cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Analisis rata-rata generasi jagung Unpad toleran naungan pada sistem agroforestri dengan albizia di Jawa Barat Muhammad Syafi'i; Dedi Ruswandi
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3301

Abstract

Aksi gen yang berperan terhadap suatu karakter dapat dipelajari dan dijadikan dasar dalam menentukan metode seleksi kegiatan pemuliaan. Analisa rata-rata generasi (generation mean analysis) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menduga aksi gen, baik aditif, dominan dan interaksi non-alelik (epistasis) terhadap ekspresi suatu karakter. Metode ini digunakan untuk menduga model genetik yang berperan dalam ekspresi suatu karakter. Tujuan riset untuk menduga peran gen jagung toleran naungan pada sistem agroforestri dengan albizia. Penelitian dilaksanakan pada Oktober 2015 - Maret 2016 di Kebun Percobaan Kutamandiri, Kabupaten Sumedang. Materi genetik yang digunakan adalah galur toleran naungan M7DR 4.8.8, galur peka naungan G-203-1, F1 hasil persilangan G-2031 x M7DR 4.8.8, F2 keturunan dari F1, dan BC1F1 dan BC2F1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter jumlah baris per tongkol terdapat kesesuaian model dengan aditif-dominan dan tidak terdapat efek epistasis pada hasil persilangan antara G-2031 x M7DR 4.8.8. Model genetik m [d] [h] [i] sesuai dengan karakter tinggi tanaman dan  bobot pipil per tongkol; model m [d] [h] [i] [l] sesuai dengan karakter  panjang  ruas, diameter tongkol, dan karakter bobot tongkol per tongkol; dan model m [d] [h] [j] [l] sesuai dengan karakter panjang tongkol. Karakter kadar klorofil tidak memiliki kesesuaian dengan model genetik yang diduga.ABSTRACTGene action that has a role in a character can be studied and used as a basic on determining the method of selection in breeding programs. Generation mean analysis is one of the methods that can be used to estimate the gene action, both additive, dominant and non-allelic (epistatic) interactions to the expression of a character. The method was used to predict the genetic model that plays a role in the expression of a character. The objective of the research was to predict the role of shade tolerant maize genes in the agroforestry system with albizia. The research was conducted on October 2015 - March 2016 at Kutamandiri Experiment Garden, Kabupaten Sumedang. The genetic materials was the shade tolerant line M7DR 4.8.8, shade susceptible G-203-1, F1 derived from G-2031 x M7DR 4.8.8, F2 breeds from F1, and BC1F1 and BC2F1. The results showed that number of row per cob character was suitable to the dominant additive model and there was no effect of epistasis on the crosses between G-2031 x M7DR 4.8.8. The genetic model m [d] [h] [i] corresponded to the plant height and the weight of seed per cob; model m [d] [h] [i] [l] corresponded to the character of the length of the node, cob diameter, and cob weight per ear; and the m [d] [h] [j] [l] model corresponded to the cob lenght character. The chlorophyll content character has no corresponding alleged genetic model.
Perubahan perilaku Callosobruchus maculatus Fabricius terhadap warna cahaya pada kacang-kacangan di penyimpanan Lukmanul Hakim; Irhamni Irhamni
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3735

Abstract

Callosobruchus maculatus (Fab.) adalah salah satu species serangga dari ordo Coleoptera, family Brucidae yang merupakan hama kacang-kacangan di gudang penyimpanan. Kerusakan kacang selama penyimpanan diawali dengan perilaku oviposisi telur serangga betina dewasa pada kotiledon biji kacang. Serangga C. maculatus (Fab.) tidak menyukai tempat dengan cahaya terang. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perubahan perilaku oviposisi dan kopulasi serangga dewasa pada kacang-kacangan dengan penerangan empat warna cahaya pada ruang penyimpanan. Pengamatan dan analisis data menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Faktor petama menggunakan cahaya lampu merah, kuning, hijau dan putih, sedangkan faktor kedua terdiri dari tiga jenis kacang (Fabaceae) yaitu kacang hijau, kacang kedelai dan kacang merah. Hasil penelitian menunjukkan perilaku oviposisi telur terjadi pada cahaya lampu kuning, sedangkan perilaku kopulasi terjadi  pada cahaya lampu merah. Cahaya lampu merah dan kuning dapat memengaruhi perilaku oviposisi dan kopulasi Callosobruchus maculatus (Fab.).ABSTRACTCallosobruchus maculatus (Fab.) is one of the insect species of the order Coleoptera, family Brucidae which is a pest for stored beans. Damage to beans during the storage starts with the behavior of the egg oviposition of adult female insects on bean seed cotyledons. C. maculatus (Fab.) do not like to be in a bright place. This study aimed to observe changes in the behavior of oviposition and copulation of adult insects in beans with four-colour lighting in the storage. The observation and analysis of data used factorial completely randomized design. The first factor were light colors; red, yellow, green, and white light while the second factor consists of three types of beans (Fabaceae); green beans, soybeans and red beans. The results showed that copulation behavior occurred in red light. While the oviposition behavior of eggs occured in yellow light. The red and yellow lights can affect the behavior of oviposistion and copulation of C.maculatus (Fab.). 
Metode inokulasi buatan untuk menguji infeksi Peronosclerospora maydis penyebab penyakit bulai tanaman jagung Satriyo Restu Adhi; Fitri Widiantini; Endah Yulia
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4409

Abstract

Keberadaan penyakit bulai akibat Peronosclerospora maydis pada tanaman jagung mampu menyebabkan kehilangan hasil hingga 100%. Pengendalian penyakit bulai dengan menggunakan varietas tahan dinilai cukup efektif. Di dalam pengembangan varietas tahan, seleksi ketahanan calon varietas baru harus dilakukan dan hal ini akan melibatkan inokulasi buatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan metode inokulasi buatan Peronosclerospora maydis yang efektif pada tanaman jagung pada skala rumah kaca. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Proteksi Tanaman dan rumah kaca Departemen Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran pada bulan Oktober hingga Desember 2018. Bahan tanaman yang diinokulasikan berupa kecambah dan bibit tanaman jagung. Metode inokulasi buatan yang diujikan terdiri atas: (1) Sisip daun terinfeksi bulai pada kecambah (SD), (2) Semprot suspensi konidia pada kecambah (SI), (3) Sisip daun bergejala bulai + semprot suspensi konidia pada kecambah (SS), (4) Rendam kecambah pada suspensi konidia (RS), (5) Semprot suspensi konidia pada bibit (SB), dan dua perlakuan tanpa inokulasi (kontrol). Dari hasil percobaan metode sisip daun (SD) menyebabkan 83,3% tanaman jagung terinfeksi bulai dan dinilai sebagai metode inokulasi buatan yang efisien.Kata kunci: bulai, jagung, inokulasi buatan, Peronosclerospora maydis. ABSTRACTDowny mildew disease caused by Peronosclerospora maydis in maize plants can cause yield loss up to 100%. Disease management of downy mildew by using resistant varieties is considered quite effective. One of the steps to develop resistant varieties is resistance testing of the new variety candidates that involve artificial inoculation. The purpose of this study was to obtain an effective artificial inoculation method of Peronosclerospora maydis  in maize plants in greenhouse. The research was conducted at the Laboratory of Biotechnology of Plant Protection and Glasshouse Department of Plant Pests and Diseases, Agriculture Faculty, Universitas Padjadjaran from October to December 2018. The plant materials used for inoculation were sprout and seedling of maize plant. The artificial inoculation methods tested were (1) infected leaf insertion among the sprouts (SD), (2) conidia suspension spraying on the sprouts (SI), (3) infected leaf insertion + conidia suspension spraying on the sprouts (SS), (4) sprout soaking in conidia suspension (RS), (5) conidia suspension spraying on the seedling (SB), and two treatments without inoculation (controls). The result showed that the insertion of infected leaves among the sprouts (SD) treatment resulted in 83.3% of infected maize plants by the downy mildew and was considered as the most efficient inoculation method. 
Keragaan pertumbuhan tanaman honje (Etlingera elatior) pada beberapa level kerapatan naungan Eko Setiawan
Jurnal Agro Vol 6, No 1 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4057

Abstract

Honje (Etlingera elatior) adalah tanaman multifungsi yang telah digunakan untuk tujuan pertamanan, kuliner, obat-obatan dan bunga potong. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaan pertumbuhan vegetatif tanaman honje di bawah naungan pada beberapa tingkat kerapatan paranet. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2016 sampai April 2017 di Kebun Percobaan Universitas Trunojoyo Madura, menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan tiga perlakuan pemberian naungan paranet yaitu: 0% (tanpa naungan paranet), naungan paranet 65%, dan naungan paranet 75% (kontrol), yang diulang lima kali. Setiap unit percobaan terdiri atas enam tanaman honje. Hasilnya menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman tertinggi, jumlah daun per rumpun dan kandungan klorofil terbanyak dihasilkan pada naungan 65%. Jumlah anakan terbanyak (6,7) dihasilkan pada kondisi naungan 75%. Kerapatan stomata perlahan meningkat dengan bertambahnya umur, tertinggi sekitar 209,4 mm-2. Adaptasi honje pada kondisi naungan 65% berpeluang dikembangkan sebagai tanaman hias, ramuan herbal atau sayuran alternatif di Madura.ABSTRACTTorch ginger (Etlingera elatior) is a multifunctional crop that has been used for ornamental, culinary, medicinal and cutting flower purposes. The aim of this study was to determine the vegetative growth of torch ginger under different density levels of shading net. The research was conducted from December 2016 to April 2017 in the experimental field of University of Trunojoyo Madura in randomized block design with three paranet shade treatments, respectively: 0% (without paranet shade), 65% paranet shade, and 75% paranet shade (control), with five replications. Each experimental unit consisted of six torch ginger plants. The results indicated that 65% paranet shade gave the best performance for plant height, the number of leaves per clump, and chlorophyll content. The 75% paranet shade gave the highest number of thillers (6.7). The density of stomata was slowly increased in line with the maturity and reached the highest density in 209,4 mm-2. The adaptation of torch ginger at 65% shade condition has an opportunity to be developed as an ornamental plant, aromatic herbs or alternative vegetable in Madura.conditions has an opportunity to be developed as an ornamental plant, aromatic herbs or alternative vegetable in Madura.
Cytomorphological characteristics evaluation of the third generation of arrowroot plant (Maranta arundinacea L.) radiated by gamma ray Puspita Deswina; Luluk Prihastuti; Aziz Saputra
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/6104

Abstract

Arrowroot plants (Maranta arundinacea L.) have enormous potential to be developed as the alternative foods. Various kinds of functional food products can be processed from arrowroot tubers, because they have lower calories and IG (Glycemic Index) contents compared to the other tubers. The study aimed to determine the characteristics of the phenotype, productivity and anatomy of leaves of arrowroot plants radiated by gamma ray. The study used factorial randomized block design with 2 factors. The first factor was arrowroot accessions (Pulosari, 25 Pandeglang, Cikondang, Tamansari, and MN-1), and the second factor was radiation dose (0, 10, 20, 30, 40, 50 Gray), and those was arranged in three replications. Based on the results of the study, it found that: Pulosari accession without radiation and 30 Gray radiation required the fastest time of 12 days for shoots growth. The highest plant growth (106,88cm) was Cikondang accession with 20 Gray radiation treatment; while the shortest plant (59.61cm) was found in Cikondang accession with 30 Gray radiation dose as well. The number of productive tillers (3.0) was mostly found in Pulosari accession without radiation, conversely, the least (0.72) was found in MN-1 accession with 20 Gray radiation. For the maximum number of out-of-section tillers (1.17) on the 25 Pandeglang accession with 40 Gray radiation. The longest leaf growth (22.64 cm) and the widest (9.08 cm) were found in Cikondang accession without radiation, conversely, the shortest leaf growth (10.17 cm) and smallest (3.34 cm) was found in Cikondang accession radiated by 40 Gray. There were no changes to the number and shape of the stomata between the control plants and the radiated treatment, but there were changes in leaf color on 25 Pandeglang accession with radiation treatment 40 Gray.AbstrakTanaman Garut (Maranta arundinaceaL.) memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pangan alternatif. Berbagai macam produk pangan fungsional dapat diolah dari umbi Garut, karena memiliki kandungan IG (Index Glycemic) dan kalori lebih rendah dibandingkan umbi-umbi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fenotipe, produktivitas dan anatomi daun tanaman Garut yang diberi perlakuan radiasi sinar gamma. Penelitian disusun menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) Faktorial dengan 2 faktor, dengan faktor pertama aksesi tanaman (Pulosari, 25 Pandeglang, Cikondang, Tamansari, dan MN-1), dan faktor kedua adalah dosis radiasi (0, 10, 20, 30, 40, 50 Gray), penelitian terdiri dari 3 ulangan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa aksesi Pulosari tanpa radiasi dan radiasi 30 Gray memerlukan waktu keluar tunas paling cepat yaitu 12 hari. Pertumbuhan tanaman paling tinggi (106,88 cm) adalah aksesi Cikondang dengan perlakuan radiasi 20 Gray, sedangkan tanaman paling pendek (59,61 cm) juga terdapat pada aksesi Cikondang dengan dosis radiasi 30 Gray. Jumlah anakan produktif (3,0) paling banyak terdapat pada aksesi Pulosari tanpa radiasi, sebaliknya yang paling sedikit (0,72) terdapat pada aksesi MN-1 radiasi 20 Gray. Untuk jumlah anakan keluar ruas paling banyak (1,17) pada aksesi 25 Pandeglang dengan dosis radiasi 40 Gray. Pertumbuhan daun paling panjang (22,64 cm) dan paling lebar (9,08 cm) selama pengamatan terdapat pada aksesi Cikondang tanpa radiasi. Sebaliknya pertumbuhan daun paling pendek (10,17 cm) dan kecil (3,34 cm) juga terdapat pada aksesi Cikondang dan radiasi 40 Gray. Tidak terdapat perubahan terhadap jumlah dan bentuk stomata antara tanaman kontrol dengan perlakuan radiasi, akan tetapi terdapat perubahan warna daun pada aksesi 25 Pandeglang dengan perlakuan radiasi 40 Gray.
Keefektifan beberapa senyawa kimia sebagai agen penginduksi resistensi tanaman sawi terhadap penyakit bercak daun Curvularia Tarkus Suganda; Dinda Yulindar Wulandari
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4619

Abstract

Penyakit bercak daun Curvularia merupakan penyakit baru pada tanaman sawi. Pengendalian penyakit dengan fungisida sintetik sangat berbahaya karena daun sawi dikonsumsi sebagai sayuran mentah atau pengolahan minimal, untuk itu diperlukan alternatif cara pengendalian yang lebih aman bagi kesehatan seperti menginduksi resistensi tanaman menggunakan bahan kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan beberapa bahan penginduksi resistensi seperti asam salisilat, kitin, K2HPO4, dan vitamin B1. Sementara, Bion M1/48, bahan penginduksi komersial, digunakan sebagai pembanding. Bahan penginduksi diaplikasikan melalui cara perendaman benih dan disemprotkan. Pada perlakuan perendaman, benih direndam dalam suspensi bahan penginduksi selama 12 jam, sedangkan pada perlakuan penyemprotan, bahan penginduksi disemprotkan satu kali yaitu dua hari sebelum inokulasi dilakukan. Inokulasi patogen yang digunakan memiliki suspensi konidia kerapatan 5 x 105 konidia ml-1. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan empat  ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap masa inkubasi dan intensitas penyakit. Hasil pengujian menunjukkan bahwa perendaman benih asam salisilat, kitin dan K2HPO4, mampu menunda kemunculan gejala sakit lebih lama dibandingkan Bion M 1/48. Terhadap intensitas penyakit, asam salisilat, kitin, dan K2HPO4, juga efektif menginduksi resistensi tanaman sawi terhadap penyakit bercak daun Curvularia. Ketiga senyawa kimia ini potensial untuk digunakan sebagai pengganti fungisida sintetis dalam mengendalikan penyakit bercak daun Curvularia pada tanaman sawi.ABSTRACTCurvularia leaf spot is a new disease on mustard green (Brassica juncea L.). The diseases control with synthetic fungicide is dangerous since mustard green leaves are freshly consumed or with minimum treatments. Therefore, a safer alternative method must be sought such inducing plant resistance using chemical inducers. This research aimed to evaluate effectiveness of salicylic acid, chitin, K2HPO4, vitamin B1, as resistance inducers. Meanwhile,  Bion M 1/48, a commercial inducer, was used as the check treatment. These substances were applied as either seed soaking or spraying. In the soaking treatmet, the seeds were soaked for 12 hours duration, whereas in the spraying treatment, chemicals were applied once, at two days before inoculation with conidial suspension of 5 x 105 conidia ml-1. Experimental plants were arranged in a Randomized Block Design with four replicates. Observation was carried out on incubation period and disease intensity. Results showed that soaking the seed in salicylic acid, chitin and K2HPO4 was able to delay the appearance of symptoms, better than of Bion M 1/48. Towards disease intensity, salicylic acid, chitin, and K2HPO4 were also effective in inducing resistance of mustard green leaves against Curvularia leaf spot.  The three substances were potential to be applied as an alternative to synthetic fungicide in managing Curvularia leaf spot on the mustard green.
Variabilitas genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik beberapa karakter kuantitatif galur F3 kedelai hasil persilangan Anna Satyana Karyawati; Gita Novita Sari; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/5174

Abstract

Parameter genetik seperti keragaman genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik diperlukan untuk merakit kultivar unggul. Untuk itu dialukan evaluasi keragaman genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik populasi galur F3 kedelai dari 16 kombinasi persilangan dengan 6 tetua pada beberapa karakter kuantitatif diantaranya yaitu tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong isi, jumlah buku subur dan berat biji per tanaman. Penelitian untuk menyiapkan materi genetik dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jatikerto, Malang pada tahun 2013-2016. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompk (RAK) dengan tiga ulangan. Populasi setiap galur F3 dan tetua pada setiap petak masing-masing 120 tanaman untuk setiap ulangan. Dari hasil keragaman genetik yang diamati, karakter tinggi tanaman, jumlah polong isi, jumlah buku subur dan berat biji per tanaman memiliki nilai keragaman genetik yang luas, sedangkan jumlah cabang memiliki keragaman genetik yang sempit. Nilai heritabilitas karakter pada kombinasi persilangan memiliki nilai sedang hingga tinggi yang berkisar antara 0,25-0,75. Pada karakter tinggi tanaman dari hasil persilangan galur (Anjasmoro x Tanggamus), (Anjasmoro x Grobogan), (Anjasmoro x UB2), (Argopuro x Grobogan), (Grobogan x Anjasmoro), (Grobogan x UB2), (UB2 x UB1), (UB1 x Argopuro) dan (UB1 x UB2) memiliki nilai heritabilitas sedang yaitu 0,46; 0,39; 0,37; 0,46; 0,46; 0,47; 0,46; 0,25; dan 0,47. Pada nilai kemajuan genetik dari 16 galur hasil persilangan, galur (UB2 x Tanggamus) memiliki nilai rata-rata kemajuan genetik paling tinggi yaitu 64,35%, sedangkan galur (UB1 x Argopuro) memiliki nilai rata-rata kemajuan genetik paling rendah yaitu 25,84%.ABSTRACT The F3 soybean progenies derived from 16 cross combinations with six parents were evaluated for their genetic variability, heritability and genetic advances of quantitative traits i.e. plant height, number of branches, number of pods, number of active nodes and seeds weight per plant. The genetic material preparation was conducted at Research Station of Agriculture Faculty, Brawijaya University, Jatikerto, Malang from 2013 to 2016. The experiment was arranged in a randomized block design with three replications. Plant population of each F3 progenies and their parents were 120 plants at each replication. Among the quantitative characters observed, the variability of plant height, number of active nodes, number of pods and seeds weight per plant was wide, and number of branches was narrow. Heritability value in each cross combination had moderate to high value estimates ranged from 0.25 to 0.75. The character of plant height from crossing lines of (Anjasmoro x Tanggamus), (Anjasmoro x Grobogan), (Anjasmoro x UB2), (Argopuro x Grobogan), (Grobogan x Anjasmoro), (Grobogan x UB2), (UB2 x UB1), (UB1 x Argopuro) and (UB1 x UB2) had moderate heritability, i.e. 0.46; 0.39; 0.37; 0.46; 0.46; 0.47; 0.46; 0.25; and 0.47, respectively. The genetic advance from 16 cross combinations, the line of (UB2 x Tanggamus) had the highest mean of genetic advance for 64.35%. The line of (UB1 x Argopuro) had the lowest mean of genetic advance for 25.84%.
Pengaruh sumber dan lama simpan batang atas terhapa pertumbuhan hasil grafting tanaman durian Suharjo Thalib
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/6254

Abstract

Pertumbuhan bibit setelah penyambungan dipengaruhi oleh sumber batang atas yang digunakan. Selama ini penggunaan batang atas sebagai bahan grafting masih besifat umum yaitu penggunaan sumber batang atas belum spesifik berasal dari cabang tertentu sehingga belum jelas sumber batang atas yang dapat meningkatkan keberhasilan sambungan. Penelitian ini ingin mengkaji keberhasilan penyambungan dengan menggunakan entres dari berbagai cabang dan lama penyimpanannya. Penelitian dilaksanakan menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama menggunakan berbagai jenis sumber cabang (primer, sekunder, tersier). Perlakuan kedua yaitu lamanya waktu penyimpanan cabang (0 hari, 2 hari, 4 hari, 6 hari). Hasil Penelitian menunjukkan bahwa interaksi sumber dan lama penyimpanan batang atas tidak mempengaruhi jumlah tunas, panjang tunas, diameter tunas dan luas daun total tanaman durian hasil grafting. Sumber batang hanya mempengaruhi diameter batang saja.AbstractSeedling growth after grafting is effected by the source of the upper stem. Currently, the stem used as grafting material is not in particular source and part of the branch, so it is unclear to determine the success of this activity. This study wanted to examine the success of the interaction between entres upper stem from various branches and the duration of storage. The study used factorial randomized block design with two factors and three replications. The first factor was various types of branch sources (primary branch, secondary branch, tertiary branch). The second factor was the storage time periode (0 day, 2 days, 4 days, 6 days). The results showed that the interaction of the branch source and duration of storage of the upper stem did not affect the number of shoots, shoot length, shoot diameter and total leaf area of durian grafting plants. The source of the stem only affected the diameter of the stem. 
Aplikasi Bacillus sp. untuk mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat Endang Mugiastuti; Abdul Manan; Ruth Feti Rahayuniati; Loekas Soesanto
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/5397

Abstract

Fusarium oxysporum merupakan penyebab penyakit layu fusarium yang dapat menurunkan produksi tomat. Pengendalian hayati dengan menggunakan bakteri antagonis seperti Bacillus sp. merupakan alternatif pengendalian yang potensial dan ramah lingkungan.  Penelitian bertujuan untuk mengetahui kemampuan Bacillus sp. dalam mengendalikan penyakit layu fusarium pada tanaman tomat di lapangan. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan, meliputi: kontrol, Bacillus sp. B42, Bacillus sp. B64, gabungan Bacillus sp. B42 dan B64, serta fungisida. Hasil pengujian menunjukkan bahwa Bacillus sp. B.64 merupakan bakteri antagonis terbaik dalam menekan intensitas penyakit  layu fusarium, karena dapat menunda masa inkubasi 15,76%, menekan intensitas penyakit 38,77%, meningkatkan kandungan fenol tanaman (tanin, saponin dan glikosida), serta meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman dengan meningkatkan bobot kering tajuk 32,05%, bobot kering akar 15,23%, dan bobot buah per tanaman 46,48%.ABSTRACTFusarium oxysporum is the causal agent of fusarium wilt disease which decreases the production of tomatoes. Biological control managenement using bacterial antagonists is a potential alternative to prevent the infection of the disease. The aim of this research was to determine the ability of Bacillus sp. to control tomato fusarium wilt in the field. Randomized block design (RBD) experiment was used consisting of 5 treatments and 5 replications i.e. control, Bacillus sp. B42, Bacillus sp. B64, combination of Bacillus sp B42 + B64, and fungicide. The results showed that Bacillus sp. B64 was the best bacterial antagonist agent to control tomato wilt disease by delaying incubation period (15.76%), decreasing disease intensity (38.77%), increasing phenol compounds (tannin, saponin, glycosides) and improving plant growth and yield. Furthermore, the results showed the increasement of shoot dry weight to 32.05%, root dry weight to 15.23%, and yield to 46.48% as well.
Keragaman genetik, fenotip dan heritabilitas beberapa genotip sorghum pada kondisi tumpangsari dan monokultur Kukuh Setiawan; Rafika Restiningtias; Setyo Dwi Utomo; Ardian Ardian; M S Hadi; Sunyoto Sunyoto; Erwin Yuliadi
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/4568

Abstract

Selain sebagai bahan pangan dan pakan, sorgum berpotensi menghasilkan nira untuk bioethanol. Beragamnya potensi hasil nira, mendorong perlunya evaluasi keragaan berbagai genotip sorgum untuk digunakan sebagai kriteria seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi produksi nira, membandingkan keragaman genetik dan fenotip pada beberapa genotip sorgum, serta menghitung heritabilitas arti luas. Penelitian dilaksanakan di Desa Sukanegara, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan dari April 2017 sampai Februari 2018.  Rancangan perlakuan disusun secara strip plot dalam Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan yang digunakan sebagai kelompok.  Kondisi tumpangsari dan monokultur yang digunakan sebagai pembanding disusun secara strip plot. Sebanyak 15 genotip digunakan, yaitu GH 3, GH 4, GH 5, GH 6, GH 7, GH 13, Super 1, Super 2, Samurai 1, UPCA, Numbu, Mandau, Talaga Bodas, P/IWHP, dan P/F 5-193-C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip Talaga Bodas mempunyai kandungan nira yang cukup tinggi baik pada kondisi tumpangsari maupun monokultur yang masing-masing sebesar 144,0 ml dan 166,0 ml.  Sementara genotip Super 1 menunjukkan kandungan nira paling tinggi pada kondisi tumpangsari (163,0 ml) dan genotip GH13 menghasilkan volume nira paling tinggi pada sistem monokultur (183,0 ml). Nilai heritabilitas arti luas pada tinggi tanaman, nilai brix, kandungan nira, dan jumlah ruas pada sistem tanam tumpangsari dan monokultur termasuk dalam kriteria tinggi (0,6-0,9). Nilai heritabilitas yang tinggi pada karakter tersebut menunjukkan bahwa faktor genetik lebih berpengaruh sehingga bisa digunakan sebagai kriteria seleksi.ABSTRACT In addition to foodstuffs and feed, sorghum potentially produces “nira” for bioethanol. The varying potency of the nira results, prompting the need to evaluate the performance of various sorghum genotypes for use as selection criteria. The objectives of this study were to evaluate nira production, to compare genetics and phenotype variances of sorghum genotypes, also to calculate broad sense heritability of some sorghum genotypes.  This study was conducted at Desa Sukanegara, Kecamatan Tanjung Bintang, Kabupaten Lampung Selatan from April 2017 to February 2018.  The experiment was designed by stripe plot in completely randomized block design with three replications used as block. The conditions of monoculture and intercropping used as comparison were arranged in stripe plot.  As many as 15 genotypes used in this study i.e. GH 3, GH 4, GH 5, GH 6, GH 7, GH 13, Super 1, Super 2, Samurai 1, UPCA, Numbu, Mandau, Talaga Bodas, P/IWHP, and P/F 5-193-C. The result showed that Talaga Bodas genotype had high volume of nira content under monoculture and intercropping conditions as 144.0 ml and 166.0 ml, respectively. However, Super 1 genotype had high nira content (163.0 ml) under intercropping condition and GH13 genotype had high nira content under monoculture (183.0 ml). Broad sense heritability of plant height, brix value, nira content, and internode number in both intercropping and monoculture conditions was high (0.60 – 0.90).  These high heritability values mean that these characters are influenced by genetics factor and could be used as selection criteria.

Page 7 of 27 | Total Record : 263