cover
Contact Name
Agus Chalid
Contact Email
gulid.p@gmail.com
Phone
+6285220013654
Journal Mail Official
gmhc.unisba@gmail.com
Editorial Address
Jalan Hariangbanga No. 2, Tamansari, Bandung 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Global Medical and Health Communication
ISSN : 23019123     EISSN : 24605441     DOI : https://doi.org/10.29313/gmhc
Core Subject : Health, Science,
Global Medical and Health Communication is a journal that publishes research articles on medical and health published every 4 (four) months (April, August, and December). Articles are original research that needs to be disseminated and written in English. Subjects suitable for publication include but are not limited to the following fields of anesthesiology and intensive care, biochemistry, biomolecular, cardiovascular, child health, dentistry, dermatology and venerology, endocrinology, environmental health, epidemiology, geriatric, hematology, histology, histopathology, immunology, internal medicine, nursing sciences, midwifery, nutrition, nutrition and metabolism, obstetrics and gynecology, occupational health, oncology, ophthalmology, oral biology, orthopedics and traumatology, otorhinolaryngology, pharmacology, pharmacy, preventive medicine, public health, pulmonology, radiology, and reproductive health.
Articles 422 Documents
Harga Diri dan Kualitas Hidup Remaja Penderita Akne Vulgaris di Poliklinik Kulit dan Kelamin RSUD AL-Ihsan Kabupaten Bandung Pratiwi, Soria Putu; Nuripah, Gemah; Feriandi, Yudi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Akne vulgaris adalah peradangan kronik folikel pilosebasea yang ditandai oleh komedo, papula, pustula, dan kista pada daerah predileksi. Insidensi akne vulgaris sering dijumpai pada masa remaja usia 14–19 tahun. Terdapat banyak dampak yang ditimbulkan oleh akne vulgaris, salah satunya dampak psikologis seperti harga diri dan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini untuk menunjukkan apakah akne vulgaris dapat menurunkan harga diri dan kualitas hidup, serta harga diri berhubungan dengan kualitas hidup remaja penderita akne vulgaris. Penelitian ini menggunakan rancangan analitik dengan studi potong lintang. Pasien remaja penderita akne vulgaris yang datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung periode Maret–Juni 2014 diminta untuk mengisi kuesioner Dermatology Life Quality Index (DLQI) dan Rosenberg Self Esteem Scale. Uji statistik yaitu Uji Eksak Fisher. Hasil penelitian menunjukkan dari jumlah responden sebanyak 30 orang didapatkan 22 remaja penderita akne vulgaris memiliki harga diri yang rendah dan kebanyakan terdapat efek yang sedang dan besar terhadap kualitas hidup. Besarnya koefisien korelasi antara harga diri dan kualitas hidup adalah 0,376 berada pada kategori rendah/lemah. Hasil ini dapat terjadi karena banyak faktor lain yang memengaruhi kualitas hidup seperti sosial ekonomi, diagnosis pasien secara medis atau psikologis, serta penatalaksanaan medis yang dijalani. Simpulan, tidak terdapat hubungan antara harga diri dan kualitas hidup remaja penderita akne vulgaris. Kata kunci: Akne vulgaris, kualitas hidup, remaja  Self-Esteem and Quality of Life of Adolescence with Acne Vulgaris at Dermatology and Venerology Policlinic RSUD Al-Ihsan Bandung Regency Abstract Acne vulgaris is a chronic inflammation of the pilosebaceous follicles characterized by comedones, papules, pustules, and cysts in predilection areas. The incidence of acne vulgaris is common in adolescence aged 14–19. Acne vulgaris caused by many factors. One of it, is self-esteem and quality of life. The purpose of this study was to show that acne vulgaris can decrease self-esteem and quality of life, and that self-esteem related to quality of life of adolescence with acne vulgaris.This study used analytical design with cross-sectional studies. Adolescence patients  with acne vulgaris who came to dermatology and venerology policlinic at RSUD Al-Ihsan in period March to June 2014 were asked to fill out Dermatology Life Quality Index (DLQI) and Rosenberg Self Esteem Scale. The research showed 22 of adolescence patients with acne vulgaris have low self-esteem and there was a moderate effect on quality of life. The unknown magnitude of the correlation coefficient between self-esteem and quality of life was 0.376 in the category of low/weak.  This result may occur because there were other factors that affect quality of life such as socioeconomic, patient diagnosis, and medical or psychological undergoing medical management. In cobclusion, there is no corelation between self-esteem and quality of life of adolescence with acne vulgaris. Key words: Acne vulgaris, adolescence, quality of life
Gambaran dan Derajat Disfungsi Sendi Temporomandibula pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung Tahun Akademik 2013–2014 Rachman, Randika; Wagiono, Caecielia; , Yuniarti
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Disfungsi sendi temporomandibula merupakan kelainan yang melibatkan sendi temoromandibula, otot-otot pengunyahan, dan berbagai struktur jaringan yang bersangkutan, ditandai dengan gejala utama berupa nyeri pada otot-otot pengunyahan dari sendi temporomandibula, suara sendi seperti clicking (keletuk sendi) dan krepitasi, serta keterbatasan dan deviasi pergerakan rahang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran dan derajat disfungsi sendi temporomandibula pada mahasiswa FK Unisba tahun akademik 2013–2014. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pemilihan subjek secara simple random sampling periode April–Juli 2014, didapatkan jumlah sampel sebesar 70 orang. Penelitian ini diperoleh dari hasil kuesioner dan pemeriksaan fisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian disfungsi sendi temporomandibula pada mahasiswa FK Unisba tahun akademik 2013–2014 adalah 61%. Derajat ringan 49%, derajat sedang 8%, dan derajat berat 4%. Gambaran manifestasi klinis untuk bunyi sendi 61%, nyeri mengunyah 6%, nyeri membuka mulut 7%, dan trismus 4%. Kebiasan buruk terjadi pada 46%, pola pengunyahan 37%, dan maloklusi 29%. Angka kejadian disfungsi sendi temporomandibula pada mahasiswa FK Unisba tahun akademik 2013–2014 sebesar 61%, manifestasi klinis berupa clicking yang disebabkan oleh pola pengunyahan satu sisi.   Kata kunci: Derajat, disfungsi, gambaran, mahasiswa, sendi temporomandibula     Description and Degree of Temporomandibular Joint Dysfunction in Medical Students of Universitas Islam Bandung Academic Year 2013–2014   Abstract   Temporomandibular joint dysfunction is a disorder that involves temporomandibula joints, muscles of mastication, and a range of relevant network structures, characterized by major symptoms of pain in the masticatory muscles of the temporomandibular joint, the joint sound like clicking and crepitation, and limitations and deviation of the jaw movement. This study  aimed  to  determine  the  description  and  degrees   of  temporomandibular  joint dysfunction in medical students of Unisba academic year 2013–2014. This study used a descriptive method and the selection of subjects by simple random sampling in April–July 2014. The number of samples need 70 participants. This research was obtained from the questionnaire and physical examination. The results showed that the incidence of temporomandibular joint dysfunction in medical students in Unisba academic year 2013–2014 was 61%, with 49% mild degree, 8% moderate degree and 4% severe degree. Overview of the clinical manifestations were 61% for joints sound, chewing pain 6%, open mouth pain 7%, and trismus 4%. Description cause of parafunctional habit was 46%, mastication patterns 37%, and malocclusion 29%. In conclusions, incidence of temporomandibular joint dysfunction in medical students of Unisba academic year 2013–2014 is 61% with mild degree, clicking is clinical manifestation caused by one-side mastication patterns.   Key words: Degree, description, dysfunction, student, temporomandibular joints
Pola Perubahan Transmisi Infeksi HIV di Jawa Barat Periode Tahun 2002–2012 Pratiwi, Ridiani; Djajakusumah, Tony S.; Santosa, Dicky
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Human immunodeficiency virus (HIV) adalah  retrovirus yang termasuk golongan virus RNA yang  menginfeksi sel  sistem  kekebalan  tubuh  manusia.  Infeksi  HIV  masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia dan dilaporkan terjadi pola perubahan transmisi infeksi HIV dari tahun ke tahun di negara tertentu. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis pola perubahan transmisi  infeksi HIV di Jawa Barat pada periode tahun 2002 sampai 2012. Penelitian ini dilakukan secara observasional deskriptif dengan pendekatan retrospektif melalui data tersier berupa laporan pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS yang diterima oleh Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Rumah Sakit di Jawa Barat pada tahun 2002 sampai dengan 2012. Penelitian dilakukan selama desember 2013–Juli 2014. Hasil penelitian menunjukkan pola perubahan transmisi yang terjadi di Jawa Barat pada tahun 2002 sampai dengan tahun 2012. Jumlah kasus infeksi HIV   melalui transmisi homoseksual yaitu 286 kasus, transmisi heteroseksual 1.519 kasus, jarum suntik 1.408 kasus, transmisi ibu ke anak 140 kasus, dan transfusi darah sebanyak 7 kasus. Terjadi perubahan pada tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 yaitu peningkatan transmisi heteroseksual menggantikan posisi transmisi pengguna jarum suntik. Keadaan sempat menurunnya transmisi kasus infeksi HIV melalui jarum suntik di Jawa Barat karena penanggulangan pemerintah yang melakukan terapi rumatan metadon.   Peningkatan transmisi   heteroseksual yang  terjadi  dapat  dipengaruhi  oleh faktor norma budaya, maraknya industri prostitusi, status ekonomi, dan pergaulan remaja muda hedonis yang terjadi di lingkungan masyarakat.   Kata kunci: Infeksi HIV, pola perubahan, transmisi     Changes of Human Immunodeficiency Virus in West Java Indonesia in Year 2002–2012   Abstract   Human immunodeficiency virus is a class of retrovirus which has RNA carrying its molecular genetic that infects the human immune system cells. HIV infection has become global issue and has reported there has been pattern changes of HIV transmission in a certain country. The aim of the study was to describe and analyze the pattern changes of HIV transmission in West Java, Indonesia in year 2002 to 2012. The study was an observational descriptive study with retrospective approach using tertiary form of HIV infections and AIDS cases report which was accepted by Provincial Health Office of West Java from Health Office of District Municipality and Hospital in West Java in 2002 to 2012. The study was held in December 2013 to July 2014. The results showed there were pattern changes of HIV transmission in West Java in 2002 to 2012. There were 286 cases of HIV infection due to homosexual transmission, 1,519 cases due to heterosexuals, 1,408 cases due to injection drug users, 140 cases due to mother to child transmission, and 7 cases due to blood transfusion. There were pattern changes in 2011 until 2012 that injection drug users transmission replaced by heterosexual transmission which has had the highest number with HIV infection. Decreased of HIV infection rates caused by injection drug users could be caused by government policies to prevent HIV by using methadone therapies. The increased of heterosexual transmission could be caused by culture, prostitution industry, economic status, and hedonic teen promiscuity which has happened in community.   Key words: HIV infection, pattern changes, transmission
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan Ibu tentang Diare dengan Frekuensi Kejadian Diare Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Tamansari Bandung Oktober 2013–Maret 2014 Fatiha, Hoirunisa; Tejasari, Maya; Trusda, Siti Annisa Devi
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Penyakit diare di Indonesia semakin meningkat yang dapat menyebabkan kematian terutama balita. Salah satu faktor yang memengaruhi frekuensi kejadian diare adalah pengetahuan, sikap, dan perilaku orangtua tentang diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu tentang diare dengan frekuensi kejadian diare balita di wilayah kerja Puskesmas Tamansari Kota Bandung. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan rancangan desain potong lintang (cross sectional) periode April–Juni 2014. Subjek penelitian ini adalah ibu yang memiliki balita di wilayah kerja Puskesmas Tamansari. Jumlah sampel penelitian sebanyak 97 orang. Data yang dikumpulkan berupa data primer menggunakan kuesioner yang sudah divalidasi.   Pengolahan data menggunakan SPSS versi 21 dan analisis statistik menggunakan uji chi-kuadrat. Hasil menunjukkan bahwa responden berpendidikan tinggi memiliki balita yang sebagian besar tidak pernah diare dan analisis statistik menunjukkan hubungan bermakna antara tingkat pendidikan dan frekuensi kejadian diare balita (p=0,001). Responden dengan pengetahuan baik sebanyak 21 dari 36 subjek memiliki balita tidak pernah diare dan analisis statistik menunjukkan hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan ibu dan frekuensi kejadian diare balita (p=0,007). Simpulan, terdapat hubungan tingkat pendidikan ibu dan pengetahuan  ibu  tentang  diare dengan frekuensi kejadian diare balita di wilayah kerja Puskesmas Tamansari.   Kata kunci: Diare, frekuensi diare, pendidikan, pengetahuan   The Relationship Levels of Education and Mothers Knowledge about the Frequency of Occurence of Diarrhea in Infants of Tamansari Bandung in October 2013–March 2014   Abstract   Diarrhea disease in Indonesia is increasing, can cause death, especially in infants. One of the factors that affect the frequency of occurrence of diarrhea is knowledge, attitudes, and behaviors of parents of diarrhea. This study aims was to determine the relationship between levels of education and mothers level of knowledge about the frequency of occurrence of diarrhea in infants Puskesmas of Tamansari Bandung. This study was an observational analytic cross-sectional design in period April–June 2014. The subjects were mothers who had children in the Puskesmas of Tamansari. The number of samples were 97 people. The data collected for this study in the form of primary data using questionnaires that have been validated.  Processing data using SPSS version 21 and statistical analysis using chi-square test. The results indicated that respondents with higher education category had  largely  toddler  never had diarrhea. The  results  of statistical analysis showed that there was a significant relationship between the level of education and the frequency of occurrence of diarrhea infants (p=0.001). Respondents with good knowledge most had diarrhea toddler never amounted 21 of 36 subjects and the results of statistical analysis showed that there was a significant relationship between the level of knowledge of mothers with children under five diarrhea occurrence frequency (p=0.007). In conclusion, there is a relationship between the level of maternal education and the mothers level of knowledge about the frequency of occurrence of diarrhea in infants Puskesmas of Tamansari.   Key words: Diarrhea, education, knowledge, the frequency of diarrhea
Optimasi Dosis dan Perbandingan Efek Ekstrak Etanol Ceplukan (Physalis angulata) dengan Obat Herbal Imunomodulator Terstandar terhadap Aktivitas Makrofag Intraperitoneal Mencit Jantan Galur DDY Triyani, Yani; Herliani, Irna; Patrisia, Nurul; Achmad, Sadiah; Hendyanny, Eka; Hartati, Julia
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Angka kejadian penyakit infeksi di Indonesia masih tinggi, dengan angka mortalitas 230 kematian per 100.000 populasi. Dampak hal tersebut adalah penggunaan antibiotik yang tidak terkendali menyebabkan resistensi obat dan multidrug resistant bahkan extensive drug resistant. Konsumsi substansi yang berfungsi imunomodulator menjadi salah satu alternatif pemecahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak etanol ceplukan (Physalis angulata) yang memiliki efek imunomodulator berpengaruh pada aktivitas fagositosis makrofag intraperitoneal mencit jantan galur DDY, serta menilai optimasi dosis ekstrak etanol ceplukan dan membandingkan efeknya dengan obat herbal imunomodulator terstandar. Penelitian ini merupakan eksperimental laboratorik dengan subjek 25 ekor mencit jantan galur DDY yang dibagi lima kelompok. Setiap kelompok diberi perlakuan yang sama selama tujuh hari. Kelompok I (kontrol negatif) tidak diberikan ekstrak etanol ceplukan, kelompok II, III, dan IV diberikan ekstrak etanol ceplukan dengan dosis 12,5%, 25%, dan 50%, serta kelompok V (kontrol positif) diberikan obat herbal imunomodulator terstandar dosis 50 µL. Pada hari ke-8, dilakukan pengukuran aktivitas fagositosis makrofag intraperitoneal dengan melihat jumlah makrofag yang memfagosit biji lateks. Uji statistik yang digunakan adalah Kruskal-Wallis, Mann-Whitney, dan independent t-test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol ceplukan dosis 12,5% (rata-rata: 10, SD: 11,5) dan 25% (rata-rata: 14, SD: 8,5) secara signifikan meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag dibanding dengan kontrol negatif. Ekstrak etanol ceplukan dosis 25% tidak berbeda bermakna dibanding dengan obat imunomodulator (rata-rata: 13, SD: 8,26) (p=0,05). Simpulan, ekstrak etanol ceplukan meningkatkan aktivitas fagositosis makrofag intraperitoneal dengan dosis optimum 25% dan memiliki efek yang sama dengan obat herbal  imunomodulator terstandar.   Kata kunci: Aktivitas fagositosis, biji lateks, ekstrak etanol ceplukan, mencit jantan galur DDY   Dossage Optimation and Comparison of Ethanol Extract of Ceplukan (Physalis angulata) to Standardized Immunomodulator Herbal Medicine on Intraperitoneal Macrophage of Male Mice DDY Strain   Abstract Number of infection disease are still in Indonesia. There were 230 people died from 100,000 population. The impact is Indonesia still face uncontrolled use of antibiotic which cause multidrug resistant even  extensive drug resistant. The use of immunomodulator became the alternative solutions. This study aims was to describe whether there were an ability of Physalis angulata as an immunomodulator for the activity in macropag phagocytosis in DDY male rats. It also aim to identify extract optimation and compare it with the standard herbal immunomodulator. This was an experimental study with 25 male DDY rats divided into 5 groups. Group I as control negative was not given any ceplukan ethanol extract, group II, III and IV were given ceplukan ethanol extract with 12.5%, 25% and 50% dosage respectively and group V acted as positive control fed by standard herbal immunomodulator. On the 8th day intraperitoneal macrophage phagocytosis were measured by counting the number of macrophage which consumed the latex seeds. Statistical analysis used was Kruskal-Wallis, Mann-Whitney, and independent t-test.The resuts from this study showed that ceplukan ethanol extracts with the dosage of 12.5% (mean: 10, SD: 11.5) and 25% (mean: 14; SD: 8.5) significantly increased the phagocyte activity of macrophage compared to negative control. However 25% ceplukan ethanol extracts had no significant difference compared to standar herbal immunomodulator (mean: 13; SD: 8.25, p>0.05). The conclusions are ceplukan ethanol extract increases the phagocyte activity of macrophage with optimum dosage of 25% and possess the same effect with standard herbal immunomodulator. Key words: Latex seeds, male DDY rats, phagocytes activities, physalis angulata
Pengaruh Inovasi Jasa dan Harga Terhadap Nilai yang Dirasakan Pasien di Stroke Center RS. Al-Islam Bandung Irasanti, Siska Nia; Azis, Yudi; Sukarya, Wawang S
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Rumah sakit sebagai salah satu industri jasa harus dapat menghasilkan produk barang maupun jasa dengan kualitas yang baik. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengetahui pengaruh  inovasi jasa dan harga pada nilai yang dirasakan pasien di Stroke Center RS Al Islam Bandung. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan survei. Waktu penelitian adalah bulan November-Desember tahun 2015. Populasi dan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah pasien Stroke Center RS Al Islam Bandung. Jumlah sampel adalah 256 responden dan dikumpulkan dengan teknik accidental samping. Alat pengambil data yang digunakan adalah kuesioner dan wawancara. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SEM (structural equation modelling) dengan LISREL versi 8.80. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh positif yang secara statistik bermakna (kategori kekuatan sedang) dari variabel inovasi jasa dan harga terhadap nilai yang dirasakan pasien di Stroke Center RS Al Islam Bandung secara parsial sebesar 20,25% (t hitung 2,20 dan 1,98 > tabel=1,98 dan α=0,05) dan secara simultan sebesar 44,3% (F=0,001<F tabel=0,005 dengan α=0,05). Walaupun demikian, masih ada faktor lain yang mempengaruhi nilai yang dirasakan di Stroke Center RS Al Islam Bandung dan tidak diteliti dalam penelitian ini sebesar 55,7%. Kata kunci : nilai yang dirasakan pasien, rumah sakit, inovasi jasa, harga, stroke center.   THE EFFECT OF SERVICES  INNOVATION AND PRICE TO THE CUSTOMER PERCEIVED VALUE AT STROKE  CENTER                  BANDUNG AL ISLAM HOSPITAL Abstract Hospital as one of service industry need to produce good services. The aim of this study was to describe the effects of service innovation and price on customer perceived value in Stroke Center of Al Islam Hospital, Bandung. This was an analytical observational study using survey. Subjects were 256 patients in Stroke Center of Al Islam Hospital, Bandung using accidental sampling method. Data were collected through questionnaires and interviews. Analysis used SEM (structural equation modeling) with LISREL version 8.80. The results of this study showed that service innovation and price had positive and significant influence (moderate effects) to customer perceived value in Stroke Center of Bandung Al Islam Hospital. The partially influence was detected at 20,25% (t value 2,20 and 1,98 > t table=1,98 with α=0,05) and the simultaneous influence was 44.3% (F significance = 0.001 < F table = 0.005 with α= 0.05). There were another influencing factors that affected customer perceived value in Stroke Center of Bandung Al Islam Hospital by 55,7%. Key words: customer perceived value, hospital, service innovation, price, stroke center
Pengaruh Appointment Registration System terhadap Waktu Tunggu dan Implikasinya pada Kepuasan Pasien Susanti, Yuli; Azis, Yudi; Kusnadi, Dadang
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Peningkatan derajat kesehatan dapat dicapai melalui kemudahan akses terhadap fasilitas kesehatan. Peningkatan peserta pada program jaminan kesehatan nasional mengakibatkan antrian panjang di sarana pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode Appointment registration system (ARS) terhadap waktu tunggu dan kepuasan pasien. Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan sampel 380 orang dan observasi pada bulan Desember 2014 di RS Al Islam Bandung. Analisis menggunakan structural equation modeling (SEM) dan production operation management-quantitative methods (POMQM). Hasil penelitian yaitu konsisi pelaksanaan ARS (60,7%), waktu tunggu (59,1%) dan kepuasan pasien (67,3%) termasuk dalam kategori cukup. Terdapat pengaruh positif dan signifikan ARS terhadap waktu tunggu (51,84%), pengaruh positif dan signifikan waktu tunggu terhadap kepuasan pasien (25%), dan total pengaruh ARS terhadap kepuasan pasien (16,79%). ARS dapat menurunkan waktu tunggu secara efektif namun tidak semua metode ARS dapat menurunkan waktu tunggu. Pasien RSAI merasa cukup puas terhadap pendaftaran appointment dan waktu tunggu. Kata kunci: Appointment registration system, kepuasan pasien, waktu tunggu THE INFLUENCE OF OUTPATIENT APPOINTMENT REGISTRATION SYSTEM TO WAITING TIME AND ITS IMPLICATION TO PATIENT SATISFACTIONS Abstract Health improvement can be achieved through accessibility to health services. An increased participants in the health insurance program (JKN) resulted in a long queu in the hospital. This research aim to analize influence of appointment registration system (ARS) to waiting time and patient satisfaction. Research method using patient satisfaction survey in 380 subjects and observation on December 2014 at Al Islam Bandung Hospital. The result was analyzed using structural equation modeling (SEM) and production operation management-quantitative methods (POMQM). The results showed that the implementations of ARS (60,7%), waiting time (59,1%), and patient satisfaction (67,3%) were on moderate category. There was positive and significant influence of ARS to waiting time  (51,84%), There was positive and significant influence of waiting time to patient satisfaction (25%), and total influence of ARS to patient satisfaction are 16,79%. ARS could decreased waiting time significantly and effectively, but not all ARS methods could do the same. The patients in Al Islam Hospital had moderate satisfaction in appointment registration and waiting time.  Key words: Appointment registration system, patient satisfaction, waiting time Updated Version
Hubungan Preeklamsi Berat dengan Hasil Luaran Janin (FetalOutcome) di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung Gumay, Dave Orlando; Wijayanegara, Hidayat; , Zulmansyah
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Absak   Preeklamsi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu dan neonatus. Beberapa keadaan hasil luaran janin pada ibu preeklamsi di antaranya small for gestasional age (SGA), asifiksia, prematuritas, dan stillbirth. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan preeklamsi berat dengan hasil luaran janin (fetal outcome) di RSUD Al-Ihsan Kabupaten Bandung periode 1 Januari 2012–31 Maret 2014. Penelitian menggunakan metode rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penentuan jumlah subjek penelitian didapatkan dari jumlah populasi sebanyak 137 orang. Analisis statistik dilakukan secara bivariat dengan menggunakan metode chi-kuadrat derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini didapatkan hasil luaran janin dari ibu preeklamsi berat sebesar 33 kasus (24,1%) SGA, 73 kasus (53,3%) asfiksia ringan-sedang dan 13 kasus (9,5%) asfiksia berat pada APGAR menit pertama, 18 kasus (13,1%) lahir prematur, serta 1 kasus (0,7%) stillbirth. Terdapat hubungan preeklamsi berat dengan SGA (p=0,001; PR=6,928; 95% IK=2,797–17,162), asfiksia ringan-sedang APGAR 1 menit (p=0,001; PR=2,483; 95% IK=1,504–4,100), asfiksia berat APGAR 1 menit (p=0,001; PR=7,222; 95% IK=1,963– 26,567), prematuritas (p=0,010; PR=3,303; 95% IK=1,269–8,597). Simpulan, terdapat hubungan preeklamsi berat dengan variabel hasil luaran janin yakni SGA, asfiksia ringan-sedang dan berat APGAR 1 menit, serta prematuritas.   Kata kunci: Hasil luaran janin, preeklamsi berat   The Correlation between Severe Preeclampsia and Fetal Outcomes in RSUD Al-Ihsan Bandung   Abstct   Preeclampsia is   one of the causes of maternal-neonates morbidity and mortality. Several conditions of fetal outcomes in women with preeclampsia including small for gestasional age (SGA), asphyxia, prematurity and stillbirth. This study aims was to analyze the relationship between severe preeclampsia with fetal outcome in Al-Ihsan Hospital Bandung District period 1 January 2012−31 March 2014. The study used descriptive analytic design and cross-sectional method. Research subjects’ number obtained from a total population of 137 patients. Statistical analysis was performed with bivariat uses chi-square method with  95% confident interval. The result of this study showed that fetal outcomes of woman with severe preeclampsia were 33 cases (24.1%) SGA, 73 cases (53.3%) mild-moderate asphyxia and 13 cases (9.5%) severe asphyxia on APGAR 1 minute, 18 cases (13.1%) were born prematurely, and 1 case (0.7%) stillbirth. There were relation between severe preeclampsia and SGA (p=0.001, PR=6.928, 95% CI=2.797 to 17.162), mild-moderate asphyxia APGAR 1 minute (p=0.001, PR=2.483, 95% CI=1.504 to 4.100), severe asphyxia APGAR 1 minute (p=0.001, PR=7.222 95% CI=1.963 to 26.567) and prematurity (p=0.010, PR=3.303, 95% CI=1.269 to 8.597). In conclusions, there are a relationship between severe preeclampsia and fetal outcomes in terms of SGA, mild-moderate and severe asphyxia APGAR 1 minute and prematurity.   Key words: Fetal outcomes, severe preeclampsia
Korelasi Disfungsi Seksual dengan Usia dan Terapi padaBenign Prostatic Hyperplasia Kemalasari, Dewita Wahyu; Nilapsari, Rika; Rusmartini, Tinni
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Benign prostatic hyperplasia (BPH) ialah tumor jinak yang sangat sering terjadi pada pria. BPH dikarakteristikkan dengan pembesaran kelenjar prostat akibat hiperplasia pada stroma dan epitel prostat. Kejadian BPH meningkat seiring dengan pertambahan usia dan mencapai puncak pada usia di atas 80 tahun. Pengobatan yang diberikan pada pasien BPH yaitu alpha blocker, 5 alpha reductase inhibitor, ataupun kombinasi kedua obat tersebut dapat menimbulkan efek samping yaitu disfungsi ereksi, disfungsi ejakulasi, ataupun penurunan libido. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui korelasi kejadian disfungsi seksual dengan usia dan jenis terapi pada penderita BPH. Penelitian ini bersifat analitik observational dengan metode cross sectional mempergunakan data rekam medis pasien BPH di Bagian Urologi RSUD Al-Ihsan Bandung pada bulan Januari sampai Mei 2014. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 42 orang yang dipilih dari 106 pasien BPH dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Analisis statistik menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov dan Uji Eksak Fisher. Hasil penelitian ini didapatkan angka kejadian BPH di Bagian Urologi adalah 106 dari 211 pasien yang berobat (50,2%). Puncak kejadian BPH pada rentang usia 61–70 tahun dan hanya 12% yang mengalami disfungsi seksual. Distribusi BPH berdasarkan jenis terapi didapatkan hanya 10% yang menggunakan obat. Hasil analisis statistik menunjukkan tidak terdapat korelasi kejadian disfungsi seksual dengan usia, namun terdapat korelasi antara kejadian disfungsi seksual dan terapi pada pasien BPH (p=0,001). Simpulan, tidak terdapat korelasi kejadian disfungsi seksual dengan usia tetapi terdapat korelasi antara kejadian disfungsi seksual dan penggunaan obat. Kata kunci: Benign prostatic hyperplasia, disfungsi seksual   The Correlation of Sexual Disfunction with Age and Therapy of Benign Prostatic Hyperplasia     Abstract Benign prostatic hyperplasia is a neoplasma that commonly happened to men. BPH is characterized by the enlargement of prostatic gland, caused by hyperplasia of prostatic stromal and epithelial cells of prostate gland. BPH incidence has increased with age and has reached the highest incidence at above 80 years old. The treatment of BPH are alpha blocker, 5 alpha reductase inhibitor, or the combination of those two drugs. These treatments can cause side effects which are erectile dysfunction, ejaculation dysfunction, or libido decretion. The object of this research was to find the correlation between sexual disfunction and age and also with type of therapies of BPH patients. The research is an observational analytic by using cross sectional method. It has been performed by observing at the medical records of BPH patients. All observations were performed in Urology Department RSUD Al-Ihsan Bandung during January to May 2014. The number of the samples of the research were 42 people and it was chosen from 106 BPH patients by consecutive sampling technic. Statistic analysis of this research used Kolmogorov Smirnov and Fisher’s Exact test. The result of this research showed that the incidence of BPH in Urology Department of all patients was 106 from 211 patients (50.2%). The distribution of BPH based on age showed that it reached the highest incidence at 61–70 years old and there were 12% patients suffered from sexual disfunction. Meanwhile the distribution of BPH based on drugs therapy showed that only 10% who used drugs. The result of statistic analysis showed there was no correlation between sexual disfunction and age, but there was a correlation between sexual disfunction and drugs therapy in BPH patients (p=0.001). In conclusions, there is no correlation between sexual disfunction and age but has correlation with using drugs.   Key words: Benign prostatic hyperplasia, sexual disfunction
Insidensi dan Karakteristik Hepatotoksisitas Obat Antituberkulosis pada Penderita Tuberkulosis dengan dan tanpa Infeksi HIV Sumantri, Agung Firmansyah; Djumhana, Ali; Wisaksana, Rudi; Sumantri, Rachmat
Global Medical & Health Communication (GMHC) Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak   Salah satu penyulit dalam pengobatan tuberkulosis (Tb) adalah hepatotoksisitas obat antituberkulosis (OAT). Pasien Tb dengan infeksi human immunodeficiency virus (HIV) meningkatkan risiko kejadian hepatotoksisitas OAT. Hal ini menjadi tantangan dalam menghadapi pasien Tb-HIV. Penelitian ini bertujuan mengetahui insidensi dan karakteristik penderita hepatotoksisitas OAT pada Tb dengan dan tanpa infeksi HIV. Penelitian ini adalah penelitian  epidemiologi  klinik  yang  bersifat  deskriptif  observasional.  Penelitian dilaksanakan di  ruang  rawat jalan dan rawat inap RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung serta ruang rawat jalan RS Bungsu periode Juni– Oktober 2012. Terdapat 120 subjek terdiri atas 18 penderita dengan infeksi HIV dan 102 penderita tanpa infeksi HIV. Mayoritas usia penderita Tb dengan infeksi HIV yaitu ≤35 tahun (17/18 penderita), laki-laki (12/18 penderita), indeks massa tubuh <18,5 kg/m2 (10/18 penderita), dan Tb paru (16/18 penderita). Penderita Tb dengan infeksi HIV yang mengalami hepatotoksisitas terhadap OAT lebih banyak daripada penderita Tb tanpa infeksi HIV (9/18 vs 19/102 penderita). Insidensi hepatotoksisitas OAT sebesar 23,3%. Hepatotoksisitas OAT pada penderita Tb dengan dan tanpa infeksi HIV terjadi pada 2 minggu pengobatan OAT dengan derajat ringan. Simpulan, insidensi hepatotoksisitas OAT pada penderita Tb dengan infeksi HIV lebih tinggi daripada tanpa infeksi HIV. Kata kunci: Hepatotoksisitas OAT, HIV, tuberkulosis   Incidence and Characteristics of Hepatotoxicity Anti-tuberculosis Drugs in Tuberculosis Patients with and without HIV Infection   Abstract Hepatotoxicity is one of the complications in the treatment of tuberculosis (Tb). Tuberculosis patient with HIV infection has higher risk in hepatotoxicity, and this is a clinical obstacle in dealing with Tb-HIV treatment. The aims of this study were to find the incidence and characateristic of anti-tuberculosis hepatotoxicity in tuberculosis patients with and without HIV infection. A descriptive observational study was conducted in outpatient/inpatient RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, and outpatient RS Bungsu period June–October 2012. There were 120 Tb patients consisted of 18 patients with HIV and 102 patients without HIV. Most of Tb patients with HIV occured in age ≤35 years (17/18 patients), male (12/18 patients), body mass index <18.5 kg/m2 (10/18 patients), and pulmonal Tb (16/18 patients). Tb patients with HIV had hepatotoxicity more than without HIV (9/18 vs 19/102 patients). The incidence of hepatotoxicity was 23.3%. Hepatotoxicity anti-tuberculosis drugs in Tb patients with and without HIV infection mostly occured in second week therapy with mild degree. In conclusion, anti-tuberculosis hepatotoxicity is higher in TB patients co-infected with HIV than non-HIV infections. Key words: Anti-tuberculosis hepatotoxicity, HIV, tuberculosis

Page 4 of 43 | Total Record : 422