cover
Contact Name
Khoirul Huda
Contact Email
khoirulhuda@unipma.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
agastya@unipma.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota madiun,
Jawa timur
INDONESIA
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA
ISSN : 20878907     EISSN : 25022857     DOI : -
Agastya: Jurnal Sejarah dan Pembelajarannya is a biannual journal, published by Universitas PGRI Madiun on January and July, with regitered number ISSN 2087-8907 (printed), ISSN 2502-2857 (online). Agastya provides a forum for lecturers, academicians, researchers, practitioners, to deliver and share knowledge in the form of empirical and theoretical research articles on historical education and learning.
Arjuna Subject : -
Articles 298 Documents
ARTI PENTING HISTORIOGRAFI DAN METODOLOGI DALAM PENELITIAN SEJARAH Triana Habsari, Novi
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : IKIP PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Arah  historiografi Indonesia  sejak tahun 1980 an  mengalami perkembangan yang pesat. Tema-tema mulai bergeser dari  sejarah-orang besar ke sejarah orang-orang kecil atau rakyat biasa. Disertasi Sartono Kartodirdjo mengenai pemberontakan Banten tahun 1988 dengan perspektif Indonesia sentris, memang mendapat perubahan yang besar  khususnya pendekatan dan sumber-sumber yang digunakan, juga telah memperoleh banyak pengikut, terutama para muridnya di Universitas Gajahmada dan para sejarawan Indonesia yang dididik di Belanda dalam program kerjasama Indonesia Belanda. Penggunaan sejarah lisan  nampaknya berjalan sejajar dengan perkembangan  historiografi Indonesia dan historiografi Sejarah Lisan . Walaupun demikian cara-cara di dalam  mana sejarawan  menggunakan sumber lisan , membaca memeori yang sampai kepadanya masih menjadi problematika. Sikap kritis dan menempatkan obyek (memori) dalam konteks yang lebih luas semestinya  dipertimbangkan , agar sejarawan  tidak terporosok ke dalam detil-detil yang tak bermakna dan bisa membuat gambaran historis  yang komprehensip.Salah satu pendekatan baru yang dimaksud adalah kelompok Subaltern history  pada awalnya dikembangkan oleh sejarawan India  di penghujung tahun 1980 an.  Melalui fusi pendekatan sejarah dan antropologi, di sebut juga sebagai sejarah alternatif. Dia muncul sebagai reaksi terhadap sejarah nasional India yang satandarnya neo imperialis.  Ada sebelas jilid buku sejarah Subaltern yang telah diterbitkan. Terlepas dari kritik yang diajukan terhadap pendekatan ini. Yang jelas  bahwa pengaruh  sejarah Subaltern juga sudah meluas  ke Amerika latin. Menurut hemat saya apa esensi yang kita harus ubah jika kita akan mengikuti   kelompok tersebut  yaitu mengjejaki perubahan-perubahan metode, asumsi dan proposisi dalam historiografi Indonesia ke depan adalah  bagaimana mendefenisikan masalah-masalah  dan kemungkinan sejarah harus dilihat sebagai total history  seperti yang sudah lama didengun-dengunkan oleh  aliran Annales School.
PERANAN MBAH WO KUCING DALAM PELESTARIAN REOG DAN WAROK DI KABUPATEN PONOROGO Adi Primawan, Reza; Nurcahyo, Abraham
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 1 (2015)
Publisher : IKIP PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang Peranan Mbah Wo Kucing dalam pelestarian Reog dan Warok di Kabupaten Ponorogo. Penelitian dilakukan di Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif-deskriptif. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang berupa informan dan sumber data sekunder yang berupa sumber pustaka, arsib, wawancara, dan pengamatan lapangan. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tiga macam yaitu: observasi, dokumentasi, dan wawancara yang dilakukan dengan teknik purposive sampling. Validasi yang digunakan untuk menguji kebenaran data menggunakan trianggulasi sumber penelitian. Sedangkan analisis data menggunakan analisis model interaktif yang terdiri dari reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi.Dari penelitian yang dilaksanakan diperoleh gambaran, bahwa perkembangan Reog dan Warok Ponorogo tidak lepas dari campur tangan orang-orang yang peduli terhadap keberlangsungannya. Salah satu tokoh yang giat untuk melestarikan Reog dan Warok di Kabupaten Ponorogo adalah Kasni Gunapati (Mbah Wo Kucing). Kasni Gunopati (Mbah Wo Kucing) lahirpada tanggal 30 Juni 1934 di Desa Kauman Kecamatan Kauman Kabupaten Ponorogo. Mbah Wo Kucing merupakan anak pertama dari empat bersaudara putra pasangan Martorejo dan Sutilah. Usaha Kasni Gunapati (Mbah Wo Kucing) dalam melestarikan budaya lokal Ponorogo adalah dengan mendirikan paguyuban Reog Ponorogo yang diberi nama Pujangga Anom. Paguyuban Reog Pujangga Anom berdiri pada tahun 1966 sampai Mbah Wo Kucing meninggal dunia Semasa hidup Mbah WO Kucing mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan Kesenian Reog Ponorogo dengan cara melatih murid-muridnya agar nilai-nilai karakter dalam kesenian Reog Ponorogo selalu ada dalam hati para penerusnya. Adapun peninggalan dan bukti konkret dari sepak terjang Paguyuban Pujangga Anom yang didirikan oleh Mbah Wo Kucing adalah dua dhadak merak sekaligus kepala barongannya, satu set gong, dua kendhang, satu slompret, dan pakaian-pakain menari milik murid-murid Mbah Wo Kucing. Selain itu dalam hidupnya Mbah Wo Kucing tetap menggunakan identitas Warok Ponorogo sebagai identitas dirinya. Sebagai masyarakat asli Ponorogo istilah Warok dan sebuah paguyuban Reog tidak bisa dipisahkan. Warok merupakan seorang pelaku seni sekaligus yang membahwahi sebuah paguyuban tersebut.
SUA DARA SEBAGAI ALTERNATIF MEDIA PEMBELAJARAN SEJARAH MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH IKIP PGRI MADIUN Triana Habsari, Novi
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : IKIP PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembelajaran sejarah hendaknya dapat dilaksanakan dengan kegiatan yang inovatif, kreatif, dan menarik sehingga mampu memotivasi peserta didik untuk lebih mencintai sejarah. Selama ini paradigma yang berkembang hanyalah terkesan menyudutkan sejarah, bagaimana tidak, sejarah di klaim merupakan mata pelajaran yang membosankan. Pendidik dalam menyampaikan materipun tidak jarang yang hanya ceramah tanpa dibubuhi fakta. Kurangnya upaya untuk menerapkan metode pengajaran dan juga kreativitas dalam menciptakan media pembelajaran pun semakin memperparah citra sejarah. Melihat berbagai permasalahan yang ada, penulis memberikan salah satu alternatif berupa media Sua Dara. Media ini merupakan visualisasi dari benda-benda cagar budaya yang ada di sekitar Madiun. Melalui pembuatan media ini diharapkan mahasiswa akan termotivasi dantertarik untuk mempelajari sejarah lebih luas lagi. Selain itu adanya medi Sua Dara ini diharapkan mampu memberikan gambaran kepada mahasiswa bahwa belajar sejarah itu menyenangkan terlebih kita menjadi tahu ternyata di sekitar tempat tinggal banyak terdapat benda cagar budaya. Sehingga dengan demikian kesan buruk mahasiswa ataupun peserta didik terhadap sejarah menjadi hilang dan tergantikan oleh image bahwapembelajaran sejarah itu menarik.
HISTORIOGRAFI PEMBEBASAN: SUATU ALTERNATIF Tri Sulistiyono, Singgih
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 6, No 1 (2016)
Publisher : IKIP PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Terdapat banyak sinyalemen yang mengatakan historiografi Indonesia telah tidak mampu menunaikan fungsinya dalam ikut memecahkan persoalan-persoalan yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa Indonesia. Padahal, pada saat ini masyarakat Indonesia sedang menghadapi berbagai macam persoalan seperti kemiskinan, ketidakadilan, ketergantungan, eksploitasi, dan sebagainya menyusul terjadinya badai krisis ekonomi sejak tahun 1998.Ketidakmampuan historiografi Indonesia untuk ikut ambil bagian dalam memecahkan persoalan bangsa di samping disebabkan oleh keterbelengguan pada formalisme metodologi dan epistemologi, juga disebabkan oleh kekurangberanian sejarawan untuk menggugat realitas kekinian. Dalam hal inilah, “historiografi pembebasan” dapat dijadikan sebagai sebuah alternatif historiografi yang akan mampu membebaskan pikiran masyarakat dari belenggu mitos kelampauan sehingga memiliki kesadaran terhadap penyelesaian persoalan kekinian dan cita-cita di masa depan. Untuk itu, kajian “historiografi pembebasan” lebih menekankan kepada persoalan-persoalan kontemporer yang sedang menghimpit masyarakat Indonesia saat ini seperti kemiskinan, ketidakadilan, ketergantungan, dan sebagainya yang sudah diterima sebagai sebuah keniscayaan. Dengan demikian, kajian “historiografi pembebasan” akan menggunakan point of departure kekinian untuk mengkaji masa lampau sehingga kajian sejarah tidak tercerabut dengan akar kepentingan masa kini. Dalam hubungan itu, “historiografi pembebasan” mengedepankan komitmen kepada nilai-nilai keindonesiaan dengan dasar kemanusiaan, yaitu kembali kepada cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945.
SEJARAH KESENIAN WAYANG TIMPLONG KABUPATEN NGANJUK Wibowo, Anjar Mukti; Putra Ardany, Prisqa
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : IKIP PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap Sejarah Kesenian wayang Timplong Kabupaten Nganjuk. Penelitian ini dilakukan selama 4 bulan yaitu bulan Februari sampai Juli. Adapun bentuk penelitian  ini merupakan pendekatan kualitatif. yang menggambarkan, meringkaskan berbagai kondisi, berbagai situasi, atau berbagai fenomena realitas sosial yang ada di masyarakat. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data yang dipakai yakni sumber data primer dan sumber data Sekunder. Teknik pengambilan data yaitu dengan menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Validasi  yang dipergunakan untuk mengkuji kebenaran data yaitu menggunakan Trianggulasi sumber. Analisis data yang digunakan adalah analisis data model interaktif Miles dan Huberman yang didalamnya terdapat tiga tahapan  yaitu melalui proses reduksi data, sajian data dan verifikasi data              Berdasarkan hasil penelitian  dapat diketahui bahwa Sejarah kesenian wayang Timplong di Kabupaten Nganjuk berasal dari Desa jetis Kecamatan Pace yang di ciptakan oleh Mbah bancol pada tahun 1910 dikarenakan  kegemaran mbah Bancol masa kecil senang menonton pertunjukkan kesenian wayang Klithik yang berinisiatif membuat wayang baru yang berbeda dengan wayang lainnya dan semata mata untuk hiburan. Keahlian mendalang mbah Bancol diturunkan kepada putranya Ki Karto Guno hingga Ki Tawar Perkembangannya proses pewarisan mendalang wayang Timplong  bukan lagi dari garis keturunan, yang mengakibatkan banyak bermunculan dalang-dalang wayang Timplong yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Nganjuk luar Desa Jetis. Pada awalnya kesenian wayang Timplong dipentaskan sebagai sarana hiburan saja namun kini menggalami perubahan kesenian wayang Timplong lebih banyak dipentaskan sebagai sarana ritual upacara seperti ruwatan dan bersih desa. Pada tahun 2005 salah satu dalang wayang Timplong di Kabupaten Nganjuk  mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo sebagai apresiasi seniman kesenian Tradisional. Pada saat ini kesenian wayang Timplong tidak hanya dipentaskan di daerah Nganjuk saja tapi di luar Nganjuk dalam acara pentas seni untuk lebih mengenalkan kesenian wayang Timplong.
Kesadaran Berbangsa Dan Elite Baru Dalam Historiografi Buku Teks SMA Kelas XI Kurikulum 2006 Andre Bagus Irshanto
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.66 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v9i1.2824

Abstract

Buku   teks   sejarah adalah salah satu   hasil   dari  karya   historiografi   yang peruntukannya  untuk   kepentingan  pendidikan terutama    untuk dijadikan   bahan  acuan    untuk mengajar  di kelas   oleh guru,  dan bagi siswa   buku teks  dijadikan sebagai  salah satu  sumber    belajar  sejarah .  Dalam buku  teks  sejarah  selain  sebagai    alat pendidikan  juga   dapat  digunakan sebagai  alat untuk menanamkan  ideologi atau  faham   tertentu  melalui     peristiwa  sejarah   yang disesuaikan   dengan  rezim  yang  berkuasa  saat itu  pada  massa  orde  baru   buku teks  sejarah sangat  kental   akan  unsur  ideologisme     terutama    pancasila   dan militerisme    dibandingkan   dengan  saintifisme     keilmuan  sejarah  itu  sendiri .  Metode  yang digunakan dalam  menulis     makalah ini  adalah  metode  analisis   isi  , yaitu  memberikan    penafsiran dan pemaknaan  terhadap teks-teks  yang  berasal dari buku teks  sejarah    .   Dalam  tulisan ini  penulis  akan  mengambil  contoh  historiografi   buku  teks  pasca  orde   baru   yaitu  buku    teks  sejarah   ketika  diberlakukannya     kurikulum 2006   (KTSP)  pada  kelas  XI   jurusan  IPS  dengan    bab  yang  akan dikaji    mengenai    masa    pergerakan  nasional (  1908-1942).   Dalam  tulisan ini  akan  mengkaji mengenai   konsep  elite  baru   dan kesadaran  berbengsa  pada  massa  pergerakan  nasional.
Upacara Mendhak Ki Buyut Terik (Studi Nilai Budaya Dan Potensinya Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah) Yeti Ika Nur Hayati; Muhammad Hanif
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (757.827 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v9i1.3638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan upacara mendhak Ki Buyut Terik di Desa Tlemang Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan studi nilai budaya dan potensinya sebagai sumber pembelajaran sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan sumber data primer dan skunder. Informan ditentukan dengan mengunakan teknik Snowball sampling. Pengumpulan data mengunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya dengan teknik Coding Model Strauss dan Corbin. Hasil penelitian menggambarkan bahwa upacara mendhak Ki Buyut Terik merupakan upacara tradisional yang diselenggarakan disetiap tahunya pada tangal 24-27 Jumadil Awal di dalam pelaksanaanya terdapat 4 rangkaian kegiatan yang harus dilakukan yaitu: upacara duduk sendang, upacara bersih cungkup, pagelaran wayangan dan sanggringan. Nilai budaya yang terkandung dalam upacara mendhak Ki Buyut Terik adalah nilai gotong royong, nilai kerohanian, nilai spiritual, nilai moral, nilai keadilan, dan nilai kesejahteraan. Upacara mendhak Ki Buyut Terik ini memiliki nilai budaya yang berpotensi sebagai sumber belajar sejarah mengenai zaman Islam dalam aspek budaya dalam masyarakat sekarang terutama dalam penegakkan nilai-nilai kemasyarakatan, kelestarian budaya dan nilai-nilai Islami.
Pengaruh Model Pembelajaran STAD Berbantu Media Film Situs Astana Gede Kawali Terhadap Kesadaran Sejarah Siswa (Studi Penelitian Kuasi Eksperimen Di Kelas X SMAN 1 Baregbeg) Yadi Kusmayadi; Aan Suryana
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (756.734 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v9i1.3413

Abstract

Penelitian ini berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Student Team’s Achievment Division (STAD) Berbantuan Media Film Situs “Astana Gede Kawali Terhadap Kesadaran Sejarah Siswa (Studi Penelitian Kuasi Eksperimen Di Kelas X SMAN 1 Baregbeg). Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan perbedaan pengaruh model pembelajaran kooperatif Student Teams Achievment Division (STAD) berbantuan media film situs “Astana Gede Kawali” terhadap kesadaran sejarah siswa pada mata pelajaran sejarah, serta menemukan pengaruh kesadaran sejarah terhadap hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan menggunakan Desain Kelompok Kontrol Non-ekuivalen.  Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 1 Baregbeg. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu pemilihan secara acak atau random sampling dengan cara pengundian. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas X  di SMAN 1 Baregbeg dan kelas XIPA 1 dan X IPA 2. Teknik pengumpulan data menggunakan tes dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertama, terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar dan kesadaran sejarah siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD berbantuan media film Situs Astana Gede Kawali dengan siswa yang tidak menggunakan model pembelajaran kooperatif STAD berbantuan media film, yaitu hasil belajar rata-rata  76,19 untuk kelas eksperimen dan 69,29 untuk kelas kontrol. Kedua, terdapat pengaruh kesadaran sejarah dan hasil belajar siswa.
Kajian Sosioreligi Nilai-Nilai Upacara Aruh Baharin Dalam Masyarakat Dayak Meratus Halong Kabupaten Balangan Sebagai Sumber Pembelajaran Nilai Berbasis Multikultural Rydho Bagus Pratama; Abraham Nurcahyo
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (697.791 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v9i1.3640

Abstract

Penelitian ini, bertujuan untuk menyatakan bagaimana nilai-nilai positif dalam sistem religi dari budaya lokal Dayak Meratus Halong. Penelitian ini, juga menekankan pada aspek nilai-nilai positif dari budaya, adat-istiadat, dan kearifan lokal dari suku Dayak Meratus Halong. Hal tersebut termanifestasikan dalam sistem religi yang dinamakan sebagai “Aruh baharin”. Pembahasan tentang nilai-nilai upacara aruh baharin dalam masyarakat dayak meratus halong dijelaskan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, dimana jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif yaitu jenis penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena yang ada, baik secara alamiah atau rekayasa buatan manusia. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data meliputi tahap reduksi data, tahap penyajian data, dan tahap penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini adalah Aruh baharin adalah sebuah hajatan besar atau pesta panen padi yang diadakan oleh masyarakat Dayak Meratus Halong. Prosesi upacara aruh baharin berlangsung pada empat tempat pemujaan, salah satu tempat terpenting bagi masyarakat Dayak Meratus Halong adalah dibalai adat Sarumpun. Kegiatan dibalai adat, upacara aruh baharin berlangsung dengan skala yang lebih besar. Prosesinya diadakan selama 7 hari siang dan malam. Sedangkan untuk skala yang lebih kecil lagi, diadakan dirumah warga secara pribadi selama 3 hari siang dan malam. Prosesi puncak dari ritual upacara aruh baharin terjadi pada malam ketiga hingga keenam, di mana para balian melakukan proses batandik (menari) mengelilingi tempat pemujaan dengan diiringi oleh bunyi-bunyian alat musik tradisional berupa gamelan.
Pengembangan Bahan Ajar (Modul) Sejarah Indonesia Berbasis Candi-Candi Di Blitar Untuk Meningkatkan Kesadaran Sejarah Wafiyatu Maslahah; Lailatul Rofiah
AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA Vol 9, No 1 (2019)
Publisher : UNIVERITAS PGRI MADIUN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.841 KB) | DOI: 10.25273/ajsp.v9i1.3418

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan jangka panjang yakni supaya pembelajaran sejarah Indonesia lebih bermakna dan mampu menanamkan sikap kepada peserta didik. Target yang ingin dicapai dalam penelitian ini yakni dapat menghasilkan sebuah produk bahan ajar (modul) yang dapat digunakan untuk melengkapi pembelajaran sejarah Indonesia pada Madrasah Aliyah Swasta Se-Kabupaten Blitar serta dapat menumbuhkan kesadaran sejarah pada siswa. Rencana penelitian akan menggunakan model pengembangan  (Research and Development). Langkah-langkah yang akan dilakukan yaitu 1.) studi pendahuluan dilakukan dengan menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif, 2.) tahap observasi untuk mengumpulkan informasi tentang candi-candi di Blitar, 3.) tahap pengembangan desain bahan ajar (modul) yaitu a.) Mendesain, b.)Validasi desain oleh ahli, c.) Revisi desain, d.) Uji coba produk, e.) Mengevaluasi dan merevisi produk, f.) Uji coba pemakaian, g.) Revisi produk, h.) Produksi, 4.) tahap uji efektifitas bahan ajar (modul) untuk meningkatkan keasadaran sejarah dengan eksperimen quasi dengan tahap sebagai berikut a.) Uji normalitas, b.) Uji Homogenitas, dan b.) Uji t.  Hasil dari penelitian ini bahwa 1.) pengembangan bahan ajar (modul) sejarah indonesia berbasis candi-candi di kabupaten blitar untuk meningkatkan kesadaran sejarah memiliki kelayakan karena telah dilakukan validasi oleh validator  dengan diperoleh nilai rata-rata 3,75. Dilakukan uji terbatas dan uji lebih luas dengan masing-masing rata-rata yang diperoleh 3,5 dan 3,775. 2.) Efektifitas pengembangan bahan ajar (modul) sejarah Indonesia berbasis candi-candi di Kabupaten Blitar yang dikembangkan untuk meningkatkan kesadaran sejarah sangat efektif diketahui bahwa thit : 4,823 > ttab 1,683 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Page 8 of 30 | Total Record : 298