cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kantor LP3M Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan
ISSN : 23020670     EISSN : 27464822     DOI : https://doi.org/10.26618/octopus
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Octopus Ilmu Perikanan terbit dua kali setahun yakni Januari dan Juli berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian dan non penelitian berupa kajian. Jurnal Octopus Ilmu Perikanan bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan perikanan dari para akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Eucheuma Cotnnii yang Dibudidayakan pada Jarak Dari Dasar Perairan yang Berbeda Burhanuddin Burhanuddin
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 2 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.497 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i2.474

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pertumbuhan dan kandungan karaginan rumput laut Eucheuma cottonii yang dibudidayakan pada kedalaman yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan dii perairan Teluk Mattoangin, Kabupaten Bantaeng Propinsi Sulawesi Selatan pada bulan Maret- April 2012. Wadah yang digunakan adalah tiang pancang berukuran 2 m sebanyak 36 buah. Berat awal bibit rumput laut 100 gram/rumpun diikat dengan tali rafia, selanjutnya diikatkan pada tali polyethilene dengan jarak tanam 25 cm dan jarak bentangan 30 cm,sebanyak 49 rumpun/unit percobaan dengan menggunakan rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Rumput laut ditimbang setiap 10 hari untuk mengetahui laju pertumbuhannya. Analisis kandungan karaginan, nitrat, dan fosfat dilakukan di laboratorium Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP) Maros. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan (A = jarak dari dasar 30 cm; B = jarak dari dasar 60 cm; C = jarak dari dasar 90 cm) dengan masing-masing 3 ulangan. Untuk melihat pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam, jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji BNT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase laju pertumbuhan harian rumput laut Eucheuma cottonii tertinggi pada perlakuan B (jarak dari dasar 60 cm) sebesar 13,79%, disusul perlakuan A (jarak dari dasar 30 cm) sebesar 11,09% dan terendah pada perlakuan C (jarak dari dasar 90 cm) sebesar 10,59%. Kandungan karaginan tertinggi diperoleh pada perlakuan B (jarak dari dasar 60 cm) 41,5%, disusul perlakuan A (jarak dari dasar 30 cm) 39,3%, dan terendah pada perlakuan C (jarak dari dasar 90 cm) sebesar 34,0%.Kata kunci: Pertumbuhan, Karaginan, dan Eucheuma cotnniiAbstractThis study aimed to compare the growth and content of carrageenan seaweed Eucheuma cottonii cultivated at different depths. This study was conducted dii Gulf waters Mattoangin Bantaeng district of South Sulawesi in March-April 2012. The container used is piling measuring 2 m by 36 pieces. Initial weight of 100 grams of seaweed seedlings / hill tied with rope, then tied a rope polyethylene with a spacing of 25 cm and a distance of 30 cm stretch, as much as 49 hills / unit experimenting with using seaweed Eucheuma cottonii. Seaweed is weighed every 10 days to determine the growth rate. Analysis of the content of carrageenan, nitrate, and phosphate conducted in the laboratory of Brackish Water Aquaculture Research (BRPBAP) Maros. The study design used was completely randomized design (CRD) with three treatments (A = distance from the bottom 30 cm; B = the distance from the bottom 60 cm; C = distance from the base 90 cm) with each of the three replications. To see the effect of treatment carried out analysis of variance, if significantly different followed by LSD test. The results showed that the percentage of daily growth rate Eucheuma cottonii seaweed highest in treatment B (the distance from the bottom 60 cm) of 13.79%, followed by treatment of A (distance from the bottom 30 cm) amounted to 11.09% and the lowest in treatment C ( distance from the bottom 90 cm) of 10.59%. The highest content of carrageenan obtained in treatment B (the distance from the bottom 60 cm) of 41.5%, followed by treatment of A (distance from the bottom 30 cm) of 39.3%, and the lowest in treatment C (the distance from the bottom 90 cm) of 34.0 %.Keywords: Growth, carrageenan, and Eucheuma cotnnii.
OPTIMASI LAMA PERENDAMAN LARUTAN BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L) TERHADAP DAYA TETAS TELUR IKAN NILA (Tilapia nilotica) Abdul Malik; Inriyani Inriyani
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 4, No 2 (2015): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.556 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v4i2.598

Abstract

The purpose of this study was to determine the soaking time optimization solution star fruit (Averrhoa bilimbi L) on the hatchability of eggs tilapia (Tilapia nilotica). The method used is the tilapia eggs obtained from Fish Seed Center (BBI) which is derived from natural pemijahaan. Eggs are used as much as 50 grains / container research. Total container study 12 units with a capacity of each container as much as 5 liters of water. Research container filled with water 1 liter. The treatments tested was the star fruit soaking solution with different doses in preventing bacteria and fungus on eggs tilapia. In this study there were 4 treatment, soaking time 5 minutes (treatment A), soaking time 10 minutes (treatment B), soaking time 15 minutes (treatment C), without soaking solution of star fruit (treatment D). With each dose (A, B and C) 4000 ppm treatment. Research carried out for 1 month showed that hatchability is highest in treatment B is a 10-minute soaking time average hatchability of 93.33%. It is advisable to test the 10-minute soaking time by increasing the density of eggs. Also in the hatchery, water quality should be in decent conditions in the development of the eggs to become larvae.
Analisis Kualitas Air Pada Kerapatan Mangrove yang Berbeda di Kabupaten Barru Abdul Malik
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.011 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.530

Abstract

Kualitas air pada kerapatan mangrove yang berbeda terdapat perbedaan, sehingga dilakukan pengukuran kualitas air dengan menggunakan pengukuran langsung dan analisa laboratorium.  Hasil yang didapatkan pada kerapatan jarang, sedang dan rapat masing-masing; kedalaman: 75-92, 94-106,99-115, suhu: 30,3, 30,2, 30,2, kecerahan : 54, 46, 44, arus: 58, 57, 54, salinitas 26 (sama di tiap kerapatan), pH: 7,3, 7,5, 7,5, DO: 8,0, 7,3, 7,0, NO3: 0,025, 0,005, 0,009, PO4: 0,014 (sama di tiap kerapatan).Kata kunci : kualitas air, kerapatan dan mangroveThe quality of water in mangrove different densities there is a difference, so do water quality measurement using direct measurements and laboratory analysis. Results obtained on the density of rare, medium and meetings respectively; depth: 75-92, 94-106,99-115, temperature: 30.3, 30.2, 30.2, brightness: 54, 46, 44, current: 58, 57, 54, salinity 26 (the same in every density), pH: 7.3, 7.5, 7.5, DO: 8.0, 7.3, 7.0, NO3: 0.025, 0.005, 0.009, PO4: 0.014 (same at each density).Keywords: water quality, density and mangrove
Studi Pendahuluan Biologi Reproduksi Ikan Belut (Monopterus Albus Zuiew, 1793) di Danau Sidenreng Kabupaten Sidenreng Rappang Andi Chadijah
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 1 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.913 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i1.541

Abstract

Eel (Monopterus albus, Zuiew, 1793) merupakan salah satu jenis ikan memiliki protein penting dan sering tertangkap di Sidenreng Lake. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk rasio jenis kelamin, tingkat kematangan gonad, panjang jatuh tempo pertama, dan kematangan gonad indeks belut (Monopterus albus) di Danau Sidenreng. Pengumpulan data dilakukan sejak Mei hingga Juni. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis chi-square, dan metode Sperman-Karber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio jenis kelamin adalah 2: 2: 1, Gonad jatuh tempo adalah tingkat perempuan fase III dan tingkat laki-laki VIII, panjang jatuh tempo pertama perempuan adalah 33,10 cm berat 38.113 g dan laki-laki dan laki-laki adalah 44,50 cm , berat 100,110g. Indeks kematangan gonad dari fase betina adalah 4,5119% dan fase laki 3,4897%.Keyword: Eel, Sidenreng dan danauEel (Monopterus albus, Zuiew,1793) is one kind of fish have important protein and often caught in the Sidenreng Lake. The objectives of this research were to sex ratio, gonad maturity level, length of first maturity, and gonad maturity index eel (Monopterus albus) in the Lake Sidenreng. The data was collected since May to June.  The method used in this reseach was chi-square analysis, and Sperman-Karber method. Result of the study show that sex ratio was 2:2:1, Gonad maturities were female phase level III and male level VIII, length of first maturity of female was 33,10 cm weight 38,113 g and male and male was 44,50 cm, weight 100,110g. gonad maturity index of female phase was 4,5119% and male phase 3,4897%.Keyword: Eel, Sidenreng and Lake
KONSENTRASI NUTRIEN DAN PADATAN TERSUSPENSI LIMBAH TAMBAK SUPERINTENSIF UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DALAM MEDIA BIOFILTER TIRAM Crassostrea sp DAN RUMPUT LAUT Gracillaria verrucosa Mat Fahrur; Muhammad Chaidir Undu; Makmur Makmur; Hidayat Suryanto Suwoyo
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 6, No 2 (2017): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v6i2.1303

Abstract

Penelitian mengenai aplikasi rumput laut (G. verrucosa) dan tiram (C. cucculata) sebagai biofilter dalam pengolahan limbah tambak udang vaname super intensif telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektifitas rumput laut (G. verrucosa) dan tiram (C. cucculata) dalam mereduksi konsentrasi nutrient dan padatan tersuspensi limbah tambak udang vaname super intensif. Penelitian ini dilakukan dalam skala laboratorium dimana konsentrasi nutrient dan partikel tersuspensi limbah dianalisis berdasarkan dua faktor yakni biofilter dan waktu pemaparan limbah dalam media biofilter. Regenerasi nutrient dan ekskresi oleh tiram serta rendahnya biomassa rumput laut (G. verrucosa) menyebabkan kedua jenis biofilter yang digunakan dalam penelitian ini belum memberikan kontribusi yang nyata terhadap penurunan konsentrasi nutrient dan partikel tersuspensi limbah. Sebaliknya, tiram menyebabkan tingginya konsentrasi TAN dalam limbah. Waktu pemaparan limbah dalam wadah biofilter memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsentrasi nutrient dan partikel tersuspensi; namun demikian konsentrasi nutrient dan partikel tersuspensi selama pemaparan limbah dalam wadah biofilter tidak berkurang. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut mengenai biomassa rumput laut (G. verrucosa)  dan tiram (C. cucculata) yang optimum  serta lama waktu pemaparan limbah perlu dilakukan sehingga effektifitas kedua jenis biofilter dalam mereduksi konsentrasi nutrient dan partikel tersuspensi dapat ditingkatkan.
Analisis Perubahan Luas Ekosistem Mangrove di Kabupaten Barru Abdul Malik
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 1 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.645 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i1.438

Abstract

kondisi ekosistem mangrove di kabupaten Barru mengalami perubahan luas dari tahun ke tahun, sehingga dilakukan analisis perubahan dengan menggunakan metode analisis foto citra. Hasil yang didapatkan ekosistem mangrove tahun 2000 luasnya 284,17 ha, tahun 2004 luas 203,17 dan tahun 2010 luasnya 152,54 ha, tingkat degradasi 30,66% baik, 24 % sedang dan 45,33% rusak. Perubahan luas ekosistem mangrove dari tahun 2000 – 2010 seluas 131,63 ha.Kata kunci: Mangrove, Perubahan Luas dan Degradasi
Analisis Keberlanjutan Perikanan Bagan Tancap Berdasarkan Aspek Biologi dan Ekonomi Kasmawati Kasmawati; Ardiana Ardiana
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 4, No 1 (2015): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.553 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v4i1.571

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberlanjutan perikanan bagan tancap berdasarkan aspek biologi, ekologi dan ekonomi di Tanjung Pallette, Kabupaten Bone. Penelitian ini diharapkan sebagai bahan informasi dalam pengembangan perikanan bagan tancap. Penelitian ini dilaksanakan pada 1 Juli sampai 31 Agustus 2014 di Tanjung Palette Kabupaten Bone  Propinsi Sulawesi Selatan pada posisi 4o29’ 42,9” Lintang Selatan (LS) dan 120o 23’ 58,0” Bujur Timur (BT).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang dominan tertangkap berturut-turut adalah  peperek (Leiognatus sp) 31%,  belanak (Mugil sp) 20 %, teri (Stolephours sp) 19%, kuwe (Caranx sexfasciatus) 12%, baronang (Siganus sp)  13%,  dan  udang putih (L. Vannamei) 15%.  Nilai R-C Ratio  ke 20 nelayan bagan tancap berkisar 1,85 sampai dengan 3,58 dengan rata-rata 2,52 sdv: 0,489. Kisaran lama waktu pengembalian modal yang diinvestasikan berkisar 0,22 sampai dengan 0,50 dengan rata-rata 0,35 sdv: 0,080 atau waktu pengembalian modal awal berkisar 2,64 bulan sampai dengan 6 bulan. Usaha bagan tancap akan memperoleh keuntungan setelah melewati tingkat pendapatan pada kisaran antara Rp. 2.919.614 sampai dengan Rp. 5.525.736 dengan rata-rata Rp. 4.231.579 sdv : Rp. 640.304,5. Secara ekonomi penggunaan bagan tancap layak untuk dilanjutkan.Kata Kunci: Bagan Tancap, Aspel Ekologi dan Aspek Ekonomi
Pertumbuhan dan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii yang Dipelihara di Ekosistem Padang Lamun Perairan Puntondo Takalar Alimuddin Alimuddin
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.487 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.524

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui pertumbuhan dan kandungan karaginan rumput laut yang dipelihara dengan berbagai metode pada ekosistem padang lamun.  Dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2011 di perairan Puntondo, Desa Laikang, Kecamatan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Analisis kandungan karaginan rumput laut akan dilakukan di Laboratorium  Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar.  Wadah budidaya yang digunakan adalah keranjang plastik berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing  45 x 32 x 17 cm berjumlah 15 buah ditempatkan pada berbagai kedalaman dari permukaan perairan pada kawasan padang lamun sesuai dengan metode budidaya yaitu 20 cm (permukaan),  100 cm  (lepas dasar) dan 250 cm (dasar). Rancangan percobaan yang digunakan  adalah Rancangan Acak Lengkap dengan 3 perlakuan metode budidaya dengan masing-masing 5 ulangan yaitu: (A) permukaan; (B) lepas dasar dan (C) dasar. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam yang dilanjutkan dengan uji Tukey.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan spesifik dan kandungan karaginan tertinggi dihasilkan metode budidaya lepas dasar yakni masing-masing 1,54%/hari dan 44,8%, sedangkan terendah metode budidaya dasar masing-masing 1,14%/hari dan 39,9%.Kata Kunci : Metode budidaya, Pertumbuhan, Kandungan karaginan, Padang LamunThis study aims to determine the growth and content of carrageenan seaweed that is maintained by a variety of methods in seagrass ecosystems. Conducted from March to June 2011 in the waters Puntondo, Laikang Village, District Mangarabombang, Takalar, South Sulawesi. Carrageenan seaweed content analysis will be conducted at the Laboratory of Department of Fisheries, Faculty of Marine Sciences and Fisheries, Hasanuddin University, Makassar. Container cultivation used are plastic baskets length, width and height each 45 x 32 x 17 cm amounts to 15 pieces placed at various depths from the surface waters in the area of seagrass in accordance with the methods of cultivation which is 20 cm (surface), 100 cm ( freelance basis) and 250 cm (base). The experimental design used was completely randomized design with 3 treatments cultivation methods with 5 replications each, namely: (A) of the surface; (B) off the base and (C) basis. Data were analyzed using analysis of variance followed by Tukey's test. The results showed that the specific growth rate and high carrageenan content is generated off-bottom methods of cultivation which was respectively 1.54% / day and 44.8%, while the lowest basic farming methods respectively 1.14% / day and 39.9 %.Keywords: methods of cultivation, growth, content of carrageenan, Seagrass
APLIKASI PROBIOTIK DENGAN KOSENTRASI YANG BERBEDATERHADAP PERTUMBUHAN UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Burhanuddin Burhanuddin; Farhanah Wahyu; Suratman Suratman
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 5, No 1 (2016): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.938 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v5i1.676

Abstract

The use of probiotics as an attempt to improve the cultivation environment and suppress the disease proved to help overcome some of the problems in shrimp farming. This study aims to determine the exact concentration of probiotics in shrimp maintenance Vanannamei and see the effects on water quality, growth, survival, and shrimp production Vannammei. Research carried out on a laboratory scale by using 12 aquariums measuring 30 x 25 cm with a volume of 25 liters each aquarium filled sized shrimp with stocking density 20 birds. Probiotics mixed premises of feed and given 4 times a day with a concentration corresponding treatments, A = 3 PPM, B = 4 PPM, C = 5 PPM and D controls that are set in a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications. During maintenance of shrimp fed as much as 5% of the total biomass with a frequency of 4 times/day, the results of research addressing that administration of probiotics with different concentrations significantly affected the growth and survival of Shrimp Vannamae although not significantly affect water quality.
Sintasan dan Percepatan Moulting Kepiting Bakau (Scylla Serrata) dengan Menggunakan Saponin Burhanuddin Burhanuddin
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.867 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.536

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) merupakan salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomis penting dan banyak diminati dipasaran.      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan saponin terhadap sintasan dan percepatan moulting kepiting bakau (Scylla serrata) dan diharapkan dapat bermanfaat bagi seluruh stakeholder terkait serta menjadi salah satu sumber informasi dalam usaha percepatan moulting. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juni 2013 di Balai Budidaya Air Payau Desa Bontoloe, Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.  Perlakuan pemberian dosis yang dicobakan terhadap percepatan moulting kepiting bakau (Scylla serrata), adalah sebagai berikut: Perlakuan A = 15 ppm; B = 30 ppm; C = 45 ppm, dan Kontrol (tanpa pemberian saponin).  Adapun peubah yang diamati pada penelitian ini adalah sintasan dan kecepatan moulting.  Sebagai data penunjang, dilakukan pengukuran beberapa parameter kualitas air (suhu, salinitas, pH, oksigen terlarut, dan amoniak). Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan saponin tidak berpengaruh nyata terhadap sintasan kepiting bakau, namun berpengaruh sangat nyata terhadap kecepatan moulting.  Kecepatan moulting tertinggi dicapai pada penggunaan saponin 45 ppm, sehingga disarankan untuk budidaya kepiting bakau lunak (soka) sebaiknya menggunakan saponin dosis 45 ppm.  Data kualitas air yang diukur selama penelitian masih menunjukkan kisaran yang layak dan dapat ditolerir oleh kepiting bakau.Kata Kunci : Kepiting bakau, moulting dan SintasanMangrove crab (Scylla serrata) is the one commodity important economic value and much in demand in the market. This study aims to determine the effect of the use of saponin on survival and moulting acceleration of mud crab (Scylla serrata) and expected to be beneficial for all stakeholders concerned as well be one of the resources in an effort to accelerate moulting. This research was conducted in May and June 2013 in the village of Brackish Water Aquaculture Centres Bontoloe, District Galesong, Takalar, South Sulawesi. Treatment doses tested against acceleration moulting mud crab (Scylla serrata), is as follows: Treatment A = 15 ppm; B = 30 ppm; C = 45 ppm, and Control (without giving saponins). The variables were observed in this study is survival and moulting speed. As supporting data, measurement of water quality parameters (temperature, salinity, pH, dissolved oxygen, and ammonia). Based on the results of the study indicate that the use of saponin did not significantly affect survival mud crab, but very significant effect on the speed of moulting. Moulting highest speed reached on the use of saponin 45 ppm, so it is advisable for the cultivation of soft mud crab (shelled) should use the saponin dose of 45 ppm. Water quality data measured during the study still showed decent range and can be tolerated by mangrove crabs.Keywords: mangrove crab, moulting and Survival

Page 6 of 27 | Total Record : 270