap Enterobacteriaceae terutama disebabkan karena hidrolisis antibiotik oleh enzim spesifik, yang disebut dengan β-laktamase. Enzim β-laktamase menunjukkan kelompok besar enzim yang berbeda secara genetik dan fungsional yaitu extended-spectrum β-lactamase (ESBL) yang diketahui menimbulkan ancaman resistensi yang serius. Lokalisasi plasmid dari gen yang disandi terhadap distribusi enzim pada patogen meningkat setiap tahunnya. ESBL yang memiliki penyebaran yang luas dan relevan secara klinis adalah ESBL kelas A yaitu jenis Temoniera (TEM), Sulphydryl variable (SHV) dan Cefotaxime (CTX-M). Tujuan penulisan review ini adalah untuk mengkaji varian gen blaCTX-M yang banyak menyebabkan peningkatan resistensi antibiotik. Metode yang digunakan pada review ini yaitu penelusuran data berbasis Pubmed, Scopus dan Google Scholar tanpa pembatasan indeks faktor dengan kata kunci "blaCTX-M", "Extended-spectrum β-lactamase", dan "antibiotic resistance". Kesimpulan dari review ini yaitu, ESBL jenis CTX-M telah menggantikan jenis TEM dan SHV secara dominan pada dekade terakhir. ESBL yang dihasilkan oleh Klebsiella pneumoniae diketahui muncul sebagai salah satu patogen nosokomial utama. Infeksi nosokomial yang disebabkan oleh CTX-M-15 pada Klebsiella pneumoniae mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir ini.
Revitalisasi Manajemen Sediaan Farmasi sebagai Upaya Peningkatan Kepuasan Pelanggan Rawat Jalan pada Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Kota Bandung Nabilla, Nabilla; Surahman, Emma
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.622 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.1.49

Abstract

waktu yang tepat. Oleh karena itu, rumah sakit membutuhkan sistem manajemen farmasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pelanggan dan merevitalisasi manajemen sediaan farmasi di Rumah Sakit (RS) A untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Jenis penelitian yang digunakan adalah mixed method dengan pendekatan potong lintang. Penelitian kuantitatif menggunakan metode survei dengan kuesioner yang dianalisis dengan Partial Least Square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan tanggapan karyawan IFRS terhadap manajemen sediaan farmasi di RS A berada pada kategori sangat baik (88,7%) dan tanggapan pelanggan terhadap manajemen sediaan farmasi di RS A pada kategori puas (75,1%). Pendekatan kualitatif menggunakan metode wawancara kepada kepala IFRS serta kepala unit pelayanan farmasi rawat jalan dan gudang farmasi. Manajemen sediaan farmasi di rumah sakit A sudah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan pemerintah, akan tetapi masih perlu perbaikan di setiap kegiatan manajemen sediaan farmasi. Oleh karena itu, revitalisasi manajemen sediaan farmasi diperlukan sebagai upaya peningkatan kepuasan pelanggan.Kata kunci: Kepuasan pelanggan, manajemen sediaan farmasi, revitalisasiRevitalization of Pharmaceutical Supply Management as an Effort to Increase Outpatient Customer Satisfaction in One of Private Hospital in BandungHospital pharmacies are required to provide appropriate pharmaceutical preparation. Therefore, hospital needs good pharmacy management system. The aims of this study was to analyze customer satisfaction and revitalization of pharmaceutical management in hospital A to improve customer satisfaction. This study was used cross sectional study with quantitative and qualitative approaches. Quantitative approach used survey method with questionnaires and data was analyzed by Partial Least Square (PLS). The results showed that the response to the IFRS employees of pharmaceutical management in hospital A had a very good categories (88.7%) and customer responses to pharmaceutical supply management in hospital A in the category satisfied (75.1%). A qualitative approach using interviews with the head of the hospital pharmacy as well as the head unit of the outpatient pharmacy services and pharmacy warehouse. Pharmaceutical management in hospital A is appropriate to the standards by the government, but still needs improvement in pharmaceutical management. Therefore, revitalization of pharmaceutical management is needed as an effort to increase customer satisfaction.Key words: Customer satisfaction, pharmaceutical management, revitalization
Peningkatan Pelayanan Informasi Obat bagi Pasien Diabetes Melitus Hartayu, Titien S.; Widayati, Aris; Wijoyo, Yosef
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 2, No 3 (2013)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (584.27 KB)

Abstract

Penelitian ini ditujukan untuk meningkatkan pelayanan KIE melalui eksplorasi pandangan pasien DM terkait kebutuhan mendasar tentang informasi obat untuk penyakit DM dan pandangan apoteker terhadap peran dan tanggung jawabnya dalam layanan KIE bagi pasien DM.Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan di Yogyakarta dengan responden pasien DM yang pernah menebus resep di apotek dan Apoteker Pengelola Apotek (APA) atau Apoteker pendamping(Aping). Pemilihan responden dilakukan dengan teknik non-random convenience. Data diambil dengan teknik wawancara mendalam terhadap responden yang memenuhi kriteria inklusi dan bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini. Data kualitatif hasil wawancara dianalisis secara content-analysis. Wawancara dilakukan terhadap 17 pasien DM dan 7 Apoteker. Hasil wawancara terhadap pasien DM menunjukkan bahwa layanan KIE dari apotek selama ini belum optimal dan masih banyak informasi yang sebetulnya dibutuhkan dan diharapkanbelumdiperoleh. Dari pihak Apoteker, menyatakan bahwa belum optimalnya pelaksanaan KIE bagi pasien DM disebabkan oleh beban tugas pada aspek menejerial apotek dan kurangnya akses sumber informasi terkait DM untuk mendukung pelaksanaan layanan KIE.  Oleh karena itu, upaya peningkatan layanan KIE bagi pasien DM harus terus dilakukan.Kata kunci: Informasi obat, KIE, diabetes melitus, studi kualitatif Drug Information Service Improvement for Patients of Diabetes MellitusThe aim of the study is to explore the needs of patients regarding information about DMSM that will lead to improve patient’s knowledge, attitude and practice on DMSM and also to explore the view of pharmacists on their role and responsibility in providing patients information and education about DMSM. This is an observational study with a qualitative approach, which was conducted in Yogyakarta.People with DM and caregiver who purchased prescriptions in a pharmacy; and pharmacists who work in community pharmacy are involved in the study. They were selected using a non-random convenience sampling technique. Data were collected using in depth interviews and then were analysed using a content analysis technique. Seventeen DM patients and seven pharmacists were interviewed. The patients stated that DMSM information provided by pharmacist is not sufficient yet. They expected more indepthinformation regarding DMSM. Based on Pharmacist’s point of view, an overload of managerial works and lack of access on reliable sources of information of DMSM are seen as the main barriers to provide sufficient information and education on DMSM. In conclusion, efforts to improve quality ofinformation and education provision regarding DMSM for patients are urgently required.Key words: Information and education, KIE, diabetes mellitus, qualitative study
Perbandingan Efektivitas Ampisilin dengan Ampisilin-Gentamisin pada Pasien Balita dengan Pneumonia California, Salma H.; Sinuraya, Rano K.; Halimah, Eli; Subarnas, Anas
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.153 KB) | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.1.52

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian anak usia di bawah lima tahun (balita) di dunia. Terapi antibiotik untuk pneumonia biasanya dipilih secara empirik karena mikroorganisme penyebab pneumonia belum dapat diketahui saat diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas terapi antibiotik empirik pneumonia dengan menggunakan ampisilin tunggal maupun dikombinasikan dengan gentamisin pada balita yang dirawat dengan pneumonia di salah satu rumah sakit di kota Bandung pada tahun 2013–2015. Metode penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan pengambilan data sekunder secara retrospektif. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square, uji Fisher, dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan efektivitas antara pasien yang diterapi menggunakan ampisilin maupun ampisilin-gentamisin dari parameter perbaikan batuk (p=0,381), sesak (p=0,294), demam (p=0,405), maupun laju pernapasan (p=0,306), namun terdapat perbedaan pada lama hari rawat (p<0,001). Tidak adanya perbedaan efektivitas pada parameter perbaikan gejala (sesak dan batuk) dan tanda (suhu tubuh dan laju pernapasan) tersebut dapat menjadi dasar untuk rekomendasi penggunaan ampisilin tunggal sebagai pilihan terapi utama pada pasien pneumonia balita. Selain pertimbangan efektivitas terapi, pemberian terapi antibiotik harus memperhatikan aspek lain seperti pola kepekaan bakteri, risiko efek samping pada pasien, serta efektivitas biaya.Kata kunci: Anak, antibiotik, efektivitas, pneumonia, terapi empirik Effectiveness of Ampicillin and Ampicillin-Gentamicin for Children under Five Years Old with PneumoniaPneumonia was one of the main causes of mortality in children aged under five years old. Empirical antibiotic therapy was usually selected in pneumonia because the microorganisms have not been known at diagnosis. The purpose of this study was to compare the effectiveness of empirical antibiotic therapy using ampicillin or ampicillin-gentamicin for children aged under five years old with pneumonia at one hospital in Bandung in period of 2013–2015. The method used in this study was cross-sectional method with retrospective data collection. Collected data were analyzed using Chi-Square, Fisher, and Mann-Whitney methods. The results showed that there was no difference in effectiveness between patients treated with ampicillin and ampicillin-gentamicin from improvement of cough (p=0.381), shortness of breath (p=0.294), fever (p=0.405), and respiratory rate (p=0.306) parameters but there was a difference in length of stay (p<0.001). Therefore, it might be the basis for the use of a single ampicillin as a primary treatment option in pneumonia for children aged under five years old. In addition, antibiotic therapy should consider other aspects such as bacterial susceptibility patterns, the risk of side effects in patients, as well as cost effectiveness.Keywords: Antibiotic, children, effectiveness, empirical therapy, pneumonia

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 3 (2025) Vol 14, No 2 (2025) Vol 14, No 1 (2025) Vol 13, No 3 (2024) Vol 13, No 2 (2024) Vol 13, No 1 (2024) Vol 12, No 3 (2023) Vol 12, No 2 (2023) Vol 12, No 1 (2023) Vol 11, No 4 (2022) Vol 11, No 3 (2022) Vol 11, No 2 (2022) Vol 11, No 1 (2022) Vol 10, No 4 (2021) Vol 10, No 3 (2021) Vol 10, No 2 (2021) Vol 10, No 1 (2021) Vol 9, No 4 (2020) Vol 9, No 3 (2020) Vol 9, No 2 (2020) Vol 9, No 1 (2020) Vol 8, No 4 (2019) Vol 8, No 3 (2019) Vol 8, No 2 (2019) Vol 8, No 1 (2019) Vol 7, No 4 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 3 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 2 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 7, No 1 (2018) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 4 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 3 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 2 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 6, No 1 (2017) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 4 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 3 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 2 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 5, No 1 (2016) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 4 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 3 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 2 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 4, No 1 (2015) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 4 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 3 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 2 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 3, No 1 (2014) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 4 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 3 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 2 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 2, No 1 (2013) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 4 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 3 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 2 (2012) Vol 1, No 1 (2012) Vol 1, No 1 (2012) More Issue