cover
Contact Name
Derry Ahmad Rizal
Contact Email
derry.rizal@uin-suka.ac.id
Phone
+628562577044
Journal Mail Official
prodisaafusap@gmail.com
Editorial Address
Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Jl. Marsda Adisucipto Yogyakarta 55281, Telepon (0274) 512156 ext. 43109
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Religi: Jurnal Studi Agama-agama
Religi: Jurnal Studi Agama-Agama is an open access peer reviewed research journal published by Department of Religious Studies, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama is providing a platform for the researchers, academics, professional, practitioners and students to impart and share knowledge in the form of empirical and theoretical research papers, case studies, and literature reviews. Religi: Jurnal Studi Agama-Agama welcomes and acknowledges theoretical and empirical research papers and literature reviews from researchers, academics, professional, practitioners and students from all over the world. This publication concern includes studies of world religions such as Islam, Christianity, Buddhism, Hinduism, Judaism, and other religions. Interdisciplinary studies may include the studies of religion in the fields of anthropology, sociology, philosophy, psychology, and other cultural studies.
Articles 249 Documents
Islam dan Resolusi Konflik Muhamad Harjuna
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 14, No 1 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2018.1401-09

Abstract

 AbstractThis article examines the essence of religion and specifically speaks of Islam as a peaceful, progressive and solutive religion. Islam comes from the Most Peaceful (al-Salâm), always spreading peace wherever and whenever. The greetings spoken by Muslims reflect the noble character of the Assalamu'alaikum (may peace be upon you). Islam is a progressive religion, against oppressors, capitalists, injustices, fighting for the rights of the oppressed little ones, glorifying women, and bringing about a harmonious and peaceful society within the framework of fraternity. Islam is a solutive religion, teaches the virtues of morality as opposed to bad morality, resolves nonviolent conflict, and contributes to giving spirit to build peace or conflict resolution, and also contributes in giving spirit to build peace or conflict resolution. The Qur'an’s solution to conflict is a suggestion for clarification, mediation, deliberation, forgiveness, reconciliation, good deeds, and justice. A holistic study of Islam will find the substance of Islam as a religion of  raḥmatan lil 'âlamḭn.
Swami Vivekananda (1863-1902): Reformer Hinduisme Modern Nur, Syaifan
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 1, No 1 (2002)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2002.%x

Abstract

Pada akhir abad ke-19 M, di India terjadi suatu perkembangan yang menarik dalam bidang agama, khususnya dalam Hinduisme. Pada masa itu, muncul kesadaran di kalangan para pemimpin dan tokoh agama Hindu untuk meninjau kembali ajaran-ajaran atau keyakinan-keyakinan mereka, agar bisa disesuaikan dengan tuntutan zaman. Salah satu tokoh Hindu yang cukup dikenal sebagai penyelamat tradisi agung Hindu di India, sekaligus memunculkan kembali pemikiran terhadap warisan cahaya kebenaran sebagai reaksi krisis moral pada zaman itu, adalah Swami Vivekananda (1863-1902). Tokoh ini besar pengaruhnya terhadap Hinduisme secara khusus di India, maupun dunia luas pada umumnya. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa dialah yang terbaik pada zamannya, salah seorang putera India kenamaan yang dilahirkan untuk memuliakan negeri dan bangsanya. Ketika terjadi kekacauan cita-cita, pada waktu putera-puteri India telah kehilangan keyakinan terhadap misi mereka dalam kehidupan dengan membiarkan diri bergantung kepada gelombang materialisme, di saat itulah Vivekananda hadir untuk membangkitkan negeri India kepada warisannya yang agung dan menyebarkan cahaya kebenarannya ke seluruh dunia.
AGAMA KHONGHUCU PASCA REFORMASI 1998 (STUDI TERHADAP MAKIN YOGYAKARTA) Haetami Haetami
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 11, No 2 (2015)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2015.1102-03

Abstract

The highest religious institutions have a decisive role in approaching various religiousphenomena. During the New Order regime, religious institutions are not much presentin the public space since government policy requires society-based organizations underdirect government control. But entering the reformation era in 1998, the variouselements of society began to fi ll public space with various forms of organization,including the MAKIN institution of Confucianism. There are two queries in thispaper, that is how the dynamics of the post-reformation institution for ConfucianReligion in 1998 and how the infl uence of the 1998 reformation on the MAKINYogyakarta. This is a fi eld research with qualitative methods. The data collection wasdone by observation, interview, and documentation. This study uses a phenomenologicalapproach to the analysis of the history and ideology of Louis Althusser’s theory. Theseresults indicate that the dynamics of the post-reformation era in term of institution forConfucian Religion in 1998 experienced a shift towards the better. The establishmentof MAKIN with its chance based on the demanding era has given a signifi cant notefor the followers of Confucianism in general and in particular activists of MAKIN.
INDONESIAN CONSTITUTIONAL COURT’S DECISION NO. 97/PUU-XIV/2016: A CHANCE TO ENCOURAGE RECONCILIATION BETWEEN “AGAMA” AND “KEPERCAYAAN” Asep Sandi Ruswanda
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 16, No 1 (2020)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2020.1601-02

Abstract

AbstractThis paper discussed the Constitutional Court’s decision in  2017 as a chance to encourage reconciliation of “agama” and “kepercayaan.” This paper collects responses from religious organizations through statements on the internet such as online media, the organization’s official website, or even official social media. The data is then classified based on religious affiliation and their attitude towards the Constitutional Court’s decision in 2017. On 7 November 2017, the Constitutional Court granted a judicial review of Law No. 23/2006 amended by Law No. 24 of 2013 concerning Civic Administration (UU Adminduk). This law is very significant for the group of “kepercayaan.” However, the group of “agama” has not yet fully accepted the group of “kepercayaan.” So, there needs to be reconciliation between groups of “agama” and “kepercayaan” after the decision of the Constitutional Court in 2017. By looking at the importance of the decision, it is also truly an opportunity to stop discrimination and social stigma against followers of “kepercayaan.” This paper concluded that the decision of the Constitutional Court in 2017 was an opportunity to encourage reconciliation between “agama” and “kepercayaan.”Keywords: Constitutional Court’s decision, agama, kepercayaan, reconciliation
مكانة المرأة في الديانة الهندوسية والإسلام Kurnia Sari Wiwaha dan Syamsul Hadi Untung
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 14, No 2 (2018)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2018.1402-07

Abstract

Wanita merupakan sebuah pembahasan yang tidak pernah jauh dari perdebatan ketika masalah ini diangkat kepada sebuah  pembahasan. Hampir setiap agama memiliki pemandangan yang berbeda pada pendapatnya tentang wanita baik itu agama sama>wiy ataupu wadh’iy, masing-masing memiliki penilaian yang berbeda akan kedudukan wanita. Untuk itu, dalam makalah yang sederhana ini akan dipaparkan pandangan beberapa agama tentang kedudukan wanita khususnya agama Hindu. Dari kajiannya tentang kedudukan wanita dalam agama Hindu, penulis menemukan adanya kesenjangan dari apa yang diterangkan oleh agama dengan kenyataannya di lingkungan. Dalam agama Hindu, wanita mendapatkan kedudukan yang mulia, karena diawal kejadiannya wanita tercipta dari sakti Brahma dan juga mereka lah ibu yang telah melahirkan anak-anak, mengasuhnya serta mereka lah kunci dari kehidupan di masa mendatang. Akan tetapi untuk segi sosial, kedudukan mereka tetap didominasi oleh pria karena mereka meyakini bahwasanya pria lah pewaris ajaran-ajaran agama, dan kemulian yang dimiliki wanita hanya berupa kemampuan mereka yang dapat melahirkan anak laki-laki. Adapun bagi mereka yang tidak bisa melahirkan anak laki-laki, maka tidak ada kemulian yang diberikan kepada mereka. Mereka hanyalah sebagai makhluk yang tak bernilai. Pandangan ini sangat berbeda jauh dengan kenyataannya yang terdapat pada agama Islam setelah Islam datang maka wanita mendapatkan haknya. Tidak ada siapa yang lebih tinggi dan siapa yang lebih rendah mereka semua sama hanya ketakwaan yang membedakan mereka.
MELIHAT POTRET HARMONISASI HUBUNGAN ANTARUMAT BERAGAMA DI INDONESIA Izzah, Lathifatul
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 9, No 1 (2013): Kompetisi Damai dalam Keragaman
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2013.0901-01

Abstract

Harmony and conflict can be said to have derived from plurality. Yet plurality may beget harmony if  people have embraced the inclusive or pluralist attitude. Conversely, plurality may also generate conflict if people chose to be exclusive, apathetic, as well as refuse to manage plurality. In the light of  this reality, this article seeks to explore questions such as what are the forms of  inter-religious relations in this country and are the for ms in line with the sociohistorical and cultural background of  Indonesian society. Is the current shape of relationship between religious communities an ideal or suitable one?From the aforementioned questions it can be noted that the relationship between religious communities that develop and thrive in Indonesia take the shape of tolerance, interfaith harmony, interfaith dialogue, interreligious dialogue and cooperation. Indonesia is an archipelagic country which has a large and diverse area, especially in terms of demography, topography and geography. Indeed the types of relation between individuals and religious adherents in each region are different. A suitable pattern of  harmonic relation in one place may not work quite well in another. In rural or coastal areas as well as in agricultural societies the values of tolerance and dialogue themselves may be supportive in preventing conflict. Whereas in urban areas or industrial cities it is most likely that tolerance alone is not enough, if it was not balanced with dialogue and cooperation among individuals and groups. Hence the values of  dialogue and cooperation between individuals and groups must be developed in any ideal society, especially in the attempt to build har monic relationships among interadherents of religion or between religious communities with government.
MENYOAL GERAKAN FEMINIS MUSLIM: ANTARA WACANA DAN REALITA (PENELITIAN PADA NASYIATUL AISYIYAH YOGYAKARTA) Yuddin, Ali
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 3, No 1 (2004)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2004.%x

Abstract

Peran perempuan dengan segala sublim-sublim feminitasnya bila dikembalikan pada realitas pergerakan Nasyiatul Aisyiyah tidak terjadi permasalahan yang mendasar karena secara structural berdasarkan wawancara para responden tidak satupun yang mengungkapkan rasa keberatan dengan sistem keorganisasian yang ada di tubuh Nasyiatul Aisyiyah. Dari berbagai keterangan responden, dapat ditarik benang merah di mana mereka itu dalam menanggapi persoalan-persoalan sekitar gerakan yang menuntut kesetaraan peran antara perempuan dan laki-laki tidak terlepas dari sudut pandang latar belakang mereka dalam menghayati masalah tersebut.
MAKNA TAHUN 1914 DAN PERANG DUNIA I MENURUT KRISTEN SAKSI YEHOVA Roni Ismail
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 12, No 2 (2016)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2016.1202-07

Abstract

Tahun 1914 M menurut ajaran Kristen Saksi Yehova merupakan tahun penting dalam Alkitab sebagai kelahiran Kerajaan Allah didasarkan pada nubuat Daniel 4. Nubuat ini menjelaskan bahwa pemerintahan Allah akan terputus selama tujuh masa. Tujuh masa tersebut dimulai ketika Israel dikalahkan oleh Babilonia pada 607 SM selama tiga setengah masa sama dengan “seribu dua ratus enam puluh hari” (1260 hari), “Tujuh masa” panjangnya dua kali itu, atau 2.520 hari. Berdasarkan  Bilangan 14:34 dan Yehezkiel 4:6 “satu hari untuk satu tahun.” Sehingga, 2.520 tahun itu dimulai pada Oktober 607 SM sampai Oktober 1914. Perang Dunia I yang terjadi dimulai pada tahun 1914 juga merupakan bukti historis dari tanda-tanda kelahiran Kerajaan Allah yang dimuat Alkitab. Dampak yang ditimbulkan oleh PD I seperti peperangan besar, krisis pangan, penderitaan kemanusiaan, timbulnya penyakit­-penyakit baru, dan degradasi moral, sesuai dengan tanda-tanda yang dinubuatkan oleh Alkitab. Bagi jemaat Kristen Saksi Yehova, Kerajaan Al-lah akan mendatangkan manfaat luar biasa besarnya, yaitu; tidak ada lagiproblem kesehatan, tidak ada lagi kematian, Yehuwa pasti akan menghapus air mata dari semua muka, yang mati akan hidup lagi, akan ada kebangkitan, tidak ada lagi tuna wisma atau pengangguran, tidak ada lagi perang, tidak ada lagi kekurangan makanan, dan tidak ada lagi kemiskinan.
Pergumulan Islam dalam Sistem Nilai Budaya Jawa Marsono, Marsono
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 2, No 2 (2003)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2003.%x

Abstract

Akulturasi sebuah kebudayaan dalam kebudayaan lain akan memberikan karakter khas dan menjadi identitas bagi kebudayaan tersebut. Demikian juga peresapan kebudayaan Islam dalam budaya Jawa telah meneguhkan identitas nilai budaya Jawa yang khas, sekalipun demikian tingkat kekhasan itu ditentukan juga oleh sejauh mana Islam masuk dalam struktur budaya Jawa. Artikel berikut ini mencoba melihat secara dekat bagaimana Islam berakulturasi dengan budaya Jawa sehingga terbangun sebuah "budaya Jawa" yang terstruktur sedemikian rupa.
CINTA SEBAGAI RELIGIOUS PEACE BUILDING (Perspektif Muhammad Fethullah Gülen) Ahmad Kholil
Religi: Jurnal Studi Agama-agama Vol 10, No 2 (2014)
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/rejusta.2014.1002-01

Abstract

Sociologically, religion has a double function. On the one hand, religion can be a factor of social cohesion and harmony creation, but on the other hand it can also be a factor religious disharmony between people of different religions. This paper examines the views of  Fethullah Gülen on the social function of  religion that is based on love and peace. Differences of religion, according to him, is a consequence of the choice of each human being in order to establish the absolute truth based on how they believe. Therefore, differences in religion is not something scar y or even harmful for social life, as long as people are able to live in the light of love and peace.

Page 10 of 25 | Total Record : 249