cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Arena Tekstil
ISSN : 05184010     EISSN : 25487264     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal ini memuat artikel dalam bidang tekstil yang meliputi teknik, kimia, material, desain serta konservasi energi dan lingkungan. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian orisinal yang menyampaikan informasi baru pada bidang tekstil, hasil penelitian teknis yang menggambarkan suatu pengembangan, kemajuan teknis, dan inovasi dalam manufaktur dan processing, teknik laboran dengan data eksperimental yang cukup yang mengilustrasikan kegunaan suatu metoda atau peralatan tertentu, atau artikel tinjauan ilmiah (review) yang mengupas secara kritis suatu topik pada bidang tekstil yang cukup penting. Topik bahasan tidak bersifat umum, tetapi berupa suatu aspek yang dibahas secara mendalam.
Arjuna Subject : -
Articles 254 Documents
PENGEMBANGAN KAIN RAJUT DENGAN EFEK ILUSI OPTIK UNTUK KAIN SANDANG MENGGUNAKAN MESIN RAJUT SINGLE KNIT SEMI SEAMLESS Dermawati Suantara; Yusniar Siregar; Rizal Fahruroji
Arena Tekstil Vol 34, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v34i2.4377

Abstract

Proses pembuatan kain rajut dalam penelitian ini menggunakan mesin Single Knit Santoni Jacquard MF 8, gauge14 GG, diameter 14 inci, 8 feeder, jumlah jarum  1248 jarum, dan kecepatan 44 rpm, dimana jeratan knit dan welt dapat menghasilkan motif jacquard yang bervariasi, salah satu motif dengan ilusi optik. Bahan baku yang digunakan adalah benang poliester, kapas, nylon dan lycra. Pada penelitian ini kain rajut dibuat menjadi 3 variasi desain ilusi optik yang sama. Pemakaian benang nilon dan lurex dalam penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kain rajut dengan efek yang berbeda yaitu adanya efek kilau dari benang lurex yang berwarna perak. Kain rajut yang terdiri dari jeratan -jeratan benang mengalami perubahan bentuk, karena sifatnya yang fleksibel. Dari hasil pengujian ketahanan jebol, kain rajut kapas, poliester, dan nilon memiliki interval waktu jebol yang hampir sama namun distension (jarak) sampai terjadinya jebol pada kain rajut nilon adalah yang tertinggi yaitu 17.7 mm. Sedangkan pada kain rajut kapas dan poliester masing-masing adalah 14.4 mm dan 14.9 mm. Kain rajut nilon memiliki ketahanan jebol tertinggi yaitu 960.9 kPa dibandingkan dengan kain kapas (725.9 kPa) dan kain poliester (752.5 kPa). Hal ini berbanding lurus dengan sifat kekuatan tarik seratnya dimana sifat kekuatan tarik serat nilon lebih tinggi dibandingkan serat poliester dan kapas. Mengacu pada standar SNI 2367:2008, ketiga jenis kain rajut yang diuji masih memenuhi persyaratan mutu ketahanan jebol yaitu minimum 686.4 kPa. Hasil uji ketahanan luntur warna kain terhadap pencucian rumah tangga, gosokan dan keringat menunjukkan hasil yang sesuai dengan persyaratan mutu SNI 2367:2008, yaitu 4-5. Ilusi optik pada kain lebih terlihat ketika konstruksi kain dibuat semakin rapat.
APLIKASI KITOSAN-FOSFAT UNTUK MENINGKATKAN SIFAT TAHAN API KAIN KAPAS Cica Kasipah; Rizka Yulina; Wulan Septiani; Rr. Srie Gustiani; Mochammad Danny Sukardan
Arena Tekstil Vol 34, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v34i2.5196

Abstract

Penggunaan zat tahan api pada tekstil yang bersifat ramah lingkungan sangat diperlukan untuk menggantikan zat tahan api yang bersifat toksik. Pada penelitian ini telah dilakukan aplikasi kitosan-fosfat sebagai zat tahan api yang bersifat ramah lingkungan untuk meningkatkan sifat tahan api kain kapas. Metode penelitian meliputi  pelapisan kitosan dan amonium polifosfat  pada kain kapas yang dilakukan dengan 2 tahapan proses. Tahap 1 pelapisan kitosan pada serat kapas dengan cara perendaman, dilanjutkan tahap 2 pelapisan amonium polifosfat pada kain kapas yang telah mengandung kitosan dengan cara pad-dry-cure.  Evaluasi dan pengujian dilakukan terhadap sifat tahan api kain kapas sebelum dan sesudah diproses dengan kitosan dan amonium polifosfat dengan metode SNI 0989:2011, uji morfologi permukaan kain kapas menggunakan SEM (Scanning Electron Microscope), serta uji sifat termal kain kapas menggunakan TGA. Melalui 2 tahap proses pelapisan kitosan dan amonium polifosfat pada kain kapas, diperoleh kain kapas yang bersifat tahan api dengan kondisi optimum pelapisan kitosan 1% dan amonium polifosfat 2%. Hasil uji menunjukkan bahwa waktu perambatan nyala api 0 detik, dekomposisi termal pada temperatur 298oC jauh lebih rendah daripada kain kapas kontrol yaitu 374oC, dan pada temperatur 500oC menyisakan residu sampel sebesar 38,7% jauh lebih besar dibandingkan residu kain kapas kontrol sebesar 8,9%. Penurunan temperatur dekomposisi termal dan peningkatan jumlah residu pada sampel kain kitosan-fosfat menunjukkan bahwa kain kapas kitosan-fosfat hasil penelitian ini telah tebukti memiliki sifat tahan api.
PEWARNAAN BATIK KAPAS DAN SUTERA MENGGUNAKAN DAUN INDIGOFERA TINCTORIA DARI AMBARAWA DAN KULON PROGO DENGAN REDUKTOR GULA AREN DAN TETES TEBU Agus Haerudin; Aprilia Fitriani
Arena Tekstil Vol 34, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v34i2.5420

Abstract

Tanaman Indigofera tinctoria merupakan salah satu tanaman semak yang berpotensi untuk dijadikan pewarna alam. Tanaman tersebut banyak tumbuh di Indonesia secara liar dengan berbagai jenis, salah satunya adalah indigofera tinctoria. Besarnya potensi tanaman indigofera tinctoria terlihat dari adanya beberapa daerah di Indonesia yang telah banyak membudidayakannya dengan baik saat ini. Sumber pigmen warna tanaman indigofera berasal dari senyawa indigotin yang umumnya terkandung pada daun dan ranting yang diproses dengan cara fermentasi reduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data kualitas ketahanan luntur warna pada pencucian, jemur sinar matahari serta arah warna yang dihasilkan dari pewarnaan batik kain kapas dengan menggunakan zat warna alam indigofera tinctorial, dengan pereduksi gula aren dan tetes tebu serta untuk menghasilkan formula proses yang optimal. Metodologi penelitian yang dilakukan adalah fermentasi daun indigofera tinctoria yang berasal perkebunan di daerah Ambarawa dan Kulon Progo dalam air selama 24 jam, reduksi pasta indigofera menggunakan gula aren dan tetes tebu, aplikasi pada pewarnaan batik kapas dan sutera serta pengujian kualitas, arah dan ketahanan luntur warnanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pewarnaan kain batik oleh indigofera tinctoria dari semua daerah lokasi pengambilan tanaman memiliki ketahanan luntur warna yang baik terhadap pencucian, gosokan basah, dan sinar matahari dengan nilai rata–rata 4–5. Arah warna yang dihasilkan adalah biru muda hingga biru tua. Kain batik dengan hasil warna biru paling tua (nilai K/S 55,12) diperoleh dari pasta indigofera dari perkebunan Kulon Progo dengan reduktor gula aren.
Preface Arena Tekstil Vol 34 No 2 2019 BBT, Author
Arena Tekstil Vol 34, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v34i2.5883

Abstract

APLIKASI BENANG SLUB UNTUK PEMBUATAN PRODUK WINDOW COVERING Yusniar Siregar; Mochammad Danny Sukardan; Dermawati Suantara; Rizal Fahruroji
Arena Tekstil Vol 34, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v34i2.5669

Abstract

Pada penelitian ini telah dihasilkan kain tenun menggunakan benang slub dengan beberapa variasi rangkapan, yaitu benang slub dengan nomor benang Ne 15 (single slub), Ne 8 (rangkap 2), Ne 5 (rangkap 3), dan Ne 3 (rangkap 4). Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh kondisi optimal pembuatan benang slub sebagai material window covering. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa benang fancy khususnya benang slub dapat diproses di Mesin Creative Caipo dengan program yang bervariasi. Benang slub Ne 3 memiliki diameter benang paling besar dan twist paling tinggi yaitu 172 Tpm namun efek slub cenderung samar, jika dibandingkan dengan benang slub Ne 5 dan Ne 8 yang terlihat lebih jelas. Menurut SNI 08-1275-2002 : Kain tenun untuk gorden, syarat mutu kekuatan tarik kain gorden adalah minimum 1000 gram. Berdasarkan hasil uji kekuatan tarik tersebut maka hanya benang slub Ne 5 dan Ne 3 yang memenuhi standar, yaitu 1563,66 gram dan 2332,53 gram. Sedangkan untuk syarat mutu berat kain (minimum 135 g/m2), maka hasil uji ketiga variasi benang slub tersebut sesuai dengan persyaratan mutu kain gorden. Hasil uji ketahanan luntur terhadap sinar matahari terhadap ketiga variasi benang slub sesuai dengan mutu kain gorden, yaitu dengan nilai 4-5.
PENYEMPURNAAN TAHAN API DAN ANTIBAKTERI PADA KAIN KAPAS DENGAN N-METILOL DIMETILFOSFONOPROPIONAMIDA (PYROVATEX CP NEW) DAN KITOSAN MENGGUNAKAN PLASMA LUCUTAN KORONA Mohamad Widodo; Siti Nuhiyah; Khairul Umam; Zaenul Muchlisin; Muhammad Nur
Arena Tekstil Vol 34, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v34i2.5709

Abstract

Plasma lucutan korona dengan konfigurasi elektroda multi titik-bidang telah digunakan pada studi ini untuk proses penyempurnaan tahan api dan antibakteri pada kain kapas menggunakan N-metilol dimetilfosfonopropionamida (MDFPA, Pyrovatex CP New) dan kitosan. Kain kapas diberi perlakuan dengan campuran Pyrovatex CP New 400 g/L, asam fosfor 80% 20 g/L, dan kitosan 10 g/L menggunakan metode benam peras-plasma, plasma-benam peras dan plasma-perendaman dengan variasi waktu pajanan plasma 5 – 30 menit. Ketiga metode tersebut menghasilkan kain kapas yang tidak meneruskan pembakaran dengan panjang arang bervariasi antara 9,5 – 12,2 cm tergantung waktu pemajanan. Sebagai perbandingan, kain kapas yang tidak diberi perlakuan memiliki waktu nyala dan bara masing-masing 7 dan 20 detik serta panjang arang 30 cm, sedangkan cara benam peras-pemanaswetan menghasilkan kain yang juga tidak meneruskan pembakaran tapi dengan panjang arang 16 cm. Hingga batas tertentu, arang yang tersisa semakin pendek dengan semakin lamanya waktu pajanan plasma karena waktu pemajanan yang terlalu lama justru menambah panjang arang. Cara plasma-perendaman menghasilkan aktifitas antibakteri yang relatif lebih tinggi dengan diameter daya hambat sebesar 14 mm daripada plasma-benam peras dan benam peras-plasma yang hanya menghasilkan daya hambat sebesar 13 mm. Meskipun belum maksimum, perlakuan kain kapas dengan Pyrovatex CP New dan kitosan menggunakan plasma lucutan korona telah memberikan sifat tahan api dan antibakteri yang cukup signifikan dan menjanjikan.
APLIKASI EKSTRAK BIJI PINANG (Areca Catechu L) SEBAGAI ZAT ANTIBAKTERI PADA KAIN KAPAS Rr. Srie Gustiani; Wulan Septiani; Cica Kasipah
Arena Tekstil Vol 34, No 2 (2019)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v34i2.4341

Abstract

Kepedulian masyarakat mengenai kesehatan semakin berkembang, dibuktikan dengan banyaknya penelitian mengenai antibakteri khususnya pada material tekstil. Penambahan finishing agent antibakteri pada kain kapas akan mencegah tumbuhnya bakteri yang akan menimbulkan bau, gatal, dll pada kulit yang bersentuhan langsung dengan kain. Pada penelitian ini dilakukan penambahan zat aktif antibakteri dari ekstrak biji pinang pada kain kapas. Kain kapas antibakteri ini dibuat dari kain kapas yang dilapisi larutan ekstrak biji pinang (variasi konsentrasi 1 g/l, 5 g/l dan 10 g/l) dan binding agent (variasi jenis agent polivinil alkohol, poliuretan dan binder 722). Proses pelapisan dilakukan menggunakan metoda rendam peras-pemanasawetan (pad-dry-cure) dan hasil proses dibandingkan dengan kain kapas blanko. Karakterisasi pada kain hasil proses meliputi pengamatan morfologi (SEM), analisa gugus fungsi (FTIR) dan uji aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa pinang dapat digunakan sebagai antibakteri pada kain kapas, berdasarkan hasil uji antibakteri. Binder 722 merupakan crosslinking agent yang paling baik untuk mengikat pinang pada kain, hal ini dapat dilihat dari efektivitas dan durabilitasnya dalam mencegah pertumbuhan bakteri. Setelah 9 kali pencucian rumah tangga, efisiensi pencegahan pertumbuhan bakteri E. coli hanya menurun dari 99,5% menjadi 97,4% dan S. aureus menurun dari 95,1% menjadi 92,2%. Dari hasil SEM kain tanpa pinang terlihat tidak ada partikel yang menempel. Semakin besar konsentrasi ekstrak pinang, maka makin banyak pinang yang menempel pada kain. Dari hasil uji FTIR dapat dilihat adanya puncak serapan pada pangan gelombang 1579 dan 1502 cm-1, yang menunjukkan adanya pinang yang menempel pada kain yang telah diproses.
PREFACE ARENA TEKSTIL VOL 35 NO 1 2020 Author BBT
Arena Tekstil Vol 35, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v35i1.6301

Abstract

PENINGKATAN SIFAT MOISTURE MANAGEMENT DAN SOIL RELEASE PADA KAIN TENUN POLIESTER MENGGUNAKAN SENYAWA KOPOLIMER HIDROFILIK Arif Wibi Sana; Silvani Olival Alif; M Danny Sukardan; Emma Yuniar Rakhmatiara; Ana Titis Mustikawati
Arena Tekstil Vol 35, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v35i1.5827

Abstract

Kemampuan moisture management dan soil release merupakan dua faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan dan kemudahan perawatan pada pakaian. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki sifat moisture management dan soil release pada kain poliester sehingga lebih nyaman saat dipakai dan mudah melepaskan kotoran saat dicuci. Metode penelitian ini adalah dengan melakukan proses penyempurnaan pada kain tenun poliester menggunakan senyawa kopolimer hidrofilik, meliputi tahapan perendaman (dipping), pemerasan (padding), pengeringan (drying), dan pemanasawetan (curing). Untuk memperoleh kondisi proses terbaik, dilakukan percobaan dengan memvariasikan beberapa parameter, yaitu konsentrasi senyawa kopolimer hidrofilik (10 g/L; 20 g/L; 30 g/L; 40 g/L), suhu pemanasawetan (150 °C; 160 °C; 170 °C) dan waktu pemanasawetan (0,5 menit; 1 menit; dan 1,5 menit). Evaluasi dilakukan melalui pengujian menggunakan alat moisture management tester (MMT) dan uji soil release. Hasil uji menunjukan bahwa terjadi peningkatan sifat moisture management dan soil release pada kain poliester setelah diberi perlakuan dengan senyawa kopolimer hidrofilik. Kondisi proses optimum diperoleh pada konsentrasi 30 g/L, suhu pemanasawetan160 °C, dan waktu pemanasawetan 1 menit.
STUDI PENINGKATAN DAYA SERAP KAIN POLIESTER DENGAN MENGGUNAKAN ENZIM LIPASE Agung Haryanto; Noerati Noerati
Arena Tekstil Vol 35, No 1 (2020)
Publisher : Balai Besar Tekstil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31266/at.v35i1.6047

Abstract

Poliester memiliki keunggulan dibandingkan dengan serat sintetis lainnya diantaranya memiliki kekuatan yang tinggi, tidak mudah mulur, tidak mudah kusut apabila dicuci, dan memiliki ketahanan abrasi, namun juga memiliki kekurangan dalam sifat hidrofobiknya, hal ini disebabkan oleh moisture regain yang rendah yaitu 0,4%. Salah satu teknik yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan sifat hidrofilik dari kain poliester dengan tanpa mengakibatkan kerusakan pada bahan adalah dengan menggunakan enzim lipase. Penelitian ini membahas mengenai pengaruh variasi konsentrasi enzim lipase (berupa crude enzim lipase) dalam upaya peningkatan daya serap kain poliester. Variasi konsentrasi enzim yang digunakan yaitu 40%, 60%, 80%, dan 100% off weight fabric (owf). Setelah proses enzimatik kain poliester dilakukan evaluasi, terhadap pengurangan berat bahan, waktu serap (dengan menggunakan standar AATCC 79 yang diamati melalui digital microscope), serta analisa gugus fungsi poliester melalui FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enzim lipase berpengaruh pada peningkatan daya serap. Kain poliester tanpa perlakuan enzim memiliki daya serap 19 detik dan daya serap meningkat secara signifikan menjadi 4 detik pada konsentrasi enzim lipase 60%. Peningkatan daya serap ini lebih baik dibandingkan pada konsentrasi enzim lipase lainnya, yaitu pada konsentrasi enzim lipase 40% (5,3 detik), 80% (4,7 detik), dan 100% (4,7 detik).