cover
Contact Name
Rachma Wikandari
Contact Email
rachma_wikandari@mail.ugm.ac.id
Phone
+6285712601130
Journal Mail Official
agritech@ugm.ac.id
Editorial Address
Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Jl. Flora No. 1, Bulaksumur, Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
agriTECH
ISSN : 02160455     EISSN : 25273825     DOI : 10.22146/agritech
Core Subject : Agriculture,
Agritech with registered number ISSN 0216-0455 (print) and ISSN 2527-3825 (online) is a scientific journal that publishes the results of research in the field of food and agricultural product technology, agricultural and bio-system engineering, and agroindustrial technology. This journal is published by Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta in colaboration with Indonesian Association of Food Technologies (PATPI).
Articles 14 Documents
Search results for , issue "Vol 41, No 4 (2021)" : 14 Documents clear
Optimasi Sintesis Hydroxypropyl Methyl Cellulose (HPMC) dari Kulit Koro Pedang Putih (Canavalia ensiformis L. (DC) Yanti Nopiani; Agnes Murdiati; Widiastuti Setyaningsih
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.309 KB) | DOI: 10.22146/agritech.42926

Abstract

Kulit koro pedang putih dapat digunakan sebagai sumber selulosa. Salah satu alternatif untuk meningkatkan aplikasi selulosa adalah dengan memodifikasi selulosa menjadi produk turunan selulosa yaitu Hydroxypropyl Methyl Cellulose (HPMC). Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan optimasi terhadap sintesis dan karkaterisasi HPMC dari selulosa kulit koro pedang putih. Proses optimasi didahului dengan kajian literatur untuk menentukan kisaran titik percobaan dengan variabel terikat berupa molar subtitusi (MS) dan Derajat Subtitusi (DS). Diperoleh titik percobaan dengan variasi konsentrasi NaOH (5, 22,5, dan 40%), variasi Dimetil Sulfat (DMS) (40, 80, dan 120%), dan variasi Proilen Oksida (PO) (80, 120, dan 160%). Kemudian optimasi sintesis HPMC dilakukan dengan mengunakan Box-Behnken design (BBD) lalu dianalisis menggunakan Response Surface Methodology (RSM) Berikutnya HPMC dikarakterisasi meliputi molar subtitusi (MS), Derajat Subtitusi (DS), water holding capacity (WHC), oil holding capacity (OHC), lightness, rendemen, kristalinitas dan spektra FT-IR untuk mengetahui gugus fungsi HPMC. Hasil optimasi sintesis HPMC dari selulosa kulit koro pedang putih berdasakan RSM diperoleh titik optimum pada konsentrasi NaOH 23,11%, DMS 43,4% dan PO 81,8%. dengan karakterisasi kadar air 9,04% (wb); MS 0,15; DS 1,18; WHC 2,20 g/g; OHC 2,09 g/g; lightness 90,93; rendemen 114,78% dan kristalinitas 64%. Spektra FT-IR HPMC koro pedang putih terbaca pada bilangan gelombang 2924 cm-1 (CH dan CH2 Streching), 1373 cm-1 (CH3 Bonding), 1118 cm-1 (C-O-C), 1319 cm-1 (O-H Plane Bonding) dan 848, 68 cm-1 (C-O-C pada 1,4 β glikosidic linkage) yang merupakan ciri khas dari gugus fungsional HPMC.
Pengaruh Penambahan Fibercreme® terhadap Karakteristik Fisik dan Sensoris serta Kadar Serat Pangan Beras Pra Tanak Agatha Arissa Chintyadewi; Yustinus Marsono; Priyanto Triwitono
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.187 KB) | DOI: 10.22146/agritech.42962

Abstract

Pencegahan peningkatan prevalensi DM tipe 2 di Indonesia dapat dilakukan dengan mengatur pola makan dengan mengkonsumsi makanan yang tinggi serat pangan dan pati resisten. Beras merupakan bahan makanan pokok di Indonesia yang memiliki kandungan serat pangan dan pati resisten relatif rendah. Peningkatan serat pangan dan pati resisten pada beras dapat dilakukan melalui proses pratanak dan dikombinasikan dengan penambahan fibercreme. Proses retrogradasi yang terjadi pada pati beras saat melalui proses pratanak mampu meningkatkan pati resisten pada beras. Serta adanya interaksi antara kandungan amilosa pada beras dengan lemak pada fiberceme dapat menghasilkan kompleks amilosa-lipid yang disebut sebagai pati resisten tipe 5 (RS5). Penambahan fibercreme  yang merupakan non-dairy creamer dengan kandungan oligosakarida yang tinggi dapat meningkatkan kadar serat pangan pada beras pratanak. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan dua jenis fibercreme yaitu fibercreme-inulin dan fibercreme-IMO dengan konsentrasi 3,23%; 6,45% dan 12,9% pada proses pratanak terhadap kadar pati resisten dan serat pangan serta karakteristik fisik dan sifat sensoris beras pratanak. Penelitian ini dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Hasil penelitian menunjukkan penambahan fibercreme-inulin dan fibercreme-IMO maisng-masing dengan konsentrasi 12,9% meningkatkan kadar pati resisten sebesar 28,5% dan 32,64%, kadar serat pangan sebesar 64,74% dan 64,88%; menurunkan kadar amilosa masing-masing 23,73% dan 15,52%. Perlakuan tersebut tidak mempengaruhi tekstur beras pratanak tetapi menurunkan WHC dan bulk density beras pratanak. Penambahan fibercreme juga meningkatkan penerimaan beras pratanak dengan skor tertinggi terdapat pada beras pratanak dengan penambahan fibercreme-inulin pada kosentrasi 12,9%.
Karakteristik sifat Fisik Kimia dan Organoleptik Tiwul Instan Protein Tinggi Bersubtitusi Tepung Koro Pedang (Canavalia ensiformis L.) Herlina Herlina; Triana Lindriati; Nurhayati Nurhayati; Sulistyani Sulistyani; Manik Nur Hidayati; Elok Sri Utami; Siswoyo Soekarno
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.44 KB) | DOI: 10.22146/agritech.44573

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh persentase subtitusi tepung koro pedang pada pembuatan tiwul instan protein tinggi terhadap karakteristik fisik, kimia dan organoleptik tiwul instan dan menentukan persentase subtitusi tepung koro pedang yang tepat sehingga dihasilkan tiwul instan yang disukai. Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktor tunggal, yaitu persentase subtitusi tepung koro pedang pada pembuatan tiwul instan dan setiap perlakuan dalam penelitian diulang 3 (tiga) kali. Data pengamatan yang didapatkan dianalisis menggunakan uji keragaman (ANOVA) taraf kepercayaan 95% (α≤0,05) dan apabila ada perbedaan yang nyata antar perlakuan (α≤0,05) dilanjutkan dengan uji beda Duncan. Data uji organoleptik dianalisis menggunakan uji chi-square (α≤0,05). Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa peningkatan persentase subtitusi tepung koro pedang menyebabkan peningkatan daya rehidrasi, daya kembang dan kadar protein tiwul instan protein tinggi, namun menyebabkan penurunan terhadap densitas kamba, kecerahan warna dan  kadar air tiwul instan protein tinggi yang dihasilkan. Uji organoleptik kesukaan panelis didapatkan persentase tertinggi pada perlakuan P3 (persentase subtitusi tepung koro pedang 30% ) dengan atribut memiliki daya rehidrasi 347%, densitas kamba 0,51 g/mL, daya kembang 35,14%, kecerahan warna 69,87, kadar air 6,05%, dan kadar protein 8,15%, serta persentase kesukaan warna, aroma, rasa, tekstur, dan kekenyalan berturut turut 56, 40, 62, 68, dan 64%.
Pengaruh Suhu Wet Rendering yang Berbeda terhadap Karakteristik Ekstrak Kasar Minyak Ikan Lele (Clarias sp.) Magdalena Januasni Jati Martins; Lukita Purnamayati; Romadhon Romadhon
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.201 KB) | DOI: 10.22146/agritech.49875

Abstract

Pengolahan minyak isi perut ikan lele dapat meningkatkan nilai ekonomi limbah ikan lele. Wet rendering merupakan metode yang sering digunakan untuk mengekstrak minyak ikan. Metode ini menggunakan panas dan air untuk membantu proses ekstraksi. Perlakuan suhu bertujuan untuk menggumpalkan protein dan merusak membran sel sehingga minyak dapat terekstrak keluar. Adanya air memudahkan pemisahan karena minyak yang terekstrak akan mengapung pada permukaan. Penggunaan suhu ekstraksi berpengaruh terhadap kualitas minyak ikan yang dihasilkan. Suhu ekstraksi yang tinggi menyebabkan penurunan kualitas minyak akibat terjadinya reaksi oksidasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh suhu ekstraksi wet rendering terhadap karakteristik ekstrak kasar minyak isi perut ikan lele dan mengetahui suhu ekstraksi optimum berdasarkan karakteristik ekstrak minyak isi perut ikan lele yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor yaitu perbedaan suhu ekstraksi wet rendering (80°C, 90°C dan 100°C) dengan tiga kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu ekstraksi menghasilkan minyak isi perut ikan lele dengan rendemen yang semakin meningkat. Namun, kualitas minyak ikan semakin menurun yang ditunjukkan dengan meningkatnya asam lemak bebas dan angka peroksida, yang berakibat pada penurunan nilai organoleptik, perubahan profil asam lemak dan slip melting point. Suhu 100°C merupakan suhu ekstraksi terbaik dengan nilai organoleptik 7,87; rendemen 8,57%; slip melting point 37,53˚C; bilangan iod 16,01%; total SFA 42,9%; MUFA 31,8%; PUFA 11,51%; angka asam lemak bebas 2,00%; kadar air 0,56%; dan bilangan peroksida 7,26 meq/kg.
Potensi Limbah Cair Batik sebagai Sumber Bioenergi (Studi Kasus di UKM Batik Blimbing Malang) Nur Hidayat; Martasari Beti Pangestuti; Reny Nurul Utami; Sri Suhartini
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (16.147 KB) | DOI: 10.22146/agritech.54099

Abstract

Batik merupakan salah satu produk kebanggaan bangsa Indonesia, yang umumnya diproduksi oleh usaha kecil menengah (UKM). Peningkatan permintaan batik mendorong adanya peningkatan jumlah UKM batik serta jumlah limbah cair batik yang dihasilkan. Masih banyak UKM batik yang membuang limbah cairnya langsung ke lingkungan yang berpotensi menimbulkan pencemaran pada tanah dan air. Hal ini disebabkan oleh belum adanya fasilitas pengolahan limbah yang memadai, sesuai dengan kondisi yang dialami oleh UKM Batik Blimbing Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi pengolahan limbah cair batik secara anaerobik untuk memproduksi biogas sebagai sumber energi terbarukan. Pada penelitian ini digunakan teknologi anaerobic digestion yang dioperasikan secara batch dengan kondisi mesofilik (37 °C) tanpa pengadukan, dikenal sebagai uji biochemical methane potential (BMP) dengan waktu pengamatan selama 28 hari. Sampel yang diuji meliputi penambahan 100% limbah cair batik dengan berbagai variasi volume. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah cair batik memiliki kandungan bahan pencemar organik yang tinggi, yaitu sebesar 8.651 mg/L (BOD) dan 54.700 mg/L (COD). Hasil uji BMP juga menunjukkan rendahnya biogas yang dapat diproduksi dari limbah cair batik. Kondisi ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain tingginya kandungan COD, ammonia, zat pewarna beracun, dan nisbah C/N yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan mikroorganisme.
Modifikasi Pati Ubi Kelapa Kuning Metode Presipitasi Menggunakan Beberapa Tingkat Suhu Serta Aplikasinya Untuk Edible Film Ulyarti Ulyarti; Rindo Amnesta; Rahayu Suseno; Nazarudin nazarudin
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.958 KB) | DOI: 10.22146/agritech.54150

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan suhu proses modifikasi pati menggunakan metode presipitasi yang dapat menghasilkan pati ubi kelapa kuning modifikasi dengan ukuran paling kecil serta untuk mengetahui karakteristik edible film yang dibuat dengan penambahan pati modifikasi. Penelitian ini dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap modifikasi pati ubi kelapa kuning dengan metode presipitasi dan tahap pembuatan 2 jenis edible film yaitu edible film dari pati alami dan dari gabungan pati alami dan pati modifikasi hasil penelitian tahap pertama. Pada tahap modifikasi pati digunakan 4 taraf suhu yaitu 70 °C, 80 °C, 90 °C dan 100 °C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemanasan pada suhu 100 °C menghasilkan pati ubi kelapa modifikasi dengan ukuran partikel pati terkecil yakni dari 1,82 sampai 21,93 µm. Edible film dengan penambahan patimodifikasi memiliki karakteristik yang berbeda dengan edible film pati alami saja dengan karakteristik ketebalan yang lebih tinggi yakni 0,117±0,027 mm, kelarutan lebih rendah (17,36±1,56%), nilai transparansi lebih rendah (10,92±2,27%/mm), nilai WVTR yang lebih rendah (161,9±39,1 g/mm.m2.jam) dan nilai kuat tekan lebih tinggi (802,48±2,23 gF) dibandingkan edible film berbahan dasar pati alami saja.
Characterization of Old Nipah (Nypa fruticans Wurmb) Fruit Endosperm Flour and Its Application for Gluten-Free Cookies Risa Nofiani; Jorion Romengga; Titin Anita Zaharah
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.728 KB) | DOI: 10.22146/agritech.55307

Abstract

Old nipah fruit endosperms (ONFEs) contain high carbohydrates that have a potency to be applied to make flour. In this study, we made flour from ONFEF and its cookies. This study aimed to characterize the functional properties of unbleached and bleached old nipah fruit endosperm flour (UONFEF and BONFEF) and to assess the consumer acceptability of ONFEF flour and gluten-free cookies made from UONFEF and BONFEF. UONFEF and BONFEF were prepared from the ONFEs. They were cut, dried and ground, and sieved to obtain the UONFEF. TheUONFEF was bleached using Na2S2O5 0.4% for 15 mins then filtered, and the precipitates were dried under the sun. The dried precipitates were sieved to obtain the BONFEF. Both of the flour types were analyzed in terms of their functional properties (bulk density, swelling power, solubility, swelling capacity, water absorption index, and viscosity) and were used to make gluten-free cookies. The following ingredients were prepared to make the the gluten-free cookies: 200 g of flour (each of the UONFEF, BONFEF, and commercial wheat flour (CWF, Segitiga Biru brand) as a control), 100 g of margarine, 60 g egg, 125 g of fine granulated sugar, and 2 g of vanillin. Margarine, egg, and fine granulated sugar were mixed using a hand mixer and added with the flour, blended, molded, then baked. Consumer’s acceptability of each type of flour and cookies from different types of flour was evaluated using semi-trained panelists. The bleached treatment (the BONFEF) caused differences of the flour, particularly in terms of the physical properties (particle size, color, and odor) from the unbleached treatment and rated thehighest score for the overall criteria. Besides, the functional properties of the UONFEF were significantly different (p < 0.05) from those of the BONFEF except for the rendement, SP, and viscosity. The gluten-free cookie made from the UONFEF was the most preferred by the panelists. Therefore, the UONFEF can be successfully used as a substitute flour of wheat flour to make cookies.
Karakteristik Fisiko-kimia , Organoleptik, dan Kandungan Gizi Mayones Minyak Buah Merah (Pandanus conoideus) Zita Letviany Sarungallo; Budi Santoso; Mathelda Kurniaty Roreng; Ester Papuani Yantewo; Indah Epriliati
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.885 KB) | DOI: 10.22146/agritech.55328

Abstract

Mayones adalah produk nabati berbasis minyak dalam bentuk emulsi minyak semi-padat dalam air (o/w). Oleh karena itu, penggunaan berbagai jenis minyak dapat mempengaruhi sifat fisik dan penerimaan dari mayones. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat penerimaan panelis terhadap mayones yang terbuat dari beberapa jenis minyak yaitu minyak buah merah kasar (MBMK), minyak buah merah hasil degumming (MBMD), minyak wijen dan minyak sawit (sebagai pembanding), serta karakteristik fisikokimia dan organoleptiknya. Mayones dibuat menggunakan rasio minyak dan air 35:40 sesuai dengan jenis minyak, dengan bahan aditif lainnya yaitu kuning telur, pati jagung, selulosa karboksimetil, mustard, cuka, gula dan garam. Parameter mayones yang diamati adalah kadar air, viskositas, stabilitas emulsi, dan sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur, dan tingkat penerimaan secara keseluruhan), serta kandungan gizi dan bahan aktif (total karotenoid dan tokoferol). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mayones minyak buah merah memiliki karakeristik fisik yaitu berwarna merah-oranye, beraroma khas buah merah, stabil 3-6 hari penyimpanan pada suhu ruang, dengan viskositas 127-167 d.Poise. Penggunaan MBMD dapat meningkatkan stabilitas emulsi, viskositas dan tingkat kesukaan panelis terhadap warna, aroma dan rasa, tekstur dan penerimaan keseluruhan mayones; panelis menyukai mayones dengan aroma khas buah merah (original), tidak berbeda dengan aroma minyak wijen. Mayones minyak buah merah (MBMK dan MBMD) mengandung kadar air 46,3-48,8% (bb), abu 4,50-4,60% (bk), lemak 61,0-62,2% (bk), protein 1,58-1,95% (bk), karbohidrat 31,65-32,50% (bk), dengan kadar serat 0,30-0,38% (bk) dan total gula 10,66-10,84% (bk); dengan kadar total karotenoid 3160-4605 ppm (bk) dan total tocopherol 966-1105 ppm (bk), dimana formula mayones MBMK mengandung komponen aktif tertinggi.
Dampak Penerapan Fasilitasi Sarana Pascapanen Terhadap Kualitas Jagung (Zea mays L.) di Indonesia Deasy Fitriati; Vera Ramashinta; Hastari Kusumawardhani
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/agritech.56530

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk menentukan kualitas jagung pada sentra produksi jagung di Indonesia ini dilaksanakan pada tahun 2017-2019. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan sampel dipilih berdasarkan metode stratified random sampling. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa mutu jagung di Indonesia adalah fluktuatif. Kandungan aflatoksin pada sampel 0,05 μg/kg sampai 976,25 μg/kg dan kandungan biji pecah serta rusak 0 sampai 34,4%. Kontaminasi aflatoksin yang berada di atas 150 μg/kg (batas maksimum pada SNI) sebanyak 5% dari total sampel. Pada beberapa provinsi, kandungan aflatoksin, kadar air, biji rusak dan biji pecah tidak masuk dalam persyaratan mutu jagung yang terdapat pada SNI.  Peningkatan mutu jagung belum menjadi prioritas bagi petani dan pedagang. Hal ini disebabkan karena belum adanya insentif terhadap proses pascapanen yang menjaga mutu hasil produksi. Fasilitasi sarana yang berupa mesin pascapanen diberikan pemerintah kepada petani bertujuan untuk mengurangi losses. Namun, kualitatif losses belum sesuai dengan target yang diinginkan. Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh pembuat kebijakan untuk keberhasilan pelaksanaan program di masa yang akan datang.
Effect of Rotten Butter Shock Load on Anaerobic Digestion of Chicken Manure Gaweł Sołowski; Izabela Konkol; Marwa Shalaby
agriTECH Vol 41, No 4 (2021)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.335 KB) | DOI: 10.22146/agritech.56792

Abstract

Anaerobic digestion is a popular method for improving fertilizing properties, but there is no report on the effect of shock load with butter on anaerobic digestion of chicken manure. Therefore, this study aimed to investigate the anaerobic digestion of chicken manure with butter addition. The volatile suspended solid (VSS) was set at 20g VSS/L with different butter additions from 0 to 60 g VSS/L and different oxygen flow rate (OFR) from 0 to 2.5 mL/h. The results showed that ammonia ranged from 0.072 g/L to 0.082 g/L, while the volatile acids ranged from 425 mg/L to 325 mg/L. The volatile organic acid was significantly influenced by a change in OFR compared to ammonia, while a correlation between hydrogen and hydrogen sulfide was observed. The results showed that the highest hydrogen and methane production was obtained at butter addition of 30 g VSS/L with OFR 1.4 mL/h with volumes of 78 mL and 25 L respectively. In addition, hydrogen sulfide emissions induced rapid growth with increase in butter concentration.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2021 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 45, No 3 (2025) Vol 45, No 2 (2025) Vol 45, No 1 (2025) Vol 44, No 4 (2024) Vol 44, No 3 (2024) Vol 44, No 2 (2024) Vol 44, No 1 (2024) Vol 43, No 4 (2023) Vol 43, No 3 (2023) Vol 43, No 2 (2023) Vol 43, No 1 (2023) Vol 42, No 4 (2022) Vol 42, No 3 (2022) Vol 42, No 2 (2022) Vol 42, No 1 (2022) Vol 41, No 4 (2021) Vol 41, No 3 (2021) Vol 41, No 2 (2021) Vol 41, No 1 (2021) Vol 40, No 4 (2020) Vol 40, No 3 (2020) Vol 40, No 2 (2020) Vol 40, No 1 (2020) Vol 39, No 4 (2019) Vol 39, No 3 (2019) Vol 39, No 2 (2019) Vol 39, No 1 (2019) Vol 38, No 4 (2018) Vol 38, No 3 (2018) Vol 38, No 2 (2018) Vol 38, No 1 (2018) Vol 37, No 4 (2017) Vol 37, No 3 (2017) Vol 37, No 2 (2017) Vol 37, No 1 (2017) Vol 36, No 4 (2016) Vol 36, No 3 (2016) Vol 36, No 2 (2016) Vol 36, No 1 (2016) Vol 35, No 4 (2015) Vol 35, No 3 (2015) Vol 35, No 2 (2015) Vol 35, No 1 (2015) Vol 34, No 4 (2014) Vol 34, No 3 (2014) Vol 34, No 2 (2014) Vol 34, No 1 (2014) Vol 33, No 4 (2013) Vol 33, No 3 (2013) Vol 33, No 2 (2013) Vol 33, No 1 (2013) Vol 32, No 4 (2012) Vol 32, No 3 (2012) Vol 32, No 2 (2012) Vol 32, No 1 (2012) Vol 31, No 4 (2011) Vol 31, No 3 (2011) Vol 31, No 2 (2011) Vol 31, No 1 (2011) Vol 30, No 4 (2010) Vol 30, No 3 (2010) Vol 30, No 2 (2010) Vol 30, No 1 (2010) Vol 29, No 4 (2009) Vol 29, No 3 (2009) Vol 29, No 2 (2009) Vol 29, No 1 (2009) Vol 28, No 4 (2008) Vol 28, No 3 (2008) Vol 28, No 2 (2008) Vol 28, No 1 (2008) Vol 27, No 4 (2007) Vol 27, No 3 (2007) Vol 27, No 2 (2007) Vol 27, No 1 (2007) Vol 26, No 4 (2006) Vol 26, No 3 (2006) Vol 26, No 2 (2006) Vol 26, No 1 (2006) Vol 25, No 4 (2005) Vol 25, No 3 (2005) Vol 25, No 2 (2005) Vol 25, No 1 (2005) Vol 24, No 4 (2004) Vol 24, No 3 (2004) Vol 24, No 2 (2004) Vol 24, No 1 (2004) Vol 23, No 4 (2003) Vol 23, No 3 (2003) Vol 23, No 2 (2003) Vol 23, No 1 (2003) Vol 22, No 4 (2002) Vol 22, No 3 (2002) Vol 22, No 2 (2002) Vol 22, No 1 (2002) Vol 21, No 4 (2001) Vol 21, No 3 (2001) Vol 21, No 2 (2001) Vol 21, No 1 (2001) Vol 20, No 4 (2000) Vol 20, No 3 (2000) Vol 20, No 2 (2000) Vol 20, No 1 (2000) Vol 19, No 4 (1999) Vol 19, No 3 (1999) Vol 19, No 2 (1999) Vol 19, No 1 (1999) Vol 18, No 4 (1998) Vol 18, No 3 (1998) Vol 18, No 2 (1998) Vol 18, No 1 (1998) Vol 17, No 4 (1997) Vol 17, No 3 (1997) Vol 17, No 2 (1997) Vol 17, No 1 (1997) Vol 16, No 4 (1996) Vol 16, No 3 (1996) Vol 16, No 2 (1996) Vol 16, No 1 (1996) Vol 15, No 4 (1995) Vol 14, No 3 (1994) Vol 14, No 2 (1994) Vol 14, No 1 (1994) Vol 13, No 4 (1993) Vol 13, No 3 (1993) Vol 13, No 2 (1993) Vol 13, No 1 (1993) Vol 12, No 4 (1992) Vol 12, No 3 (1992) Vol 12, No 2 (1992) Vol 12, No 1 (1992) Vol 11, No 4 (1991) Vol 11, No 3 (1991) Vol 11, No 2 (1991) Vol 11, No 1 (1991) Vol 10, No 4 (1990) Vol 10, No 3 (1990) Vol 10, No 2 (1990) Vol 10, No 1 (1990) Vol 9, No 4 (1989) Vol 9, No 3 (1989) Vol 9, No 2 (1989) Vol 9, No 1 (1989) Vol 8, No 4 (1988) Vol 8, No 3 (1988) Vol 8, No 2 (1988) Vol 8, No 1 (1988) Vol 7, No 2 (1987) Vol 7, No 1 (1987) Vol 6, No 1 & 2 (1986) Vol 5, No 1 & 2 (1985) Vol 4, No 2,3, & 4 (1984) Vol 4, No 1 (1984) Vol 3, No 3 (1982) Vol 3, No 1 (1982) Vol 2, No 4 (1981) Vol 2, No 3 (1981) Vol 2, No 2 (1981) Vol 2, No 1 (1981) Vol 1, No 3 (1980) Vol 1, No 2 (1980) Vol 1, No 1 (1980) More Issue