cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
GEA, Jurnal Pendidikan Geografi
ISSN : 14120313     EISSN : 25497529     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal Geografi Gea is the information media academics and researchers who have attention to developing the educational disciplines and disciplines of Geography Education in Indonesia. GEA taken from the Greek Ghea means "God of Earth." Jurnal Geografi Gea provides a way for students, lectures, and other researchers to contribute to the scientific development of Geography Education. GEA received numerous research articles in the field of Geography Education Science and Geography.
Arjuna Subject : -
Articles 352 Documents
PEMANFAATAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH UNTUK MENGIDENTIFIKASI KERENTANAN DAN RISIKO BANJIR Somantri, Lili
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1697

Abstract

Banjir adalah bencana alam yang sering terjadi setiap musim hujan. Bencana ini tidak hanya menyebabkan kerugian harta benda, tetapi juga korban manusia. Untuk itu dalam upaya mitigasi banjir, diperlukan pemetaan tentang daerah yang rentan dan memiliki risiko terhadap banjir. Salah satu teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi daerah yang rentan terhadap banjir adalah penginderaan jauh. Teknik ini memiliki kelebihan yaitu kajiannya meliputi daerah yang luas dan memiliki biaya yang relatif murah jika dibandingkan dengan survei lapangan. Kata Kunci: Penginderaan Jauh, Kerentanan Banjir, Risiko Banjir.
LABEL HALAL DAN KONSUMEN CERDAS DALAM PERDAGANGAN PASAR BEBAS Yani, Ahmad
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 7, No 2 (2007)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v7i2.1721

Abstract

Dunia pasar bebas tidak dapat kita tolak. Suatu saat akan melimpah barang-barang produk luar negeri yang lebih baik, murah dan berkualitas tinggi. Sesaat setelah itu akan kita dengar banyak pabrik nasional yang bangkrut, pengusaha kecil akan menutup usahanya, dan pengangguran akan terjadi di mana-mana. Di pasar bebas, para pengusaha multinasional memainkan arena WTO dengan instrumen jaminan mutu produk dan ramah lingkungan. Bangsa Indonesia dari kalangan pengusaha kecil tentu saja akan kalah bersaing. Satu hal yang dapat memainkan peranan lisensi halal. Jika label itu dapat kita mainkan diduga akan membantu perekonomian dalam negeri. Langkah konkret untuk ke arah itu adalah dibangun fondasi masyarakat konsumen agar peduli terhadap barang yang halal. Cara membangunnya adalah dengan pemberdayaan masyarakat untuk dapat memilih barang yang halal dan baik, serta yang mendukung ekonomi kerakyatan. Kata Kunci: halal, pasar bebas, konsumen cerdas.
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ZONASI TINGKAT KERAWANAN BENCANA LETUSAN GUNUNG API TANGKUBANPARAHU Setiyawidi, Setiyawidi; Setiawan, Iwan; Somantri, Lili
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 11, No 2 (2011)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v11i2.1635

Abstract

Potensi bencana letusan gunungapi di Indonesia sangat besar. Hal ini karena posisi Indonesia berada di jalur gunungapi aktif dunia yang berada di sepanjang Cincin Api Pasifik (Pasific Ring Of Fire). Indonesia memiliki 129 gunung api aktif dan 271 titik erupsi akibat dari adanya tumbukan antar tiga lempeng utama bumi, yaitu lempeng Pasifik, lempeng Eurasia, dan lempeng Indo-Australia. Beberapa gunungapi sudah mulai menampakkan aktivitasnya, beberapa diantaranya mempunyai aktivitas tahunan yang lebih aktif dibandingkan gunungapi lainnya, seperti Gunung Merapi di Yogyakarta, terdapat gunungapi yang semula tipe B mendadak memperlihatkan gejala berupa letusan tipe A, seperti Gunung Sinabung di Kabupaten Karo. Terkait hal tersebut, perlu dilakukan mitigasi bencana agar meminimalisasi dampak dan jumlah korban bencana. Upaya yang dilakukan, salah satunya adalah pembuatan peta kawasan rawan bencana. Karena itu, penulis mengadakan penelitian terkait “Pemanfaatan Sistem Informasi Geografis untuk Zonasi Tingkat Kerawanan Bencana Letusan Gunungapi Tangkubanparahu”. Hal ini karena, pembangunan di wilayah kawasan Gunungapi Tangkubanparahu mengalami kemajuan yang pesat, terutama di daerah Kawasan Bandung Utara (KBU). Penelitian ini bertujuan untuk membuat zonasi tingkat kerawanan bencana letusan Gunungapi Tangkubanparahu, tingkat kerawanan bencana yang diteliti terkait tingkat kerawanan bencana aliran lahar dan tingkat kerawanan bencana aliran piroklastik (awan panas). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei deskriptif. Teknik pengumpulan datanya dilakukan interpretasi peta, survei lapangan, dan studi dokumentasi dari dinas-dinas terkait terutama dengan penelitian yang sedang dilakukan. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) berupa analisis tumpang susun (overlay), (buffering), dan analisis tiga dimensi. Hasil penelitian dengan analisis SIG terkait kelas kerawanan bencana letusan Gunungapi Tangkubanparahu, menghasilkan tiga kelas kerawanan bencana. Kelas kerawanan bencana tinggi aliran lahar mencapai 6.01% dari luas total daerah penelitian, kelas kerawanan bencana sedang aliran lahar mencapai 70.17% dari luas total daerah penelitian, sedangkan kelas kerawanan bencana rendah aliran lahar rendah mencapai 23.82% dari luas total daerah penelitian. Kelas kerawanan bencana tinggi aliran piroklastik (awan panas) mencapai 3.91% dari luas total daerah penelitian, kelas kerawanan bencana sedang aliran piroklastik (awan panas) mencapai 90.36% dari luas total daerah penelitian, sedangkan kelas kerawanan bencana rendah aliran piroklastik (awan panas) mencapai 5.72% dari luas total daerah penelitian. Saran yang dihasilkan dalam penelitian ini digunakan untuk arahan pemanfaatan ruang terutama di kawasan rawan bencana tinggi, juga tidak melakukan alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Kata kunci : pemanfaatan SIG, zonasi tingkat kerawanan bencana, Gunungapi Tangkubanparahu.
KAWASAN ANYER SEBAGAI DAERAH PARIWISATA UTAMA DI PROVINSI BANTEN Sungkawa, Dadang
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 1 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i1.1687

Abstract

Berbicara pariwisata di Kawasan Anyer adalah suatu hal yang menarik dalam menyongsong tahun 2008 sebagai tahun kunjungan pariwisata Indonesia, sebab Kawasan Anyer memiliki letak yang strategis di Kawasan Selat Sunda yang mudah dicapai dari wilayah Banten, Jakarta, dan Jawa Barat. Sejak zaman Belanda, Anyer sudah dikenal memiliki letak yang baik, karena pantainya yang panjang menghadap Selat Sunda karena alasan itulah Gubernur Jenderal Daendels (tahun 1811) membuat jalan raya Pos dimulai dari Anyer sampai Panarukan sepanjang kurang lebih 1000 km. Kini peranan Anyer sebagai kawasan pariwisata menjadi semakin penting setelah Banten menjadi sebuah provinsi, dan tidak menutup kemungkinan Anyer akan menjadi tujuan wisata penting apabila pengelolaannya ditangani dan ditata dengan baik oleh pemerintah daerah, khususnya Dinas Pariwisata Daerah. Kata kunci : Kawasan Anyer, Daerah Pariwisata.
APLIKASI PEMETAAN DAN ANALISIS SPASIAL UNTUK KAJIAN POTENSI TERNAK RUMINANSIA KECIL DI KABUPATEN KULONPROGO Susilo, Bowo
Jurnal Gea Vol 12, No 2 (2012)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemetaan dan analisis spasial banyak diaplikasikan dalam kajian secara keruangan terhadap potensi sumberdaya. Sumberdaya mencakup beragam aspek, salah satunya adalah sumberdaya hayati. Ternak merupakan elemen sumberdaya hayati yang memiliki nilai strategis berkaitan dengan isu ketahanan pangan. Kambing adalah ruminansia kecil yang banyak diusahakan diberbagai daerah di Indonesia. Kambing merupakan komoditas ternak unggulan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengkaji potensi ternak kambing di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan adalah integrasi pemetaan dan analisis spasial. Survei terestris dan ekstra terestris digunakan untuk memetakan keberadaan kelompok ternak kambing dan potensi lahan untuk tanaman hijauan pakan ternak. Analisis spasial digunakan untuk mengkaji pola keruangan dan aksesibilitas kelompok ternak kambing. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 50 kelompok ternak kambing di daerah penelitian, yang secara keruangan membentuk pola mengelompok (clustered). Kelompok ternak terkonsentrasi di Kecamatan Samigaluh dan Girimulyo, yaitu 70% dari jumlah total. Ketersediaan lahan potensial untuk tanaman hijauan pakan ternak di dua wilayah kecamatan tersebut hanya 7,6 % dari luas total lahan potensial. Aksesibilitas kelompok ternak secara umum tergolong baik. Proporsi kelompok ternak yang berlokasi kurang dari 500 meter dari jalan adalah 70 %, sedangkan proporsi kelompok ternak yang berlokasi kurang dari 500 m dari sumber pakan potensial adalah 90%. Kata kunci: pemetaan, analisis spasial, potensi ternak, ruminansia kecil.
KETERKAITAN PENDIDIKAN DENGAN PENINGKATAN PERTUMBUHAN EKONOMI DAN SUMBER DAYA MANUSIA (SDM) Ridwan, Ita Rustiati
Jurnal Gea Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan memiliki peran yang tinggi dan strategis dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia. Bahkan lebih jauh lagi telah mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik bagi individu, masyarakat maupun pemerintah. Hal ini berdasar pada pertimbangan bahwa pendidikan sebagai suatu institusi yang menyediakan tenaga kerja yang sesuai keahliannya dan/atau bahkan mempersiapkan masyarakat dengan keterampilan-keterampilan yang diperoleh sehingga mampu membuka dan memperluas lapangan kerja itu sendiri. Pembangunan pendidikan berarti pembangunan SDM dari yang belum terdidik menjadi manusia terdidik. Manusia yang sudah memperoleh pendidikan ditingkatkan kualitasnya dari yang mempunyai pendidikan umum diarahkan pada pendidikan keahlian atau keterampilan tertentu. Investasi dalam pendidikan berarti investasi sumber daya manusia yang secara ekonomi tingkat pengembalian keuntungannya tidak secepat pengembalian ekonomi. Tetapi terasa dengan tingginya kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan pendidikan akan menambah pertumbuhan ekonomi. Kata kunci: Pendidikan, pertumbuhan ekonomi, sumber daya manusia.
PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP PADA JENJANG PENDIDIKAN DASAR Hayati, Sri
Jurnal Gea Vol 7, No 1 (2007)
Publisher : Rizki Offset

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini kita sedang menyaksikan suatu transisi cakrawala yang tak terbatas ke pencarian keseimbangan dalam ruang yang sempit atau bahkan yang tak terbatas. Pada intinya, dunia berada dalam masa transisi di mana bentuk sosial, tata cara yang berlangsung, serta nilai-nilai akan berlalu sebelum bentuk-bentuk dan metodologi baru punya waktu yang cukup untuk menggantikannya (Soerjani, 2000: 28-29). Dalam hal ini terjadi interaksi yang rumit, di mana jalinan interaksi lokal tidak lagi dapat dibedakan dengan jalinan interaksi dalam skala global. Dampak dari proses ini adalah beban yang cukup berat bagi sumber daya alam dalam proporsi yang memacu pada ketergantungan dan pertentangan baru yakni eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali, terjadinya limbah, pencemaran, dan kemiskinan. Permasalahan kerusakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan, kemudian merebak secara global. Perluasan padang pasir, penggundulan hutan, erosi tanah, hujan asam dan pencemaran udara perkotaan menjadi agenda internasional. Selain itu, ditambah pula dengan berlubangnya lapisan ozon, pemanasan global, dan ancaman terhadap keanekaragaman hayati (World Commission on Environment and Development, 1995) Makalah ini mengkaji pendidikan lingkungan hidup pada jenjang pendidikan dasar yang difokuskan pada bagaimana konsep-konsep dasar dan permasalahan lingkungan hidup dapat diadopsi oleh siswa pada jenjang pendidikan dasar. Hal ini penting karena: pertama, pendidikan merupakan salah satu proses untuk dapat menjadikan diri seseorang lebih dewasa (Bloom, 1981). Perubahan tingkah laku merupakan indikator dari kedewasaan (Gagne, 1977). Kedua, proses pendewasaan menurut Piaget (1977) berkaitan dengan perkembangan intelektual seseorang dan kesiapan yang dimiliki untuk perkembangan selanjutnya. Siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkret di mana berpikir logis yang dimiliki didasarkan pada manipulasi fisik dan obyek, sehingga penanaman konsep lingkungan hidup pada jenjang ini merupakan hal yang strategis. Ketiga, menurut Orams (1993) dengan memodifikasi teori Piaget mengemukakan bahwa proses membangun struktur kognitif dapat terwujud melalui adanya informasi, transformasi, dan penggunaan. Interaksi antara individu dengan lingkungan hidup akan terus berlangsung sejalan dengan adanya pemahaman dan persepsi baru mengenai lingkungan tersebut. Kata kunci: Pendidikan lingkungan hidup, Pendidikan Dasar.
CARA MEMILIH STRATEGI PEMBELAJARAN GEOGRAFI DALAM KURIKULUM 2004 Susilawati, Susilawati
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 6, No 2 (2006)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v6i2.1736

Abstract

Kurikulum 2004 mengamanatkan kepada pelajaran geografi di sekolah untuk menyampaikan materi tentang keragaman budaya bangsa Indonesia. Beban yang berat tersebut, tidak cukup bagi guru geografi hanya menyampaikan materi dalam bentuk hafalan tetapi diharapkan lebih dari itu yaitu bagaimana menyampaikan geografi secara lebih baik. Strategi pembelajaran pada jaman teknologi informasi saat ini relatif sangat beragam. Tantangannya, guru dituntut untuk terampil menampilkan pembelajaran geografi lebih baik. Rumusan masalah diorientasikan pada bagaimana strategi yang cocok untuk geografi dengan melihat karakteristik mata pelajaran, model pembelajaran, dan memilih strategi pembelajaran geografi pada kurikulum 2004. Tujuan penelitian ini adalah ingin memberi arah bagaimana cara guru menentukan strategi pembelajaran geografi pada kurikulum 2004. Adapun metode penelitiannya menggunakan pendekatan deskriptif yaitu dengan kajian literatur. Hasil penelitiannya adalah bahwa dalam merumuskan strategi pembelajaran perlu memikirkan sejumlah metode pembelajaran apakah menggunakan metode ceramah, diskusi, atau lainnya. Sebelum menentukan strategi pembelajaran harus ditetapkan dahulu pendekatan dan model pembelajaran yang akan digunakan. Tapi perlu juga diperhatikan, bahwa sebelum pendekatan dan model pembelajaran ditetapkan, pahami dahulu karakteristik pokok bahasan dan kompetensi dasar yang akan dikuasai siswa. Kata kunci: Memilih, Strategi Pembelajaran, Kurikulum 2004.
KEMAJUAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH SERTA APLIKASINYA DIBIDANG BENCANA ALAM Somantri, Lili
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 10, No 1 (2010)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v10i1.1661

Abstract

Indonesia merupakan negara yang besar dengan luas wilayah hampir 2 juta km2 yang terdiri atas 17.480 pulau yang membentang dari barat ke timur. Luas wilayah ini memiliki potensi sumber daya alam yang besar, baik di daratan maupun di laut sebagai modal dalam pembangunan. Akan tetapi Indonesia juga merupakan negara yang rawan bencana baik bencana geologi seperti letusan gunungapi, gempa bumi, dan tsunami, maupun bencana meteorologi seperti banjir, tanah longsor, kekeringan. Oleh karena itu, dalam pembangunan wilayah di Indonesia harus memperhatikan kondisi lingkungannya yang rawan bencana. Bencana alam merupakan peristiwa yang membuat kerugian, baik nyawa maupun harta benda. Kajian bencana alam memerlukan tingkat kerincian data dalam pemetaannya. Data dari penginderaan jauh dapat menyajikan informasi yang rinci sesuai dengan kemampuan resolusi dari citra penginderaan jauh. Kelebihan dari data penginderaan jauh, yaitu dapat mencakup wilayah yang luas karena diambil dari udara, diperoleh dengan cepat dan akurat meskipun daerahnya sulit dijangkau secara survei terestrial sehingga dalam perolehan datanya dapat menghemat biaya, waktu, dan tenaga. Dalam makalah ini akan diuraikan mengenai kemajuan teknologi penginderaan jauh dan aplikasinya untuk kajian bencana alam. Kata kunci : teknologi penginderaan jauh, bencana alam, mitigasi bencana alam
STUDI TENTANG MODEL HIDROGRAF SATUAN SINTETIK PADA SUB DAS BAYUR SAMARINDA, KALIMANTAN TIMUR Syafrudin, Muhammad
Jurnal Pendidikan Geografi Gea Vol 8, No 2 (2008)
Publisher : Indonesia University of Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/gea.v8i2.1702

Abstract

The present research entitled Study of Synthetic Unit Hydrograph Model of Bayur River Basin at Samarinda, East Kalimantan was aimed to analyze and identify the best-suited synthetic unit hydrograph to apply in Bayur river basin. The research was carried out by developing models, and then those models were compared to main unit hydrograph based on 2004 field measurement. Comparative analysis was performed on two stages. The first was to calculate and compare three-unit hydrograph parameters (Tp, Qp and Tb) of two synthetic unit hydrograph to main unit hydrograph. Second stage was to develop direct runoff hydrograph of two synthetic unit hydrograph models and of the main unit hydrograph using rainfall data of April 9, 2004. Then, deviation percentage averages of the two synthetic direct runoff hydrograph were calculated. Through the two analysis stages, the best-suited synthetic unit hydrograph model to apply in Bayur river basin presumably was obtained by identifying smallest deviation percentage average on main unit hydrograph. By calculating deviation averages of direct runoff hydrograph in the two models of synthetic unit hydrograph, it was found that GAMA I model provided smallest deviation average compared Snyder model. Based on the two analysis, it was showed that GAMA I was the closest model to main unit hydrograph compared to Snyder model.Key word: synthetic unit hydrograph, river basin, direct runoff, Snyder model, GAMA I model.

Page 7 of 36 | Total Record : 352