cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Produksi Biomassa Mikroalga (Tetraselmis chuii) Dengan Sistem Pemanenan Berbeda Ali Djunaedi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 2 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.196 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i2.521

Abstract

Permasalahan yang sering terjadi adalah masih rendahnya berat biomassa yang dihasilkan pada pemanenan mikroalga. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat berat kering biomassa T. chuii pada perbedaan sistem pemanenan. Penelitian ini dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perbedaan sistem pemanenan filtrasi, centrifuge dan flokulasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan berat kering biomassa T. chuii. Pada sistem pemanenan filtrasi diperoleh berat kering biomassa sebesar 3,899 ± 0,073 gr, pemanenan centrifuge sebesar 4,242 ± 0,129 gr dan pemanenan flokulasi sebesar 5,65 ± 0,026 gr. Perbedaan sistem pemanenan memberikan pengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap berat kering biomassa.Kata Kunci : Berat kering biomassa, filtrasi, centrifuge dan flokulasi, Tetraselmis chuii.Tetraselmis chuii is known as the higher quality natural food. The cultivation of T. chuii produce the high density, but the harvesting systems reduce it. The aim of the research was to find the appropriate harvesting system to the T. chuii biomass production. The T. chuii cultivations were done using the 30 liters plastic tank, with three replications. There were three treatments, which were applied, such as: filtration, centrifugation and flocculation, using the Completely Randomized Design. The results of this research showed, that the applied of varying harvesting systems to dry weight of T. chuii biomass was significant difference (p<0,01) respectively. The dry weight of microalgae biomass at applied of filtration system was obtained value of 3,89 ± 0,073 g, in centrifugation system of 4,23 ± 0,126 g, and than in the flocculation system of 5,65 ± 0,026 g.Keywords : Biomass Production; Filtration; Flocculation Centrifugation; Tetraselmis chuii. 
Optimasi Suhu Dan Ph Pertumbuhan Lactococus Lactic Isolat Ikan Kerapu Subagiyo Subagiyo; Ria Azizazh Tri Nuraeni; Wilis Ari Setyati; Adi Santoso
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 2 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.184 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i2.844

Abstract

Temperature and pH is one of the environmental factors that influence microbial growth, so it needs to be optimized in order to obtain optimum values for cell production. The experiments were performed using the medium of   ROGOSA and Sharpe (MRS). The pH value is set with the addition of 1 N NaOH and 1N HCl to obtain a pH value of 4, 5, 6, 7, and 8. Optimization of temperature performed by incubation at 25, 30, 35 and 40 oC. Bacterial growth was measured by changes in optical density at 600 nm wave-lengh. The results showed that the initial pH of 7 is the initial pH value which produces the most rapid growth, while the initial pH 4 provides the slowest growth. Temperature that produces the most rapid growth is 30 and 35 ° C while the temperature 40oC produce the slowest growth.  Suhu dan pH merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan mikrobia, sehingga perlu untuk dilakukan optimasi guna mendapatkan nilai-nilai yang optimum untuk produksi sel. Percobaan dilakukan menggunakan medium deMan, Rogosa and Sharpe (MRS). Nilai pH  diatur dengan penambahan NaOH 1 N dan HCL 1N hingga diperoleh nilai pH 4, 5, 6, 7, dan 8.. Optimasi suhu dilakukan dengan inkubasi pada suhu 25, 30, 35 dan 40 oC . Pertumbuhan bakteri diukur berdasarkan perubahan optical density pada panjang geliombang 600 nm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pH awal 7 merupakan nilai pH awal yang menghasilkan pertumbuhan yang paling cepat sedangkan pH awal 4 memberikan pertumbuhan yang paling lambat. Suhu yang menghasilkan pertumbuhan paling cepat adalah 30 dan 35 oC sedangkan suhu 40oC menghasilkan pertumbuhan yang paling lambat. Kecepatan agitasi yang menghasilkan pertumbuhan paling cepat adalah 100 rpm dan paling lambat 150 rpm.  
Pemanfaatan Chitosan Dari Limbah Cangkang Rajungan (Portunus pelagicus) sebagai Adsorben Logam Timbal (Pb) Endang Supriyantini; Bambang Yulianto; Ali Ridlo; Sri Sedjati; Amtoni Caesario Nainggolan
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.261 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2399

Abstract

Chitosan is able to be one solution to reducing the pollution of heavy metals in waters, as capable of binding of heavy metal ions by utilizing the amine and hydroxyl groups on chitosan. This research aims to know the adsorption ability of chitosan against heavy metals lead (Pb). Chitosan is made from the waste of a small crab attaching shells were taken from the village of Betahwalang, Demak. The method used is the method with the demineralisasi using 1 N HCl for 1 hour, deproteinasi with 3.5% NaOH for 1 h, and deasetilasi using NaOH 50% for 2 hours. FTIR analysis of the results showed the degree of Deasetilasi Chitosan of 80.30% with 36.84% yield. Solution of Pb of Pb (CH3COO)2 at a concentration of 10 mg/L is used as pollutants, and the concentration of chitosan used in adsorption process i.e. 1, 2, 4, and 8%. Stirring on the process of adsorption using a magnetic stirrer with a speed of 200 rpm for 30 minutes. The metal content of Pb in the chitosan is then analyzed using AAS (Atomic Absorption Spectrophotometric). The results showed that chitosan obtained from shell small crab attaching has the potential as a bioadsorben metals Pb, the concentration of chitosan 1, 2, 4, 8% & each have an absorbance of 8.31; 35.62; 45.24 & 57.74%.Kitosan mampu menjadi salah satu solusi mengurangi pencemaran logam berat di perairan, karena mampu mengikat ion-ion logam berat dengan memanfaatkan gugus hidroksil dan amina yang terdapat pada chitosan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan adsorpsi chitosan terhadap logam berat Timbal (Pb). Chitosan dibuat dari limbah cangkang rajungan yang diambil dari desa Betahwalang, Demak. Metode yang digunakan adalah metode kimia dengan demineralisasi menggunakan HCl 1 N selama 1 jam, deproteinasi dengan NaOH 3,5 % selama 1 jam, dan deasetilasi menggunakan NaOH 50 % selama 2 jam. Hasil analisis FTIR menunjukkan Derajat Deasetilasi kitosan sebesar 80,30 % dengan rendemen 36,84 %. Larutan Pb dari Pb(CH3COO)2 pada konsentrasi 10 mg/L digunakan sebagai polutan, dan konsentrasi chitosan yang digunakan pada proses adsorpsi yaitu 1, 2, 4, dan 8 %. Pengadukan pada proses adsorpsi menggunakan magnetic stirrer dengan kecepatan 200 rpm selama 30 menit. Kandungan logam Pb yang ada di dalam chitosan kemudian dianalisis dengan menggunakan metode AAS (Atomic Absorption Spectrophotometric). Hasil penelitian menunjukkan bahwa chitosan yang didapatkan dari cangkang rajungan mempunyai potensi sebagai bioadsorben logam Pb, konsentrasi chitosan 1, 2, 4, & 8 % masing-masing memiliki daya serap sebesar 8,31; 35,62 ; 45,24 & 57,74 %.
Potensi Antioksidan Rumput Laut Gracilaria verrucosa Dari Pantai Gunung Kidul, Yogyakarta Wahyu Febrianto; Ali Djunaedi; Suryono Suryono; Gunawan Widi Santosa; Sunaryo Sunaryo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.174 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.4669

Abstract

Gracilaria verrucosa is red algae that has been widely used as an antioxidant. This research was conducted to test antioxidant activity, total phenolic content and bioactive compound of Gracilaria verrucosa obtained from Pok Tunggal Beach and Ngandong Beach, Gunung Kidul, Yogyakarta. Research was carried out by descriptive method. Samples were fresh and taken from the beach, then macerated for 3x24 hours in a methanol solvent. Antioxidant test was carried out by electron transfer method with DPPH 0.1 mM and measurement of antioxidant activity using. Total phenolic contents were measured using the Folin-ciocalteau method using gallic acid standard on 725 nm wavelength. The phytochemical content observated by changing of extract color by reagent. Pigment contents were measured using spectrophotometric methods at wavelengths 636 and 663 (chlorophyll-a and chlorophyll-b) and 480 nm (carotenoids). The results showed that IC50 value extract of Pok Tunggal Beach and Ngandong Beach were 188,53 ppm and 168,76 ppm. Phenolic content of each extract were 16,527 and 17,497 mg GAE / g sample weight). Chlorophyll-a levels were 7,132 and 4,357 mg/g, chlorophyll-b were 8,335 and 5,401 mg/g, carotenoids were 31,625 and 35,494 µmol/g. Gracilaria verrucosa from Ngandong Beach have  antioxidant activity.Gracilaria verrucosa merupakan alga merah yang pemanfaatannya sudah banyak dilakukan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi antioksidan, menghitung kadar fenolat total, dan senyawa bioaktif yang terkandung pada Gracilaria verrucosa yang diperoleh dari Pantai Pok Tunggal dan Pantai Ngandong, Gunung Kidul, Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif. Sampel segar diambil langsung dari pantai, kemudian dimaserasi selama 3x24 jam dalam pelarut metanol. Uji antioksidan dilakukan dengan metode transfer elektron dengan DPPH 0,1 mM dan pengukuran aktivitas antioksidan menggunakan perhitungan nilai IC50. Kadar fenolat total diukur menggunakan metode Folin-ciocalteau dengan asam galat sebagai standar pada panjang gelombang 725 nm. Kandungan fitokimia diuji menggunakan pengamatan perubahan warna ekstrak saat diberikan pereaksi. Kadar pigmen diukur menggunakan metode spektrofotometri pada panjang gelombang 636, 663  (klorofil-a dan klorofil-b) dan 480 nm (karotenoid). Hasil menunjukkan bahwa nilai IC50 ekstrak sampel dari Pantai Pok Tunggal dan Pantai Ngandong berturut-turut adalah 188,53 ppm dan 168,76 ppm. Kadar fenolat masing-masing ekstrak sebesar 16,527 dan 17,497 mg GAE/g berat sampel). Kadar klorofil-a sebesar 7,132 dan 4,357 mg/g, klorofil-b sebesar 8,335 dan 5,401 mg/g, karotenoid sebesar 31,625 dam 35,494 µmol/g. Gracilaria verrucosa dari Pantai Ngandong dan Pantai Pok Tunggal memiliki potensi antioksidan.  
Kandungan Logam Berat Besi (Fe) Pada Air, Sedimen, Dan Kerang Hijau (Perna viridis) Di Perairan Tanjung Emas Semarang Endang Supriyantini; Hadi Endrawati
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 1 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.327 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i1.512

Abstract

Logam berat Fe merupakan logam berat essensial yang keberadaannya dalam jumlah tertentu sangat dibutuhkan oleh organisme hidup, namun dalam jumlah yang berlebih dapat menimbulkan efek racun.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan dan tingkat pencemaran logam berat Fe pada air, sedimen, dan kerang hijau (Perna viridis) di perairan Tanjung Emas Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 7 November dan 7 Desember 2013 dengan metode penelitian deskriptif. Logam berat Fe dalam sampel air, sedimen dan kerang hijau dianalisis di Laboratorium Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri (BTPPI) Semarang dengan menggunakan metode AAS (AtomicAbsorption Spectrophotometry). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perairan Tanjung Emas masih dalam taraf terkontaminasi logam Fe. Sedangkan pada sedimen dan pada kerang hijau (Perna viridis) sudah terindikasi tercemar logam Fe.Meskipun demikian variasi faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, pH, kecepatan arus dan jenis sedimen juga memberikan kontribusi yang cukup penting terhadap kandungan logam Fe.Kata Kunci: logam Fe, Air, Sedimen, Perna viridis, metode AAS Heavy metalsiron(Fe) is anessentialheavy metalswhose presencein a certain amountis neededby living organisms, but inexcessiveamountscan causetoxic effects.The aims of the research is to analyze the heavy metals coccentration and the pollution level of Fe in water, sediment, and green mussels (Perna viridis) at Tanjung Emas Semarang. This research was conducted from 7 November and 7 December 2013 using the Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) and research methodswithdescriptive. The results showed that the waters of the Tanjung Emas is still in the stage of heavy metals contaminated iron (Fe). Sediment and green mussels (Perna viridis)already indicated heavy metal contaminatediron. However, variations inenvironmental factorssuch astemperature, salinity, pH, flow velocity an dsediment types also providean important contributionto heavy metal contentof iron(Fe).Key Words: Fe, water, sediment, Perna viridis, metode AAS
Pertambahan Biomasa Kepiting Bakau Scylla serrata pada Daerah Mangrove dan Tidak Bermangrove Chrisna Adhi Suryono; Irwani Irwani; Baskoro Rochaddi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.758 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.604

Abstract

Lahan mangrove mempunyai potensi dikembangkan untuk usaha penggemukan kepiting tanpa merusak, yaitu melalui konsep silvofishery.  Tujuan dari penelitian ini adalah menjajaki pemeliharan kepiting bakau Scylla serrata didaerah mangrove. Metoda yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan acak kelompok.  Perlakuan yang diterapkan adalah kepadatan yang berbeda (4 ekor/m2, 6 ekor/m2 dan 8 ekor/m2) dengan kelompok (daerah mangrove dan tidak bermangrove) dengan ulangan 3 kali.  Data yang diperoleh berupa penambahan biomasa dianalisa dengan balanced designs anova. Hasil yang didapat menunjukan kepiting bakau yang dipelihara didaerah mangrove memiliki penambahan biomasa yang lebih besar bila dibandingkan dengan yang dipelihara pada daerah tidak bermangrove.  Kepiting bakau yang dipelihara didaerah mangrove dengan kepadatan  ekor/m2 pertambahan biomasanya rata rata 81,7 gr/bulan; dan kepadatan 6 ekor/m2 bertambah rata rata 77,8 gr/bulan, sedang kepadatan 8 ekor/m2 73,9 gr/bulan.  Hal tersebut sangat berbeda dengan kepiting yang dipelihara pada daerah yang tidak bermangrove dimana untuk kepadatan 4 ekor/m2 rata rata hanya bertambah 68,75 gr/bulan dan yang berkepadatan kepadatan 6 ekor/m2 bertambah rata rata 39,1 gr/bulan sedangkan yang berkepadatan 8 ekor/m2 32,2 gr/bulan.  Interaksi antara kepadatan dan lokasi (bermangrove dan bukan) memberikan pengaruh yang sangat nyata pada penambahan berat kepiting bakau (p<0,001).  
Komposisi Makroalga Yang Berasosiasi Di Ekosistem Padang Lamun Pulau Tumpul Lunik, Pulau Rimau Balak Dan Pulau Kandang Balak Selatan, Perairan Lampung Selatan Ita Riniatsih; Munasik Munasik; Chrisna Adi Suryono; Ria Azizah; Retno Hartati; Rudhi Pribadi; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.656 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1738

Abstract

Assosiation between macroalga and seagrass ecosystem in South Lampung has been determined.  There were 3 sampling locations, ie. Station 1 (Tumpul Lunik Island), Station 2 (Rimau Balak Island) and Station 3 (Kandang Balak Selatan Island). Observation of macroalga and seagrass were carried out using quadran transect method (0,5 x 0,5 m2) along 100 meter with 10 meter distance berween transect. It is done triplicates. The research showed that there were twelve species macroalgae belong to three families found in seagrass bed. Their distribution were varied. Highest density of macroalga was Halimeda makroloba in habitat of seagrass Enhalus acorides at around Pulau Tempul Lunik Island. The substrat was sand and rubble which support good growth of both species The presence of macroalgae in seagrass bed could be a competitor related to the space for live and nutrient utilization in the waters.    Pengamatan tentang asosiasi antara makroalga di ekosistem padang lamun perairan Lampung Selatan telah dilakukan. Lokasi pengamatan yang terbagi menjadi 3 stasiun, yaitu Stasiun 1 (Pulau Tumpul Lunik), Stasiun 2 (Pulau Rimau Balak) dan Stasiun 3 (Pulau Kandang Balak Selatan). Pengamatan makroalga dan lamun di masing-masing lokasi dilakukan dengan metoda transek kuadran (0,5 x 0,5 m) sepanjang 100 meter dengan jarak pengamatan setiap 10 meter untuk penghitungan dengan kuadran. Pengamatan dilakukan dengan ulangan sebanyak 3 kali garis transek di setiap stasiun pengamatan.  Duabelas jenis makroalga dari 3 Famili telah ditemukan di ekosistem padang lamun dengan sebaran kepadatan makroalga yang beragam. Kepadatan tertinggi makroalga ditemukan pada jenis Halimeda makroloba yang banyak ditemukan tumbuh pada habitat lamun Enhalus acorides di sekitar Pulau Tempul Lunik. Kondisi perairan yang bersubstrat dasar pasir dan pecahan karang sangat mendukung untuk pertumbuhan ke dua jenis vegetasi tersebut. Kehadiran makroalga di ekosistem padang lamun dapat menjadi kompetitor bagi keberadaan dan kondisi  penutupan lamun, terkait dengan persaingan dalam menempati ruang dan pemanfaatan nutrien di perairan.  
Aktivitas Antagonis Bakteri yang Berasosiasi dengan Teritip (Balanus sp.) terhadap Bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus Gita Wismayanti; Sri Sedjati; Agus Trianto
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.786 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.3244

Abstract

Marine invertebrates are the most productive source of bioactive compounds.  However, most of the compounds originally produced by the microorganisms living associated with the invertebrates.  Barnacle is an invertebrate that has a unique interaction with bacteria. Escherichia coli and Bacillus cereus are the cause of the foodborne disease that causes of remarkedly losses in the food industry.  The barnacle was collected from Panjang Island, Jepara.  The bacterial isolates were obtained by serial dilution followed by isolation based on morphological characteristics.  The antagonistic assay to E. coli dan B. cereus was utilized for screened the isolates.  Then, the active isolates were cultured for the further test with the disc diffusion agar method of the supernatant followed by the extracts.  The most active isolates were identified based on molecular method.  A total of 14 isolates were obtained from the Balanus sp., which six of them have activity against the E. coli and B. cereus.  The isolates TJ 5.4 and TJ 5.5 have the strongest activity the bacteria.  Base on the analyses of the BLAST and phylogenetic tree the isolates showed 99% homology the Bacillus wiedmannii (TJ 5.4) and Lysinibacillus macroides (TJ 5.5). Invertebrata laut merupakan salah satu sumber bahan bioaktif yang paling produktif. Sebagian senyawa yang terdapat dalam biota laut, sejatinya diproduksi oleh mikroorganisme yang hidup berasosiasi dengan biota laut tersebut.  Teritip merupakan salah satu hewan invertebrata yang memiliki berbagai interaksi unik dengan bakteri. Bakteri Escherichia coli dan Bacillus cereus merupakan dua dari beberapa bakteri patogen yang sering menjadi agen penyebab foodborne disease.  Teritip dikoleksi dari Pulau Panjang, Jepara. Isolat bakteri diperoleh dengan metoda pengenceran bertingkat dan dilanjutkan isolasi berdasarkan karakteristik morfologis. Uji antagonis terhadap E. coli dan B. cereus digunakan untuk menskrining bioaktivitas isolat.  Isolat yang aktif dikultur untuk uji lanjut yaitu supernatant dan dilanjutkan ekstraknya dengan metoda disc diffusion agar.  Bakteri yang paling aktif diidentifikasi secara molekuler untuk mengetahui spesiesnya.  Sebanyak 14 isolat bakteri diperoleh dari Balanus sp. dimana enam diantaranya memiliki aktivitas terhadap bakteri uji.  Isolat TJ 5.4 dan TJ 5.5 memiliki aktivitas paling kuat terhadap E. coli dan B. cereus. Berdasarkan pengolahan sekuen dan analisis pohon filogenetik, dua isolat bakteri tersebut memiliki homologi 99% terhadap bakteri Bacillus wiedmannii (TJ 5.4) dan Lysinibacillus macroides (TJ 5.5). 
Fluktuasi Fitoplankton pada Kawasan Konservasi Rajungan Perairan Betahwalang Demak Elsa Lusia Agus; Rudhi Pribadi; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.205 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.6296

Abstract

Phytoplankton is an organism that had an effect on life waters and can be used as the parameters in monitoring water quality. Distribution of phytoplankton in the waters can be for biomonitoring which can be used to make protection zone. This study will examine the distribution and composition of phytoplankton in The crab conservation area in Betahwalang Waters, Demak. This research divided into three stations in estuaries and the sea s. Each sampling was done once a month. Samples were taken using a plankton net. The results found three classes of phytoplankton, namely Bacillariophyceae class, Cyanophyceae class and Dinophyceae class. The number of genera found in the river area (37 genera), at the estuary station as much (38 genera) and the sea station as much (31 genera). Fluctuation in phytoplankton abundance at each station is quite varied. The abundance of phytoplankton in January was 1.030.400 cells/L, in February it was 936.800  cells/L, and in March it was 643.600 cells/L. The highest abundance occurs in the estuary area, then the river and the lowest in the sea. The value of species diversity index (H ') is in the range of 2.57-3.03. Uniformity index values range from 0.86 to 0.94. The dominance index from 0.06 to 0.14. Factors affecting the abundance and dominance of phytoplankton are water conditions and the rainy season. Fitoplankton merupakan organisme yang mempunyai pengaruh besar terhadap kehidupan di suatu perairan baik langsung maupun tidak langsung dan dijadikan sebagai salah satu parameter dalam pemantauan kualitas perairan.Fitoplankton di perairan dapat dijadikan suatu ukuran bahwa Kawasan tersebut dapat dijadikan sebagai zona perlindungan biota.Penelitian ini mengkaji fluktuasi fitolankton pada Kawasan konservasi rajungan di Perairan Betahwalang, Demak. Penelitian ini dilakukan pada 3 stasiun yang terletak disungai, muara sungai, dan laut. Pengambilan sampel dilakukan setiap bulan selama tiga bulan  menggunakan planktonnet. Hasil penelitian ditemukan 3 kelas yaitu kelas Bacillariophyceae, Cyanophyceae dan Dinophyceae.Jumlah genus yang ditemukan pada area sungai, muara sungai dan laut berturut-turut 37 genus, 38 genus dan 31 genus. Fluktuasi kelimpahan fitoplankton di setiap stasiun cukup bervariasi.Kelimpahan fitoplankton pada bulan Januari sebesar 1.030.400 sel/L, pada bulan Februari sebesar 936.800 sel/L, dan pada bulan Maret sebesar 643.600 sel/L. Kelimpahan tertinggi terjadi pada daerah muara, kemudian sungai dan terendah di laut. Sedangkan nilai indeks keanekaragaman jenis (H’) berada pada kisaran 2,57-3,03. Nilai indeks keseragaman berkisar 0,86-0,94. Sedangkan indeks dominasi berkisar 0,06-0,14. Faktor yang mempengaruhi kelimpahan dan dominasi fitoplankton adalah kondisi perairan dan musim hujan.
Skrining Dan Seleksi Bakteri Simbion Spons Penghasil Enzim Ekstraseluler Sebagai Agen Bioremediasi Bahan Organik Dan Biokontrol Vibriosis Pada Budidaya Udang Wilis Arii Setyati; Ahmad Saddam Habibi; Subagiyo Subagiyo; Ali Ridlo; Nirwani Soenardjo; Rini Pramesti
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.776 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.595

Abstract

The rapid cultivation of aquaculture with the application of intensive systems in recent years, has raised problems in the form of a decrease in the carrying capacity of ponds for the life of aquaculture organisms. The further impact caused is the occurrence of a series of diseases and damage to environmental conditions. Anticipatory measures through the application of bioremediation are solutions to prevent more serious damage. In the bioremediation process, enzymes play the role of catalysts that accelerate biochemical reactions in ponds of soil and water. Bacteria associated with sponges have various bioactive compounds that can inhibit the growth of pathogenic bacteria. The purpose of this study is isolation and screening of bacteria associated with sponges that have extracellular enzyme activity (proteolytic, amylolytic, cellulolytic, and lipolytic) and antibacterial activity, as well as knowing the interaction of antagonism properties among the best isolates, and phenotypic identification of bacterial species. This research was conducted in 4 stages: sample collection, isolation, selection, and identification. The results showed that the total sponge symbiotic bacteria obtained were 15 isolates with the potential of 15 proteolytic isolates, 12 amylolytic isolates, 12 lipolytic isolates, and 4 cellulolytic isolates. There were 10 isolates having antibacterial activity against Vibrio harveyi and 2 isolates had antibacterial activity against Vibrio alginolyticus. The best bacterial isolates SP.1.3, SP.5.1, and SP.5.3 have no antagonistic activity between the three. Phenotypic identification of 3 isolates alleged that isolates SP.1.3, SP.5.1, and SP.5.2 were identified as Bacillus sp., Acinetobacter sp., And Pseudomonas sp.Pesatnya kegiatan budidaya perikanan dengan penerapan sistem intensif dalam beberapa tahun terakhir, telah memunculkan permasalahan berupa penurunan daya dukung tambak bagi kehidupan organisme budidaya. Dampak lanjut yang ditimbulkan adalah terjadinya serangkaian penyakit dan kerusakan kondisi lingkungan. Langkah antisipatif melalui penerapan bioremediasi merupakan solusi untuk mencegah kerusakan yang lebih serius. Dalam proses bioremediasi, enzim memainkan peran katalis yang mempercepat reaksi biokimia di kolam tanah dan air. Bakteri yang berasosiasi dengan spons memiliki beragam senyawa bioaktif yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen. Tujuan dari penelitian ini adalah isolasi dan skrining bakteri yang berasosiasi dengan spons yang memiliki aktivitas enzim ekstraseluler (proteolitik, amilolitik, selulolitik, dan lipolitik) dan aktivitas antibakteri, serta mengetahui interaksi sifat antagonisme antar isolat terbaik, dan identifikasi spesies bakteri secara fenotipik. Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap: koleksi sampel, isolasi, seleksi, dan identifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total bakteri simbion spons yang diperoleh 15 isolat dengan potensi 15 isolat proteolitik, 12 isolat amilolitik, 12 isolat lipolitik, dan 4 isolat selulolitik. Terdapat 10 isolat memiliki aktivitas antibakteri terhadap Vibrio harveyi dan 2 isolat memiliki aktivitas antibakteri terhadap Vibrio alginolyticus. Isolat bakteri terbaik SP.1.3, SP.5.1, dan SP.5.3 tidak memiliki aktivitas saling antagonis antar ketiganya. Identifikasi fenotipik dari 3 isolat diduga bahwa isolat SP.1.3, SP.5.1, dan SP.5.2 diidentifikasi sebagai Bacillus sp., Acinetobacter sp., dan Pseudomonas sp.  

Page 11 of 46 | Total Record : 451