cover
Contact Name
Mohammad Subhan Zamzami
Contact Email
mszamzami@iainmadura.ac.id
Phone
+6281232684323
Journal Mail Official
islamuna@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Madura Jalan Raya Panglegur KM. 4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Studi Islam
ISSN : 2407411X     EISSN : 24433535     DOI : http://doi.org/10.19105/islamuna
Islamuna specializes in Islamic Studies which are the results of fieldwork research, conceptual analysis research, and book reviews from various perspectives i.e. education, law, philosophy, theology, sufism, history, culture, economics, social and politics. This journal encourages articles that employ an interdisciplinary approach to those topics and aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies.
Articles 250 Documents
INTERNALISASI NILAI-NILAI PENDIDIKAN BERBASIS KECAKAPAN HIDUP (LIFE SKILLS) DALAM PEMBELAJARAN PAI DI SMP MA’ARIF 4 PAMEKASAN Halimatus Sadiyah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 5 No. 2 (2018)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v5i2.2101

Abstract

Islamic Religious Education (PAI) as one of the subjects directed in order to prepare students to believe, understand, and practice the values of Islamic teachings is a subject that is directed at equipping and forming quality human beings who have skills in their lives by developing potential there is. This is because basically Islam is the foundation in living life, by giving guidance and guidance in living life, and bringing people to goodness, both in the world and in the hereafter. In the internalization of education, life skills are needed to reorient learning, by integrating life skills education in subject matter. There are at least three things that need to be done in learning reorientation, namely: (a) analyzing life skills that will be developed in each topic or learning experience in each subject, or thematic learning which includes several lessons at once; (b) developing the right learning model; and (c) assessment of learning outcomes. This article uses a qualitative approach, because the data collected is more qualitative in the sense that the data is not in the form, numbers both interval, ordinal and discrete data while trying to describe reality as it is. Based on the research conducted at Ma'arif 4 Pamekasan Middle School, this article succeeded in revealing that the internalization of the values of life skills-based education developed in PAI learning were the most dominant are personal skills and social skills which included aspects of thinking skills, communication skills, spiritual skills, collaboration skills and others, so students can understand, believe, and practice the teachings of Islam well.[Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai salah satu mata pelajaran yang diarahkan dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai ajaran Islam merupakan mata pelajaran yang diarahkan  untuk membekali dan membentuk manusia berkualitas yang memiliki kecakapan  dalam hidupnya dengan mengembangkan potensi yang ada. Hal ini karena pada dasarnya agama Islam merupakan pondasi dalam menjalani kehidupan, dengan memberi bimbingan dan pedoman dalam menjalani kehidupan, serta membawa manusia kepada kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam internalisasi pendidikan, kecakapan hidup diperlukan adanya reorientasi pembelajaran, dengan mengintegrasikan pendidikan kecakapan hidup dalam pokok bahasan mata pelajaran. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam reorientasi pembelajaran, yaitu: (a) menganalisis kecakapan hidup yang akan dikembangkan dalam setiap topik atau pengalaman belajar dalam setiap mata pelajaran, atau pembelajaran tematik yang meliputi beberapa pelajaran sekaligus; (b) mengembangkan model pembelajaran yang tepat; dan (c) penilaian hasil belajar. Artikel ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena data yang dikumpulkannya lebih banyak bersifat kualitatif dalam arti data bukan dalam bentuk, angka baik interval, ordinal maupun data diskrit sekaligus berusaha menggambarkan realitas sebagaimana adanya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMP Ma’arif 4 Pamekasan, artikel ini berhasil mengungkap bahwa internalisasi nilai-nilai pendidikan berbasis kecakapan hidup yang dikembangkan dalam pembelajaran PAI yang paling dominan adalah kecakapan personal dan kecakapan sosial yang mencakup pada aspek thinking skill, communication skill, spritual skill, collaboration skill dan lain-lain, sehingga peserta didik bisa memahami, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam dengan baik]
FENOMENA TINGGINYA ANGKA CERAI-GUGAT DAN FAKTOR PENYEBABNYA: Analisis Reflektif Atas Kasus-Kasus Perceraian di Madura Maimun Maimun; Mohammad Toha; Misbahul Arifin
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 5 No. 2 (2018)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v5i2.2105

Abstract

In recent years divorce has become a popular term in the ears of society. This is because the divorce rate is increasing every day. Every day, no less than five people change their status to widows or widowers. Madura is the largest contributor to divorce rates in East Java, especially in Pamekasan and Sampang. The number of divorces per year in the two regions reached more than a thousand. Interestingly, of the thousands of divorces were dominated by the number of divorce. The article results of this study describe the phenomenon of increasing divorce rates initiated by the wife (divorce) in the two regions from year to year, and describe in depth the causes. With a qualitative-descriptive-phenomenological approach, this article succeeded in showing that in the last three years the divorce rate in Madura has been increasing and more dominated by the divorce model. The causes are varied, both internal and external factors in the household, such as education and the economy, so that an increase in the level of education and the economy must be done to reduce divorce rates.[Beberapa tahun belakangan ini perceraian menjadi istilah yang populer di telinga masyarakat. Hal ini karena angka perceraian semakin hari semakin bertambah. Setiap hari, tidak kurang dari lima orang berubah statusnya menjadi janda atau duda. Madura termasuk wilayah penyumbang terbanyak angka perceraian di Jawa Timur, khususnya di Pamekasan dan Sampang. Jumlah perceraian pertahunnya di dua daerah tersebut mencapai seribuan lebih. Menariknya, dari ribuan jumlah perceraian tersebut didominasi oleh jumlah cerai gugat. Artikel hasil penelitian ini menguraikan fenomena meningkatnya angka perceraian yang diinisiasi oleh pihak istri (cerai gugat) di dua daerah tersebut dari tahun ke tahun, dan memaparkan secara mendalam faktor-faktor penyebabnya. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif-fenomenologis, artikel ini berhasil menunjukkan bahwa dalam tiga tahun terakhir angka perceraian di Madura semakin meningkat dan lebih didominasi oleh model cerai gugat. Faktor penyebabnya beragam, baik faktor internal maupun faktor ekternal dalam rumah tangga, seperti pendidikan dan ekonomi, sehingga peningkatan taraf pendidikan dan ekonomi harus dilakukan untuk meredam angka perceraian]
ISLAM DAN KEKERASAN: Perspektif Alquran tentang Persekusi di Indonesia Ahmad Khoiri; Rofiatul Windariana
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 6 No. 1 (2019)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v6i1.2210

Abstract

The persecution was transformed as a new round of complicated problems which, among other things, were caused by religious exclusivism. In the Indonesian context, religion which should accommodate harmony in the midst of religious plurality is actually used as an excuse that is engineered to launch immoral acts such as persecution. This research aims to answer three main issues, namely the Islamic view of violence as a substantive part of persecution, the relationship of the case of persecutions with offense engineering, and the Quran’s view of persecution. With the Quranic interpretation and phenomenological approach, this study investigated three cases of persecution which attracted controversy, namely a case of persecution of Fiera Lovita, a doctor in Solok, West Sumatra, a persecution case against Abdul Somad, a famous dai, and a case of persecution of Khalid Basalamah, a Wahabi figure in Indonesia. This study succeeded in revealing that persecution was contrary to Islamic teachings, especially the Quran, and the three sample cases indicated that persecution was more a result of the accumulation of engineered ignorance rather than defending Islam, so that it must be stopped so that Indonesia would return to peace.[Persekusi menjelma sebagai babak baru persoalan pelik yang, di antaranya, disebabkan oleh ekslusivisme agama. Dalam konteks Indonesia, agama yang seharusnya mengakomodasi kerukunan di tengah pluralitas beragama justru dijadikan sebagai dalih yang direkayasa untuk melancarkan tindakan amoral semacam persekusi. Penelitian ini hendak menjawab tiga persoalan utama, yaitu pandangan Islam tentang kekerasan sebagai bagian substantif dari persekusi, hubungan kasus perseksusi dengan rekayasa ketersinggungan, dan pandangan Alquran tentang persekusi. Dengan pendekatan tafsir dan fenomenologi, penelitian ini menyelisik tiga kasus persekusi yang menuai kontroversi, yaitu kasus persekusi terhadap Fiera Lovita, seorang dokter di Solok, Sumatra Barat, kasus persekusi terhadap Abdul Somad, seorang dai kondang, dan kasus persekusi terhadap Khalid Basalamah, seorang tokoh Wahabi di Indonesia. Penelitian ini berhasil mengungkap bahwa persekusi bertentangan dengan ajaran Islam, terutama Alquran, dan tiga sampel kasus tersebut mengisyaratkan bahwa persekusi lebih merupakan hasil akumulasi rekayasa keterhasutan-ketersinggungan daripada membela Islam, sehingga harus dihentikan agar Indonesia kembali tenteram]
RELASI ANAK, MEDIA SOSIAL, DAN PEMBENTUKAN KARAKTER: Studi Kasus Madrasah Ibtidaiah dan Sekolah Dasar di Surabaya dan Gresik Heni Listiana
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 6 No. 1 (2019)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v6i1.2212

Abstract

Social media is closely related to human life today, especially the life of children so that it influences their character formation. This research focuses on the relationship between children, social media, and the formation of children’s character. In times of growth, children need good stimulation to build good character. At present, santris or students of Madrasah Ibtidaiah (MI) and Elementary School (SD) have known and are familiar with social media. To prevent the adverse effects of social media, it takes an effort to keep them from the negative effects of social media. By using the quantitative method that extracts the data is done by questionnaire method on 52 santris or students from Surabaya and Gresik as respondents, this study analyzes children’s relationships, social media, and character formation. This study succeeded in revealing that social media has a negative impact on the formation of the character of santris or students, so parents must play an active role in monitoring them so that they can minimize the negative impact on their character formation.[Media sosial terkait erat dengan kehidupan manusia saat ini, terutama kehidupan anak sehingga memengaruhi pembentukan karakter mereka. Penelitian ini fokus pada hubungan antara anak, media sosial, dan pembentukan karakter anak. Dalam masa pertumbuhan, anak-anak membutuhkan rangsangan yang baik untuk membangun karakter yang baik. Saat ini, santri atau siswa/i Madrasah Ibtidaiah (MI) dan Sekolah Dasar (SD) telah mengetahui dan akrab dengan media sosial. Untuk mencegah efek buruk media sosial, dibutuhkan suatu usaha untuk menjaga mereka dari dampak negatif media sosial. Dengan menggunakan metode kuantitatif yang penggalian datanya dilakukan dengan metode kuisioner terhadap 52 santri atau siswa/i dari Surabaya dan Gresik sebagai responden, penelitian ini menganalisis hubungan anak, media sosial, dan pembentukan karakter. Penelitian ini berhasil mengungkap bahwa media sosial berdampak negatif terhadap pembentukan karakter santri atau siswa/i, sehingga orang tua harus berperan aktif mengawasi mereka sehingga dapat meminimalisasi dampak negatifnya terhadap pembentukan karakter mereka] 
ADAB PERGAULAN DALAM PERSPEKTIF AL-GHAZÂLÎ: Studi Kitab Bidâyat al-Hidâyah Muhamad Arif
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 6 No. 1 (2019)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v6i1.2246

Abstract

Adab plays an important role in human life, especially in socializing with the community, because today many people forget about adab, such as adab of children to parents, adab of students to teachers, and adab to friends. This research was carried out because the crisis of adab was increasingly exposed in the community. This research is based on al-Ghazâlî’s Bidâyat al-Hidâyah, a book on ethics and morals. This study uses a literature study with Bidâyat al-Hidâyah as a primary source and other literature as a secondary source. The conclusion of the study is the style in the perspective of al-Ghazâlî in the Bidâyat al-Hidâyah more comprehensively than other scholars, which includes adab in carrying out daily activities, ways to leave immorality, and adab to fellow humans, so that it is suitable for daily life as a solution facing a crisis of adab that is increasingly prevalent today.[Adab berperan penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam pergaulan di tengah-tengah masyarakat, karena saat ini banyak manusia yang melupakan adab, seperti adab anak kepada orang tua, adab murid kepada guru, dan adab kepada teman. Penelitian ini dilakukan karena krisis adab semakin menguak di tengah masyarakat. Penelitian ini berdasarkan pada Bidâyat al-Hidâyah karya al-Ghazâlî, sebuah kitab tentang etika dan akhlak. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan Bidâyat al-Hidâyah sebagai sumber primer dan literatur lain sebagai sumber sekunder. Kesimpulan penelitian adalah corak dalam perspektif al-Ghazâlî dalam Bidâyat al-Hidâyah lebih komprehensif daripada ulama lain, yang meliputi adab dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari, cara meninggalkan maksiat, dan adab kepada sesama manusia, sehingga cocok untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu solusi menghadapi krisis adab yang kian marak dewasa ini]
REKONSTRUKSI TAFSÎR MAWDÛ‘Î: Asumsi, Paradigma, dan Implementasi Moh. Yardho
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 6 No. 1 (2019)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v6i1.2274

Abstract

The current of modernization has an impact on almost every joint of human life. The problems that are generated are increasingly developing and complex, which requires the Qur’an to provide a solution. This point is closely related to the Qur’anic interpretation methodology that is appropriate for responding and providing solutions in accordance with the problems that occur. The methodology of thematic interpretation (tafsîr mawdû‘î) is one of the choices. Tafsîr mawdû‘î is one of the interpretation methodologies needed in the modern era. The advantage is that besides being able to frame various verses of the Koran into a whole unit, it can also focus on verses that discuss a theme substantially and comprehensively to answer one problem. This article descriptively-analytically reconstructs tafsîr mawdû‘î, both assumptions, paradigms, their implementation. This article reveals the narrative of the solution of tafsîr mawdû‘î for contemporary problems in a more structured, comprehensive and objective perspective in the Qur’an, so that the reconstruction of the tafsîr mawdû‘î method is more targeted.[Arus modernisasi berdampak pada hampir di setiap sendi kehidupan manusia. Problematika yang ditimbulkan kian berkembang dan kompleks, yang menuntut Alquran dapat memberikan solusinya. Poin ini terkait erat dengan metodologi interpretasi Alquran yang tepat untuk merespons dan memberikan solusi sesuai dengan problematika yang terjadi. Metodologi tafsir tematik (tafsîr mawdû‘î) menjadi salah satu pilihannya. Tafsîr mawdû‘î merupakan salah satu metodologi tafsir yang diperlukan di era modern saat ini. Kelebihannya adalah selain mampu membingkai pelbagai ayat Alquran menjadi satu-kesatuan yang utuh juga dapat memfokuskan ayat yang membahas suatu tema secara substansial dan komprehensif untuk menjawab satu persoalan. Artikel ini secara deskriptis-analitis merekonstruksi tafsîr mawdû‘î, baik asumsi, paradigma, implementasinya. Artikel ini menguak narasi solusi dari tafsîr mawdû‘î atas problematika kekinian secara lebih terstruktur, komprehensif, dan objektif dalam perspektif Alquran, sehingga rekonstruksi metode tafsîr mawdû‘î lebih tepat sasaran]
NGAJHI KA LANGGHÂR: The Educational Nursery of Moderation of Islam in Madura Naufil Istikhari; Ulfatur Rahmah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 7 No. 2 (2020)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v7i2.2278

Abstract

The existence of langghâr in Madura has been the most important cultural heritage of Muslim society after pesantren. This research aims to explore and analyze that the langghâr in Madura has not been only functioned as both a place to pray together and learn holy Qur’an among Muslim children, but also can be functioned as a field of shaping deep Islamic character. The practice of ngajhi ka langghâr in Desa Gapura Timur and Desa Lembung Timur, langghâr has been used as an object in this research, has not been only functioned in learning a holy Qur’an, but also —this is the most crucial— as a field to study some Islamic jurisprudences and basic literature of sufism. By using Pierre Bourdieu’s theory of field and habitus, this research found an important thesis that ngajhi ka langghâr can be declared as the most primordialistic sub-culture, outside of pesantren, that contributes to creating an educational nursery of moderation of Islam in Madura.[Keberadaan langghâr di Madura telah menjadi warisan budaya terpenting masyarakat muslim setelah pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan menganalisis bahwa langghâr di Madura tidak hanya difungsikan sebagai tempat salat berjemaah dan belajar Al-Qur’an di kalangan anak-anak muslim, tetapi juga dapat difungsikan sebagai medan pembentukan karakter Islam yang mendalam. Praktik ngajhi ka langghâr di Desa Gapura Timur dan Desa Lembung Timur, langghâr yang dijadikan objek dalam penelitian ini, tidak hanya difungsikan dalam pembelajaran Al-Qur’an, tetapi juga —inilah yang paling krusial— sebagai bidang studi beberapa fikih Islam dan literatur dasar tasawuf. Dengan menggunakan teori lapangan dan habitus Pierre Bourdieu, penelitian ini menemukan tesis penting bahwa ngajhi ka langghâr dapat dinyatakan sebagai sub-budaya paling primordialistik, di luar pesantren, yang berkontribusi dalam menciptakan pembibitan pendidikan moderasi Islam di Madura]
KONSEP PENDIDIKAN KARAKTER KH. M. HASYIM ASY‘ARI: Studi Kitab Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim Titik Handayani; Achmad Fauzi
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v6i2.2285

Abstract

Moral decadence that befalls most students in Indonesia is very alarming. The moral values which are expected belong to themselves increasingly decline. It is proven by the brawl among students, pregnant out of wedlock, drug abuse, and the persecution on the teachers significantly increase. By using analytical-descriptive method, this study concerns to the character education in KH. M. Hasyim Asy‘ari’s perspective taken from his book entitled Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim which is focused on the students ethics in studying, including ethics in learning, student’s ethics to the teacher, and student’s ethics in dealing with the lesson. The result of this study shows that character education in KH. M. Hasyim Asy‘ari’s perspective has a harmony even precedes a number of values within character education materials of the Research and Development Agency, Curriculum Center of the Ministry of National Education, Indonesia. Thus, it can be developed within character education discourse that is being carried out and it can produce the knowledgeble students and also having good personalities.[Krisis akhlak karimah yang menimpa mayoritas peserta didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Nilai moral yang diharapkan ada dalam diri mereka semakin terkikis, sehingga mengakibatkan tawuran antarpelajar, siswa hamil di luar nikah, penggunaan narkoba semakin merajalela, serta penganiayaan siswa terhadap guru yang bahkan sampai berujung kepada kematian sang guru. Dengan metode analitis-deskriptif, penelitian ini mengkaji tentang pemikiran KH. M. Hasyim Asy‘ari tentang pendidikan karakter dalam Âdâb al-‘Âlim wa al-Muta‘allim yang difokuskan pada etika peserta didik dalam menuntut ilmu, yang mencakup etika dalam belajar, etika siswa terhadap guru, dan etika siswa dalam menghadapi pelajaran. Penelitian ini mengungkap bahwa pemikiran KH. M. Hasyim Asy‘ari tentang pendidikan karakter selaras bahkan mendahului sejumlah nilai dalam materi pendidikan karakter dari Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional, Indonesia, sehingga bisa dikembangkan dalam wacana pendidikan karakter yang sedang marak dilakukan dan bisa mencetak peserta didik yang tidak hanya berilmu luas tetapi juga berkarakter]
HAID DALAM PERSPEKTIF ISLAM DAN SAINS: Studi tentang Haid Tidak Teratur Pengguna Kontrasepsi Khairul Muttaqin
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 6 No. 2 (2019)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v6i2.2415

Abstract

Nowadays, there are several contraceptives, such as oral contraceptive pill, contraceptive injection, implants, spiral or IUD (intra uterine device), and IUS (intra uterine system). Some of those have side effects on the irregularity of menstrual period, such as swift menstruation, shorter menstrual period, and longer menstrual period. This issue confuses the concept of Islamic jurisprudence that the maximum menstrual period is fifteen days, whereas it can be more than fifteen days when using contraceptives. This article used library research to analyze menstrual period irregularity as a consequence of contraseptives use based on Islamic and medical literature. This study succesfully revealed that al-Qur’an, hadith, and medical books do not determine the longest menstrual period. Thus, the blood status of women who get menstruation more than fifteen days due to contraceptives use is still menstruation category.[Saat ini, terdapat beberapa alat penunda kehamilan, seperti KB pil, KB suntik, susuk atau implan, spiral atau IUD (intra uterine device), dan IUS (intra uterine system). Sebagian alat ini berefek samping terhadap ketidakteraturan masa haid perempuan; haid bisa keluar secara deras, masa haid lebih singkat, haid bisa keluar lebih lama dari kebiasaan. Problem ini mengacaukan konsep fikih bahwa masa haid perempuan paling lama adalah 15 hari, padahal masa haid bisa lebih dari 15 hari bila menggunakan alat penunda kehamilan. Dengan kajian pustaka, artikel ini menganalisis masa haid yang tidak teratur akibat penggunaan alat penunda kehamilan berdasarkan teks-teks dasar Islam dan medis. Artikel ini berhasil mengungkap bahwa al-Qur’an, hadis, dan medis tidak menentukan masa haid terlama, sehingga status darah yang keluar dari perempuan yang haid lebih dari 15 hari akibat penggunaan alat kontrasepsi adalah haid]
THE CONTEMPORARY THOUGHT ON THE QUR’AN: The Discourse of Muhammad Syahrûr’s al-Kitâb wa al-Qur’ân Eko Zulfikar
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 7 No. 1 (2020)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v7i1.2542

Abstract

New methodologies and approaches in the study of the Qur’an are very much carried out by contemporary reviewers. This is actually influenced by the understanding of the Qur’an which always experiences dynamics in the times. This paper specifically addresses Muhammad Syahrûr’s contemporary thinking about the Qur’an in al-Kitâb wa al-Qur’ân. By descriptive-analytical study, the writer concludes understanding the Qur’an according to Syahrûr can be done by contextualizing the Quranic verses with a linguistic structure and scientific, philosophical, historical, psychological, and sociological approaches. He wants the content of the Qur’an to be in harmony with current social dynamics, the readers always actualize themselves extensively by not resting on the products of classical thought that have been considered established and sacred, and the Qur’an as if it had just been revealed, so that it can deconstruct and reconstruct the scientific knowledge of the Qur’an which has been considered final.[Metodologi dan pendekatan baru dalam studi Al-Qur’an marak dilakukan oleh para pengkaji kontemporer. Hal ini sejatinya dipengaruhi pemahaman tentang Al-Qur’an yang selalu mengalami dinamika dalam perkembangan zaman. Artikel ini secara spesifik mengulas pemikiran kontemporer Muhammad Syahrûr tentang Al-Qur’an dalam al-Kitâb wa al-Qur’ân. Dengan telaah deskriptif-analitis, penulis menyimpulkan bahwa pemahaman Al-Qur’an menurut Syahrûr dapat dilakukan dengan cara mengkontekstualisasikan Al-Qur’an dengan struktur linguistik serta pendekatan saintifik, filosofis, historis, psikologis, dan sosiologis. Dia menginginkan kandungan Al-Qur’an selaras dengan dinamika sosial kekinian, para pembaca senantiasa mengaktualisasikan diri secara ekstensif dengan tidak berpijak pada produk pemikiran Islam klasik yang telah dianggap mapan dan sakral, dan memosisikan Al-Qur’an seakan-akan baru saja diwahyukan, sehingga dapat mendekonstruksi sekaligus merekonstruksi tradisi keilmuan Al-Qur’an yang selama ini telah dianggap final]