cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
MAJALAH BIAM
ISSN : 02151464     EISSN : 25484842     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah BIAM is a print and online journal that is part of the Ministry of Industry and dedicated as a media dissemination of scientific articles focusing on the field of marine products technology, in addition, Majalah BIAM generally receive articles in the field of Natural Materials, Industry, Various Food Products, Essential Oils and the Environment.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
ISOLASI KITIN DAN KITOSAN DARI LIMBAH KULIT UDANG Edward J. Dompeipen; Marni Kaimudin; Riardi P Dewa
Majalah BIAM Vol 12, No 1 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.501 KB) | DOI: 10.29360/mb.v12i1.2326

Abstract

Udang di Indonesia di ekspor dalam bentuk beku yaitu udang yang telah mengalami cold storage setelah melalui pemisahan  kepala dan kulit. Akibat dari proses  tersebut  diperoleh limbah  atau  hasil  samping  berupa  kepala (carapace)  dan  kulit  (peeled) yang menimbulkan masalah pencemaran lingkungan.  Kitin  dan  kitosan  adalah bahan industri yang multifungsi dan multi guna. Isolasi senyawa kitin melalui reaksi demineralisasi dengan larutan HCl 1 N,  perbandingan  15:1  (v/b)  direaksikan  dalam  ekstraktor  pada  suhu  60 0C  selama  30  menit.  Reaksi deproteinisasi  dengan  larutan  NaOH  3,5 %,  perbandingan  10:1  (v/b),  kemudian  direaksikan  dalam  ekstraktor selama  2  jam pada    temperatur  65 oC.  Reaksi  dekolorisasi  dengan  larutan  NaOCl  0,315%,  perbandingan  10:1 (v/b) dalam ekstraktor selama selama 1 jam pada suhu 40 oC. Reaksi deasetilasi kitin menjadi kitosan dilakukaan dengan NaOH 60%, perbandingan 20:1 (v/b) dan direaksikan dalam ekstraktor pada suhu 80 – 100 oC selama 1 jam. Kualitas kitin yang dihasilkan antara lain, kadar air  6,89%, kadar abu 7,8%, sedangkan kualitas kitosan yang dihasilkan, kadar air  9,28%, kadar abu 1,49%, kadar protein ≤ 0,5%,  larut sempurna  dengan asam asetat 2%, rendemen  63% dan derajat deastilasi : 83,25%. Kualitas kitosan yang dihasilkan sudah dapat memenuhi standar Protan Laboratory.
PENGARUH KONSENTRASI MINYAK CENGKEH UNTUK ANASTETIK IKAN BAWAL TAWAR (Colossoma macropomum) DAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus)
Majalah BIAM Vol 12, No 2 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.005 KB) | DOI: 10.29360/mb.v12i2.1953

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi minyak cengkeh terhadap daya imotilisasi ikan bawal air tawar dan lobster air tawar. Penelitian ini menggunakan tiga konsentrasi essens cengkeh pada dua kondisi suhu yang berbeda yaitu konsentrasi 0,05 ml/menit pada suhu 20oC, konsentrasi 0,05 ml/menit pada suhu ruang dan konsentrasi 1 ml/10 menit pada suhu ruang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi terbaik untuk daya imotilisasi ikan bawal adalah 1 ml/10 menit pada suhu ruang sedangkan untuk lobster air tawar adalah 0,05 ml/menit pada suhu ruang.
PENGARUH KEMASAN PLASTIK TERHADAP MUTU SOSIS IKAN GULAMAH (Argyrosomus amoyensis) SELAMA PENYIMPANAN DINGIN Angcivioletta Moniharapon
Majalah BIAM Vol 9, No 1 (2013): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (973.96 KB) | DOI: 10.29360/mb.v9i1.1999

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh kemasan plastik terhadap perubahan mutu sosis ikan gulamah selama penyimpanan dingin. Hasil dari penelitian menunjukkan selama penyimpanan dingin, kombinasi dari kemasan plastik stereofoam memiliki kualitas yang lebih baik melindungi sosis dari air, TPC, serta menjaga tekstur dan rasa. Kadar air mengalami perubahan selama 9 hari baik untuk kemasan polietilen dan kombinasi kemasan plastik stereofoam (A1B4 dan A2B4). Nilai TPC mengalami perubahan selama 3 hari baik pada kemasan polietilen dan kemasan kombinasi plastik stereofoam (A1B2 dan A2B2), sedangkan untuk nilai TVB mengalami perubahan 6 hari pada polietilen dan 3 hari pada kemasan plastik stereofoam. Selain itu, nilai TPC, kombinasi kemasan plastik dan stereofoam dapat dipakai diluar selama 12 hari (A2B5), dengan nilai 1,62 x 105 coloni/g. Penampakan perubahan selama 9 hari dari polietilen dan kombinasi kemasan plastik stereofoam (A1B4) dan (A2B4), tekstur pada hari ke-6 dari polietilen (A1B3) dan 15 hari dari kemasan plastik stereofoam (A2B6), nilai bau pada hari ke 12 dari polietilen (A1B5) dan hari ke-9 dari kombinasi kemasan plastik stereofoam (A2B4) dan nilai rasa pad hari ke-9 dari polietilen (A1B4) dan hari ke 12 dari kombinasi kemasan plastik stereofoam (A2B5).
PERBAIKAN GIZI ES KRIM DENGAN PENAMBAHAN KARAGINAN DAN BUAH PEPAYA Sugeng Hadinoto; Voulda D. Loupatty
Majalah BIAM Vol 11, No 1 (2015): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (906.772 KB) | DOI: 10.29360/mb.v11i1.2043

Abstract

Produksi es krim dunia pada tahun 2003 mencapai lebih dari satu miliar liter dan dikonsumsi oleh miliaran konsumen per tahun. Komponen es krim secara umum adalah lemak, padatan susu tanpa lemak, gula, bahan penstabil dan pengemulsi. Bahan penstabil pada es krim berfungsi mencegah pembentukan kristal es yang besar dalam produk es krim dan digunakan dalam jumlah yang kecil sehingga pengaruh terhadap nilai gizi pangan dan citarasa dapat diabaikan (Arbuckle 1986). Bahan penstabil yang digunakan pada penelitian ini adalah karaginan yang diekstrak dari rumput laut merah jenis Eucheuma cottonii dan buah pepaya yang banyak mengandung pektin. Selain sebagai penstabil, buah pepaya sengaja ditambahkan untuk memberikan citarasa pepaya yang khas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki nilai gizi es krim dengan penambahan karaginan sebagai pengganti bahan penstabil dan buah pepaya sebagai sumber pektin pada pembuatan es krim. Perlakuan yang diberikan pada penelitian ini adalah penambahan karaginan sebanyak 5 gram dan 7 gram, dan buah pepaya ditambahkan pada konsentrasi 200 gram dan 400 gram.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan K1P1, yaitu penambahan karaginan sebanyak 5 gram dan buah pepaya sebanyak 200 gram merupakan formula yang terbaik dengan nilai gizi sebagai berikut : lemak 4,55%, protein 3,34%, viskositas atau kekentalan 98,77 cp dan Angka Lempeng Total 1,31 x 10 koloni/g.
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KITIN DAN KITOSAN DARI KULIT UDANG WINDU (Penaeus monodon) DENGAN SPEKTROSKOPI INFRAMERAH Edward J. Dompeipen
Majalah BIAM Vol 13, No 1 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.822 KB) | DOI: 10.29360/mb.v13i1.3120

Abstract

ABSTRAK Kitin dan kitosan merupakan biopolimer alami pada Krustasea dan Jamur. Kitosan digunakan secara ekstensif sebagai bahan baku di berbagai industri. Penelitian bertujuan untuk mengekstraksi kitin dan kitosan dari kulit udang melalui reaksi deproteinisasi, demineralisasi, dekolorisasi dan deastilasi. Rendemen kitin dan kitosan  yang dihasilkan secara berturut turut adalah 60,5% dan 63,0%. Hasil analisis terhadap spektrum FTIR kitin memperlihatkan beberapa puncak utama pada bilangan gelombang 3554,45 cm-1 yang menunjukkan vibrasi pembengkokan amida sekunder dan amina (NH) sekunder pada bilangan gelombang 1670.35 cm-1 serta 1427,32cm-1 menunjukkan adanya vibrasi peregangan CH. Hasil analisis spektrum FTIR kitosan menunjukkan adanya vibrasi peregangan simetris pada 3302,20 cm-1 akibat adanya tumpang tindih OH dan amina (NH), vibrasi peregangan 1577.71 cm-1 disebabkan oleh perambatan C = O peregangan (amida I) dan vibrasi peregangan 1666,30 cm-1 yang menunjukkan amida sekunder. Hasil karakterisasi dengan spektroskopi inframerah menunjukkan bahwa senyawa hasil ekstraksi adalah kitin dan kitosan. Kata kunci : Ekstraksi,kulit udang, kitin, kitosan, spektroskopi inframerah. ABSTRACT Chitin and chitosan are natural biopolymers in crustaceans and fungi. Chitosan is used extensively as raw materials in various industries. The study aimed to extract chitin and chitosan from shrimp shells through deproteinization, demineralization, decolorization and deastilation reactions. The yields of chitin and chitosan which were produced successively were 60.5% and 63.0%. The analysis of FTIR chitin spectrum showed some major peaks at wavelength 3554,45 cm-1 indicating secondary bending amide and secondary amine (NH) vibration at wave number 1670.35 cm-1 and 1427,32cm-1 indicating stretch vibration of CH. The results of FTIR spectroscopy analysis showed a symmetrical stretch vibration at 3302.20 cm-1 due to overlapping of OH and amine (NH), stretching vibration 1577.71 cm-1 caused by propagation C = O stretching (amide I) and stretch vibration 1666, 30 cm-1 indicating secondary amide. The results of characterization by infrared spectroscopy showed that  the extraction compound was chitin and chitosan. Key words : Extraction, shrimp skin, chitin, chitosan, infrared spectroscopy.
PEMANFAATAN BIOETANOL SEBAGAI SUMBER ENERGI ALTERNATIF PENGGANTI MINYAK TANAH Voulda D. Loupatty
Majalah BIAM Vol 10, No 2 (2014): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1452.168 KB) | DOI: 10.29360/mb.v10i2.2029

Abstract

Kebutuhan minyak bumi cenderung meningkat sebaliknya cadangan minyak bumi makin menipis. Untuk itu pemanfaatan  bioetanol sebagai sumber energy alternative,  perlu mendapat perhatian serius dalam mengatasi masalah bahan bakar minyak di saat ini maupun untuk waktu yang akan datang. Faktor-faktor yang perlu mendapat perhatian adalah ketersediaan bahan baku , teknologi produksi, aplikasi bioetanol sebagai substitusi minyak tanah dan kelayakan usaha bioetanol. Penelitian ini menggunakan pendekatan data sekunder sebagai sumber datanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumber bahan baku bioetanol cukup beragam dan tersedia dalam jumlah yang cukup banyak di Inbonesia  Namun yang perlu mendapat perhatian serius adalah rumput laut. Teknologi budidaya rumput laut mudah dan murah dengan waktu panen yang cukup singkat (sekitar 45 hari). Volume produksi bioetanol rumput laut cukup besar dibandingkan dengan bahan baku lainnya. Kelayakan usaha bioetanol mempunyai keuntungan ganda karena dapat menciptakan lapangan pekerjaan dalam bidang budidaya bahan baku, indutri bioetanol maupun produksi kompor bioetanol. 
PEMBUATAN BEKASAM CUMI-CUMI (Loligo sp) DENGAN VARIASI PEMBERIAN GARAM (NaCl) DAN BERAS GONGSENG (Oriza sativa) TERHADAP PENERIMAAN KONSUMEN Sugeng Hadinoto
Majalah BIAM Vol 9, No 2 (2013): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1332.297 KB) | DOI: 10.29360/mb.v9i2.2007

Abstract

Selama ini dikenal produk bekasam yang dibuat hanya dari ikan-ikan air tawar, seperti bekasam ikanbetok dan bekasam ikan sepat. Bertolak dari hal tersebut, maka dirasa perlu untuk membuat suatu produk fermentasi (bekasam) dengan menggunakan bahan mentah yang berasal dari hasil laut (cumi-cumi). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi garam (NaCl) dan beras gongseng (Oriza sativa) yang optimum pada pembuatan bekasam cumi-cumi sehingga diharapkan produk bekasam cumi-cumidapatditerima oleh masyarakat, sedangkan kegunaan dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas penyimpanan, selain itu juga untuk diversifkasi produk olahan  cumi-cumi.   Dari hasil uji organoleptik didapat nilai  rata-rata  tertinggi darimasing-masing spesifkasi warna, aroma, rasa dan  tekstur adalah 3,95 (A1B1),   3,95 (A1B2), 4,15 (A2B1), 4,1  (A1B2).   Pada spesifkasi warna dan aroma menunjukkan hasil  tidak berbeda nyata antar perlakuan, untuk spesifkasi rasa menunjukkan hasil berbeda sangat nyata untuk spesifkasi tekstur menunjukkan hasil berbeda nyata. Panelis cenderung menyukai bekasam cumi-cumi denganpenambahan 15% garam dan 60% beras gongseng yang memiliki cita rasa yang khas keasam-asaman dengan pH 5,65.  Hasil penelitian terhadap parameter kimia dapat disimpulkan bahwa pengolahan bekasam cumi-cumi dengan menggunsakan variasi garam dan beras gongseng tidak berpengaruh terhadap kadar protein dan kadar air tetapi berpengaruh nyata terhadap pH.
IDENTIFIKASI SENYAWA AKTIF TRITERPENOID DARI EKSTRAK ALGA LAUT HIJAU SILPAU (Dictyosphaeria versluysii) DENGAN SPEKTROFOTOMETER FTIR Mozes S.Y. Radiena; Edward J. Dompeipen
Majalah BIAM Vol 15, No 1 (2019): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.214 KB) | DOI: 10.29360/mb.v15i1.5297

Abstract

Silpau (D. versluysii) adalah salah satu jenis alga laut hijau yang biasanya ditemukan tumbuh menempel pada substrat batu karang dan merupakan bahan pangan masyarakat di Kepulauan Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa aktif dari ekstrak alga laut hijau silpau (D. versluysii) dengan spektrofotometer FTIR. Ekstraksi senyawa dilakukan dengan metode maserasi tunggal menggunakan pelarut metanol. Penapisan fitokimia sampel dilakukan diengan menggunakan metode Harborne. Isolasi senyawa aktif menggunakan kromatografi kolom dengan fasa diam silika gel dan fasa gerak yang digunakan adalah pelarut n-heksana : etil asetat dengan perbandingan (50:1 ~  1:1) secara gradien. Aktiviitas senyawa diukur menggguunkan uji Brine shrimp lethality Test mengikuti metode Meyer. Identifikasi senyawa aktif  meliputi dengan menggunakan spektrofotometer FTIR (Fourier Transorm Infra Red). Analisis spektrum FT-IR isolat sub fraksi-IV  memperlihatkan ciri khas senyawa triterpenoid. Penelitian ini telah dapat mengisolasi senyawa bioaktif dari alga laut hijau Silpau yang berdasarkan data analisis fitokimia dan spektrofotometer FTIR., seyawa teridentifikasi sebagai senyawa golongan Triterpenoid. Senyawa ini potensial aktif karena memiliki nilai LC 50 sebesar 126,582 μg/ml.
ESTIMASI PRODUKSI MINYAK KAYU PUTIH PADA INDUSTRI KECIL PENYULINGAN DI MALUKU Husein Smith; Syarifuddin Idrus
Majalah BIAM Vol 12, No 1 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.077 KB) | DOI: 10.29360/mb.v12i1.2322

Abstract

Produksi minyak kayu putih pada sektor  industri kecil  turut mempengaruhi   pembangunan   di   Maluku   yang   akan memperkokoh  struktur  industri.  Penelitian  ini dilakukan untuk mengetahui  kemampuan  produksi  minyak  kayu putih di Maluku dengan menggunakan metode estimasi regresi dan nisbah. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling pada industri kecil penyulingan minyak kayu putih di empat kabupaten, satu kota dan  dua  puluh  desadi  Maluku.  Hasil  penelitian   menunjukkan   bahwa  dengan  menggunakan  metode  estimasi regresi kemampuan produksi minyak kayu putih di Maluku sebesar 251,71 - 260,79 liter/hari atau 226,59 - 234,35 kg/hari  dengan  tingkat  kepecayaan  95%,  sedangkan  dengan menggunakan metode  estimasi  nisbah  diperoleh kemampuan  produksi  minyak  kayu  putih  di  Maluku  sebesar  248,94  -  262,92  liter/hari  atau  224,05  -  236,63 kg/hari.
PENGARUH WAKTU DAN pH FERMENTASI DALAM PRODUKSI BIOETANOL DARI RUMPUT LAUT EUcHEUMA cOTTONII MENGGUNAKAN ASOSIASI MIKROBA (Sacchromyces cerevisiae, Aspergilus Niger dan Zymomonas Mobilis) Edward J. Dmpeipen; Riardi P. Dewa
Majalah BIAM Vol 11, No 2 (2015): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2185.56 KB) | DOI: 10.29360/mb.v11i2.2051

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh waktu dan pH fermentasi serta menentukan kadar etanol dalam produksi bioetanol dari rumput laut Eucheuma cotonii. Proses hidrolisis yang mengkonversi lignoselulosa dari rumput laut Eucheuma cotonii menjadi bioetanol dilakukan dengan menggunakan asosiasi mikroba Aspergillus niger, Zymomonas mobilis dan Sacchoromyces cerevisiae secara serempak. Metode penelitian dilakukan variasi pH 3,5 ; 4,0 ; 4,5 ; 5,0 dan waktu fermentasi 4, 5, 6, 7, 8 hari. Konsentrasi bioetanol yang diperoleh adalah 5,65% pada kondisi pH 4,5 ; waktu 7 hari dan temperatur 380C.