cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Kompatibilitas Jamur Entomopatogenik Paecilomyces fumosoroseus dengan Beberapa Bahan Aktif Pestisida Secara In Vitro Fani Fauziah; Dadan Rohdiana
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/801

Abstract

Untuk mengurangi penggunaan pestisida di perkebunan teh, maka salah satu upaya pengendalian hama yang dapat dilakukan adalah mengkombinasikan aplikasi pestisida dengan jamur entomopatogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompatibilitas antara jamur P. fumosoroseus  dengan beberapa bahan aktif pestisida di laboratorium. Perlakuan dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 5 jenis bahan aktif yaitu metomil, bifentrin, imidakloprid, tembaga oksida dan metidation pada taraf konsentrasi sesuai rekomendasi lapang (RL), 0,5x RL dan 2x RL. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa diantara kelima jenis bahan aktif pestisida yang diuji, metidation memiliki tingkat toksisitas yang paling tinggi. Persentase produksi spora tertinggi sebesar 13,77% ditunjukkan oleh perlakuan bifentrin 2x RL. Combining application of pesticides and entomopathogenic fungi is an alternative way for controlling pest in order to reduce pesticides application in the tea field. This research was aimed toexamine the compatibility of Paecilomyces fumosoroseus tosome active agents of pesticide in laboratory. Completely Randomized Block Designed (CRBD) with 5 active agents: methomyl, bifenthrin, imidacloprid, copper oxide and metidation in three different concentration was employed in this study, which was based on the existing field recommendation (FR): 0,5x FR and 2x FR. The results showed that among the five tested pesticides, metidation appeared to be the most toxic agentto P. fumosoroseus. Meanwhile, the highest percentage of spore production was counted in bifenthrin 2x RL (13,77%.)
Inisiasi Tunas Kokoleceran (Vatica bantamensis) pada Berbagai Jenis Media Tanam dan Konsentrasi BAP (Benzyl Amino Purine) Secara In Vitro Sri Sudiyanti; Tubagus Bahtiar Rusbana; Susiyanti Susiyanti
Jurnal Agro Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1069

Abstract

Kokoleceran (Vatica bantamensis) is an endemic plant of Banten which is only in Ujung Kulon, and has been designated as identity of Banten province. Now the existence of Kokoleceran has been endangered. Based on data from the IUCN, since 1998 there has been no research. Kokoleceran initiation needs technology for preventing from the extinction. One of the mass propagation is through the technique culture in vitro. This research aimed to get the precise medium and BAP concentration for Kokoleceran, and knowing the response of Kokoleceran growth in in vitro. This research was done in November 2015 until March 2016 at the Laboratory of Biotechnology, Department of Agroecotechnology, Faculty of Agriculture, University of Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten. This research used Completely Randomized Design (CRD) two factors. The first factor was medium that were MS and WPM media. The second factor was BAP concentration which consisted of four levels namely 0 mg L-1, 1 mg L-1, 2 mg L-1, and 3 mg L-1. The results showed that the use of different media and BAP concentrations had no impact on the time appear of shoot, shoot number, and root number. There was effect from both treatments on medium color, and growing of callus on the explants.
Keragaman genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil dan hasil ciplukan (Physalis sp.) Effendy Effendy; Respatijarti Respatijarti; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1864

Abstract

Ciplukan (Physalis sp.) merupakan salah satu tumbuhan yang potensial untuk dikembangkan sebagai sumber biofarmaka dan buah di Indonesia. Peningkatan produksi ini dapat dilakukan melalui penyediaan varietas-varietas unggul ciplukan dengan meningkatkan kapasitas genetik melalui program pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman akan berhasil jika terdapat keragaman genetik yang luas dan heritabilitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik dan heritabilitas pada karakter komponen hasil dan hasil ciplukan. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 34 aksesi ciplukan sebagai perlakuan diulang tiga kali. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Areng-Areng, Kecamatan Junrejo, Kota Batu pada bulan Mei - September 2017. Karakter pada tanaman ciplukan ada yang mempunyai keragaman luas dan ada yang mempunyai keragaman sempit. Keragaman yang luas terdapat pada tinggi batang, jumlah bunga per tanaman, bobot per buah tanpa kelopak, bobot per buah dengan kelopak, jumlah buah per tanaman, jumlah buah segar per tanaman, bobot buah per tanaman dan bobot buah segar per tanaman. Keragaman yang sempit terdapat pada karakter diameter batang, jumlah cabang tersier, jumlah bunga per cabang tersier, panjang tangkai buah, panjang kelopak, diameter kelopak, panjang buah, diameter buah, dan kemanisan buah. Nilai heritabilitas pada semua karakter termasuk kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan pengaruh genetik lebih besar dibandingkan dengan faktor fenotip pada penampilan karakter tanaman ciplukan. Ciplukan (Physalis sp.) is one of the potential plant to be developed as a source of medical plant and fruit in Indonesia. Increase production of this plant can be done through the provision of improved varieties of ciplukan by increasing the genetic capacity through plant breeding programs. Plant breeding will be successful if there is high genetic variability and heritability. This study aimed to study genetic variability and heritability on the character of yield component and yield in Physalis. The experiment used a randomized block design with 34 accessions of ciplukan as treatment repeated three times. The research was conducted in Areng-Areng sub-district, Junrejo District, Batu City from May until September 2017. Characters in ciplukan plants have wide and narrow variability. Characters that have a wide variability are stem height, number of flower per plant, number of fruits per plant, number of fruits per plant, weight per fruit without husks, weight per fruit with husk, weight of fruit per plant, and weight of fresh fruit per plant. Characters that have narrow variability are stem diameter, number of tertiary branching, number of flower per tertiary branching, length of fruit stalk, husk length, husk diameter, fruit length, fruit diameter, and sweetness. All characters have high heritability. This shows a greater genetic influence compared to phenotypic factors on the appearance of ciplukan characters. Physalis, genetic variablity, heritabilityKey words : 
Indikasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap produksi padi di Indonesia (Studi kasus : Sumatera Selatan dan Malang Raya) Ruminta Ruminta; Handoko Handoko; Tati Nurmala
Jurnal Agro Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1607

Abstract

Perubahan iklim telah terjadi di wilayah Indonesia. Perubahan iklim memengaruhi pertanian melalui dampaknya terhadap pertumbuhan, perkembangan, dan hasil tanaman. Penelitian indikasi perubahan iklim dan dampaknya terhadap produksi tanaman padi di Indonesia (Sumatera Selatan dan Malang Raya) pada tahun 2011-2013 telah dilakukan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji adanya perubahan iklim dan bagaimana dampaknya terhadap produksi padi di Indonesia. Kajian ini menggunakan data dari temperatur, curah hujan, agroklimat, dan produksi tanaman padi serta data sosial ekonomi. Metodologi penelitian ini adalah deskriptif eksplanatori menggunakan konsep asesmen risiko dimana risiko (risk) merupakan fungsi dari bahaya (hazard) dan kerentanan (vulnerability). Hasil kajian menunjukkan bahwa di Indonesia telah terjadi perubahan iklim dengan indikasi peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, perubahan hitergraf, dan perubahan klasifikasi Oldeman.  Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pertanian sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dengan indikasi level bahaya yang tinggi pada penurunan produksi padi sebagai akibat peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan.  Beberapa daerah di Sumatera Selatan maupun Malang Raya mempunyai risiko tinggi pada penurunan produksi tanaman padi.  Umumnya Indonesia mempunyai tingkat risiko tinggi pada penurunan produksi padi dengan rerata 1,37 % per tahun dan berpotensi menyebabkan penurunan produksi pangan nasional. Climate change has been occurred in Indonesia. Climate change affects agriculture through its impact on growth, development, and crop yield. Research on climate change indication and its impact on rice production in Indonesia (South Sumatra and Malang Raya) in 2011-2013 has been done. The study aimed to assess climate change and how it impacts rice production in Indonesia. This study used data of temperature, rainfall, agroclimate, and rice production and socioeconomic. The methodology of this research was descriptive explanatory using risk assessment concept where risk was a function of hazard and vulnerability. The results of the study indicated that in Indonesia has been ocurred climate change with indications of temperature increase, changes in rainfall patterns, changes in hitergraph, and changes in Oldeman classification. The results also show that agriculture is highly vulnerable to the impacts of climate change with an indication of high hazard levels in the decline of rice production due to rising temperatures and changes in rainfall patterns. Several areas in South Sumatra and Malang Raya have a high risk of decreasing the rice production. Generally Indonesia has a high risk level on the decrease of rice production with an average of 1.37% per year and potentially causes the decline of national food production.
Aplikasi pupuk organik limbah rumah potong hewan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas padi Suhardjadinata Suhardjadinata; Dwi Pangesti; Tenten Tedjaningsih
Jurnal Agro Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1675

Abstract

Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) berpotensi digunakan sebagai pupuk organik. Teknologi yang dapat direkomendasikan untuk pemanfaatan limbah Rumah Potong Hewan adalah pengomposan. Penelitian bertujuan untuk mengkaji pengaruh pupuk organik limbah RPH terhadap kesuburan tanah dan produktivitas padi. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya dari Mei sampai September 2017.  Percobaan menggunakan Rancangan acak kelompok 10 taraf perlakuan diulang 3 kali. Perlakuan kombinasi dosis N,P, K dan pupuk organik (PO), yaitu: A= Dosis N,P,K; B= dosis N,P,K + 2,5 t ha-1 PO; C=Dosis N,P,K + 5 t ha-1 PO; D= Dosis N,P,K + 7,5 t ha-1 PO; E= ¾ dosis N,P,K   + 2,5 t ha-1 PO; F= ¾ dosis N,P,K + 5,0 t ha-1 PO; G= ¾ dosis N,P,K + 7,5 t ha-1 PO; H= ½ dosis N,P,K + 2,5 t ha-1 PO; I= ½ dosis N,P,K + 5,0 t ha-1 PO;  J= ½ dosis N,P,K + 7,5 t ha-1 PO. Dosis rekomendasi N, P dan K:  urea 300  kg ha-1, SP 36 150  kg ha-1, dan KCl 100 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik 2,5 t ha-1 dan ¾ dosis N, P dan K menghasilkan gabah lebih tinggi dan meningkatkan kesuburan tanah. Slaughterhouse waste is potential to be used as organic fertilizer. The technology recommended for the usage of slaughterhouse waste is composting. This research was aimed to study effect of organic fertilizer slaughterhouse waste on soil fertility and rice productivity. The research was conducted in the experiment site of Agricultural Faculty, Universitas Siliwangi Tasikmalaya from May to September 2017. Randomized block design was used with ten level treatments and replicated three times. The treatment was combination dosage N,P, K and organic fertilizer (OF), namely : A= (N,P,K recommendation dose), B= (N,P,K dose + 2.5 t ha-1 OF), C= (N,P,K dose + 5 t ha-1 OF), D= (N,P,K dose + 7.5 t ha-1 OF), E= (3/4 dose of N,P,K + 2.5 t ha-1 OF), F= (3/4 dose of N,P,K + 5 t ha-1 OF), G= (3/4 dose of N,P,K + 7.5 t ha-1 OF), H=(1/2 dose of N,P,K + 2.5 t ha-1 OF), I= (1/2 dose of N,P,K + 5 t ha-1 OF), J= ( ½ dose of N,P,K + 7.5 t ha-1 OF). The recommendation dose of N, P and K, respectively: urea 300 kg ha-1, SP 36 150 kg ha-1, and KCl 100 kg ha-1. The results showed application organic fertilizer 2,5 t ha-1 dan ¾ dose of N, P, K fertilizer increased yields grain higher and improve soil fertility.
Pengaruh pemberian takaran fungi mikoriza arbuskular (FMA) terhadap pertumbuhan bibit kopi arabika (Coffea arabica L.) Lia Sugiarti; Yana Taryana
Jurnal Agro Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1813

Abstract

Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) banyak ditemukan pada perakaran kopi. Tujuan dari percobaan ini untuk mempelajari pengaruh pemberian takaran FMA terhadap pertumbuhan bibit kopi Arabika (Coffea arabica L). Percobaan dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan bulan Agustus 2017, bertempat di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari, Sumedang, dengan ketinggian tempat 850 m dpl. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri atas enam perlakuan dan diulang sebanyak empat kali.  Perlakuan takaran FMA jenis Glomus agregatum yang terdiri dari A = 0  g tan-1; B = 10 g tan -1; C = 20 g tan-1; D = 30 g tan-1; E = 40 g tan-; dan F = 50 g tan-1. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pemberian takaran inokulasi FMA  berpengaruh terhadap tinggi tanaman dan bobot kering tanaman. Pemberian takaran inokulasi FMA dengan takaran 40 g tan-1- sampai 50 g tan-1 memberikan pengaruh yang terbaik terhadap tinggi tanaman dan bobot kering tanaman. Dengan demikian pemberian FMA 40 g tan-1- sampai 50 g tan-1 dapat digunakan pada pembibitan kopi arabika. Arbuscular Mycorrhizal Fungi (AMF) is commonly found in coffee roots.  The purpose of the research was to study effect of AMF application on growth of arabica coffee seedling (Coffea arabica L). The research was conducted from May to August 2017, at Research Station of Agriculture Faculty Universitas Winaya Mukti, Tanjungsari Sumedang, at 850 m above sea levels. The research used Randomized Block Design (RBD) consisted of six treatments and four replications. The treatment was dosage of AMF from Glomus agregatum type i.e. : A = 0 g plant-1; B = 10 g  plant-1; C = 20 g plant-1; D = 30 g plant-1; E = 40 g plant-1; F = 50 g plant-1. Each plot consisted of 10 polybag with 4 sample plants. The research result showed that application of AMF affected on plant height and dry weight of plant, which the best effect was generated by 40 g plant-1- until 50 g plant-1 dosages . It is simply that AMF 40 g plant-1 - 50 g plant-1  can be used in arabica coffee nursery.
Pemanfaatan Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens dalam pengendalian hayati Ralstonia solanacearum penyebab penyakit layu bakteri pada tomat Istiqomah Istiqomah; Dian Eka Kusumawati
Jurnal Agro Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/2305

Abstract

Salah satu penyakit penting pada produksi tomat di Indonesia adalah layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. Alternatif untuk mengendalikan penyakit layu bakteri adalah dengan menggunakan Bacillus subtilis dan Pseudomonas fluorescens. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan B. subtilis dan P. fluorescens dalam mengendalikan penyakit layu bakteri yang disebabkan R. solanacearum serta mekanisme penghambatannya. Penelitian ini terdiri dari 5 tahap, yaitu perbanyakan inokulum R. solanacearum, uji virulensi dan uji hipersensitif  R. solanacearum, uji antagonis B. subtilis dan P. fluorescens terhadap R. solanacearum pada media agar, uji jenis antibiosis, penelitian di rumah kaca, dan analisis total fenol. Hasil penelitian uji antagonis menunjukkan bahwa semua isolat B. subtilis dan P. fluorescens memiliki potensi menghambat R. solanacearum dengan tipe antibiosis bakteriostatik. Hasil analisis kadar fenol menunjukkan bahwa terjadi peningkatan total fenol secara signifikan pada tanaman tomat yang diaplikasikan isolat B. subtilis UB-ABS6, P. fluorescens UB-PF5 dan P. fluorescens UB-PF6. Penelitian di rumah kaca menunjukkan bahwa semua tanaman tomat yang diaplikasikan agens hayati mengalami penundaan masa inkubasi dibandingkan dengan kontrol. Isolat B. subtilis UB-ABS2, B. subtilis UB-ABS6, P. fluorescens UB-PF5 dan P. fluorescens UB-PF6 secara signifikan menekan kejadian penyakit layu bakteri berturut-turut 50%, 30%, 60%, dan 60%. B. subtilis dan P. fluorescens dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan layu bakteri pada tomat yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. One of important disease that infects tomato production in Indonesia is bacterial wilt disease caused by Ralstonia solanacearum. Alternative on controlling bacterial wilt is using Bacillus subtilis and Pseudomonas fluorescens. Goal of the research was to find out ability of B. subtilis and P. fluorescens to control R. Solanacearum and mechanism of the inhibition. This research divided into 5 stages, i.e. propagation of R. solanacearum, virulence and hypersensitive tests of R. Solanacearum, antagonist test of B. subtilis and P. fluorescens against R. solanacearum on agar medium, antibiosis type test, research in greenhouse, and total phenol analysis. The result showed that all isolates of B. subtilis and P. fluorescens have potential to inhibite R. solanacearum by bacteriostatic antibiosis type. The total phenol level showed significant increase of phenol on tomato along with the application of isolates B. subtilis UB-ABS6, P. fluorescens UB-PF5 and P. fluorescens UB-PF6. Research in the greenhouse showed that all tomatoes, which had been given bioagent, did delay on the incubation than the control. Isolates of B. subtilis UB-ABS2, B. subtilis UB-ABS6, P. fluorescens UB-PF5, and P. fluorescens UB-PF6 had significantly inhibited the bacterial wilt disease 50%, 30%, 60%, and 60%, respectively. Therefore, B. subtilis and P. fluorescens can be used to control bacterial wilt diseases on tomato caused by Ralstonia solanacearum.
Pengujian berbagai eksplan kentang (Solanum tuberosum L.) dengan penggunaan konsentrasi BAP dan NAA yang berbeda Fitri Widya Lestari; Erni Suminar; Syariful Mubarok
Jurnal Agro Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1348

Abstract

Rendahnya produksi kentang di Indonesia disebabkan oleh ketersediaan benih kentang bermutu hasil dari metode konvensional yang kurang memadai. Metode kultur jaringan mampu menghasilkan bibit bermutu dan bebas virus, dalam jumlah banyak serta waktu yang singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi 6-benzylaminopurine (BAP) dan Naphthalene Acetic Acid (NAA) terbaik pada berbagai eksplan untuk pertumbuhan tunas meriklon kentang (Solanum tuberosum L.) Kultivar Atlantik secara in vitro. Percobaan dilaksanakan pada November 2016 sampai Februari 2017 di Laboratorium Kultur Jaringan Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran. Rancangan Acak Lengkap (RAL) digunakan sebagai rancangan percobaan yang terdiri dari dua unit percobaan terpisah yaitu unit eksplan meristem interkalar dan meristem apikal, masing-masing delapan perlakuan dan empat ulangan. Media Murashige and Skoog (MS) digunakan sebagai media dasar dengan penambahan BAP (0,0 mg L-1; 1 mg L-1; 1,5 mg L-1; 2 mg L-1) dan NAA (0,0 mg L-1; 0,5 mg L-1). Hasil menunjukkan konsentrasi BAP 1 mg L-1 merupakan perlakuan yang paling baik dalam menghasilkan jumlah tunas, cabang, daun dan buku pada eksplan meristem interkalar. Pada eksplan meristem apikal, penambahan BAP dan NAA belum mampu meningkatkan pertumbuhan eksplan. Meristem interkalar yang diberi auksin dan sitokinin berpotensi menjadi bahan alternatif eksplan meriklon kentang selain meristem apikal. The production of potato in Indonesia is low due to the limited number of high quality potato seeds produced from the conventional methods. The tissue culture methods can be used to produce high quality and virus-free seeds in more reliable number in a short time. Randomized Completely Design (RCD) was used as the experimental design consisted of two separate trial units namely intercalary meristem and apical meristem explants units with eight treatments and four replications of each. Murashige and Skoog (MS) was used as the base media added with BAP i.e. 0.0 mg L-1; 1 mg L-1; 1.5 mg L-1; 2 mg L-1 and NAA 0.0 mg L-1 and 0.5 mg L-1. Results showed that concentration of BAP 1 mg L-1 generated the best results on the number of shoots, branches, leaves and nodes on meristem intercalary explant. Meanwhile on apical meristem explant, the addition of BAP and NAA had not yet improved the explant growth. Intercalary meristem added with auxin and cytokinin is potential as alternative of mericlone explants material of potato besides the apical meristem.
Perubahan morfologis dan anatomis kelapa sawit pada rezim air dan salinitas berbeda Erick Firmansyah
Jurnal Agro Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1963

Abstract

Salinitas tinggi dan genangan dapat terjadi pada tempat dan waktu yang sama; meskipun demikian pemahaman terhadap pengaruh kedua kondisi tersebut terhadap pertumbuhan, respon morfologis, dan anatomis kelapa sawit masih sedikit. Telah dilakukan penelitian dengan mengkombinasikan 2 aras salinitas (non salin dan salin) dan tiga taraf genangan (tanpa genangan, interval genangan 2 minggu, dan interval genangan 4 minggu). Penelitian dilakukan dalam pot selama 4 bulan dengan bahan tanam kelapa sawit berumur 4 bulan. Parameter pertumbuhan dianalisis dengan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada jenjang nyata 5%. Pengamatan visual secara langsung dan pembuatan preparat melintang akar dilakukan untuk mengetahui perubahan morfologi dan anatomi tanaman. Hasil analisis menunjukkan salinitas tinggi dan genangan konsisten menurunkan parameter pertumbuhan kelapa sawit. Salinitas tinggi dan genangan tidak secara konsisten mengubah rasio luas masing-masing jaringan penyusun akar primer, sekunder, dan tersier. Kelapa sawit membentuk pneumatophore dan saluran aerenkima pada kondisi genangan, baik non salin maupun salin. Mekanisme adaptasi terhadap genangan tersebut dapat menurunkan pengaruh negatif cekaman salinitas tinggi. High salinity and waterlogging can occur at the same place and time; however, the effects of these two conditions on growth, morphological, and anatomical responses of oil palm was not fully understood. A research had been done by combining two levels of salinity (non saline and saline) and three levels of waterlogging (without waterlogging, two-week waterlogging intervals, and four-week waterlogging intervals). The study was conducted in pots for 4 months used 4 months old oil palm planting material. The growth parameters were analyzed by analysis variance continued by Duncan multiple-range test at 5% level of convidence. The morphological and anatomical changes of plants were observed trought direct observation and root cross section. The results showed that high salinity and waterlogging consistently decreased the oil palm growth parameter. High salinity and waterlogging did not consistently change the ratio of the area of each primary, secondary, and tertiary root tissue. Palm oil formed pneumatophores and aerenchyma under both non saline and saline waterlogging. Adaptation mechanisms to these waterlogging could reduce the negative effects of high salinity stress.
Sago palm biodiversity in Seram island Maluku province Indonesia Samin Botanri; Dede Setiadi; Edi Guhardja; Ibnul Qayim; Lilik B prasetyo
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/2431

Abstract

The number of sago palm species in Maluku province becomes the current issue of biodiversity. The research aimed to clarify the species of sago palm in the Seram island, Maluku province. The research was conducted from March to November 2009 in three sample regions i.e. Luhu of Seram Bagian Barat (SBB) district, Sawai of Maluku Tengah (MT) district, and Werinama of Seram Bagian Timur (SBT) district. Genetic analysis was done at the laboratory of plant biology Inter Center University (ICU) Bogor Agricultural University. Variety of palm sagu was analyzed using index of similarity analysis for group similarity and Shannon-Wiener (H’) index for biodiversity of species. Further, the genetic analysis used isozyme method showed that group of sago in Seram Island shared group similarity included index value ranging from 60.66–80.92%. Based on the result of Shannon-Wiener (H’) index, all growth phases of sago palm group in Seram Island generally indicated a very low H’ value ranging from 0.61 – 0.90. Clearly, the genetic analysis illustrated there were only two kinds of sago species in Seram Island i.e. Metroxylon rumphii Mart. and M. sagus Rottb. The first species consists of three varieties i.e. 1) Microcanthum Becc., 2) Sylvestre Becc., and 3) Rotang Becc. Sago species of M. sagu Rottb. has solely one variety Molat Becc. Here, variety of Microcanthum is divided by two kinds of variety i.e. Tuni and Makanaro. Jumlah spesies tumbuhan sagu di provinsi Maluku masih mengalami perdebatan dalam bidang biodiversitas. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan klarifikasi spesies sagu yang tumbuh dan berkembang di pulau Seram, provinsi Maluku. Penelitian berlangsung pada bulan Maret–November 2009. Pengamatan dilakukan pada 3 wilayah sampel yaitu: Luhu Kab. Seram Bagian Barat (SBB), Sawai Kab. Maluku Tengah (MT), dan Werinama Kab. Seram Bagian Timur (SBT). Analisis genetik dikerjakan di laboratorium Biologi Tumbuhan Pusat Antar Universitas (PAU) IPB Bogor. Keanekaragaman kelompok sagu dianalisis dengan menggunakan analisis kemiripan kelompok. Keanekaragaman spesies dianalisis menggunakan Indeks Keaneragaman Shannon-Wiener (H’). Analisis genetik menggunakan  metode isozim. Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok sagu di Pulau Seram memiliki kemiripan kelompok yang termasuk dalam kategori tinggi dengan nilai indeks berkisar antara 60,66 – 80,92 %. Hasil analisis indeks keanekaragaman spesies menurut indeks Shannon-Wiener (H’) pada semua fase pertumbuhan menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman spesies vegetasi dalam kelompok sagu di Pulau Seram secara umum termasuk dalam kategori sangat rendah dengan nilai H’ berkisar antara 0,61 – 0,90. Hasil analisis genetik menunjukkan bahwa di Pulau Seram Maluku hanya terdapat dua spesies sagu, yaitu Metroxylon rumphii Mart. dan M. sagus Rottb. Spesies yang pertama terdiri dari tiga varietas, yaitu: 1) Microcanthum Becc., 2) Sylvestre Becc., dan 3) Rotang Becc. Sedangkan spesies M. sagu Rottb. hanya memiliki satu varietas yakni Molat Becc.  Varietas Microcanthum terbagi atas dua subvarietas, yaitu Tuni dan Makanaro. 

Page 5 of 27 | Total Record : 263