cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika)
ISSN : 23017929     EISSN : 25021745     DOI : -
Core Subject : Education,
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) is a semiannual journal, published on March and September. JIPM published by Universitas PGRI Madiun. JIPM provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, and students to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles. The journal invites professionals in study of Mathematics Education, especially teaching and learning, curriculum development, learning environments, teacher education, educational technology , and educational developments.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue "vol. 15 no. 1 (2026)" : 9 Documents clear
Integration of Interactive Digital Media in Mathematics Learning in Primary School: Trends, Effectiveness and Challenges (2020-2025) Amelia Laili; Bambang Subali; Arif Widiyatmoko
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.23532

Abstract

Pembelajaran matematika di sekolah dasar sering kali dianggap sulit sehingga berdampak pada rendahnya motivasi belajar serta kemampuan literasi numerasi siswa. Penelitian ini bertujuan meninjau secara sistematis penerapan media digital interaktif dalam pendidikan matematika dasar pada periode 2020–2025. Menggunakan metode SLR dengan pedoman PRISMA, data dikumpulkan melalui basis data Google Scholar dan Semantic Scholar, menghasilkan 20 artikel yang memenuhi kriteria kelayakan untuk dianalisis secara mendalam. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan multimedia animasi, simulasi, dan kuis interaktif secara konsisten meningkatkan motivasi serta keterlibatan siswa dalam memahami konsep matematika. Namun, hasil sintesis mengungkap temuan kritis berupa dominasi penelitian yang masih terfokus pada aspek kognitif semata, sementara studi jangka panjang mengenai retensi ingatan dan pengurangan kecemasan matematika masih sangat minim. Kendala utama yang teridentifikasi meliputi keterbatasan infrastruktur dan kesiapan pedagogi guru. Nilai tambah penelitian ini bagi kebijakan dan praktik adalah penekanan pada perlunya standardisasi kurikulum pelatihan guru berbasis pedagogi digital dan pengembangan platform adaptif. Implikasinya, integrasi media digital harus dilakukan secara kontekstual dan berkelanjutan untuk mengubah peran guru menjadi fasilitator dalam ekosistem belajar digital yang bermakna.   Mathematics learning in elementary school is often considered difficult, resulting in low learning motivation and numeracy literacy skills of students. This research aims to systematically review the application of interactive digital media in basic mathematics education during 2020–2025. Using the SLR method and PRISMA guidelines, data were collected from the Google Scholar and Semantic Scholar databases, resulting in 20 articles that met the eligibility criteria for in-depth analysis. The study found that multimedia animations, simulations, and interactive quizzes consistently increased students' motivation and engagement in understanding mathematical concepts. However, the synthesis reveals critical findings: a dominance of research still focused solely on the cognitive aspect, while long-term studies on memory retention and the reduction of mathematical anxiety remain very limited. The main obstacles identified include limited infrastructure and teachers' pedagogical readiness. The added value of this research for policy and practice lies in its emphasis on standardizing the teacher training curriculum around digital pedagogy and the development of adaptive platforms. The implication is that integrating digital media must be done in a context-specific, sustainable way to transform teachers' roles into facilitators within a meaningful digital learning ecosystem.
Peningkatan Pemahaman Konsep Matematis dan Self-Efficacy Siswa Melalui Pendekatan CTL Model Group Investigation Widya Putri Adianto; Kismiantini; Wahyu Setyaningrum; Sukaji
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.23850

Abstract

Pembelajaran kolaboratif diperlukan dalam penerapan Contextual Teaching and Learning (CTL) untuk mengonstruksi pemahaman konsep melalui investigasi dan diskusi serta menumbuhkan self-efficacy siswa. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematis dan self-efficacy melalui penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) model Group Investigation (GI) pada materi Teorema Pythagoras. Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif jenis pre-experimental dengan desain one-group pretest-postest. Tahapannya meliputi: (1) pretest, (2) penerapan pendekatan pembelajaran, (3) postest, (4) menganalisis dan menarik kesimpulan. Penelitian dilaksanakan di kelas VII SMP pada salah satu sekolah yang berada di Yogyakarta. Penelitian ini melibatkan satu kelas dengan total 32 orang siswa yang ditentukan menggunakan purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian terdiri dari tes untuk mengukur pemahaman konsep matematis dan angket untuk mengukur self-efficacy siswa. Uji Wilcoxon Signed Rank menunjukkan hasil signifikan dengan diperoleh p-value < 0,05. Kemampuan pemahaman konsep matematis meningkat dengan nilai (N-gain=0,22), sedangkan self-efficacy siswa meningkat dengan nilai (N-gain=0,07). Nilai effect size pemahaman konsep matematis sebesar 0,7 dan self-efficacy sebesar 0,37. Meskipun diperoleh peningkatan rendah, temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan CTL model GI memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman konsep matematis dan self-efficacy siswa dalam pembelajaran matematika. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan CTL model GI dapat digunakan sebagai alternatif inovasi pembelajaran untuk mengaitkan konsep matematika dengan konteks kehidupan nyata untuk meningkatkan pemahaman konsep matematis dan self-efficacy siswa.   Collaborative learning is essential in the implementation of Contextual Teaching and Learning (CTL) to facilitate students' conceptual understanding through investigation and discussion while fostering their self-efficacy. This study aimed to improve students' mathematical conceptual understanding and self-efficacy through the implementation of the Contextual Teaching and Learning (CTL) approach integrated with the Group Investigation (GI) model on the topic of the Pythagorean Theorem. This study employed a quantitative pre-experimental method using a one-group pretest-posttest design. The research procedure consisted of four stages: (1) pretest, (2) implementation of the instructional approach, (3) posttest, and (4) data analysis and conclusion. The study was conducted in a seventh-grade class at a junior high school in Yogyakarta, Indonesia. The participants consisted of 32 students selected through purposive sampling. The research instruments included a mathematical conceptual understanding test and a self-efficacy questionnaire. The Wilcoxon Signed-Rank Test indicated statistically significant differences (p < 0.05). Students' mathematical conceptual understanding improved with an N-gain of 0.22 and a large effect size of 0.70, while self-efficacy improved with an N-gain of 0.07 and a medium effect size of 0.37. Although the N-gain values were categorized as low, the findings indicate that the CTL approach integrated with the GI model had a positive impact on improving students' mathematical conceptual understanding and self-efficacy. These findings suggest that CTL integrated with the GI model can serve as an alternative instructional approach that connects mathematical concepts with real-life contexts while promoting students' conceptual understanding and self-efficacy in mathematics learning.
Exploring Students' Mathematical Critical Thinking Skills Across Levels of Self-Directed Learning Ratri Rahayu; Pria Jaya Permadi; Himmatul Ulya
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.24080

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis di-tinjau dari kemandirian belajar  siswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI F02 SMA Negeri 1 Jekulo, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah dengan jumlah 32 siswa pada semester gasal tahun pelajaran 2025/2026. Untuk keperluan analisis, subjek dipilih dengan teknik purposive sampling yaitu satu subjek untuk setiap kategori kemandirian belajar  . Data penelitian diambil melalu, tes kemampuan berpikir kritis, angket kemandirian belajar  dan wawancara. Data hasil tes dianalisis berdasarkan berdasarkan indikator kemampuan berpikir kritis. Hasil penelitian ini, dapat disimpulkan siswa yang berkategori kemandirian belajar rendah memiliki keterbatasan kemampuan berpikir kritis matematis siswa, terutama dalam pengambilan keputusan dan penyusunan strategi penyelesaian masalah matematika. Siswa yang berkategori kemandirian belajar medium menunjukkan kemampuan berpikir kritis matematis yang lebih baik dibandingkan dengan siswa dengan kemandirian belajar  rendah, kemampuan tersebut masih belum berkembang secara optimal khususnya dalam aspek penarikan kesimpulan dan pemberian penjelasan lanjutan terhadap jawaban matematika. Sedangkan siswa yang berkategori kemandirian belajar tinggi memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih baik diantara kemandirian belajar tingkat rendah dan sedang. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang searah antara tingkat kemandirian belajar   dengan kemampuan berpikir kritis matematis siswa.   This study aims to describe critical thinking skills in terms of students' self-directed learning. This type of research is descriptive qualitative research. The subjects of the study were 32 students of class XI F02 of Public High School 1 Jekulo, Kudus Regency, Central Java Province, Indonesia in the odd semester of the 2025/2026 academic year. For analysis purposes, subjects were selected using a purposive sampling technique, namely one subject for each self-directed learning category. Research data were collected through critical thinking ability tests, self-directed learning questionnaires, and interviews. Test data were analyzed based on critical thinking ability indicators. The results of this study, it can be concluded that students in the low self-directed learning category have limited mathematical critical thinking skills, especially in decision making and developing mathematical problem-solving strategies. Students in the medium self-directed learning category show better mathematical critical thinking skills compared to students with low self-directed learning; these abilities have not yet developed optimally, especially in the aspect of drawing conclusions and providing further explanations for mathematical answers. Meanwhile, students in the high self-directed learning category have better critical thinking skills among low and medium levels of self-directed learning. This indicates a direct relationship between the level of self-directed learning and students' critical mathematical thinking skills
Memfasilitasi Kemampuan Computational Thinking Siswa Melalui E-Modul Ajar Matematika Berbasis STEM Terintegrasi Dengan Budaya Lokal (Kopi) Ade Irmanopaliza; Rita Pramujiyanti; Nining Setyaningsih
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.24446

Abstract

Kecakapan abad ke-21 menuntut siswa untuk menguasai tiga dimensi utama, yakni literasi, numerasi, dan pendidikan karakter. Dalam konteks ini, Computational Thinking (CT) menjadi sangat penting dalam pembelajaran matematika karena melibatkan proses perumusan masalah, pemecahan masalah, serta penalaran ilmiah yang sistematis. Namun, rendahnya kemampuan computational thinking siswa SMP sering kali disebabkan oleh pembelajaran yang cenderung abstrak dan kurang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Aritmatika sosial sebagai materi yang krusial memerlukan pendekatan kontekstual dan integrasi teknologi untuk membantu siswa memahami konsep sekaligus melatih keterampilan berpikir logis dan sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji validitas serta kepraktisan e-modul matematika berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) yang terintegrasi dengan budaya lokal. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan (Research and Development) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek penelitian melibatkan dua validator ahli, satu guru matematika, dan 31 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Pagar Alam. Instrumen yang digunakan meliputi pedoman wawancara dan lembar angket. Data dianalisis secara deskriptif  kualitatif dan kuantitatif (Sequential explanatory)  dengan desain penjelasan sekuensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-modul yang dikembangkan memenuhi kriteria: (1) sangat valid, dengan rata-rata persentase dari dua ahli sebesar 91,75%; dan (2) sangat praktis, dengan rata-rata skor kepraktisan sebesar 88,33% berdasarkan respons guru; praktis, dengan rata-rata skor kepraktisan sebesar 80,10% berdasarkan respons peserta didik. Selain itu, tahap analisis menunjukkan adanya kesenjangan pada ketersediaan bahan ajar yang masih bersifat konvensional, kurang melibatkan siswa secara aktif, dan ketertarikan siswa terhadap perangkat digital serta kebutuhan akan pembelajaran yang kontekstual. Dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa e-modul berbasis STEM yang mengintegrasikan budaya lokal kopi merupakan media pembelajaran yang valid dan praktis untuk digunakan dalam pembelajaran siswa.    21st-century skills require students to master three key dimensions: literacy, numeracy, and character education. In this context, Computational Thinking (CT) is crucial in mathematics education, as it involves problem formulation, problem-solving, and systematic scientific reasoning. However, the low level of computational thinking skills among junior high school students is often attributed to instruction that tends to be abstract and lacks relevance to daily life. Social arithmetic—a critical topic—requires a contextual approach and technology integration to help students grasp concepts while simultaneously honing logical and systematic thinking skills. This study aims to develop and test the validity and practicality of a STEM-based (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) mathematics e-module that integrates local culture. It employs a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). The study participants included two expert validators, one mathematics teacher, and 31 seventh-grade students from SMP Negeri 2 Pagar Alam. Data collection instruments consisted of interview guidelines and questionnaires. Data were analyzed using a sequential explanatory design, combining qualitative and quantitative descriptive methods. The results indicate that the developed e-module met the following criteria: (1) highly valid, with an average expert validation score of 91.75%; and (2) highly practical, with an average practicality score of 88.33% based on teacher feedback, and practical, with an average score of 80.10% based on student feedback. Furthermore, the analysis phase revealed a gap regarding the availability of conventional teaching materials that failed to actively engage students, contrasted with students' interest in digital devices and the need for contextual learning. The study concludes that the STEM-based e-module, which integrates local coffee culture, serves as a valid and practical learning resource for students.
Analisis Mathematics Anxiety Siswa Berdasarkan Aspek Emosional, Kognitif, Fisiologis, dan Perilaku dalam Asesmen Formatif Materi Bangun Ruang Sisi Datar Ismiyati Ismiyati; Indriastri Nisita; Miftahul Atiqoh; M Farhan Ainun Insani; Yulia Maftuhah Hidayati; Sri Sutarni
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.24827

Abstract

Mathematics anxiety merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi kemampuan siswa dalam menyelesaikan asesmen matematika. Penelitian mengenai mathematics anxiety dalam konteks asesmen formatif masih terbatas, khususnya yang menganalisis aspek emosional, kognitif, fisiologis, dan perilaku pada materi bangun ruang sisi datar yang menuntut kemampuan visualisasi dan penalaran geometri. Penelitian ini bertujuan menganalisis mathematics anxiety siswa berdasarkan aspek emosional, kognitif, fisiologis, dan perilaku dalam asesmen formatif pada materi bangun ruang sisi datar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan melibatkan 35 siswa kelas VII SMP Muhammadiyah 5 Surakarta. Data dikumpulkan melalui angket kecemasan matematis, tes asesmen formatif, observasi, dan wawancara. Berdasarkan hasil angket, siswa dikelompokkan ke dalam kategori kecemasan rendah, sedang, dan tinggi, kemudian dipilih masing-masing satu siswa dari setiap kategori menggunakan teknik purposive sampling untuk dianalisis secara mendalam. Data dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sedangkan keabsahan data diperoleh melalui triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan kecemasan rendah mampu menyelesaikan soal secara sistematis dan percaya diri, siswa dengan kecemasan sedang masih menunjukkan keraguan dalam mengambil keputusan matematis, sedangkan siswa dengan kecemasan tinggi mengalami hambatan pada aspek emosional, kognitif, fisiologis, dan perilaku yang berdampak pada kesulitan memahami masalah, menentukan strategi penyelesaian, dan menyelesaikan perhitungan secara tuntas. Penelitian ini berkontribusi memberikan gambaran komprehensif mengenai mathematics anxiety siswa berdasarkan keempat aspek tersebut sebagai dasar bagi guru dalam merancang asesmen formatif dan pembelajaran matematika yang lebih responsif terhadap kondisi psikologis siswa.   Mathematics anxiety is one of the factors that can affect students' ability to complete mathematics assessments. Studies on mathematics anxiety in the context of formative assessment remain limited, particularly those that comprehensively examine its emotional, cognitive, physiological, and behavioral aspects in the topic of polyhedrons, which requires students' spatial visualization and geometric reasoning abilities. This study aimed to analyze students' mathematics anxiety based on emotional, cognitive, physiological, and behavioral aspects during formative assessment on the topic of polyhedrons. The study employed a qualitative approach involving 35 seventh-grade students at SMP Muhammadiyah 5 Surakarta. Data were collected through a mathematics anxiety questionnaire, formative assessment tests, observations, and interviews. Based on the questionnaire results, students were classified into low, moderate, and high mathematics anxiety categories, and one student from each category was purposively selected for an in-depth analysis. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing, while data trustworthiness was established through technique triangulation. The findings revealed that students with low mathematics anxiety solved problems systematically and confidently, whereas those with moderate anxiety demonstrated hesitation in making mathematical decisions despite being able to complete the tasks. In contrast, students with high mathematics anxiety experienced difficulties in understanding problems, determining appropriate solution strategies, and completing calculations due to emotional, cognitive, physiological, and behavioral barriers. This study contributes to a comprehensive understanding of students' mathematics anxiety across these four dimensions and provides practical implications for designing formative assessments and mathematics instruction that are more responsive to students' psychological conditions.
Pengaruh Model Collaborative Game Based Learning terhadap Pemahaman Konsep Matematika Peserta didik di Sekolah Dasar Erina Kartika Marta Sunjaya; Samsul Maarif
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.25127

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan model Collaborative Game Based Learning (CGBL) berbantuan Mystery Box Challenge terhadap kemampuan pemahaman konsep matematika peserta didik kelas III sekolah dasar pada materi penyusunan data dalam tabel. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dan desain nonequivalent control group. Subjek penelitian berjumlah 56 peserta didik yang terdiri atas 28 peserta didik kelas eksperimen dan 28 peserta didik kelas kontrol di SDN Batu Ampar 02, Jakarta Timur. Kelas eksperimen memperoleh pembelajaran menggunakan CGBL berbantuan permainan matematika Mystery Box Challenge: Data Detective, sedangkan kelas kontrol menggunakan model Direct Instruction. Instrumen penelitian berupa tes esai pemahaman konsep yang telah memenuhi kriteria valid dan reliabel. Analisis data dilakukan melalui uji Shapiro-Wilk, uji Levene, uji Mann-Whitney, serta analisis effect size. Dari hasil pengujian, terungkap bahwa terdapat variasi signifikan pada peningkatan pemahaman konsep matematika yang signifikan antara kedua kelompok dengan nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (< 0,05). Kelas eksperimen memperoleh mean rank sebesar 37,54, lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 19,46. Selain itu, diperoleh nilai effect size sebesar 0,554 yang termasuk kategori besar (large effect). Dengan demikian, model CGBL berbantuan permainan Mystery Box Challenge: Detektif Data terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pemahaman konsep matematika peserta didik sekolah dasar.   This study investigated the effect of implementing Collaborative Game Based Learning (CGBL)  model assisted by the Mystery Box Challenge game on elementary school students’ mathematical conceptual understanding in the topic of organizing data into tables. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a nonequivalent control group design. The sample consisted of 56 third grade students, comprising 28 students in experimental class and 28 students in the control class at SDN Batu Ampar 02, east jakarta. The experimental group was taught using the CGBL model supported by the mathematics game Mystery Box Challenge: Data Detective, while the control group received instruction through the Direct Instruction model. Data were collected using a valid and reliable essay test measuring conceptual understanding. The data were analyzed using the Shapiro-Wilk test, Levene’s test, Mann-Whitney U test, and effect size analysis. The findings revealed a significant difference in the improvement of mathematical conceptual understanding between the two groups, with an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0,000 (< 0,05). The experimental group achieved a higher mean rank (37,54) than the control group (19,46). Furthermore, the effect size value of 0,554 indicated a large effect. Therefore, the CGBL model assisted by the Mystery Box Challenge: Data Detective game significantly and positively improved elementary students’ mathematical conceptual understanding.  
Integrating Canva AI, Wordwall, and Quizizz into Game-Based Learning to Enhance Students' Mathematics Learning Motivation Dewi Lestari; Maylita Hasyim; Hikmah Eva Trisnantari
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.25235

Abstract

Kecemasan kognitif yang tinggi dan penurunan motivasi belajar siswa secara signifikan sering kali dipicu oleh kerangka kerja matematika sekolah menengah yang sangat abstrak dan konseptual. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas empiris dari model Game-Based Learning (GBL) terintegrasi yang berbantuan Canva AI, Wordwall, dan Quizizz dalam meningkatkan motivasi belajar matematika siswa pada materi Fungsi Komposisi. Menggunakan desain kuasi-eksperimental kuantitatif dengan kerangka Non-Equivalent Control Group Design, penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Campurdarat dengan melibatkan dua kelompok yang setara (n=29 di kelas eksperimen dan n=29 di kelas kontrol). Data dikumpulkan melalui Kuesioner Motivasi Belajar Matematika sebanyak 30 item yang telah divalidasi secara komprehensif. Hasil analisis empiris menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar yang substansial pada kelompok eksperimen setelah intervensi. Kelompok eksperimen yang menerapkan GBL digital menunjukkan peningkatan motivasi yang substansial di seluruh dimensi afektif, mencapai skor rata-rata post-test yang menonjol sebesar 84,90 (SD=3,81), sedangkan kelompok konvensional tetap terbatas pada skor rata-rata 65,56 (SD=4,67). Secara teoretis, Canva AI dihipotesiskan dapat berfungsi sebagai pengurang beban kognitif ekstraneus dengan merestrukturisasi simbol matematika yang rumit menjadi skema visual yang intuitif, sementara Wordwall dan Quizizz berpotensi mengoptimalkan beban kognitif germane melalui siklus permainan formatif yang interaktif.Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan AI-Pedagogical Content Knowledge (AI-PCK) dengan menetapkan model sinkronisasi gamifikasi untuk menumbuhkan lingkungan kelas digital yang berkelanjutan di sekolah menengah.   High cognitive anxiety and a notable decrease in student motivation are frequently triggered by the highly abstract and conceptual framework of secondary school mathematics. This study evaluates the empirical effectiveness of an integrated Game-Based Learning (GBL) model assisted by Canva AI, Wordwall, and Quizizz in enhancing students' mathematics learning motivation on the topic of Composite Functions. Employing a quantitative quasi-experimental design, this research was conducted at SMAN 1 Campurdarat involving two equivalent groups (n=29 in the experimental class and n=29 in the control class). Data were gathered through a pre-validated 30-item Mathematics Learning Motivation Questionnaire adapted to modern digital frameworks. The empirical results indicated a distinct statistical divergence post-intervention. Following the intervention, the experimental cohort under the digital GBL framework demonstrated a substantial motivational increase across all dimensions, achieving a prominent post-test mean score of 84.90 (SD=3.81), whereas the conventional group remained constrained at a Mean score of 65.56 (SD=4.67). Synergistically, Canva AI functioned as an extraneous cognitive load reducer by restructuring intricate symbolic data into clear, visually consistent schemas, while Wordwall and Quizizz facilitated germane load optimization through interactive formative game loops. This study advances the discourse on AI-Pedagogical Content Knowledge (AI-PCK) by establishing an empirical model of synchronized gamification to foster a sustainable, student-centered digital classroom environment in secondary mathematics education.  
Eksplorasi Etnomatematika Neptu Pernikahan Adat Jawa di Desa Ketawang Madiun Aidilla Putri Nanda Pratama; Davi Apriandi; Indra Puji Astuti
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.25833

Abstract

Tradisi perhitungan neptu dalam pernikahan adat Jawa masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat sebagai pedoman dalam menentukan kecocokan pasangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep budaya serta konsep dan struktur matematika formal yang terkandung dalam perhitungan neptu pernikahan adat Jawa di Desa Ketawang Kabupaten Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan empat narasumber yang terdiri atas dua sesepuh dan dua masyarakat Desa Ketawang yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian divalidasi melalui triangulasi sumber dan dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perhitungan neptu masih digunakan sebagai pedoman dalam menentukan kecocokan pasangan. Perhitungan di Desa Ketawang menggunakan bilangan 3 sebagai pembagi yang dimaknai secara filosofis dan spiritual melalui Bismillah, Alhamdulillah, dan Innalillah. Penggunaan bilangan tersebut berbeda dengan aturan dalam Kitab Primbon yang menggunakan pembagi 4, 5, 7, atau 10. Konsep matematika formal yang ditemukan meliputi bilangan asli, representasi bilangan, KPK, sifat tertutup dan komutatif pada penjumlahan, aritmatika modulo, serta relasi dan fungsi. Temuan ini menunjukkan adanya keterkaitan antara budaya lokal dan konsep matematika yang berpotensi digunakan dalam pembelajaran matematika berbasis budaya.   The tradition of neptu calculation in Javanese traditional marriage is still maintained by some communities as a guide for determining the compatibility of prospective couples. This study aims to describe the cultural concepts as well as the formal mathematical concepts and structures contained in the neptu calculation of Javanese traditional marriage in Ketawang Village, Madiun Regency. This study employed a descriptive qualitative approach involving four informants, consisting of two elders and two community members of Ketawang Village, selected through purposive sampling. Data were collected through observation, interviews, and documentation, then validated through source triangulation and analyzed qualitatively. The results show that neptu calculation is still used as a guide for determining couple compatibility. In Ketawang Village, the calculation uses 3 as the divisor, which is interpreted philosophically and spiritually through Bismillah, Alhamdulillah, and Innalillah. The use of this divisor differs from the rules in the Primbon book, which uses divisors of 4, 5, 7, or 10. The formal mathematical concepts identified include natural numbers, number representation, least common multiple (LCM), closure and commutative properties of addition, modular arithmetic, and relations and functions. These findings indicate a connection between local culture and mathematical concepts that has potential for use in culture-based mathematics learning.
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Project-Based Learning (PjBL) yang Berorientasi pada Kemampuan Computational Thinking dan Resiliensi Siswa Kelas 8 SMP Aulia Ratna Purnamasari; Heri Retnawati
JIPM (Jurnal Ilmiah Pendidikan Matematika) Vol. 15 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas PGRI Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25273/jipm.v15i1.25892

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan karakteristik perangkat pembelajaran PjBL yang dikembangkan berorientasi pada kemampuan computational thinking dan resiliensi siswa kelas 8 SMP. (2) Menghasilkan dan menjelaskan kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan perangkat pembelajaran PjBL yang berorientasi pada kemampuan computational thinking dan resiliensi siswa kelas 8 SMP. Jenis penelitian ini adalah penelitian R&D. Model pengembangan yang digunakan adalah 4D. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, tes tertulis, dan wawancara. Peneliti mengembangkan perangkat pembelajaran berupa modul ajar dan LKPD berlandaskan proyek yang telah disesuaikan dengan indikator computational thinking, tes tertulis, angket kemampuan resiliensi, dan pedoman wawancara. Perangkat pembelajaran diujicobakan pada tiga sekolah dan peneliti dapat mengetahui sekolah yang sesuai dengan perangkat tersebut. Pada penelitian ini dilakukan triangulasi untuk keabsahan data. Penelitian ini menemukan bahwa perangkat pembelajaran yang dikembangkan memiliki karakteristik berupa modul ajar yang berlandaskan PjBL, LKPD dengan indikator computational thinking berbasis proyek, dan tes kemampuan computational thinking. Resiliensi siswa diukur melalui angket resiliensi. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan layak digunakan berdasarkan aspek kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan. Perangkat pembelajaran yang dikembangkan paling sesuai digunakan untuk sekolah tingkat rendah karena menunjukkan peningkatan nilai yang paling signifikan, sehingga melalui pembelajaran berbasis proyek siswa dapat melihat dan mempelajari materi secara langsung dan nyata.   This study aimed to 1) Describe the characteristics of the PjBL learning materials developed to foster computational thinking and resilience in 8th-grade junior high school students. (2) Produce and explain the validity, practicality, and effectiveness of the PjBL learning materials designed to foster computational thinking and resilience in 8th-grade junior high school students. This study is an R&D study. The 4D model was used for development. Data collection techniques included observation, written tests, and interviews. The researcher developed instructional materials consisting of project-based teaching modules and worksheets aligned with computational thinking indicators, written tests, a resilience skills questionnaire, and interview guidelines. The instructional materials were pilot-tested at three schools, allowing the researcher to identify which schools were suitable for these materials. Triangulation was employed in this study to ensure data validity. This study found that the developed instructional materials consist of PjBL-based teaching modules, project-based worksheets with computational thinking indicators, and computational thinking ability tests. Student resilience was measured using a resilience questionnaire. The instructional materials developed are suitable for use based on their validity, practicality, and effectiveness. These materials are most appropriate for use in elementary schools because they have shown the most significant improvement in test scores; thus, through project-based learning, students can observe and learn the material firsthand and in a concrete way.

Page 1 of 1 | Total Record : 9