cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia
ISSN : 24600164     EISSN : 24422576     DOI : https://doi.org/10.22146/majkedgiind.36959
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 575 Documents
Kualitas komunikasi dan kepuasan pasien dalam pelayanan radiogra kedokteran gigi RSGM Prof. Soedomo Kartika Simatupang; Isti Rahayu Suryani; Rini Widyaningrum; Rosa Amalia
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 3, No 1 (2017): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.861 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.13201

Abstract

The quality of communication and patient satisfaction in dental radiography. The quality of communication is one of important components in health service. The aim of this study is determine the relationship between the quality of communication and the level of patients in dental radiography service at Prof. Soedomo Dental Hospital Faculty of Dentistry Universitas Gadjah Mada. This study was conducted on 100 selected respondents. The quality of communication questionnaire consisted of 19 questions involving 4 aspects of communication assessment (introduction, explanation, careful listening, and empathy) and patient satisfaction questionnaires with 20 questions involving 4 aspects of satisfaction assessment (open-endedness, empathy, abilities, and general satisfaction). The score results of the questionnaire were measured by a Likert scale and the category of the assessment was based on criterion- referenced interpretation. Spearman correlation test showed that a signicant relationship (p <0.05) between the quality of communication and the level of patient satisfaction with the positive direction of correlation and the strong correlation (r = 0.856). Patient assessment for the quality of radiographer communication mostly showed good category (64%) with the most inuential communications aspect found in empathy (r = 0.842) and introduction (r = 0.752). The level of satisfaction assessment by the majority of patients was satised (71%) with the most inuential satisfaction aspect found in empathy (r = 0.807) and general satisfaction (r = 0.706). The better communication used by the radiographer could lead to the higher the level of patient satisfaction in dental radiography service.ABSTRAKKualitas komunikasi merupakan salah satu komponen yang penting pada layanan kesehatan karena berhubungan dengan kepuasan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas komunikasi pada pelayanan radiogra kedokteran gigi dengan tingkat kepuasan pasien Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada. Penelitian ini dilakukan pada 100 responden terpilih. Kuesioner pada penelitian terdiri dari kuesioner kualitas komunikasi yang terdiri dari 19 butir pertanyaan yang mencakup 4 aspek penilaian komunikasi (introduce, explanation, listen carefully, dan empathy) dan kuesioner tingkat kepuasan pasien yang terdiri dari 20 butir pertanyaan yang mencakup 4 aspek penilaian kepuasan (open-endedness, empathy, abilities, dan general satisfaction). Skor hasil kuesioner penelitian diukur menggunakan skala likert dan penetapan kategori penilaian diukur menggunakan penilaian acuan patokan. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan hubungan yang bermakna (p<0,05) antara kualitas komunikasi dengan tingkat kepuasan pasien, dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi sangat kuat (r = 0,856). Penilaian pasien terhadap kualitas komunikasi radiografer sebagian besar menunjukkan kategori baik (64%). Aspek komunikasi yang paling berpengaruh adalah empathy (r = 0,842) dan introduce (r = 0,752). Sebagian besar pasien memberikan penilaian kepuasan pada tingkat puas (71%), dengan aspek penilaian kepuasan yang paling berpengaruh adalah (r = 0,807) dan general satisfaction (r = 0,706). Semakin baik komunikasi yang digunakan oleh radiografer maka akan semakin tinggi pula tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan radiogra kedokteran gigi Rumah Sakit Gigi dan Mulut Prof. Soedomo Universitas Gadjah Mada.
Pleomorfik Adenoma pada Palatum Cahya Yustisia Hasan; Muhammad Masykur Rahmat
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1392.334 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15652

Abstract

Latar Belakang: Pleomorfik adenoma (mixed tumor) adalah tumor kelenjar ludah yang paling sering terjadi (65%) pada kelenjar ludah mayor dan minor. Lokasi intraoral yang paling sering ditemukan adalah palatum. Tujuan: membahas gambaran klinis dan penatalaksanaan pleomorfik adenoma pada platinum. Kasus: dilaporkan 2 buah kasus pleomorfik adenoma pada palatum. Kasus pertama seorang laki-laki usia 29 tahun dengan benjolan pada palatum kanan ukuran 3x2 cm, konsistensi kenyal, berbatas tegas, warna seperti jaringan sekitar dan tidak nyeri. Pasien pernah menjalani operasi pada palatum kanan pada tahun 2005, dan kira-kira 3 tahun setelah operasi benjolan tersebut kambuh di tempat yang sama. Hasil biopsi aspirasi jarum halus adalah mixed tumor. Kasus kedua seorang wanita 22 tahun dengan benjolan pada palatum kiri ukuran 2x1,5 cm, timbul sejak 3 tahu yang lalu, warna seperti jaringan sekitar, konsistensi kenyal, dan tidak nyeri. Riwayat pesien menggunakan kontrasepsi hormonal. Hasil biopsi condong pada adenoma pleomorfik dengan bagian onkositik adenoma dan clear sel adenoma. Penatalaksanaan: dilakukan eksisi luas di bawah anestesi umum pada kedua kasus tersebut, dengan batas 1 cm dari tepi lesi pada jaringan sehat. Kesimpulan : telah dilakukan eksisi luas untuk penanganan kedua kasus pleomorfik adenoma dan palatum. Tidak di temukan rekurensi 1 tahun setelah operasi (kasus 1) dan 2 tahun setelah operasi (kasus 2). Blackground: pleomorphic adenoma (mixed tumor) is the most common tumor of the salivary glands (65%) of the major dan minor salivary glands. Palatum is the most common site in intraoral. Purpose: to elaborate clinical feature and management of pleomophic adenoma of palate. Cases: we reported 2 cases pleomorphic adenoma of palate. The first case was a29 years old male patient with a swelling at the right side of the palate, 3x2 cm sized mass, rubbery in consistency, well demarcated, pinkish in color, and pain less. He had undergone an operation at the right palate in 2005, but 3 years after the operation he got reccurence. The result of fine needle aspiration biopsy was mixed tumor. The second case was fermale 22 years old patient with a swelling at the left side of palate, 2x1,5 cm sized mass, was present 3 years before coming to the clinic, pinkish color, rubbery consistency and painless. She has been using hormonal contraception. The result of incisional biopsy was pleomorphic adenoma with the oncocityc adenoma part and clear cell adenoma. Management: widw exicion was performed under general anesthesia in both cases, with a limit 1 cm clinical margin at its periphery. Conclusion: both patients with pleomorphic adenoma ao palate were treated by wide excision. No recurrence were observed in 1 year (firs case) and 2 years (second case) after the surgery.
Perbedaan Kadar Calprotectin Sebelum Dan Sesudah Radioterapi Pada Pasien Karsinoma Nasofaring Akibat Infeksi Epstein-Barr Virus Rurie Ratna Shantiningsih; S. Suryono
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 1 (2011): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5591.608 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16451

Abstract

Latar belakang: Epstein-Barr Virus (EBV) adalah anggota herpes virus berkaitan dengan etiologi karsinoma nasofaring (KNF). Pada pasien KNF jumlah monosit dalam sel darah tepi mengalami penurunan dan kebanyakan masih dalam bentuk immature sehingga menurunkan respon imun pasien serta meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit periodontal. Radioterapi merupakan salah satu metode terapi yang banyak digunakan untuk kasus KNF. Calprotectin diproduksi dalam sitoplasma sel monosit dan levelnya meningkat pada beberapa penyakit inflamasi, termasuk inflamasi jaringan periodontal, ditandai dengan peningkatan kadar calprotectin pada cairan sulkus gingiva (CSG). Tujuan: mengkaji perbedaan kadar calprotectin pada pasien KNF sebelum dan setelah dilakukan radioterapi, pada sel monosit, serum dan CSG. Metode Penelitian: sepuluh pasien KNF akibat infeksi EBV digunakan sebagai subjek dalam penelitian ini. Lima orang sebagai sampel kelompok sebelum radioterapi dan 5 orang sebagai sampel kelompok sesudah radioterapi. Dari masing-masing pasien diambil sel monosit dan serum darah tepi serta CSG. Kadar calprotectin diukur menggunakan metode ELISA. Hasil: kadar calprotectin pada kelompok sampel sebelum radioterapi lebih rendah dibandingkan kelompok sam pel sesudah radioterapi dilihat melalui sel monosit dan serum darah tepi. Sementara dari CSG, kadar calprotectin kelompok sampel sebelum radioterapi nampak lebih tinggi dibanding kelompok sesudah radioterapi. Hasil analisis statistik Anova menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0,05). Kesimpulan: terdapat perbedaan kadar calprotectin pada sel monosit, serum darah tepi dan CSG pasien KNF antara sebelum dan sesudah radioterapi. Pada sel monosit dan serum darah tepi, terjadi penurunan kadar calprotectin, sementara pada CSG terjadi peningkatan kadar calprotectin antara sebelum dan sesudah radioterapi.
Pengaruh Level HBA1C Terhadap Fungsi Fagositosis Neutrofil (PMN) pada Penderita Periodontitis Diabetika Ahmad Syaify
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3900.386 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.9375

Abstract

Latar belakang. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit sistemik yang sangat terkait dengan meningkatnya keparahan penyakit periodontal. Pada penderita DM diduga kuat bahwa keparahan periodontitis disebabkan oleh gangguan fungsi leukosit. Sel neutrofil (PMN) diketahui berperan besar di dalam system pertahanan jaringan periodontal. Kontrol glikemik pada penderita DM dapat diketahui dengan pemeriksaan level HbA1c. Tujuan. Penelitian ini untuk mengetahui pengaruh level HbA1c pada penderita periodontitis diabetika terhadap fungsi fagositosis sel PMN. Bahan dan Cara. Sel PMN dari darah tepi 15 pasien periodontitis terdiri 5 periodontitis tana DM, 5 periodontitis diabetika terkontrol (HbA1c<7) dan 5 periodontitis diabetika tidak terkontrol (HbA1C>7) diuji aktivitas fagositosinya dengan partikel lateks. Fungsi fagositosis dihitung dengan rumus indeks fagositosis (IF). Hasil. Terdapat perbedaan significant IF sel PMN subyek periodontitis diabetika tidak terkontrol (HbA1c>7) dengan periodontitis non DM. IF tertinggi pada subyek periodontitis non DM dan tertinggi pada periodontitis diabetika tidak terkontrol (HbA1c>7). Kesimpulan. Level HbA1c berpengaruh terhadap fungsi fagositosis sel PMN yang dilihat dari indeks fagositosis (IF).  Background. Diabetes mellitus is a systemic condition that has long been associated with an increased and severity of periodontal disease. The severity of periodontitis in diabetic patients was thought caused by decreation of leukocytes function. Polymorphonuclear leukocytes (PMN) play a key role in the maintenance of gingival (HbA1c) level. Aims. The objective of this study was to analyse the influence of HbA1C level to fagositosis index on diabetic periodontitis patients. Material and Methods. PMN were taken from peripheral blood of 15 periodontitis patients consisted of 5 subject with uncontrolled DM (HbA1c>7), 5 subject with controlled DM (HbA1c<7), and 5 subject non DM as control. Phagocytosis function were determined using latex particle and coaunted by phagocytosis index (PI). Results. These analysis revealed a significant (p<0.05) different of PI between diabetic periodontitis who have HbA1c>7 and periodontitis non diabetic subjects. The higest PI was on diabetic periodontitis with HbA1c level >7 and the lowest PI was on non diabetic subjects. Conclusion. Level of HbA1c on diabetic periodontitis patient influence to phagocytosis function of PMN.
Pengaruh Ekstrak Etanolik Kulit Batang Jambu Mete (Anacardium occidentale Linn) sebagai Bahan Kumur terhadap Daya Perlekatan C. Albicans pada Plat Resin Akrilik H. Harsini
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 18, No 2 (2011): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4613.302 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15398

Abstract

Latar Belakang: Candia albicans adalah mikroorganisme yang berkoloni melekat pada permukaan gigi maupun gigi tiruan. Obat kumur mengandung bahan tarapeutik yang berfungsi sebagai antibakteri. Kulit batang jambu mete antara lain mengandung senyawa fenolik yang dapat berkhasiat sebagai antibakteri. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui apakah ekstrak etanolik kulit batang jambu mete sebagai bahan kumur berpengaruh terhadap gaya perlekatan C. Albicans pada plat resin akrilik. Metode penelitian: Ekstrak kulit batang jambu mete diperoleh dengan menggunakan metode maserasi dan menggunakan etanol sebagai pelarut. Bahan kumur ekstrak kulit batang jambu mete dibuat dengan komposisi bahan kumur standar dengan menambahkan ekstrak etanolik kulit batang jambu mete dengan konsentrasi 1%, 2%, 3%, 4%, dan 5% sebagai agen antibakteri. Penelitian dilakukan dengan menggunakan plat resin akrilik yang dibuat bentuk disk dengan ukuran diameter 10 mm dan tebal 2 mm sebanyak 24 buah, yang dibagi dalam 6 kelompok yaitu 5 kelompok perlakuan dengan menggunakan bahan kumur yang mengandung ekstrak kulit batang jambu mete dan 1 kelompok kontrol menggunakan bahan kumur standar. Seluruh plat resin dimasukkan dalam tabung C. Albicans 10 CFU/ml selama 5 menit, kemudian plat diambil dan dimasukkan dalam larutan bahan kumur standar sebagai kontrol dan larutan bahan kumur yang mengandung ekstrak kulit batang jambu mete untuk kelompok perlakuan selama 3 menit dan digetarkan. Cairan kemudian diambil sebanyak 0,1 ml dan ditanam pada piring petri dengan agar saboruraud dan diinkubasi selama 48 jam. Perhitungan koloni dilakukan menggunakan counter. Hasil penelitian: Hasil daya perlekatan pada bahan kumur standar 1912,50±14,93; pada bahan kumur dengan ekstrak 1% = 1757,50±20,16; 2% = 1335±17,08; 3% = 1220; 4% = 915±22,17 dan 5% = 670,00±38,37. Analisis varian satu jalur memperlihatkan pengaruh yang bermakna ekstrak etanolik kulit batang jambu mete terhadap daya lekat C. Albicans pada plat resin akrilik (p<0,05). Hasil LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar seluruh kelompok perlakuan (p<0,05). Kesimpulan: Ekstrak etanolik kulit batang jambu mete sebagai bahan kumur berpengaruh terhadap daya perlekatan C. Albicans pada plat resin aklirik. Background: C. Albicans is a microorganism which colonized on the tooth or denture prosthesis surfaces. Mouthwashes usually contain therapeutic agent as antibacterial. The bark of Annacardium occidentale contains fenolic as antibacterial activity. The aim of this research was to determine the influence of the etanolic ectract of anacardium occidentale bark as mouthwashes on C. Albicans adherence. Method: the extract of anacardium occidentale bark was conducted in maceration method and used ethanol as solvent. Mouthwashes were made in standart composition and added annacardium occidentale bark extract 1%, 2%, 3%, 4% and 5% as antibacterial agent. As a negative control was used standart mouthwashes without extract. The research used 24 resin acrylic which made in disk shape with diameter 10 mm. This acrylic were divided in 6 group, there were 5 group treated with mouthwash that contain extract anacardium occidentale bark and 1 group treated with standart mouthwashes. All of resins plate were incubated in C. Albicans solution for 5 minute. After that resin acrylic plate were immersed in standart mouthwashes as a control and mouthwashes with anaracium occidentale bark extract and vibrate for 3 minutes. The solution then taken 0,1 ml and planted in petry dish with saboruraud agar and incubated for 48 hours. Result: Attachment of candida alvicans was: 1912,50±14,93 as control and mouthwash with extract were 1% = 1757,50±20,16; 2% = 1335±17,08; 3% = 1220; 4% = 915±22,17 and 5% = 670,00±38,37. Analyzed with one way Anova showed that the extract of annaracium occidentale bark as mouthwash influenced the cancida albicans adherence on resin acrylic surface (p<0,05). LSD analyzed showed there were significant differenced between all groups (p<0,05). Conclusion: The extract of anacardium occidentale bark extract as mouthwash were influence of the C. Albicans adherence on resin acrylic surface.
Perbandingan tingkat kebocoran mikro resin komposit bulk-filldengan teknik penumpatan oblique incremental dan bulk Dimas Puja Permana; Billy Sujatmiko; Rinda Yulianti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 3 (2016): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (905.741 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.11668

Abstract

Micoleakage comparison of bulk-fillcomposite beetwen oblique incremental and bulk placement techniques. Resin composite bulk-fill was a new type of resin composite that speed up application process of composite. The concept of bulk-fill composite allows composite to fill at a depth of 4 mm and minimizes polymerization shrinkage. This study aims to determine the comparison of placement techniques (oblique incremental/bulk) of bulk-fill composite on microleakage in class I preparations. Thirty two human maxillary premolar were stored in distilled water, then Class I preparations were made with the depth of the cavity which was 4 mm (3 x 3 x 4). The teeth were randomly divided into two groups, group 1 uses oblique incremental placement technique and group 2 with bulk placement technique. Samples were stored in an incubator at a temperature of 37 °C for 24 hours, then it was thermocycled manually, 100 cycles at temperature between 5 °C and 55 °C. Microleakage was measured using a digital microscope with a 100 X magnification in millimeters using a microscope micrometer calibration ruler with 0,1 mm level of accuracy after immersion in 0,3% methylene blue and sectioned using separating disc. The result of this study revealed that in group 1 microleakage range was 1.0 mm - 2.7 mm with an average 1.625 mm, and in group 2 microleakage range was 3.6 mm - 4.0 mm with an average of 3.763 mm. The data were analyzed using T-test. The analysis showed a significant difference between two groups (p <0.05). The conclusion of this study was bulk-fill composite in class I cavities with oblique incremental placement technique produces less microleakage than bulk placement technique. ABSTRAKResin komposit bulk-fill adalah resin komposit yang dirancang untuk mempercepat proses aplikasi resin komposit. Konsep bulk-fill memungkinkan resin komposit ditumpat sekaligus 4 mm dan mengalami pengerutan polimerisasi minimal. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek teknik penumpatan (oblique incremental/bulk) pada tingkat kebocoran mikro resin komposit bulk-fill. Sampel berjumlah 32 gigi premolar rahang atas disimpan di dalam aquades, dipreparasi kavitas kelas I berbentuk persegi, kedalaman kavitas 4 mm (3 x 3 x 4). Sampel dibagi dalam dua kelompok, kelompok 1 restorasi teknik oblique incremental dan kelompok 2 teknik bulk. Sampel kemudian disimpan di dalam inkubator pada suhu 37 °C selama 24 jam, kemudian dilakukan prosedur thermocycling manual 100 putaran pada suhu 5 °C dan 55 °C. Kebocoran mikro diukur menggunakan digital microscope pembesaran 100 x dalam satuan milimeter menggunakan penggaris mikrometer mikroskop dengan ketelitian 0,1 mm setelah sampel direndam dalam larutan methylene blue 0,3% selama 24 jam dan dipotong pada pertengahan restorasi menggunakan separating disc. Hasil pengukuran tingkat kebocoran mikro menunjukkan pada kelompok 1 nilai kebocoran mikro yang terjadi berkisar 1,0 mm – 2,7 mm dengan rata-rata 1,625 mm, pada kelompok 2 kebocoran mikro yang terjadi berkisar 3,6 mm – 4,0 mm dengan rata-rata 3,763 mm. Data di analisis menggunakan uji T-test. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok (p < 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah restorasi resin komposit bulk-fill pada kavitas kelas I dengan teknik oblique incremental menghasilkan tingkat kebocoran mikro yang lebih kecil dibandingkan dengan teknik bulk.
Pengaruh Lama Paparan Gelombang Ultrasonik Frekuensi Terapi terhadap Jumlah Koloni Bakteri Streptococcus mutans F. Fransiska; Archadian Nuryanti; Rini Maya Puspita
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 1 (2012): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.965 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15590

Abstract

Latar Belakang. Gelombang Untrasonik telah digunakan untuk terapi dan diagnosis, di klinik kedokteran gigi popular digunakan untuk ultrasonik skaler. Efek termal dan nontermal gelombang ultrasonik dapat mempengaruhi lingkungan tumbuh bakteri, merusak enzim bakteri, dan struktur bakteri. Streptococcus mutans merupakan bakteri penyebab karies gigi. Tujuan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama paparan gelombang ultrasonik frekuensi terapi 3,5 MHz terhadap jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans. Cara penelitian. Penelitian ini dilakukan pada 20 buah cawan petri yang berisi koloni bakteri streptococcus mutans dengan media agar darah. Dua puluh buah petri dibagi menjadi 4 kelompok yaitu kelompok kontrol (A) dan kelompok perlakuan (B, C, D). kelompok perlakuan diaplikasi gelombang ultrasonik frekuensi 3,5MHz  selama 5, 10, dan 15 menit, sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan apapun. Perhitungan jumlah koloni bakteri dilakukan dengan pengamatan menggunakan colony counter dengan standart plate count (SPC) method. Hasil penelitian jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans dianalisis menggunakan ANAVA satu jalur menunjukkan ada perbedaan yang signifikan (p<0,05) berarti terdapat pengaruh lama paparan gelombang ultrasonik frekuensi terapi 3,5 MHz terhadap jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans. Hasil analisis post hoc (LSD) terhadap jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans juga menunjukkan ada perbedaan rerata antar kelompok perlawanan yang signifikan (p<0,05). Kesimpulan. Kesimpulan penelitian ini adalah lama paparan gelombang ultrasonik frekuensi terapi 3,5 MHz berpengaruh terhadap jumlah koloni bakteri Streptococcus mutans.  Introduction. Ultrasonic waves have been used for therapy and diagnosis, in dental clinic ultrasonic waves are used popular for ultrasonic scaler. Thermal and non thermal effects from ultrasonic wave influence the environment of bacteria disturb bacteria enzyme and the bacteria structure. Streptococcus mutans is a bacterium that cause caries in teeth. The aim of this study was to observe the effect of duration of ultrasound in therapy frequency 3,5 MHz exposure towards Streptococcus mutans cell colony. Methods. This study was 20 petri dish with blood agar media containing the Streptococcus mutans cell colony. Twenty plates blood agar, were divided into 4 groups. Control group A was unexposed and treated group received ultrasound exposure at frecuency 3,5 MHz which for 5 minutes exposure (B), 10 minutes exposure (C) and 15 minutes exposure (D). Streptococcus mutans cell colony was countusing colony counter with standard plate count methos. Results. The results of one way ANOVA at 95o/o significance showed that duration ultrasonic therapy frecuency 3,5 MHz exposure influenced the amount of Streptococcus mutans cells colony (p<0,0,5). The post hoc test (LSD) showed the significantly mean difference (p,0,05) between groups. Conclusions. The conclusions, of this study is duration exposure ultrasonic therapy frecuency at 3,5 MHz influences on the amount of Streptococcus mutans cells colony. 
Pemakaian Overdenture Magnet sebagai Upaya Peningkatan Retensi dan Stabilisasi Gigi Tiruan Lengkap Rahang Bawah Michael Santiko; Suparyono Saleh
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 17, No 1 (2010): August
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1936.442 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.16023

Abstract

Dalam upaya meningkatkan retensi GTL rahang bawah dapat digunakan overdenture dengan kaitan magnet. Overdenture adalah gigi tiruan lengkap atau sebagian yang didukung oleh mucoperiosteum dan beberapa gigi atau akar gigi asH yang telah mengalami perawatan endodontic.Teknik penggunaan kaitan magnet sangat sederhana, tidak menambah ukurannya yang sudah didesain sesuai besar gigi penyangga yang digunakan. Terdiri dari dua bagian yaitu keeper yang ditanamkan pada permukaan akar gigi yang telah dipreparasi dan magnet yang ditanam pada basis gigi tiruan bagian fitting surface. Seorang pasien wan ita usia 77 tahun datang ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada dengan keluhan malu dan tidak bisa mengunyah makanan karena banyak gigi yang rusak dan hilang, gigi yang goyang dicabut sedangkan gigi yang tersisa hanya 34 dan 44 dan telah dilakukan perawatan saluran akar. Gigi tersebut rencananya akan digunakan sebagai overdenture dengan kaitan magnet. Diharapkan dengan adanya kaitan magnet tersebut retensi gigi tiruan rahang bawah semakin meningkat sehingga pasien merasa puas dalam penggunaannya. Setelah pasienmemakai gigi tiruan tersebut pasien merasa nyaman dan puas karena gigi sangat retentif. Perawatan dengan overdenture magnet merupakan sebuah pilihan yang tepat karena dapat mempertahankan prosesus alveolaris yang akan memberi dukungan gigi tiruan menjadi jauh lebih baik dari pada gigi tiruan konvensional.
Pengaruh volumetrik e-glass fiber terhadap kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik Pramudya Aditama; Erwan Sugiatno; Muhamad Rifqi Tri Nuryanto
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 2, No 1 (2016): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.023 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.10734

Abstract

The effect of e-glass fiber volumetric on transverse strength of an acrylic resin denture plate repair. Acrylic resin is the most commonly material for the denture base. A disadvantage of acrylic resin is that it is easily to be cracked. One of the ways to resolve this problem is by adding the E-glass fibers. The purpose of this research was to find out the effect of volumetric E-glass fiber on transverse strength of an acrylic resin denture plate repair. The experiment involved thirty plates of heat cured acrylic with the dimensions of 65 × 10 × 2.5 mm. The specimens were prepared to create a 3-mm gap and 45° bevel. Subjects were divided in to 3 groups, each of which contained 10. Group I (control) was with no fiber reinforcement, group II was reinforced with 3.7vol % E-glass fiber, and group III was reinforced with 7.4 volume % E-glass fiber. All plates were soaked in distillation water for one day at 37 °C. Plates were tested for transverse strength with Universal Testing Machine and all data obtained was analyzed with one way anova at 95% confidence level (α= 0.05). The significant difference was found between the transversal force of acrylic resin plat enforced with fiber and other group without being reinforced with fibers (p<0.05). Group reinforced with 7.4 vol % E-glass fibers showed a significant difference (higher) than the group reinforced with 3.7 volume % fibers. The addition of E-glass fibers in an acrylic resin plate repair material increased the transverse strength. The increase in volumetric fibers might improve the transverse strength of an acrylic resin plate repair material.ABSTRAKResin akrilik merupakan bahan yang sering digunakan dalam pembuatan basis gigi tiruan. Kekurangan dari bahan resin akrilik adalah mudah patah. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menambahkan E-glass fiber. Tujuan untuk mengetahui pengaruh volumetrik E-glass fiber terhadap kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik. Penelitian ini menggunakan tiga puluh plat resin akrilik kuring panas dengan ukuran 65 × 10 × 2,5 mm. Spesimen dipreparasi untuk membentuk jarak 3 mm dan sudut bevel 45°. Subjek kemudian dibagi menjadi 3 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 10 plat. Kelompok I (kontrol) tanpa diberikan penguat fiber, kelompok II diperkuat dengan 3,7 vol % E-glass  ber, dan kelompok III diperkuat dengan 7,4 vol % E-glass fiber. Seluruh plat kemudian direndam dalam air destilasi selama satu hari pada suhu 37 °C. Plat resin akrilik kemudian diuji menggunakan Universal Testing Machine untuk mengetahui kekuatan transversal dan data yang didapatkan dianalisis menggunakan Anova satu jalur dengan tingkat kepercayaan 95% (α=0,05). Hasil menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara kekuatan transversal plat resin akrilik yang diperkuat dengan fiber dengan kelompok tanpa diperkuat fiber (p < 0,05). Kelompok yang diperkuat dengan 7,4 vol % E-glass fiber menunjukkan perbedaan signi kan (lebih tinggi) dibandingkan kelompok yang diperkuat dengan 3,7 vol % fiber. Kesimpulan bahwa peningkatan volume dari E-glass fiber dapat meningkatkan kekuatan transversal reparasi plat gigi tiruan resin akrilik.
Hemimandibulektomi dengan Rekonstruksi Mandibula dan Fiksasi Intermaksila sebagai Penatalaksanaan Ameloblastoma Mandibula Sinistra Indria Nehriasari; Maria G Widiastuti
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 19, No 2 (2012): December
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4436.552 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.15538

Abstract

Latar belakang. Ameloblastoma adalah tumor odontogenik yang jarang terjadi. Walaupun jinak tetapi bersifat merusak dan mempunyai tingkat kekambuhan yang tinggi. Hemimandibulektomy adalah salah satu tindakan yang dipilih jika lesi patologis telah melibatkan processus coronoideus dan condyle walaupun efek dari tindakan tersebut adalah terjadinya defek wajah dan deviasi mandibula. Tujuan. Melaporkan tindakan hemimandibulektomy dengan rekonstruksi bridging plate dan traksi intermaksila pada ameloblastoma mandibula sebelah kiri yang dilakukan untuk mengurangi deviasi dan defek wajah. Kasus dan perawatan. Laki-laki umur 46 tahun datang ke klinik bedah mulut dan maksilofacial RS Dr Sardjito Yogyakarta dengan keluhan utama adanya pembengkakan pada sisi kiri rahang bawah di area pipi. Keadaan tersebut dirasakan sejak 4 tahun yang lalu, tidak sakit, keras, warna sesuai dengan jaringan sekitar. Diagnosa yang ditegakkan Ameloblastoma mandibula. Perawatan dari kasus ini adalah hemimandibulektomy dengan rekonstruksi bridging plate dengan anestesi umum. Enam minggu dengan kawat dan 3 bulan dengan traksi elastic digunakan untuk mengurangi deviasi mandibula setelah tulang rahang direseksi. Kesimpulan. Hemimandibulektomi dilakukan untuk mengambil lesi patologi secara radikal untuk mencegah rekurensi. Bridging plate digunakan sebagai tindakan rekontruksi mandibula. Traksi intermaksila merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengurangi deviasi mandibula setelah hemimandibulektomy. Background. Ameloblastoma is an odontogenic tumor which rarely happened. Although it is benign, it can be destructive and has a high recurrency rate. Hemimandibulectomy is one kind of treatments which can be choosed if pathologic fracture has involved coronoid processus and condyle, eventhough its effect can cause mandible deviation and facial defect. Purpose. Reported a hemimandibulectomy with bridging plate reconstruction and intermaxillary function on the left mandible ameloblastoma intended to reduced the deviation of the mandible. Case and threatment. Fourty-six years old man came to the oral and maxillofacial surgery clinic at Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta, with a main sign of swelling at the left side of lower jaw on buccal region, it was emerged approximately 4 years ago, painless, hard on palpation, colour as normal. Treatment of this case was hemimandibulectomy and reconstruction with bridging plate under general anaesthesia. Six weeks wiring and 3 months elastic traction was used to decrease mandible deviation as an intermaxillary fixation. Partial removable denture used to complete the treatment. Conclusion. Treatment at this case is aimed to eliminate all tumor with hemimandibulectomy and bridging plate is placed to reconstruct the mandible. The use of the intermaxillary elastic traction as an intermaxillary fixation until get the normal occlusion could be one alternative treatment to reduced mandible deviation after hemimandibulectomy.