cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 304 Documents
Makna Simbolik Arsitektur Gereja Santo Cornelius Kelurahan Pangongangan Kecamatan Manguharjo Kota Madiun Jawa Timur Annisa Tri Rahmawati; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (686.213 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v7i2.1492

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolik arsitektur Gereja Santo Cornelius. Penelitian ini dilakukan di Gereja Katolik Santo Cornelius Kelurahan Pangongangan Kecamatan Manguharjo Kota Madiun. Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian sejarah, sehingga menggunakan metode sejarah dalam pelaksanaanya. Teknik pengambilan data dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik keabsahan data yang digunakan adalah analisis data model interaktif. Gereja Santo Cornelius berdiri tanggal 12 Maret 1899, dibangun dengan memiliki menara dan salib diatasnya. Dinamakan Gereja Santo Cornelius karena Cornelius adalah seorang imam yang bijaksana,saleh dan  seorang imam yang penuh kedamaian, keadilan dan kemuliaan Tuhan dengan Mahkota Kemartiran. Kerena hal itulah, umat Katolik menamakan dengan Gereja Santo Cornelius. Tabernakel dilengkapi dengan lampu yang menyala terus sebagai simbol Yesus Kristus Menyala abadi. Itu sebabnya, ketika orang masuk Gereja biasanya didahului dengan pengambilan air suci di depan pintu masuk lalu melakukan tanda salib dan seterusnya bersujud. Posisi menara diletakkan disebelah kiri pintu masuk, memberikan simbol Allah yang melindungi manusia dengan tangan kanan-Nya (apabila dilihat posisi altar adalah posisi dimana Allah hadir dan memandang ke arah masuk umat),dan makna psikologisnya yaitu memberikan rasa aman mengingat manusia selalu merasa lemah di sebelah kiri.
PERAN SERTA PEREMPUAN DALAM PELESTARIAN KESENIAN TAYUB DI DESA PESU KECAMATAN MAOSPATI KABUPATEN MAGETAN Muhammad Hanif dkk
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.421 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v1i2.707

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran perempuan dalam pelestarian kesenian Tayub di Desa Pesu Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan. Metode penelitian yang digunakan yakni Metode Hermenutika-Mendalam Thomson. Sumber data berasal dari sumber lisan, tertulis, dokumen, lembaga sosial dan tradisi. Informan ditentukan dengan snowball sampling dan pengambilan datanya dengan wawancara, observasi, dan pencatatan dokumen. Sedangkan analisis datanya dengan analisis kualitatif model interaktif. Dari penelitian yang dilaksanakan diperoleh gambaran bahwa perempuan memiliki peran sangat besar dalam melestarikan kesenian Tayub di Pesu. Hal tersebut tercermin dalam perannya sebagai penari (teledek atau sinden) yang terus-menerus mengembangkan kreativitasnya dalam menari, menyanyi, ngadi salira dan ngadi busana, dan sekaligus melaksanakan kaderisasi serta membina apresiasi masyarakat, terutama mencari solusi alternatif untuk mengeliminir citra negatif. Selain itu, tidak sedikit para perempuan di luar komunitas Tayub yang gemar dan nanggap Tayub. Ibu-ibu pejabat juga ikut serta melaksanakan pembinaan-pembinaan sehingga Tayub menjadi lebih menarik dan tetap diminati sampai sekarang.
Kehidupan Demokrasi Indonesia Dan Masalah Gender (Perspektif Sosio-Historis) M.H.Sri Rahayu
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 02 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.617 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i02.826

Abstract

AbstrakStratifikasi sosial menyebabkan terjadinya tingkatan-tingkatan atau kelas-kelas dalam masyarakat di semua belahan bumi ini. Pengaruh jaman pencerahan (Aufklarung) hingga jaman refomasi membawa perubahan yang signifikan dalam perjalanan sejarah umat manusia. Sehingga munculah teori-teori sosial atau teori kelas yang dicetuskan oleh Karl Marx yang dapat membantu analisis sosial untuk memahami ketidakadilan dalam masalah gender. Perkembangan kehidupan demokrasi merupakan salah satu sarana guna memecahkan masalah gender, karena demokrasi memberikan peluang terhadap kesetaraan kehidupan manusia antara pria dan wanita tanpa ada pembedaan status, sehingga terjadilah apa yang dikenal dengan istilah kesejajaran atau mitra sejajar.
MALARI: Studi Gerakan Mahasiswa Masa Orde Baru Ipong Jazimah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 01 (2013)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.295 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v3i01.902

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap: 1) latar belakang terjadinya Peristiwa Malaria 1974; 2) Kronologi peristiwa Malaria 1974; dan 3) Dampak yang ditimbulkan dari peristiwa Malaria 1974 menyangkut kebijakan pemerintah terhadap kegiatan mahasiswa di kampus. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah yang tahapannya meliputi heuristik, kritik sumber (verifikasi), interpretasi dan penyajian (historiografi). Sumber yang akan dipakai dapat dibedakan menjadi dua yaitu sumber primer dan sekunder. Sumber primer yang digunakan adalah koran sejaman, sementara sumber sekunder adalah buku-buku yang ditulis oleh sejarawan berikutnya. Peristiwa Malari bisa dikatakan sebagai titik awal perlawanan terhadap Soeharto secara besar-besaran, ditandai dengan adanya aksi pembakaran, perusakan, dan kerusuhan yang menyebabkan beberapa korban meninggal dan luka-luka.  Sebelum Malari memang telah ada aksi mahasiswa menggugat, aksi Golongan Putih dan sebagainya. Tetapi tidak mampu mengikutsertakan massa dalam jumlah yang cukup signifikan. Namun peristiwa Malari bagi generasi muda yang lahir pada tahun 1973 tidak cukup dikenal dengan baik. Bagi mereka, peristiwa Malari adalah “Peristiwa ribut-ribut di Monas”. Ada juga yang melihat peristiwa Malari sebagai konspirasi para jenderal yang tidak memiliki sandaran politik dalam struktur kala itu, dengan memakai mahasiswa untuk dijadikan alat politik terhadap para petinggi Orde Baru saat itu. Apa pun yang dikatakan oleh generasi muda, namun bagi para pelaku Malari, peristiwa Malapetaka 15 Januari itu adalah momentum awal memanfaatkan kontradiksi di kalangan militer untuk mempertajam kekuatan-kekuataan pro status quo dengan kekuatan yang pro perubahan bagi kepentingan rakyat banyak.
Sejarah Dan Perkembangan Kampung Pecinan Di Kota Madiun Masa Orde Lama Hingga Reformasi (Studi Sosial-Ekonomi) Rizki Aryono Putro; Hartono Hadiwasito
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 3, No 02 (2013)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.669 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v3i02.1467

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap sejarah dan perkembangan kampung Pecinan di Kota Madiun dari masa Orde Lama sampai masa Reformasi. Lokasi penelitian di Kelurahan Pandean Kecamatan Taman Kota Madiun. Dengan memfokuskan pada masyarakat sekitar kampung Pecinan, kondisi kehidupan sosialnya dengan masyarakat Madiun, tradisi-tradisi yang berkembang sampai sekarang ini yang masih dapat dijumpai oleh masyarakat Kota Madiun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masa Orde Lama sistem perekonomian di Indonesia menggunakan sistem perekonomian tertutup, termasuk di Madiun. Pergantian Orde Lama bersamaan yang mengalami perubahan menjadi ekonomi terbuka yang berorentasi kapitalis pada pemerintahan Soeharto. Pemerintah memperkenalkan kebijakan asimilasi yang ditunjukkan pada etnis Cina di Madiun. Pada era Reformasi merupakan masa dimana seluruh rakyat dan khususnya orang-orang Cina sebagai warga Indonesia, bebas dan bertanggung jawab untuk menyampaikan aspirasi demi terciptanya kehidupan bangsa yang maju, damai, sejahtera.
PERAN PENDIDIKAN SEJARAH DALAM PENGEMBANGAN PENGAJARAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR DI LPTK Soebijantoro Soebijantoro
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 1, No 1 (2011)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.664 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v1i1.121

Abstract

Karakteristik masyarakat Indonesia dapat ditunjukkan dengan keragaman, baik suku, bahasa, agama, budaya maupun adat istiadat. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, maka kesadaran akan sifat humanis, pluralis dan demokratis di atas keragaman merupakan sebuah tuntutan. Kristalisasi budaya atas sifat-sifattersebut telah tercatat dalam perjalanan panjang sejarah Indonesia. Pendidikan multikultur di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) diharapkan dapat menumbuhkan empati bagi calon-calon guru yang melihat bahwa keragaman adalah sebuah kenyataan, bukan sesuatu yang harus dihindari. Pendidikan sejarah diharapkan dapat mengantarkan kesadaran itu melalui pengembangan pembelajaran berbasis kultural dengan acuan pengalaman kolektif bangsa Indonesia. 
Pengembangan Model Pembelajaran Budi Pekerti Berbasis Multikultural Herimanto Herimanto; Triyanto Triyanto; Musa Pelu
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 4, No 01 (2014)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.612 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v4i01.817

Abstract

Long-term goal of this study was to character-based learning model can be applied in the implementation of the multicultural character education curriculum in junior high school (SMP) in Surakarta as an effort to prevent a culture of violence in Surakarta. The target of this study is the identification of a model-based development of multicultural learning manners. To achieve these objectives do Research and Development (R & D) gradually for 3 (three) years. This study used a qualitative paradigm, which I pursued in the exploratory method; year to second with the method of exposure, focus groups, workshops, and in-depth interviews; year to III with training methods, test models, evaluation of the test results, the revised and improved model that has been tested, and dissemination of results. development. Concrete measures in the first year were identified: 1) initial ability of teachers to implement character education multicultural education based learning process in implementing character education curriculum. 2) Perception of teachers character education based on learning multicultural education. 3) Perceptions of stakeholders (Department Dikpora / Surakarta City Government, parents / guardians, school character education) to the learning process based multicultural education. 4) Identify the extent of the implementation of character education has been developed through a learning process based on multicultural education, and 5) draft a tentative model of the development of learning-based multicultural character as prevention of the culture of violence in Surakarta. Data collected from other informants, places and events as well as documents / files, or through focus groups, which further analyzed with interactive models.The results obtained in the studies I dart this, namely: (1) The teachers have implemented a character education character-based multicultural learning through discussion methods, simulations, games, community service, observations, as well as the provision of materials in the classroom manners. However, most teachers do not understand the concept of multicultural education, (2) The teachers and stakeholders strongly support the learning plan based multicultural character, given that smells sara violence that often involve the students, (3) learning manners have been implemented with based multicultural through the process of learning, habituation, and modeling. Habituation and modeling performed by all the schools, while the learning process implemented by educators character education, (4) learning manners are still a lot of barriers or obstacles that come dart students, teachers / administrative staff-employees, the environment around the school, funds, facilities and infrastructure, principals, parents, and government policy.
Multikulturalisme Dalam Perspektif Budaya Pesisir Singgih Tri Sulistiyono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 01 (2015)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (750.631 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v5i01.893

Abstract

Paradigma multikulturalisme yang menekankan sikap dialog, toleransi, dan kesediaan untuk koeksistensi damai dalam keberagaman sesui dengan salah satu pilar kebangsaan Indonesia, yaitu Bhinneka Tungal Ika. Hal itu sesuai dengan relitas bangsa Indonesia yang bersifat plural sehingga membutuhkan paradigma yang mampu membingkai keberagaman. Masyarakat dan peradaban pesisir memiliki perspektif multikulturalisme yang berakar dari latar belakang historisnya. Perspektif multikulturalisme peradaban pesisir dapat dilihat dari sifat kosmopolitanitas dan pluralitas masyarakat dan budayanya. Masyarakat pesisir sejak lama telah memiliki jaringan nteraksi global yang sangat luas memlaui berbagai media seperti pelayaran, perdagangan, migrasi, dan sebagainya. Masyarakat dan budaya pesisir merupakan bagian yang inheren dari budaya dunia. Sifat kosmopolitanitas ini yang menyebabkan peradaban pesisir ini memiliki sifat terbuka, demokratis, toleran, dialog, kemauan unutk berkoeksistensi damai. Sementara itu sifat pluralitas masyarakat dan budaya pesisir juga tidak dapat dilepaskan dari akan historis. Sejak zaman kuno masyarakat pesisir merupakan masyarakat yang plural sebagai akibat dari kegiatan pelayaran, perdagangan, hubungan-hubungan politik dan budaya, diaspora, dan sebagainya. Hal ini mengondisikan masyarakat pesisir sebagai masyarakat plural. Pengalaman hidup bersama dalam perbedaan namun memiliki kepentingan yang sama telah melahirkan mentalitas multikulturalisme yang merupakan ciri inheren peradaban pesisir. Peradaban pesisir merupakan peradaban yang dinamis dan selalu terbuka bagi perubahan. Dalam perjalanan sejarah selalu terjadi proses pembentukan dan pembentukan kembali identitas masyarakat yang bergantung kepada dinamika internal dan pengaruh eksternal.
ANALISIS MUATAN KURIKULUM PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KTSP DITINJAU DARI PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Yudi Hartono
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (942.408 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v2i2.1458

Abstract

Bangsa Indonesia saat ini sedang dihadapkan pada berbagai tantangan yang cukup berat. Salah satunya adalah persoalan karakter bangsa. Pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter bangsa merupakan salah satu upaya strategis di tengah krisis identitas dan peradaban bangsa. Penelitian ini mengkaji muatan pendidikan karakter dalam KTSP dan relevansinya dengan upaya pembangunan karakter bangsa. Penelitian dilakukan dengan studi pustaka. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder, yaitu dokumen KTSP dan bahan-bahan pustaka berkualifikasi tinggi terkait dengan kurikulum, pendidikan karakter, dan pembangunan bangsa serta bahan-bahan pustaka yang memberikan tambahan penjelasan atas sumber primer. Bahan-bahan yang terkumpul diolah, diidentifikasi, diklasifikasi, dianalisis dan dideskripsikan berdasarkan rumusan masalah yang pada akhirnya dijadikan bahan pengambilan kesimpulan dan saran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KTSP 2006 mengandung 95 nilai karakter. Nilai-nilai tersebut telah mencakup tiga ranah (kognitif, afektif, dan psikomotorik) yang cukup seimbang sehingga tinggal bagaimana implementasi kurikulum tersebut di lapangan agar dapat mendukung pembangunan karakter bangsa yang diharapkan.
Penerapan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif Terhadap Mahasiswa IKIP Budi Utomo Malang Muhammad Naharuddin Arsyad; Fatmawati fatmawati
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.238 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v8i2.2702

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan dan penerapan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif materi sejarah peradaban Romawi kuno terhadap peningkatan hasil belajar mahasiswa prodi Sejarah dan Sosiologi IKIP Budi Utomo Malang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen, dengan desain penelitian one group pretest posttest design. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa Angkatan 2016 kelas A prodi Sejarah dan Sosiologi IKIP Budi Utomo Malang. Pengambilan sampel dilakukan melalui teknik purposive sampling satu kelas. Dari hasil validitas ahli materi dan ahli desain media terhadap media pembelajaran berbasis multimedia interaktif diperoleh masing-masing total nilai 80% dan 87% dengan kriteria valid dan sangat valid. Sehingga dengan hasil ini menunjukkan bahwa media pembelajaran berbasis multimedia interaktif materi Sejarah peradaban Romawi kuno layak digunakan. Dari hasil uji kolmogorov-smirnov dengan menggunakan SPSS 14 diperoleh bahwa subjek penelitian terdistribusi normal dan berdasarkan hasil uji-t Paired Samples Test diketahui bahwa nilai sig sebesar 0,000 > 0,05. Sedangkan thitung -16.071 dan untuk ttabel pada taraf signifikan α = 5% (0,05) dengan derajat kebebasan (df) n-1 atau 45-1 = 44. Pengujian 2 sisi ( signifikansi = 0,025) hasil diperoleh untuk ttabel pada 2,01537 dengan taraf signifikan 0,025. Didapatkannya hasil -thitung < -ttabel (-16.071 < -2,01537) maka H0 ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan media pembelajaran berbasis multimedia interaktif pada materi sejarah peradaban romawi kuno dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa prodi sejarah dan sosiologi IKIP Budi Utomo Malang.