cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia)
ISSN : 24079170     EISSN : 26544873     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal HPJI adalah jurnal ilmiah di bidang teknik jalan yang diterbitkan dua kali setahun oleh HPJI. Makalah-makalah yang dimuat di jurnal ini merupakan makalah-makalah terbaik dari Seminar HPJI yang diadakan setiap tahun. Selain sebagai wadah komunikasi ilmiah, penerbitan Jurnal HPJI juga bertujuan untuk menyebarluaskan hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan teknik jalan.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "vol. 12 no. 2 (2026)" : 7 Documents clear
PENGARUH ASPAL BUTON DAN PEREMAJA SC70 TERHADAP MODULUS RESILIEN CAMPURAN BETON ASPAL LAPIS AUS PADA BERBAGAI VARIASI TEMPERATUR Deshafa S. P. A. Putri; Atmy Verani Rouly Sihombing; Tilaka Wasanta
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10727.91-100

Abstract

Abstract Flexible pavements in Indonesia are vulnerable to damage, such as fatigue cracking and rutting, due to repeated traffic loads and high temperatures. This study aims to evaluate the effect of using natural asphalt from Buton Island (Asbuton) and modifier SC-70, as a rejuvenating agent, on the resilient modulus of Asphalt Concrete-Wearing Course at various temperatures. Asbuton was added to the asphalt mixture at a 15% dosage to partially replace aggregate and petroleum asphalt, while SC-70 was used at a dosage of 2.3%. Resilient modulus testing was conducted using UMATTA equipment at temperatures of 20°C and 45°C. The results indicate that at 20 °C, both the control wearing course mixture and the mixture containing Asbuton exhibited high resilient modulus value, 1687.6 MPa and 1654.6 MPa, respectively, whereas the addition of the SC-70 rejuvenating agent reduced the resilient modulus value to 1202.4 MPa. The addition of Asbuton increased the resilient modulus at high temperatures, while the SC-70 rejuvenating agent enhanced the mixture's flexibility, thereby lowering the resilient modulus value. Keywords: asphalt concrete-wearing course; natural asphalt; Asbuton; SC-70 mofifier; resilient modulus Abstrak Perkerasan lentur di Indonesia rentan mengalami kerusakan, seperti retak lelah dan rutting, akibat beban lalu lintas berulang dan temperatur tinggi. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penggunaan aspal alam Asbuton dan peremaja SC-70 terhadap modulus resilien campuran beraspal Lapis Aus pada berbagai tempe-ratur. Asbuton digunakan sebesar 15% pada campuran beraspal, sebagai substitusi agregat dan aspal minyak, sedangkan SC-70 digunakan sebagai peremaja, dengan kadar 2,3%. Pengujian modulus resilien dilakukan menggunakan alat UMATTA pada temperatur 20 °C dan 45 °C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tem-peratur 20 °C, campuran Lapis Aus kontrol dan campuran Lapis Aus dengan asbuton memiliki modulus resilien tinggi, yang masing-masing sebesar 1687,6 MPa dan 1654,6 MPa, sedangkan penambahan peremaja SC-70 menurunkan modulus resilien menjadi 1202,4 MPa. Penambahan asbuton meningkatkan modulus resilien pada temperatur tinggi, sedangkan peremaja SC-70 meningkatkan fleksibilitas campuran sehingga menurunkan nilai modulus resilien. Kata-kata kunci: Campuran beraspal lapis aus; aspal alam, asbuton; peremaja SC70; modulus resilien
PENENTUAN KERUSAKAN PERKERASAN KAKU MENGGUNAKAN PAVEMENT CONDITION INDEX DI JALAN TRANS SULAWESI RUAS ISIMU-PAGUYAMAN Mohamad Alief Pratama Hadju; Frice Lahmudin Desei; Fadly Achmad
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10728.101-108

Abstract

Abstract The Isimu-Paguyaman section of the Trans-Sulawesi Road, located in Bilato District, Gorontalo Regency, is part of the national road network connecting Gorontalo Province with Central Sulawesi Province. This section utilizes rigid pavement. With increasing service age and high traffic volumes, the pavement has sustained various types of damage that affect road user comfort and safety. This study aims to evaluate the existing condition of the observed road damage and determine appropriate maintenance strategies for this section of the Trans-Sulawesi Road. The Pavement Condition Index (PCI) method was employed to assess the road's con-dition. The study results indicate that the observed pavement is in excellent condition; therefore, the recommen-ded maintenance strategy is routine maintenance. Keywords: national road; rigid pavement; Pavement Condition Index; routine maintenance Abstrak Jalan Trans Sulawesi Isimu-Paguyaman, yang terletak di Kecamatan Bilato, Kabupaten Gorontalo, merupakan bagian jaringan jalan nasional yang menghubungkan antara Provinsi Gorontalo dengan Provinsi Sulawesi Tengah. Jenis perkerasan jalan yang digunakan pada ruas ini adalah jenis perkerasan kaku. Seiring dengan bertambahnya umur layanan dan tingginya volume lalu lintas, perkerasan mengalami berbagai jenis kerusakan yang berpengaruh terhadap kenyamanan dan keselamatan pengguna jalan. Studi ini bertujuan untuk menge-valuasi kondisi eksisting kerusakan jalan yang diamati, serta menentukan strategi penanganan kerusakan pada ruas Jalan Trans Sulawesi tersebut. Metode yang dipakai untuk menilai kondisi kerusakan jalan pada studi ini adalah metode Pavement Condition Index. Hasil studi ini menunjukkan bahwa kondisi perkerasan jalan yang diamati berada pada sangat baik. Dengan demikian, strategi penanganan yang direkomendasikan adalah pemeliharaan rutin. Kata-kata kunci: jalan nasional; perkerasan kaku; Pavement Condition Index; pemeliharaan rutin
PENGARUH SUBSTITUSI ABU TERBANG NANO TERHADAP KARAKTERISTIK VOLUMETRIK CAMPURAN BERASPAL LAPIS AUS N. Karina Resentia; Wita Meutia; Eti Sulandari; Silvanus Nohan Rudrokasworo
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10729.109-116

Abstract

Abstract Nanotechnology is increasingly being applied to road pavement development. Meanwhile, fly ash has been widely used as a filler material in pavement and has demonstrated good performance. This study aims to deter-mine the volumetric characteristics of hot-mix asphalt using nano fly ash as a substitute for the filler material. Test specimens were prepared using two compaction methods, namely the Marshall compactor and the gyratory compactor. This study indicates that mixtures incorporating nano fly ash filler exhibit lower void content compared to mixtures using conventional stone dust filler. Additionally, the study found that compaction using the gyratory compactor resulted in a lower Optimum Asphalt Content and lower density compared to compac-tion using the Marshall compactor. Keywords: road pavement; filler; asphalt mixture; nano fly ash; Marshall compactor Abstrak Saat ini telah banyak dilakukan pengembangan nanoteknologi pada perkerasan jalan. Sementara itu, abu terbang telah banyak digunakan sebagai bahan pengisi pada perkerasan dan terbukti telah memberikan kinerja yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik volumetrik campuran beraspal panas yang menggunakan abu terbang nano, sebagai substitusi bahan pengisi pada campuran beraspal tersebut. Benda-benda uji yang digunakan pada studi ini dibuat dengan 2 variasi pemadatan, yaitu dengan menggunakan alat pemadat Marshall dan menggunakan alat pemadat giratori. Hasil pengujian menunjukkan bahwa campuran dengan substitusi bahan pengisi abu terbang nano memiliki rongga yang lebih kecil dibandingkan dengan campuran yang menggunakan bahan pengisi abu batu biasa. Hal lain yang diperoleh adalah bahwa pemadatan yang dihasilkan dengan menggunakan gyratory menghasilkan Kadar Aspal Optimum dan kepadatan yang lebih kecil jika dibandingkan dengan pemadatan yang menggunakan alat pemadat Marshall. Kata-kata kunci: perkerasan jalan; bahan pengisi; campuran beraspal; abu terbang nano; alat pemadat Marshall
THE USE OF ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS IN SELECTION BETWEEN BRIDGE CONSTRUCTION OR TUNNEL DUPLICATION ON THE MANADO OUTER RING ROAD 1 Theo Kurniawan Sendow; Steve Christian Nixon Palenewen; Leidy Magrid Rompas
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10730.117-124

Abstract

Abstract Sustained economic growth in Manado has led to increased traffic volume, particularly along the Manado Outer Ring Road I (MORR I) arterial route. A severe bottleneck occurs at the Tingkulu grade-separated junction, where the roadway narrows from 4 lanes (two-way) to 2 lanes (two-way) within the tunnel section. To address this issue, several alternatives were developed, including the construction of a 40-meter PCI girder bridge spanning MORR I above Tololiu Supit Road and the duplication of the 78-meter Aramco underpass tunnel. This study employs the Analytical Hierarchy Process method, with 5 operational criteria: economics, transpor-tation systems, traffic performance, environmental impact, and social aspects. Additionally, 10 multisectoral stakeholder groups served as expert evaluators. The study concludes that Alternative 1 (the construction of the PCI girder bridge) is the optimal choice. Keywords: Analytical Hierarchy Process; multi-sectoral analysis; operational criteria; traffic performance Abstrak Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Kota Manado telah meningkatkan volume lalu lintas, khususnya di sepanjang jalan arteri utama Manado Outer Ring Road I (MORR I). Hambatan, berupa bottleneck, yang parah terjadi pada simpang tidak sebidang Tingkulu, yang mana pada segmen ini terjadi penyempitan badan jalan dari 4 lajur 2 arah menjadi 2 lajur 2 arah. Kondisi ini terjadi pada bagian terowongan. Untuk menghi-langkan persoalan yang ada, dibuat alternatif-alternatif pilihan, termasuk pembangunan jembatan PCI Girder sepanjang 40 m, yang melintasi Manado Outer Ring Road I di atas jalan Tololiu Supit, dan menduplikasi tero-wongan underpass Aramco sepanjang 78 m. Analisis pada studi ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process, dengan 5 kriteria operasional, yaitu ekonomi, sistem transportasi, kinerja lalu lintas, dampak lingkungan, dan aspek sosial. Selain itu, terdapat 10 kelompok pemangku kepentingan multi-sektoral bertindak sebagai evaluator ahli. Studi ini menunjukkan bahwa alternatif 1, yaitu pembangunan jembatan PCI Girder, merupakan alternatif yang terbaik. Kata-kata kunci: Analytical Hierarchy Process; analisis multi-sektoral; kriteria operasional; kinerja lalu lintas
EVALUASI KINERJA BETON SEMPROT STRUKTURAL PADA LERENG AKSES JALAN MASUK BENDUNGAN WAY APU Hamkah; Arifah Kurnia Nazwah Syafei; Juvrianto Chrissunday Jakob
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10731.125-136

Abstract

Abstract Road infrastructure faces slope stability risks along its alignment due to high rainfall. Shotcrete structures offer potential as a surface layer to enhance slope stability. In this study, shotcrete was utilized for slope protection on the access road to the Way Apu Dam, located in Buru Regency, Maluku Province. The research evaluated the raw materials for the shotcrete mix and assessed the performance of the mix when used as a slope protection structure for the dam's access road. Test results confirmed that all materials used in the study met the applicable specifications. The study demonstrates that shotcrete serves as an effective alternative method for slope protec-tion, supporting the stability of the access road to the Way Apu Dam and similar infrastructure in hilly terrain. Furthermore, the research indicates that the SNI 03-2834-2002 method is suitable for designing shotcrete mix proportions. Keywords: shotcrete; slope stability; surface layer; slope protection; concrete mix Abstrak Infrastruktur jalan mempunyai risiko terhadap kestabilan lereng di sepanjang lintasan yang disebabkan oleh curah hujan tinggi. Struktur beton semprot berpotensi untuk digunakan sebagai lapisan permukaan untuk meningkatkan kestabilan lereng tersebut. Pada studi ini, beton semprot digunakan sebagai proteksi lereng pada jalan akses menuju Bendungan Way Apu, yang terletak di Kabupaten Buru, Provinsi Maluku. Pada penelitian ini dievaluasi bahan baku untuk membuat suatu campuran beton semprot dan dikaji kinerja campuran beton semprot yang digunakan sebagai struktur proteksi lereng jalan akses menuju Bendungan Way Apu. Berdasar-kan pengujian yang dilakukan, semua material yang digunakan pada penelitian ini dinyatakan memenuhi spesi-fikasi yang digunakan. Studi ini menunjukkan bahwa beton semprot dapat dijadikan salah satu alternatif metode proteksi lereng yang efektif, untuk mendukung kestabilan akses jalan menuju Bendungan Way Apu dan infra-struktur sejenis di wilayah perbukitan. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa metode SNI 03-2834-2002 dapat digunakan untuk merancang rumusan campuran beton semprot. Kata-kata kunci: beton semprot; kestabilan lereng; lapisan permukaan; proteksi lereng; campuran beton
EFFECT OF MANUAL CONCRETE CASTING METHODS ON THE PERFORMANCE OF RIGID PAVEMENT Yudi Sekaryadi
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10732.137-148

Abstract

Abstract This study aims to analyze the effect of manual concrete casting methods on the performance of rigid pavement. The research methodology includes a review of the SNI Pd T-14-2003 standard and the 2013 General Specifications for Road and Bridge Works, field observations of construction activities, and the execution of slump tests, compressive strength tests, and thickness measurements. Manual concrete mixing was observed in this study due to the project's remote location and the lack of access to a batching plant. Slump testing on 30 specimens showed that 25 specimens yielded values ​​within the 20 mm to 60 mm range, while 5 specimens exceeded the maximum limit but remained within tolerance limits. Compressive strength testing on 20 specimens resulted in an average strength of 350.40 kg/cm², with a standard deviation of 1.39, a coefficient of variation of 0.4%, and a characteristic compressive strength of 350.06 kg/cm². The average pavement thickness across 20 test points was 270.88 mm; only 3 test points yielded values ​​below the design thickness, yet these remained within tolerance limits. Thus, it can be concluded that manual mixing and casting methods do not result in significant differences compared to methods utilizing batching plant equipment. Keywords: manual concrete casting; rigid pavement; slump test; compressive strength; pavement thickness Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh metode pengecoran beton secara manual terhadap kinerja perkerasan kaku. Metodologi penelitian mencakup tinjauan terhadap standar SNI Pd T-14-2003 dan Spesifikasi Umum Pekerjaan Jalan dan Jembatan Tahun 2013, observasi lapangan terhadap kegiatan konstruksi, serta pelaksanaan uji slump, uji kuat tekan, dan pengukuran ketebalan. Pencampuran beton secara manual diamati dalam penelitian ini karena lokasi proyek yang terpencil dan kurangnya akses ke batching plant. Dari pengujian slumo terhadap 30 benda uji, 25 benda uji memberikan nilai slump pada rentang 20 mm hingga 60 mm, sedangkan 5 benda uji memberikan nilai slump melampaui batas maksimum namun tetap berada dalam batas toleransi. Pengujian kuat tekan pada 20 benda uji menghasilkan kekuatan rata-rata sebesar 350,40 kg/cm², dengan deviasi standar 1,39, koefisien variasi 0,4%, dan kuat tekan karakteristik sebesar 350,06 kg/cm². Ketebalan perkerasan rata-rata dari 20 titik uji adalah 270,88 mm, dan hanya 3 titik uji yang memberikan nilai di bawah ketebalan desain, namun nilainya tetap berada dalam batas toleransi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa metode pencampuran dan pengecoran secara manual tidak menghasilkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan metode yang menggunakan peralatan batching plant. Kata-kata kunci: pengecoran beton manual; perkerasan kaku; uji slump; kuat tekan; ketebalan perkerasan
EVALUASI PENGARUH JARAK ANTARSIMPANG DAN RASIO ARUS LALU LINTAS TERHADAP EFEKTIVITAS KINERJA KOORDINASI GREEN WAVE Bintang Adi Subagja; Tilaka Wasanta
Jurnal HPJI (Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia) Vol. 12 No. 2 (2026)
Publisher : Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26593/jhpji.v12i2.10733.149-160

Abstract

Abstract The green wave is a signal coordination method for adjacent intersections designed to allow vehicles traveling from one intersection to the next to encounter consecutive green lights. Implementing this method yields benefits, such as reduced delay and shorter vehicle queues. This study analyzes the impact of intersection spacing and traffic flow ratios on green wave coordination performance using PTV Vissim software. Simulation results indicate that at an intersection spacing of 200 m, with traffic flow ratios ranging from 0.5 to 0.9, the improvement in delay resulting from the green wave implementation ranges from 36% to 54%. Conversely, at a spacing of 2500 m with the same flow ratios, the level of improvement drops to approximately 20% or even to zero. Furthermore, at a traffic flow ratio of 0.5 with spacing varying from 200 m to 2500 m, delay improvements range from 20% to 54%; however, at a flow ratio of 0.9 within the same distance range, the maximum improvement reaches only 29%. This study demonstrates that the effectiveness of the green wave concept diminishes as intersection spacing increases and traffic conditions approach saturation. Keywords: Green wave; signal coordination; flow ratio; intersection spacing; delay; queue Abstrak Green wave adalah suatu metode koordinasi sinyal pada simpang-simpang yang berdekatan, dengan tujuan agar kendaraan yang melintas dari satu simpang ke simpang yang lain dapat memperoleh fase hijau secara berurutan. Penerapan metode ini memberi beberapa manfaat, seperti mengurangi tundaan dan mengurangi panjang antrean kendaraan. Pada penelitian ini dilakukan analisis terhadap jarak antarsimpang dan rasio arus lalu lintas kinerja koordinasi green wave, dengan menggunakan perangkat lunak PTV Vissim. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada jarak antarsimpang 200 m dengan variasi rasio arus lalu lintas antara 0,5 hingga 0,9, tingkat perbaikan waktu tundaan akibat penerapan green wave berkisar antara 36% hingga 54%. Sementara itu, pada jarak antarsimpang 2500 m dengan rasio arus lalu lintas yang sama, tingkat perbaikannya menurun menjadi hanya sekitar 20% atau bahkan tidak ada atau 0%. Selain itu, pada rasio arus lalu lintas 0,5 dengan variasi jarak antarsimpang 200 m hingga 2500 m, tingkat perbaikan tundaan berada pada rentang 20% hingga 54%, sedangkan pada rasio arus lalu lintas 0,9 dengan variasi jarak antarsimpang yang sama, tingkat perbaikannya hanya berkisar paling banyak 29%. Penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas penerapan konsep green wave semakin berkurang untuk jarak antarsimpang yang semakin jauh dan kondisi arus lalu lintas yang mendekati jenuh. Kata-kata kunci: Green Wave; koordinasi sinyal; rasio arus; jarak antarsimpang; tundaan; antrean

Page 1 of 1 | Total Record : 7