cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 422 Documents
The Effect of Mixed-Fruit Juice on Uterine Contractions and Cervical Dilatation During the First Stage of Delivery Martasari, Bellia Loranthifolia; Cahyadi, Wisnu; Nugraha, Gaga Irawan; Husin, Farid; Susiarno, Hadi; Hidayat, Yudi Mulyana; Satari, Mieke Hemiawati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.214 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v7i1.2908

Abstract

Energy imbalance in delivery can inhibit the action of glycolytic enzymes and interfere with chemical reactions in muscle cells. These nuisances may interfere with uterine contractions that obstruct cervical dilatation. Therefore, mothers require a nutritional alternative which is practical, generates energy quickly and supplies glucose needed for uterine contractions. These can be fulfilled with a mixed-fruit juice beverage. Mixed-fruit juice consists of fruits, Tunisian dates, honey, and red beans. This study aims to analyze the effect of the mixed-fruit extract on uterine contraction and cervical dilatation during the first stage of delivery. This study used a randomized controlled trial design. The target population was all the mothers who would give birth in Bandung city in March−April 2017. The samples of this study were the gravida <4 who would give birth at the Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar/PONED (Basic Emergency Obstetric and Neonatal Care/BEONC) Puskesmas (Public Health Center) Ibrahim Ajie, Puter, Garuda, Pagarsih, and Padasuka, consisting of 30 subjects as the treatment group and other 30 subjects as the control group. Uterine contractions and cervical dilatation were measured clinically and recorded on partograph. The analysis of data was done using the chi-square test, independent t test, and Mann-Whitney test. The results showed that there was the effect of mix-juice on the frequency, the duration and the intensity of uterine contractions and cervical dilatation with p value<0.05 and relative risk (RR) values respectively of 1.3, 3.3, 2.6, 1.7. In conclusion, consuming mixed-fruit juice during the first stage of delivery give a significant impact on the progress of uterine contractions and cervical dilatation.PENGARUH PEMBERIAN MINUMAN MIX JUICE TERHADAP KONTRAKSI UTERUS DAN PEMBUKAAN SERVIKS SELAMA KALA I PERSALINANKetidakseimbangan energi saat persalinan dapat menghambat kerja enzim glikolitik dan mengganggu reaksi kimia dalam sel otot sehingga dapat menghambat kontraksi otot dan pembukaan serviks. Perlu alternatif nutrisi ibu bersalin yang praktis, cepat menghasilkan energi, dan memberikan asupan glukosa yang dibutuhkan untuk kontraksi uterus dalam bentuk minuman mix juice. Mix juice ini mengandung buah-buahan, kurma tunisia, madu, dan kacang merah. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian minuman mix juice terhadap kontraksi uterus dan pembukaan serviks selama kala I persalinan. Penelitian ini menggunakan desain randomized controlled trial. Populasi target adalah semua ibu yang akan melahirkan di Kota Bandung pada bulan Maret−April 2017. Sampel dalam penelitian ini adalah gravida <4 yang akan melahirkan di Puskesmas Pelayanan Obstetri Neonatus Emergensi Dasar (PONED) Ibrahim Ajie, Puter, Garuda, Pagarsih, dan Padasuka, yaitu 30 subjek pada kelompok perlakuan dan 30 subjek pada kelompok kontrol. Kontraksi uterus dan pembukaan serviks diukur secara klinis dan dicatat pada partograf. Analisis data menggunakan uji chi-kuadrat, uji t independen, dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian didapatkan pengaruh pemberian minuman mix juice terhadap frekuensi, lama dan intensitas kontraksi uterus, serta pembukaan serviks dengan nilai p<0,05 dan nilai RR masing-masing sebesar 1,3; 3,3; 2,6; 1,7. Simpulan, pemberian minuman mix juice selama kala I persalinan berpengaruh terhadap kemajuan kontraksi uterus dan pembukaan serviks.
Efek Konsumsi Air Kelapa (Cocos nucifera) terhadap Ketahanan Berolahraga Selama Latihan Lari pada Laki-laki Dewasa Bukan Atlet Fen Tih Fen Tih; Harijadi Pramono; Stella Tinia Hasianna; Ersalina Tresnawati Naryanto; Albertus Gani Haryono; Oliver Rachman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.998 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i1.1966

Abstract

Ketahanan berolahraga menunjang latihan fisik yang optimal untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran jasmani. Penurunan kapasitas ketahanan olahraga disebabkan oleh dehidrasi dan penurunan karbohidrat dalam otot selama melakukan latihan. Air kelapa berpotensi sebagai minuman olahraga karena memiliki derajat keasaman yang rendah, gula seimbang, kandungan mineral, dan bersifat isotonis. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek konsumsi air kelapa terhadap ketahanan dan kebugaran berolahraga diukur dari jarak tempuh dan VO2max  selama latihan lari. Penelitian dilakukan di Lapangan FPOK UPI Bandung periode Juli 2015–Februari 2016. Bahan penelitian yang digunakan adalah air kelapa dalam kemasan. Air mineral, air gula 5%, dan minuman olahraga isotonik yang digunakan sebagai pembanding. Subjek penelitian adalah 120 orang laki-laki, berusia 18–23 tahun yang dibagi menjadi 4 kelompok untuk tiap-tiap bahan uji. Setelah pemanasan, subjek berlari secepatnya selama 30 menit. Bahan uji diberikan sebelum dan setiap 10 menit selama lari. Jarak yang ditempuh dicatat dalam satuan meter. Analisis dengan one-way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji least significant difference (LSD) dengan α<0,05. Jarak tempuh terpanjang rata-rata dan VO2max tertinggi didapatkan pada kelompok perlakuan air kelapa, diikuti kelompok air gula 5%, minuman olahraga isotonik, dan air mineral (p<0,01). Simpulan, konsumsi air kelapa sebelum dan selama latihan olahraga lari dapat meningkatkan ketahanan olahraga pada laki-laki dewasa bukan atlet.THE EFFECTS OF COCONUT WATER (COCOS NUCIFERA) CONSUMPTION TOWARDS ENDURANCE DURING RUNNING EXERCISE ON NON-ATHLETE ADULT MALEThe endurance in exercising supports optimal physical training to improve physical health and fitness. Two major factors in decreasing sport endurance are dehydration and loss of carbohydrates in muscle during exercise. Coconut water is a potential sports drink because it has low acidity, sugars, minerals content and is isotonic. This research aims to know the effects of coconut water consumption towards endurance and fitness measured from VO2max and mileage during running exercise. The study was conducted in FPOK UPI Bandung during July 2015 to February 2016. Research material used was coconut water, mineral water, 5% sugar water, and isotonic sports drink. The subjects were 120 men, aged 18–23 years old, divided into 4 groups for each of the test material. After warming up, the subjects ran quickly for 30 minutes. Test materials were given before and every 10 minutes during the run. Distance traveled was recorded in units of meters. Data was analyzed using one-way ANOVA test followed by the least significant difference (LSD) test with α<0.05. The longest distance and highest VO2max were obtained by the group treated with coconut water, followed by 5% sugar water, isotonic sports drinks, and mineral waters (p<0.01). In conclusion, coconut water consumption before and during exercise can improve sports endurance on non-athlete adult male.
Medical Student Career Choice’s Determinants: a Qualitative Study Rizma Adlia Syakurah; Yayi Suryo Prabandari; Doni Widyandana; Amitya Kumara
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (19.999 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2799

Abstract

Choosing a career is an essential stage in medical students’ life. Previous researchers all across the world have been conducted studies to examine determinants of career choices in general and medical careers in sociodemographic and behavioral perspectives. While most of the studies centered on general career choices determinants and located mostly in western countries with general career choices as their topics, few studies explore about medical students’ career choices determinants in a collectivist culture like Indonesia. Hence, this study aimed to explore and describe determinants of medical students’ career choices in collectivist culture setting. Participants, 62 students in total, were recruited from all stages of undergraduate medical students in Sriwijaya University in November 2015 until January 2016. Each of focus groups was led by a facilitator to explore medical students’ career choices’ determinants. Transcripts encoded according to recurring topics and themes that came up during their discussions. Eight themes identified from the discussions were: four major, two intermediate and two minor issues. Major themes were financial gain, prestige, personal interest and family influence. In conclusion, some points can be used to increase medical students’ interest in various medical career fields. Exposure to medical career information should not target merely on medical students but also to their family and the community as well. Government roles in providing financial incentives as well as career opportunities to medical fields to increase the interest of medical students in the certain medical field.DETERMINAN KARIeER MAHASISWA KEDOKTERAN: SEBUAH STUDI KUALITATIFPemilihan karier merupakan salah satu fase yang penting dalam kehidupan seorang mahasiswa kedokteran. Berbagai penelitian di seluruh dunia telah dilakukan dalam menemukan dan menganalisis determinan pemilihan karier seseorang, baik secara umum, maupun dalam dunia kedokteran secara khusus yang dilakukan pada perspektif sosiodemografi dan perilaku. Saat ini masih sedikit sekali penelitian yang dilakukan pada mahasiswa kedokteran yang bertujuan mengeksplorasi determinan pemilihan kariernya, terutama dalam lingkungan dengan kultur kolektivisme seperti di Indonesia. Penelitian ini ditujukan mengeksplorasi dan menjelaskan alasan pemilihan karier mahasiswa kedokteran pada lingkungan dengan kultur kolektivisme. Partisipan adalah semua mahasiswa kedokteran preklinik di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya yang berjumlah 62 orang. Penelitian dilakukan pada bulan November 2015–January 2016. Tiap kelompok diskusi terarah dipimpin oleh seorang fasilitator yang melakukan eksplorasi terkait alasan pemilihan karier mereka. Hasil diskusi dicatat dan transkrip dikelompokkan sesuai dengan tema yang sering muncul selama kegiatan diskusi berlangsung. Delapan tema teridentifikasi dalam diskusi, yaitu empat tema mayor, dua tema menengah, dan dua tema minor bergantung pada seringnya tema tersebut muncul dalam semua diskusi. Tema mayor yang muncul adalah pendapatan, prestise, minat pribadi, dan pengaruh keluarga. Keterpaparan informasi karier kedokteran perlu dilakukan tidak hanya pada mahasiswa, tetapi juga pada keluarga dan lingkungan. Pemerintah juga berperan dalam memberikan insentif dan peluang pada bidang karier yang membutuhkan lebih banyak tenaga kerja di masa yang akan datang untuk meningkatkan minat mahasiswa pada bidang karier tersebut.
Exploration of Methadone and HIV Treatment for Injecting Drug Users in West Java, Indonesia: Lessons from Practice Igor van Laere; Teddy Hidayat; Rudi Wisaksana
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1558.447 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v1i1.1509

Abstract

Over the last decade, Indonesia became one of the fastest growing injecting drug user (IDU) driven HIV epidemics in Asia. Among strategies to prevent and control the HIV epidemic in Indonesia, methadone maintenance treatment (MMT) has been established and could become an entry point for HIV testing and treatment in IDUs. This study explored MMT and HIV treatment practices in West Java. An evaluation team visited six MMT clinics, interviewed staff and collected data on patient characteristics, methadone dose, and HIV testing and treatment practices. By October 2011, from 203 IDUs entering MMT (range 7–73 per clinic), 95% were male with the average age of 31 years (range 19–60 years), 92% had a senior high school or higher diploma, 47% had a regular income, and 55% were married. The mean methadone dose was 79 mg/day (range 13–208 mg/day). About 85% of the MMT patients were tested for HIV, of whom 70% were found HIV positive (121/173), while 59% had a baseline CD4 count >200 cells/mm3 and 65% were receiving ART. In conclusion, few IDUs entered MMT in West Java and among those who did; high HIV and ART rates were reported, stressing the need for active linking between harm reduction services and integrated MMT and HIV treatment for IDUs.
Pengaruh Inovasi Jasa dan Harga terhadap Nilai yang Dirasakan Pasien di Stroke Center RS Al-Islam Bandung Siska Nia Irasanti; Yudi Azis; Wawang S. Sukarya
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2897.981 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v3i1.1544

Abstract

Rumah sakit sebagai salah satu industri jasa harus dapat menghasilkan produk barang maupun jasa dengan kualitas yang baik. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh inovasi jasa dan harga pada nilai yang dirasakan pasien di Stroke Center RS Al Islam Bandung. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan pendekatan survei. Waktu penelitian selama bulan November–Desember tahun 2015. Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien Stroke Center RS Al-Islam Bandung. Jumlah sampel sebanyak 256 responden dan dikumpulkan dengan teknik accidental sampling. Alat pengambil data yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan structural equation modelling (SEM) dengan LISREL versi 8.80. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh positif yang secara statistik bermakna (kategori kekuatan sedang) variabel inovasi jasa dan harga terhadap nilai yang dirasakan pasien di Stroke Center RS Al-Islam Bandung secara parsial sebesar 20,25% (t hitung 2,20 dan 1,98 > tabel=1,98 dan α=0,05) dan secara simultan sebesar 44,3% (F=0,001<F tabel=0,005 dengan α=0,05). Walaupun demikian, masih ada faktor lain yang memengaruhi nilai yang dirasakan di Stroke Center RS Al-Islam Bandung dan tidak diteliti dalam penelitian ini sebesar 55,7%. Simpulan, kondisi inovasi jasa sangat inovatif, kondisi harga pada kategori murah, sedangkan kondisi nilai yang dirasakan pasien pada kategori baik. Inovasi jasa dan harga berpengaruh sedang dalam meningkatkan nilai yang dirasakan pasien di Stroke Center RS Al-Islam. THE EFFECT OF SERVICES INNOVATION AND PRICE TO THE COSTUMER PERCEIVED VALUE AT STROKE CENTER BANDUNG AL-ISLAM HOSPITALHospital as one of service industry need to produce good services. The aim of this study was to describe the effects of service innovation and price on customer perceived value in Stroke Center of Al-Islam Hospital, Bandung. This was an analytical observational study using survey. Subjects were 256 patients in Stroke Center of Al-Islam Hospital, Bandung using accidental sampling method. Data were collected through questionnaires and interviews. Analysis used structural equation modeling (SEM) with LISREL version 8.80. The results of this study showed that service innovation and price had positive and significant influence (moderate effects) to customer perceived value in Stroke Center of Bandung Al-Islam Hospital. The partially influence was detected at 20,25% (t value 2,20 and 1,98 > t table=1,98 with α=0,05) and the simultaneous influence was 44.3% (F significance=0.001 <F table=0.005 with α=0.05). There were another influencing factors that affected customer perceived value in Stroke Center of Bandung Al-Islam Hospital by 55,7%. In conclusions, service innovation is very innovative, price condition is in cheap category and customer perceived value is in good categor. Services innovation and price have moderate effect to the customer perceived value at Stroke Center Bandung Al-Islam Hospital.
Faktor Pendukung dan Penghambat Penderita Diabetes Melitus dalam Melakukan Pemeriksaan Glukosa Darah Rizana Fajrunni&#039;mah; Diah Lestari; Angki Purwanti
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.683 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v5i3.2181

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah sekelompok gangguan metabolisme bersifat kronik yang ditandai peningkatan kadar glukosa darah serta gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Setiap tahun lebih dari empat juta orang meninggal akibat DM, dan jutaan orang mengalami efek buruk atau kondisi yang mengancam jiwa seperti serangan jantung, strok, gagal ginjal, kebutaan, dan amputasi. Kemampuan individu mengelola kehidupan sehari-hari serta mengendalikan dan mengurangi dampak penyakit yang dideritanya dikenal dengan self-management, yaitu mengikuti pola makan sehat, meningkatkan kegiatan jasmani, menggunakan obat DM dan obat pada keadaan khusus secara aman dan teratur, melakukan pemantauan kadar gula darah, serta perawatan kaki secara berkala. Beberapa penelitian melaporkan bahwa masih sedikit penderita DM melakukan pemantauan gula darah dengan baik. Penelitian ini bertujuan memperoleh pemahaman mendalam tentang pengalaman penderita DM dalam pemeriksaan kadar glukosa darah dengan menggunakan metode penelitian kualitatif pendekatan fenomenologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli–September 2016 di wilayah kerja Puskesmas Jatiwarna, Bekasi. Hasil analisis data teridentifikasi faktor pendukung pemeriksaan glukosa darah adalah faktor psikologis, sosial, edukasi, ekonomi, dan akses. Faktor penghambatnya adalah faktor psikologis, sosial, edukasi, penggunaan obat, sikap terhadap penyakit, dan persepsi terhadap jaminan kesehatan. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi masukan dalam meningkatkan kualitas edukasi dan pendampingan tenaga kesehatan kepada pasien sehingga pasien terbantu meningkatkan adaptasi dan kemampuannya memantau glukosa darah secara mandiri.SUPPORTING AND INHIBITING FACTORS OF DIABETES MELLITUS PATIENTS IN PERFORMING BLOOD GLUCOSE EXAMINATIONDiabetes mellitus (DM) is a chronic metabolic disorder marked by an increase in blood glucose levels and impaired metabolism of carbohydrates, fats, and proteins. Every year more than four million people die because diabetes and millions of people experience the ill effects of diabetes or life-threatening conditions such as heart attack, stroke, kidney failure, blindness, and amputation. The individual's ability to manage life, control and reduce the impact of the disease known as self-management is to follow a healthy diet, increasing physical activity, using the drug safely and regularly, monitoring blood sugar levels as well as maintenance feet regularly. Several studies reported only small number of DM patients examined blood glucose levels routinely. This study aim to gain a thorough understanding of individual experience with DM in examining blood glucose levels. This study used qualitative research with a phenomenological approach from July to September 2016 at Jatiwarna, Bekasi. The results identified factors supporting blood glucose examination were: psychological factors, social, educational, economic, and access to health care. The inhibiting factors were psychological factors, social, educational, drug use, attitudes toward the disease, and perceptions of health insurance. The results expected to improve the quality of education and mentoring for health workers. It will help patients improving the adaptability and the ability to blood glucose self-monitoring.
Acute Toxicity Test of Unripe Papaya (Carica papaya L.) Aqueous Extract (UPAE) on The Blood Urea and Creatinine Concentration Yuktiana Kharisma; Yuke Andriane; Titik Respati
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (58.232 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i2.3794

Abstract

Unripe papaya aqueous extract (UPAE) widely used as lactation stimulator, antidiabetes, antibacterial, and anti-inflammatory. The utilization of papaya is not known for its safety yet, so it is necessary to research its toxicity. The purpose of this study was to investigate the acute toxicity of UPAE on renal function through measurement of blood urea and creatinine levels. This study was conducted in July 2017 in Laboratory of Medical Biology, Faculty of Medicine, Universitas Islam Bandung. This study used pure in vivo experimental design on 11 Swiss Webster mice using the dose of acute toxicity determination based on new recommended methods of 0; 50; 200; 400; 800; 1,000; 1,500; 2,000; 3,000; 4,000; and 5,000 mg/kgBW. After 24 hours, 1 mL blood drawn through the tail examined for blood urea and creatinine levels. The measurement of urea content using kinetic method point and creatinine level using modified Jaffe method. Provision of UPAE at doses of 0, 50, 200, 400, 800, and 1,000 mg/kgBW resulted on blood urea equal to 39, 35, 48, 49, 48, and 32 mg/dL respectively. Blood urea level 23, 22, 28, 34, and 35 mg/dL was obtained at 1,500 UPAE doses; 2,000; 3,000; 4,000; and 5,000 mg/kgBW dosages respectively. After 24 hours of UPAE administration, the creatinine level in various doses using new recommended method of (0–5,000 mg/kgBW) were 0.75, 0.54, 0.53, 0.50, 0.60, 0.54, 0.52, 0.55, 0.42, 0.51, and 0.40 mg/dL. In conclusion, UPAE do not cause acute toxicity on renal function through measurement of blood urea and creatinine levels. TOKSISITAS AKUT EKSTRAK AIR BUAH PEPAYA (CARICA PAPAYA L.) TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ DARAHEkstrak air buah pepaya muda (EABPM) digunakan secara empiris sebagai laktagogum, antidiabetes, antibakteri, dan antiinflamasi. Tingkat keamanannya belum banyak diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian uji toksisitas akut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui toksisitas akut EABPM terhadap fungsi ginjal melalui pengukuran kadar ureum dan kreatinin plasma. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2018 di Laboratorium Biologi Medis, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Bandung. Penelitian ini menggunakan desain eksperimental murni in vivo terhadap 11 ekor mencit betina galur Swiss Webster dengan penentuan dosis sesuai dengan new recommended method: 0, 50, 200, 400, 800, 1.000, 1.500, 2.000, 3.000, 4.000, dan 5.000 mg/kgBB. Setelah 24 jam, diambil darah melalui ekor mencit sebanyak 1 mL untuk diperiksa kadar ureum dan kreatinin plasma. Pengukuran kadar ureum menggunakan point kinetic method dan kadar kreatinin menggunakan metode Jaffe yang dimodifikasi. Pemberian EABPM pada dosis 0, 50, 200, 400, 800, dan 1.000 mg/kgBB didapatkan kadar ureum plasma 39, 35, 48, 49, 48, dan 32 mg/dL secara berurutan. Kadar ureum plasma 23, 22, 28, 34, dan 35 mg/dL didapatkan pada pemberian dosis EABPM sebanyak 1.500, 2.000, 3.000, 4.000, dan 5.000 mg/kgBB. Kadar kreatinin plasma dalam berbagai dosis (0–5.000 mg/kgBB) adalah 0,75; 0,54; 0,53; 0,50; 0,60; 0,54; 0,52; 0,55; 0,42; 0,51; dan 0,40 mg/dL. Simpulan, EABPM tidak menimbulkan tanda toksisitas akut pada fungsi ginjal melalui pengukuran kadar ureum dan kreatinin plasma.
Perbandingan Fungsi Paru Juru Parkir Basement dengan Juru Parkir Ruang Terbuka di Kota Bandung Galih Trissekti; Mia Kusmiati; Budiman Budiman
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3347.322 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v2i2.1533

Abstract

Polusi udara bertanggung jawab atas 3,1 juta kematian seluruh dunia setiap tahunnya. Efek buruk dari polusi udara berdasarkan penelitian pada tiga lokasi berbeda di Beijing, Cina tahun 1986, menyatakan bahwa peningkatan konsentrasi polusi udara sebesar 1 mikrogram/m3 mampu menurunkan forced expiratory volume in one second (FEV1) sebesar 35,6 mL. Populasi yang berisiko mengalami masalah pernapasan akibat terpapar asap kendaraan yang dapat terhirup setiap waktu ini secara jangka panjang, salah satunya adalah juru parkir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan fungsi paru juru parkir basement dengan juru parkir ruang terbuka di Kota Bandung periode Januari–Juni2014. Desain penelitian bersifat analitik kuantitatif dengan rancangan potong lintang terhadap masig-masing 33 subjek yang berprofesi sebagai juru parkir basement dan juru parkir ruang terbuka. Terlebih dahulu dilakukan pengukuran data karakteristik fisik berupa usia (tahun) dan IMT (kg/m2), selanjutnya dilakukan pengukuran fungsi paru menggunakan parameter FEV1, forced vital capacity (FVC), dan FEV1/FVC dengan spirometri, kemudian dibandingkan antara kedua kelompok juru parkir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai median FEV1 juru parkir basement (3.300 mL, range 2.600–4.400 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.000 mL, range 2.300–3.800 mL) dengan nilai p=0,011. Nilai FVC rata-rata juru parkir basement (3.587,88 ± 470,21 mL) dan juru parkir ruang terbuka (3.287,88 ± 478,77 mL) dengan nilai p=0,013. Nilai median FEV1/FVC juru parkir basement (0,94; range 0,79–0,98) dan juru parkir ruang terbuka (0,92; range 0,77–0,97) dengan nilai p=0,016. Simpulan hasil penelitian menunjukkan fungsi paru yang digambarkan dengan FEV1, FVC, dan FEV1/FVC pada juru parkir basement lebih baik daripada juru parkir ruang terbuka. THE COMPARISON OF LUNG FUNCTION BETWEEN BASEMENT PARKING AND STREET PARKING ATTENDANTS IN BANDUNG CITYAir pollutions responsible for 3.1 milion death in the world every years. The bad effect from it according to research in three different places of Beijing (1986) reveal that enhancement 1 microgram/m3 of air pollution concentration can cause reduction forced expiratory volume in one second (FEV1) about 35.6mL. Population with high risk to have respiratory disorder as consequence exposed to vehicle’s smoke that can inhaled anytime and long-term, one of which is parking attendants. This research is therefore conducted to obtain comparison of lung function between basement parking attendants and street parking attendants in Bandung city period January–June 2014. This research design is quantitative analysis with cross sectional method towards each 33 subjects that worked as basement parking attendants and street parking attendants. The demography characteristic such as age (years old) and BMI (kg/m2). Further performed test of lung function with parameters: FEV1, forced vital capacity (FVC), and FEV1/FVC by spirometer, furthermore compared between the two groups of parking attendants. The research result showed that FEV1 median score of basement parking attendants (3,300 mL, range 2,600–4,400 mL) and street parking attendants (3,000 mL, range 2,300–3,800 mL) with p=0.011. The FVC average score of basement parking attendants (3,587.88 ± 470.21 mL) and street parking attendants (3,287.88 ± 478.77 mL) with p=0.013. The FEV1/FVCmedian score of basement parking attendants (0.94; range 0.79–0.98) and street parking attendants (0.92; range 0.77–0.97) with p=0.016. In conclusion lung function described by FEV1, FVC, and FEV1/FVC in basement parking attendants are better than street parking attendants, with all score are significant.
Faktor Prediksi Perforasi Apendiks pada Penderita Apendisitis Akut Dewasa di RS Al-Ihsan Kabupaten Bandung Periode 2013–2014 Fajar Awalia Yulianto; R. Kince Sakinah; M. Insan Kamil; Tri Yunis Miko Wahono
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.87 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v4i2.1844

Abstract

Morbiditas dan mortalitas apendisitis akut disebabkan oleh perkembangan apendisitis akut menjadi perforasi apendiks. Hal-hal yang menyebabkan kerentanan apendiks belum banyak diteliti dan belum diketahui penyebab pastinya. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat memprediksi terjadinya perforasi apendiks. Penelitian dengan desain kasus kontrol menggunakan data sekunder berupa rekam medis penderita apendisitis akut dewasa di RS Al-Ihsan Kabupaten Bandung tahun 2013–2014 dengan jumlah kasus (perforasi apendiks) 36 kasus dan kontrol (nonperforasi) 93 kasus. Analisis data yang dilakukan meliputi deskriptif, chi-square, receiver operating characteristic, dan regresi logistik multivariat. Dua faktor prediksi yang bermakna sebagai faktor prediksi perforasi apendiks dalam analisis regresi logistik multivariat adalah suhu badan di atas 37,5°C dengan odds ratio (OR) 7,54 (IK 95%: 2,01–28,33), jumlah leukosit di atas 11.500/mm3 dengan OR 12,12 (IK 95%: 4,03–36,48). Perlu validasi pemeriksaan suhu badan di RS, penelitian lebih lanjut untuk mencari faktor prediksi lainnya, persiapan operasi segera untuk pencegahan komplikasi perforasi apendiks, dan pemberian informasi ke masyarakat bahwa sakit perut dapat bersifat gawat darurat. PREDICTIVE FACTORS FOR PERFORATED APPENDIX IN ACUTE APPENDICITIS ADULT PATIENTS IN AL-IHSAN HOSPITAL BANDUNG REGENCY 2013–2014Appendix perforation is the causation for acute appendicitis morbidity and mortality. Factors that may cause appendix vulnerability has not been extensively studied before and the main cause is still yet unknown. The goal of this study was to analyze what factors that could be used to predict appendix perforation. This study was a case control study using 2013–2014 medical records in Al-Ihsan Hospital Bandung Regency as data. Case group pooled from 36 perforated appendix adult (above 15 years old) patients, while control group pooled from 93 non perforated appendix adult patients. Data analysis conducted were descriptive, chi-square, receiver operating characteristic, and multivariate logistic regression. There were two prediction factors which significantly associated with perforated appendix. Those were body temperature above 37.5°C with odds ratio (OR) 7.54 (95% CI: 2.01–28.33), and leucocytes count above 11,500/mm3 with OR 12.12 (95% CI: 4.03–36.48). Further studies and body temperature validation on each hospital are needed to find other prediction factors, preparing pre operative equipment for immediate definite measure like surgery to prevent the complication of perforated appendix, and education to people that abdominal pain is not always causing by gastric problem and it might be a case of emergency.
The Upregulation of Carnitine Palmitoyltransferase 1a (CPT1a) Expression under Prolonged Fasting in CD36 Knockout Mice Mirasari Putri; Mas Rizky A.A. Syamsunarno; Tatsuya Iso; Masahiko Kurabayashi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9.616 KB) | DOI: 10.29313/gmhc.v6i2.3286

Abstract

Food deprivation is one of the extreme conditions that mammals have to survive. The majority of the tissues, excluding the brain and red blood cells, depend on the fatty acids (FA) utilization to produce energy. We recently showed in mice lacking for CD36 (CD36−/−), the uptake of FA is limited with dramatically increased of glucose uptake in heart and skeletal muscle in fasted condition, indicating a compensatory mechanism of organ to fulfill an energy demand. The liver is the central tissue maintaining metabolic homeostasis in fasted state. Synthesize adenosine triphosphate (ATP) in the mitochondria via beta-oxidation was mediated by carnitine palmitoyltransferase 1a (CPT1a). The objective of this research was to explore the role of CD36 in CPT1a expression in the fasted state. This research was conducted at Gunma University Japan in 2015. The method was in vivo-experimental, that we used CD36−/− and wild-type (WT) mice, as a control. The gene expression of CPT1a was measured by real-time PCR. Fasting condition up regulated mRNA expression of CPT1a in both WT and CD36−/− mice in 24 h and 48 h. However in CD36−/− mice, the mRNA expression of CPT1a in 24 h fasted state was lower very significantly than WT mice (p<0.01). We demonstrate that CD36 deficiency up regulate CPT1a gene expression, suggested that CD36 is essential for nutrient homeostasis when requirement for FA is increased and obtainability of nutrient is inadequate. PENINGAKTAN EKSPRESI GEN CARNITINE PALMITOYLTRANSFERASE 1A (CPT1A) PADA CD36 KNOCKOUT MICE DALAM KEADAAN PUASAKekurangan makanan adalah salah satu kondisi ekstrem yang harus dihindari oleh mamalia. Sebagian besar jaringan, kecuali otak dan sel darah merah sangat bergantung pada pemanfaatan langsung asam lemak untuk menghasilkan energi. Penelitian kami sebelumnya menunjukkan pada mencit dengan defisiensi CD36 (CD36−/−), serapan asam lemak terbatas karena peningkatan pengambilan glukosa hati dan otot rangka secara signifikan dalam kondisi puasa yang mengindikasikan mekanisme kompensasi organ untuk memenuhi kebutuhan energi. Hati adalah jaringan sentral yang menjaga homeostasis metabolik tubuh dalam keadaan berpuasa. Sintesis adenosine triphosphate (ATP) di mitokondria melalui beta-oksidasi dimediasi oleh carnitine palmitoyltransferase 1a (CPT1a). Tujuan penelitian ini mengetahui peran CD36 dalam ekspresi CPT1a dalam keadaan puasa. Penelitian ini dilakukan di Universitas Gunma Jepang pada tahun 2015. Metode penelitian ini adalah eksperimental in vivo dengan menggunakan mencit CD36−/− dan wild type (WT) sebagai kontrol. Ekspresi gen CPT1a diukur dengan real-time PCR. Puasa meningkatkan ekspresi mRNA CPT1a pada mencit WT dan CD36−/− baik setelah puasa selama 24 jam dan 48 jam. Namun, pada mencit CD36−/−, ekspresi mRNA CPT1a dalam keadaan setelah dipuasakan 24 jam lebih rendah daripada mencit WT (p<0,01). Penelitian ini menunjukkan bahwa defisiensi CD36 mengatur ekspresi gen CPT1a sehingga CD36 sangat diperlukan untuk homeostasis nutrisi ketika kebutuhan asam lemak meningkat dan kemungkinan ketersediaan nutrisi terbatas.