cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Kantor LP3M Unismuh Makassar Jl. Sultan Alauddin No. 259 Makassar, Indonesia
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
OCTOPUS : Jurnal Ilmu Perikanan
ISSN : 23020670     EISSN : 27464822     DOI : https://doi.org/10.26618/octopus
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Octopus Ilmu Perikanan terbit dua kali setahun yakni Januari dan Juli berisi artikel ilmiah dalam bentuk hasil penelitian dan non penelitian berupa kajian. Jurnal Octopus Ilmu Perikanan bertujuan untuk menyebarluaskan ilmu dan pengetahuan perikanan dari para akademisi, peneliti, praktisi, mahasiswa, dan pemerhati perikanan.
Arjuna Subject : -
Articles 270 Documents
Respon Pertumbuhan Berbagai Jenis/Strain Rumput Laut Kappaphycus Spp. di Perairan Pantai Laguruda Sanrobone Takalar Akmal Akmal; Andi Elman; Jumriadi Jumriadi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 2 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (910.823 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i2.531

Abstract

Kegiatan diseminasi teknologi dimaksudkan sebagai upaya menyebarluaskan teknologi hasil-hasil perekayasaan budidaya perikanan kepada masyarakat pengguna, sehingga pada akhirnya diharapkan akan berdampak ke arah peningkatan kemampuan dan peningkatan ekonomi kesejahteraan masyarakat.  Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan dan produksi 3 strain/jenis yang diujikan meliputi Kappaphycus denticulatum (spinosum) dan K. striatum (edule), dan K. alvarezii di perairan Laguruda Desa Laguruda Kecamatan Sanrobone sebagai lokasi diseminasi teknologi budidaya rumput laut.  Hasil menunjukkan bahwa penanaman ketiga jenis/strain rumput laut yang diujicobakan mempunyai pertumbuhan yang rendah. Selama 42 hari periode pemeliharaan terjadi peningkatan bobot 197,29%, 144,22% dan 146,07% secara berturut-turut untuk jenis K. striatum, K. denticulatum dan K. alvarezii (golo-golo).  Terjadi perubahan figmen yang mencolok setelah 45 hari periode penanaman dengan warna figmen yang lebih pucat.Kata kunci : Pertumbuhan, Produksi, Jenis/Strain, Kappaphycus sp.AbstractTechnology dissemination activities intended as an effort to disseminate the results of engineering technologies of aquaculture to the user community, which in turn is expected to have an impact in the direction of increased capacity and improved economic welfare of the community. This activity aims to investigate the response of the growth and production of three strains / species tested include Kappaphycus denticulatum (spinosum) and K. striatum (edule), and K. alvarezii in the waters of the District Sanrobone Laguruda Laguruda village as a location for technology dissemination seaweed cultivation. The results showed that the planting of three species / strains of seaweeds that have been tested have low growth. During the 42-day maintenance period increased weight of 197.29%, 144.22% and 146.07% respectively for type K. striatum, K. and K. denticulatum alvarezii (golo-golo). Figmen striking changes occurred after 45 days of planting period with figmen a paler color.Keywords: Growth, Production, Type / Strain, Kappaphycus sp
Analisa Tepung Ikan Gabus Sebagai Sumber Protein Fatmawati Fatmawati; Mardiana Mardiana
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 1 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.221 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i1.542

Abstract

Tepung ikan merupakan suatu produk padat kering yang dihasilkan dengan jalan mengeluarkan cairan dan sebagain atau seluruh lemak yang terkandung di dalam daging ikan. Tepung ikan diolah atau dibuat untuk dijadikan sebagian bahan tambahan untuk pakan ternak dan ikan. Sering dengan kemajuan tenologi, telah di temukan bahwa ikan gabus (Ophyocephalus striatus ) memiliki potensi fungsional yang tinggi karena mengandung serum albumin. Oleh sebab itu dilakukan pengolahan terhadap ikan gabus menjadi produk tepung ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses pembuatan tepung ikan dari bahan dasar ikan gabus yang lebih optimal, dalam artian menguragi kehilangan komponen aktif ( Protein terlarut) yang terdapat dalam daging ikan tersebut. Pembuatan tepung ikan gabus dilakukan dengan tiga cara yaitu dengan perebusan,pengukusan,serta cara pengukusan dan ekstraksi lemak. Pengeringan daging ikan dilakukan dengan alat pengering mekanis pada suhu 500C selama + 9 jam. Parameter penelitihan ini adalah kadar air, kadar protein terlarut,rendemen, dan uji organoleptik terhadap warna, kenampakan dan tekstur tepung ikan gabus. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara keseluruhan tepung ikan gabus yang diolah dengan cara pengukusan ekstraksi lemak merupakan cara pengolahan yang lebih baik. Tepung yang dihasilkan dengan cara ini memiliki kadar protein terlarut yang tertinggi yaitu 10,88 dan kadar air yang rendah 7,46 %, rendemen 15,79 % dan hasil organoleptik yang umumnya disukai oleh panalis.Kata kunci: Tepung Ikan Gabus Sebagai Protein Pangan Nasional Fishmeal is a dry solid product produced by the discharge and sebagain or all of the fat contained in fish meat. Flour the fish is processed or made to be partially additive for animal feed and fish. Often with the progress tenologi, have been found that catfish (Ophyocephalus striatus) has high functional potential because they contain serum albumin. Therefore do the processing of catfish into fish meal products. This research aims to study the process of making fish meal from basic ingredients of fish cork is more optimal, in the sense that reduces loss of the active component (soluble protein) contained in the fish meat. Manufacture of fishmeal cork is done in three ways: by boiling, steaming, and how steaming and extraction of fat. Drying fish meat is done by means of mechanical dryers at a temperature of + 500C for 9 hours. These researches parameter is the water content, soluble protein content, yield, and organoleptic test for color, appearance and texture of fish meal cork. The results showed that overall fishmeal cork is processed by steaming extraction of fat is way better processing. Flour produced in this way has the highest levels of soluble protein, namely 10.88 and a low water content of 7.46%, 15.79% yield and organoleptic result which is generally preferred by panalis. Keywords: Protein Fish Meal Cork As a National Food
PENGARUH WAKTU PERENDAMAN LARUTAN BUAH BELIMBING WULUH TERHADAP DAYA TETAS TELUR PADA IKAN NILA (Tilapia niloticus) Burhanuddin Burhanuddin; Farhanah Wahyu
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 6, No 2 (2017): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v6i2.1304

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lama perendaman larutan belimbing wuluh terhadap daya tetas telur ikan nila (Tilapia niloticus).  Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juni  sampai  Agustus 2017, yang dimulai dari tahap persiapan sampai telur menetas menjadi larva. Bertempat di Balai Benih Ikan (BBI) Limbung. Penelitian lama perendaman larutan buah belimbing dengan dosis 4000 ppm yang telah dilakukan memiliki presentase daya tetas tertinggi pada perlakuan dengan lama perendaman 10 menit yaitu 93,33%.  Di peroleh hasil rata-rata tidak berbeda nyata terhadap pada tingkat kepercayaan 95 %. Hasil pengukuran parameter kualitas air dari setiap perlakuan masih dalam kondisi layak dalam mendukung perkembangan telur hingga menjadi larva.`
Respon Pertumbuhan dan Warna Tallus Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii yang Di Budidayakan Berbagai Kedalaman di Perairan Laikang Takalar Akmal Akmal
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 1, No 1 (2012): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.468 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v1i1.439

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis respon pertumbuhan dan warna tallus rumput laut Kap-paphycus alvarezii yang dibudidayakan pada kedalaman yang berbeda di Perairan Laikang, Kabupaten Ta-kalar. Penelitian ini terdiri atas 5 perlakuan dan setiap perlakuan terdiri 3 ulangan dengan demikian ada 15 satuan percobaan. Rumput laut digantung metode vertikal secara acak pada kedalaman budidaya berbeda, yaitu 20 cm; 100 cm; 200 cm; 300 cm dan 400 cm. Analisis sidik ragam dilakukan pada taraf 95%. Hasil penelitian menunjukkan kedalaman budidaya tidak berbeda nyata terhadap perkembangan diameter dan panjang tallus. Nilai tertinggi diameter tallus pada kedalaman 100 cm dan nilai terendah diameter tallus pa-da kedalaman 400 cm (masing-masing 5,23 cm dan 4,28 cm) sedangkan panjang tallus nilai tertinggi pada kedalaman 20 cm dan terendah pada kedalaman 400 cm (masing-masing 10,90 cm dan 5,68 cm). Respon warna tallus pada kedalaman budidaya 20-300 cm lebih terang dibandingkan pada kedalaman 400 cm. Perubahan warna tallus cenderung berwarna lebih gelap pada lapisan yang lebih dalam 400 cm. Intensitas cahaya, kecepatan arus yang optimal, konsentrasi CO2 bebas, kandungan nitrat dan ortofosfat yang tinggi merupakan faktor penyebab terjadinya perubahan warna, perkembangan diameter dan panjang tallus pada setiap kedalaman budidaya.Kata Kunci: Budidaya, Pertumbuhan, Kedalaman, Respon warna tallus, Rumput Laut
Analisis Hubungan Beberapa Faktor Fisika Oseanografi dengan Kerapatan Ekosistem Lamun di Perairan Puntondo Kabupaten Takalar Asmidar Asmidar
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 4, No 1 (2015): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.784 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v4i1.572

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui hubungan antara faktor fisika oseanografi dengan kerapatan ekosistem padang lamun di perairan Puntondo Kabupaten Takalar, mengidentifikasi jenis-jenis lamun yang terdapat di perairan Puntondo Kabupaten Takalar dan mengetahui penutupan dan kerapatan ekosistem padang lamun di perairan Puntondo Kabupaten Takalar. Penelitian ini di analisis dengan menghitung berapa persen suatu spesies menutupi areal dalam tiap subplot pengamatan. Nilai persen yang diperoleh dikonversi ke dalam nilai 0-5. Hubungan antara kerapatan lamun dengan parameter fisika perairan dan substrat dianalisis menggunakan metode regresi linear berganda. Dari hasil tersebut dapat diketahui korelasi masing-masing parameter terhadap kerapatan lamun. Berdasarkan hasil analisis Jumlah jenis lamun yang ditemukan pada lokasi penelitian adalah 6 jenis dimana 4 spesies dari Famili Hydrocharitaceae dan 2 spesies dari Famili Patomogetonaceae. Kerapatan total komunitas lamun yang ada di Perairan Puntondo Kabupaten Takalar berkisar antara 32.67 ind/m2 - 243.50 ind/m2. Total nilai penutupan komunitas lamun dari keseluruhan areal yang potensial di tumbuhi lamun terbesar adalah 17.05 % dan total nilai penutupan komunitas lamun paling rendah adalah 1.45 %.Kata Kunci: Padang Lamun, kerapatan, penutupan, fisika oseanografi.
Peningkatan Aktifitas Fagositosis Dan Letupan Respirasi Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Dengan Pemberian Xantone Dari Kulit Buah Manggis Mardiana Mardiana; Rahmi Rahmi
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 2, No 1 (2013): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.385 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v2i1.525

Abstract

Budidaya  ikan nila  sering mengalami kegagalan akibat adanya serangan penyakit. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberian xantone yang merupakan imunostimulan  sehingga mampu meningkatkan daya tahan tubuh ikan nila dari serangan penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian ekstrak xantone dari kulit buah manggis terhadap peningkatan respon immune pada ikan nila.  Penelitian ini dilakukan secara in vitro dan in vivo, untuk mengukur intensitas “Letupan respirasi” dilakukan pengukuran anion superoksida (O2-) karena anion superoksida adalah produk utama yang dilepaskan dan letupan respirasi. Sedangkan  aktifitas fagositosis dihitung dengan jumlah sel yang aktif memfagosit sel bakteri dalam seratus sel fagositosis yang dinyatakan dalam persen. Rancangan penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan parameter pengamatan adalah letupan respirasi  dan aktifitas fagositosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pemberian ekstrak xantone pada ikan nila mampu menghambat pertumbuhan bakteri pathogen A. hydrophila. Hasil analisis ragam ANOVA menunjukkan bahwa ikan nila yang diberikan ekstrak xantone, berpengaruh nyata terhadap aktifitas fagositosis ikan nila (P0.05). Hasil uji lanjut W-Tukey perlakuan A berbeda terhadap perlakuan B, C dan D tetapi antar perlakuan B dan perlakuan D tidak berbeda. Hasil uji lanjut W-Tukey pada letupan respirasi juga menunjukkan perbedaan antara perlakuan C dengan perlakuan A dan Perlakuan B tetapi tidak berbeda dengan perlakuan D. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diperoleh kesimpulan dengan pemberian xantone  2,10 ppm dapat meningkatkan respon imun  yaitu letupan respirasi dan aktifitas fagositosis pada ikan nila.Kata kunci : Xantone,  ikan nila, Respon Immun.Tilapia fish farming often fail due to their disease. One of the efforts is the provision xantone which is immunostimulatory so as to improve the endurance of tilapia from the disease. This study aimed to analyze the effect of extracts of mangosteen rind xantone to increase the immune response of tilapia. This study was conducted in vitro and in vivo, to measure the intensity of the "Explosion of respiration" measurement of superoxide anion (O2) as superoxide anion is the main product that is released and respiratory burst. While the phagocytosis activity is calculated by the number of active cell in the bacterial cell fagocyt hundred phagocytic cells that expressed in percent. The study design was designed using completely randomized design (CRD) with observation parameter is respiratory burst activity and phagocytosis. The results showed that the extract xantone on tilapia could inhibit the growth of pathogenic bacteria A. hydrophila. Results of analysis of variance ANOVA showed that tilapia were given extracts xantone, significantly affected the activity of phagocytosis tilapia (P 0.05). Further test results W-Tukey different treatment A against treatment B, C and D but between treatments B and D treatment did not differ. Further test results W-Tukey on respiratory outbreaks also show differences between treatment C with treatment A and treatment B but did not differ by treatment with D. Based on these results we concluded with the awarding of 2.10 ppm xantone can boost the immune response is a burst of respiration and activity phagocytosis in tilapia. Keywords: Xantone, tilapia, Response Immun
PENGARUH FORMULASI RUMEN DENGAN DOSIS YANG BERBEDA TERHADAP SINTASAN BENIH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Murni Murni; Abdul Malik; Farida Farida
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 5, No 1 (2016): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.887 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v5i1.677

Abstract

This study aims to determine the effect of the application of the formulation of tilapia Oreochromis Niloticus. While the usefulness of a public information materials for farmers tilapia Oreochromis Niloticus in determining the type of feed the good order growth and increasing production. Research carried out for 2 months starting from September to October 2015 held at the Fish Farming Center, District Bontorannu, Gowa, South Sulawesi Province. Test animals used are tilapia fish age 1 month with a size of 3-5 cm a total of 120 individuals. Doses tested different treatments namely A (10%), B (15%), C (30 20%) and D controls. Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by Tukey's test further. Results of research conducted during the two months showed that the mixing of the rumen to feed tilapia fish was lowest for the treatment of B (15%), without the mix feed the rumen which is highest in the control treatment.
Pemanfaatan Minyak Atsiri dari Bawang Putih (Allium Sativum) sebagai Antibiotik Ikan Mas (Cyprinus Carpio Linn) Rahmi Rahmi; Darmawati Darmawati; Muh. Abil
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 3, No 1 (2014): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.342 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v3i1.537

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil dari minyak minyak atsiri bawang putih yang digunakan sebagai antibiotik untuk pengendalian bakteri Aeromonas hydropila pada ikan mas (C. carpio L), sehingga diharapkan dapat menjadi bahan informasi Dalam upaya meningkatkan produksi ikan mas pada usaha pembesaran. Penelitian dilaksanakan pada Juli sampai Agustus 2013 di Balai Benih Ikan (BBI) Bontomanai kec. Somba Opu Kab. Gowa Sulawesi Selatan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan yaitu B (15 ppm), C (20 ppm), dan D (25 ppm),  dan 3 ulangan serta Kontrol  A (Phospat Buffer Saline pH 7,4).  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan bobot serta mortalitas ikan uji dapat disimpulkan bahawa pemberian dosis 20 ppm minyak atsiri dari bawang putih yang disuntikkan pada ikan mas cukup efektif dalam pengendalian infeksi A. hidropila.Kata Kunci : Bawang putih, antibiotik, ikan mas dan produksiThis study aims to get the essential oil of garlic oil is used as an antibiotic for control of Aeromonas hydropila in carp (C. carpio L), which is expected to be material information in an effort to increase the production of carp efforts on enlargement. The experiment was conducted in July and August 2013 at Fish Seed (BBI) Bontomanai excl. Somba Opu district. Gowa, South Sulawesi. The experimental design used was completely randomized design (CRD) with 3 treatments, B (15 ppm), C (20 ppm), and D (25 ppm), and 3 replications and Control A (Phosphate Buffer Saline pH 7.4). The results showed that weight gain and mortality test fish can be concluded THAT dose of 20 ppm of essential oil of garlic is injected in a goldfish quite effective in controlling infection A. hidropila.Keywords: Garlic, antibiotics, carp and production
OPTIMASI LAMA WAKTU FERMENTASI LIMBAH SAYUR DENGAN CAIRAN RUMEN TERHADAP PENINGKATAN KANDUNGAN NUTRISI PAKAN IKAN NILA (OREOCHROMIS NILOTICUS) Murni Murni; Darmawati Darmawati; Muhammad Irwandi Amri
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 6, No 1 (2017): Octopus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.762 KB) | DOI: 10.26618/octopus.v6i1.680

Abstract

The purpose of this study was to determine the length of time vegetable waste fermentation with rumen fluid effective in improving the nutritional quality of tilapia fish feed. Fermentation is carried out in rumen fluid after fermentation is complete, the fermented vegetable waste is dried and subsequently roasted proximate analysis and total sugars. In this study, there were four treatments, three days (treatment A), 4 days (treatment B), 5 days (treatment C), and 6 days (treatment D). The results obtained during the study showed that the use of rumen fluid in the fermentation process of vegetable waste was not significant (P 0.05) on the content of moisture, crude protein, fat, crude fiber, ash and extract materials without nitrogen (BETN) and the content of total sugars
KOMPOSISI DAN KELIMPAHAN PLANKTON PADA TAMBAK BUDIDAYA CALON INDUK UDANG WINDU (Penaeus monodon) Sahabuddin Sahabuddin; Hidayat Suryanto Suwoyo
OCTOPUS : JURNAL ILMU PERIKANAN Vol 6, No 2 (2017): OCTOPUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/octopus.v6i2.1299

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komposisi dan kelimpahan jenis serta indeks biologi plankton pada tambak budidaya calon induk udang Windu. Penelitian ini dilaksanakan selama 128 hari dengan menggunakan 4 petak tambak ukuran 2000 m2.  Hewan uji yang dicobakan adalah  calon induk udang windu dengan berat awal 22,63 - 28,57 g/ekor dengan kepadatan masing-masing 0,5 ekor/m2. Terdapat 2 petak perlakuan yang dicobakan dalam penelitian tersebut, yakni : perlakuan A = calon induk udang Windu turunan F1 dan perlakuan B = calon induk udang windu turunan Fo masing-masing 2 ulangan. Peubah yang diamati adalah komposisi dan kelimpahan jenis, indeks keragaman, indeks keseragaman, indeks dominansi  plankton setiap dua minggu.  Peubah kualitas air yang diukur meliputi oksigen terlarut, suhu, salinitas, pH, NH3-N, NO2-N, NO3-N, PO4-P, alkalinitas dan BOT. Hasil penelitian menunjukkan jumlah jenis plankton dari fitoplankton lebih tinggi di bandingkan dengan zooplankton, baik pada perlakuan A maupun perlakuan B. Jumlah jenis zooplankton pada perlakuan A lebih tinggi daripada perlakuan B yaitu masing-masing 30 dan 25 genera. Jumlah individu plankton  lebih tinggi pada perlakuan B dibandingkan dengan perlakuan A masing-masing 326 dan 214 ind/L, sedangkan jumlah individu zooplankton lebih tinggi dibandingkan dengan fitoplankton pada perlakuan F1 dan Fo. Keragaman jenis plankton pada perlakuan F1 dan Fo adalah berkisar 1,4390 - 1,3298, keseragaman F1 adalah  0,3945 lebih rendah dari pada Fo yaitu 0,7843.  Sedangkan dominansi pada F1 dan Fo relatif sama masing-masing 0,3117 dan 0,3532.

Page 8 of 27 | Total Record : 270