cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Antimicrobial Activity of Fungal Extract of The Aspergillus flavus from Hiri Island, North Maluku to Pathogenic Bacteria Sri Sedjati; Ambariyanto Ambariyanto; Agus Trianto; Endang Supriyantini; Ali Ridlo; Muhammad S. Bahry; Rizky Rifatma Jezzi; Mahadika Fanindhita Sany
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.7049

Abstract

Antibacterial compounds from sponge association fungi are one of the alternatives to search for new antibiotics against resistant bacteria. This study aims to explore the secondary metabolites potential from sponge association fungi as MDR pathogens antibacterial and to cultivate these fungi using a variety of cultivation media. TE-BO-09.1. Isolate can inhibit 3 bacteria, K. pneumoniae, B subtilis, and S. aureus, but is not able to inhibit E. coli and P. aeruginosa. Cultivation using standard media of Malt Extract Agar (MEA) and media modified from fish broth (M1, M2) and cassava infusion (M3, M4) produce secondary metabolites with varying quantities and antimicrobial activity. The inhibition zone of the produced extract with 500 μg/disc concentration ranged from 7.14 to 10.32 mm. The strongest potential was shown by ethyl acetate extract from isolates cultured with M2 (9 days cultivation), of which is able to produce 10.32 mm inhibition zones against S. aureus and methanol extracts from isolates cultured with M4 (6 days cultivation), and able to produce 10.05 mm inhibition zones against K. pneumoniae. In conclusion, the fungus  Aspergillus flavus can be culture using fish broth added glucose and cassava infusion water added peptone media to potentially produce antibacterial compounds against MDR pathogens.
Biodiversitas Zooplankton di Perairan Pesisir Pulau Keffing pada Musim Peralihan II, Kabupaten Seram Bagian Timur Hanung Agus Mulyadi; Johanis Lekalette
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.4956

Abstract

Zooplankton has an important role in thropic ecology at coastal area. According to their ecological function as the first consumer, zooplankton linked between producers (phytoplankton) and other marine organisms in the higher thropic level. The abundance of zooplankton in coastal area can be indicate as secondary productivity and as a food source for fisheries. This study aims to examine the biodiversity of zooplankton in coastal area of Keffing Island, Eastern Seram regency. Sampling was conducted in November 2017 during November (transitional season II) using NORPAC net (mesh size 300 micrometer) with vertical hauling from 10 meter of deep to the surface water. Samples were preserved with 4% formaldehyde and identify in the laboratory. The results showed that the biodiversity of zooplankton during transitional season II was 28 species, which copepods are the dominant taxa (13 species, 46.43% of total zooplankton). The total abundance of zooplankton is 351-1190 individu/m3, which Oncaea sp, Eucalanus sp and Corycaeus sp are abundant. Study biodiversity in coastal area of Keffing Island is important to support fisheries management programs. Avalaibility of data on the composition and abundance of zooplankton can be used as baseline data of secondary productivity and potency of natural food source in coastal area. Zooplankton mempunyai peranan penting dalam jejaring ekologi perairan pesisir. Posisinya sebagai konsumen pertama akan menghubungkan antara produsen dalam hal ini fitoplankton dengan biota pada tingkat tropik level di atasnya. Kelimpahan zooplankton di suatu perairan dapat menggambarkan produktivitas sekunder dan potensialitas pakan alami dari sumberdaya perikanan di suatu perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji biodiversitas zooplankton di perairan pesisir Pulau Keffing, Seram Bagian Timur (SBT). Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2017 (musim peralihan II). Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan jaring NORPAC (mata jaring 300 mikrometer), ditarik secara vertikal dari kedalaman 10 meter menuju permukaan. Sampel dipreservasi menggunakan formalin 4%, dan diidentifikasi di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biodiversitas zooplankton selama musim peralihan II sebanyak 28 jenis. Komposisi jenis copepoda mendominasi dengan 13 jenis (46,43% dari total komposisi zooplankton). Kelimpahan Total zooplankton berkisar antara 351-1190 ind/m3. zooplankton yang melimpah dari jenis Oncaea sp., Eucalanus sp. dan Corycaeus sp. Kajian tentang biodiversitas zooplankton di pesisir Pulau Keffing sangat penting untuk mendukung program pengelolaan sumberdaya perikanan. Ketersediaan data komposisi dan kelimpahan zooplankton dapat digunakan sebagai data dasar produktivitas sekunder dan potensi pakan alami di perairan.
Karakteristik Morfologi Lamun Thalassodendron ciliatum (Forsskall) Hartog 1970 (Kelas: Magnoliopsida,Famili : Cymodoceaceae) Berdasarkan Tipe Substrat di Perairan Pantai Timur Kabupaten Bulukumba Chair Rani; Muhammad Basri; Devi Yulianti Bahar; Meggy Yolanda
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.6090

Abstract

This study aims to determine the seagrass morphological characteristic based on substrates and analyze the relationship of environmental factors with the morphology of Thalassodendron ciliatum. A sampling at each station was done purposively according to the substrate. Sampling was carried out in 3 areas as replication by digging and taking seagrass complete with rhizome and its roots as many as 25 stands. Then the seagrass was cleaned from the sand and put into a sample bag and stored in a cooler. At the same time, sand and water samples were also taken to measure the nitrate and phosphate. The measured water quality in situ includes current speed, temperature, salinity, depth, and wave height. In the laboratory, measurements of morphological parameters of seagrass were done on the leaves, stems, rhizomes, and roots. The results showed that the sandy substrate (Kasuso Station: more protected) showed a longer and thicker leaf character, and a longer root with a greater number of roots, but had a number of leaves, rhizoma length, internode distance, and root diameter smaller than the area with the substrate was dominated by coral fragments (Panrangluhu Station). Under weak current conditions with high nitrate and phosphate content, they were characterized by the larger stem and leaf lengths with a large number of roots. Whereas in strong currents, seagrass was characterized by a greater number and area of leaves and root diameter. Areas with high waves, characterized by seagrasses that have larger stem diameters, longer rhizomes with larger diameters, and also longer internode distances Penelitian ini bertujuan untuk mendeterminasi karakter morfologi lamun berdasarkan tipe substrat dan menganalisis keterkaitan faktor lingkungan dengan morfologi lamun Thalassodendron ciliatum. Sampling pada setiap stasiun dilakukan secara purposif dengan memperhatikan susbstrat dasar.  Sampling dilakukan pada 3 area sebagai ulangan dengan  cara menggali dan mengambil lamun lengkap dengan rhizoma dan akarnya sebanyak 25 tegakan. Kemudian lamun dibersihkan dari pasir dan dimasukkan ke dalam kantong sampel yang berisi air laut dan disimpan dalam kotak pendingin.  Bersamaan dengan itu, juga diambil sampel pasir dan air untuk diukur kandungan nitrat dan posfatnya.  Kualitas air yang diukur secara insitu meliputi kecepatan arus, suhu, salinitas, kedalaman, dan tinggi gelombang.  Di laboratorium diukur parameter morfologi lamun pada bagian daun, batang, rhizoma, dan akar.  Hasil analisis menunjukkan bahwa pada substrat berpasir (Stasiun Kasuso: lebih terlindung) memperlihatkan karakter daun yang lebih panjang dan tebal, serta akar yang lebih panjang dengan jumlah akar yang lebih banyak, namun memiliki jumlah daun, panjang rhizoma, jarak internode, dan diameter akar yang lebih kecil dibandingkan dengan daerah yang substratnya didominasi oleh pecahan karang (Stasiun Panrangluhu). Pada kondisi arus yang lemah dengan kandungan nitrat dan posfat yang tinggi, dicirikan oleh panjang batang dan daun yang lebih besar dengan jumlah akar yang banyak. Sedangkan pada arus yang kuat, lamun dicirikan oleh jumlah dan luasan daun serta diameter akar yang lebih besar.  Daerah dengan gelombang yang tinggi, dicirikan oleh lamun yang memiliki diameter batang yang lebih besar, rhizoma yang lebih panjang dengan diameter yang besar, dan jarak internode yang juga lebih panjang.
Growth analysis, mortality and exploitation level of Mud Crab Scylla serrata, Forskål 1775, (Malacostraca : Portunidae) in Mangkang Wetan waters, Semarang, Central Java, Indonesia Ervia Yudiati; Arumning Tias Fauziah; Irwani Irwani; Agus Setyawan; Insafitri Insafitri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.7149

Abstract

Awareness of Mud Crab over exploitation in Mangkang Wetan Waters has been noticed. One of the reference information is the growth study to determine the condition of the mud crab population. High demand encourages the fisherman to catch more, which leads to overexploitation in nature. The study aimed to estimate the growth, mortality, and exploitation rate of mud crabs. The 921 mud crabs samples were collected from Mangkang Wetan Waters from October 2018 to January 2019. The method used was the survey method. The crabs were taken once a week for 4 months. The width and weight of crab carapace were measured. The growth rate of S. serrata was 0.93/year (male) and 0.69/year (female). The natural mortality rate of S. serrata was 1.08/year (male) and 0.89/year (female), the mortality of catch (F) was 0.55/year (male) and 1.09/year (female). The rate of exploitation of male S. serrata reached 34%, and the rate of exploitation of female S. serrata was 55%. The exploitation of female S. serrata shows that overexploitation has occurred because the optimum value of exploitation (E-OPTIMUM) is equivalent to E=50%.
Laju Pertumbuhan dan Pertumbuhan Mutlak Karang Lunak Cladiella sp. pada Substrat yang Berbeda Diah Putri Fitriani; Muhammad Zainuri; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.5383

Abstract

Soft corals have a soft textured skeletal like tiny spikes made of calcium carbonate present in their tissues. In general, soft corals are attached to hard substrates in the bottom of the waters. This study aims to determine the survival rate, relative and absolute growth rate, and comparison of soft coral growth rates on different substrates. The survival rate obtained was 100%, or 20 soft coral fragments lived until the end of the study. The growth rate and absolute growth of soft coral is relatively varied due to environmental and water quality, with the highest growth rate and absolute growth found in rubble substrate. week and 2,875 cm / week. There was no significant difference in growth rate of soft coral Cladiella sp. on the different substrate. In transplantation or soft coral cultivation activities, the selection of substrates becomes very important, and it is recommended to use rubble or dead coral substrates. Karang lunak mempunyai tekstur  kerangka yang lunak berupa duri-duri kecil dari kalsium karbonat yang ada dalam jaringan tubuhnya. Pada umumnya karang lunak melekat pada substrat yang keras di dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan relatif dan mutlak, dan perbandingan laju pertumbuhan karang lunak pada substrat yang berbeda. Tingkat kelangsungan hidup yang didapatkan yaitu 100 % atau 20 fragmen karang lunak dapat hidup sampai akhir penelitian. Laju pertumbuhan karang lunak relatif bervariasi karena pengaruh lingkungan dan kualitas air. Laju pertumbuhan dan pertumbuhan mutlak karang lunak Cladiella sp. relatif bervariasi karena pengaruh perbedaan substrat yang berbeda, dengan laju pertumbuhan dan pertumbuhan mutlak tertinggi ditemukan pada substrat rubble. Tidak ada perbedaan yang nyata pada laju pertumbuhan karang lunak Cladiella sp. pada substrat yang berbeda. Pada kegiatan transplantasi ataupun budidaya karang lunak, pemilihan substrat menjadi sangat penting, dan disarankan untuk menggunakan substrat rubble atau karang mati.
Profil Vertikal Logam Berat Tembaga (Cu), Nikel (Ni), dan Mangan (Mn) di Core Sedimen Perairan Pantai Marunda, Teluk Jakarta Kresna Rangga Darmansyah; Sri Yulina Wulandari; Jarot Marwoto; Endang Supriyantini
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.5667

Abstract

Heavy metals contained in the waste  enter to the Marunda coastal waters  in Jakarta Bay through the Tiram river, come from the Jabodetabek region which is an industrial and residential area.  They  will be deposited and accumulated in the bed sediments and potentially to cause contamination in the waters as well. The study was conducted to investigate vertical profiles  of heavy metals Cu, Ni, and Mn based on sediment depth and the correlation between the concentration of heavy metals and the grain size of sediments. Coring method was used for sampling the sediments at 1-3 cm, 4-6 cm and 7-9 cm of depths.  Samples were analyzed using AAS method to determine Cu, Ni, and Mn concentrations. Sieving and pipetting methods were used to determine the grain size of the sediments. The results showed that the average concentration of heavy metals Cu, Ni, and Mn in the top layer  was 7.74 ppm; 8.17 ppm; 1345.03 ppm. The middle layer was 6.91 ppm; 7.48 ppm; 1279.35 ppm. The bottom layer was 7.36 ppm; 7.79 ppm; 1413.66 ppm. The concentration of Cu heavy metal had a positive correlation with the sand fraction, while the heavy metals Ni and Mn  had a positive correlation with the mud fraction. Logam berat yang terkandung dalam limbah masuk ke perairan pantai Marunda di Teluk Jakarta melalui sungai Tiram, berasal dari daerah Jabodetabek yang merupakan kawasan industri dan pemukiman. Logam berat tersebut akan  mengendap dan terakumulasi di sedimen dasar perairan dan berpotensi menimbulkan pencemaran perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil logam berat Tembaga, Nikel, dan Mangan secara vertikal berdasarkan kedalaman sedimen dan korelasi antara konsentrasi logam berat dengan ukuran butir sedimen. Pengambilan sampel sedimen dilakukan menggunakan metode  coring untuk kedalaman 1-3 cm, 4-6 cm, dan 7-9 cm. Selanjutnya sampel sedimen dianalisis menggunakan metode AAS untuk mengetahui konsentrasi logam berat Cu, Ni, dan Mn. Metode sieving dan pipetting digunakan untuk mengetahui ukuran butir sedimen. Nilai konsentrasi rata-rata logam berat Cu, Ni, dan Mn  pada lapisan atas untuk setiap stasiun berurutan sebesar 7,74 ppm; 8,17 ppm; 1345,03 ppm. Lapisan tengah sebesar 6,91 ppm; 7,48 ppm; 1279,35 ppm. Lapisan bawah sebesar 7,36 ppm; 7,79 ppm; 1413,66 ppm. Konsentrasi logam berat Cu mempunyai korelasi positif terhadap fraksi pasir, sedangkan logam berat Ni  dan Mn mempunyai korelasi positif terhadap fraksi lumpur.
Penilaian Keselamatan Wisata Berdasarkan Parameter Gelombang di Pantai Parigi, Kabupaten Pangandaran Jawa Barat Ankiq Taofiqurohman; Mochamad Rudyansyah Ismail
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.5559

Abstract

Parigi Beach is one of the beach tourism destinations in West Java. Parigi Beach is in Kabupaten Pangandaran where is facing directly to the Indian Ocean; hence the beach wave is high and risks for beach tourism activity. Beach hazard in Parigi Beach is frequent on long holiday seasons. The research aim is to assess beach tourism safety based on wave parameters and find out the cause of danger. The result shows that Parigi Beach is an intermediate rhythmic bar and beach, which average of the breaking wave height reaches to 1,87 meter and occur beach cusps formation. The beach safety levels exhibit that low safety condition exists from March to November, while from December to February, the beach condition was categorized as moderate safety for coastal tourism activity. Rip current and shore break as the main factor of hazard beach tourism from January to February, whereas from Maret to December, hazard factors in Parigi Beach was rip current and plunging high wave. Pantai parigi merupakan salah satu tujuan wisata pantai di Jawa Barat. Pantai Parigi berada di Kabupaten Pangandaran yang letaknya berhadapan langsung dengan Samudera Hindia, sehingga gelombang di Pantai Parigi relatif tinggi dan berisiko untuk kegiatan wisata pantai. Kecelakaan wisata pantai di Pantai Parigi sering terjadi saat musim libur panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat keselamatan wisata pantai tiap bulan berdasarkan parameter gelombang dan mengetahui faktor penyebab bahaya yang terjadi. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pantai Parigi termasuk ke dalam tipe pantai intermediate rhythmic bar and beach dengan tinggi gelombang pecah rata-rata mencapai 1,87 meter serta terdapat jejak gelombang berbentuk busur di pantainya.  Untuk tingkat keselamatan wisata pantai, keadaan kurang aman di Pantai Parigi terjadi dari mulai Maret hingga November, sedangkan dari Desember hingga Februari dikategorikan pada situasi cukup aman. Faktor penyebab bahaya wisata pantai adalah Rip current dan shorebreak yang muncul pada bulan Januari dan Februari, sementara pada bulan Maret hingga Desember faktor penyebab bahaya adalah rip current dan gelombang tinggi dengan tipe plunging.
Prediksi Akumulasi Sedimen Berdasarkan Survei Batimetri dan Hidrodinamika di Pesisir Teluk Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat Guntur Adhi Rahmawan; Ulung Jantama Wisha; Wisnu Arya Gemilang; ilham ilham; Semeidi Husrin
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.6076

Abstract

Mandeh Bay is a semi-enclosed water area that there are two main estuaries, Mandeh and Nyalo River estuary. Sedimentation issue has been gotten worse due to the massive development in coastal area. This study aims to determine the sediment accumulation within Mandeh bay and its distribution patterns. The measurement of sedimentation rate applied in the Mandeh and Nyalo Estuaries. Oceanography parameters (tides and currents) recorded for 30 days measurement. The thickness of sediment accumulation was predicted by applying single beam echosounder dual frequency. The calculation of sediment volume was done using frustum formula grid 10 x10 meters. Flow model approach was also simulated to depict the distribution pattern of sediment. The thickness of sediment accumulation categorized into five spatial categories that are 0-0,3m, 0,4-0,6m, 0,7-0,9,1-1,2m, and 1,3-1,5m. The sedimentation rate in Mandeh estuary ranged from 60,85 up to 62,16 g.m-2.day-1, while in Nyalo estuary is approximately 48,86 g.m-2.day-1. The tidal current speed that is weak ranged from 0-0,05 m/s induces the sediment accumulation which mainly occurs during the neap tidal conditions. The thickness of sediment accumulation which is more than one meter identified around Mandeh River estuary and several areas near Carocok Tarusan Port where the sediment intake takes place and due to the weak current feature, it causes the increase of sedimentation in this region.  Teluk mandeh merupakan kawasan teluk semi tertutup yang mempunyai 2 muara sungai besar yaitu sungai Mandeh dan sungai Nyalo. Masalah sedimentasi menjadi semakin parah karena pengembangan wilayah pesisir yang masif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ketebalan akumulasi sedimen di dalam Teluk Mandeh dan pola distribusinya. Pengukuran laju sedimentasi dilakukan pada dua fokus area yakni muara Sungai Mandeh dan Sungai Nyalo. Pengukuran parameter oseanografi (arus dan pasang surut) dilakukan selama 30 hari pengukuran. Ketebalan akumulasi sedimen diukur menggunakan alat Single Beam Echosounder Dual Frekuensi. Perhitungan volume sedimen dihitung dengan rumus frustum grid 10x10 meter. Simulasi flow model juga dilakukan untuk mengetahui pola distribusi sedimen. Sebaran ketebalan sedimen yang dibagi dalam 5 kategori spasial yakni 0-0,3m, 0,4-0,6m, 0,7-0,9,1-1,2m, dan 1,3-1,5m. Laju sedimentasi di muara Sungai Mandeh berkisar antara 60,85 sampai 62,16 g.m-2.hari-1 dan di muara Sungai Nyalo rata-rata 48,86 g.m-2.hari-1. Kecepatan arus pasang surut yang cukup lemah berkisar antara 0-0,05 m/s menyebabkan potensi akumulasi sedimen akan berlangsung terutama saat kondisi perbani. Sedimen dengan ketebalan lebih dari 1 meter teridentifikasi di sekitar Sungai Mandeh dan beberapa Kawasan Pelabuhan Carocok Tarusan dimana asupan sedimen mendominasi. Karena karakteristik arus yang lemah, sedimentasi meningkat diwilayah ini.
Biodiversitas Echinodermata pada Ekosistem Lamun di Perairan Pulau Karimunjawa, Jepara Reni Ria Yunita; Suryanti Suryanti; Nurul Latifah
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.3384

Abstract

The seagrass ecosystem is an important ecosystem as the place of feeding ground, nursery ground, and spawning ground. One of the biotas living in the seagrass was Echinoderms. This research aims to determine the density of seagrass and biodiversity of Echinoderms and the relationship between the seagrass density with the abundance of Echinoderms in the waters of Karimunjawa Island. The sampling methods used in this research is purposive sampling with two stations at a different location and each station there were three transect lines. The types of seagrass found in the waters of Karimunjawa Island are eight species i.e.: Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Cymodocea serrulata, Halophila minor, Halophila ovalis and Halodule uninervis. The type of Echinoderms found consists of three different classes i.e., Asteroidea, Echinoidea, and Holothuroidea. Class of Asteroidea, there is 1 type i.e., Archaster typicus. Class of Echinoidea, there are 3 types i.e., Diadema setosum, Laganum central, and Laganum depressum. Class of Holothuroidea, there is  1 type i.e., Holothuria atra.  The value of the diversity index (H ') of Echinoderms ranged from 1.24 to 1.49. The range of index values of diversity (H ') of Echinoderms in Karimunjawa Island has medium species diversity. The results of this research show that the value of seagrass correlation with Echinodermata (r) is -0.458, it means that the relationship between them is close enough and the higher density of seagrass then the abundance of echinoderms is lower.    Ekosistem lamun merupakan ekosistem penting sebagai tempat feeding ground, nursery ground, dan spawning ground. Salah satu biota yang hidup di ekosistem lamun adalah Echinodermata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan lamun dan biodiversitas Echinodermata serta hubungan antara kerapatan lamun dengan kelimpahan Echinodermata di perairan Pulau Karimunjawa. Teknik sampling  yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan  dua stasiun pada lokasi yang berbeda dan masing-masing stasiun terdapat 3 line transek. Line transek ditarik secara tegak lurus pantai sepanjang 50 meter dari pertama kali ditemukan lamun. Pengamatan yang dilakukan meliputi jenis dan jumlah lamun, jenis dan jumlah Echinodermata yang ditemukan  pada setiap transek serta pengukuran parameter lingkungan perairan . Jenis lamun yang ditemukan di perairan Pulau Karimunjawa terdapat 8 jenis yaitu  Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Enhalus acoroides, Syringodium isoetifolium, Cymodocea serrulata, Halophila minor, Halophila ovalis dan Halodule uninervis. Jenis Echinodermata yang ditemukan terdiri dari 3 kelas yang berbeda yaitu Asteroidea, Echinoidea, dan Holothuroidea. Kelas Asteroidea terdapat 1 jenis yaitu Archaster typicus, kelas Echinoidea terdiri dari 3 jenis yaitu Diadema setosum, Laganum central, dan Laganum depressum, sedangkan kelas Holothuroidea dijumpai 1 jenis yaitu Holothuria atra. Nilai indeks keanekaragaman  (H’) Echinodermata berkisar 1,24 - 1,49. Kisaran nilai indeks keanekaragaman (H’) Echinodermata di Pulau Karimunjawa memiliki keanekaragaman jenis sedang.  Hasil penelitian menunjukkan nilai korelasi lamun dengan Echinodermata (r) -0,458 yang berarti hubungan diantara keduanya cukup erat dan semakin rapat lamun maka kelimpahan Echinodermata semakin rendah.
Fluktuasi Kondisi Megabentos di Perairan Ternate, Maluku Utara Ucu Yanu Arbi; Agustinus Harahap; Hendriks Alexander William Cappenberg
Jurnal Kelautan Tropis Vol 23, No 1 (2020): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v23i1.5491

Abstract

The coral reef was a habitat for several groups of biota that live in this ecosystem. Some species or group species of benthic fauna are known to be ecologically important and others are economically important so that they can be used as indicators to assess reef health. Research on megabenthic fauna in Ternate and its surrounding waters, North Maluku, was carried out in 2012, 2015, 2016, 2017 and 2018 at fourteen permanent stations. The purpose of this study was to determine the fluctuations in several megabenthic faunae temporarily. Data were collected using the modified Belt Transect Method, namely Benthos Belt Transek method. Eight species or groups of megabenthic fauna in the coral reef have been observed. The highest distribution and abundance of megabenthic fauna was coral polyps eating-snail of Drupella spp. The species wealth index decreased from 2012 to 2017 (1.17 to 1.05) but experienced an increase in 2018 (to 1.29). The relatively high dominance found in the megabenthic fauna community was observed in 2015, 2016 and 2017, while in 2012 and 2018 it had relatively low dominance. The megabenthic fauna community observed in 2012 and 2018 has relatively high diversity, whereas in 2015, 2016 and 2017, the diversity is relatively low. The megabenthic fauna community observed in 2012 and 2018 has spread evenly, while in 2015, 2016 and 2017, the relative prevalence of fauna is relatively uneven.  Terumbu karang merupakan habitat bagi beberapa kelompok biota yang hidup di dalamnya. Beberapa spesies atau kelompok spesies bentos diketahui bernilai ekologis pentingdan yang lainnya bernilai ekonomis penting sehingga dapat dijadikan sebagai indikator untuk menilai kesehatan terumbu. Penelitian fauna megabentos di perairan Ternate dan sekitarnya, Maluku Utara dilakukan pada tahun 2012, 2015, 2016, 2017 dan 2018 pada empat belas stasiun permanen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fluktuasi beberapa indeks ekologi megabentos dari tahun ke tahun. Pengambilan data menggunakan metode Benthos Belt Transect yang dimodifikasi dari Belt Transect Method. Sebanyak delapan kelompok jenis atau kelompok jenis megabentos pada perairan terumbu karang telah diamati. Sebaran dan kelimpahan megabentos tertinggi adalah siput pemakan polip karang Drupella spp. Indeks kekayaan spesies mengalami penurunan tahun 2012 hingga 2017 (1,17 menjadi 1,05), namun mengalami peningkatan pada tahun 2018 (menjadi 1,29). Dominansi yang relatif tinggi dijumpai pada komunitas megabentos yang teramati pada tahun 2015, 2016 dan 2017, sedangkan pada tahun 2012 dan 2018 memiliki dominansi yang relatif rendah. Komunitas megabentos yang teramati pada tahun 2012 dan 2018 memiliki keanekaragaman yang relatif tinggi, sedangkan pada tahun 2015, 2016 dan 2017 berkeanekaragaman relatif rendah. Komunitas megabentos yang teramati pada tahun 2012 dan 2018 memiliki kemerataan fauna yang relatif merata, sedangkan pada tahun 2015, 2016 dan 2017 memiliki kemerataan fauna yang relatif tidak merata.