cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1 (2025)" : 13 Documents clear
Daya hasil dan indeks panen ubi jalar (Ipomoea batatas L.) berdaging putih di Rancakalong, Sumedang Wicaksono, Arif Affan; Pangestika, Kintan Widya; Ustari, Debby; Ismail, Ade; Karuniawan, Agung
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.37938

Abstract

Sweet potato (Ipomoea batatas L.) is a nutritionally rich alternative food source with a high starch content and ranks among the world's most important food crops. As a global food commodity, the development of high-yielding cultivars requires the evaluation of promising genotypes. Among the various types, white-fleshed sweet potato (WFSP) is particularly valued due to its suitability as a raw material for flour production. The increasing industrial demand for sweet potato-based flour highlights the urgency to select high-yielding WFSP genotypes to meet market needs. This study aimed to identify WFSP genotypes with superior yield potential and high harvest index. The experiment was conducted from November 2023 to April 2024 in Rancakalong, Sumedang District, West Java, using eight WFSP genotypes and three check varieties (Rancing, Sukuh, and AC Putih). A randomized complete block design (RCBD) with three replications and 11 treatments was employed. Significant variation was observed among genotypes for traits such as number of tubers per plant, tuber weight per plant, number of marketable tubers, total tuber count, and total tuber weight. Six genotypes—Keriting Maja, MZ 154, Sorong, MBD, PR 119, and MNHR—demonstrated high yield performance, with Keriting Maja showing the highest potential at 35.09 t ha-1, making it a strong candidate for future cultivar development.   ABSTRAK Ubi jalar merupakan sumber pangan alternatif yang unggul karena kaya nutrisi dengan kandungan pati tinggi dan termasuk dalam tanaman pangan penting di dunia. Sebagai salah satu komoditas pangan dunia, perlu dikembangkan varietas unggul baru ubi jalar dengan menguji genotip-genotip potensial dan unggul. Salah satu jenis ubi jalar yang memiliki tingkat pemanfaatan yang tinggi adalah ubi jalar berdaging putih karena dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku produksi tepung. Permintaan industri untuk memproduksi tepung membutuhkan suplai ubi jalar berdaging putih dalam jumlah besar. Hal ini menjadi pemicu agar kegiatan seleksi genotip unggul ubi jalar berdaging putih berdaya hasil tinggi dilakukan guna memenuhi permintaan konsumen tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh ubi jalar berdaging putih dengan daya hasil tinggi dan indeks panen yang tinggi. Penelitian dilakukan di Rancakalong, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dari bulan November 2023 sampai dengan April 2024. Penelitian ini menggunakan delapan genotip ubi jalar dan tiga genotip pembanding (Rancing, Sukuh, dan AC Putih). Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 11 perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian diperoleh bahwa terdapat beberapa karakter, yaitu karakter jumlah ubi per tanaman, bobot ubi per tanaman, jumlah ubi ekonomis, jumlah ubi total, dan bobot ubi total yang menunjukkan perbedaan yang signifikan. Terdapat enam genotip dengan daya hasil tinggi, yaitu genotip Keriting Maja, MZ 154, Sorong, MBD, PR 119, dan MNHR, dengan genotip Keriting Maja berpotensi hasil paling tinggi yakni 35,09 t ha-1, yang berpeluang untuk dikembangkan menjadi varietas unggul baru.
Analisis morfometrik menunjukkan hubungan berkebalikan antara jumlah dan ukuran biji pada Reutealis trisperma Rokhmah, Dewi Nur; Dani, Dani; Aji, Himawan Bayu; Sinaga, Apresus
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.38399

Abstract

The fitness of many angiosperm plants, including Reutealis trisperma, is affected by the size and number of fruit and seed. However, studies on the fruit and seed morpho-physiology of R. trisperma are still highly limited.  This study aimed to identify the variation of locule and seed number besides the fruit and seed morphometric traits of R. trisperma. The number of locules and seeds per fruit was observed in immature, developing R. trisperma fruits. These observations were made by cross-sectioning R. trisperma that was obtained from field collections. Morphometric data collection was subsequently carried out on sampled mature fruits. The results showed that the locule and seed number of  the single fruit of R. trisperma ranged from 2 to 4 and 1 to 4, respectively. Trilocular fruits  were the most commonly found type. However, some of trilocular fruits were consisted of two seeds (two-seeded fruits) instead of three seeds (three seeded fruits). The proportion of two-seeded fruits was comparable to the three seeded fruits. No significant differences were found in fruit size or weight between two-seeded and three-seeded fruits. However, the seed weight, as well as the kernel weight, were heavier for two-seeded fruits compared to three-seeded fruits. Therefore, it revealed a seed size-number trade-off. These results can enrich the valuable informations related to the growth and development as well as the fitness of R. trisperma.   ABSTRAK Daya reproduksi beberapa tanaman angiosperma, termasuk Reutealis trisperma, dipengaruhi oleh ukuran serta jumlah buah dan biji. Namun demikian, masih sangat sedikit penelitian yang telah dilakukan terkait morfo-fisiologi buah dan biji pada spesies tanaman tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi variasi jumlah lokulus dan biji serta sifat morfometrik buah dan biji dari R. trisperma. Pengamatan jumlah lokulus dan biji per buah dilakukan pada buah muda R. trisperma yang sedang berkembang. Pengamatan dilakukan dengan cara memotong secara melintang R. trisperma yang didapatkan dari koleksi lapangan. Pengumpulan   data   morfometrik   kemudian  dilakukan pada buah matang yang diambil sebagai sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah lokulus dan biji dari satu buah R. trisperma berkisar antara 2 hingga 4 dan 1 hingga 4, berturut-turut. Buah trilokular adalah jenis buah yang paling umum dari spesies ini. Namun, beberapa buah trilokular terdiri dari dua biji (buah berbiji dua) bukan berisi tiga biji (buah berbiji tiga). Proporsi buah berbiji dua sebanding dengan buah bebiji tiga. Sementara itu, tidak ada perbedaan ukuran buah maupun bobot buah antara buah berbiji dua dan buah berbiji tiga. Di sisi lain, bobot per biji serta bobot per kernel lebih berat pada buah berbiji dua dibandingkan buah berbiji tiga. Hasil tersebut membukitkan adanya hubungan berkebalikan antara jumlah dan ukuran biji. Hasil penelitian dapat memperkaya informasi mengenai pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta fitness pada spesies R. trisperma. Kata kunci: Alokasi sumber, Biodiesel, Kemiri sunan, Lokus hampa, Morfometrik
Trend perubahan cuaca ekstrem dan pengaruhnya terhadap tanaman kedelai di Kabupaten Majalengka Jawa Barat Ruminta; Wahyudin, Agus; Ocatavianus, William
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.40002

Abstract

Recent climate change has led to an increase in extreme weather events which pose a threat to the agricultural sector, including soybean crops that has high nutritional value and is in demand by the public. However, the impact of extreme weather on soybean production remains to be scientifically validated. Therefore, research is needed to determine extreme weather events and their effects on soybean production in Majalengka Regency. The method used in this research was quantitative descriptive by carrying out trend analysis of extreme weather such as maximum rainfall, maximum and minimum temperatures, wet spells, dry spells and maximum wind speed and Pearson correlation analysis of extreme weather and harvest area, productivity and production of soybean. The research was carried out using daily weather element data from 1990 to 2021 obtained from Indonesian Agency for Meteorological, Climatological, and Geophysics Jatiwangi Majalengka Regency. The data regarding the harvest area, productivity, and production of soybeans were obtained from the Agriculture Service and the Central Bureau of Statistics Majalengka Regency.  The research results show that extreme weather in Majalengka Regency has changed with indications of an increase in minimum temperature of 0.6 ⁰C, maximum temperature of 0.12 ⁰C, wet spell for 3 days, dry spell for 1-day, maximum wind speed of 17.6 km/hour, and a decrease in maximum rainfall of 43.7 mm. However, besides the increase in minimum temperature, these extreme weather changes did not affect the decrease in soybean production, productivity, and harvest area, while maximum temperature and wet spell significantly affected the increase in soybean productivity.   ABSTRAK Perubahan iklim menyebabkan meningkatnya fenomena cuaca ekstrem yang menjadi ancaman bagi sektor pertanian termasuk pada tanaman kedelai yang memiliki nilai gizi tinggi dan dibutuhkan oleh masyarakat. Namun, pengaruh cuaca ekstrem terhadap produksi tanaman kedelai masih perlu dibuktikan secara ilmiah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh kejadian cuaca ekstrem terhadap produksi kedelai di Kabupaten Majalengka.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan melakukan analisis trend cuaca ekstrem seperti curah hujan maksimum, suhu maksimum dan minimum, wet spell, dry spell, kecepatan angin maksimum, analisis korelasi Pearson antara cuaca ekstrem dengan luas panen, serta produktivitas dan produksi kedelai. Penelitian ini menggunakan data unsur cuaca harian dari tahun 1990 hingga 2021 diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika Jatiwangi Majalengka. Data luas panen, produktivitas dan produksi tanaman kedelai didapatkan dari Dinas Pertanian dan Badan Pusat Statistik Kabupaten Majalengka. Hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi cuaca ekstrem di Kabupaten Majalengka, yang ditandai dengan peningkatan suhu miminum sebesar 0,6 ⁰C, suhu maksimum sebesar 0,12 ⁰C, wet spell selama 3 hari, dry spell selama 1 hari, kecepatan angin maksimum mencapai 17,6 km jam-1, dan penurunan curah hujan maksimum sebesar 43,7 mm. Namun demikian, selain peningkatan suhu minimum, perubahan cuaca ekstrem tersebut tidak berpengaruh terhadap penurunan produksi, produktivitas, dan luas panen kedelai, sedangkan suhu maksimum dan wet spell berpengaruh signifikan terhadap peningkatan produktivitas tanaman kedelai. Kata kunci:  Cuaca Ekstrem, Kedelai, Korelasi, Produksi, Tren
Population of P-solubilizer bacteria, available P, P Uptake and chili yield affected by bioameliorants and nutrient Fitriatin, Betty Natalie; Dita, Limbong Agatha Dita; Fauziah, Nicky Oktav Fauziah; Simarmata, Tualar Simarmata; Fakhrurroja, Hanif Fakhrurroja
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.44502

Abstract

The consumption of red chili (Capsicum annum L.) increased annually, requiring higher productivity. However, this is not supported by optimal soil fertility which has a low nutrient content. This research aimed to examine the interaction between bioameliorant dose (B) and nutrient solution application interval (F) on phosphate solubilizing bacteria (PSB), available P, P uptake, fruit weight per plant, and fruit weight per fruit. The research was conducted using a Factorial Randomized Block Design with two factors and three replications (bioamelioran dosage: 0, 3, 6 t ha-1) and nutrient solution application interval: every one, three, and five days. The results showed an interaction effect on fruit weight with the best treatment being a bioameliorant dose of 3 t ha-1 and a nutrient solution interval once a day. The bioameliorant increased available P and the nutrient solution interval had influenced on soil available P and fruit weight per plant. Application of a bioameliorant dose of 3 t ha-1 and nutrient solution interval once a day produced the highest yield of chili.   ABSTRAK Konsumsi cabai merah (Capsicum annum L.) meningkat setiap tahunnya, sehingga membutuhkan produktivitas yang lebih tinggi. Namun, hal ini tidak didukung oleh kesuburan tanah yang optimal serta memiliki kandungan nutrisi yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara dosis bioamelioran (B) dan interval pemberian larutan hara (F) terhadap bakteri pelarut fosfat (BPF), P-tersedia, serapan P, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per buah. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan (dosis bioamelioran: 0, 3, 6 t ha-1) dan interval pemberian larutan hara: setiap satu, tiga, dan lima hari. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh interaksi terhadap rerata berat buah, dengan perlakuan terbaik adalah dosis bioamelioran 3 t ha-1 dan interval pemberian larutan hara satu kali sehari. Pemberian bioamelioran mampu meningkatkan P-tersedia. Interval pemberian larutan hara mempengaruhi kandungan P-tersedia tanah dan bobot buah per tanaman. Aplikasi bioamelioran dengan 3 t ha-1 dan interval pemberian larutan hara satu kali sehari menghasilkan hasil cabai merah tertinggi.   Kata kunci: Cabai Merah, Mikroba Menguntungkan, Pembenah Tanah, Unsur Hara
Hasil padi (Oryza sativa l.) pada lahan sub-optimal akibat pemberian pupuk berbasis sensor Ismiani, Sri; Mustafid, M Azhar; Wahyudi
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.44835

Abstract

Rice (Oryza sativa L.) is a key commodity in maintaining national food security. However, its production increase is still constrained by limited land availability and low fertilization efficiency, particularly in sub-optimal lands with poor soil fertility. This study aimed to evaluate the effectiveness of sensor-based fertilization on the yield of two rice varieties, IPB 9G and Gogo rice, under sub-optimal conditions. The research was conducted in Kembang Kerang Daya Village, East Lombok, using a split-plot randomized block design with two factors: fertilizer dose (6 levels, including sensor-based recommendations) as the main plot, and rice variety as the subplot, with three replications. Yield components observed included the number of grains per panicle, percentage of filled grains, 1000-grain weight, yield per plot, and estimated yields of harvested dry grain and milled dry grain. The results showed that sensor-based fertilization, combining inorganic, organic, and bio-fertilizers, produced the best performance in nearly all yield parameters, particularly in the IPB 9G variety. This system significantly increased GKG yield compared to conventional fertilization methods. The agronomic efficiency of sensor-based fertilization was 27% higher than conventional fertilization, aligning with the principles of precision agriculture. In conclusion, applying sensor-based fertilization on sub-optimal land presents a promising innovative solution to enhance rice productivity and input efficiency, especially in areas with low soil fertility.   ABSTRAK Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional, namun peningkatan produksinya masih terkendala keterbatasan lahan dan rendahnya efisiensi pemupukan, terutama pada lahan sub-optimal yang memiliki tingkat kesuburan rendah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pemupukan berbasis sensor terhadap hasil panen dua varietas padi IPB 9G dan padi Gogo pada lahan sub-optimal. Penelitian dilaksanakan di Desa Kembang Kerang Daya, Lombok Timur, menggunakan rancangan acak kelompok petak terbagi dengan dua faktor: dosis pupuk (6 level, termasuk rekomendasi berbasis sensor) sebagai petak utama, dan varietas padi sebagai anak petak, dengan tiga ulangan. Komponen hasil yang diamati meliputi jumlah gabah per malai, persentase gabah isi, bobot 1000 butir, hasil ubinan, dugaan hasil gabah kering panen (GKP), dan gabah kering giling (GKG). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan berbasis sensor dengan kombinasi pupuk anorganik, organik, dan hayati menghasilkan performa terbaik pada hampir seluruh peubah hasil, terutama pada varietas IPB 9G. Sistem ini mampu meningkatkan hasil GKG dibandingkan metode pemupukan konvensional. Peningkatan efisiensi agronomi dari pemupukan berbasis sensor 27% lebih tinggi dibandingkan pemupukan konvensional, selaras dengan prinsip pertanian presisi. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pemupukan berbasis sensor pada lahan sub-optimal berpotensi sebagai solusi inovatif untuk meningkatkan produktivitas padi dan efisiensi input, khususnya pada wilayah dengan kesuburan tanah rendah. Kata kunci: NPK, Padi, Pupuk Organik, Sensor, Sub-optimal
Karinding: kearifan lokal budaya Jawa Barat sebagai pengendali hama pada tanaman padi Malik Ramadhan, R. Arif; Amanda, Adinda Putri
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.44996

Abstract

The green revolution promoted synthetic pesticide use in agriculture, but this practice negatively affects the environment and health. Karinding, a traditional musical instrument from West Java, is believed to offer an eco-friendly alternative for repelling pests in rice cultivation. This study aimed to evaluate the effectiveness of karinding as a pest control method. A non-factorial randomized block design was used with four treatments: control, manual karinding, recorded karinding, and synthetic pesticide. Each treatment involved 10 rice clumps, repeated four times, with 10-m spacing to minimize bias. Parameters observed included pest attack intensity, insect diversity, soil pH, and microorganism population. Results showed no significant difference in pest attacks between weeks 4–12, except in week 7 where synthetic pesticides had the lowest intensity (13.15%). Insect diversity was moderate across treatments, highest in the control (H’=2.083) and lowest in the pesticide treatment (H’=1.595), with no dominant species (C<0.5). The synthetic pesticide reduced overall insect populations, although some species remained. Soil pH in karinding treatments ranged from 5.7–5.8, with higher microorganism populations than in the pesticide treatment. The highest number of panicles per hill was in the control (40.72), and the lowest in the pesticide treatment (22.27), while panicle length and dry grain weight were not significantly different. Although less effective than synthetic pesticides in suppressing pests, karinding helps preserve insect diversity and soil health, making it a promising environmentally friendly pest control alternative.   ABSTRAK Revolusi hijau mendorong penggunaan pestisida sintetik dalam pertanian, namun penggunaannya berdampak negatif bagi lingkungan dan kesehatan. Karinding, alat musik tradisional Jawa Barat, diyakini sebagai alternatif ramah lingkungan untuk mengusir hama pada tanaman padi. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas alat musik karinding sebagai alat untuk mengendalikan hama pada padi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan rancangan acak kelompok non-faktorial dengan empat perlakuan: kontrol, karinding manual, karinding rekaman, dan pestisida sintetik. Setiap perlakuan terdiri atas 10 rumpun padi dan diulang sebanyak empat kali. Untuk mengurangi bias, jarak antar perlakuan dibuat sejauh 10 m. Parameter yang diamati meliputi intensitas serangan hama, keanekaragaman serangga, serta kondisi tanah (pH dan populasi mikroorganisme). Hasil penelitian menunjukkan intensitas serangan hama pada 4-12 minggu setelah tanam tidak berbeda signifikan, kecuali pada minggu ke-7, di mana pestisida sintetik memberikan intensitas serangan terendah (13,15%). Keanekaragaman serangga tergolong sedang dengan nilai terendah pada perlakuan pestisida sintetik (H’=1,595) dan tertinggi pada kontrol (H’=2,083), tanpa serangga dominan (C<0,5). Populasi serangga pada perlakuan pestisida sintetik lebih sedikit dibandingkan perlakuan lain, kecuali beberapa spesies tertentu. Karinding memperbaiki kondisi tanah dengan pH 5,7-5,8 dan populasi mikroorganisme lebih tinggi dibanding pestisida sintetik. Hasil tanaman menunjukkan jumlah malai per rumpun tertinggi pada kontrol (40,72) dan terendah pada pestisida sintetik (22,27). Panjang malai dan bobot gabah kering tidak berbeda signifikan antar perlakuan. Kesimpulannya, penggunaan karinding tidak efektif mengendalikan hama seperti pestisida sintetik, namun dapat menjaga keanekaragaman serangga dan kesehatan tanah sehingga berpotensi menjadi metode pengendalian ramah lingkungan.   Kata kunci: Hama padi; intensitas serangan; karinding; pengendalian ramah lingkungan; pertanian berkelanjutan
Respon bibit kopi liberika bermikoriza terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut Kartika, Elis; Duaja, Made Deviani; Gusniwati
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45169

Abstract

Drought stress is one of the main limiting factors affecting the growth and nutrient uptake of Liberica coffee seedlings in peat soil media. Therefore, appropriate technologies are needed to address this issue, one of which is the application of biological agents such as mycorrhiza. This study aims to evaluate the response of mycorrhiza-inoculated Liberica coffee seedlings to drought stress in peat soil media. The experiment was conducted using a factorial Split-Plot Design with two treatment factors. The first factor (Main Plot) was drought stress, consisting of five levels: 100%, 80%, 60%, 40%, and 20% of field capacity water availability. The second factor (Sub-Plot) was different mycorrhizal treatments, consisting of four levels: no mycorrhiza inoculation, Glomus sp-1a, Glomus sp-3c, and a combination of Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c. The results showed that mycorrhiza inoculation, particularly the combination of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c, significantly improved the growth and nutrient uptake of Liberica coffee seedlings in peat soil under drought stress conditions. The combination of Glomus sp-1a and Glomus sp-3c provided optimal growth and nutrient uptake up to a drought stress level of 40%, while its effectiveness tended to decline at higher stress levels. These findings indicate that mycorrhizae play a crucial role in enhancing the drought tolerance of Liberica coffee seedlings in peat soil media.   ABSTRAK Cekaman kekeringan merupakan salah satu faktor pembatas utama dalam pertumbuhan dan penyerapan hara bibit kopi liberika pada media tanah gambut. Oleh karena itu diperlukan suatu teknologi yang dapat mengatasi permasalahan tersebut, diantaranya melalui aplikasi agen hayati berupa mikoriza. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji respons bibit kopi liberika bermikoriza terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut. Percobaan dilakukan menggunakan Rancangan Petak Terbagi faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu cekaman kekeringan yang terdiri dari 5 taraf: 100%, 80%, 60%, 40% dan 20% air kapasitas lapang sebagai petak utama, dan berbagai jenis mikoriza yang terdiri dari 4 taraf perlakuan: tanpa inokulasi mikoriza, Glomus sp-1a, Glomus sp-3c, serta kombinasi Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi mikoriza, khususnya kombinasi Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c, dapat meningkatkan pertumbuhan dan penyerapan hara bibit kopi Liberika pada media tanah gambut di bawah kondisi cekaman kekeringan. Kombinasi mikoriza Glomus sp-1a dan Glomus sp-3c memberikan peningkatan pertumbuhan dan penyerapan hara yang optimal hingga tingkat cekaman 40%, sementara pada tingkat cekaman yang lebih tinggi efektivitas kombinasi mikoriza cenderung menurun. Temuan ini mengindikasikan bahwa mikoriza berperan dalam meningkatkan ketahanan bibit kopi Liberika terhadap cekaman kekeringan di media tanah gambut. Kata kunci: Adaptasi, Kolonisasi, Nutrisi, Simbiosis
Pertumbuhan dan hasil dua spesies kacang koro (Mucuna pruriens; Canavalia ensivormis) akibat pupuk NPK Trisnaningsih, Umi; Dukat, Dukat; Saleh, Ismail; Maulana, Wahyudi; Auliya, Sukma Nur; Nurraffa, Muhammad Fatiharizqi; Abdurrazaq, Difaa Ali Subhan
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45222

Abstract

Jack bean (Canavalia ensiformis L.) and velvet bean (Mucuna pruriens L.) are local legume species with significant potential as sources of plant-based protein. To date, both species have primarily been utilized as sources of animal feed, green manure, and cover crops. This study aims to evaluate the effects of NPK fertilizer on the growth and yield of the two legume species. The experiment was conducted in Nanggela Village, Mandirancan District, Kuningan Regency, from June to November 2024. The experimental design used was a Randomized complete block design with treatments combining legume species (Jack bean and velvet bean) with NPK fertilizer applied at rates of 150, 225, 300, 375, and 450 kg ha-1. The variables observed were plant height, number of leaves, stem diameter, root length, root volume, leaf area index, relative growth rate, net assimilation rate, number of pods per plot, number of seeds per pod, weight of 100 seeds, and weight of seeds per plot. The results showed that the combination of species and NPK fertilizer doses significantly affected the growth and yield of koro plants. The best results were obtained from the treatment of jack bean with a dose of NPK fertilizer of 300 kg ha-1.   ABSTRAK Kacang koro pedang (Canavalia ensiformis L.) dan koro benguk (Mucuna pruriens L.) merupakan spesies lokal yang memiliki potensi sebagai sumber protein nabati. Selama ini kedua spesies tersebut dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak, pupuk hijau, dan tanaman penutup tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk NPK terhadap pertumbuhan dan hasil dua spesies koro. Percobaan dilaksanakan di Desa Nanggela, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan pada bulan Juni sampai November 2024. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok dengan perlakuan kombinasi antara spesies koro (koro pedang dan koro benguk) dengan dosis pupuk NPK (150, 225, 300, 375, dan 450 kg ha-1). Semua perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 30 satuan percobaan. Variabel yang diamati adalah tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, panjang akar, volume akar, indeks luas daun, laju pertumbuhan relatif, laju asimilasi bersih, jumlah polong per petak, jumlah biji per polong, bobot 100 butir biji, dan bobot biji per petak. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi spesies koro dan dosis pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman koro. Hasil terbaik diperoleh dari perlakuan koro pedang dengan dosis pupuk NPK 300 kg ha-1. Dalam budidaya koro pedang, disarankan untuk menggunakan pupuk NPK (16:16:16) dengan dosis 300 kg ha-1, sebagai upaya untuk menggantikan kedelai pada wilayah-wilayah di mana kedelai sulit tumbuh.   Kata kunci: Koro pedang, koro benguk, pertumbuhan, pupuk majemuk
Population of vector and tungro disease incidence at dosage of nitrogen fertilizer in rice field Gunawan, Achmad; Purwono; Lubis, Iskandar; Widiarta, I Nyoman; Suwitono, Bayu
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45232

Abstract

One of the biotic threats that can reduce rice yield is tungro disease. This disease is spread with green leafhopper (Nephotettix virescens) vector. The population density of leafhoppers is one of the factors contributing to the increased incidence of tungro. Excessive nitrogen used in crop cultivation, especially rice, has been known to impact the population dynamics of insect pests. This study aims to determine the population development of green leafhoppers at different nitrogen doses. The study was conducted at the Muara Experimental Field, Bogor. The experimental treatment used three rice varieties representing susceptible varieties, resistant to green leafhoppers and resistant to tungro virus (Ciherang, IR64 and Inpari 36 Lanrang) and four levels of fertilization doses (without additional urea, Urea 250 kg ha-1, 350 kg ha-1 and 500 kg ha-1). The experiment used Split Plot design with three replication. The insect population in the field was found at the beginning of the observation and the peak of insect population density occurred at 6 WAP observationsVariety has a significant effect on insect vector population density and plant growth and yield in the field. The population density of green leafhoppers was higher in the Ciherang and IR 64 varieties than in the Inpari 36 Lanrang variety. Fertilization doses had no significant effect on the population of green leafhopper insects in the field except in the nymph phase in fertilization without the addition of urea and had no effect on growth and yield except on the number of tillers. The combination of resistant varieties and fertilization without the addition of urea reduced the population density of green.   ABSTRAK Cekaman biotik yang dapat menurunkan hasil padi salah satunya penyakit tungro. Penyakit ini disebarkan oleh vektor wereng hijau (Nephotettix virescens). Kepadatan populasi wereng menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya keberadaan penyakit tungro. Penggunaan nitrogen yang berlebihan dalam budidaya tanaman, terutama padi, telah diketahui berdampak pada dinamika populasi serangga hama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan populasi wereng hijau pada pemberian dosis nitrogen berbeda.Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Muara, Bogor. Perlakuan percobaan mengunakan tiga varietas padi yang mewakili varietas rentan, tahan wereng hijau dan tahan virus tungro (Ciherang, IR64 dan Inpari 36 Lanrang) dan lima taraf dosis pemupukan (tanpa tambahan pupuk urea, Pupuk Urea 250 kg ha-1, 300 kg ha-1 dan 500 kg ha-1). Percobaan mengunakan rancanngan Split Plot dalam RAK dengan tiga kali ulangan. Populasi serangga di lapangan ditemukan diawal pengamatan dan puncak kepadatan populasi serangga terjadi pada pengamatan 6 MST. Varietas berpengaruh nyata terhadap kepadatan populasi serangga vektor, pertumbuhan dan hasil tanaman di lapangan. Kepadatan populasi wereng hijau lebih tinggi pada pertanaman varietas Ciherang dan IR 64 dibandingkan pada varietas Inpari 36 Lanrang. Dosis pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap populasi serangga wereng hijau di lapangan kecuali pada fase nimfa pada pemupukan tanpa penambahan urea dan tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil kecuali pada jumlah anakan. Kombinasi varietas tahan dan pemupukan tanpa penambahan urea mengurangi kepadatan populasi wereng hijau menyebarkan virus tungro.   Kata kunci: Populasi, pupuk nitrogen, wereng hijau
Rhizospheric Bacillus spp. as biocontrol agents against maize downy mildew and growth promoters Mugiastuti, Endang; Manan, Abdul; Soesanto, Loekas; Primayuri, Deviana; Sundari, Dini
Jurnal AGRO Vol. 12 No. 1 (2025)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/j.agro.45887

Abstract

Downy mildew is one of the major patogen limiting maize productivity in Indonesia. Effective mitigation strategies are essential due to the significant yield losses it causes. Biological control is an environmentally viable alternative method of disease management. Bacillus spp. are biological control agent capable of producing metabolic chemicals that can inhibit plant infections, hence holding potential for downy mildew management. This study aimed to evaluate the effectiveness of Bacillus spp. from the maize rhizosphere to manage downy mildew and promote maize plant growth. The research employed a completely randomized block design, consisting of four treatments and six replications. The treatments comprised Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp. BK.R9, fungicides treatment (metalaxyl), and control group for comparison. The observed variables included spore germination, incubation period, disease incidence, disease severity, Area Under Disease Progression Curve (AUDPC), number of leaves, plant height, fresh shoot weight, and fresh root weight. The findings revealed that B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, and Bacillus spp. BK.R9 effectively inhibited downy mildew by decreasing spore germination by 80.55-100%, prolonging the incubation period, and inhibiting disease incidence by 20.37-53.70%, disease severity by 25.64-62.56%, and AUDPC by 22.21-63.37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 can enhance plant growth by augmenting root weight by 122.63% and maize plant weight by 80.26%.   ABSTRAK   Penyakit bulai merupakan salah satu penyakit utama yang menghambat produksi jagung di Indonesia. Upaya pengelolaan penyakit bulai perlu dilakukan mengingat besarnya kehilangan yang ditimbulkan.  Pengendalian hayati merupakan salah satu alternatif pengendalian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Bacillus spp. adalah bakteri yang mampu menghasilkan senyawa metabolik, dapat mengendalikan pathogen tanaman sehingga berpotensi sebagai pengendali penyakit bulai.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan Bacillus spp. asal rizosfer untuk mengendalikan penyakit bulai dan mengoptimalkan pertumbuhan tanaman jagung. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap, dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan. Perlakuan meliputi Bacillus amyloliquefaciens BB.R3, Bacillus subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9, serta fungisida (metalaksil) dan kontrol sebagai pembanding. Variabel yang diamati meliputi perkecambahan spora, masa inkubasi, kejadian penyakit, intensitas penyakit, AUDPC, jumlah daun, tinggi tanaman, bobot tanaman segar, dan bobot akar segar. Hasil penelitian menunjukkan B. amyloliquefaciens BB.R3, B. subtilis BK.R5, Bacillus spp.. BK.R9 mampu menekan penyakit bulai jagung, dengan menurunkan perkecambahan spora 80,55-100 %, menunda masa inkubasi, menurunkan kejadian penyakit sebesar 20,37-53,70 %, intensitas penyakit sebesar 25,64-62,56%, dan AUDPC sebesar 22,21-63,37%. B. amyloliquefaciens BB.R3 dapat memacu pertumbuhan tanaman, dengan meningkatkan bobot akar sebesar 122,63 % dan bobot tanaman jagung sebesar 80,26%.   Kata kunci: Bacillus, jagung, pengendalian hayati,  Peronosclerospora maydis, ramah lingkungan

Page 1 of 2 | Total Record : 13