cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025" : 7 Documents clear
MEMBACA PERSEPSI MASYARAKAT JAWA DI KOTA JAYAPURA MENGENAI SESERAHAN “KUE JADDAH” DALAM TRADISI PERKAWINAN Amri, Amri
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.21143

Abstract

Melihat pelaksanaan perkawinan dibeberapa daerah di Indonesia menimbulkan praktik adat yang berlaku dimasing-masing daerah. Termasuk pada masyarakat Jawa di Kota Jayapura yang mempunyai banyak sekali ritual-ritual adat yang dilakukan. Sehingga penelitian ini akan melihat tradisi atau ritual masyarakat Jawa tentang pemberian wajib Kue Jaddah bagi calon pengantin laki -laki kepada calon pengantin wanitanya pada saat prosesi seserahan. Tujuan dari penelitian ini sebagai bahan deskripsi menganai kue jaddah, sehingga masayrakat Jawa selalu meminta barang atau benda tersebut saat tradisi seserahan perkawinan. Kemudian bagaimana Islam melihat tradisi tersebut, sehingga dijadikan kegiatan yang turun temurun dilakukan. Sedangkan metode yang akan dilakukan dalam penelitian ini untuk menjawabnya yaitu penelitian dekriptif kualitatif dimana penggalian datanya dilakukan menggunakan pengamatan dan wawancara secara acak. Dari hasil penelitian menunjukan bahwa seserahan kue jaddah dilakukan oleh calon pengantin laki-laki kepada calon wanita yang akan dinikahinya saat prosesi peminangan atau iring-iringan menuju acara ijab Kabul. Kemudian kue jaddah ini berasal dari bahan beras ketan dengan proses sangat lama sehingga membutuhkan kesabaran untuk memasaknya dan jika dimakan bentuknya lengket. Sehingga masyarakat Jawa mempercayai jika rumah tangga selalu lengket dan sabar dalam menghadapi ujian keluarga, maka Kue jaddah harus di berikan saat tradisi seserahan dilakukan. Sedangkan dalam Islam melihat tradisi seserahan Kue jaddah ini masuk kedalam tradisi yang diperbolehkan (‘Urf Shahih) karena tidak ada unsur kesyirikan dan kue jaddah bukan termasuk makanan yang diharamkan.
FEEDING BEHAVIOUR OF SWORDFISH (XIPHOPHORUS HELLERII) AND PLATY FISH (XIPHOPHORUS MACULATUS) AS PREDATORS OF MOSQUITO LARVAE (AEDES SP.) BASED ON SCIENCE AND ISLAMIC PERSPECTIVES Amrullah, Syarif Hidayat; Fikri, Muh; Dirhamzah, Dirhamzah
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.22484

Abstract

Islam teaches the importance of maintaining the balance of nature and justice in the use of resources. Currently, one of the problems caused by human negligence due to a lack of awareness in protecting the environment is health problems. Therefore, an infectious disease that has become endemic in Indonesia is Dengue Hemorrhagic Fever (DHF). Dengue fever is caused by the dengue virus, which is transmitted through the insect vector Aedes sp. One of the controls carried out to control mosquitoes as a vector of dengue disease is to use natural predators with fish as mosquito larvae eaters. The purpose of this study is to observe the feeding behaviour and predation rate of Swordfish (Xiphophorus hellerii), and Platyfish (Xiphophorus maculatus) against mosquito larvae (Aedes sp.) and the study is based on an Islamic perspective. The observation results obtained from the feeding behaviour of X. hellerii and X. maculatus fish are that they are predators that chase, catch, and directly prey on their prey. X. hellerii fish has a higher level of feeding behaviour compared to X. maculatus fish in preying on mosquito larvae (Aedes sp.). The average predation ability of X. hellerii fish against Aedes sp. instar III larvae was 24.8 fish, while X. maculatus fish was 18.4 larvae. So that the fish X. hellerii is said to have better potential as a biocontrol to control the mosquito population, which is a vector of dengue disease, in accordance with the recommendation to maintain the balance of nature in Islamic teachings.
ANALISIS BATAS UMUR PERKAWINAN DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NO. 16 TAHUN 2019 DAN Q.S AL-ṬALAQ AYAT 4: PENDEKATAN MAQASID SYARIAH Mufrod, Mufrod Teguh Mulyo; Nehru, Nehru Millat Ahmad; Munifah, Munifah
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.25261

Abstract

This study examines the legal marriage age based on Law No. 16 of 2019 and Q.S Al-Ṭalaq [65]: 4 using Jasser Auda’s Maqasid Syariah approach. It analyzes the differences between positive law, which sets the minimum marriage age at 19, and Islamic law, which does not specify an explicit age but emphasizes physical, mental, and emotional maturity. Employing a qualitative method with content analysis, this study explores the marriage age framework in light of Maqasid Syariah, focusing on preserving individual and familial welfare. The findings reveal that Islamic law allows flexibility in marriage age, provided specific criteria, including readiness in knowledge, mental, psychological, reproductive, and material aspects, are fulfilled. Jasser Auda’s holistic approach highlights the importance of considering social, cultural, and long-term impacts, such as preventing stunting, domestic violence, and family dysfunction. This study concludes that while the marriage age set by positive law is binding, the principles of Maqasid Syariah can bridge the gap between perspectives, fostering the establishment of harmonious families aligned with Islamic values. Consequently, this research offers significant contributions to integrating positive legal norms and Islamic principles to ensure comprehensive family and societal protection.
DIGITAL RELIGIOUS LITERACY: COUNTERING RADICALISM AMONG INDONESIA'S YOUNG GENERATION Prasetia, Senata Adi
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.25366

Abstract

This article examines the role of digital religious literacy in countering radicalism, focusing on tafsiralquran.id, an online platform that offers accessible, reliable, and contextualized interpretations of the Qur'an. Radicalism among Indonesia’s young generation has become a pressing concern, with digital platforms increasingly serving as both a medium for radical ideologies and a space for counter-narratives. Employing a qualitative case study, the research integrates content analysis and observational studies to assess how tafsiralquran.id promotes critical thinking, religious moderation, and resilience against extremist ideologies. Drawing on Gary Bunt’s Cyber-Islamic Environments framework, the study positions tafsiralquran.id as a model of localized, grassroots efforts in fostering pluralistic and moderate Islamic perspectives in the digital realm. The findings reveal that tafsiralquran.id bridges traditional Islamic scholarship with digital spaces, providing youth with credible sources and contextual understandings of Islamic teachings. This enhances their ability to critically evaluate and reject radical narratives. This article highlights the importance of integrating digital religious literacy into counter-radicalization strategies, emphasizing the potential of platforms like tafsiralquran.id to build an informed and resilient digital community. Recommendations are provided for expanding such initiatives to further strengthen their impact on religious moderation and counter-radicalism in Indonesia and beyond.
ULAMA, OTORITAS HALAL DAN POLITIK PENGETAHUAN: HEGEMONI KEMENAG MELALUI TAFSIR ILMI Imam Syafi'i; Najib, Muhammad Najib; Mujib, Ahmad Nadhif Abdul Mujib
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.25691

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hegemoni pemerintah dalam menciptakan politik pengetahuan tentang kehalalan suatu produk dan terbentuknya regulasi halal di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan basis data kepustakaan (library research). Teori relasi kuasa Michel Foucault penulis gunakan sebagai pisau analisis, dimana hubungan antara kekuasaan (power) dan pengetahuan (knowladge) yang saling bergerak bersama akan membentuk wajah suatu peradaban (civilization). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah melakukan kompromi dengan ulama untuk memproduksi pengetahuan yang bertujuan untuk mensukseskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 dalam program sertifikasi halal. Keterlibatan ulama yang berasal dari unsur Kementerian Agama, akademisi perguruan tinggi Islam serta ulama dari Organisasi Masyarakat (Ormas) yang menyusun tafsir bernama“Tafsir Ilmi Makanan dan Minuman Perspektif Sains” seolah akan menciptakan kebenaran mutlak tentang halal. Selain itu, politik pengetahuan dalam bentuk hegemoni pengetahuan tampak melalui interpretasi atas teks al-Qur’an Surah an-Naml: 60, al-Mursalat: 22, dan Surah al-Maidah; 3 mendorong masyarakat untuk memperhatikan labelisasi halal akan membentuk pengetahuan baru di masyarakat. Ditambah lagi konten penafsiran yang memberikan penjelasan secara eksplisit mengenai penting dan signifikansi sertifikasi halal dalam mengidentifikasi kehalalan produk seolah-olah akan menciptakan kebenaran tunggal bahwa halal haramnya suatu produk adalah melalui keberadaan labelisasi halal yang saat ini masif diselenggarakan oleh Kementerian Agama melalui Badan Penjaminan Produk Halal (BPJPH).
PENOLAKAN TERHADAP PEMBATALAN PERKAWINAN AKIBAT SEPERSUSUAN DI PENGADILAN AGAMA KENDAL Maulidia, Maulidia Lathifah; Nizar, Muchamad Coirun Nizar
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.25847

Abstract

Kasus pembatalan perkawinan akibat persusuan menjadi permasalahan yang cukup rumit dalam praktik penerapan hukum Islam, terutama dalam konteks pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji alasan hakim menolak pembatalan perkawinan akibat persusuan berdasarkan Putusan Nomor 136/Pdt.G/2022/PA.Kdl serta menganalisis putusan tersebut dengan tinjauan hukum Islam. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif melalui wawancara mendalam dan studi dokumen. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pasangan dalam kasus ini, berdasarkan pandangan madzhab Maliki dan madzhab Hanafi, telah memenuhi syarat radha’ah. Yang mana termohon 1 dan termohon 2 merupakan saudara sepersusuan. Namun, hakim memutuskan untuk menolak pembatalan perkawinan dengan mempertimbangkan aspek kemaslahatan dengan mencegah kemungkinan penyalahgunaan hukum, termasuk potensi adanya konspirasi antara pemohon dan termohon. Putusan ini mencerminkan upaya hakim untuk mencegah adanya penyelundupan hukum meskipun ditemukan kekurangan dalam proses pengujian saksi dan fakta. Keputusan hakim dianggap sesuai dengan administratif Pengadilan secara formal, khususnya dalam hal pembuktian. Namun, penelitian ini menekankan pentingnya penguatan aturan hukum terkait larangan menikah dengan saudara sepersusuan agar pelanggaran serupa tidak lagi terulang. Langkah ini juga bertujuan untuk meningkatkan akurasi dalam penyelesaian perkara yang melibatkan norma-norma syariah.
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI TEORI JOHN BOWLBY DALAM PANDANGAN PSIKOLOGI ISLAM Munawaroh, Hidayatu Munawaroh
Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025
Publisher : Kopertais Wilayah X Jawa Tengah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/wa.v12i1.25992

Abstract

Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan fase krusial dalam perkembangan anak, terutama dalam membangun keterikatan emosional yang sehat serta membentuk karakter dan nilai-nilai moral. Teori kelekatan (attachment theory) yang dikemukakan oleh John Bowlby menekankan pentingnya hubungan emosional antara anak dan pengasuh dalam membangun rasa aman, kepercayaan diri, serta kestabilan psikologis anak. Dalam perspektif psikologi Islam, pendidikan anak usia dini tidak hanya menekankan aspek emosional, tetapi juga integrasi nilai-nilai spiritual dan akhlak melalui konsep tarbiyah (pendidikan), rahmah (kasih sayang), dan uswah hasanah (keteladanan). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis relevansi teori Bowlby dalam pendidikan anak usia dini dalam Islam dengan menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip kelekatan Bowlby selaras dengan ajaran Islam dalam mendidik anak, terutama dalam membangun rasa aman melalui pengasuhan berbasis kasih sayang dan kedekatan emosional. Selain itu, Islam memberikan dimensi tambahan berupa nilai-nilai ketuhanan yang memperkuat hubungan emosional dengan pendekatan spiritual. Dengan demikian, kombinasi teori Bowlby dan psikologi Islam menawarkan perspektif holistik dalam pendidikan anak usia dini yang menekankan keseimbangan antara perkembangan emosional, kognitif, dan spiritual anak. Kesimpulannya, pendekatan integratif ini dapat menjadi model ideal dalam praktik pengasuhan dan pendidikan anak usia dini, terutama dalam masyarakat Muslim, untuk membangun generasi yang sehat secara psikologis dan berakhlak mulia.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2025 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 13 No. 1 (2026): Vol. 13, No. 1, April 2026 Vol. 12 No. 2 (2025): Vol. 12, No. 2, October 2025 Vol. 12 No. 1 (2025): Vol. 12, No. 1, April 2025 Vol. 11 No. 2 (2024): Vol. 11, No. 2, October 2024 Vol. 11 No. 1 (2024): Vol. 11, No. 1, April 2024 Vol. 10 No. 2 (2023): Vol. 10, No. 2, October 2023 Vol 10, No 2 (2023): Vol. 10, No. 2, October 2023 Vol 10, No 1 (2023): Vol. 10, No. 1, April 2023 Vol 9, No 2 (2022): Vol. 9, No. 2, Oktober 2022 Vol 9, No 1 (2022): Vol. 9, No. 1, April 2022 Vol 8, No 2 (2021): Vol. 8, No. 2, Oktober 2021 Vol 8, No 1 (2021): Vol. 8, No. 1, April 2021 Vol 7, No 2 (2020): Vol. 7, No. 2, Oktober 2020 Vol 7, No 1 (2020): Vol. 7, No. 1, April 2020 Vol 6, No 2 (2019): Vol. 6, No. 2, Oktober 2019 Vol 6, No 1 (2019): Vol. 6, No. 1, April 2019 Vol 5, No 2 (2018): Wahan Akademika Vol 5, No 2 (2018): Wahan Akademika Vol 5, No 1 (2018): Wahan Akademika Vol 5, No 1 (2018): Wahan Akademika Vol 4, No 2 (2017): Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 4, No 2 (2017): Wahana Akademika: Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 4, No 1 (2017): Wahana Akademika Vol 4, No 1 (2017): Wahana Akademika Vol 3, No 2 (2016): Wahana Akademika Vol 3, No 2 (2016): Wahana Akademika Vol 3, No 1 (2016): Wahana Akademika Vol 3, No 1 (2016): Wahana Akademika Vol 2, No 2 (2015): Wahana Akademika Vol 2, No 2 (2015): Wahana Akademika Vol 2, No 1 (2015): Wahana Akademika Vol 2, No 1 (2015): Wahana Akademika Vol 1, No 2 (2014): Wahana Akademika Vol 1, No 2 (2014): Wahana Akademika Vol 1, No 1 (2014): Wahana Akademika Vol 1, No 1 (2014): Wahana Akademika Vol 15, No 2 (2013): Wahana Akademika Vol 15, No 2 (2013): Wahana Akademika Vol 15, No 1 (2013): Wahana Akademika Vol 15, No 1 (2013): Wahana Akademika Vol 14, No 2 (2012): Wahana Akademika Vol 14, No 2 (2012): Wahana Akademika Vol 14, No 1 (2012): Wahana Akademika Vol 14, No 1 (2012): Wahana Akademika Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika Vol 12, No 1 (2011): Wahana Akademika More Issue