cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Litbang Industri
ISSN : 22523367     EISSN : 25025007     DOI : 10.24960
Core Subject : Engineering,
Jurnal Litbang Industri (JLI) adalah jurnal ilmiah yang terbit secara berkala dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. JLI memuat artikel primer yang bersumber langsung dari hasil riset industri, olahan hasil pertanian, penanggulangan pencemaran industri. Semua naskah direview oleh mitra bestari. Jurnal Litbang Industri Padang diterbitkan oleh Balai Riset dan Standardisasi industri Padang, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. p-ISSN: 2252-3367 e-ISSN: 2502-5007
Arjuna Subject : -
Articles 357 Documents
Pemanfaatan Limbah Cair Pengempaan Gambir untuk Pewarnaan Kain Batik Failisnur, Failisnur; Sofyan, Sofyan; Hermianti, Wilsa
Jurnal Litbang Industri Vol 7, No 1 (2017)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.233 KB) | DOI: 10.24960/jli.v7i1.2695.19-28

Abstract

Gambier is a potential plant in West Sumatra with production about 17,160 tonnes in 2014. It will be released about 4,290,000 L of unutilized wastewater from that production which is dumped around production area. The wastewater odor is acidic with pH of 3-4 and contaminating the surrounding environment. Tannin content of the wastewater is high enough so it is good to be used as a dye. The research objective was to utilize wastewater of gambir as a dye in some types of batik fabrics. Variations of treatment in this study were 4 types of fabrics: cotton, silk, viscose and dobby, and addition of mordant metal Al2(SO4)3, CaO, and FeSO4. The result showed that the color direction of the fabrics varied from light brown, brown to blackish brown. Viscose fabric provided the highest color strength, followed by dobby fabrics. Silk and cotton fabrics produced non significant color strength. The test results of color fastness to washing in 40°C, light, and rubbing were generally good to excellent value (4-5). Test result of tear strength when compared with fabric blank showed that dyeing with gambir not reduce the fabric tear strength.ABSTRAKGambir merupakan tanaman perkebunan yang cukup banyak di Sumatera Barat dengan produksi tahun 2014 sekitar 17.160 ton. Dari produksi tersebut akan menghasilkan limbah cair sekitar 4.290.000 L yang dibuang di sekitar area produksi dan belum dimanfaatkan. Limbah cair tersebut berbau asam dengan pH 3-4 dan berpotensi mencemari lingkungan sekitarnya. Kandungan tanin dari limbah cair ini cukup tinggi sehingga sangat baik untuk dimanfaatkan sebagai pewarna. Tujuan penelitian adalah memanfaatkan limbah cair gambir sebagai pewarna pada beberapa jenis kain batik. Penelitian ini memvariasikan perlakuan penggunaan 4 jenis kain yaitu kain katun, kain sutera, kain viskos, dan kain dobi, dengan penambahan logam mordan Al2(SO4)3, CaO, dan FeSO4. Hasil penelitian didapatkan arah warna kain bervariasi dari coklat muda, coklat sampai coklat kehitaman. Jenis kain viskos memberikan intensitas warna paling tinggi, diikuti dengan kain dobi. Kain sutera dan kain katun memberikan intensitas yang tidak berbeda nyata.  Hasil uji ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40oC,  sinar matahari, dan gosokan pada umumnya bernilai baik sampai baik sekali (nilai 4-5). Hasil pengujian ketahanan sobek kain bila dibandingkan dengan kain blanko memperlihatkan bahwa pencelupan dengan gambir tidak menurunkan kekuatan sobek kain.
Back Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 1 Juni Tahun 2018 Sofyan, Sofyan
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.839 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i1.3998.%p

Abstract

Back Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 1 Juni Tahun 2018
Pemanfaatan modified cassava flour dan tepung tapioka sebagai bahan pengisi keju cedar olahan Gunawan Priadi; Fitri Setiyoningrum; Fifi Afiati; Rizal Syarief
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.245 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4050.61-66

Abstract

Ubi kayu merupakan sumber karbohidrat yang berpotensi sebagai bahan pengisi keju cedar olahan. Pengkajian terhadap karakteristik fisikokimia keju cedar olahan bertujuan untuk memperoleh model formula penambahan bahan pengisi berbasis ubi kayu dan mengetahui nilai kesukaan terhadap keju cedar olahan terpilih. Penelitian terdiri dari beberapa tahap yaitu pembuatan keju cedar olahan, karakterisasi keju olahan, penentuan model fomula penambahan bahan pengisi berbasis ubi kayu, verifikasi formula terpilih dan uji organoleptik terhadap produk dengan model formula terpilih. Pembuatan keju cedar olahan mengunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor. Penentuan model formula mengunakan respon permukaan historical data. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan mocaf dan tapioka dengan variasi konsentrasi berpengaruh signifikan terhadap kadar lemak dan karbohidrat produk, sedangkan kadar air, kadar abu, kadar protein dan profil tekstur produk tidak dipengaruhi secara signifikan. Penambahan tapioka 3% (b/b) merupakan model formula terpilih keju cedar olahan dengan karakteristik kadar air 46,96 %; kadar protein 36,39 % (bk); kadar lemak 36,05 % (bk); kadar karbohidrat 5,09% (bk), nilai kekerasan 844,518 gF; daya adhesive 69,739 g/s; elastisitas 0,421; daya kohesif 0,424; kelengketan 358,697 gF; dan daya kunyah 151,244 gF serta nilai kesukaan keju cedar olehan formula terpilih cenderung netral. Mocaf dan tapioka dapat dijadikan bahan pengisi keju cedar olahan.AbstractCassava is a potential source of carbohydrate as a filler for processed cedar cheese. Study of physicochemical characteristics of processed cheddar cheese was done to obtain the formula of the cassava based filler addition and preferential value of the selected formula. The research  consisted of some steps, i.e. processed cheddar cheese production, processed cheddar cheese characterization, determination of processed cheddar cheese formula model, verification of selected formula, and hedonic test on selected formula product. Preparation of processed cheddar cheese using randomized complete design with one factor, while the formula modeling using response surface with historical data method. The result showed that the use of modified cassava flour (mocaf) and tapioca with different concentration significantly influenced (p<0,05) to the increasing fat and decreasing carbohydrate content of the product, while the water, ash, protein and texture profile ore not significantly influenced. The addition of 3% tapioca (w/w) was selected as formula model with the characteristic water content 46.96%; protein 36.39% (db); fat 36.05% (db); carbohydrate 5.09% (db), hardness 844.518 gF; adhesiveness 69.739 g/s; springiness 0.421; cohesiveness 0.424; gumminess 358.697 gF; and chewiness 151.244 gF, with preferential value tend to be neutral. Mocaf and tapioca could be used as filler in processing processed cheddar cheese.
Biomordan gambir pada pewarnaan kain viskos menggunakan ekstrak pewarna dari limbah kulit jengkol (Archidendron jiringa) F Failisnur; S Sofyan; S Silfia; Salmariza Sy; A Ardinal
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.28 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4324.77-82

Abstract

Biomordan merupakan mordan alam yang berfungsi untuk meningkatkan afinitas zat warna terhadap serat dan membangkitkan warna dalam proses pencelupan. Pemanfaatan gambir sebagai biomordan adalah salah satu terobosan baru dalam pemanfaatan komoditi potensi lokal yang dapat menghasilkan kain berwarna yang ramah lingkungan.  Penelitian dilakukan dengan membandingkan antara proses pewarnaan tanpa menggunakan mordan, pemakaian biomordan gambir pada konsentrasi 5, 10, dan 15%, serta pemakaian biomordan gambir yang dikombinasikan dengan mordan kimia CaO. Hasil penelitian menunjukkan terdapat komponen fenol pada ekstrak limbah kulit jengkol yang dapat memberikan warna pada kain viskos. Hasil pewarnaan meggunakan biomordan gambir dapat meningkatkan nilai intensitas warna. Sifat ketahanan luntur warna terhadap pencucian 40⁰C meningkat dari 3 (cukup) dan 4 (baik) menjadi 4-5 (baik sampai sangat baik) serta terhadap pengaruh cahaya dari 3-4 (cukup sampai baik) menjadi 4 (baik).AbstractThe biomordant is a natural mordant that functions to increase the affinity of dyes to the fiber and generate color in the dyeing process. The use of gambier as a biomordant is one of inovation in the utilization of local potential commodities that can produce eco-friendly coloring fabrics. The study was conducted by comparing the dyeing process without using mordant, the use of biomordant gambier at a concentration of 5, 10, and 15%, as well as the use of biomordant gambier was combined with CaO chemical mordant. The results showed that there were phenol components in the extract of dogfruit pod waste which could give color to the viscous fabric. The coloring results using gambier biomordant could increase the color intensity value. The color fastness characteristics of washing 40oC increased from 3 (fairly good) and 4 (good) to 4-5 (good to very good) and to the fastness of light raised from 3-4 (fairly good to good) to 4 (good).
Back Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 2 Desember Tahun 2018 JLI Padang
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (511.035 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4484.xiii-xv

Abstract

Back Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 8 No. 2 Desember Tahun 2018
Physical properties of a natural foam made from gambier: influence of proportion of gambier extract used Inda Three Anova; Anwar Kasim; Tuty Anggraini
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.151 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4059.89-94

Abstract

Tannin made from gambier extract contains hydroxyl groups and so can be modified to synthesize polymers. Gambier extract has a high tannin content that contains polyflavonoids with other additives. This allows it to be modified by polycondensation to make a polymer foam which can be used as an insulator for heat and sound, an absorber of heavy metal pollutants and for protective packaging. This study investigates the utilization of gambier in the manufacture of foam and determines the physical properties of the foam produced. The study was conducted using ethanol to produce the gambier extract from leaves of the plant which was used in the proportions of 14%, 24%, and 34% by weight to make different foam samples. Foam produced from 24% gambier extract had optimum qualities with a density value of 0.34 g/cm3, pH 6.83, compressive strength of 0.14 kg/cm2, thermal conductivity of 5.52 W/moC, and was semi-flexible foam. AbstrakSalah satu senyawa kelompok OH yang dapat dimodifikasi untuk tujuan sintesis polimer adalah tanin dari ekstrak gambir. Ekstrak gambir dengan kandungan tanin tinggi dapat dimodifikasi untuk pembuatan busa yang dapat digunakan sebagai bahan isolator panas, suara, dan penyerap logam serta untuk pengemasan. Pada pembuatan busa berbasis  gambir, tanin yang terdapat pada gambir berfungsi sebagai isolasi materi yang terjadi karena polikondensasi dari poliflavonoid tanin dengan bahan tambahan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan gambir dalam pembuatan busa dan mengetahui sifat fisik busa yang dihasilkan. Penelitian dilakukan dengan tahap awal ekstraksi gambir menggunakan etanol. Perlakuan penelitian adalah pemakaian ekstrak gambir 14%, 24%, dan 34%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa busa yang dihasilkan dari pemakaian ekstrak gambir 24% memiliki nilai densiti 0,34 g/cm3, pH 6,83, kuat tekan 0,14 kg/cm2, konduktivitas termal 5,52 W/moC, dan busa dapat digolongan sebagai busa semi fleksibel.
Pengaruh penggunaan ekstrak gambir sebagai antimikroba terhadap mutu dan ketahanan simpan cake bengkuang (Pachyrhizus erosus) K Kamsina; F Firdausni
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (587.782 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4329.111-117

Abstract

Gambir merupakan sari getah yang diekstraksi dari daun tanaman gambir dan mengandung senyawa katekin yang bersifat sebagai antimikroba.  Guna meningkatkan ketahanan simpan pangan dan meminilisir penggunaan antimikroba sintetis dilakukan penelitian ini dengan tujuan mengetahui pengaruh pemberian konsentrasi katekin terhadap nilai gizi dan ketahanan simpan cake bengkuang. Penelitian ini dilakukan dengan metoda Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan (persentase catechin) yaitu A (kontrol), B (0,010%), C (0,015%), D (0,020%) dan E   (0,025%) dengan 5 kali ulangan. Hasil perlakuan optimal didapatkan pada perlakuan D dengan nilai kadar air 21,55%, kadar abu 0,3805%, gula 15,765%, antioksidan 28,38% dan total fenolik 2,01%. Uji organoleptik warna, rasa, aroma, dan tekstur disukai dengan nilai berturut-turut 3,481; 3,593; 3,593; 3,333. Sedangkan untuk ketahanan simpan cake bengkuang sampai minggu ke-3 untuk kadar air 31,91 % dan mikroba (Angka lempeng total) 7,4 x 104  koloni/g dan memenuhi standard SNI 01-3840-1995 (Roti). Penggunaan ekstrak gambir sebagai antimikroba dalam menghambat pertumbuhan bakteri kuat dengan daya hambat bakteri Escherechia coli 11 mm dan Salmonella 15 mm.AbstractGambier is a material that extracted from the leaves of gambier plants and contains catechin compounds which have antimicrobial characteristic. In order to improve the storage resistance of food and to minimize the use of synthetic antimicrobials, this study was carried out with the aim of knowing the effect of giving catechin concentrations on the nutritional value and storage resistance of yam cake. The method was conducted by a completely randomized design (CRD) with 5 treatments (percentage of catechin), namely A (control), B (0.010%), C (0.015%), D (0.020%) and E (0.025%) with 5 replications. The optimal result were obtained in treatment D with water content value 21.55%, ash content 0.3805%, sugar content 15.765%, antioxidant 28.38%, and total phenol 2.01%. Organoletic test of color, taste, flavor, and texture were preferred with value 3.481; 3.593; 3.593; 3.333 respectively. Whereas the resistance of jicama cake storage until the third week for water content 31.91% and microbes (total plate number) 7.4 x 104 colony/g and fulfilled the SNI standard 01-3840-1995 (Bread). The use of gambier extract as an antimicrobial in inhibit the growth of strong bacteria with inhibition of 15 mm for Salmonella bacteria and 11 mm for Escherechia coli.
Penentuan waktu ekstraksi pigmen angkak dari substrat ampas sagu menggunakan ultrasonic bath Dian Pramana Putra; Alfi Asben; N Novelina
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.829 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4094.83-88

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lamanya waktu ekstraksi pigmen angkak dari ampas sagu menggunakan ultrasonic bath. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan yaitu A (ekstraksi 10 menit), B (ekstraksi 20 menit), C (ekstraksi 30 menit), D (ekstraksi 40 menit). Hasil penelitian menunjukkan bahwa bubuk pigmen hasil proses ekstraksi angkak ampas sagu selama 40 menit (perlakuan D) merupakan perlakuan terbaik, dimana intensitas pigmen tertinggi untuk λ 400 nm (kuning),  λ 470 nm (orange) dan λ 500 nm (merah ) yaitu 7,63 ; 6,91 dan 5,95. Karakteristik bubuk pigmen angkak (perlakuan D) memiliki nilai aktivias antioksidan 44,52% pada konsentrasi 1000 ppm, kandungan lovastatin 68,60 ppm, kadar air 4,83%, nilai pH 4,03 dan derajat kecerahan 26,76 oHue (merah keunguan).  AbstractThis study was aimed to determine the duration of angkak pigment extraction from sago waste  using ultrasonic bath. The study used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 repetitions, A (extraction 10 minutes), B (extraction 20 minutes), C (extraction 30 minutes), D (extraction 40 minutes). The results showed that the powder pigment results of the extraction process angkak sago waste  for 40 minutes (treatment D) was the best treatment, where the highest intensity of the pigment for λ 400 nm (yellow), λ 470 nm (orange) and λ 500 nm (red) were 7.63; 6.91; and 5.95 respectively. Characteristic of angkak pigment powder (treatment D) had value of antioxidant activity 44.52% at concentration 1000 ppm, lovastatin content 68.60 ppm, water content 4.83%, pH value 4.03, and degree of brightness 26.76 oHue (red purple). 
Pengaruh pemakaian jahe emprit dan jahe merah terhadap karakteristik fisik, total fenol, dan kandungan gingerol, shogaol ting-ting jahe (Zingiber officinale) F Firdausni; K Kamsina
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.798 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4330.67-76

Abstract

Pemanfaatan jahe menjadi suatu produk alternatif yang mempunyai nilai tambah salah satunya adalah makanan ringan ting-ting jahe. Produk ini merupakan pangan fungsional yang berkhasiat obat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis jahe dan penambahan jahe terhadap karakteristik fisik, total fenol, kandungan utama jahe gingerol dan shogaol ting-ting  jahe. Penelitian dilakukan dengan menggunakan jahe emprit dan jahe merah dengan persentase penambahan terhadap bahan  10%, 20% dan 30%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemakaian jenis jahe memberikan pengaruh terhadap total fenol, gingerol dan shogaol ting-ting  jahe. Perlakuan optimal didapatkan pada ting-ting  jahe emprit dengan   penambahan 30% dengan total fenol 1,66%, gingerol (6,8 dan 10 gingerol) berturut turut 0,172 mg/g; 0,163 mg/g; 0,275 mg/g, dan 6 shogaol 0,150 mg/g. Penilaian organoleptik tingkat kesukaan panelis terbaik diperoleh pada perlakuan ting-ting   jahe merah 20%  dengan rasa, aroma dan tekstur 3,90; 3,75; 3,45 yaitu disukai.AbstractAn alternative product from ginger that has an added value is by making it as a snack food called ginger ting-ting. This product is a functional food which has a medicinal properties. The study was aimed to determine the effect of ginger type and the addition of ginger to the physical characteristics, total phenol, the main content of ginger gingerol and shogaol of ginger ting-ting. The study was carried out using yellow ginger and red ginger with the percentage of addition to the ingredients of 10%, 20%, and 30%. The results showed that the use of the ginger type affected the total phenol, gingerol, and shogaol of ginger ting-ting. The optimal treatment was obtained in yellow ginger ting-ting at the addition 30% with total phenol 1.66%, gingerol (6, 8, and 10 gingerol) 0.172 mg/g; 0.163 mg/g; 0.275 mg/g respectively, and 6 shogaol 0.150 mg/g. Organoleptic assessment of the best panelist preference level was obtained at the treatment 20% red ginger ting-ting with the taste, flavor, and texture were preferred with value 3.90; 3.75; 3.45 recpectively.
Penggunaan katalis homogen dan heterogen pada proses hidrolisis pati umbi singkong karet menjadi glukosa Erti Praputri; Elmi Sundari; F Firdaus; S Sofyan
Jurnal Litbang Industri Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.47 KB) | DOI: 10.24960/jli.v8i2.4189.105-110

Abstract

Singkong karet (Manihot glaziovii Muell) adalah salah satu sumber bahan baku bioetanol yang mempunyai kandungan pati yang cukup tinggi (98,5%). Penelitian ini bertujuan mempelajari kinerja katalis H2SO4, HCl, dan zeolit pada proses hidrolisis pati umbi singkong karet untuk menghasilkan glukosa. Proses hidrolisis untuk katalis homogen dilakukan pada temperatur 120oC dan volume asam 250 ml, sedangkan untuk katalis heterogen dengan rasio massa pati dan aquades (1:25), waktu 60 menit, dan temperatur 120oC. Perolehan glukosa untuk katalis homogen diamati melalui variasi konsentrasi HCl dan H2SO4 masing-masing (0,1; 0,15; 0,2; 0,25; dan 0,3 N) dan waktu hidrolisis (45; 60; dan 75 menit). Untuk katalis heterogen, perolehan glukosa diamati melalui variasi massa zeolit (1; 3; dan 6 g), jenis asam pengaktif HCl dan H2SO4 dengan konsentrasi0,15 N, dengan metode perendaman dan pemanasan pada temperature 50oC. Hasil penelitian memperlihatkan konsentrasi dan waktu hidrolisis pati singkong karet berpengaruh terhadap perolehan glukosa pada penggunaan jenis katalis homogen (H2SO4 dan HCl). Glukosa tertinggi (27,25%) diperoleh pada katalis homogen dengan konsentrasi H2SO4 0,15 N dan waktu 60 menit. Zeolit yang diaktivasi dengan HCl dengan metode perendaman  menghasilkan kadar glukosa lebih tinggi (14,13%) daripada zeolit  yang diaktifkan dengan H2SO4 (12,58%).AbstractRubber cassava (Manihot glaziovii Muell) is one source of bioethanol raw material which has high starch content (98.5%). The manufacture of bioethanol is carried out through the process of hydrolysis and fermentation. This research was aimed to study the performance of the homogeneous and heterogeneous catalysts in the hydrolysis process of starch from rubber cassava tubers to produce glucose. The hydrolysis process for homogeneous catalyst was carried out at a temperature 120oC and 250 ml acid volume, while for heterogeneous catalyst was the ratio of starch mass and distilled water (1:25), 60 minutes time, and 120oC temperature. The glucose obtained for heterogeneous catalyst was observed through variations of HCl and H2SO4 concentrations (0.1; 0.15; 0.2; 0.25; and 0.3 N) and hydrolysis time (45; 60; and 75 minutes). For heterogeneous catalyst, the glucose obtained was observed through zeolite mass variations (1; 3; and 6 g), type of activating acid HCl and H2SO4 with 0.15 N concentration by immersion and heating method at 50oC. The results showed that the concentration and hydrolysis time of rubber cassava starch affected the glucose obtained in the use of homogeneous catalyst types (H2SO4 and HCl). The highest glucose was obtained at 0.15 N acid concentrations and 60 minutes time. Zeolite which was activated with HCl with soaking method resulted in higher glucose levels (14.13%) than activated with H2SO4 (12.58%).

Page 11 of 36 | Total Record : 357