cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
MAJALAH BIAM
ISSN : 02151464     EISSN : 25484842     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah BIAM is a print and online journal that is part of the Ministry of Industry and dedicated as a media dissemination of scientific articles focusing on the field of marine products technology, in addition, Majalah BIAM generally receive articles in the field of Natural Materials, Industry, Various Food Products, Essential Oils and the Environment.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
FORMULASI CAMPURAN LIMBAH IKAN DAN IKAN RUCAH TERHADAP KANDUNGAN DAN DAYA CERNA PROTEIN TEPUNG IKAN Helmi Haris; Ikromatun Nafsiyah
Majalah BIAM Vol 15, No 2 (2019): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.641 KB) | DOI: 10.29360/mb.v15i2.5606

Abstract

Most of the waste produced by traditional food processing in Palembang has not been optimally utilized. Even if the waste is processed again, one of the things that can be produced is Fish Flour as raw material for making animal feed or fish feed. The way to process it is to do raw material translation, sorting and washing of raw materials, then steaming with presto tools, and reducing the size of raw materials to make it easier to process and break down the lumps found in the raw material. After that pressing is done and dried. After drying, the waste is pressed and weighed again and then packed to avoid contamination from the outside. The treatment of mixed formulations between fish and trash fish by side catches (HTS) significantly affected the protein content of fish meal, but did not significantly affect the digestibility of the protein. Protein content of fish meal in a row from the highest is found in treatment P6 (100% trash fish) and the lowest is in P1 (100% fish waste). Based on the protein content, the level of treatment P1 (100% fish waste) and P2 (80% fish waste: 20% trash fish) have not fulfilled the SNI for fish meal, but the level of treatment P3 (60% fish waste: 40% trash fish) and P4 ( fish waste 40%: trash fish 60%) have met III quality standards and the level of treatment P5 (20% fish waste: 80% trash fish) and P6 (100% trash fish) have met II quality standards based on SNI for fish meal.
KOMPONEN ZAT GIZI LAMUN Enhalus acoroides ASAL KABUPATEN SOPIORI PROVINSI PAPUA Adrianus O.W. Kaya
Majalah BIAM Vol 13, No 2 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.551 KB) | DOI: 10.29360/mb.v13i2.3542

Abstract

Lamun adalah tumbuhan berbunga (Angiospermae) yang hidup terendam dalam air dan berkembang dengan baik di perairan laut dangkal dan estuary.tumbuhan lamun terdiri dari daun dan seludang, batang menjalar yang biasanya di sebut rimpang (rhyzoma) dan akar yang tumbuh pada bagian rimpang. Di Indonesia terdapat 13 jenis lamun yang tersebar di antara seluruh perairan Indonesia, dan dapat dimanfaatkan oleh manusia adalah jenis lamun Enhalus acoroides. Kebiasan masyarakat kampung Sowek Kabupaten Supiori Propinsi Papua mengkonsumsi rhyzoma dan biji lamun sebagai makanan dengan cara dikonsumsi secara langsung atau sebagai sayuran, sehingga perlu diketahui kandungan zat gizi yang ada dikedua bagian lamun tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status nutrisi bagian yaitu rhyzoma dan biji lamun enhalus acoroides yang berasal dari kabupaten sopiori provinsi papua berdasrakan hasil analisis proksimat. Hasil analisis bagian lamun Enhalus acoroides diperoleh hasil rhyzoma: Air 89,99%, Abu 0,79%, Lemak 0,52%, Protein 0,75% dan karbohidrat 4,16% sedangkan biji lamun: Air 92,16%, Abu 0,51%, Lemak 0,47%, Protein 0,68% dan karbohidrat 3,22%. Perlu analisis komponen zat gizi lengkap untuk tiap bagian lamun serta aplikasi dalam produk pangan
PENGARUH PENAMBAHAN BUMBU TERHADAP MUTU IKAN ASIN KERING Marni Kaimudin
Majalah BIAM Vol 10, No 2 (2014): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.337 KB) | DOI: 10.29360/mb.v10i2.2032

Abstract

Ikan asin kering bumbu  adalah ikan yang telah diberi bumbu dan dikeringkan dengan bantuan panas. Tujuan dari penelitian ini adalah  untuk memperpanjang  daya simpan ikan  dengan aroma dan cita rasa tertentu. Sebagai pembanding digunakan ikan asin kering buatan sendiri dan ikan asin kering komersial dengan spesifkasi panjang 20 cm, lebar 10 cm dan tebal 1 cm. Metode yang digunakan  adalah metode pengeringan. Hasil mutu ikan asin kering bumbu lebih baik dibandingkan dengan ikan asin kering buatan sendiri dan ikan asin kering komersial. Tingkat persentase kesukaan ikan asin kering bumbu lebih besar dibandingkan ikan asin kering buatan sendiri dan komersial pada penyimpanan 0 bulan dan lebih rendah pada penyimpanan 1 dan 2 bulan.
EFISIENSI PENGGUNAAN LARUTAN ALKALI NaOH DALAM PENGOLAHAN RUMPUT LAUT EUCHEUMA MENJADI SEMIKARAGINAN Voulda D. Loupatty; Angciovioletta Moniharapon
Majalah BIAM Vol 10, No 1 (2014): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.193 KB) | DOI: 10.29360/mb.v10i1.2013

Abstract

Penelitian  “Efsiensi  Penggunaan  Larutan  Alkali  Dalam  Pengolahan  Rumput  Laut  Euchema  Menjadi Semikaraginan“,  dilakukan  dengan  tujuan  untuk mengkaji  efsiensi  penggunaan  larutan  alkali  dalam  hal  ini NaOH  dalam proses pengolahan semikaraginan. Adapun perlakuan yang diberikan dalam penelitian ini adalah A = Jenis rumput laut  terdiri dari A1 = Eucheuma cottonii; A2 = Eucheuma spinosum; B = Konsentrasi larutan NaOH  terdiri dari B1 =  0,5N dengan tiga tingkatan perendaman, B11 = Perendaman I (0,5N), B12 = Perendaman II (sisa rendaman I setelah penetapan N), B13 = Perendaman III (sisa rendaman II setelah penetapan N); B2 = 1N dengan tiga tingkatan perendaman, B21 = Perendaman I (1N), B22 = Perendaman II (sisa rendaman I setelah penetapan N), B23 = Perendaman III (sisa rendaman II setelah penetapan N). Parameter yang diuji adalah rendaman, kadar air, kadar abu dan kadar karaginan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan alkali dapat meningkatkan mutu rumput laut, dalam hal ini kadar karaginannya. Konsentrasi alkali (NaOH) terbaik untuk rumput laut jenis Eucheuma cottonii adalah 1N, sedangkan jenis Eucheuma spinosum adalah 0,5N. Disarankan untuk efsiensi penggunaan alkali, maka sisa rendaman I dan II dapat digunakan kembali setelah disaring untuk mendapatkan larutan alkali yang lebih bersih, dan bila perlu dilakukan penambahan konsentrasi alkali untuk menaikan konsentrasi alkali sesuai yang diinginkan.
PENINGKATAN KADAR PATCHOULI ALKOHOL DALAM MINYAK NILAM MENGGUNAKAN METODE DESTILASI FRAKSINASI VAKUM BANTUAN GELOMBANG ULTRASONIK Rio Junaidy; Fauzi Redha; Ismail Sulaiman
Majalah BIAM Vol 15, No 1 (2019): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.493 KB) | DOI: 10.29360/mb.v15i1.5384

Abstract

Provinsi Aceh adalah salah satu sentra produksi minyak nilam di Indonesia dan saat ini penyulingan minyak nilam rakyat di Propinsi Aceh dilakukan dengan cara yang sederhana dan pada kapasitas kecil, sehingga kualitas yang dihasilkan kurang baik dan tidak optimal, sehingga perlu dilakukan modifikasi proses penyulingan untuk mendapatkan kandungan Patchouli Alkohol yang lebih besar. Pada penelitian ini dilakukan proses penyulingan dengan menggunakan metode destilasi fraksinasi vakum bantuan gelombang ultrasonik.Variabel proses destilasi dengan suhu 220 0C menggunakan tekanan vakum 25 inHg menghasilkan peningkatan kadar patchouli alkoohol yang paling tinggi dibandingkan dengan variasi proses yang lain yaitu sebesar 34,40 % dari nilai kandungan patchouli alkohol minyak nilam awal sebesar 26,87 %. Variasi proses destilasi dengan suhu 220 0C dengan menggunakan tekanan vakum 25 inHg juga menghasilkan nilai bilangan asam sebesar 3,18, nilai indek bias sebesar 1,5008 dan nilai kelarutan dalam alkohol 1:10
PEMANFAATAN DAGING MERAH DARI LIMBAH TUNA LOIN DALAM PENGOLAHAN KECAP IKAN Trijunianto Moniharapon; Fredy Pattipeilohy
Majalah BIAM Vol 12, No 1 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.123 KB) | DOI: 10.29360/mb.v12i1.2325

Abstract

Pada proses produksi  loin dari seekor  ikan  tuna  rendemen loin yang dihasilkan sebesar 39,7% dan  rendemen limbah sebesar 60,3% yang  terdiri berturut-turut: daging merah (“tetelan”) sebesar 23,1%; kepala 17,8%;  tulang dan  sirip  8,5%;  kulit  3,7%;  isi  perut/lambung  (jeroan)  3,2%;  darah 0,9%  dan  jantung  0,6%.    Daging  merah biasanya dijual murah dan kurang dimanfaatkan, sementara potensinya cukup besar. Kecap ikan belum banyak dikenal, tapi mempunyai prospek yang baik sebagai  industri rumah tangga untuk meningkatkan nilai tambah dari limbah  tuna  loin. Pengolahan kecap  ikan  sangat  sederhana  dan  murah  bahan  dan peralatannya.   Kecap  ikan dapat dibuat dari hancuran daging merah setelah dicuci,  tambahkan garam, hidrolisa enzimatis dengan ekstrak nenas,  dan  pemasakan  dengan penambahan  gula.  Tujuan  dari  penelitian ini  adalah mengetahui  rendemen (jumlah) kecap ikan yang dihasilkan, kualitas  kecap ikan  dan  keuntungan  usaha  kecap  ikan.  Hasil penelitian menunjukkan  bahwa rendemen (jumlah/kuantitas) kecap ikan terhadap bahan  baku  yang  digunakan  adalah 354.3%  (v/w) atau bahan baku yang digunakan adalah 28%  (b/v). Kualitas kecap  ikan yang dihasilkan adalah kadar air 37,74%; kadar protein 5,0%, kadar lemak 0,50%; kadar abu 5.02%; pH 5,43; TVB (Total Volatile Bases) 14.53 mgN%, TPC (Total Plate Count) 4.69 (log X) atau 4.9 x 104 koloni, Berat Jenis (BJ)  1.28 dan kekentalan  120.0 pc.   Keuntungan usaha pengolahan kecap  ikan dengan produksi 7.500 ml  (skala  industri  rumah  tangga) adalah Rp. 107,600,-
KARAKTERISTIK DESTILAT ASAP CAIR DARI TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT PROSES REDISTILASI Hidayati Hidayati
Majalah BIAM Vol 12, No 2 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.605 KB) | DOI: 10.29360/mb.v12i2.1952

Abstract

Asap cair merupakan hasil pirolisis pembakaran tidak langsung maupun langsung dari bahan-bahan yang banyak mengandung karbon serta senyawa-senyawa lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan asap cair sebagai bahan pengawet makanan. Asap cair grade 3 yang diperoleh dari hasil pirolisis dilakukan distilasi lagi atau redistilasi sesuai perlakukan yaitu 3, 4 dan 5 kali distilasi. Parameter yang diamati adalah rendemen asap cair,  kadar fenol, asam asetat dan benzo[a]pyrene. Hasil yang diperoleh adalah kandungan fenol berkisar 1,2-1,35%, asam asetat  sekitar 3,7% dan kandungan benzo[a]pyrene 200-1400 mg/L. Secara keseluruhan asap cair hasil redistilasi yang baik adalah 4 kali distilasi dengan kadar fenol 1,2% dan asam asetat 3,69%. Untuk benzo[a]pyrene belum memenuhi persyaratan pengawet pangan alami. Kadar benzo[a]pyrene yang diizinkan untuk pengawet bahan pangan adalah 1 mg/Kg atau 1 mg/L.
MIKROENKAPSULASI MINYAK IKAN YANG MENGANDUNG ASAM LEMAK OMEGA-3 MENGGUNAKAN GUM ARAB SEBAGAI BAHAN PELAPIS syarifuddin idrus
Majalah BIAM Vol 9, No 1 (2013): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1337.229 KB) | DOI: 10.29360/mb.v9i1.1997

Abstract

Minyak ikan yang mengandung asam lemak omega -3 sangat mudah mengalami oksidasi dengan adanya oksigen diudara dan sinar ultra violet. Mikroenkapsulasi merupakan salah satu cara untuk melindungi asam lemak dari terjadi oksidasi. Penelitian ini dilakukan untuk melindungi minyak ikan yang mengandung asam lemak omega-3 dengan enkapsulasi. Minyak ikan diekstraksi adri ikan make/lemuru (sardinella sp.) dan dicampur dengan bahan pengkapsul gum arab. Pencampuran dilakukan pada kondisi vakum   (50-70°C, 5-10 mmHg) dan dikeringkan menggunakan sprydrayer pada 185°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 30% (b/b) penggunaan gumarab (fller) dan 50% (b/b) minyak ikan memberikan stabilitas emulsi mencapai 24 jam. Granule yang dihasilkan dapat dibuat menjadi tablet.
PENGOLAHAN SOPI MENJADI MINUMAN ANGGUR Mozes SY. Radiena; Maria Alexanderina Leha
Majalah BIAM Vol 11, No 1 (2015): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1302.558 KB) | DOI: 10.29360/mb.v11i1.2040

Abstract

Tujuan dari penelitian menghasilkan produk minuman anggur sopi berkadar alkohol rendah dan memperbaiki masa simpan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan natirum benzoat sebagai pengawet dalam produk minuman anggur sopi dari perlakuan (A1) alkohol 10%, perlakuan (B1) alkohol 12%, dan perlakuan (C1) alkohol 15%, penambahan sari buah nenas 2 liter, gula 20%, dan konsentrasi pengawet 0,05gr berpengaruh terhadap mutu dan masa simpan produk. Hasil uji laboratorium terhadap parameter kadar gula, vitamin C dan kadar air dari ketiga perlakuan (A1), (B1), dan (C1) pada penyimpanan 0-30 hari mengalami penurunan, sedangkan parameter alkohol dari perlakuan (A1), perlakuan (B1), dan perlakuan (C1) mengalami peningkatan selama penyimpanan 0 -30. Hasil uji organoleptik terhadap parameter warna, rasa dan aroma menunjukkan bahwa minuman anggur sopi dengan perlakuan B1, rasa nenas, alkohol 12%, pengawet natrium benzoate, 0.005gr dan masa simpan 0-30 hari lebih disukai oleh panelis dibandingkan dengan perlakuan (A1) dan perlakuan (C1). Kadar alkohol dari minuman anggur sopi perlakuan (A1), alkohol 10%, natrium benzoate 0,05gr, penambahan sari buah nenas, penyimpanan 0-30 hari yang dihasilkan dari penelitian ini masih memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-6103-1999 (anggur rendah alkohol), sedangkan kadar alkohol dari perlakuan (B1) dan perlakuan (C1) sudah melewati batas yang ditetapkan dalam SNI.
EVALUASI NILAI GIZI DAN MUTU IKAN LAYANG (Decapterus sp) PRESTO DENGAN PENAMBAHAN ASAP CAIR DAN RAGI Sugeng Hadinoto; Joice P. M. Kolanus
Majalah BIAM Vol 13, No 1 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.316 KB) | DOI: 10.29360/mb.v13i1.2992

Abstract

Ikan  layang (Decapterus sp) atau oleh masyarakat Maluku dikenal dengan nama ikan “momar” tergolong bahan pangan  yang cepat rusak  (perishable foods)  dan tidak disukai, oleh karena itu  perlu adanya suatu  metode diversifikasi olahan agar ikan layang bisa disukai  semua kalangan masyarakat. Salah satu diversifikasi olahan ikan yang sudah cukup dikenal adalah pengolahan dengan cara presto.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan asap cair dan ragi  terhadap nilai gizi dan mutu produk ikan layang presto. Metode penelitian ini terdiri dari 2 tahap, tahap pertama pengolahan ikan presto dengan penambahan asap cair dari kulit batang sagu dengan konsentrasi 5%  (PRA) dan tahap kedua  pembuatan ikan presto dengan penambahan ragi tape 12% (PRR). Hasil uji organoleptik diperoleh nilai yang sudah ditetapkan yaitu minimal 7. Sedangkan hasil analisis terhadap mutu ikan layang diperoleh kadar air 51,69  - 62,32%; kadar abu 0,07 - 1,28%; kadar protein 25,94 - 30,73%; kadar lemak 1,37 - 1,82%; asam amino esensial tertinggi lisin 2,31%; asam amino non esensial tertinggi asam glutamat 3,93%. Untuk ikan layang presto dengan penambahan asap cair (PRA) dan ragi (PRR) juga mengandung asam lemak oleat, linoleat, ARA, EPA dan DHA yang setara dan lebih baik dengan sebelum perlakuan. Pada semua sampel ikan presto tidak ditemukan adanya senyawa-senyawa PAH serta pada masa simpan 10 hari masih memenuhi syarat mutu mikrobiologi menurut SNI 4106.1-2009.

Page 11 of 16 | Total Record : 156