cover
Contact Name
Dian Yosi Arinawati
Contact Email
dianyosi@umy.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalkgumy@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Insisiva Dental Journal : Majalah Kedokteran Gigi Insisiva
ISSN : 22529764     EISSN : 26859165     DOI : 10.18196/idj
Core Subject : Health,
Insisiva Dental Jurnal memberikan informasi tentang ide, opini, perkembangan dan isu-isu di bidang kedokteran gigi meliputi klinis, penelitian, laporan kasus dan literature review.
Arjuna Subject : -
Articles 314 Documents
Pengaruh Lama Penyinaran dan Ketebalan Resin Komposit Bulk Fill Terhadap Kebocoran Mikro Sofiani, Erma; Rovi, Fineza
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.9221

Abstract

Restorasi gigi bertujuan  mengembalikan fungsi mastikasi, fonetik, estetik, dan perlindungan terhadap jaringan pendukung gigi. Resin komposit merupakan bahan restoratif yang digunakan di kedokteran gigi karena  mempunyai estetik dan kekuatan yang baik. Salah satu kekurangan dari resin komposit yaitu polymerization shrinkage. Pengkerutan akibat polimerisasi dapat menimbulkan kebocoran mikro, sehingga menyebabkan kegagalan restorasi berupa karies sekunder, diskolorasi dan infeksi pulpa. Polimerisasi resin komposit dikatakan baik apabila derajat konversi berupa ikatan atom karbon ganda menjadi ikatan tunggal pada monomer berjalan dengan tepat. Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor seperti translusensi bahan, lama penyinaran, ketebalan resin komposit, dan tipe filler. Beberapa cara untuk mengurangi kebocoran mikro diantaranya adalah teknik penumpatan secara incremental. Kekurangan teknik ini yaitu memperlambat proses perawatan dan meningkatkan risiko kontaminasi setiap lapisannya. Saat ini telah dikembangkan resin komposit bulk fill yang mampu diaplikasikan ke dalam kavitas secara langsung (bulk) dengan ketebalan 4-5 mm, dapat mengalami polimerisasi dengan baik. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyinaran dan ketebalan resin komposit bulk fill terhadap kebocoran mikro. Semakin lama penyinaran maka menyebabkan peningkatan ikatan karbon yang memperkecil jarak antar monomer. Peningkatan ketebalan aplikasi bahan meningkatkan nilai c-factor yang menyebabkan terjadinya pengkerutan sehingga menyebabkan kebocoran mikro. Beberapa studi menggunakan metode dye penetration dengan larutan marker yang berbeda untuk mengukur kebocoran mikro. Evaluasi dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), mikroskop cahaya, dan micro-CT. Kesimpulan literature review ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh lama penyinaran dan ketebalan resin komposit bulk fill terhadap kebocoran mikro.
Pengaruh Lama Penyinaran dan Ketebalan Resin Komposit Bulk Fill Terhadap Kebocoran Mikro Sofiani, Erma; Rovi, Fineza
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 9, No 2 (2020): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.9221

Abstract

Restorasi gigi bertujuan  mengembalikan fungsi mastikasi, fonetik, estetik, dan perlindungan terhadap jaringan pendukung gigi. Resin komposit merupakan bahan restoratif yang digunakan di kedokteran gigi karena  mempunyai estetik dan kekuatan yang baik. Salah satu kekurangan dari resin komposit yaitu polymerization shrinkage. Pengkerutan akibat polimerisasi dapat menimbulkan kebocoran mikro, sehingga menyebabkan kegagalan restorasi berupa karies sekunder, diskolorasi dan infeksi pulpa. Polimerisasi resin komposit dikatakan baik apabila derajat konversi berupa ikatan atom karbon ganda menjadi ikatan tunggal pada monomer berjalan dengan tepat. Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor seperti translusensi bahan, lama penyinaran, ketebalan resin komposit, dan tipe filler. Beberapa cara untuk mengurangi kebocoran mikro diantaranya adalah teknik penumpatan secara incremental. Kekurangan teknik ini yaitu memperlambat proses perawatan dan meningkatkan risiko kontaminasi setiap lapisannya. Saat ini telah dikembangkan resin komposit bulk fill yang mampu diaplikasikan ke dalam kavitas secara langsung (bulk) dengan ketebalan 4-5 mm, dapat mengalami polimerisasi dengan baik. Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh lama penyinaran dan ketebalan resin komposit bulk fill terhadap kebocoran mikro. Semakin lama penyinaran maka menyebabkan peningkatan ikatan karbon yang memperkecil jarak antar monomer. Peningkatan ketebalan aplikasi bahan meningkatkan nilai c-factor yang menyebabkan terjadinya pengkerutan sehingga menyebabkan kebocoran mikro. Beberapa studi menggunakan metode dye penetration dengan larutan marker yang berbeda untuk mengukur kebocoran mikro. Evaluasi dilakukan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), mikroskop cahaya, dan micro-CT. Kesimpulan literature review ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh lama penyinaran dan ketebalan resin komposit bulk fill terhadap kebocoran mikro.
Uji Temperatur Air Pencampur Terhadap Setting Time Bahan Cetak Kulit Buah Manggis (Garcinia Mangostana) Yosi Arinawati, Dian; Triawan, Andi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v1i1.515

Abstract

Bahan cetak gigi adalah bahan yang digunakan untuk membuat replica (model)gigi dan jaringan sekitarnya. Bahan cetak harus memenuhi syarat, salah satunyaharus memiliki setting time yang cukup sehingga operator dan pasien dapatmelakukan pencetakan gigi dengan baik. Penentuan waktu gelasi bisa ditentukanoleh beberapa faktor yaitu temperatur air, W/P ratio dan bahan pengisi yangdipakai. Namun cara modifikasi tersebut banyak memberikan efek pada sifat gelseperti elastisitas, dan mempengaruhi kekuatan terhadap robekan. Cara lain yanglebih aman ialah dengan mengubah temperatur air pencampur. Pada bahan cetakalginat, terbukti bahwa semakin tinggi temperatur, semakin pendek waktu gelasi.Namun belum ada pembuktian bahwa sifat-sifat tersebut berlaku untuk bahancetak kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana). Penelitian ini bertujuan untukmengetahui bagaimana pengaruh temperatur air pencampur terhadap setting timebahan cetak kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana). Dua puluh lima spesimendibagi menjadi 5 kelompok : kelompok 1 (10°C), kelompok 2 (15°C), kelompok 3(20ºC), kelompok 4 (25°C) dan kelompok 5 (30°C). Pengukuran setting timemenggunakan alat ukur indikator setting time berbentuk batang silindris daribahan poly (methyl methacrylate). Hasil uji statistik ANAVA satu jalurmenunjukkan bahwa temperatur air pencampur berpengaruh terhadap setting timebahan cetak kulit buah Manggis (Garcinia mangostana) (p 0,05). Hasil uji LSD0,05 menunjukkan adanya perbedaan setting time yang bermakna antar setiapkelompok tempetatur air pencampur yang digunakan, kecuali pada kelompoktemperatur air pencampur 20°C dan 25°C. Kedua kelompok temperatur airpencampur tersebut tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna karena keduakelompok temperatur air pencampur tersebut berada pada temperatur air padasuhu ruangan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah temperatur air pencampursuhu 10°C, 15°C, 20°C, 25°C dan 30°C mempengaruhi lama setting time bahancetak kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana) dan semakin tinggi temperaturair pencampur yang diuji, setting time semakin pendek (cepat). Setting timetercepat terdapat pada kelompok suhu (temperatur) air pencampur 30° C.
Infection Control Implementation At Private Dental Practice In Yogyakarta City Dewanto, Iwan; Septario, Medi
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v1i2.533

Abstract

Dentist As A Health Worker Claimed To Be Responsible Widely In A Variety Of Existing Public Health Efforts, Especially In The Dental Clinic. Infection Control Is An Effort To Control And Prevent The Spread Of Infectious Diseases In Practice Setting. This Study Aimed To Describe The Implementation Of Infection Control In Dental Practices In The Yogyakarta City In The Availability And Utilization Of Facilities And Infrastructure. A CrossSectional Study Was Conducted In Yogyakarta City With Subjects Of 30 Dentist Who Has Independent Private Practice Chosen By Simple Random Sampling. Observational Techniques Using Check List Was Applied To Assess The Implementation Of Infection Control. Results Showed Existing Deficiencies Of Control Infection In The Components Of Equipment, Dentist, And Room. It Can Be Concluded That The Implementation Of Infection Control In The Yogyakarta City Has Not Gone Well, It Is Source Of Concern As The Possibility Of Infectious Disease Transmission In Dental Clinic Occured. This Because The Level Of Awareness Is Still Lacking And The Dentist Thinks Will Impact The Length Of The Culture Is Still Neglected
The Influence Of Temperature And Longing Of Soak Towards Absorbing Water In The Basic Of Denture Thermoplastic Nylon Fadhilah, Alfi; Dwi Atmaja, Widyapramana
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v2i1.564

Abstract

Thermoplastic nylon is a polymer synthetic used as the basic material of denture and able to absorb water because of the existence of polar element (COOH-), so that it is hydrophilic. Water is absorbed through diffusion process which the diffusion coefficient is influenced by temperature and time of longing of soak will raise the absorbing water till saturation point. The goal of this research is for knowing the influence of temperature and longing of soak towards absorbing water in the basic of denture thermoplastic nylon. The research uses samplethermoplastic nylon with size of diameter x height (50±1mm x 0.5±0.1mm) as much as 15 samples which is divided into 3 groups, previous mass each of sample and also measured the volume. Empty the sample into beaker glass fulfilled of aquades 100ml then incubated. The first group is incubated in 250C, the second group 370C, the third group 550C, observed in 5 days, every 24 hours the samples are balanced their changing of mass. The results are formulated with (m1 – m0)/V, then analyzed with Two Way Anova and LSD0,05. Theresult of testing Two Way Anova that is the temperature able to influence (p=0,0000,05), longing of soak able to influence (p=0,0000,05), while the temperature and longing of soak are not influenced toward the absorbing water in the basic of denture thermoplastic nylon, because p=0,9940,05.
Kadar Fosfor (P) dalam Cairan Sulkus Gingiva pada Penderita Penyakit Periodontal Phosphorus (P) Level of Gingival Crevicular Fluid of Peridontal Diseases Kusuma Ardiani, Deasy; Wulan Suci Dharmayanti, Agustin; Pujiastuti, Peni
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 3, No 1 (2014)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v3i1.1722

Abstract

Latar Belakang. Prevalensi penyakit periodontal mencapai 60% pada masyarakat di Indonesia. Periodontitiskronis merupakan penyakit periodontal yang sering diderita masyarakat Indonesia. Penyebab utama daripenyakit periodontal adalah bakteri plak. Perlekatan dan akumulasi bakteri plak akan mengakibatkan inflamasidan kerusakan jaringan periodontal diikuti dengan peningkatan aliran cairan sulkus gingiva dan komponen cairansulkus gingiva, salah satunya yaitu fosfor yang akan dikeluarkan melalui sulkus. Fosfor yang larut bersamaaliran darah berasal dari cairan sulkus gingiva yang meningkat dan dikeluarkan melalui sulcular epithelium.Tujuan. Mengetahui kadar fosfor dalam cairan sulkus gingiva pada penderita periodontitis kronis. Metode.Subyek penelitian merupakan pasien yang datang ke RSGM Universitas Jember yang memenuhi kriteria inklusidan eksklusi. Subyek penelitian yang memiliki kriteria inklusi dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan hasilpemeriksaan intra oral, yaitu penderita gingivitis dan periodontitis kronis. Pengambilan sampel cairan sulkusgingiva dilakukan pada elemen gigi yang mengalami gingivitis atau periodontitis dengan paperpoint. Tahappengukuran kadar fosfor menggunakan Spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang 883 nm. Hasilpenelitian dianalisis dengan uji Mann-Whitney. Hasil. Terdapat perbedaan yang signifikan kadar fosfor padapenderita penyakit periodontal. Kesimpulan. Kadar fosfor pada penderita periodontitis kronis lebih tinggidaripada penderita gingivitis.
Perawatan Maloklusi Klas III Dento-Skeletal Pada Masa Pertumbuhan Menggunakan Alat Cekat (Straight Wire Appliance) (Laporan Kasus) Ratya Utari, Tita
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v5i1.3711

Abstract

AbstrakPendahuluan: Perawatan maloklusi kelas III sebaiknya dilakukan sedini mungkin pada saat pasien dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, sehingga pertumbuhan dapat diarahkan. Penatalaksaan lebih awal akan memberikan hasil yang lebih baik dari profil maupun oklusinya dan dapat mencegah terjadinya kelainan yang lebih berat. Tujuan: memperbaiki gigitan silang (crossbite) yang terjadi pada gigi anterior dan posterior sehingga terbentuk relasi gigi rahang atas dan rahang bawah yang normal, dengan overjet dan overbite normal, koreksi gigi yang berjejal dan memperbaiki garis median sehingga diperoleh estetik penampilan yang lebih baik. Penatalaksanaan Kasus: Menggunakan alat cekat dengan sistem straight wire, tahap pertama perawatan dilakukan levelling dan unravelling untuk koreksi crowding gigi anterior. Pasien masih berusia 14 tahun sehingga pemakaian elastik intermaksiler klas III sangat efektif untuk menghambat pertumbuhan rahang bawah dan memacu pertumbuhan rahang atas sehingga terbentuk overjet positif. Kesimpulan: Untuk kasus kelas III yang dilakukan lebih dini dapat dilakukan perawatan ortodontik tanpa dilakukan pembedahan. Hasil perawatan relatif memuaskan dengan terkoreksinya crowding dan crossbite di anterior maupun posterior. Profil pasien menjadi lebih baik, semula cekung terkoreksi menjadi lurus.
Persepsi Dosen Pembimbing Klinik Dalam Pelatihan Pemberian Umpan Balik Dengan Metode Pendleton Kepada Mahasiswa Febria, Nyka Dwi; Claramita, Mora; ., Widyandana
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.7190

Abstract

Latar belakang: Umpan balik sangat dibutuhkan dalam pendidikan sarjana dan pendidikan klinik. Umpan balik yang diberikan didalam pendidikan klinik digunakan untuk memberikan penguatan atas tindakan yang dilakukan atau memberikan koreksi terhadap kesalahan yang dilakukan dalam melakukan suatu tindakan perawatan kepada pasien. Umpan balik yang diberikan oleh dosen bervariasi antara satu dosen dengan dosen yang lainnya. Sehingga diperlukan pelatihan untuk pemberian umpan balik tersebut. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan pelatihan pemberian umpan balik dosen pembimbing klinik kepada mahasiswa. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuasi eksperimental. Subyek penelitian terdiri dari 32 dosen yang memenuhi kriteria inklusi, yang terdiri dari dokter gigi umum sebayak 25 orang, dokter gigi spesialis sebanyak 3 orang, dan dokter gigi S2 sebanyak 4 orang. Hasil: 96,6% menyatakan siap untuk memberikan umpan balik kepada mahasiswa setelah mengikuti pelatihan, pertanyaan kedua menyatakan waktu untuk pelatihan cukup sebesar 84,4%, pertanyaan ketiga menyatakan pelatihan umpan balik yang diberikan merupakan hal yang baru sebesar 84,4%, pertanyaan keempat menyatakan materi umpan balik dengan metode Pendleton merupakan hal yang baru sebesar 100%, dan pertanyaan kelima menyatakan materi yang diberikan cukup lengkap sebesar 96,9%. Kesimpulan: Pelatihan pemberian umpan balik dengan metode Pendleton kepada dosen pembimbing klinik di kedokteran gigi memberikan pengalaman dan pengetahuan yang baru untuk digunakan dalam pembimbingan fase klinik kepada mahasiswa.
Insidensi Ulkus Traumatikus pada Pemakai Alat Ortodonsi Lepasan dan Ortodonsi Cekat Suhartiningtyas, Dwi; Prahastuti, Novarini; Sari, Kharisma
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 9, No 1 (2020): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.9111

Abstract

Salah satu kelainan gigi mulut yang sering ditemukan adalah susunan gigi geligi yang tidak rapi. Alasan tersebut membuat masyarakat datang ke dokter gigi untuk melakukan perawatan ortodonsi dengan menggunakan alat lepasan (removable appliance) ataupun alat cekat (fixed appliance). Risiko pemakaian alat ortodonsi yang sering dilaporkan adalah ulkus traumatikus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui insidensi ulkus traumatikus pada pemakai alat ortodonsi lepasan dan ortodonsi cekat. Jenis penelitian adalah penelitian observasional analitik dengan desain cohort prospective. Subjek penelitian adalah pasien di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan di praktek dokter gigi spesialis ortodonsi yang akan melakukan insersi alat ortodonsi lepasan atau alat ortodonsi cekat. Subjek penelitian masing-masing kelompok berjumlah 21 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square. Insidensi ulkus traumatikus pada pengguna alat ortodonsi lepasan sebanyak 12 kasus (57,14%) dan pengguna alat ortodonsi cekat sebanyak 16 kasus (76.19%). Hasil uji chi-square didapatkan nilai p = 0,190 (p 0.05). Insidensi ulkus traumatikus pada pemakai alat ortodonsi cekat lebih tinggi dibandingkan pada pengguna alat ortodonsi lepasan, namun secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna.
Effect Of Led Exposure Time On The Temperature Rise, Depth Of Cure And Microhardness Of Nanohybrid Composite Resin Nauli Komala, Olivia; Budianto, Ednanisa; Kusuma Eriwati, Yosi; Triaminingsih, Siti
Insisiva Dental Journal: Majalah Kedokteran Gigi Insisiva Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/di.v1i1.510

Abstract

It has been reported that depth of cure of composite resin can beachieved by prolonged light curing but causing temperature rise that could harmthe pulp and resulted uncomfortable condition to patient. Objectives: To evaluatethe effect of light-emitting-diode (LED) light curing unit on the temperature rise,depth of cure and microhardness of nanohybrid composite resin. Materials andMethods: Sixty specimens of nanohybrid composite resin (Tetric N Ceram,Ivoclar-Vivadent, Lichtenstein) with diameter of 5 mm, thickness of 5 mm weredivided into 3 groups: Group I (n=20) were light-cured for 15 seconds, Group II(n=20) for 20 seconds, Group III (n=20) for 40 seconds using LED light curingunit (Hilux/Ledmax, Japan). The temperature rise was measured using digitalthermometer at initial time to the highest temperature peak. The depth of cure wasmeasured by scraping method. Microhardness was determined using VickersMicrohardness Tester at each 1 mm depth of the composite resin. Data wereanalyzed using Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests. Results: There weresignificant differences on temperature rise, depth of cure and hardness ofnanohybrid composite resin at each 1 mm depth after light exposure time of 15,20, and 40 seconds. The highest depth of cure was achieved after curing for 40seconds but the highest microhardness was achieved after curing for 20 seconds at1 mm from the top of specimens. Conclusion: Exposure time of 20 secondsproduced low temperature rise, depth of cure and the highest VHN than the otherexposure time.