cover
Contact Name
Asy-Syariáh
Contact Email
Jurnalasy-syariah@uinsgd.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
ine.fauzia@uinsgd.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Asy-Syari'ah
ISSN : 20869029     EISSN : 26545675     DOI : -
Memfokuskan diri pada publikasi berbagai hasil penelitian, telaah literatur, dan karya ilmiah lainnya yang cakupannya meliputi bidang ilmu syariah, hukum dan kemasyarakatan secara monodisipliner, interdisipliner, dan multidisipliner.
Arjuna Subject : -
Articles 259 Documents
KEABSAHAN AKTA PERBANKAN SYARI’AH YANG DIBUAT NOTARIS NON MUSLIM PERSFEKTIF HUKUM ISLAM Mutiara Azura Mulyawan; Gemala Dewi
Asy-Syari'ah Vol 23, No 2 (2021): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v23i2.14057

Abstract

Abstract: This study aims to describe the authority of a non-muslim notary in making a sharia banking deed and the validity of the deed if the notary who makes and reads the deed is a non-muslim. Through Jurisdical-normative approach, this research found that basically a notary, whether they are moslem or non-moslem, has an authority granted by the Act to make a deed, including sharia banking deed.  The most important thing, the notary is able to understand and apply all the principles of Islamic banking as part of sharia economic law. For this reason, Sharia Banking Deed made and read by a non-Muslim Notary remains valid as long as it is based on the Act of Notary. However, according to Islamic Law, regarding to al-Baqarah verse 282 and At-Talaq verse 2, the Sharia Banking Deed is invalid if the deed is drawn up and read by a non-Muslim Notary.Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kewenangan Notaris non muslim dalam pembuatan akta perbankan syariah dan keabsahan akta yang dibuat dan dibacakan oleh Notaris non muslim. Pendekatan yuridis ormatif digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang kepada Notaris terhadap pembuatan akta membuat semua Notaris baik muslim ataupun non muslim dapat membuat akta perbankan syariah. Yang terpenting ia mampu mengerti dan memahami segala prinsip-prinsip dan asas-asas perbankan syariah yang memang tunduk pada hukum ekonomi syariah. Secara hukum positif, keabsahan dari suatu Akta Perbankan Syariah yang dibuat dan dibacakan oleh Notaris non muslim tetap sah selama berdasarkan UUJN. Namun, secara Hukum Islam Akta Perbankan Syariah tidak sah jika akta tersebut dibuat dan dibacakan oleh Notaris non muslim dengan merujuk pada al-Baqarah ayat 282 dan at-Talaq ayat 2.
MISINTERPRETATION OF SALAFI JIHADIST ON JIHĀD VERSES: AN ANALYSIS Hudzaifah Achmad Qotadah; Maisyatusy Syarifah; Adang Darmawan Achmad
Asy-Syari'ah Vol 23, No 2 (2021): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v23i2.14757

Abstract

Nowadays, the term "Jiha̅d" has taken on the connotation of a frightening term (logophobia). This is due to the fact that religious extremists use it in a very narrow context. Unfortunately, the concept of pure and vast Jihad has been tainted by insights and actions that have transcended its borders, resulting in the term Jihad being viewed negatively by some segments of the world's society. The study examines how these scholars (of Salafi Jihadism) interpret these specific verses of the Holy Quran, as well as how their concepts and explanations regarding Jihad verses differ from other scholars. A thorough qualitative method is used in this article to examine the misinterpretation of the Jiha̅d verses used by Salafi Jihadism. The study shows, first, the Salafi-Jihadi movement interprets jihad verses only based on literal meanings, ignoring the context of the asbab nuzul verses, pay less attention to the period and socio-historical verses revealed. Second, considering jihad as a physical struggle only and war in the way of Allah as a natural obligation for Muslims.
STUDI KOMPARATIF METODE IJTIHAD MAJELIS ULAMA INDONESIA DAN BAHTSUL MASAIL NAHDLATUL ULAMA TENTANG FATWA VAKSIN ASTRAZENECA Anisah Alkatiri; Idaul Hasanah; R. Tanzil Fawaiq Sayyaf
Asy-Syari'ah Vol 24, No 1 (2022): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v24i1.16858

Abstract

Abstract: This paper aims to compare the ijtihad methods used by the Indonesian Council of Ulema (MUI) and Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama concerning the fatwa on the AstraZeneca COVID-19 vaccine. The study method is qualitative, with a normative legal approach and descriptive-comparative analysis. According to the findings of this study, MUI employs the type of ijtihad jama'iy (collective ijtihad) and interdisciplinary by using ijtihad bayani, ta'lili, and istishlahi methods in its ijtihad on the AstraZeneca vaccine. MUI declared in its fatwa that the AstraZeneca vaccine's legal origin is haram since it comes into touch with a haram substance or unclean during the production, namely trypsin which is produced from pig pancreas. However, the use of the AstraZeneca vaccine is temporarily permitted due to several reasons. While Bahtsul Masail in their ijtihad employs the type of ijtihad jama'iy and interdisciplinary ijtihad using the qauly and ilhaqy ijtihad methods. In their conclusion, Bahtsul Masail declared that the Astra­Zeneca vaccine is permissible to use under normal circumstances, particularly in an emergency, not only because it is safe but also because it is holy. However, in issuing a fatwa on the Covid-19 vaccine for AstraZeneca products, both MUI and Bahtsul Masail are pursuing the same goal: saving human lives (hifz al-nafs), and both institutions' decisions are based on reasonable and empirical considerations in the context of the public good, expecting that herd immunity would be achieved shortly in Indonesia, permitting it to be free from the Covid-19 pandemic quickly.Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan metode ijtihad Majelis Ulama Indonesia dan Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama tentang fatwa vaksin AstraZeneca. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif dengan menggunakan pendekatan hukum normatif dan teknik analisis deskriptif-komparatif. Hasil dari penelitian ini yaitu MUI dalam ijtihadnya mengenai vaksin AstraZeneca menggunakan jenis ijtihad jama’iy (kelompok) dan interdisipliner dengan menggunakan metode ijtihad bayani, ta’lili dan istishlahi. Dalam fatwanya, MUI menyatakan bahwa hukum asal vaksin AstraZeneca adalah haram karena pada proses produksinya bersentuhan dengan barang najis yaitu tripsin yang berasal dari pankreas babi. Namun, penggunaan vaksin AstraZeneca pada saat ini dibolehkan (mubah) untuk sementara dengan beberapa alasan kebolehan. Sedangkan Bahtsul Masail dalam ijtihadnya menggunakan jenis ijtihad jama’iy dan interdisipliner dengan menggunakan metode ijtihad qauly dan ilhaqy. Bahtsul Masail dalam putusannya menyatakan bahwa vaksin AstraZeneca hukumnya mubah digunakan dalam kondisi normal apalagi darurat bukan hanya karena tidak membahayakan namun juga karena suci. Meski demikian, baik MUI maupun Bahtsul Masail dalam menetapkan fatwa tentang vaksin Covid-19 produk AstraZeneca pada dasarnya memiliki tujuan yang sama yaitu demi menyelamatkan jiwa kemanusiaan (hifz al-nafs) di mana dalam keputusan yang dihasilkan oleh kedua lembaga sama-sama memiliki pertimbangan rasional dan empiris mengenai konteks kemaslahatan publik dengan harapan segera terwujud suatu kekebalan kelompok (herd immunity) di Indonesia sehingga dapat segera terbebas dari wabah Covid-19.
METODE ISTINBATH HUKUM ABDUL QADIR HASSAN DALAM PERKARA SHALAT Adnin Zahir; Tutik Hamidah; Aunur Rofiq
Asy-Syari'ah Vol 24, No 1 (2022): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v24i1.17515

Abstract

Abstract: The Legal Istinbath Methodology has a very strong influence on the legal products issued. Not everyone is able to practice an Islamic law because that person is required to master various branches of science, all of which lead to a process of establishing a law. Abdul Qadir Hassan is one of the scholars of Persatuan Islam’s organization (PERSIS) who consistently refers to the Qur'an and as-Sunnah. This study aims to determine the flow of his legal Istinbath methodology in answering various problems especially in salat problem’s in the period 1958-1984. With this research, we can also understand the flow of fatwa determination from the PERSIS Hisbah Council. This study uses a library research method using library materials in the form of articles and books. The analysis technique used is content analysis, which is a research methodology that utilizes a set of procedures to draw appropriate conclusions from a document. The results of the study reveal that the position of the Qur'an and as-Sunnah is the main foundation in determining his law. In understanding a text, it is basically textual as long as there is no other information that turns it away. In addition, the existence of Ijma' Companions and Qiyas are also used in establishing a law, although qiyas in this case is not used in matters of worship. As for the opinion of the imam of the madzhab, he does not use it if he does not find its basis in the Qur'an or as-Sunnah, but is used in its function as a reinforcement of the opinion that he issues. Abdul Qadir Hassan's method indirectly leads us to be critical and distance ourselves from taqlid and also being able to revise legal decisions that have been set by previous scholars.Abstrak: Metodologi Istinbath Hukum memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap produk hukum yang dikeluarkan. Tidak semua orang mampu untuk mengistinbath sebuah hukum karena orang tersebut dituntut untuk menguasai berbagai cabang keilmuan yang semuanya menjurus kepada sebuah proses penetapan hukum. Abdul Qadir Hassan adalah salah seorang ulama organisasi Persatuan Islam (PERSIS) yang secara konsisten merujuk kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alur metodologi Istinbath hukum beliau dalam menjawab berbagai persoalan umat khususnya dalam perkara shalat di periode 1958-1984. Dengan adanya penelitian ini juga, kita juga dapat memamahi alur penetapan fatwa dari Dewan Hisbah PERSIS. Penelitian ini menggunakan metode peneltian pustaka dengan menggunakan bahan-bahan-bahan kepustakaan berupa artikel maupun buku. Teknik analisa yang digunakan adalah content analysis, yaitu metodologi penelitian yang memanfaatkan seperangkat prosedur untuk menarik kesimpulan yang tepat dari sebuah dokumen. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kedudukan al-Qur’an dan as-Sunnah menjadi fondasi utama dalam penetapan hukum beliau. Dalam memahami sebuah nash, pada dasarnya ia bersifat tekstualis selama tidak ada keterangan lain yang memalingkannya. Selain itu, keberadaan Ijma’ Sahabat dan Qiyas juga digunakan dalam menetapkan sebuah hukum, meskipun qiyas dalam hal ini tidak digunakan dalam urusan ibadah. Adapun pendapat imam madzhab tidak ia gunakan jika tidak ditemukan dasanya dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah, namun digunakan dalam fungsinya sebagai penguat pendapat yang ia keluar­kan. Metode Abdul Qadir Hassan sendiri secara tidak langsung menuntun kita untuk bersikap kritis dan menjauhkan diri dari taqlid buta serta mampu merevisi keputusan-keputusan hukum yang telah ditetapkan oleh ulama sebelumnya.  
ARGUMEN FATWA MUI TENTANG PLURALISME AGAMA DALAM PERSPEKTIF HAK ASASI MANUSIA Zainul Mun'im
Asy-Syari'ah Vol 23, No 2 (2021): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v23i2.13817

Abstract

Abstract: The authority to issue fatwa in Indonesia sometimes puts Indonesia Ulema Council (MUI) under the microscope, where society criticize some of MUI’s fatwas.  One of fatwas that raise pros and cons in society is religious freedom matters. Their fatwas on deviant groups and sects are widely regarded as a threat to religious freedom in Indonesia. Based on this explanation, this study aims to discuss the suitability of the legal reasoning in the MUI fatwa regarding the digression of religious pluralism with human rights instruments. This MUI fatwa will be studied using the theory of religious freedom instruments of David Llewellyn, which human rights enforcement agencies have widely used. This study has two conclusions. Firstly, most of the MUI legal reasoning are based on the classic books of Quranic and hadith interpretation. Secondly, the MUI fatwa on religious pluralism is intended to maintain public order, which is one of permissible restriction on degradable-human rights.Abstrak: Sepak terjang Majelis Ulama Indonesia (MUI) menjadi suatu yang menarik untuk dikaji, khususnya terkait argumen dan peran fatwa-fatwanya dalam dinamika hukum di Indonesia. Hal ini penting untuk dikaji karena MUI telah menjadi lembaga yang dianggap paling otoritatif dalam menerbitkan sebuah fatwa di Indonesia. Meski demikian, fatwa-fatwa MUI sering menimbulkan pro dan kontra di tengah masyarakat, khususnya dalam persoalan kebebasan beragama. Fatwa-fatwanya tentang kelompok dan aliran menyimpang banyak dianggap sebagai ancaman atas kebebasan beragama di Indonesia. Atas dasar penjelasan di atas, penelitian ini bertujuan untuk membahas kesesuaian argumen dalam fatwa MUI tentang kesesatan paham pluralisme agama dengan instrumen-instrumen hak asasi manusia. Fatwa MUI tersebut akan dikaji menggunakan teori instrumen kebebasan beragama David Llewellyn yang telah banyak digunakan oleh lembaga-lembaga penegak HAM. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan dua hasil penelitian. hasil penelitian pertama menunjukkan mayoritas argumen MUI dalam fatwanya tentang pluralisme agama bersifat normatif, yakni berupa ayat-ayat al-Quran dan hadis dengan berlandaskan kepada penafsiran-penafsiran para ulama klasik. Kedua menunjukkan bahwa fatwa MUI tentang pluralisme agama ini juga menggunakan argumen hak asasi manusia. Argumen tersebut dapat dipahami dari alasan menjaga ketertiban umum yang menjadi dasar keputusan fatwa MUI tentang kesesatan pluralisme agama.
KONTRIBUSI EKONOMI SYARI’AH DALAM PEMULIHAN EKONOMI INDONESIA DI MASA PANDEMI COVID-19 N Nasrudin; Ending Solehudin
Asy-Syari'ah Vol 23, No 2 (2021): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v23i2.15552

Abstract

Abstract: The purpose of this study is to identify the contribution of the Sharia economy during the Covid-19 pandemic to recover the Indonesian economy. A descriptive qualitative approach is a method in this research with library research as a type of research. This study concludes that at least there are 2 (two) Sharia economy contributions. Firstly, the optimization of Islamic social finance (management and distribution of zakat and waqf funds). Secondly, the development of sharia-based financial technology for online market players following sharia regulations.Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kontribusi ekonomi syariah di masa pandemi covid-19 sebagai sebuah ikhtiar pemulihan ekonomi Indonesia. Pendekatan kualitatif deskriptif menjadi metode dalam penelitian ini dengan studi kepustakaan (Library Research) sebagai jenis penelitiannya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa setidaknya terdapat 2 (dua) kontribusi pencapaian dari ekonomi syariah, pertama optimalisasi islamic social finance (pengelolaan dan penyaluran dana zakat dan wakaf). Kedua, pengembangan financial technology berbasis syariah bagi pelaku pasar online yang sesuai dengan aturan syariah.
NAFKAH PRODUKTIF UNTUK ANAK PERSPEKTIF KIAI SYANSURI BADAWI Yayan Musthofa; Mohamad Anang Firdaus
Asy-Syari'ah Vol 24, No 1 (2022): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v24i1.16566

Abstract

Abstract: The obligation of parents to provide for their children at least until they reach adulthood, which is 21 years referring to the KHI policy article 98 paragraph (1), when they are married, or have entered ar-rusydu phase (understanding the law and independence) referring to classical fiqh studies. In another study on maqāshid as-syarī'ah version, when the child has entered the age of 23 years based on the calculation finishing study period plus a year of financial independence trial period. In order to study further to prepare children's financial independence, this study aims to examine more deeply the concept of productive livelihood from the maqāsid as-syarī'ah perspective in the book of Fiqh Al-Munākaḥāt by Kiai Syansuri Badawi. This article includes a literature review with the maqāsid as-syarī'ah approach of Jasser Auda, while the object of this study is the work of Kiai Syansuri Badawi. From this research, I found that livelihood in Kiai Syansuri Badawi's view contains a productive meaning or a productive spirit and is in accordance with Jasser Auda's maqāshid as-syarī'ah concept for human development as the goal of the Shari'a. This article is important to build human development –especially Muslims– with the disteribution and management of a productive living, starting from the smallest organization, namely the family.Abstrak: Kewajiban orangtua menafkahi anak setidaknya berlangsung hingga masuk usia dewasa, yakni 21 tahun bila merujuk kebijakan KHI PPasal 98 ayat (1), ketika sudah menikah, atau sudah masuk fase ar-rusydu (cakap hukum dan mandiri) bila merujuk kajian fikih klasik. Dalam kajian lain versi maqāsid as-syarī’ah, ketika anak sudah masuk usia 23 tahun dengan perhitungan usai masa belajar ditambah setahun masa uji coba kemandirian finansial. Untuk mengkaji lebih lanjut untuk menyiapkan kemandirian finansial anak, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji lebih dalam konsep nafkah produktif perspektif maqāshid as-syarī’ah dalam kitab Fiqh Al-Munākaḥāt karya Kiai Syansuri Badawi. Artikel ini termasuk kajian pustaka dengan pendekatan maqāshid as-syarī’ah Jasser Auda, sedangkan objek kajiannya adalah karya Kiai Syansuri Badawi. Dari kajian tersebut, peneliti mendapat­kan hasil bahwa nafkah dalam pandangan Kiai Syansuri Badawi mengandung makna produktif atau spirit-produktif dan sesuai dengan konsep maqāshid as-syarī’ah Jasser Auda untuk pengembangan SDM (human development) sebagai tujuan dari syariat. Artikel ini penting guna membangun human development –khususnya umat Islam– dengan penyaluran dan pengelolaan nafkah menjadi produktif, dimulai dari organisasi terkecil, yakni keluarga.
MODERASI PEMAHAMAN HIRARKI MAQĀSHID AL-SYARĪʻAH DALAM FIKIH PANDEMI PERSPEKTIF FIQH AL-AWLAWIYYĀT STUDI FATWA MUI Siti Hajar; Ahmad Zaeni
Asy-Syari'ah Vol 24, No 1 (2022): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v24i1.16930

Abstract

The controversy about the al-Maqâshid al-Dlarûriyyah al-Khams hierarchy has an effect on the understanding of the Maqâshid al-Syarî'ah hierarchy in the MUI version of the Fiqh Pandemic, especially the fatwa on congregational and Friday prayers in mosques. In dzahir, the fatwa prioritizes hifdz al-nafs over hifdz al-dîn, while the majority of scholars are of the opinion that hifdz al-dîn occupies the highest hierarchy. This research aims to reveal a moderate understanding of the Maqâshid al-Syarî'ah hierarchy in Fiqh Pandemic from the perspective of Fiqh al-Awlawiyyât. This research is qualitative by using Istiqrâ̕, Muqâranah and Tawtsîqî methods. The results of this study are: first, the al-Tarjîh rule used by the theocentric group allows for a middle way to bring together views between theocentric and anthropocentric groups in determining the Maqâshid al-Syarî'ah hierarchy; second, Fiqh al-Awlawiyyât is a comprehensive instrument to determine the Maqâshid al-Syarî'ah hierarchy in Pandemic Fiqh, because it accommodates the rules of al-Tarjîh, Fiqh al-Muwâzanah and Fiqh al-Taisîr wa Raf' al-Haraj, even in harmony with Fiqh al-̒Adzâr through Qiyâs Awlawî; third, Fiqh al-Awlawiyyât becomes a middle ground for the controversy between theocentric and anthropocentric groups in the context of the Maqâshid al-Syarîʻah hierarchy. In conclusion, the Maqâshid al-Syarî'ah hierarchy in Pandemic Fiqh with the priority of hifdz al-nafs over hifdz al-dîn is set moderately by using Fiqh al-Awlawiyyât.Kontroversi tentang hirarki al-maqāshid al-dlarūriyyah al-khams berpengaruh pada pemahaman hirarki Maqāshid al-Syarī’ah dalam Fikih Pandemi versi MUI, khususnya fatwa tentang shalat Jama’ah dan Jum'at di masjid. Secara dzahir, fatwa tersebut mendahulukan hifdz al-nafs atas hifdz al-dīn, sedangkan Jumhūr ulama ber­pendapat bahwa hifdz al-dīn menempati hirarki tertinggi. Kajian ini bertujuan untuk meng­ungkap pemahaman moderat tentang hirarki Maqāshid al-Syarī’ah dalam Fikih Pandemi perspektif Fiqh al-Awlawiyyāt. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode Istiqrâ̕, Muqāranah dan Tawtsīqī. Hasil penelitian ini adalah: pertama, kaidah al-Tarjīh yang digunakan kelompok teosentris memungkinkan adanya jalan tengah mempertemukan pandangan antara kelompok teosentris dan antropo­sen­tris dalam penentuan hirarki maqāshid al-syarī’ah; kedua, Fiqh al-Awlawiyyāt merupakan instrumen komprehensif untuk menentukan hirarki Maqāshid al-Syarī’ah dalam Fikih Pandemi, karena ia mengakomodir kaidah al-Tarjīh, Fiqh al-Muwāzanah dan Fiqh al-Taisīr wa Raf' al-Haraj, bahkan selaras dengan Fiqh al-A’dzār melalui Qiyās Awlawī; ketiga, Fiqh al-Awlawiyyāt menjadi jalan tengah bagi kontroversi antara kelompok teosentris dan antroposentris dalam konteks hirarki Maqāshid al-Syarīʻah. Kesimpulannya, hirarki Maqāshid al-Syarī’ah dalam Fikih Pandemi dengan prioritas hifdz al-nafs daripada hifdz al-dīn ditetapkan secara moderat dengan menggunakan Fiqh al-Awlawiyyāt.
PERLINDUNGAN ANAK ATAS TRAUMA PSIKOLOGIS PASCA PERCERAIAN ORANG TUA Yayuk Siti Khotijah; Fathonah K. Daud
Asy-Syari'ah Vol 23, No 2 (2021): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v23i2.13552

Abstract

Abstract: This research elaborates  the effects of parental divorce on the children psychological condition and are looking for a satisfactory solution to protect them from its negative-psychological effects  through Islamic laws approach. This research applied descriptive qualitative method, with data collection conducted through observation, interviews, and documentation. The object of this research is the students of Al-Muhibbin Modern Islamic Boarding School Jatirogo Tuban with divorced parent. The results of this study indicate that the impact of parental divorce on the psychological conditions is shown on the student’s behavior, i.e. feeling inferior to others, become stubborn, rude, and naughty. Therefore, to minimize these negative impacts, one of the efforts that can be used is through Islamic counseling using the forgiveness method which is considered quite effective so the children with this condition can live and participate properly in their community as mandated by the child protection law in Indonesia. Abstrak: Penelitian ini mengkaji tentang perlindungan bagi anak dari pengaruh perceraian orang tua terhadap kondisi psikologis anak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui solusi atas permasalahan akibat perceraian orang tua. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif, dengan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Obyek dalam penelitian ini adalah santri PPM Al-Muhibbin Jatirogo Tuban yang menjadi korban perceraian orang tua mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dampak perceraian orang tua terhadap kondisi psikologis yang terjadi pada diri santri di antaranya muncul sifat rendah diri terhadap teman-temannya yang lain, menjadi lebih bandel dan nakal, serta bersikap kasar dengan teman-temannya. Untuk mengatasi perubahan terhadap kondisi psikologis anak yang berdampak negatif tersebut, salah satu upaya yang dapat digunakan adalah melalui bimbingan penyuluhan Islam dengan menggunakan metode pemaafan yang dinilai cukup efektif dan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Hal tersebut dilakukan agar ia dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara wajar, selaras dengan yang diamanatkan oleh ketentuan tentang perlindungan anak di Indonesia.
IMPLIKASI JANJI (WA’AD) NASABAH DALAM PEMBAYARAN UTANG PEMBIAYAAN DI BPRS AL SALÂM CABANG BANDUNG DITINJAU DARI EKONOMI SYARI’AH Intan Astiani; Neneng Nurhasanah; Roji Iskandar
Asy-Syari'ah Vol 23, No 2 (2021): Asy-Syari'ah
Publisher : Faculty of Sharia and Law, Sunan Gunung Djati Islamic State University of Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/as.v23i2.12378

Abstract

Abstract: Business ethics has an important role as the principle of muamalah in sharia business transactions. The agreed wa'ad determines the contract used as the basis for transactions. The purpose of this study is to analyze the Islamic economic perspective on the implementation and implications of wa'ad in transactions in Islamic People's Financing Banks (BPRS). This study focuses on the implementation of wa'ad in BPRS Al-Salaam. This research was conducted qualitatively using data sources obtained from interviews, observations, and literature studies. The results of this study are the wa'ad provisions made by the customer to the Al-Salaam BPRS, which stated the promise to pay off the remaining financing debt. This is one of the consequences of the customer, and if it is due, the Al-Salaam BPRS will take gradual actions, one of which is executing the guarantee. In addition, the implication of the customer default on the wa'ad carried out is binding on the customer's obligations because the customer has made the wa'ad in the statement letter. In this case, the parties must pay attention to business ethics by the Qur'an and Sunnah. With legal remedies, BPRS Al-Salaam can follow up by applicable procedures.Abstrak: Etika bisnis memiliki peran penting sebagai prinsip bermuamalah dalam transaksi bisnis syariah. Akad yang dijadikan landasan dalam bertransaksi ditentu­kan dengan wa’ad yang telah disepakati. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pandanngan ekonomi syariah terhadap implementasi dan implikasi wa’ad dalam transaksi di dalam Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS). Penelitian ini berfokus pada implementasi wa’ad di BPRS Al-Salaam. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan meng­guna­kan sumber data yang diperoleh dari hasil wawancara, obesrvasi dan studi literatur. Hasil dari penelitian ini adalah ketentuan wa’ad dilakukan nasabah kepada BPRS Al-Salaam yang menyatakan janji akan melunasi utang pembiayaan yang tersisa. Hal tersebut merupakan salah satu konsekuensi nasabah, jika telah jatuh tempo maka BPRS Al-Salaam akan melakukan tindakan bertahap, salah satunya melakukan eksekusi jaminan. Selain itu, implikasi wansprestasi nasabah atas wa’ad yang dilakukan bersifat mengikat secara kewajiban nasabah, karena nasabah sudah melakukan wa’ad di dalam surat pernyataan. Dalam hal ini, para pihak harus memperhatikan etika bisnis sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah. Dengan upaya hukum, maka BPRS Al-Salaam dapat menindaklanjuti sesuai dengan prosedur yang berlaku.