cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Toksisitas ekstrak biji Barringtonia asiatica (Lecythidaceae) terhadap mencit putih (Mus musculus Strain DDY) Wahyu Daradjat Natawigena; Danar Dono; Ivan Febriana
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3589

Abstract

Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai pestisida nabati adalah Bitung (Baringtonia asiatica) yang teruji mengandung terpenoid dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui toksisitas ekstrak kasar (B. asiatica) terhadap mencit putih (Mus musculus) dan potensinya sebagai rodentisida nabati. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pengujian toksisitas B. asiatica terhadap mencit dilakukan secara oral dengan menghitung LD50 menggunakan metode analisis probit. Pengamatan perilaku mencit yang keracunan ekstrak B.asiatica dilakukan dengan menggunakan metode Wagner & Wolff.  Pengamatan perubahan fisiologis mencit yang teracuni ekstrak metanol biji B. asiatica dilakukan dengan menggunakan kandang metabolisme (Nalgane Metabolic Cages). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji B. asiatica bersifat toksik terhadap mencit putih (M. musculus) dengan nilai LD50 = 2022 ppm atau 0,2022% dan digolongkan ke dalam skala toksistas 3 yaitu senyawa dengan toksisitas sedang. Ekstrak B. asiatica mempengaruhi sistem syaraf pusat dan dapat mengakibatkan perubahan pada organ detoksifikasi. Ekstrak biji B. asiatica dapat meningkatkan produksi urin, menurunkan laju konsumsi dan produksi feses, dan menurunkan pertumbuhan bobot mencit. Dengan demikian ekstrak biji B. asiatica berpotensi untuk dikembangkan sebagai bahan aktif rodentisida. One of the plants that potentially as botanical pesticides is the Bitung (Baringtonia asiatica) which is tested contained of terpenoid and saponin. This research aimed was to determine the toxicity of crude extracts (B. asiatica) to white mice (Mus musculus) and their potential as botanical rodenticides. The research used an experimental method with complete randomized design. B. asiatica toxicity testing in mice was carried out orally by calculating LD50 using the probit analysis method. Observation of the behavior of B.asiatica extract poisoning mice was carried out using the Wagner & Wolff method. The physiological experience of mice which were poisoned by the methanol extract of B. asiatica seeds was carried out using a cage (Nalgane Metabolic Cages). The results showed that B. asiatica seed extract was toxic to white mice (M. musculus) with LD50 = 2022 ppm or 0.2022% and classified into toxicity scale 3, namely compounds with moderate toxicity. B. asiatica extract affects the central nervous system and in turn detoxifying organs. B. asiatica seed extract can increase urin production, reduce the rate of consumption and facial production, and reduce the weight level of mice. Therefore that B. asiatica seed extract potentially to be developed as an active ingredients of rodenticides.
Keanekaragaman genotipe-genotipe potensial dan penentuan keragaman karakter agro-morfologi ercis (Pisum sativum L.) Rawina Saragih; Darmawan Saptadi; Chindy Ulima Zanetta; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3230

Abstract

Ercis (Pisum sativum L.) merupakan salah satu tanaman kacang komersial yang penting di dunia termasuk di Indonesia. Ercis lokal merupakan sumber populasi untuk meningkatkan kapasitas genetik hasil panen polong dan biji melalui seleksi galur murni. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari jarak dan keanekaragaman genetik, serta keragaman karakter 37 genotipe potensial ercis hasil seleksi galur murni varietas lokal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2018 di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 37 genotipe sebagai perlakuan dan diulang tiga kali, sehingga terdapat 111 satuan percobaan. Pengamatan dilakukan pada masing-masing tanaman yakni karakter agronomi dan morfologi. Pengelompokan genetik didasarkan pada agglomerative hierarchical clustering dengan similiritas koefisien kolerasi Pearson dan metode aglomerasi unweighted pair group method average (UPGMA). Keanekaragaman genetik didasarkan pada indeks Shannon-Wiener (H’) dan indeks Shimpson (D). Keragaman karakter agronomi dan morfologi 37 genotipe ercis menggunakan principal component analysis (PCA) dengan pendekatan tipe korelasi Pearson. Berdasarkan analisis klaster 37 genotipe ercis terbagi menjadi 6 kelompok berdasarkan 61 karakter agro-morfologi dengan koefisien kemiripan 89-99%. Diversitas genetik ercis dikategorikan sedang dengan nilai indeks Shanon-Wiener 1,5 dan nilai indeks Simpson 0,26 yang menunjukkan tidak terdapat kelompok genetik yang mendominansi. Tiga puluh tujuh genotipe ercis memiliki keragaman yang luas. Keragaman kumulatif berdasarkan 61 karakter agro-morfologi yang diamati mencapai 87,83% yang melibatkan 44 karakter pada 16 komponen utama pertama.Pea (Pisum sativum L.) is one of the important commercial legumes in the world, including in Indonesia. The aims of the research were to study  genetic distance, diversity, and characters variability of 37 genotypes of pea. The experiment was conducted on March to June 2018 in Pendem, Junrejo, Batu City. The experimental design used a randomized block design with 37 genotypes as treatments and replicated three times. Observations was made on agronomic and morphological characters. Genetic grouping according to agglomerative hierarchical clustering with Pearson correlation coefficient similarity and unweighted pair group average agglomeration method (UPGMA). Genetic diversity based on Shannon-Wiener (H') index and Shimpson (D) index. Variability of agronomic and morphological characters in 37 genotypes was analyzed by principal component analysis (PCA) with Pearson correlation approach. The results showed that cluster analysis of 37 genotypes was divided into six groups in 61 agro-morphological characters with similarity coefficients of 89-99%. Genetic diversity was medium categorized with Shanon-Wiener index value of 1.5 and Simpson index value of 0.26. It was indicated that no dominating on genotypes group. Thirty seven genotypes of pea showed high variability. Cumulative variability on 61 observed agro-morphological characters reached 87.83% which involved 44 characters in 16 first principal components.
Pertumbuhan miselia jamur merang (Volvariella volvaceae) lokasi pacing dengan jenis media dan konsentrasi biakan murni secara in vitro Ani Lestari; Elia Azizah; Kuswarini Sulandjari; Abdulloh Yasin
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/2426

Abstract

Jamur merang merupakan salah satu jamur konsumsi yang sangat diminati, sehingga kebutuhan jamur merang semakin meningkat. Namun untuk memenuhi kebutuhan tersebut banyak ditemukan kendala, salah satunya dalam penyediaan biakan murni terkait jenis dan konsentrasi media biakan murni. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis dan konsentrasi media biakan murni yang memberikan pertumbuhan koloni miselia jamur merang tertinggi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian UNSIKA dari Maret sampai Agustus 2017, menggunakan rancangan acak kelompok faktorial dengan 3 ulangan. Faktor pertama : jenis media dengan 4 taraf  m1 = PDA, m2 = arang sekam padi, m3 = jerami, m4 = campuran arang sekam padi dan jerami. Faktor kedua : konsentrasi media biakan murni dengan 3 taraf : k1 = 200 g l-1, k2 = 250 g l-1, k3 = 300 g l-1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, media arang sekam padi dan PDA dengan konsentrasi media biakan murni 200 g l-1 memberikan pengaruh yang sama baiknya bagi pertumbuhan miselium jamur merang dengan diameter sebesar 8 cm.  Media arang sekam padi dapat dijadikan sebagai alternatif pengganti media PDA. Straw mushroom is one of the most popular mushroom. So needs of straw mushroom more  increasing. However, to meet those needs had been founded obstscles, one of them is type and consentration of straw mushroom pure culture media. The aims of this research was to find out the type and consentration of pure culture media which could give the best growth of straw mushroom mycelia. The research was conducted in laboratory of plant bioctehnology, faculty of Agriculture, University of Singaperbangsa Karawang from March until August 2017. The experiment method used the factorial randomized block design with 3 replications. The first factor was the type of media, consisted of 4 levels m1 = Potato dextrose agar (PDA), m2 = rice husks m3= Rice Straw m4 = Mixture of rice husk and straw. The second factor was the concentration of media, consisted of 3 levels k1 = 200 g l-1, k2 = 250 g l-1, k3 = 300 g l-1. The results of the research showed that rice husk media and PDA with consentration’s 200 g l-1 gave good affect to mycelia colony diameter of straw mushroom by 8 cm. The rice huskwas an alternative as pure culture media for straw mushroom, substitute PDA.
Adjustment of phosphorus concentration to increase growth and yield of cherry tomato using hydroponic drip system Cecep Hidayat; Budi Frasetya; Ilman N Syamsudin
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3658

Abstract

The phosphorus element plays an essential role in plant growth both at the vegetative and generative phases, so its concentration modification in the nutrient solution is necessary to stimulate vegetative growth and crop yield. The research aimed to know the influence of different phosphorus concentrations on growth and yield of cherry tomato using a hydroponic drip irrigation system, conducted from February to June 2017 at Green House Research Station of  Universitas Padjajaran Jatinangor using Completely Randomized Design with five treatments and five replications. The treatments were: phosphorous concentration of 100 ppm (P/N ratio 0.4), 125 ppm (P/N ratio 0.5), 150 ppm (P/N ratio 0.6), 175 ppm (P/N ratio 0.7), and 200 ppm (P/N ratio 0.8). The results showed that the increasing concentration of phosphorus improved crops height at the end of the vegetative phase, increased the number of flowers from the beginning to the end of the generative period, was able to prevent the flower fall, enhanced harvest index and weight of tomato fruit significantly at harvest time. Application of 200 ppm phosphorus concentration can increase growth and yield of cherry tomato. Unsur fosfor berperan penting dalam pertumbuhan tanaman pada fase vegetatif maupun fase generatif. Konsentrasi unsur P pada nutrisi tanaman sangat penting untuk merangsang pertumbuhan vegetatif dan hasil panen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ragam kosentrasi unsur posfor terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat cherry pada sistem hidroponik irigasi tetes. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Februari sampai Juni 2017 di Green House Universitas Padjadjaran Jatinangor menggunakan rancangan acak lengkap terdiri dari lima perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan konsentrasi posfor, yaitu 100 ppm (rasio P/N 0,4), 125 ppm (rasio P/N 0,5), 150 ppm (rasio P/N 0,6); 175 ppm (rasio P/N 0,7), dan 200 ppm (rasio P/N 0,8). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi posfor meningkatkan tinggi tanaman pada akhir fase vegetatif, meningkatkan jumlah bunga dari awal sampai akhir fase generatif, mengurangi jumlah bunga gugur, meningkatkan indeks panen dan berat buah. Aplikasi konsentrasi posfor 200 ppm dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman tomat cherry.
Evaluasi variasi nilai electrical conductivity terhadap pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa L.) pada sistem hidroponik NFT Budy Frasetya; Ahmad Taofik; Riki K. Firdaus
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/2966

Abstract

Tanaman selada di Indonesia umumnya dikonsumsi dalam bentuk segar. Evaluasi pengaturan nilai electrical conductivity (EC) sesuai umur tanaman selada diperlukan sebagai upaya menjaga kualitas produk (berat segar, tampilan visual) dan meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi. Penelitian ini dilakasanakan pada September-Oktober 2017 bertempat di Kecamatan Banjaran. Percobaan yang dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri dari 4 taraf dan diulang 6 kali. Perlakuan yang diberikan merupakan kombinasi nilai  EC fase vegetatif awal (VI) dan fase vegetatif akhir (VII)  perlakuan A=(VI = 1,5; VII = 2,0); B=(VI = 1,6; VII = 2,2);C=(VI = 1,7; VII = 2,4);D=(VI = 1,8; VII = 2,6) mS cm-1. Aplikasi nilai  EC (VI = 1,7; VII = 2,4) mS cm-1 memberikan pertumbuhan tertinggi (tinggi tanaman, luas daun, bobot segar tanaman). Berdasarkan hasil berat segar tanaman pengaturan nilai EC dapat meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi hidroponik. Lettuce is commonly consuming as a fresh vegetable in Indonesia. The evaluation of electrical conductivity adjustment by lettuce plant age is an effort to achieve quality product (fresh weight, visual appearance) and improve nutrient efficiency. This research conducted in September-October 2017 at Banjaran District. This experiment used a completely randomized design with 4 level treatments and replicated six times. Application of combination EC value phase vegetative I and vegetative II, respectively: A=(VI = 1.5; VII = 2.0); B=(VI = 1.6; VII = 2.2);C=(VI = 1.7; VII = 2.4);D=(VI = 1.8; VII = 2.6) mS cm-1. This research showed that application nutrient with EC value (VI = 1.7; VII = 2.4) mS cm-1 affect plant growth higher (plant height, leaf area, fresh weight). Based on the results of the plant’s fresh weight parameter EC value improved the efficiency of using hydroponic nutrient.
Seleksi kacang tanah (Arachis hypogaea L.) lokal Bangka toleran cekaman salinitas Gigih Ibnu Prayoga; Eries Dyah Mustikarini; Novin Wandra
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3366

Abstract

Seleksi cekaman salinitas kacang tanah dilakukan untuk mendapatkan tetua yang toleran terhadap salinitas dan memperbaiki sifat kacang tanah dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Informasi genotip unggul kacang tanah toleran terhadap salinitas sangat diperlukan sebagai dasar pemilihan genotip tetua yang adaptif pada lahan salin. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kacang tanah yang memiliki sifat toleran cekaman salinitas dan menentukan konsentrasi air laut yang dapat ditoleransi oleh tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan dan Penelitian, Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian Perikanan dan Biologi, Universitas Bangka Belitung, pada bulan Februari–April 2018. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola split plot dengan 2 ulangan. Petak utama adalah tingkat salinitas yaitu non-salin (kontrol), salinitas rendah, dan salinitas sedang. Anak petak adalah 5 genotip kacang tanah yaitu aksesi lokal (Belimbing dan Arung dalam) dan varietas nasional (Tuban, Kancil, dan Hypoma). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Hypoma memiliki karakter jumlah daun dan diameter batang yang paling baik, namun tidak toleran terhadap cekaman salinitas sedang. Aksesi Belimbing merupakan genotip toleran salinitas rendah berdasarkan nilai indeks toleransi cekaman salinitas. Selection of groundnut tolerant to salinity stress is carried out to obtain parent genotypes tolerant to salinity and improve the characteristics of groundnut in plant breeding program. The information of superior groundnut genotypes tolerant to salinity is necessary as the basic of genotypes selection adaptive in the saline area. The research aimed to obtain the groundnut tolerant to salinity stress and determine the concentration of seawater that can be tolerated by groundnut. This research was conducted at The Experiment and Research Field, Faculty of Agriculture Fisheries and Biology, University of Bangka Belitung, from February to April 2018. The research used Complete Randomized Design (CRD) split plot with two replications. Main plot was concentrations of seawater; non-saline (control), low salinity, and moderate salinity. The subplot was groundnut genotypes of local accessions (Belimbing and Arung Dalam) and national varieties (Tuban, Kancil, and Hypoma). The results of this research indicated that Hypoma has the best result for plant height and diameter of stem, but intolerant to moderate salinity stress. Belimbing was the genotype with low salinity tolerance based on score index of tolerant salinity stress.
Respons fisiologi pertumbuhan dan hasil tiga genotip jawawut terhadap cekaman kekeringan Yuyun Yuwariah; Sheli Mustikasari Dewi; Warid Ali Qosim; Anne Nuraini
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4590

Abstract

Jawawut merupakan salah satu tanaman pangan lokal Indonesia yang belum banyak dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan genotip jawawut yang memberikan pengaruh paling baik terhadap pertumbuhan dan hasil pada berbagai tingkat pemberian air di rumah plastik. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan September 2017 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Penelitian menggunakan Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design) dengan 3 ulangan. Petak utama terdiri dari tiga macam genotip yaitu genotip 44, 46, dan 48. Anak petak terdiri dari tiga taraf kapasitas lapang  yaitu 75%, 50% dan 25%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pemberian air 25% kapasitas lapang berpengaruh paling buruk terhadap  proses fisiologis pertumbuhan dan hasil tiga genotip jawawut. Genotip 44 dan 46, pada pemberian air 50 % KL menghasilkan  konduktan stomata terbaik. Genotip 46 dan 48 memberikan pengaruh paling baik terhadap proses fisiologis pertumbuhan dan hasil jawawut yaitu jumlah anakan per rumpun.ABSTRACTMillet is one of Indonesia's local food crops that has not been widely developed as food sources. The purpose of this study was to obtain the genotypes of millet which gave the best effect on the growth and yield at various levels of water supply in the plastic house. The study was conducted from June to September 2017 at the Experimental Station of the Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran. The research used the Split Plot Design with three replications. The main plot factor consisted of three levels of treatment; genotypes 44, 46, and 48. The subplot factor consisted of three stages of different treatment of the field capacity; 75%, 50% and 25%. The results showed the treatment of 25% water to field capacity had the worst effect on the physiological process of growth and yield of three millet genotypes. Genotypes 44 and 46, at 50% field capacity, produced the best stomatal conductance. Genotype 46 and 48 showed the best response to the physiological processes for the number of tillers.
Respon nilai kekerasan, kadar air dan total padatan terlarut buah jambu kristal pada berbagai jenis kemasan dan masa simpan Kusumiyati Kusumiyati; Ine Elisa Putri; Yuda Hadiwijaya; Syariful Mubarok
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4142

Abstract

Penurunan kualitas selama penyimpanan merupakan permasalahan yang seringkali ditemui pada pascapanen buah jambu kristal. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang tepat. Penanganan pascapanen yang umum digunakan adalah dengan penggunaan kemasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji hubungan berbagai kemasan dan masa simpan terhadap nilai kekerasan, total padatan terlarut (TPT) dan kadar air buah jambu kristal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 4 ulangan. Faktor pertama adalah pengemasan (tanpa kemasan (kontrol), plastik wrapping, koran) dan faktor kedua adalah masa simpan (0, 4 dan 8 hari). Data yang diperoleh kemudian diolah dengan analisis sidik ragam (ANOVA), selanjutnya diuji Duncan dengan taraf 5%. Hasil yang didapatkan menunjukkan tidak terjadi interaksi antara jenis kemasan dan masa simpan terhadap nilai kekerasan, TPT dan kadar air buah jambu kristal. Namun, jenis kemasan koran menampilkan nilai kekerasan buah jambu kristal yang lebih rendah daripada perlakuan tanpa kemasan (kontrol) dan plastik wrapping, sedangkan masa simpan 0 hari memperlihatkan nilai kekerasan buah jambu kristal yang lebih tinggi dibandingkan dengan masa simpan 4 dan 8 hari. Nilai kekerasan buah mengalami penurunan setelah 4 hari penyimpanan. Penggunaan kemasan berupa plastik wrapping dan koran tidak lebih baik dibandingkan dengan tanpa pengemasan (kontrol) terhadap nilai kekerasan pada buah jambu kristal.ABSTRACT Losses during storage is often encountered in postharvest of crystal guava fruit. Therefore, proper handling is needed. Packaging is the most commonly performed postharvest handling. The purpose of this study was to examine the relationship of various packagings and storage periods to the values of firmness, total soluble solids (TSS) and water content of crystal guava fruit. This study used factorial arrangement of completely randomized design (CRD) with four replications. The first factor was packagings (without packaging (control), wrap plastic and paper) and the second factor was storage periods (0, 4, and 8 days) in room temperature (±250C). The data obtained then processed using analysis of variance (ANOVA), then duncan test was carried out with a level of 5%. The results showed no interaction between the types of packaging and storage periods to the values of firmness, TSS and water content of crystal guava fruit. However, the paper packaging presented the firmness value which was lower than without packaging (control) and wrap plastic, whereas the 0 day storage showed the firmness value fruit which was higher than the 4 and 8 days storage. Value of fruit firmness decreased after 4 days of storage. The use of packaging in the form of wrap plastic and paper were not better than without packaging (control) to the firmness of the crystal guava fruit.
Susceptibility and damage cereals to infestation Rhyzopertha dominica (F.) (Coleoptera: Bostrichidae) in storage Hendrival Hendrival; Dhea Afriani; Dewi Sartika Aryani
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4276

Abstract

Rhyzopertha dominica is a primary pest which causes damages to stored cereals such as corn, grain, rice, wheat, sorghum, tubers, and starch-containing substrates and packaging made from wood.  They not only cause losses in terms of quantity but also affect quality during storage period through their feeding activities.  The aimed of this research to investigate the level of susceptibility and damage to cereals during the storage period by pest R. dominica. The cereals used in the study were sorghum, wheat, corn, rice grain, white rice, black glutinous rice, and white glutinous rice. The method used in this research was no-choice bioassay with variables observed: number of F1 progeny, median development time and damage cereals. The results revealed that that different kind of cereals had a different level of susceptibility to infestation by R. dominica from moderate to susceptible. Sorghum, corn, rice, white rice, and white glutinous rice were classified as moderate, while wheat was classified as susceptible and black glutinous rice was moderate–susceptible. The highest losses were found in wheat, black glutinous rice, corn, and rice grain while the lowest were found in sorghum, white rice and white glutinous rice. The study showed that cereals that were susceptible may not stored for a long time to minimize the loss of grain weight.ABSTRAK Rhyzopertha dominica tergolong hama primer yang merusak serealia seperti jagung, gabah, beras, gandum, sorgum, umbi, dan substrat mengandung pati serta kemasan yang terbuat dari kayu. Kerusakan serealia selama penyimpanan meliputi kerusakan kuantitas dan kualitas yang disebabkan oleh hama R. dominica. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat kerentanan dan kerusakan serealia selama penyimpanan oleh hama R. dominica. Jenis serealia yang digunakan dalam penelitian terdiri dari sorgum, gandum, jagung, gabah, beras putih, beras ketan hitam, dan beras ketan putih. Metode uji tanpa pilihan dengan variabel yang diamati yaitu jumlah F1, median waktu perkembangan, dan kerusakan serealia.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis serealia memiliki tingkat kerentanan dari moderat sampai rentan terhadap infestasi hama R. dominica. Serealia dari sorgum, jagung, padi, beras putih, dan beras ketan putih tergolong dalam kategori moderat, sedangkan gandum tergolong dalam kategori rentan, serta beras ketan hitam tergolong moderat–rentan terhadap serangan R. dominica. Tingkat kerusakan serealia seperti persentase serealia berlubang dan persentase bubuk serealia paling tinggi terjadi pada gandum, beras ketan hitam, jagung dan padi sedangkan kerusakan yang terendah yaitu pada sorgum, beras putih, dan beras ketan putih. Penelitian menunjukkan bahwa serealia yang rentan tidak boleh disimpan dalam waktu yang lama untuk meminimalkan kehilangan berat.
Dampak pemupukan N dan zeolite pada pertumbuhan serta hasil tanaman sorghum (Sorghum bicolour L.) Var. SUPER 1 Nur Edy Suminarti
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3923

Abstract

Nitrogen merupakan unsur hara esensial tanaman yang diperlukan paling banyak dibandingkan unsur hara lainnya. Namun demikian, pemberian pupuk N secara terus menerus berdampak pada menurunnya daya dukung lahan. Zeolit yang dapat digunakan untuk mengefisiensikan penyerapan N. Penelitian bertujuan untuk mengkaji dampak pemberian zeolit pada berbagai taraf pemberian N pada tanaman sorgum dilakukan dari bulan April hingga Juli 2017 di lahan sawah Desa Sumberduren, Kabupaten Kediri, menggunakan Rancangan Petak Terpisah dengan menempatkan dosis pupuk N (50%, 100% dan 150%) pada petak utama, dan dosis zeolit (0%, 50%, 100% dan 150%) pada anak petak yang diulang 3 kali. Ada tidaknya interaksi atau pengaruh nyata menggunakan Uji F taraf 5% dan dilanjutkan Uji BNJ taraf 5% untuk mengetahui perbedaan diantara perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan dosis N 50% pada zeolite 150% mendapatkan hasil biji sorghum sebesar 3,32 t ha-1. Adapun dosis N 100% dan 150 % mengurangi penggunaan zeolite sebesar 43,5% dan 48,12% dengan hasil biji sorghum sebanyak 4,56 t ha-1 dan 5,15 t ha-1. Aplikasi 50% dan 100% zeolit dapat menekan penggunaan N sebesar 13,67% dan 16,19%.ABSTRACTNitrogen is an essential nutrient and needed in the highest amount compared to other elements. However, the continuous use of nitrogen  causes a decrease in the carrying capacity of the land. Therefore to anticipate these problems, zeolite applications is prior to be done. The study aimed to assess the effect of N and zeolite application on sorghum plants which had been carried out from April to July 2017 in paddy fields in Sumberduren Village, Kediri Regency. Split Plot Design was used in this study by placing N fertilizer doses (50%, 100% and 150%) as the main plot, and zeolite dosage (0%, 50%, 100% and 150%) on subplots repeated 3 times. F test at 5% was used to determine the effect of treatments, while the average difference between treatments were referred to HSD value at 5%. The using of 100% and 150% N dosages could reduce the zeolite usage about 43.5% and 48.12% with sorghum yield as much as 4.56 t ha‐1 and 5.15 t ha-1 respectively. However, with the application of 50% and 100% zeolite, it can reduce N use by 13.67% and 16.19%.

Page 6 of 27 | Total Record : 263