Articles
477 Documents
PERPINDAHAN MASSA GAS –CAIR DALAM PROSES FERMENTASI ASAM SITRAT DENGAN BIOREAKTOR BERGELEMBUNG
Widayat Widayat;
Abdullah Abdullah;
D. soetrisnanto;
M. Hadi
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v7i2.99
Proses fermentasi asam sitrat dapat dilangsungkan dalam fase cair. Proses fermentasi ini berlangsung secara aerob, sehingga keberadaan oksigen dalam fase cair sangat menentukan keberhasilan proses fermentasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses perpindahan massa gas-cair dalam proses fermentasi asam sitrat, dengan variabel yang dipelajari adalah konsentrasi jamur dan laju alir udara. Penelitian dilakukan pada suhu kamar 30 o dan tekanan 1 atm. Laju volumetrik udara divariasi pada rentang 27.4 – 58.07 cc/detik, dan konsentrasi jamur Aspergillus niger 10 x 106 dan 20 x 106 spora. Pegukuran perpindahan massa dengan metode dinamik, yaitu dengan mengukur konsentrasi oksigen terlarut dengan DO meter setiap detik secara langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi awal kapang akan mengakibatkan penurunan koefisien transfer massa. Peningkatan laju alir udara akan meningkatkan koefisien transfer massa. Hubungan konstanta perpindahan massa terhadap laju alir volumetrik udara pada fermentasi asam sitrat diperoleh persamaa kLa = 8.0031.Vg0.698. Pada penelitian yang dilakukan Shah et al., 1982 diperoleh hubungan : kLa = 0.467.Vg0.82. Kata kunci: bioreaktor bergelembung, proses perpindahan massa, konsentrasi jamur, laju alir dan konstanta perpindahan massa
KECEPATAN PENYERAPAN ZAT ORGANIK PADA LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU DENGAN LUMPUR AKTIF
R.D. Ratnani
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v7i2.100
Industri tahu di Jawa Tengah saat ini telah berkembang pesat. Seiring dengan berkembangnya industri makanan telah banyak pula efek negatif yang timbul. Limbah cair yang dihasilkan oleh industry tahu adalah berupa limbah organic. Limbah organic sebenarnya dapat terdegradasi oleh lingkungan secara alami, tetapi apabila kapasitas tinggi atau berlebihan. Metode pengolahan limbah cair tahu telah banyak dilakukan. Pada penelitian kali ini dilakukan pengolahan limbah cair tahu dengan menggunakan lumpur aktif kemudian di amati kecepatan penyerapanya Hasil yang diperoleh dengan menggunakan lumpur aktif adalah konsetrasi limbah yang berupa COD, DO dan pH menurun sampai dibawah baku mutu. Selain itu pada limbah yang telah diolah tidak lagi berbau menyengat/berbau busuk. Warna limbah cairnya juga sudah tidak putih keruh tetapi menjadi jernih. Kata kunci : limbah Organik, degradasi, lumpur aktif ,COD, DO, dan pH
STUDI HIDROLISA MINYAK GORENG BEKAS SECARA ENZIMATIS AKTIVASI GELOMBANG MIKRO
indah riwayati;
L. Kurniasari
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v7i2.101
Penggunaan minyak goreng di industri dan rumah tangga yang cukup besar dapat menimbulkan masalah lingkungan. Hal ini disebabkan oleh limbah dalam bentuk minyak goreng bekas yang sudah tidak layak konsumsi. Minyak mempunyai rantai karbon yang panjang sehingga membutuhkan waktu cukup lama bagi alam untuk menguraikannya. Minyak bekas juga mempunyai mempunyai kandungan trigliserida yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan asam lemak dan gliserol melalui reaksi hidrolisa. Reaksi hidrolisa lemak secara enzimatis tidak efisien karena membutuhkan waktu yang lama dan harga enzim yang relatif mahal. Dari studi yang dilakukan terdapat peluang untuk mengefisienkan proses hidrolisa dengan mempercepat waktu reaksi. Salah satu caranya adalah dengan batuan gelombang mikro. Reaksi hidrolisa minyak dengan bantuan gelombang mikro ini tidak hanya membuat reaksi lebih efisien, tetapi juga menghasilkan proses yang lebih bersih dan hemat energi. Kata Kunci : minyak goreng bekas, lipase, gelombang mikro
POTENSI XANTHATE PULPA KOPI SEBAGAI ADSORBEN PADA PEMISAHAN ION TIMBAL DARI LIMBAH INDUSTRI BATIK
Indah Hartati;
Indah Riwayati;
Laeli kurniasari
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v7i2.102
Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya industri batik, semakin besar pula volume limbah cair yang dihasilkannya. Limbah cair industri batik dilaporkan mengandung logam berat. Keberadaan logam berat khususnya timbal dalam limbah cair industri batik dapat menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Proses pemisahan logam berat dari suatu larutan dapat dilakukan melalui proses adsorpsi menggunakan adsorben yang berbasis biomassa. Namun demikian, adsorben tersebut memerlukan proses modifikasi guna meningkatkan kapasitas adsorpsi dan performa adsorpsi. Proses modifikasi adsorben melalui pengikatan gugus pembawa sulfur, khususnya xanthate merupakan proses yang paling menonjol karena adsorben terxantasi merupakan: senyawa yang sangat tidak larut, mudah dibuat dengan reagen yang relatif tidak mahal, serta memiliki kestabilan yang tinggi saat membentuk kompleks dengan logam. Adsorben terxanthasi dapat dibuat dari adsorben yang kaya akan gugus hidroksil, seperti pulpa kopi. Pulpa kopi merupakan limbah proses pengolahan kopi secara basah. Pemanfaatan pulpa kopi sebagai adsorben terxanthasi sebagai adsorben logam berat dapat menyelesaikan setidaknya dua permasalahan sekaligus yakni pemisahan logam berat dari limbah cair serta mengurangi dampak pencemaran industri pengolahan kopi. Guna proses desain sistem adsorpsi timbal dari limbah cair menggunakan senyawa xanthate pulpa kopi, data-data fundamental yang perlu dikaji dan ditentukan antara lain: kajian kesetimbangan adsorpsi isoterm, kinetika adsorpsi, dan termodinamika adsorpsi. Kata Kunci: pulpa kopi, adsorpsi, timbal, xanthate, batik
PEMODELAN KEAUSAN PIN-ON-DISC DENGAN ANALISA ELEMEN HINGGA
I Syafa’at;
J. Jamari;
S.A. Widyanto;
R. Ismail
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v7i2.104
Dunia engineering tidak bisa dilepaskan dari mekanisme perkontakan antara komponen mesin yang satu dengan yang lain. Berbagai masalah dapat timbul akibat kontak ini, diantaranya adalah keausan. Pemodelan keausan pin-on-disc antara baja dengan baja dimodelkan dengan analisa elemen hingga (FEA). Kontak sliding disederhanakan menjadi model 2D dengan input sifat-sifat material berbantuan software ANSYS. Hasil simulasi berupa tekanan kontak rata-rata digunakan untuk menghitung keausan Model Archard. Updating geometry dilakukan untuk mengetahui besarnya keausan yang terjadi pada pin. Hasil pemodelan menunjukkan jari-jari kontak dan keausan mengalami peningkatan sangat signifikan pada tahap awal, kemudian mencapai kestabilan seiring dengan bertambahnya jarak sliding. Kestabilan tercapai setelah menempuh jarak sliding 80405 mm. Fenomena kestabilan aus ini memperlihatkan bahwa sistem telah berada dalam fase steady state setelah melewati running-in dalam aplikasi pemesinan. Kata kunci: keausan, pin-on-disc, upadating geometry, FEA
EKSPERIMEN PEMBENTUKAN KERAK GIPSUM DENGAN KONSENTRASI Ca2+ : 3500 ppm DAN ADITIF Fe2+
W. Sediono;
A.P. Bayuseno;
S. Muryanto
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 7, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v7i2.108
Pengerakan (scaling) merupakan masalah yang kompleks dan selalu terjadi di dalam suatu industri. Terjadinya kerak karena proses alami adanya reaksi kimia antara kandungan-kandungan yang tidak dikehendaki yang terlarut di dalam air seperti: Ca2+, SO4-2, CO3-2dan Mg2+. Gipsum (CaSO4.2H2O) adalah salah satu komponen utama dari kerak yang banyak dijumpai. Akibat adanya pengerakan ini akan merugikan yaitu mempertebal dinding pipa yang dilewati cairan dan dapat mempengaruhi laju aliran ataupun perpindahan panas. Oleh karena harus dilakukan pencegahan untuk menghambat pertumbuhan kerak dalam pipa tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan eksperimen tentang pertumbuhan kerak gipsum dalam pipa uji, dengan mereaksikan CaCl2 dan Na2SO4 dengan laju alir 30 ml/menit dan konsentrasi larutan 3500 ppm, Ca2+. Fe2+ ditambahkan kedalam larutan sebagai impuritas. Adapun pipa uji berisi empat pasang kupon terbuat dari kuningan karena tahan terhadap korosi. Pembentukan kristal gipsum dapat dilihat dari menurunnya nilai konduktivitas larutan pada waktu percobaan sehingga waktu induksinyapun dapat diketahui. Bentuk kristal gipsum dilihat dari hasil kajian morfologi yang dilakukan dengan menggunakan SEM, Massa kerak ditimbang untuk mengetahui pengaruh penambahan aditif terhadap massa kerak yang terjadi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan adanya penambahan aditif Fe2+ 5 ppm memperpanjang waktu induksi 27.2 %, menurunkan massa kerak 17.6 % dan penambahan aditif Fe2+ 10 % memperpanjang waktu induksi 54.5 % menurunkan massa kerak 38.5 %.. Aditif juga mempengaruhi morfologi Kristal gipsum yaitu kristal menjadi lebih pendek tapi tidak merubah bentuk kristal, yaitu tetap orthorhombic. Keywords : Fe2+, gipsum, impuritas, pencegahan kerak
PEMANFAATAN LIMBAH PENYULINGAN DAUN NILAM SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF MELALUI PEMBUATAN BRIKET
I. Riwayati;
M. S. Setianto
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v6i2.110
Limbah atau ampas penyulingan daun nilam merupakan biomass atau limbah organik yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternative. Selain meminimalkan pencemaran akibat sulfur , pembuatan briket ini dapat memberikan nilai tambah yaitu : bahan baku dari limbah serta nilai kalor yang lebih tinggi untuk dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada proses penyulingan daun nilam.Tujuan dari progam ini adalah untuk memberikan pelatihan kepada para petani nilam tentang pembuatan briket dari limbah penyulingan daun nilam. Program kegiatan mahasiswa ini dilaksanakan selama 6 (enam ) bulan di kecamatan Watukumpul Kabupaten Pemalang. Kegiatan ini di bagi menjadi beberapa tahap, tahap pertama orientasi lapangan dilaksanakan pada bulan maret, tahap kedua penyuluhan dilaksanakan pada bulan April, tahap ketiga pelatihan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni, tahap ke empat evaluasi dilaksanaklan pada bulan Juli. Tahap ke lima dilaksanakan pada bulan Agustus. Limbah sisa penyulingan daun nilam selain dapat dipergunakan untuk membuat pestisida nabati, juga dapat dimanfaatkan untuk membuat briket yang dapat digunakan sebagai bahan bakar. Hasil pelatihan pembuatan briket ini memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada masyarakat petani dan penyuling daun nilam cara mengatasi masalah limbah sisa penyulingan dan memperoleh manfaat dari limbah tersebut. Kata Kunci : limbah, nilam, briket
PEMANFAATAN LIMBAH PENYULINGAN DAUN NILAM SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF MELALUI PEMBUATAN BRIKET
Riwayati, I.;
Setianto, M. S.
MOMENTUM Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : MOMENTUM
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Limbah atau ampas penyulingan daun nilam merupakan biomass atau limbah organik
yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternative. Selain meminimalkan
pencemaran akibat sulfur , pembuatan briket ini dapat memberikan nilai tambah yaitu
: bahan baku dari limbah serta nilai kalor yang lebih tinggi untuk dimanfaatkan
sebagai bahan bakar pada proses penyulingan daun nilam.Tujuan dari progam ini
adalah untuk memberikan pelatihan kepada para petani nilam tentang pembuatan
briket dari limbah penyulingan daun nilam. Program kegiatan mahasiswa ini
dilaksanakan selama 6 (enam ) bulan di kecamatan Watukumpul Kabupaten
Pemalang. Kegiatan ini di bagi menjadi beberapa tahap, tahap pertama orientasi
lapangan dilaksanakan pada bulan maret, tahap kedua penyuluhan dilaksanakan
pada bulan April, tahap ketiga pelatihan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni,
tahap ke empat evaluasi dilaksanaklan pada bulan Juli. Tahap ke lima dilaksanakan
pada bulan Agustus. Limbah sisa penyulingan daun nilam selain dapat dipergunakan
untuk membuat pestisida nabati, juga dapat dimanfaatkan untuk membuat briket yang
dapat digunakan sebagai bahan bakar. Hasil pelatihan pembuatan briket ini
memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada masyarakat petani dan penyuling
daun nilam cara mengatasi masalah limbah sisa penyulingan dan memperoleh
manfaat dari limbah tersebut.
Kata Kunci : limbah, nilam, briket
APLIKASI UNIT PENGOLAH AIR DENGAN TEKNOLOGI MEMBRAN DI UKM ELEKTROPLATING.
Luqman Buchori;
Faleh Setia Budi;
Heru Susanto
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v6i2.112
Electroplating industry is characterized in the metal plating process. This process occurs in the electroplating bath that contains a chemical solution. Before the coating process, the metal material to be coated should be washed first to remove the impurity attached. The metal materials that have been completely coated are then took from the bath and rinsed with water to clean the chemical solution attached at those materials. UD Citra Utama obtaines the water used for cleaning from the well in industry area around the company. Unfortunatley, the water well used is characterized by its relatively high salt content and turbid. Initial water analysis showed that those parameters are beyond the standard of water quality used for cleaning in electroplating industry. The use of this water has negative impact such as decreasing thw water quality, slows down the speed of coating process and eventually decreases the capacity and company income. To solve this problem, we have developed water treatment unit that treats the well water into pure water. The unit contains reverse osmosis (RO) membrane, pump, catridge prefilter and media filter. In addition, the unit is equipped with the accessories such as pressure gauge, flow meter and feed/product tank. The results of evaluation showed that water treatment unit can increase the product capacity 30% from 30 m2 to 39 m2 that correspond to income from Rp. 2000000,- to Rp 2600000,-. In addition, this unit can decrease the company omset from 5% to 0.5%. The water produced from this unit could meet the government role (Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor : 416/MENKES/IX/1990). Keywords : electroplating; water treatment unit; pure water
HYDROTROPIC EXTRACTION OF THEOBROMINE FROM COCOA BEAN SHELL.
I. Hartati
JURNAL ILMIAH MOMENTUM Vol 6, No 2 (2010)
Publisher : Universitas Wahid Hasyim
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36499/jim.v6i2.113
Cocoa bean shell (CBS) is a waste product from chocolate and cocoa milling industries. CBS is high in nutritive value but it is of limited use in animal feeds because of its toxic theobromine content. Though its theobromine content limited the use of CBS, its amino acid profile of CBS compares favourably with palm kernel cake suggesting that it could be utilized as a medium protein source to substitute grain protein in livestock diets. Theobromine is also possesed many farmacological function such as anti cancer, diuretics, cardiac stimulants, hypocholesterolemic, smooth-muscle relaxants, atshma and coronary vasodilators. Considering that Indonesia is the third largest producer of cocoa in the, the potential usage of both protein and theobromine content of cocoa bean shell, thus it is neccesary to separate theobromine from cocoa bean shell. A new developed separation process is the extraction process using aqueous hydrotropes solution for recovery of naturally occurring secondary metabolites. The solubility of the secondary metabolites extracted are increased sharply and easily recovered. Recently several researches demonstrated that high solubilization capacity and selectivity in solubilization by hydrotropy could be used for extraction of water insoluble bioactive compound such as piperin, limonin, curcuminoids and forskolin. Based on the promising result by hydrotropic extraction of natural product, thus it is a promising method in administering theobromine from cocoa bean shell. Keywords: hydrotropic, extraction, theobromine, cocoa bean shell