cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Pola Persebaran Limbah Air Panas PLTU Di Kolam Pelabuhan Tambak Lorok Semarang Petrus Subardjo; Raden Ario; Gentur Handoyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (564.698 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.600

Abstract

Tambak Lorok terletak di pantai utara Jawa Tengah telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam bidang industri. Industri-industri tersebut berpeluang untuk berpotensi mencemari perairan sekitarnya. Salah satu industri yang ada di wilayah Tambak Lorok adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU Tambak Lorok yang membuang limbah panas ke perairan sekitarnya. Pembuangan limbah panas akan memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan perairan terutama suhu perairan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sebaran panas akibat limbah panas dari PLTU di Kolam Pelabuhan Tambak Lorok Semarang. Sampling dengan tujuan tertentu atau purposive samplng methods dilakukan untuk mencari data sesuai dengan tujuan penelitian. Pendekatan permasalahan dilakukan dengan penetapan sejumlah stasiun dengan pertimbangan yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil pada beberapa titik lokasi dengan pengumpulan data berupa suhu yang merupakan variabel kontrol. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan program Surface Modelling System (SMS) sehingga menghasilkan peta sebaran panas. Hasil pemetaan sebaran menunjukkan bahwa pola sebaran panas di Kolam Pelabuhan Tambak Lorok Semarang menuju ke arah timur pada bulan Agustus 2012, kemudian ke arah barat laut di bulan September 2012, dan ke arah timur laut pada bulan Oktober 2012. Pola sebaran panas paling tinggi hanya terjadi pada daerah outlet dan semakin turun ketika menjauhi outlet karena pengaruh arus dan semakin bertambahnya kedalaman perairan.      
Variasi Komposisi Dan Kerapatan Jenis Lamun Di Perairan Ujung Piring, Kabupaten Jepara Retno Hartati; Widianingsih Widianingsih; Adi Santoso; Hadi Endrawati; Muhammad Zainuri; Ita Riniatsih; W.L. Saputra; Robertus Triaji Mahendrajaya
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1056.563 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1702

Abstract

Seagrass has an important role for marine environment as a primary producer also as constituent and ecosystems habitats that support the life on coral reefs and mangrove or coastal. This research is aimed to identify the seagrass species and to undertand thier density and coverage. This research was conducted on June-August 2016 at Ujung Piring waters, Jepara. The research used descriptive method. Sampling was conducted on five stations, where each station performed five repetitions. The seagrasses found in research sites were identified and counted for their density and coverage. Seawater quality parameter were measured in situ. Sediment were take for grain size analysis to undertand their characteristic. The research showed that during the study period there were four species of seagrasses i.e. Enhalus acoroides, Thalasia hemprichii, Cymodocea Rotundata, and Syringodium isoetifolium. Overall this study indicate the highest and lowest density found in Thalassia hemprichii  (33,87 and 4,35 stands/m²).  E. acoroides had highest coverage (48,67%) while the lowest (8,71%) was T. hemprichii. There were variation in density and covarage of seagrass species due to water quality and showed uneven distribution of the seagrass species in that area.  Lamun memiliki peranan penting bagi kehidupan di laut sebagai produsen primer serta penyusun habitat dan ekosistem yang menyangga kehidupan di terumbu karang dan mangrove atau daratan pantai. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis lamun dan variasi kerapatan dan penutupannya di perairan Ujung Piring, Kabupaten Jepara. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni–Agustus 2016 di perairan Ujung Piring Jepara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Pengambilan sampel dilakukan pada lima stasiun, dimana setiap  stasiun dilakukan lima kali pengulangan. Lamun diidentifikasi di lokasi penelitian, dihitung kerapatannya dan penutupannya. Pengukuran kualitas perairan dilakukan in situ, sedangkan sedimen diambil untuk dianalisa butiran untuk mengetahui karakteristik sedimennya. Hasil penelitian ini menunjukkan selama periode penelitian terdapat 4 jenis lamun, yaitu Enhalus acoroides,  Thalasia hemprichii, Cymodocea rotundata, dan Syringodium isoetifolium. Kerapatan tertinggi dan terendah ditemukan pada Thalassia hemprichii yaitu 33,87 dan 4,35 tegakan/m².  Persentase penutupan tertinggi ditemukan pada E. acoroides dengan nilai 48,67% dan yang terendah 8,71% oleh T. hemprichii. Terdapat variasi komposisi dan kerapatan berdasarkan waktu pengamatan, hal ini menunjukkan adanya pengaruh lingkungan dan tidak terjadi persebaran lamun yang merata pada daerah tersebut. 
Pemetaan Sebaran Terumbu Karang Studi Kasus Selat Madura, Jawa Timur Zainul Hidayah; Nike Ika Nuzula
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.018 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.5634

Abstract

Mapping of the potential of coral reefs on the coast of the Madura Strait is evaluated. The coral mapping purposes are to evaluated a total area of the coral reefs in line with the current condition. The index of the area of coral reefs on the coast of the Madura Strait was also compiled to produce a database of the parameters that affect to the coral reefs growths. The imaga data processed is using Landsat. Maping data processing methos is using Lyzinge Algorithm since the area has shallow water area characteristics. The area of coral reef substrate identified according to the processed image is 10.478.032 Ha. The Landsat 7 satellite imagery has an ability to detect the characteristics of shallow waters using blue channels with wavelengths of 0.45-0.52 µm and green channels with wavelengths of 0.52-0.60 µm. However, to determine the condition and how severe the damage to coral reefs, detection with satellite imagery is not enough so that direct observation is needed through scuba diving activities. Scuba diving is carried out to determine the condition of coral reefs. Roughly, coral reef ecosystems in the objects are categorized as moderate to damaged. The damage to this coral reef ecosystem identified at the depths of 5 and 10 meters. Pemetaan potensi terumbu karang dilakukan di area pesisir Selat Madura. Pemetaan ini dilukan dengan memanfaatkan data citra satelit dari Landsat 7 dan pengolahan data menggunakan metode Algoritma Lyzinge. Studi ini bertujuan untuk mengetahui cakupan luas dari sebaran terumbu karang serta kondisi terumbu karang. Indeks dari area terumbu karang dipetakan dan disusun untuk selanjutkan digunakan sebagai basis data yang berisi tentang informasi yang mengadung parameter – parameter yang berpengaruh terhadap pertumbuhan terumbu karang. Dalam penelitian ini, terumbu karang ditemukan di perairan dangkal yang jernih. Citra satelit Landsat 7 memiliki sensor yang dapat mendeteksi karakteristik perairan dangkal dengan memanfaatkan saluran/ kanal biru dengan panjang gelombang 0,45-0,52 µm dan saluran/ kanal hijau dengan panjang gelombang 0,52-0,60 µm. Namun, untuk mengetahui kondisi dan tingkat kerusakan terumbu karang, pendeteksian dengan citra satelit tidaklah cukup sehingga diperlukan pengamatan secara langsung melalui aktivitas penyelaman scuba. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah luas substrat terumbu karang adalah 10,478.032 Ha. Hasil dari scuba diving menunjukkan bahwa secra umum ekosistem terumbu karang di perairan Selat Madura berada dalam kondisi sedang hingga rusak. Kerusakan ekosistem terumbu karang ini terjadi pada kedalaman 5 dan 10 meter.
Penyebaran Limbah Air Panas PLTU Di Kolam Pelabuhan Semarang Petrus Subardjo; Raden Ario
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 3 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.401 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i3.531

Abstract

Kolam Pelabuhan Tambak Lorok Semarang yang terletak di pantai utara Pulau Jawa telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam menunjang aktivitas bidang industri. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tambak Lorok merupakan salah satu industri yang membuang limbah panas ke perairan sekitarnya. Pembuangan limbah air panas ini berpengaruh langsung terhadap suhu lingkungan perairan. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober 2012 ini bertujuan untuk mengetahui pola sebaran panas akibat limbah panas dari PLTU di Kolam Pelabuhan Tambak Lorok Semarang. Metode samplng purposif dilakukan dengan menetapkan sejumlah stasiun dengan pertimbangan yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian. Pengambilan sampel dilakukan di delapan titik lokasi penelitian dengan pengumpulan data berupa suhu yang merupakan variabel kontrol. Data sebaran suhu dari kanal pendingin yang diperoleh selanjutnya dianalisis menggunakan program Surface Water Modeling System (SMS) sehingga menghasilkan peta sebaran panas. Hasil pemetaan sebaran menunjukkan bahwa pola sebaran panas di Kolam Pelabuhan Tambak Lorok Semarang menuju ke arah timur pada bulan Agustus 2012, kemudian ke arah barat laut di bulan September 2012, dan ke arah timur laut pada bulan Oktober 2012. Pola sebaran panas paling tinggi hanya terjadi pada daerah outlet dan semakin turun ketika menjauhi outlet karena pengaruh arus dan semakin bertambahnya kedalaman perairan. Kata kunci: Limbah, Panas, PLTU, Pelabuhan
Kualitas Perairan di Daerah Fishing Ground Nelayan Kerang di Pesisir Timur Kota Semarang Chrisna Adhi Suryono; Baskoro Rochaddi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 1 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.823 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i1.1353

Abstract

This study aimed to assess the relationship between marine water qualities in bivalve fishing ground on easter part of Semarang coastal water.  The result of study shows that the waters quality on those areas is still available for marine organism life. The water quality of dissolved oxygen between 5,6 – 6,2 ppm, water temperature 29,3 – 30,4 oC, salinity 32 – 33,7 ppt, pH 7,1 – 7,8, turbidity  20,2 – 42,5 NTU, and current velocity 0,15 – 0,55 m/sec.  That water quality in the study areas compered with standard water for marinr life is still to suport marine bivalvia to live. Its is proved with some of bivalve found for examples (Anadara granosa A. pilula, A. Gubernaculum, A. Inaequivalvis, Pharella javanica, Paphia undulate, Marcia hiantina, Harvella plicataria, Mactra violacea dan Placuna placenta)   Hasil penelitian menunjukan bahwa kualitas air laut didaerah penelitian masih dikatan layak untuk kehidupan organisme laut.  Konsentarsi DO (5,6 – 6,2 ppm), suhu air (29,3 – 30,4 oC), salintas (32 – 33,7 ppt), pH (7,1 – 7,8), kekeruhan (20,2 – 42,5 NTU) dan kecepatan arus (0,15 – 0,55 m/det).  Bila dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk kehidupan organisme laut secara keseluruhan masih layah terbukti ditemukanya beberapa jenis kerang seperti Anadara granosa A. pilula, A. Gubernaculum, A. Inaequivalvis, Pharella javanica, Paphia undulate, Marcia hiantina, Harvella plicataria, Mactra violacea dan Placuna placenta.  
Konversi Tinggi Pasang Surut Di Perairan Cilacap Terhadap Energi Yang Dihasilkan Gentur Handoyo; Agus A.D Suryoputro; Ibnu Pratikyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 2 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.651 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i2.522

Abstract

Pasang surut merupakan parameter yang penting dalam memperoleh besaran energi pasang surut yang berdasarkan nilai muka air pasang tertinggi dan surut terendah. Perairan Kabupaten Cilacap, propinsi Jawa Tengah merupakan perairan yang terletak di Samudera Hindia yang diduga terdapat potensi energi pasang surut yang tinggi. Selain itu faktor lokal yang mempengaruhi adalah bentuk morfologi pantai yang berbentuk alamiah dan diperairan pantai seperti teluk dan selat sempit serta kedalaman perairan. Tipe pasang surut dan nilai muka air pasang tertinggi dan muka air surut terendah diperoleh menggunakan Metode Admiralty. Hasil yang didapt tipe pasang surut di perairan Kabupaten Cilacap Campuran Condong ke Harian Ganda dengan nilai formzahl 0,3. Sedangkan nilai muka air pasang tertinggi sebesar 2,3m dan surut terendah sebesar 0,05m. Hasil simulasi untuk luasan kolam tunggal 1,1 km2 diperoleh energi pasang surut sebesar 61.161 kWh selama kurun waktu satu tahun di perairan Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah. Maka dapat disimpulkan, bahwa pemanfaatan perencanaan kedepannya untuk memperoleh energi pasang surut yang maksimal sebagai sumber energi alternatif.Kata kunci : Energi, Pasang Surut, Perairan CilacapTidal is an important parameter in obtaining tidal energy quantities are based on the face value of the highest high water level and the lowest low water level. Cilacap Regency waters, Central Java province is located in the waters of the Indian Ocean which is allegedly contained the high potential tidal energy. Tidal are caused by the influece of the force attraction of the moon and the sun. Besides that the local factors affecting is the shaped of morphology coastal which is natural-shaped and in coastal waters such as gulf, narrow strait and the waters depth. The type and tidal value of the highest high water level and the lowest low water level is obtained by using admiralty methods, the results obtained in the tidal type Cilacap Regency waters mixed tide prevailing semi diurnal is formhazl value 0,3. While the face value of the highest high water level is 2,3 m and the lowest low water level is 0,05 m. Simulation results for expressing a single pool of 1,1 km2 of tidal ebergy acquired 61.161 kWh for one year in the waters of Cilacap Regency, Central Java province. Thus it can be inferred that the utilization of energy obtained can be refference in the future construction planning in the future to obtain the maximum tidal energy as a source alternative energy.Keywords : Energy, Tidal, Waters of Cilacap 
Kualitas Air Media Pemeliharaan Benih Udang Windu (Penaeus monodon Fabricius) dengan Sistem Budidaya yang Berbeda Ali Djunaedi; Heri Susilo; Sunaryo Sunaryo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.115 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.846

Abstract

 Medium rearing of the P. monodon Fabricius seed at the hatcheries usually used closed system and without water changes during culture period, until certain time the water quality could deterioted. The purpose of this research was to understand the effects of recirculation system on the water qualities (total suspended solids, ammonia, ammonium, nitrite and dissolved oxygen) of tiger shrimp (P. monodon Fabricius) seed medium. This research was conducted in the hatchery of Marine Science of Diponegoro University at Teluk Awur. The research used experimental method with two treatments, recirculation and non-recirculation system. Concentrations of total suspended solids (TSS), ammonia, nitrite and dissolved oxygen (DO) were descriptive analyzed. Average concentration on recirculation system of  TSS was 0,570 mg/L, ammonia was 0,039 mg/L, nitrite was 0,076 mg/L and DO was 6,00 mg/L. Average concentration on without recirculation system of TSS was 0,983 mg/L, ammonia was 0,09 mg/L, nitrite was 0,2 mg/L and DO was 3,86 mg/L. The resirculation rearing system was improve water quality on tiger shrimp seed medium.  Budidaya benih udang windu (P.  monodon  Fabricius) pada bak pembenihan umumnya menggunakan sistem tertutup dan air media tidak diganti, sehingga dalam waktu tertentu dapat terjadi penurunan kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan kualitas air (MPT, amonia, amonium, nitrit dan DO) pada pemeliharaan benih udang windu (P.  monodon  Fabricius) dengan sistem resirkulasi dan tanpa resirkulasi. Penelitian dilakukan di Marine Center, Jurusan Ilmu Kelautan, Teluk Awur, Jepara. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental dengan dua perlakuan yaitu penggunaan sistem resirkulasi dan tanpa resirkulasi. Data konsentrasi material padatan tersuspensi (MPT), amonia, nitrit, oksigen terlarut (DO), pH dan suhu selama penelitian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada sistem resirkulasi konsentrasi rata – rata MPT 0,570 mg/L, amonia 0,039 mg/L, nitrit 0,076 mg/L dan DO 6,00 mg/L, sedangkan pada bak tanpa sistem resirkulasi konsentrasi rata – rata MPT 0,983 mg/L, amonia 0,09 mg/L, nitrit 0,2 mg/L dan DO 3,86 mg/L. Sistem resirkulasi mampu memperbaiki kualitas air media pemeliharaan benih udang windu.
Studi Keanekaragaman Makrozoobentos Pada Habitat Lamun Hasil Transplantasi dengan Metode Ramah Lingkungan Ita Riniatsih; Retno Hartati; Sri Redjeki; Hadi Endrawati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.821 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2401

Abstract

Damage to seagrass ecosystems resulting in loss of habitat makrozoobentos.The effort to fix them with seagrass transplantation program. Transplantation of seagrass with environment friendly techniques is expected to help to recreate habitat for makrozoobentos. Research on makrozoobentos diversity in habitats seagrass transplantation results using two methods of transplantation techniques bamboo frame and bamboo tubes.  The seagrass Enhalus acoroides type is transplanted. Research conducted in the waters of the Teluk Awur and Bandengan, Jepara and was conducted from August-November 2017. Research carried out with the widest swath of 4x4m with depth 85-100 cm. The number of type makrozoobnetos which is obtained during research is captured as many as 25 types look different at each sampling observations. Until the end of the observation makrozoobentos abundance ranged from 106.1-89.8 ind/m2 on the transplantation of seagrass with bamboo frames and methods of tube bamboo and seagrass pastures in both locations. Index of diversity and uniformity of makrozoobentos obtained in the category of low to moderate from each treatment.  Kerusakan ekosistem padang lamunmengakibatkan hilangnya habitat makrozoobentos. Upaya untuk memperbaikinya dengan melakuka transplantasi lamun.Transplantasilamun dengan metode yang ramah lingkungan diharapkan dapat membantu untuk menciptakan kembali habitat untuk biota bentik (makrozoobentos). Penelitian tentang keanekaragaman makrozoobentospada habitat lamun hasil transplantasi menggunakan dua metode transplantasi yaitu metode frame dan tabung bambu.  Lamun yang ditransplantasikan adalah  jenis Enhalus acoroides. Penelitian yang dilakukan di perairan padang lamun di Teluk Awur dan Bandengan Jepara ini dilaksanakan dari Agustus–Nopember 2017. Penelitian dilakukan dengan petak seluas 4x4m dengan kedalaman 85-100cm.Jumlah jenis makrozoobnetos yang diperoleh selama penelitian adalah sebanyak 25 jenis yang tertangkap terlihat berbeda disetiap sampling pengamatan. Hingga akhir pengamatan kelimpahan makrozoobentos berkisar antara 89,8-106,1 ind/m2 pada transplantasi lamun dengan metode frame bambu dan tabung bambu serta padang lamun asli di kedua lokasi. Indeks Keanekaragaman dan keseragaman makrozoobentos yang diperoleh dalam kategori  rendah hingga sedang pada ketiga perlakuan di atas. 
Logam Berat Anthropogenik Pb dan Cu pada Lapisan Sedimen Permukaan dan Dasar Muara Sungai di Kota Semarang, Jawa Tengah Indonesia Chrisna Adhi Suryono; Ibnu Pratikto; Ajeng Rusmaharani
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.994 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.3223

Abstract

Semarang coastal areas as specially on river down stream have been develop to industrial, dumpping areas and human settlement.  Its will be caused increasing sedimentation and anthropogenic heavy metals accumulation in sediments.  In order to assess Pb, and Cu on diferent layers of sediments on three down stream rivers on Semarang, samples of surface and bed sediment were collected for analyzed by ICPMS.  The result showed that the heavy metal of Pb on bed layer was higher than Pb on surface sediment, on the other hand Cu on surface sediment was higher than Cu on bed sediments.  Unfraternally the heavy metal concentration on surface and beds sediments they do not correlation with totals organic carbon and combination silt and clay in sediment on three down stream rivers on Semarang. Wilayah pesisir Semarang terutama di daerah muara sungai telah berkembang menjadi kawasan industri, penimbunan dan hunian.  Hal tersebut menyebabkan peningkatan sedimentasi dan akumulasi antropogenik logam berat dalam sedimen.  Untuk mengetahui logam berat Pb dan Cu dalam permukaan dan dasar sedimen di tiga muara sungai Semarang.  Maka sampel pada permukaan dan dasar sedimen diambil dan dianalisa dengan ICPMS.  Hasil pengukuran menunjukan bahwa konsentrasi logam Pb pada lapisan dasar lebih tinggi dari pada lapisan permukaan sedimen, sebaliknya konsentrasi logam Cu pada lapisan permukaan lebih tinggi dari pada lapisan dasar sedimen.  Namun keseluruhan antropogenik logam berat Pb dan Cu pada lapisan permukaan maupun bawah sedimen tidak ada korelasinya dengan kandungan total bahan organik karbon dan kombinasi antara silt dan clay dalam sedimen di ketiga mura sungai di Semarang.
Karakteristik Endapan Tsunami Berdasarkan Bukti Palinologi dan Sedimentologi di Bagian Timur Pulau Simeulue, Aceh, Indonesia Winarni Winarni; Anis Kurniasih; Septriono Hari Nugroho; Jenian Marin; Reddy Setyawan; Purna Sulastya Putra; Eko Yulianto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.4954

Abstract

Simeulue Island was located in an active tectonic zone that causes earthquakes followed by tsunamis. This research was conducted to get a detail explanation of tsunami deposits found in eastern Simeulue Island. The methods used in this study include granulometry analysis, Loss on Ignition (LOI), X-ray Fluorescence (XRF), and palynology. Based on analyzed, it was known that tsunami deposits in the studied area have non-uniform grain size characteristics and are dominated by gravel to boulder. The results of the LOI analysis show that the concentration of organic and carbonate material was very high, which is thought to be caused by a mixture of marine and terrestrial materials due to a tsunami. XRF analysis showed high content of Ca and Sr which indicated the influence of seawater on sediments. The palynological analysis showed that taxa from the lowlands and mangroves palynofacies dominate the presence of pollen, indicating that the possibility of depositional environments is the area around the mangrove coast. The presence of high lowland taxa is thought to originate from the tsunami backwash that brought material from the lowlands to the surrounding coast.  Pulau Simeulue terletak pada zona tektonik aktif yang menyebabkan terjadinya banyak gempa yang diikuti tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik detil endapan tsunami yang terdapat di Pulau Simeulue bagian timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi analisis palinologi, granulometri, Loss on Ignition (LOI), dan XRay Flourescence (XRF). Berdasarkan analisis tersebut diketahui bahwa endapan tsunami di daerah penelitian memiliki karakteristik ukuran butir yang tidak seragam dan didominasi oleh ukuran butir kerikil hingga bongkah. Hasil analisis LOI menunjukkan konsentrasi material organik dan karbonat sangat tinggi, yang diduga disebabkan oleh percampuran material asal laut dan darat karena tsunami. Analisis XRF menunjukkan tingginya kandungan unsur Ca dan Sr yang mengindikasikan adanya pengaruh air laut pada endapan. Analisis palinologi menunjukkan taksa dari palinofasies dataran rendah dan mangrove mendominasi kehadiran polen. Hal ini mengindikasikan bahwa kemungkinan lingkungan pengendapan adalah area sekitar pantai mangrove. Kehadiran taksa dataran rendah yang tinggi diduga berasal dari gelombang balik tsunami yang membawa material dari dataran rendah ke sekitar pantai tersebut.