cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
MAJALAH BIAM
ISSN : 02151464     EISSN : 25484842     DOI : -
Core Subject : Education,
Majalah BIAM is a print and online journal that is part of the Ministry of Industry and dedicated as a media dissemination of scientific articles focusing on the field of marine products technology, in addition, Majalah BIAM generally receive articles in the field of Natural Materials, Industry, Various Food Products, Essential Oils and the Environment.
Arjuna Subject : -
Articles 156 Documents
PENGARUH WAKTU PENYERAPAN DAN MEDIA PENYERAP TERHADAP EFEKTIVITAS PENYERAPAN KANDUNGAN LOGAM BERAT PADA LIMBAH LABORATORIUM Sukaryono, Ignacius D.
Majalah BIAM Vol 10, No 2 (2014): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (982.24 KB)

Abstract

Peranan laboratorium sangatlah penting sebagai tempat melakukan pengujian terhadap parameter yang hendak dianalisa. Pengujian yang dilakukan sebagian besar menggunakan bahan kimia dan menghasilkan limbah yang bersifat berbahaya jika tidak tepat dalam pengolahannya. Salah satu pengolahan limbah laboratorium yaitu dengan menggunakan media penyerap berupa arang aktif dan bio keramik. Dari hasil penelitian didapatkan nilai efektivitas penyerapan sampel larutan limbah laboratorium untuk beberapa macam parameter logam berat. Nilai efektivitas penyerapan tertinggi terdapat pada penyerapan kandungan logam Cr sampel C2 yaitu sebesar 95,9 % dan nilai efektivitas penyerapan terendah terdapat pada penyerapan logam Cd sampel A1 yaitu sebesar 14,53 %. Kombinasi media penyerapan 1 bagian arang aktif dan 2 bagian bio keramik dengan waktu penyerapan 14 hari lebih optimal dalam menyerap kandungan logam berat dan waktu penyaringan dalam sampel larutan limbah laboratorium. Sedangkan untuk parameter kandungan logam berat yang paling optimal diserap media penyerap adalah kandungan logam Cr. Kualitas sampel larutan limbah laboratorium sebelum dan setelah penyerapan tergolong buruk dan tidak masuk ke dalam keempat golongan air menurut peruntukannya sesuai dengan PP No 20 Tahun 1990.
PROFIL ASAM LEMAK IKAN TONGKOL SEGAR (Auxis thazard) Manduapessy, Komers RW
Majalah BIAM Vol 11, No 1 (2015): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.836 KB)

Abstract

Sumber daya perikanan di Indonesia khususnya di Maluku dari jenis ikan pelagis kecil memegang peranan penting dalam konsumsi harian masyarakat. Ikan pelagis kecil meliputi ikan-ikan yang hidup di permukaan laut seperti ikan tongkol (Auxis thazard), ikan layang (Decapterus macrosoma), ikan selar (Selaroides sp) dan lain-lain (Suyedi,2000). Lemak secara kimiawi merupakan ester dari asam-asam lemak dan gliserol. Lemak disusun oleh asam-asam lemak yang terdiri atas asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Kemampuan tubuh untuk mensintesis asam lemak tak jenuh yang mempunyai dua atau ikatan rangkap sangat terbatas, sehingga asam lemak tersebut harus didapatkan dari makanan (Almatsier, 2002). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis asam lemak yang terdapat pada ikan tongkol segar. Hasil penelitian menunjukan Profl Asam Lemak Ikan Tongkol (Auxis thazard) segar yaitu asam miristat, palmitat, pentadekanoat, mellisat,  nonadekanoat, arakidat, dan asam lignoserat  yang tergolong dalam asam lemak jenuh, sedangkan yang tergolong asam lemak tidak jenuh yaitu, asam palmitoleat , oktadekenoat, arakidonat dan asam eikosenoat.
FORTIFIKASI TEPUNG KEDELAI PADA PEMBUATAN BERAS INSTANT ALTERNATIF BERBAHAN SAGU DAN CASSAVA Rumapar, Maximiliaan
Majalah BIAM Vol 11, No 2 (2015): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2469.964 KB)

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  sampai  sejauh  mana  pengaruh  fortifkasi  tepung  kedelai,  yang diformulasikan dengan tepung sagu ataupun tepung cassava, terhadap nilai gizi produk beras instan alternatif yang dihasilkan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian meliputi penggunaan jenis tepung sebagai bahan makanan pokok alternatif (A) : A1=Tepung sagu, A2=Tepung Cassava serta Penggunaan tepung kedelai sebagai fortifkasi (B) : B0 = 0%, B1= 6%, B2= 12%, B3= 18%, dan B4= 24%. Hasil  interaksi kedua perlakuan menunjukkan bahwa: Perlakuan penggunaan jenis tepung sagu (A1) dengan perlakuan penggunaan tepung kedelai pada tingkat 24% (B4), menghasilkan beras instant dengan kadar protein terbesar yakni 11,98%.  Interaksi kedua perlakuan terhadap penilaian organoleptik produk beras  instant alternatif, memberikan hasil  tertinggi masing-masing pada penilaian “warna” yakni perlakuan A2B0=3,80 (biasa sampai suka); penilaian “aroma” yakni perlakuan A2B2=3,47 (biasa sampai suka);  penilaian “tekstur” yakni perlakuan A2B0=3,67 (biasa sampai suka); serta penilaian “rasa” yakni perlakuan A2B1=3,40 (biasa sampai suka).
PENGARUH CARA PEMASAKAN DENGAN WAKTU YANG BERBEDA TERHADAP KOMPOSISI ASAM LEMAK OMEGA-3 IKAN LEMA (Rastrelliger kanagurta) Latupeirissa, Louisiana; Rumahlatu, Dominggus
Majalah BIAM Vol 12, No 2 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.79 KB)

Abstract

Ikan lema (Rastrelliger kanagurta) adalah salah satu jenis ikan pelagis kecil yang tertangkap sepanjang tahun dan merupakan jenis ikan ekonomis penting, banyak digemari dan dikonsumsi oleh masyarakat khususnya di kota Ambon. Ikan dapat dikonsumsi secara mentah, juga dapat dikonsumsi melalui cara pemasakan antara lain: perebusan, pemanggangan dan penggorengan. Nilai nutrisi dari ikan yang akan dikonsumsi selain dipengaruhi oleh cara juga waktu pemasakan. Total waktu pemasakan adalah 10-20 menit, tergantung pada ketebalan daging ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh cara pemasakan dengan waktu yang berbeda terhadap komposisi asam lemak omega-3 ikan lema. Ikan lema mentah dan yang dimasak disiapkan sebagai berikut: ikan dikeluarkan insang dan isi perut, dicuci beberapa kali dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa darah dan lendir, ditiriskan selanjutnya dimasak dengan cara rebus, panggang dan goreng selama 10 dan 15 menit, kemudian didinginkan, dikemas secara vakum dan dianalisa komposisi asam lemak omega-3. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh cara pemasakan terhadap asam eikosapentaenoat ikan lema dimana asam eikosapentaenoat dengan cara perebusan lebih tinggi, tetapi tidak ada pengaruh cara pemasakan dengan waktu yang berbeda terhadap asam linolenat, asam eikosapentaenoat dan asam dokosaheksaenoat.
KUALITAS SENSORIS IKAN LAYANG (Decapterus macrosoma) SEGAR PASKA TANGKAP DENGAN PENGGUNAAN EKSTRAK RUMPUT LAUT JENIS SAYUR KARANG (Gymnogongrus sp.) Pattipeilohy, Fredy; Moniharapon, Trijunianto
Majalah BIAM Vol 12, No 2 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (787.806 KB)

Abstract

Rumput laut jenis sayur karang (Gymnogongrus sp.) merupakan endemik daerah Maluku yang biasanya setiap tahun mulai tumbuh pada awal musim Timur (April) di sepanjang pesisir selatan pulau Ambon (Hutumuri – Mahia) dan biasanya dipanen dari bulan Juli – September.  Masyarakat biasanya mengkonsumsinya sebagai lauk. Usaha pengawetan pangan segar terutama ikan secara berkelanjutan dengan menggunakan pengawet alami yang mengandung komponen bioaktif sebagai anti bakteri.  Tujuan penelitian ini adalah mengetahui masa simpan dengan mengetahui kualitas (secara organoleptik) ikan layang (Decapterus macrosoma) segar paska tangkap dengan penggunaan ekstrak Gymnogongrus sp. (cacahan dan larutan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa simpan ikan layang (Decapterus macrosoma) dengan penggunaan ekstrak Gymnogongrus sp. (cacahan dan larutan) sampai akhir  penyimpanan 13 jam (paska tangkap) belum ditolak panelis, sedangkan tanpa penggunaan  hanya 10 jam  sudah  ditolak.  Konsentrasi  larutan  Gymnogongrus sp.  20 % lebih efektif bila dibandingkan dengan cacahan 5 %.
PEMANFAATAN DAGING MERAH DARI LIMBAH TUNA LOIN DALAM PENGOLAHAN KECAP IKAN Moniharapon, Trijunianto; Pattipeilohy, Fredy
Majalah BIAM Vol 12, No 1 (2016): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.123 KB)

Abstract

Pada proses produksi  loin dari seekor  ikan  tuna  rendemen loin yang dihasilkan sebesar 39,7% dan  rendemen limbah sebesar 60,3% yang  terdiri berturut-turut: daging merah (“tetelan”) sebesar 23,1%; kepala 17,8%;  tulang dan  sirip  8,5%;  kulit  3,7%;  isi  perut/lambung  (jeroan)  3,2%;  darah 0,9%  dan  jantung  0,6%.    Daging  merah biasanya dijual murah dan kurang dimanfaatkan, sementara potensinya cukup besar. Kecap ikan belum banyak dikenal, tapi mempunyai prospek yang baik sebagai  industri rumah tangga untuk meningkatkan nilai tambah dari limbah  tuna  loin. Pengolahan kecap  ikan  sangat  sederhana  dan  murah  bahan  dan peralatannya.   Kecap  ikan dapat dibuat dari hancuran daging merah setelah dicuci,  tambahkan garam, hidrolisa enzimatis dengan ekstrak nenas,  dan  pemasakan  dengan penambahan  gula.  Tujuan  dari  penelitian ini  adalah mengetahui  rendemen (jumlah) kecap ikan yang dihasilkan, kualitas  kecap ikan  dan  keuntungan  usaha  kecap  ikan.  Hasil penelitian menunjukkan  bahwa rendemen (jumlah/kuantitas) kecap ikan terhadap bahan  baku  yang  digunakan  adalah 354.3%  (v/w) atau bahan baku yang digunakan adalah 28%  (b/v). Kualitas kecap  ikan yang dihasilkan adalah kadar air 37,74%; kadar protein 5,0%, kadar lemak 0,50%; kadar abu 5.02%; pH 5,43; TVB (Total Volatile Bases) 14.53 mgN%, TPC (Total Plate Count) 4.69 (log X) atau 4.9 x 104 koloni, Berat Jenis (BJ)  1.28 dan kekentalan  120.0 pc.   Keuntungan usaha pengolahan kecap  ikan dengan produksi 7.500 ml  (skala  industri  rumah  tangga) adalah Rp. 107,600,-
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI KITIN DAN KITOSAN DARI KULIT UDANG WINDU (Penaeus monodon) DENGAN SPEKTROSKOPI INFRAMERAH Dompeipen, Edward J.
Majalah BIAM Vol 13, No 1 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.822 KB) | DOI: 10.29360/mb.v13i1.3120

Abstract

ABSTRAK Kitin dan kitosan merupakan biopolimer alami pada Krustasea dan Jamur. Kitosan digunakan secara ekstensif sebagai bahan baku di berbagai industri. Penelitian bertujuan untuk mengekstraksi kitin dan kitosan dari kulit udang melalui reaksi deproteinisasi, demineralisasi, dekolorisasi dan deastilasi. Rendemen kitin dan kitosan  yang dihasilkan secara berturut turut adalah 60,5% dan 63,0%. Hasil analisis terhadap spektrum FTIR kitin memperlihatkan beberapa puncak utama pada bilangan gelombang 3554,45 cm-1 yang menunjukkan vibrasi pembengkokan amida sekunder dan amina (NH) sekunder pada bilangan gelombang 1670.35 cm-1 serta 1427,32cm-1 menunjukkan adanya vibrasi peregangan CH. Hasil analisis spektrum FTIR kitosan menunjukkan adanya vibrasi peregangan simetris pada 3302,20 cm-1 akibat adanya tumpang tindih OH dan amina (NH), vibrasi peregangan 1577.71 cm-1 disebabkan oleh perambatan C = O peregangan (amida I) dan vibrasi peregangan 1666,30 cm-1 yang menunjukkan amida sekunder. Hasil karakterisasi dengan spektroskopi inframerah menunjukkan bahwa senyawa hasil ekstraksi adalah kitin dan kitosan. Kata kunci : Ekstraksi,kulit udang, kitin, kitosan, spektroskopi inframerah. ABSTRACT Chitin and chitosan are natural biopolymers in crustaceans and fungi. Chitosan is used extensively as raw materials in various industries. The study aimed to extract chitin and chitosan from shrimp shells through deproteinization, demineralization, decolorization and deastilation reactions. The yields of chitin and chitosan which were produced successively were 60.5% and 63.0%. The analysis of FTIR chitin spectrum showed some major peaks at wavelength 3554,45 cm-1 indicating secondary bending amide and secondary amine (NH) vibration at wave number 1670.35 cm-1 and 1427,32cm-1 indicating stretch vibration of CH. The results of FTIR spectroscopy analysis showed a symmetrical stretch vibration at 3302.20 cm-1 due to overlapping of OH and amine (NH), stretching vibration 1577.71 cm-1 caused by propagation C = O stretching (amide I) and stretch vibration 1666, 30 cm-1 indicating secondary amide. The results of characterization by infrared spectroscopy showed that  the extraction compound was chitin and chitosan. Key words : Extraction, shrimp skin, chitin, chitosan, infrared spectroscopy.
ANALISIS KANDUNGAN FORMALIN PADA MIE BASAH PADA BEBERAPA LOKASI DI KOTA AMBON Male, Yusthinus T; Letsoin, Lina I; Siahaya, Netty A
Majalah BIAM Vol 13, No 2 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.739 KB) | DOI: 10.29360/mb.v13i2.3530

Abstract

Telah dilakukan penelitian untuk menganalisis kandungan formalin mie basah pada beberapa lokasi di Kota Ambon. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan formalin pada mie basah. Penelitian ini menggunakan tiga tahap pengujian. Pada tahap awal, dilakukan uji fisik dan analisis kualitatif untuk  menentukan ada tidaknya formalin dan analisis kuantitatif digunakan untuk menentukan kadar formalin dalam mie basah. Dari pengamatan uji fisik, ditemukan dua dari empat belas sampel mie basah mengandung formalin  yaitu sampel J (Batu Merah) dan K (Mardika) karena tetap awet sampai tiga hari. Analisis kualitatif dengan pereaksi asam kromatofat tidak menunjukkan perubahan warna yang khas. Pada pengamatan uji fisik mie basah dua sampel yang mengandung formalin dilanjutkan dengan analisis kuantitatif menggunakan Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 520 nm. Kadar formalin untuk sampel J (Batu Merah) sebesar 9,07 mg/kg dan sampel K (Mardika) sebesar 10,01 mg/kg. Sesuai syarat mutu mie basah pada SNI 01-2987-1992, mie basah tidak boleh mengandung formalin.
OPTIMASI PRODUKSI RIBOFLAVIN (VITAMIN B2) DENGAN SUBSTRAT IKAN MENGGUNAKAN Eremothecium gossypii idrus, syarifuddin
Majalah BIAM Vol 13, No 1 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.016 KB) | DOI: 10.29360/mb.v13i1.2800

Abstract

Produksi riboflavin melalui proses fermentasi terus meningkat disebabkan karena lebih murah biaya produksinya, limbah yang dihasilkan lebih sedikit, dan energi untuk produksi lebih rendah. Disamping itu, proses fermentasi juga menggunakan substrat dari sumber yang dapat diperbaharui. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi produksi riboflavin menggunakan ikan sebagai substrat. Proses fermentasi diamati pada 0-120 jam untuk memperoleh waktu optimal dan substrat optimal untuk produksi riboflavin. Riboflavin hasil fermentasi diuji menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 445 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimal untuk produksi riboflavin adalah 72 jam. Glukosa sebagai sumber karbon optimal pada 10 g/L dengan jumlah riboflavin yang diperoleh sebesar 40,5 mg/L. Penggunaan ikan sebagai sumber karbon optimal pada 10 g/L dengan jumlah riboflavin 24,8 mg/L. Penggunaan substrat campuran glukosa dan ikan sebagai sumber karbon optimal pada 10 g/L dengan jumlah riboflavin yang dihasilkan sebesar 51,2 mg/L.
PROFIL ASAM LEMAK IKAN LAYANG SEGAR (Decapterus macrosoma) Manduapessy, Komers R. W.
Majalah BIAM Vol 13, No 1 (2017): Majalah BIAM
Publisher : Balai Riset dan Standardisasi Industri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.478 KB) | DOI: 10.29360/mb.v13i1.3051

Abstract

Sumber daya perikanan di Indonesia khususnya di Maluku dari jenis ikan pelagis kecil memegang peranan  penting dalam konsumsi harian masyarakat. Ikan pelagis kecil meliputi ikan-ikan yang hidup di permukaan laut seperti ikan tongkol (Auxis thazard), ikan layang (Decapterus macrosoma), ikan selar (Selaroides sp) dan lain-lain. Lemak disusun oleh asam-asam lemak yang terdiri atas asam lemak jenuh dan asam lemak tak jenuh. Kemampuan tubuh untuk mensintesis asam lemak tak jenuh yang mempunyai  dua atau  lebih  ikatan rangkap sangat terbatas, sehingga asam lemak tersebut harus didapatkan dari makanan. Tujuan dari penelitian ini yaitu Untuk mengetahui jenis asam lemak yang terdapat pada ikan layang segar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi ekstraksi lemak, kemudian proses transesterifikasi dan pengamatan dengan GCMS.  Hasil penelitian menunjukan ditemukannya  Asam Lemak Ikan Layang (Decapterus macrosoma) segar yaitu   asam miristat, asam palmitat, asam stearat, asam nonadekanoat, asam arakidat, asam lignoserat, asam heptadekanoat, yang tergolong asam lemak jenuh, sedangkan asam lemak yang tidak jenuh yaitu asam palmitoleat, asam arakidonat, asam eikosenoat dan asam Oleat.

Page 5 of 16 | Total Record : 156