cover
Contact Name
Mohammad Rizki
Contact Email
mohammadrizki.md@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.kedokteran.unram@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Kedokteran Universitas Mataram Jl. Pendidikan No. 37 Mataram, Nusa Tenggara Barat
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran
Published by Universitas Mataram
ISSN : 23015977     EISSN : 25277154     DOI : -
Core Subject : Health,
The Unram Medical Journal managed by the Medical Faculty of Mataram University is a scientific journal to publish the results of the latest research in the field of medical and health related. This journal promote medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also case reports.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2016)" : 10 Documents clear
Perbedaan Sensitivitas Bakteri Penyebab Otitis Media Supuratif Kronik terhadap Antibiotik Siprofloksasin dan Klindamisin di Poli THT RSUD Privinsi NTB Nabila Wahida; Hamsu Kadriyan; Siti Rahmatul Aini
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.184

Abstract

Latar belakang: Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ihsan dkk tahun 2010 di Basrah, dari 120 pasien yang menderita OMSK (Oitis Media Supuratif Kronis), 54,2% laki-laki dan 45,8% wanita dengan ratio 1,2:1. Dari penilitian V.K.Poorey tahun 2002 menunjukan bahwa sensitifias bakteri penyebab OMSK terhadap siprofloksasin mencapai 81%. Selanjutnya klindamisin memiliki sensitiftas terbesar terhadap bakteri Staphylococus aureus dan memiliki resistensi terbesar terhadap bakteri Proteus mirabilis, Pseudomonas aeruginosa, Pseudomonas sp, Enterobacter sp dan Stomatococus sp. Penelitian diatas masih bersifat observasi tanpa dilakukan analisis data perbedaan sensitifitas. Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode cross sectional analytic. Sampel adalah pasien Poli THT Rumah Sakit Umum Provinsi NTB yang terdiagnosis OMSK yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi dengan jumlah 34 sampel. Subjek diambil dari cairan telinga dan dimasukan kedalam media transport kemudian dilakukan pembiakan bakteri menggunakan media agar darah. Selanjutnya dilakukan identifikasi jenis bakteri dan uji sensitifitas untuk melihat zona hambat bakteri. Data yang diperoleh diolah dengan uji Chi-Square apabila distribusi data memenuhi syarat dan uji Fisher apabila distribusi data tidak memenuhi syarat. Hasil: Dari penelitian ini bekteri yang paling banyak ditemukan adalah Pseudomonas aeruginosa. Senstifitas bakteri penyebab OMSK terhadap siprofloksasin menunjukan angka 61,76% , sedangkan klindamisin memiliki angka reistensi lebih dari 50%. Kesimpulan: Didapatkan perbedaan yang signifikan terhadap sensitifitas antibiotik siprofloksasin dan klindamisin terhadap bakteri penyebab OMSK.
Bakteri Non Fermenter sebagai Patogen: Fokus pada Spektrum Infeksi Stenotrophomonas maltophilia di Kota Mataram Eustachius Hagni Wardoyo
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.185

Abstract

Latar belakang: Bakteri non fermenter dahulu dikenal sebagai kontaminan pada pemeriksaan mikrobi- ologi, saat ini bakteri non fermenter juga dikenal sebagai pathogen dengan status resisten terhadap banya antibtiotika, diantaranya kelompok Carbapenem dan Penisilin. Stenotrophomonas maltophilia sebagai salah satu bakteri non fermenter, basil Gram negative aerob, sering terisolasi bersama-sama dengan Pseudomonas spp. dari pasien imunokompromais. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan spektrum infeksi S. maltophilia di Mataram. Metode: Isolate S. maltophilia yang didapat dari data laboratorium dikumpulkan, data rekam medis dianalisa periode Juni 2014 – September 2015 Hasil: Terdapat 12 isolate S. maltophilia. Spektrum infeksi: pneumonia (6), infeksi jaringan ikat (4), dan infeksi saluran kencing (2). Rasio laki-laki: perempuan = 8:4. Kondisi imunokompromais: usia lanjut/muda (7), terapi Carbapenem (7), penggunaan ventilator (3), dan pasien ICU (4). Marker infeksi: SIRS (12), sepsis (6). Pola kepekaan antimikroba (sensitive): ceftazidime (8), ciprofloxacin (7), cefoperazone (5), cefepime (4), gentamicin (3), meropenem (2), amikacin (2), fosfomycin, linezolid dan, trimethoprim/sulfamethoxazole (1), penicillin dan cefadroxil (0). Kesimpulan: Pneumonia merupakan kasus dominan. Mayoritas faktor resiko infeksi Stenotropho- monas maltophilia merupakan kondisi imunokompromais. Semua isolat resisten terhadap cefadroxil dan penicillin. Kepekaan tertinggi-terendah: ceftazidime, ciprofloxacine, cefoperazone, cefepime, gentamicin, meropenem, fosfomycin, linezolid dan amikacin. Trimethoprim/sulfamethoxazole bukan merupakan obat pilihan terhadap infeksi Stenotrophomonas maltophilia di Mataram.
Faktor-Faktor Prognostik Terjadinya Stroke Associated Infection (SAI) Pada Penderita Stroke Iskemik Akut Ilsa Hunaifi; Rina Lestari; I Gede Yasa Asmara; Yusra Pintaningrum
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.186

Abstract

Latar Belakang: Selama perawatan penderita stroke, sering terjadi infeksi sehingga meningkatkan morbiditas penderita stroke iskemik akut (Stroke Associated Infection, SAI). Identifikasi awal terjadinya SAI sangatlah penting. Banyaknya faktor prognostik terjadinya SAI dan belum adanya model yang dapat memprediksi terjadinya SAI sehingga diperlukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor prognosis terjadinya SAI pada penderita stroke iskemik akut. Metode: Penelitian dilakukan dengan rancangan kohort retrospektif pada penderita stroke iskemik akut di RSU Kota Mataram. Dilakukan pengumpulan data sekunder meliputi usia, jenis kelamin, derajat keparahan klinis, diabetes mellitus, gambaran foto toraks, ada tidaknya disfagia, fibrilasi atrial, gagal jantung kongestif, jumlah lekosit dan lokasi infark. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji statistik regresi logistik. Hasil: Didapatkan 125 subyek penelitian. Rerata usia 60,37 tahun, 81 orang (64,8%) laki-laki dan 44 orang (35,2 %) perempuan, 80 (64%) dengan derajat keparahan sedang, 48 (38,4%) penderita DM, Rerata jumlah lekosit 11.015,36, 60 (48%) terdapat disfagia, lokasi infark terbanyak di korona radiata (22,4%), 64,8% dengan gambaran foto toraks normal, 6 (4,8%) menderita fibrilasi atrial dan 35 (28%) menderita gagal jantung kongestif. Didapatkan hubungan usia, disfagia, lokasi stroke, kelainan foto toraks dengan terjadinya SAI. Analisis multivariat menunjukkan faktor prognostik terjadinya SAI adalah abnormalitas foto toraks, jenis kelamin, disfagia, dan gagal jantung kongestif. Didapatkan rumus untuk mempredikasi terjadinya SAI dan probabilitas SAI sebesar 16,6% Kesimpulan: Usia, derajat keparahan klinis, disfagia, lokasi stroke, abnormalitas foto toraks dan gagal jantung kongestif berhubungan dengan terjadinya SAI. Faktor prognostik terjadinya SAI adalah jenis kelamin, ada disfagia, abnormalitas foto toraks dan gagal jantung kongestif.
Profil Penegakan Diagnosis dan Stadium Penyakit Pasien Meningitis Tuberkulosis yang Dirawat di Rumah Sakit Dr. Saiful Anwar Malang Herpan Syafii Harahap; Badrul Munir
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.189

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis saat ini masih merupakan masalah kesehatan global. Meningitis tuberkulosis merupakan bentuk tuberkulosis di sistem saraf pusat yang paling sering ditemukan. Saat ini belum ada data mengenai angka kejadian penyakit ini di Kota Malang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil penegakan diagnosis dan stadium penyakit pasien meningitis tuberkulosis yang dirawat di Rumah Sakit dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang. Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan potong lintang, dikerjakan selama bulan November-Desember 2014. Data diperoleh dari rekam medis pasien meningitis tuberkulosis yang dirawat di Rumah Sakit dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang selama periode November 2013-Oktober 2014. Dilakukan penentuan klasifikasi diagnosis meningitis tuberkulosis menurut hasil konsensus The international tuberculous meningitis workshop dan penentuan klasifikasi stadium penyakit menurut British Medical Research Council (BMRC). Hasil: Jumlah subyek dalam penelitian ini 27 orang, dengan rician untuk subyek laki-laki dan perempuan masing-masing sebanyak 15 orang (55,56%) dan 12 orang (44,44%). Proporsi subyek dengan klasifikasi diagnosis possible dan probable masing-masing sebesar 70,37% dan 29,63%, dengan stadium penyakit I, II, dan III masing-masing sebesar 3,70%, 70,37%, dan 25,93%, dan dengan koinfeksi HIV sebesar 25,93%. Uji Kolmogorov-Smirnov terhadap menunjukkan tidak ada perbedaan proporsi stadium penyakit yang bermakna antara subyek laki-laki dan perempuan (p=0,516). Uji Chi-Square menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang bermakna dalam hal klasifikasi penyakit (p=0,215) dan keberadaan koinfeksi HIV (p=0,298) antara subyek penelitian laki-laki dan perempuan. Kesimpulan: Subyek penelitian dengan klasifikasi diagnosis probable dan stadium penyakit III memiliki proporsi yang paling besar. Tidak terdapat perbedaan klasifikasi diagnosis, stadium penyakit, dan keberadaan koinfeksi HIV berdasarkan jenis kelamin.
Hubungan Pengetahuan Ibu Mengenai Demam Berdarah Dengue dengan Tingkat Kepadatan Jentik di Kelurahan Monjok Timur Kota Mataram Sakinah Marie Sanad; Dewi Suryani
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.190

Abstract

Latar belakang: Indonesia merupakan salah satu negara dengan insidensi tertinggi Demam Berdarah Dengue yang mencapai 37,11 per 100.000 penduduk disertai Case Fatality Rate (CFR) 0,90 %. Kurangnya pengetahuan tentang etiologi, vektor, penularan dan tindakan preventif berkontribusi pada tingginya insidensi Demam Berdarah Dengue. Laju penularan dihubungkan dengan tingkat kepadatan jentik yang diwakili oleh nilai Container Index (CI). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu mengenai Demam Berdarah Dengue, Container Index, dan hubungan antara kedua variabel ini.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional menggunakan kuesioner dan survei jentik untuk menghitung CI. Sekitar 100 ibu rumah tangga yang tinggal di Monjok Timur menjadi partisipan penelitian. Data selanjutnya dianalisis menggunakan Uji Chi-Square.Hasil: Sebanyak 65% ibu memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Sebanyak 76% rumah memiliki nilai CI yang tinggi. Hasil analisis menggunakan Uji Chi-Square menunjukkan hubungan yang secara statistik signifikan antara tingkat pengetahuan ibu dengan CI (p = 0,023).Kesimpulan: Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan ibu mengenai Demam Berdarah Dengue dengan Container Index.
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Angka Kejadian Kecacingan pada Murid Sekolah Dasar Dede Taruna Kreisnna Murti; Rika Hastuti Setyorini; Eva Triani
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.191

Abstract

Latar belakang: Infeksi kecacingan merupakan penyakit yang paling sering diderita anak sekolah dasar. Dampak infeksi kecacingan ini adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi anak. Tingkat pengetahuan ibu yang rendah merupakan penyebab utama tingginya angka infeksi kecacingan melalui pola asuh hidup bersih dan sehat yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang kecacingan (infeksi Soil Transmitted Helminths) dengan angka kejadian infeksi Soil Transmitted Helminths pada murid SD Negeri 3 Bajur, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat.Metode: Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian adalah 165 murid kelas II VI SD Negeri 3 Bajur Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat tahun ajaran 2014-2015. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner dan pemeriksaan mikroskopik feses. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji hipotesis chi-square.Hasil: Angka kejadian kecacingan pada murid SD Negeri 3 Bajur mencapai 24,2%. Tingkat pengetahuan responden (ibu) tentang kecacingan terbagi menjadi baik (B) 16,4%, cukup baik (CB) 60,6%, dan kurang (K) 23%.Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan ibu tentang kecacingan (infeksi Soil Transmitted Helminths) dengan angka kejadian infeksi Soil Transmitted Helminths pada murid SD Negeri 3 Bajur Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat (p=0,000; p¡ 0,05).
Ekpresi Sirt1 pada Karsinoma Payudara Tikus yang Diinduksi Dimethylbenz (α) Anthracene dan Hubungannya dengan Derajat Histologis, Ukuran Tumor serta Ekpresi PCNA Novrita Padauleng; Dewajani Purnomosari; Sri Herwiyanti; Harjadi Harjadi; Irianiwati Irianiwati; Sitarina Widyarini
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.192

Abstract

Latar belakang: Karsinoma payudara terjadi melalui proses kompleks yang melibatkan mutasi serta modifikasi epigenetik. Kontribusi Sirt1 pada modifikasi epigenetik terjadi melalui aktivitas deasetilasi Sirt1 terhadap beberapa gen penekan maupun pemicu pertumbuhan karsinoma, sehingga transkripsi gen-gen tersebut menjadi inaktif. Penelitian ini bertujuan membandingkan ekspresi Sirt1 pada karsinoma payudara tikus yang diinduksi DMBA dengan kelenjar normal, serta melihat ada tidaknya hubungan antara ekspresi Sirt1 dengan derajat histologis, ukuran tumor, dan ekspresi PCNA.Metode: Sebanyak 30 ekor tikus Sprague dawley betina, dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu pakan, kontrol vehicle (minyak jagung), dan karsinoma payudara (induksi DMBA). Analisis jaringan payudara menggunakan teknik imunohistokimia untuk protein Sirt1 dan PCNA, serta pengecatan hematoksilin eosin untuk derajat histologis.Hasil: Ekspresi Sirt1 pada karsinoma payudara tikus lebih tinggi secara bermakna dibandingkan ekspresinya di kelenjar payudara normal (26,12 vs 0,05; p=0,004). Ekspresi Sirt1 positif lebih banyak dijumpai pada karsinoma payudara dengan derajat histologis buruk (56,2%), dan tidak dijumpai pada karsinoma payudara dengan derajat histologis baik. Uji statistik menunjukkan hubungan yang sangat bermakna antara ekspresi Sirt1 dengan ukuran tumor (textitp=0,009;r=0,877) dan ekspresi PCNA (p=0,000; r=0,790).Kesimpulan: Protein Sirt1 pada penelitian ini cenderung sebagai pemicu pertumbuhan karsinomapayudara, dan ekspresi Sirt1 positif lebih banyak dijumpai pada karsinoma payudara dengan derajathistologis buruk. Peningkatan ekspresi Sirt1 disertai dengan peningkatan ukuran tumor dan ekspresiPCNA.
Eksisi Tuberculoma Cerebelum dengan Komplikasi Epidural Hematoma Bilateral Rohadi Rohadi; Parenrengi M. A
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.193

Abstract

Infeksi sistem saraf pusat oleh Mycobacterium tuberculosis selalu merupakan kasus sekunder dari fokus infeksi primer dari tubuh. Insiden tuberculoma secara luas di dunia adalah jarang, tetapi ada peningkatan sekitar 1 % sampai 2 % dari semua lesi intrakranial. Seorang wanita, umur 13 tahun, dengan keluhan utama nyeri kepala. Penglihatan kabur (+) sejak 2 bulan SMRS. Kelemahan tangan dan kaki (+) sejak 1 tahun SMRS, bila berjalan sering terjatuh sendiri. Dari pemeriksaan anemnesis, fisik dan penunjang di diagnosis sebagai tuberculoma cerebellum dextra. Dilakukan pemberian OAT dan eksisi tuberculoma oleh karena efek massa dan hidrocephalus non communicans. Post operasi timbul EDH Supratentorial PO Dextra et sinistra. Dilakukan operasi Craniotomy EDH Dextra et sinistra. Hasil patologi Tuberculoma. Pasien membaik dan mendapat perawatan poliklinis. Operasi yang dilakukan oleh bedah saraf pada kasus tuberkuloma ditujukan untuk diagnosis, terapi hidrocephalus dan menghilangkan efek massa. Terdapat komplikasi EDH Supratentorial PO dextra et sinistra setelah operasi Tuberculoma Fossa Posterior. Kasus tersebut jarang terjadi. Banyak teori yang dihubungkan dengan terjadinya komplikasi tersebut, tetapi mana yang pasti tidak ada yang jelas.
Central Retinal Vein Occlusions (CRVO) pada Pasien Hipertensi Monalisa Nasrul
Unram Medical Journal Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jku.v5i2.194

Abstract

Hipertensi merupakan faktor risiko penting untuk terjadinya komplikasi mikrovaskular seperti di pembuluh darah retina, seperti retinopati hipertensi dan oklusi pembuluh darah vena retina sentral atau cabang. Oklusi vena retina sentralis (central retinal vein occlusions CRVO) adalah salah satu penyebab tertinggi gangguan penglihatan dan kebutaan. Pasien adalah laki-laki berusia 65 tahun dengan keluhan penglihatan mata kiri buram sejak 1-2 bulan yang lalu dengan riwayat hipertensi. Hasil pemeriksaan oftalmologis memperlihatkan visus terbaik mata kanan (OD) 6/9 dan mata kiri (OS) 1/60; terdapat relative afferent pupillary defect (RAPD) pada OS; fundus OD dalam batas normal; fundus OS terdapat perdarahan di 4 kuadran retina, pembuluh vena melebar dan berkelok-kelok, edema retina-makula-papil N II. Tidak ada rubeosis iris dan peningkatan tekanan bola mata (TIO). Faktor risiko yang ditemukan adalah hipertensi dan dislipidemia. Pasien didiagnosis dengan unilateral CRVO dengan beberapa faktor risiko. Tata laksana meliputi kontrol ketat untuk evaluasi segmen anterior posterior mata, dan mengendalikan faktor risiko untuk mencegah CRVO pada mata sebelahnya.
Peran FBXW7 pada Stem Cell Normal dan Cancer Stem Cell Hidayat, Moulid; Fariz, Nurwidya
Jurnal Kedokteran Vol 5 No 2 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

F-box and WD40 repeat domain-containing 7 (FBXW7) adalah protein F-box yang merupakan komponen sistem ubiquitin proteasome yang berhubungan dengan beberapa protein onkogenik penting seperti Notch, c-Myc, cyclin E and c-Jun dalam mengatur proses pertumbuhan dan perkembangan sel, metabolism sel, diferensiasi dan apoptosis. Beberapa studi terkini menunjukkan bahwa FBXW7 berperan dalam perkembangan beberapa stem cell, mencakup proses self-renewal, multipotensi, diferensiasi, dan survival. Cancer stem cell (CSC) diketahui merupakan salah satu penyebab resistensi tumor terhadap berbagai kemoterapi, kekambuhan dan metastasis tumor. FBXW7 berperan terhadap kondisi quiescence pada CSC dengan mengatur substrat downstream c-Myc. Kondisi quiescence pada CSC dapat diinhibisi dengan memblokade peran FBXW7 melalui pathway upstream and downstream FBXW7 sehingga diharapkan dapat mengatasi resistensi dan kekambuhan tumor. Artikel telaah pustaka ini akan memaparkan peran FBXW7 pada stem cell normal dan pada cancer stem cell hubungannya dengan pengembangan terapi.

Page 1 of 1 | Total Record : 10