cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
Sampul Jurnal Geografi Gea Vol 19, No 1 April (2019) Gea, Jurnal Geografi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 19, No 1 (2019)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v19i1.18493

Abstract

Please download the pdf file to see the cover and list of contents
Analisis Penyebab Banjir di Kota Samarinda Sulaiman, Muhammad Enggi; Setiawan, Haris; Jalil, Muhammad; Purwadi, Fathan; S, Christopel Adio; Brata, Asri Wahyu; Jufda, Andi Syaful
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 20, No 1 (2020)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v20i1.22021

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui persebaran banjir di Kota Samarinda, Mengindentifikasi penyebab banjir di Kota Samarinda, dan Mengindentifikasi dampak banjir terhadap Masyarakat Kota Samarinda. Kota Samarinda adalah daerah yang rawan terhadap bencana banjir. Dimana penyeabab banjir permasalahan banjir di Kota Samarinda terjadi akibat berlebihnya limpasan permukaan dan tidak tertampungnya limpasan tersebut dalam badan sungai sehingga air meluap. Ada dua faktor yang menyebabkan banjir di Kota Samarinda yang pertama, Faktor alam seperti tingginya curah hujan, topografi wilayah, pasang surut air sungai Mahakam, dan lain-lain. Dan yang kedua, adalah manusia, utamanya bersumber pada unsur pertumbuhan penduduk akan diikuti peningkatan kebutuhan infrastruktur, pemukiman, sarana air bersih, pendidkan, serta layanan masyarakat lainnya. Selain itu pertumbuhan penduduk akan diikuti juga kebutuhan lahan usaha untuk pertanian, perkebunan, maupun industry. Sumber genangan (banjir) di Kota Samarinda khususnya yang dampaknya pada aktivitas masyarakat dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu, Akibat Pasang Sungai Mahakam.yang pertama Bajir Kiriman, yang kedua Bajir Lokal, dan Yang ketiga adalah Banjir Akibat Pasang Sungai Mahakam.
KONSERVASI JENIS LAMUN DI KAWASAN PERAIRAN PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU, PROVINSI DKI JAKARTA Baihaqi, Refaldi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 19, No 1 (2019)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v19i1.14780

Abstract

Lamun merupakan salah satu tumbuhan penyokong kehidupan dilaut, khususnya daerah pesisir.Banyak manfaat yang dihasilkan dari adanya ekosistem lamun atau seagrass baik untuk ekosistem dan biota di laut maupun bagi ekonomi dan sosial bagi masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikanjenis- jenis, ciri-ciri dan manfaat lamun yang ada di Kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu, khususnya di Pulau Pramuka, Provinsi DKI Jakarta. Metode yang digunakan adalah data lamun berupa jenis-jenis lamun dan ciri-cirinya. selain itu, ada wawancara bebas dengan petugas dari Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) dan melalui dokumen yang diperoleh melalui penelusuran dengan menggunakan kata kunci distribusi lamun, spesies lamun melalui internet.Analisis data berupa deskriptif analisis untuk memaparkan mengenai jenis dan ciri lamun serta status konservasinya. Hasil yang didapatkan terdapat 7 jenis lamun yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Enhalus acoroides, Halodule uninervis, Halophila ovalis, Thalassia hemprichii dan Syringodium isoetifolium. manfaat lamun bagi daerah pesisir dan akibat yang ditimbulkan dari aktivitas manusia di daerah sekitar pesisiryang juga mempengaruhi kondisi komunitas lamun.
ESTIMASI KOORDINAT TITIK KONTROL PEMANTAUAN DEFORMASI BENDUNGAN SERMO DENGAN METODE PARAMETER BERTAHAP DARI DATA BASELINE HASIL PENGOLAHAN GAMIT Affriani, Asri Ria; Widjajanti, Nurrohmat; Yulaikhah, Yulaikhah
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v19i2.20715

Abstract

Bendungan Sermo merupakan suatu bangunan struktur yang berfungsi sebagai penampung air untuk air bersih, irigasi pengairan, serta pencegah banjir di Kabupaten Kulon Progo. Oleh karena pentingnya bangunan tersebut, perlu dilakukan pemantauan guna mendeteksi adanya deformasi. Adanya pergerakan geodinamik, perluasan area pemantauan, dan deteksi retakan tanah (crack) memerlukan penambahan jumlah titik kontrol pemantauan deformasi. Penambahan titik kontrol dalam suatu pengukuran dapat mempengaruhi ketelitian hasil pengolahan data sehingga memerlukan strategi khusus pengolahan data. Oleh karena itu, digunakan hitung perataan metode parameter bertahap. Tujuan dari penelitian ini adalah teridentifikasi nilai koordinat 3D dan perbedaan ketelitian titik kontrol pemantaun deformasi yang dihasilkan dari pengolahan dengan metode parameter bertahap serta teridentifikasi signifikansi perbedaan koordinat dan ketelitian hasil pengolahan metode parameter bertahap dengan hasil pengolahan dengan perangkat lunak GAMIT/GLOBK.Penelitian ini menggunakan data pengamatan GNSS 10 titik kontrol pemantauan deformasi Bendungan Sermo yang diukur pada day of year (doy) 250 tahun 2014 selama ± 2 jam dan doy 129 tahun 2015 ± 8 jam. Pengolahan data dilakukan dengan perangkat lunak GAMIT untuk mendapatkan panjang baseline dan ketelitiannya dengan pengikatan lokal pada enam stasiun CORS BIG. Nilai panjang baseline dan ketelitiannya digunakan sebagai input dalam pengolahan dengan hitung perataan parameter bertahap sehingga dihasilkan nilai koordinat titik kontrol pemantauan deformasi dan ketelitannya. Pada perataan bertahap tahap pertama digunakan lima titik kontrol dengan satu titik dianggap fixed. Perataan bertahap tahap kedua ditambahkan lima titik kontrol. Analisis yang dilakukan meliputi analisis perbedaan ketelitian pada titik kontrol pemantauan hasil pengolahan data dengan metode parameter bertahap dan perbandingan koordinat 3D hasil pengolahan metode parameter bertahap dengan hasil pengolahan GAMIT/GLOBK.Analisis perbedaan ketelitian hasil pengolahan data menggunakan metode parameter bertahap menunjukkan bahwa terdapat peningkatan ketelitian pada kelima titik kontrol yang diolah pada tahap pertama. Peningkatan ketelitian berkisar antara 0,193 cm s.d. 5,450 cm. Berdasarkan uji perbandingan dua varian sampel, ketelitian hasil pengolahan tahap pertama berbeda signifikan dengan ketelitian hasil pengolahan tahap kedua. Hasil uji signifikansi beda dua parameter menunjukkan bahwa hasil pengolahan koordinat 3D dengan metode perataan bertahap tidak berbeda signifikan dengan hasil pengolahan dengan perangkat lunak GAMIT/GLOBK secara statistik.
Sampul GEA Vol 20, No 1 April (2020) Gea, Gea
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 20, No 1 (2020)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v20i1.24403

Abstract

Please download the pdf file to see the cover and list of contents 
PERUBAHAN TEMPERATUR PERMUKAAN LAHAN DI KOTA BANDUNG TAHUN 2009-2018 Himayah, Shafira
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v19i2.20697

Abstract

Kegunaan teknologi penginderaan jauh diantaranya adalah dapat merekam area yang sama dalam waktu yang berbeda, diistilahkan sebagai resolusi multi temporal. Keunggulan ini dapat digunakan untuk mengamati fenomena dinamis permukaan bumi seperti perubahan temperatur permukaan lahan. Hasil perekaman temperatur lahan oleh sensor thermal penginderaan jauh dapat diobservasi di berbagai skala pengamatan, begitu pula dengan distribusinya. Kota Bandung merupakan Ibu Kota Provinsi yang senantiasa mengalami perubahan, termasuk dalam hal pertambahan penduduk. Keunikan lokasi Kota Bandung yang terletak di pusat Cekungan Bandung dengan topografi cenderung landai hingga bergelombang menjadi dasar dilakukannya penelitian dengan tujuan : 1) Menganalisis perubahan temperatur permukaan lahan di Kota Bandung tahun 2009 - 2018, 2) Menganalisis pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perubahan temperatur permukaan lahan di Kota Bandung.Penelitian ini menggunakan metode pengolahan saluran infra merah dan infra merah termal untuk memperoleh perubahan nilai Land Surface Temperature (LST), dan analisa statistik data pertumbuhan penduduk untuk kemudian dilakukan komparasi antara kedua variabel tersebut. Hasil komaparasi antara data statistik pertambahan penduduk dengan hasil pengukuran LST menunjukkan bahwa secara teori dan konsep pertumbuhan penduduk memiliki andil dalam meningkatnya suhu permukaan lahan di suatu daerah. Namun terdapat faktor-faktor lain yang dapat dipertimbangkan sebagai penyebab kenaikan suhu pemukaan lahan di suatu daerah seperti kelas penutup lahan. Pertumbuhan penduduk yang sedikit namun terdapat pada area yang penggunaan lahannya banyak terkonversi menjadi lahan terbangun cenderung memiliki nilai suhu permukaan lahan yang tinggi dibandingkan area dengan peningkatan jumlah penduduk yang signifikan namun memiliki penggunaan lahan alami yang tidak banyak terkonversi.
PADANG LAMUN SEBAGAI EKOSISTEM PENUNJANG KEHIDUPAN BIOTA LAUT DI PULAU PRAMUKA, KEPULAUAN SERIBU, INDONESIA Jalaludin, Muzani; Octaviyani, Ika Nur; Praninda Putri, Aufeeazzahra Nurani; Octaviyani, Winny; Aldiansyah, Iqbal
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 20, No 1 (2020)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v20i1.22749

Abstract

Ekosistem pesisir pada umumnya terdiri atas 3 komponen penyusun, yaitu padang lamun, terumbu karang, serta mangrove. Ketiga ekosistem tersebut membuat wilayah di daerah pesisir menjadi daerah yang relatif sangat subur dan produktif. Padang lamun merupakan suatu ekosistem pesisir yang memiliki produktivitas hayati tinggi dan sangat berperan penting pada fungsi-fungsi ekologis dan fisik dari lingkungan di daerah pesisir. Secara ekologis, padang lamun berperan sebagai daerah asuhan, daerah mencari makan para ikan kecil, penyu, bulu babi, dan biota lainnya, serta tempat berlindung berbagai jenis biota laut. Secara fisik, padang lamun berperan sebagai vegetasi yang menjaga stabilitas dan penahan sedimentasi di daerah pesisir, mengurangi dan memperlambat pergerakan gelombang, serta sebagai terjadinya suatu siklus nutrient, serta dapat dikatakan bahwa ekosistem padang lamun merupakan salah satu ekosistem di laut dangkal yang memiliki produktivitas tinggi. Selain itu, padang lamun memiliki fungsi yang tidak kalah penting dan cukup banyak diteliti pada saat ini, yaitu fungsinya sebagai penyerap karbon (carbon sink) atau Blue Carbon (Karawoe, 2009). Ekosistem padang lamun ini sangat memiliki peranan penting dalam penunjang kehidupan dan perkembangan biota laut di lautan yang dangkal, salah satu contohnya seperti di Pulau Pramuka ini. Penelitian mengenai peranan padang lamun sebagai ekosistem penunjang kehidupan biota laut di Pulau Pramuka ini dilakukan dengan penelitian langsung ke lapangan pada tanggal 6, 7, dan 8 Desember 2019. Dari hasil penelitian, kami menemukan bahwa ada 4 jenis lamun di Pulau Pramuka tepatnya di daerah timur di Pulau Pramuka, yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulate, Enhalus acoroides, dan Enhalus hemprichii. Keempat jenis lamun ini memiliki peranan penting dalam ekosistem padang lamun terutama dalam menunjang kehidupan biota laut di Pulau Pramuka.
UPAYA KONSERVASI ELANG BONDOL DI PULAU KOTOK, TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU, PROVINSI DKI JAKARTA Danica, Naafila Noor; Murtajiah, Siti Ita; Hardi, Ode Sofyan
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 19, No 1 (2019)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v19i1.14782

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya konservasi elang di Pulau Kotok, Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pulau Kotok merupakan salah satu pulau yang berada pada gugusan Kepulauan Seribu. Terdapat penangkaran dan rehabilitasi elang bondol yang sudah langka di Pulau Kotok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah program penyelamatan dan rehabilitasi elang bondol di pulau kotok, upaya konservasi dan rehabilitasi elang bondol, dan kondisi elang bondol di Pulau Kotok saat ini. Metode pengambilan data penelitian ini berupa metode deskriptif analitik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah elang bondol yang merupakan maskot kota DKI Jakarta saat ini sedang berada diambang kepunahan. Rehabilitasi elang tidak semudah yang kita bayangkan, karena dalam proses rehabilitasi tidak semua elang tersebut dapat dilepas liarkan kembali. Sudah seharusnya kita menumbuhkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menjaga  pelestarian satwa Indonesia, salah satuya elang bondol.
Sampul GEA Vol 19, No 2 Oktober (2019) Gea, Geografi
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 19, No 2 (2019)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v19i2.20816

Abstract

Please download the pdf file to see the cover and list of contents
WILAYAH KERAWANAN LONGSOR DI KECAMATAN PAMIJAHAN KABUPATEN BOGOR Ulfah Rahayu, Ana Mariana; Ardiansyah, Andri Noor; Nuraeni, Neng Sri
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 19, No 1 (2019)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v19i1.13862

Abstract

Longsor merupakan bencana alam yang sering mengakibatkan kerugian harta benda maupun korban jiwa dan rusaknya fasilitas umum yang berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi. Umumnya longsor disebabkan oleh faktor alam maupun faktor ulah manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sebaran titik kejadian longsor dan tingkat kerawanan longsor di Kecamatan Pamijahan Kabupaten Bogor. Untuk mendapatkan informasi tingkat kerawanan dan penyebarannya dalam bentuk peta dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geografis ArcGIS 10.1. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Deskriptif Kuantitatif yang terdiri dari survey lapangan dan overlay (tumpang tindih) peta, sedangkan untuk identifikasi daerah rawan longsor menggunakan metode scoring. Parameter tingkat kerawanan longsor yang diamati adalah curah hujan, kemiringan lereng, ketinggian, jenis tanah, dan penggunaan lahan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 17 sebaran titik kejadian longsor dari tahun 2011 hingga 2015. Untuk tingkat kerawanan longsor terdiri dari tiga kelas yaitu (1) Kelas kurang rawan seluas 257,79 ha atau 1,85%; (2) Kelas rawan seluas 10.624,28 ha atau 76,20%; (3) Kelas sangat rawan seluas 3.060,26 ha atau 21,95%. Hal ini menunjukkan bahwa Kecamatan Pamijahan termasuk ke dalam tingkat yang rawan terjadi longsor.